Share

Bab 5 - Hanya Babu

Author: Eka_Mom
last update Last Updated: 2025-02-05 11:32:43

Aku tak menghiraukan tatapan tajam Mas Hendra. Aku mengajak Mas Aldo untuk segera masuk ke dalam rumah. Aku bergegas ke dapur untuk memberikan rendang itu pada ibuku.

"Bu ini rendangnya."

Kulihat ibu begitu kerepotan menyiapkan hidangan untuk menyambut keluarga mas Hendra. Sedangkan kulihat Mbak Sari bersantai sembari memainkan ponselnya. 

"Kamu lama sekali datangnya. Lihatlah aku kerepotan menyiapkan semuanya."

"Bu, bukannya ada mbak Sari disini. Kenapa tak minta tolong padanya."

"Jangan asal bicara kamu. Sari tak biasa mengerjakan ini semua. Yang ada dapurku akan berantakan jika dia berada di sini."

Sejenak aku teringat saat ada arisan keluarga dulu. Ibu meminta bantuan mbak Sari untuk mencuci piring. Namun yang ada semua piring ibu pecah, karena mbak Sari tak becus membawanya. Sejak saat itu, mbak Sari tak diijinkan ke dapur. Entah bagaimana dia melayani suaminya, jika dia tak terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga.

"Aldo kamu bantu istrimu di dapur! Ibu mau mandi dulu."

"Baik Bu."

Akhirnya aku dan Mas Aldo melanjutkan pekerjaan itu. Kusiapkan semua hidangan di meja makan. Tak lupa aneka cemilan yang mahal dan enak sudah tersedia di meja ruang tamu. 

"Mas lihatlah begitu banyak makanan enak disini."

"Iya nih, bikin perut keroncongan lagi."

"Eh kalian ngapain masih disini. Sudah kebelakang sana, awas ya jika berani mengambil secuil makanan disini."

Aku terkejut kala mendapati ibu sudah berada di belakangku. Padahal kami hanya melihat - lihat saja semua hidangan yang sudah tertata rapi di meja tanpa ada niat sedikitpun untuk mengambilnya. Tiba - tiba saja bapak muncul dari arah luar. Sepertinya beliau baru saja pulang dari bekerja.

"Bu, apa - apaan kamu ini. Biarkan saja mereka mencicipinya. Lagipula mereka sudah membantumu lho Bu."

"Bapak diam saja, tamu kita belum datang. Yang ada semua hidangan akan habis karena diambil mereka semua. Bapak kan tahu, mereka mana bisa beli makanan mahal ini."

"Astaghfirullah Bu, di jaga ucapannya itu. Bagaimana pun juga Diva itu anak kandungmu. Tak sepantasnya kau berbicara seperti itu."

"Halah diam saja kamu pak. Sejak dulu aku tak pernah setuju Diva menikah dengan Aldo. Laki - laki miskin yang tak punya apa - apa. Padahal ada laki - laki kaya yang ingin melamarnya."

Aku begitu muak saat mendengar ibu selalu saja menghina Mas Aldo. Ingin sekali aku membalasnya, namun Mas Aldo langsung menggeleng - nggelengkan kepalanya. Seakan mengatakan jika perkataan ibu tak perlu di ladeni.

"Cukup Bu! Lama - lama bicaramu ngelantur. Diva, Aldo kita ke atas saja. Biar ibumu repot mengurus sendiri. Bukannya berterimakasih malah menghina terus."

"Eh ingat ya, setelah semuanya selesai kalian harus membantu ibu membereskannya."

Bapak mengajak kami ke ruang keluarga yang berada di atas. Sejenak kami bisa bersantai karena sedari tadi ibu terus saja menyuruh kami bekerja.

"Pak, bagaimana kabarnya. Apa bapak sehat?"

"Alhamdulillah nak, bapak sehat. Oh ya ini kalian makan. Mumpung ibumu tak tahu."

Kulihat bapak mengeluarkan sekotak brownies cokelat kesukaanku. Bapak memang paling tahu makanan kesukaanku sedari dulu.

