"Sabar dong ma. Tinggal sebulan lagi ujian untuknya. Setelah itu aku akan membawanya kesana. Tolong mama mengerti keinginanku."
"Ya... aku yakin dia akan lulus ujian ini ma. Aku harap mama bisa bersabar sedit lagi. Sudah dulu ya ma. Nanti kutelepon lagi. Aku tak mau rencanaku gagal."
Segera aku berpura - pura bermain ponsel. Sebenarnya apa yang mas Aldo sembunyikan. Mas Aldo sedang menguji siapa. Lalu apa orang tua Mas Aldo sudah kembali kr Indonesia, setelah menjadi TKI di luar negeri?
Teringat saat menikah dulu, keluarga Mas Aldo tak ada yang hadir. Mas Aldo beralasan jika kedua orangtuanya bekerja menjadi TKI diluar negeri. Karena kontrak kerja yang belum selesai, akhirnya mereka belum bisa pulang.
Namun Mas Aldo beberapa kali melakukan video call dengan mamanya. Kulihat mamanya sangat cantik, dan papanya juga tampan. Entah mengapa mereka tak cocok menjadi seorang TKI. Bagaimana tidak, pakaian yang kulihat saat melakukan panggilan video call sangatlah mewah. Seperti bukan bekerja sebagai TKI saja.
Mas Aldo mendatangiku dan aku berpura - pura tak tahu dengan panggilan yang baru saja diterimanya. Kalau mama dan papa Mas Aldo sudah kembali, berarti aku bisa bertemu dengan mereka untuk pertama kalinya.
"Mas, siapa yang telepon?"
"Hmnn mama sayang. Katanya rindu dengan kita."
"Apa mereka akan kembali ke Indonesia mas?"
"Sepertinya iya sayang. Kemungkinan satu bulan lagi mereka akan pulang kesini."
Bukannya tadi di telepon aku dengar mereka sudah pulang kesini. Ah sudahlah,mungkin memang mereka akan datang sebulan lagi. Akhirnya aku mengajak Mas Aldo untuk kembali ke rumah ibu. Karena hari sudah menjelang Maghrib.
Saat aku sudah berada dirumah ibu, kulihat mereka masih sibuk berbicara tentang rencana resepsi pernikahan mewahnya itu. Tak ada yang menghiraukan kedatangan kami. Sayup - sayup kudengar mbak Sari sedang berbicara memamerkan rencana resepsi pernikahannya itu.
"Mama tenang saja, gaun pengantin sudah kupesan di perancang terkenal di kota ini. Mas Hendra juga sudah memberikanku kalung berlian mahal untuk pestaku nanti. Jadi Mas Hendra tak akan malu memiliki istri secantik aku. Tak seperti mantu ibuku yang satunya itu. Dia tak mungkin bisa membelikan perhiasan mahal untuk istrinya."
"Tentu saja menantuku Hendra itu jauh lebih baik. Sari jangan lupa pesan hidangan mahalnya untuk resepsimu dihotel bintang lima itu."
"Tenang saja jeng, kami akan memberikan yang terbaik untuk pernikahan anak kita."
"Terimakasih ya besan. Gak rugi saya menikahkan mereka."
Mbak Sari melirik kami dan tak kuhiraukan ucapan mereka yang jelas - jelas menyindir kami. Segera kuajak Mas Aldo keatas, untuk menunaikan sholat berjamaah. Aku tak ingin Mas Aldo sakit hati karena ucapan mereka. Kulihat Mas Aldo hanya diam saja mendengar ucapan mereka.
Setelah sholat berjamaah perutku terasa lapar. Kulihat para tamu masih belum ada yang pulang. Mas Aldo sibuk berkutat dengan ponselnya. Entah apa yang Mas Aldo lakukan, karena kulihat wajahnya serius menatap ponsel itu. Tak lama kemudian kulihat Mas Aldo mendengkus kesal. Segera kuhampiri Mas Aldo.
"Mas ada apa, kenapa mukamu berubah cemberut begitu."
"Lihatlah ponselku yang, sudah lemot sekali. Membuka email saja, harus menunggu lama. Padahal ada dokumen yang harus aku pelajari sekarang."
Aku mengernyitkan keningku. Memang tukang ojol mempelajari dokumen apa. Mas Aldo semakin aneh saja. Mas Aldo menyadari kebingunganku. Kulihat dia seketika gugup menjelaskannya.
"Maksudnya dokumen dari aplikasi ojol tentang aturan terbaru."
