Beranda / Romansa / Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa / Ketakutan Sarah dan Devan yang Mencoba Menerima Kenyataan

Share

Ketakutan Sarah dan Devan yang Mencoba Menerima Kenyataan

Penulis: Popyani
last update Terakhir Diperbarui: 2024-07-01 08:35:18
Berkali-kali Sarah menghapus jejak pena, saat jari-jari lentik itu menggoreskan di atas lembaran putih tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Suasana di dalam ruangan begitu khusuk, Sarah begitu fokus pada apa yang tengah dia lakukan, yaitu mendesain sebuah kalung yang akan dia luncurkan sebagai koleksi terbaru dari Sarah colection.

Suara ketukkan menyapa pintu ruangan--Sarah yang tengah sibuk dengan kegiatan nya--seketika menengadah, dan membawa pandangan nya pada pintu ruangan.

"Masuk---," ujar Sarah dengan setengah teriakkan, wanita itu kembali menunduk-menatap lembaran di atas meja.

Suara pintu terbuka, Sarah mengangkat wajah dan mendapati kedatangan salah satu karyawan wanita nya. Wanita itu terperanjat, sebab karyawan nya datang dengan membawa sebuah bucket bunga mawar berwarna merah darah.

"Dari Pak Devan?" tanya Sarah menebak, wanita cantik itu memperlambat setiap kata yang mengalir dari mulut nya.

"Bukan Nona. Di sini tidak ada nama dari siapa pengirim nya," sahut
Popyani

Jangan lupa tinggalkan komentar, dan juga follow akun aku, @popy--yanni untuk melihat visual Rania dan Devan.

| 1
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Kebusukan yang Terbongkar

    Hari ini adalah hari pernikahan seorang Devan Wijaya. Pernikahan kedua bagi Devan, namun yang pertama bagi Sarah. Tidak seperti pernikahan pertama nya yang ditutupi, dan tidak banyak orang yang mengetahuinya, kali ini berbeda. Hampir sebagian stasiun televisi menyiarkan pernikahan Sarah dan Devan yang dilangsungkan hari ini, dan pernikahan ini digelarkan secara meriah. Kediaman milik Rasty. "Papa----Mama-----," panggil Rasty dengan teriakkan, saat menonton sebuah berita di televisi pagi ini. "Ada apa, Rasty?" tanya mama Anita cepat, wajah itu nampak panik. "Iya, ada apa-Rasty? Apakah, ada sesuatu yang terjadi?" tanya papa Hendra--menatap putri nya dengan lamat-lamat. "Tuh!" ujar Sarah, sembari membuang pandangan nya ke arah televisi, dan apa yang wanita itu lakukan turut mengalihkan wajah kedua orang tua nya. "Devan, akan menikah hari ini?" gumam mama Anita. Terkejut, sembari memandang tidak percaya pada layar televisi. "Iya. Dia, akan menikahi tunangan nya hari ini," tut

    Terakhir Diperbarui : 2024-07-01
  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Devan yang Mengkhawatirkan Rania

    Kenyataan yang mereka ketahui hari ini sungguh membuat Devan, dan kakek Darma shyok berat. Dan, kini kedua pria beda generasi itu sudah dalam perjalanan pulang kembali ke kediaman mereka, dengan Deni yang mengendarai kendaraan. Suasana tenang menyelimuti di dalam mobil, namun Devan dan kakek Darma masih tetap setia dengan diam nya. Deni, yang mendapati bagaimana kedua pria itu kini--sesekali mencuri pandang pada mereka lewat kaca spion dalam mobil. "Ternyata Tuhan masih sayang dengan Tuan muda Devan. Sebelum akad nikah berlangsung, dia membongkar semua kebusukan Nona Sarah. Dan, Tuan besar Darma--pasti sangat menyesal, juga malu yang teramat sangat sebab calon cucu menantu nya itu ternyata pernah hamil, dan juga menggugurkan bayi," gumam Deni dalam hati. Dalam keheningan, Deni terus melajukan kendaraan roda empat. Hingga, pria itu harus berhenti--saat menemukan lampu merah. Handphone milik Deni tiba-tiba berdering, dan itu mampu mengalihkan pandangan Devan dan juga kakek Darma yan