"Pak, nanti ibu marah jika kami memakannya. Apa gak sebaiknya dikembalikan saja pak?"

"Sudah kamu tenang saja. Bapak memang sengaja membelikannya untukmu. Kamu gak perlu khawatir. Ini murni pakai uang bapak. Jadi kamu tak usah takut."

"Tapi pak, Diva takut ibu marah kalau tahu bapak membelikan kue mahal ini untukku."

"Jangan khawatir. Kalau ada apa - apa bapak yang bertanggungjawab."

Aku pun menganggukkan kepalaku dan mengiyakan ucapan bapak. Namun tetap saja aku gelisah. Lebih baik kumasukkan tas saja. Aku tak mau tiba - tiba saja ibu keatas dan mempergokiku memakan brownies mahal ini. Setahuku satu kotak brownies ini seharga 200 ribu. Aku akan berfikir ulang jika ingin membelinya. 

Tak lama kemudian rombongan keluarga Mas Hendra sudah datang. Aku melihat mereka dari balkon atas rumah ibu. Keluarga Mas Hendra adalah keluarga yang kaya raya.

Tampak baju yang mereka kenakan sangatlah mahal. Apalagi perhiasan yang mereka pakai sangat mentereng. Pantas saja ibu menyambut mereka dengan baik. Sepertinya mereka akan membicarakan tentang pesta pernikahan mbak Sari yang sempat tertunda.  

Aku lebih dulu menikah dengan Mas Aldo. Pernikahanku pun hanya sederhana karena hanya menikah di kantor KUA saja. Setelah itu, bapak mengadakan syukuran sederhana di rumah. Tak ada resepsi apapun. Namun aku tak pernah mempermasalahkannya. Karena bagiku semua hal itu tak penting. 

Tiga bulan setelah aku menikah, Mas Hendra dan Mbak Sari pun akhirnya menikah. Karena persiapannya mendadak, pesta pernikahanpun ditunda. Mbak Sari berkoar-koar akan mengadakan pesta pernikahan di hotel bintang lima.

Tiba - tiba saja ibu memanggilku dari bawah. Bergegas aku menghampiri ibu yang berada didapur. Rasanya malas sekali namun aku tak mau terjadi keributan.

Saat aku k edapur, aku berpapasan dengan mama Mas Hendra. Aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya. Namun mama Mas Hendra langsung menepis tanganku. Entah mengapa beliau tiba - tiba tampak tak menyukaiku? 

Related chapters

  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 6 - Penyesalan Mas Hendra

    Aku tak peduli dengan sikap Mama Hendra yang acuh padaku. Toh aku tak pernah berbuat salah pada beliau. Yang ada malah anaknya yang sudah tega menghianatiku. Segera kubawa minuman yang sudah kami siapkan sedari tadi di dapur. "Biar kubantu sayang."Tiba - tiba saja Mas Aldo sudah berada disampingku. Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Aku membawa nampan berisi gelas - gelas. Sedangkan Mas Aldo membawa mangkok berisi es buah. "Bagaimana jeng, apa pernikahan anak kita jadi dilakukan di hotel bintang lima?""Terserah mereka saja jeng. Kami sebagai orang tua hanya bisa menurut saja. Bagaimana Hendra, apa kamu ingin dirayakan di hotel bintang lima? Secara kamu anak mama satu - satunya.""Jangan khawatir ma. Mas Hendra pasti setuju. Betulkan sayang? Lagipula pernikahan kita hanya terjadi sekali saja. Jadi aku ingin pesta pernikahan ini menjadi pesta pernikahan yang mewah.""Terserah kalian saja. Aku hanya mengikuti saja. Maaf aku kedepan dulu untuk merokok. Kalian bicarakan saja sem

    Last Updated : 2025-02-05
  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 7 - Kesombongan Mbak Sari