"Oh... aku kira apa mas. Apa Mas Aldo memakai ponselku saja dulu?"
Kebetulan ponselku jauh lebih bagus dari Mas Aldo dan tentunya tidak lemot. Namun Mas Ado menolak tawaranku.
"Tidak usah sayang. Nanti saja aku mampir ke warnet. Kamu kenapa meringis begitu sayang?"
"Aku lapar mas, pengen makan tapi tamu belum ada yang pulang."
"Kasihan sekali istriku ini. Bagaimana kalau kamu makan saja brownies yang diberikan bapak tadi. Buat mengganjal rasa laparmu itu."
"Hmnn boleh juga mas . Baiklah kuambil tasku dulu."
Kuambil sekotak brownies yang kusimpan di dalam tas tadi. Aku langsung memakannya karena aku sungguh sangat kelaparan. Entahlah akhir - akhir ini nafsu makanku meningkat. Mas Aldo tertawa kala melihat mulutku penuh dengan brownies coklat itu.
"Pelan - pelan sayang makannya. Tuh liat dibibir kamu banyak coklatnya."
Mas Aldo menghilangkan bekas coklat di bibirku dengan tangannya. Sungguh romantis dan perhatian sekali, itulah mengapa aku jatuh cinta padanya.
"Oh jadi brownies mahalku hilang gara - gara kamu."
Seketika aku berhenti mengunyah dan kulihat ibu membelalakkan matanya padaku. Ibu berkacak pinggang sembari menahan amarahnya. Sial kenapa ibu datang disaat yang tidak tepat. Aku harus menelan paksa brownies di mulutku karena melihat kedatangan ibu.
Seketika ibu merebut sisa brownies yang aku pegang dan membuangnya di lantai. Lebih dari itu, bahkan ibu menginjak sisa brownies itu. Tak terasa air mataku menetes melihatnya. Ibu rela membuang kue ini daripada kumakan. "Kau mau makan brownies ini? Tuh ambil kuenya. Itu hukumanmu karena kamu begitu lancang mencuri kue ini. Aku lebih ikhlas kue ini jatuh kelantai daripada kau makan."Kutatap ibuku dengan tatapan tajamku. Mas Aldo berusaha menenangkanku. Kuhampiri ibu yang sudah melahirkanku itu."Apa lihat - lihat. Sudah tahu kau tak akan mampu membeli kue ini, sok - sok an memakannya."Dengan geram kuambil tasku. Kuambil 5 lembar uang berwarna merah dan kulemparkan kewajah ibuku. Maafkan aku Ya Allah, bukan maksudku durhaka kepada ibuku ini. Tetapi hatiku sakit sekali, karena ibu sudah begitu melukai perasaanku."Siapa bilang Bu, aku tak bisa membelinya. Ambil uang ini Bu! Ambil!""Dasar anak kurang ajar, sini kau!""Ayo mas, kita pergi. Kita disini tak pernah dihargai. Yang ada kit
"Mas kenapa kita berhenti disini?""Kita makanlah sayang. Bukannya tadi kamu lapar?""Tapi mas, ini restoran mahal. Lihat saja yang datang kesini, mereka orang kaya semuanya."Bagaimana aku tak khawatir, kulihat diparkiran motor hanya ada beberapa sepeda motor yang terparkir . Mungkin semua motor ini milik karyawan restoran ini. Sedangkan disana penuh terpampang mobil - mobil mewah yang terpakir. "Kamu tenang saja. Aku dapat voucher makan gratis disini. Sayang dong kalau tidak di gunakan.""Oh ya... wah beruntung sekali ya kita bisa makan direstoran mewah ini.""Tentu dong sayang, ya sudah kita masuk yuk."Mas Aldo melepaskan helm yang kupakai dan menghapus sisa air mataku yang jatuh tadi. Aku seketika tersenyum merasakan perhatian mas Aldo."Jangan menangis lagi ya. Aku tak bisa melihatmu begini."Aku pun mengangguk dan tersenyum ke arah Mas Aldo. Hanya dia yang bisa membuat hatiku tenang saat ini.Mas Aldo langsung menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam restoran ini. Tampak seor