    "Sabar dong ma. Tinggal sebulan lagi ujian untuknya. Setelah itu aku akan membawanya kesana. Tolong mama mengerti keinginanku.""Ya... aku yakin dia akan lulus ujian ini ma. Aku harap mama bisa bersabar sedit lagi. Sudah dulu ya ma. Nanti kutelepon lagi. Aku tak mau rencanaku gagal."Segera aku berpura - pura bermain ponsel. Sebenarnya apa yang mas Aldo sembunyikan. Mas Aldo sedang menguji siapa. Lalu apa orang tua Mas Aldo sudah kembali kr Indonesia, setelah menjadi TKI di luar negeri?Teringat saat menikah dulu, keluarga Mas Aldo tak ada yang hadir. Mas Aldo beralasan jika kedua orangtuanya bekerja menjadi TKI diluar negeri. Karena kontrak kerja yang belum selesai, akhirnya mereka belum bisa pulang.Namun Mas Aldo beberapa kali melakukan video call dengan mamanya. Kulihat mamanya sangat cantik, dan papanya juga tampan. Entah mengapa mereka tak cocok menjadi seorang TKI. Bagaimana tidak, pakaian yang kulihat saat melakukan panggilan video call sangatlah mewah. Seperti bukan bekerja

    Last Updated : 2025-02-05
  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 8 - Perkara Kue Brownies

    Seketika ibu merebut sisa brownies yang aku pegang dan membuangnya di lantai. Lebih dari itu, bahkan ibu menginjak sisa brownies itu. Tak terasa air mataku menetes melihatnya. Ibu rela membuang kue ini daripada kumakan. "Kau mau makan brownies ini? Tuh ambil kuenya. Itu hukumanmu karena kamu begitu lancang mencuri kue ini. Aku lebih ikhlas kue ini jatuh kelantai daripada kau makan."Kutatap ibuku dengan tatapan tajamku. Mas Aldo berusaha menenangkanku. Kuhampiri ibu yang sudah melahirkanku itu."Apa lihat - lihat. Sudah tahu kau tak akan mampu membeli kue ini, sok - sok an memakannya."Dengan geram kuambil tasku. Kuambil 5 lembar uang berwarna merah dan kulemparkan kewajah ibuku. Maafkan aku Ya Allah, bukan maksudku durhaka kepada ibuku ini. Tetapi hatiku sakit sekali, karena ibu sudah begitu melukai perasaanku."Siapa bilang Bu, aku tak bisa membelinya. Ambil uang ini Bu! Ambil!""Dasar anak kurang ajar, sini kau!""Ayo mas, kita pergi. Kita disini tak pernah dihargai. Yang ada kit

    Last Updated : 2025-02-05
  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 9 - Voucher Makan Gratis

    "Mas kenapa kita berhenti disini?""Kita makanlah sayang. Bukannya tadi kamu lapar?""Tapi mas, ini restoran mahal. Lihat saja yang datang kesini, mereka orang kaya semuanya."Bagaimana aku tak khawatir, kulihat diparkiran motor hanya ada beberapa sepeda motor yang terparkir . Mungkin semua motor ini milik karyawan restoran ini. Sedangkan disana penuh terpampang mobil - mobil mewah yang terpakir. "Kamu tenang saja. Aku dapat voucher makan gratis disini. Sayang dong kalau tidak di gunakan.""Oh ya... wah beruntung sekali ya kita bisa makan direstoran mewah ini.""Tentu dong sayang, ya sudah kita masuk yuk."Mas Aldo melepaskan helm yang kupakai dan menghapus sisa air mataku yang jatuh tadi. Aku seketika tersenyum merasakan perhatian mas Aldo."Jangan menangis lagi ya. Aku tak bisa melihatmu begini."Aku pun mengangguk dan tersenyum ke arah Mas Aldo. Hanya dia yang bisa membuat hatiku tenang saat ini.Mas Aldo langsung menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam restoran ini. Tampak seor

    Last Updated : 2025-02-21
  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 10 - Perkara Mangga Muda

    "Mas, maafkan ibu ya. Seharusnya Mas Aldo jangan membaca pesan ini.""Ini sudah tak bisa dibiarkan sayang. Aku sudah cukup bersabar selama ini menerima hinaan ibumu. Waktunya kita tunjukan pada mereka, kalau mereka tak bisa lagi meremehkan kita.""Sudahlah mas, biarkan saja. Yang paling penting saat ini kan bagaimana perasaanku padamu. Apapun keadaan suamiku, aku akan menerimanya. Dan selamanya aku akan tetap mencintaimu.""Maafkan aku ya dek, belum bisa membahagiakanmu. Bahkan saat ini kita hanya tinggal di kontrakan yang sempit itu.""Asal tinggal bersamamu, dimanapun akan merasa nyaman mas.""Terimakasih ya sayang, sudah menerimaku apa adanya."Aku tersenyum dan langsung menggandeng lengan Mas Aldo. Mas Aldo mengajakku menunggu di depan, karena pelayan sedang membungkuskan makanan maish utuh. Tak lama kemudian datang beberapa pelayan membawakan banyak kotak berisi makanan. Aku sedikit terkejut karena mereka membawa kotak makanan yang tidak sedikit."Pak Aldo ini pesanannya," beber

    Last Updated : 2025-02-21
  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 11a - Garis Dua

    Karena Mas Aldo merengek terus, dengan terpaksa aku membuatkan sambal rujak untuknya. Tapi tentunya dengan cabe yang sedikit. Aku tak mau perutnya sakit karena memakan sambal rujak yang pedas.Tak lama kemudian aku hidangkan mangga muda itu beserta sambal rujaknya. Kulihat matanya berbinar - binar seperti saat melihat rujak mangga itu.Mas Aldo langsung menyantapnya dengan lahap. Aku begitu sangat terkejut saat melihat Mas Aldo memakan mangga muda itu begitu lahapnya. Mas Aldo seperti tak merasakan asamnya mangga muda itu. Aku mencoba mencicipi sedikit mangga itu. Namun baru satu gigit, bahuku sudah berkedik karena rasanya sangat asam sekali. Astaga mengapa Mas Aldo sangat lahap memakannya. Kulihat raut wajah suamiku berubah bahagia setelah menyantap mangga muda itu. Aku hanya berharap semoga saja Mas Aldo tidak sakit perut setelah ini.Aku melanjutkan kegiatanku memasak yang sempat tertunda. Sedangkan Mas Aldo sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mem

    Last Updated : 2025-02-28
  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 11b - Garis Dua

    Barang yang diberikan oleh perawat itu adalah sebuah alat tes kehamilan. Aku tak asing dengan benda itu karena aku pernah membelinya untuk temanku. Apakah aku hamil saat ini?Namun aku tak ingin berharap dulu sebelum semuanya terbukti. Aku juga tak merasakan tanda - tanda kehamilan seperti temanku dulu. Seperti mual di pagi hari dan mengidam makanan tertentu. Tiba - tiba saja dokter itu melontarkan pertanyaan padaku."Boleh saya bertanya, kapan terakhir ibu haid?""Hmnn sekitar satu bulan lalu dok. Memang apa hubungannya dengan haid saya dok. Kan yang sakit suami saya," aku di buat bingung dengan ucapan dokter itu."Suster tolong antar ibu ini ya, untuk diperiksa urine nya.""Baik dokter."Suster mengantarkanku menuju ke kamar mandi. Aku tahu jika dokter menyuruhku melakukan tes kehamilan. Akhirnya aku menurut saja. Siapa tahu memang aku sedang dalam keadaan hamil.Suster memberikanku wadah untuk tempat urineku. Aku menurut dan melakukan apa yang di suruh suster itu. Setelah melakuka

    Last Updated : 2025-02-28
  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 1 - Suami Idaman

    "Assalamualaikum dek.""Waalaikumsalam mas."Kulihat Mas Aldo terlihat kelelahan karena sedari tadi pagi dia sudah bekerja sebagai ojek online. Aku bergegas membantunya melepaskan jaket yang melekat ditubuhnya. Kuhirup bau wangi dari tubuhnya. Terkadang aku heran, dia seharian di jalanan, namun tubuhnya tetap wangi. Aku saja pergi ke pasar beberapa jam, pulang - pulang sudah bau keringat. "Mas,mau mandi atau makan dulu?""Hmnn mau apa ya... makan kamu boleh gak?"Mas Aldo memainkan kedua matanya dan berhasil membuat aku tersipu malu. Mas Aldo tiba - tiba saja menggendong tubuhku dan membawaku ke tempat peraduan. Pernikahan kami baru berjalan 5 bulan. Awalnya tak sengaja aku memesan ojek padanya. Entah mengapa semakin hari hubungan kami semakin dekat. Mas Aldo setiap hari menjemput dan mengantarkanku bekerja. Karena perlakuannya itu, aku merasa nyaman saat berada di dekatnya.Saat itu hatiku sedang terluka karena calon suamiku telah direbut oleh kakak tiriku sendiri. Ibuku menikah ke