"Mas, maafkan ibu ya. Seharusnya Mas Aldo jangan membaca pesan ini.""Ini sudah tak bisa dibiarkan sayang. Aku sudah cukup bersabar selama ini menerima hinaan ibumu. Waktunya kita tunjukan pada mereka, kalau mereka tak bisa lagi meremehkan kita.""Sudahlah mas, biarkan saja. Yang paling penting saat ini kan bagaimana perasaanku padamu. Apapun keadaan suamiku, aku akan menerimanya. Dan selamanya aku akan tetap mencintaimu.""Maafkan aku ya dek, belum bisa membahagiakanmu. Bahkan saat ini kita hanya tinggal di kontrakan yang sempit itu.""Asal tinggal bersamamu, dimanapun akan merasa nyaman mas.""Terimakasih ya sayang, sudah menerimaku apa adanya."Aku tersenyum dan langsung menggandeng lengan Mas Aldo. Mas Aldo mengajakku menunggu di depan, karena pelayan sedang membungkuskan makanan maish utuh. Tak lama kemudian datang beberapa pelayan membawakan banyak kotak berisi makanan. Aku sedikit terkejut karena mereka membawa kotak makanan yang tidak sedikit."Pak Aldo ini pesanannya," beber
Karena Mas Aldo merengek terus, dengan terpaksa aku membuatkan sambal rujak untuknya. Tapi tentunya dengan cabe yang sedikit. Aku tak mau perutnya sakit karena memakan sambal rujak yang pedas.Tak lama kemudian aku hidangkan mangga muda itu beserta sambal rujaknya. Kulihat matanya berbinar - binar seperti saat melihat rujak mangga itu.Mas Aldo langsung menyantapnya dengan lahap. Aku begitu sangat terkejut saat melihat Mas Aldo memakan mangga muda itu begitu lahapnya. Mas Aldo seperti tak merasakan asamnya mangga muda itu. Aku mencoba mencicipi sedikit mangga itu. Namun baru satu gigit, bahuku sudah berkedik karena rasanya sangat asam sekali. Astaga mengapa Mas Aldo sangat lahap memakannya. Kulihat raut wajah suamiku berubah bahagia setelah menyantap mangga muda itu. Aku hanya berharap semoga saja Mas Aldo tidak sakit perut setelah ini.Aku melanjutkan kegiatanku memasak yang sempat tertunda. Sedangkan Mas Aldo sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mem
Barang yang diberikan oleh perawat itu adalah sebuah alat tes kehamilan. Aku tak asing dengan benda itu karena aku pernah membelinya untuk temanku. Apakah aku hamil saat ini?Namun aku tak ingin berharap dulu sebelum semuanya terbukti. Aku juga tak merasakan tanda - tanda kehamilan seperti temanku dulu. Seperti mual di pagi hari dan mengidam makanan tertentu. Tiba - tiba saja dokter itu melontarkan pertanyaan padaku."Boleh saya bertanya, kapan terakhir ibu haid?""Hmnn sekitar satu bulan lalu dok. Memang apa hubungannya dengan haid saya dok. Kan yang sakit suami saya," aku di buat bingung dengan ucapan dokter itu."Suster tolong antar ibu ini ya, untuk diperiksa urine nya.""Baik dokter."Suster mengantarkanku menuju ke kamar mandi. Aku tahu jika dokter menyuruhku melakukan tes kehamilan. Akhirnya aku menurut saja. Siapa tahu memang aku sedang dalam keadaan hamil.Suster memberikanku wadah untuk tempat urineku. Aku menurut dan melakukan apa yang di suruh suster itu. Setelah melakuka
Setelah menghubungi seseorang, Mas Aldo langsung mengajakku pulang. Namun aku baru menyadari sesuatu jika ponsel Mas Aldo baru. Yang lebih membuatku terkejut, ponsel itu berlogo apel. Yang sudah bisa kupastikan jika harganya sangat mahal.Aku ingin bertanya tentang ponsel Mas Aldo yang baru itu. Dan juga maksud dari perkataan Mas Aldo jika kami akan pindah ke rumah yang baru. Lebih baik, aku tanyakan nanti saat tiba rumah kontrakan.Mas Aldo langsung memesan taksi online agar kami bisa segera pulang. Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti dihadapan kami. Sepertinya ada seseorang yang akan turun dari mobil itu. Aku pun tak memperhatikannya dan sibuk melihat ponselku. Saat aku fokus dengan ponselku, tiba - tiba Mas Aldo menepuk pundakku. Aku pun terkejut di buatnya."Astaghfirullah mas, bikin kaget saja.""Hehehe maaf sayang. Habis dari tadi aku panggil kamu, kamu malah sibuk dengan ponselmu.""Oh maaf ya mas. Karena terlalu fokus, aku gak dengar Mas Aldo memanggilku.""Ya sudah