    Last Updated : 2025-02-05

Latest chapter

  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 11b - Garis Dua

    Barang yang diberikan oleh perawat itu adalah sebuah alat tes kehamilan. Aku tak asing dengan benda itu karena aku pernah membelinya untuk temanku. Apakah aku hamil saat ini?Namun aku tak ingin berharap dulu sebelum semuanya terbukti. Aku juga tak merasakan tanda - tanda kehamilan seperti temanku dulu. Seperti mual di pagi hari dan mengidam makanan tertentu. Tiba - tiba saja dokter itu melontarkan pertanyaan padaku."Boleh saya bertanya, kapan terakhir ibu haid?""Hmnn sekitar satu bulan lalu dok. Memang apa hubungannya dengan haid saya dok. Kan yang sakit suami saya," aku di buat bingung dengan ucapan dokter itu."Suster tolong antar ibu ini ya, untuk diperiksa urine nya.""Baik dokter."Suster mengantarkanku menuju ke kamar mandi. Aku tahu jika dokter menyuruhku melakukan tes kehamilan. Akhirnya aku menurut saja. Siapa tahu memang aku sedang dalam keadaan hamil.Suster memberikanku wadah untuk tempat urineku. Aku menurut dan melakukan apa yang di suruh suster itu. Setelah melakuka

  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 11a - Garis Dua

    Karena Mas Aldo merengek terus, dengan terpaksa aku membuatkan sambal rujak untuknya. Tapi tentunya dengan cabe yang sedikit. Aku tak mau perutnya sakit karena memakan sambal rujak yang pedas.Tak lama kemudian aku hidangkan mangga muda itu beserta sambal rujaknya. Kulihat matanya berbinar - binar seperti saat melihat rujak mangga itu.Mas Aldo langsung menyantapnya dengan lahap. Aku begitu sangat terkejut saat melihat Mas Aldo memakan mangga muda itu begitu lahapnya. Mas Aldo seperti tak merasakan asamnya mangga muda itu. Aku mencoba mencicipi sedikit mangga itu. Namun baru satu gigit, bahuku sudah berkedik karena rasanya sangat asam sekali. Astaga mengapa Mas Aldo sangat lahap memakannya. Kulihat raut wajah suamiku berubah bahagia setelah menyantap mangga muda itu. Aku hanya berharap semoga saja Mas Aldo tidak sakit perut setelah ini.Aku melanjutkan kegiatanku memasak yang sempat tertunda. Sedangkan Mas Aldo sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mem

  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 10 - Perkara Mangga Muda

    "Mas, maafkan ibu ya. Seharusnya Mas Aldo jangan membaca pesan ini.""Ini sudah tak bisa dibiarkan sayang. Aku sudah cukup bersabar selama ini menerima hinaan ibumu. Waktunya kita tunjukan pada mereka, kalau mereka tak bisa lagi meremehkan kita.""Sudahlah mas, biarkan saja. Yang paling penting saat ini kan bagaimana perasaanku padamu. Apapun keadaan suamiku, aku akan menerimanya. Dan selamanya aku akan tetap mencintaimu.""Maafkan aku ya dek, belum bisa membahagiakanmu. Bahkan saat ini kita hanya tinggal di kontrakan yang sempit itu.""Asal tinggal bersamamu, dimanapun akan merasa nyaman mas.""Terimakasih ya sayang, sudah menerimaku apa adanya."Aku tersenyum dan langsung menggandeng lengan Mas Aldo. Mas Aldo mengajakku menunggu di depan, karena pelayan sedang membungkuskan makanan maish utuh. Tak lama kemudian datang beberapa pelayan membawakan banyak kotak berisi makanan. Aku sedikit terkejut karena mereka membawa kotak makanan yang tidak sedikit."Pak Aldo ini pesanannya," beber

  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 9 - Voucher Makan Gratis

    "Mas kenapa kita berhenti disini?""Kita makanlah sayang. Bukannya tadi kamu lapar?""Tapi mas, ini restoran mahal. Lihat saja yang datang kesini, mereka orang kaya semuanya."Bagaimana aku tak khawatir, kulihat diparkiran motor hanya ada beberapa sepeda motor yang terparkir . Mungkin semua motor ini milik karyawan restoran ini. Sedangkan disana penuh terpampang mobil - mobil mewah yang terpakir. "Kamu tenang saja. Aku dapat voucher makan gratis disini. Sayang dong kalau tidak di gunakan.""Oh ya... wah beruntung sekali ya kita bisa makan direstoran mewah ini.""Tentu dong sayang, ya sudah kita masuk yuk."Mas Aldo melepaskan helm yang kupakai dan menghapus sisa air mataku yang jatuh tadi. Aku seketika tersenyum merasakan perhatian mas Aldo."Jangan menangis lagi ya. Aku tak bisa melihatmu begini."Aku pun mengangguk dan tersenyum ke arah Mas Aldo. Hanya dia yang bisa membuat hatiku tenang saat ini.Mas Aldo langsung menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam restoran ini. Tampak seor

  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 8 - Perkara Kue Brownies

    Seketika ibu merebut sisa brownies yang aku pegang dan membuangnya di lantai. Lebih dari itu, bahkan ibu menginjak sisa brownies itu. Tak terasa air mataku menetes melihatnya. Ibu rela membuang kue ini daripada kumakan. "Kau mau makan brownies ini? Tuh ambil kuenya. Itu hukumanmu karena kamu begitu lancang mencuri kue ini. Aku lebih ikhlas kue ini jatuh kelantai daripada kau makan."Kutatap ibuku dengan tatapan tajamku. Mas Aldo berusaha menenangkanku. Kuhampiri ibu yang sudah melahirkanku itu."Apa lihat - lihat. Sudah tahu kau tak akan mampu membeli kue ini, sok - sok an memakannya."Dengan geram kuambil tasku. Kuambil 5 lembar uang berwarna merah dan kulemparkan kewajah ibuku. Maafkan aku Ya Allah, bukan maksudku durhaka kepada ibuku ini. Tetapi hatiku sakit sekali, karena ibu sudah begitu melukai perasaanku."Siapa bilang Bu, aku tak bisa membelinya. Ambil uang ini Bu! Ambil!""Dasar anak kurang ajar, sini kau!""Ayo mas, kita pergi. Kita disini tak pernah dihargai. Yang ada kit

  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 7 - Kesombongan Mbak Sari

    "Sabar dong ma. Tinggal sebulan lagi ujian untuknya. Setelah itu aku akan membawanya kesana. Tolong mama mengerti keinginanku.""Ya... aku yakin dia akan lulus ujian ini ma. Aku harap mama bisa bersabar sedit lagi. Sudah dulu ya ma. Nanti kutelepon lagi. Aku tak mau rencanaku gagal."Segera aku berpura - pura bermain ponsel. Sebenarnya apa yang mas Aldo sembunyikan. Mas Aldo sedang menguji siapa. Lalu apa orang tua Mas Aldo sudah kembali kr Indonesia, setelah menjadi TKI di luar negeri?Teringat saat menikah dulu, keluarga Mas Aldo tak ada yang hadir. Mas Aldo beralasan jika kedua orangtuanya bekerja menjadi TKI diluar negeri. Karena kontrak kerja yang belum selesai, akhirnya mereka belum bisa pulang.Namun Mas Aldo beberapa kali melakukan video call dengan mamanya. Kulihat mamanya sangat cantik, dan papanya juga tampan. Entah mengapa mereka tak cocok menjadi seorang TKI. Bagaimana tidak, pakaian yang kulihat saat melakukan panggilan video call sangatlah mewah. Seperti bukan bekerja