Namun aku tak mempedulikan lagi bagaimana reaksi pemilik kontrakan ini. Salahnya sendiri tak pernah menggubris ucapanku. Tapi jika harus pindah hari ini, rasanya aku belum siap. Karena nantinya akan banyak barang - barang yang harus dibawa."Ya benar sih mas, apa yang kamu katakan itu. Aku sudah berulang kali komplain namun tak pernah digubrisnya. Tapi mas, ini mendadak sekali. Aku belum membereskan semuanya.""Nanti aku bantu ya sayang untuk membereskan barang - barang kita. Sebaiknya kita hanya membawa barang yang penting - penting saja karena di tempat yang baru nanti, semua perabotannya sudah lengkap.""Apa kamu yakin mas? Tempat tidur, sofa, dan lain sebagainya apa gak dibawa?""Berikan kepada para tetangga yang membutuhkan saja sayang. Lagipula barang kita juga tak terlalu banyak."Aku sedikit terkejut dengan ucapan Mas Aldo. Memang barang - barang ini kita beli dengan harga murah. Karena uang kami dulu tak cukup untuk membeli barang yang baru. Akhirnya kami memutuskan mencari b
"Diva! Kenapa kamu tak bilang kepadaku jika ingin pindah dari rumah kontrakanku.""Bukan maksud saya gak ingin bilang sama ibu. Hanya saja Mas Aldo tiba - tiba saja mengajak kami untuk pindah hari ini. Sebenarnya sebentar lagi saya berencana akan ke rumah. Namun ternyata Bu Rani sudah kedahuluan datang ke sini," ku berusaha menjelaskannya dengan lembut pada Bu Rani. Tapi memang sifat Bu Rani saja yang tak mau mendengarkan penjelasan orang lain."Halah alesan saja kamu. Bilang saja kamu tak mau membayar kontrakan bulan depan. Mumpung kamu disini, segera bayar kontrakanmu itu. Lalu kamu boleh pergi dari rumah itu.""Tapi Bu, saya kan tak melanjutkan sewanya. Jadi saya ya tak ada kewajiban untuk membayar," aku tak terima saat Bu Rani menagih uang kontrakan untuk bulan depan."Apa yang dikatakan Diva benar itu bu. Jangan jadi orang yang zalim bu. Bu Diva sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan sewanya lagi," Bu Retno berbicara menggebu - nggebu seakan tak menyetujui ucapan Bu Rani. Namun
Hari ini adalah hari bahagia untuk Sari. Setelah satu bulan lamanya menyiapkan rencana pernikahan, akhirnya hari itu tiba. Sari berpenampilan cantik dengan kebaya putih yang melekat ditubuhnya. Sari tetap memakai hijab sehingga menambah kecantikannya.Fery yang melihat penampilan Sari saat itu seketika tak bisa menyembunyikan perasaan kagumnya. Fery sudah tak sabar ingin menghalalkan wanita yang dicintainya itu.Akad nikah dilaksanakan di kediaman Wijaya. Semua tamu sudah hadir untuk menyaksikan acara sakral itu. Dengan sekali ucap, proses ijab kabul itu sudah terlaksana. Kini Fery dan Sari sudah resmi menjadi suami istri.Ucapan selamat mulai terdengar dari para tamu. Sengaja Sari menginginkan pesta pernikahan yang sederhana karena dirinya tak pantas untuk mengadakan pesta mewah. Namun nyatanya Fery memberikan kejutan pada dirinya.Setelah proses akad nikah itu, Fery mengajak Sari ke hotel untuk menjalani resepsi pernikahannya. Sebelumnya Sari sudah didandani layaknya pengantin."Mas
Fery turun dari mobilny dengan pakaian jasnya. Sari begitu terkejut saat melihat kedatangan Fery. Namun yang membuatnya semakin terkejut, Fery tak datang sendiri. Fery datang bersama dua orang laki - laki dan perempuan yang usianya tak muda lagi. Sari yakin jika kedua orang itu adalah orang tua Fery.Ada perasaan rindu dihatinya setelah lama tak bertemu dengan laki - laki itu. Fery tersenyum sembari membawa buket bunga di tangannya."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam. Kamu kenapa kesini?""Boleh aku bertemu dengan kedua orangtuamu?""Untuk apa bertemu dengan bapak dan ibu?""Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan mereka." Belum Sempat Sari menjawab, Wijaya keluar dan menatap beberapa orang yang tak dikenalinya. Namun dia mengingat ssok Fery yang merupakan teman Aldo."Lho kamu bukannya teman Aldo ya? Siapa namanya?" Wijaya berusaha mengingatnya. Namun dia tak kunjung mengingatnya."Benar pak. Saya teman Aldo. Nama saya Fery.""Ah iya nak Fery. Mereka siapa?""Mereka kedua orang