  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 6 - Penyesalan Mas Hendra

    Aku tak peduli dengan sikap Mama Hendra yang acuh padaku. Toh aku tak pernah berbuat salah pada beliau. Yang ada malah anaknya yang sudah tega menghianatiku. Segera kubawa minuman yang sudah kami siapkan sedari tadi di dapur. "Biar kubantu sayang."Tiba - tiba saja Mas Aldo sudah berada disampingku. Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Aku membawa nampan berisi gelas - gelas. Sedangkan Mas Aldo membawa mangkok berisi es buah. "Bagaimana jeng, apa pernikahan anak kita jadi dilakukan di hotel bintang lima?""Terserah mereka saja jeng. Kami sebagai orang tua hanya bisa menurut saja. Bagaimana Hendra, apa kamu ingin dirayakan di hotel bintang lima? Secara kamu anak mama satu - satunya.""Jangan khawatir ma. Mas Hendra pasti setuju. Betulkan sayang? Lagipula pernikahan kita hanya terjadi sekali saja. Jadi aku ingin pesta pernikahan ini menjadi pesta pernikahan yang mewah.""Terserah kalian saja. Aku hanya mengikuti saja. Maaf aku kedepan dulu untuk merokok. Kalian bicarakan saja sem

  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 5 - Hanya Babu

    Aku tak menghiraukan tatapan tajam Mas Hendra. Aku mengajak Mas Aldo untuk segera masuk ke dalam rumah. Aku bergegas ke dapur untuk memberikan rendang itu pada ibuku."Bu ini rendangnya."Kulihat ibu begitu kerepotan menyiapkan hidangan untuk menyambut keluarga mas Hendra. Sedangkan kulihat Mbak Sari bersantai sembari memainkan ponselnya. "Kamu lama sekali datangnya. Lihatlah aku kerepotan menyiapkan semuanya.""Bu, bukannya ada mbak Sari disini. Kenapa tak minta tolong padanya.""Jangan asal bicara kamu. Sari tak biasa mengerjakan ini semua. Yang ada dapurku akan berantakan jika dia berada di sini."Sejenak aku teringat saat ada arisan keluarga dulu. Ibu meminta bantuan mbak Sari untuk mencuci piring. Namun yang ada semua piring ibu pecah, karena mbak Sari tak becus membawanya. Sejak saat itu, mbak Sari tak diijinkan ke dapur. Entah bagaimana dia melayani suaminya, jika dia tak terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga."Aldo kamu bantu istrimu di dapur! Ibu mau mandi dulu.""Baik Bu."

  • Suamiku Bukan Tukang Ojol Biasa   Bab 4 - Struk ATM di saku celana

    Ini kenapa angkanya banyak banget. Mulai kuhitung angka yang tertera pada struk ATM itu. Apa aku tak salah lihat. Dikertas itu tertera angka 23.547.165.175 . Itu artinya saldo ATM mas Aldo sudah puluhan milyar. Aku duduk termenung melihat tulisan di struk itu. Apa mungkin mesin ATM nya eror ya . Sebaiknya kusimpan kertas ini dan kutanyakan pada Mas Aldo nanti.Setelah semua pakaian sudah masuk ke mesin cuci, segera kuputar mesin itu. Dan berlanjut membersihkan rumah ini. Sejak aku menikah, Mas Aldo melarangku bekerja. Dia berjanji akan memenuhi semua kebutuhanku. Karena tugas seorang suami memberikan nafkah untuk istrinya.Akhirnya aku menyetujui perintah Mas Aldo. Karena bagaimanapun juga statusku sekarang adalah seorang istri. Jadi sudah kewajibanku untuk menuruti semua perintahnya. Mas Aldo pun menepati janjinya. Dia selalu memberikan nafkah yang cukup untukku.Kulihat jam sudah menunjukan pukul tiga sore. Rendang sapi buatanku juga sudah matang. Kupindahkan ke dalam kotak dan ku s

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status