“Kenapa menyendiri disini? Tidak gabung dengan lainnya di dalam.”“Aku lebih suka disini. Apalagi suasananya begitu tenang.”“Oh begitu. Hmnn sebelumnya apa aku boleh bertanya sesuatu?”“Tentang apa ya?”“Apa kamu sudah punya kekasih?”Sari seketika tersenyum mendengar pertanyaan Fery. “Apa Aldo tidak cerita kalau saya ini seorang janda.”"Ya Aldo sudah mencertakan semuanya. Tapi saya hanya ingin memastikan saja jika anda belum mempunyai kekasih.""Tapi apa tujuan anda menanyakan hal itu? Padahal pertanyaan itu sangatlah pribadi.""Maaf jika saya terkesan lancang. Hanya saja sejak pertama kali saya bertemu denganmu, saya mulai jatuh cinta padamu."Sejenak Sari terdiam dan menatap wajah Fery. Dia tak menyangka jika ada laki - laki yang tiba - tiba mengungkapkan perasaannya."Bagaimana bisa anda tiba - tiba menyukai saya. Padahal kita baru saja bertemu hari ini.""Lebih tepatnya dua kali aku sudah bertemu denganmu.""Tapi kamu belum tahu siapa saya sebenarnya. Apalagi masa lalu saya ya
PlakPlakDua kali tamparan berhasil mendarat di pipi Hendra. Hendra hanya bisa meringis menahan rasa sakitnya.“Apa yang kau lakukan pada putriku!!!”“Papa, aku tak sengaja pa. Maafkan aku.”“Kau pikir aku bodoh. Ingat jika terjadi sesuatu pada putriku, kau orang pertama yang akan kuberi perhitungan.”“Maafkan aku pa.”“Kau tahu kan bagaimana kejamnya keluarga Sanjaya. Aku bisa menghancurkanmu dalam waktu sedetik saja. Selama ini saya membiarkan putriku bersamamu. Kuturuti semuanya agar dia bisa bahagia dan tanpa kekurangan apapun saat hidup denganmu. Tapi apa yang kami dapatkan sekarang. Kau membuat putriku hampir saja kehilangan nyawanya.”Hendra seketika berlutut di hadapan papa mertuanya itu. Dia tak ada niatan untuk melakukan hal seperti itu. Tak bisa dia bayangkan nantinya jika Sanjaya akan menghancurkan hidupnya.“Maafkan aku pa. Aku memang bersalah. Aku akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahanku.”Perhatian semua orang tertuju pada Hendra. Namun Sanjaya tak menggub
Tangan Dewi bergetar saat melihat foto Hendra sedang bermesraan dengan beberapa wanita cantik. Dewi tak menyangka jika suaminya tega melakukan hal itu.Dewi melemparkan ponselnya ke arah ranjang tempat tidurnya. Setelah itu dia membanting foto pernikahannya yang terpajang di dinding kamarnya. "Kurang ajar kamu Hendra. Berani sekali kamu menghianatiku."Dengan nafas memburu Dewi mengambil ponselnya. Dewi pun menghubungi seseorang untuk melakukan sesuatu pada Hendra."Halo, tarik semua investasi dari perusahaan suamiku. Dan satu lagi blokir ATM dan kartu kreditnya."Baik nona akan kami laksanakan."Dewi mengambil koper dan memasukkan semua barang Hendra ke dalamnya. Setelah itu Dewi menyeret koper itu keluar dari kamar ini. Dengan bantuan asisten rumah tangganya, koper itu sudah berada diluar. Kini Dewi sudah menunggu kepulangan suaminya itu.Hendra yang berada di ruangan kantornya begitu terkejut saat menerima kabar dari sekretarisnya jika Dewi menarik semua saham di perusahannya yang
"Ada apa Sari? Kenapa kamu terlihat gelisah begitu?""I...ni Bu."Sari menunjukkan pesan yang dikirimkan Hendra pada dirinya. Ratna pun akhirnya membaca pesan itu. Aku tidak akan menyerah untuk membuatmu kembali padaku. Bersiaplah sayang suatu hari kita akan bersatu lagi."Astaga, kamu harus lebih hati - hati mulai sekarang Sari. Kalau perlu biar bapak yang mengantarkan dan menjemput kamu."Wijaya yang baru saja menunaikan sholat Maghrib menghampiri ibu dan putrinya itu. Tampak Sari begitu ketakutan setelah memegang ponselnya."Ada apa Bu? Kenapa kalian begitu ketakutan sekali.""Pak, rupanya Hendra masih saja menganggu Sari. Bapak baca ini pesan darinya."Wijaya membaca pesan itu. Setelah itu terlihat kilatan amarah dari wajahnya."Kurang ajar, masih saja dia menganggu putriku.""Pak aku takut, bagaimana kalau suatu saat dia mengangguku.""Kamu tenang saja Sari. Mulai besok bapak akan mengantarkan dan menjemputmu.""Tapi bapak kan kerja. Lagipula arah kantor Sari dan pabrik bapak be
Di kediaman rumah Aldo yang mewah, tampak mereka sudah mempersiapkan kejutan untuk menyambut kepulangan Diva dari rumah sakit. Begitu banyak hiasan balon dan juga tulisan selamat datang untuk menyambut Diva. "Wah ini bagus sekali do.""Iya Bu, ini semua hasil kerja keras semua pelayan disini. Mereka begitu menyayangi Diva sehingga mereka rela lembur seharian demi kejutan ini.""Diva memang pantas mendapatkannya. Karena dia memang orang yang baik.""Ya sudah Bu, sebentar lagi Diva datang. Mama dan papa sudah menjemputnya.""Kalau begitu kita bersiap - siap. Sayang sekali tak ada bapak disini.""Siapa bilang aku tak ada disini.""Lho pak, bukannya bapak ke rumah kita yang baru untuk meletakkan barang - barang kita?""Kamu tenang saja Bu, semua sudah beres. Itu berkat bantuan anak buah Aldo.""Syukurlah kalau begitu.""Hmnn sepertinya Diva sudah datang. Ayo kita bersiap menyambutnya."Mereka semua berkumpul di balik pintu tak terkecuali semua pelayan yang bekerja di rumah itu. Para pela
"Sebaiknya kamu pulang. Ibu tak ingin terjadi fitnah diantara kalian.""Tapi Bu, jika diizinkan aku ingin rujuk dengan Sari. Aku menyesal karena telah menceraikannya.""Gila kamu mas. Tak sudi aku kembali bersamamu. Lebih baik aku jadi janda seumur hidup daripada harus kembali denganmu.""Jangan sok jual mahal kamu Sari. Kamu tak ingat dengan perselingkuhanmu dulu? Dengan gampangnya kau memberikan tubuhmu untuk orang lain."Plak ...plak ..Dua tamparan tiba - tiba diberikan Ratna kepada mantan menantunya itu. Dengan nafas yang memburu, Ratna mengusir Hendra dari hadapannya."Pergi kamu...pergi!!! Berani sekali kamu menghina putriku. Memang saya akui putriku memang bersalah. Tapi kamu tak pantas menghina dirinya."Ratna berbicara seperti itu sembari membelalakkan matanya. Hendra tak terima dan ingin membalas mantan ibu mertuanya itu. Matanya memerah seolah ingin melahap habis lawan dihadapannya."Beraninya anda menampar saya. Saya bisa menghancurkan keluarga anda. Anda salah berhadapan
Sari dan Ratna begitu terkejut melihat rumah yang ditunjukkan oleh Wijaya. Rumah itu jauh lebih besar dari rumah yang saat ini mereka tempati."Pak, ini rumah bapak sekarang?""Ya, lebih tepatnya rumah kita.""Tapi rumah ini bagus sekali pak. Bapak dapat uang darimana? Jangan bilang Aldo yang memberikannya?" Ratna tampak khawatir saat tahy suaminya tiba - tiba membeli rumah sebagus ini."Bukan, ibu tenang saja. Ini murni uang bapak. Sebenarnya rumah ini bapak hadiahkan untuk Diva. Kalian masih ingat gak, Aldo pernah kasih uang bapak sebagai pengganti biaya resepsi Sari yang batal?""Oh ya, aku ingat pak. Tapi harga rumah ini pasti mahal pak. Dan untuk membeli rumah ini butuh uang yang lebih banyak.""Ya bapak tahu. Maka dari itu, bapak menjual rumah kita yang lama. Alhamdulillah rumah lama kita sudah laku dan akhirnya bapak bisa membeli rumah ini.""Alhamdulillah kalau begitu pak. Aku turut bahagia mendengarnya.""Kalian mau lihat suasana di dalam?""Boleh pak. Ayo Bu kita masuk."Ra