    Terakhir Diperbarui : 2024-07-02
  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Kehancuran Sarah

    Apa yang terjadi hari ini-sama sekali tidak pernah disangkah oleh papa Akio. Bagaimana, mungkin-aib yang selama ini turut dia sembunyikan bisa terbongkar. Jujur. Saat ini dia teramat malu setengah mati, terutama pada keluarga Wijaya. Memijat pelipis nya yang terasa berdenyut, papa Akio hanya bergeming-dia masih shyok berat. Namun, pria itu terusik saat suara tangisan Sarah kembali kencang. Menghentikan apa yang tengah dia lakukan saat ini mimik wajah papa Akio telah berubah tegang, dia nampak marah. "Buat apa kamu menangis. Sebab, yang menjadi korban di sini adalah Devan, bukan kamu!" hardik papa Devan. Mama Winda yang sedari tadi berusaha menenangkan Sarah--seketika menghentikan kegiatan nya, dan melayangkan tatapan tajam nya pada sang suami. "Paa, Sarah ini lagi terkena musibah! Seharusnya kamu memberi nya semangat, bukan malah membuatnya sedih!" Nada suara Mama Akio sudah meninggi. "Musibah? Musibah seperti, apa-yang kau maksud?! Saat ini semua orang pasti tengah menggun

    Terakhir Diperbarui : 2024-07-03
  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Rania Terkejut Mengetahui Devan Tidak Jadi Menikah

    Ntah, apa yang ada di dalam pikiran seorang Akio Haruto. Bukan nya duduk di kursi yang berada di tempat lain, papa Akio justru mendaratkan tubuhnya pada kursi yang sama dengan mama Ani, dan dalam jarak yang begitu dekat. Sontak, mama Ani terperanjat dan segera memberi jarak dengan mantan suami nya itu. Dan, apa yang mama Ani lakukan membuat papa Akio seperti baru menyadari apa yang sudah dia lakukan, suasana mendadak canggung. "Maaf," cicit nya, wajah papa Akio telah memerah--akibat merasa malu dengan apa yang sudah dia lakukan. Dan, mendengar kata MAAF yang mengalir dari mulut papa Akio, mama Ani hanya menyambut nya dengan senyuman yang kikuk, wanita itu nampak salah tingkah. Suara pintu terbuka--mengalihkan perhatian ke empat sosok, dan mendapati ke luar nya seorang Dokter wanita. "Dokter, bagaimana keadaan anak perempuan saya-dan anak nya?" tanya mama Ani, dengan wajah tidak sabaran nya. "Iya-Dokter, bagaimana keadaan anak perempuan saya?" tanya papa Akio pula. Tak la

    Terakhir Diperbarui : 2024-07-04
  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Memberi Kesempatan Ke dua

    Rania memindai pandangan nya pada mama Ani--wanita berambut hitam legam itu seperti tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Suasana mendadak canggung, Rania dan Devan terlihat bak orang yang belum pernah saling mengenal. Devan, pria itu menyeretkan langkah kaki, pria itu mendaratkan tubuh nya pada sebuah kursi. Tak ada yang saling berbicara. Rania, mati kutu--wanita itu tetap setia dengan diam nya, pada hal sebelum kedatangan Devan, Rania banyak bertanya, salah satu nya menanyakan bagaimana keadaan anak nya saat ini. Dan, hal itu sangat menarik perhatian mama Ani. Menurut nya---bagaimana pun, Devan dan Rania, perlu berbicara. "Deni, Akio, sebaik nya kita ke luar." Rania yang sedari tadi setia dengan diam nya--seketika mengangkat wajah, dan menatap sang Bunda, dengan tatapan protes. Rania tidak mau ditinggal sendiri bersama Devan. "Kami, hanya sebentar!" ujar mama Ani, meraih tangan Deni, memaksakan putra angkat nya itu untuk ke luar. Sudah mengambil beberapa langkah,

    Terakhir Diperbarui : 2024-07-06
  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Penyesalan Darma Wijaya

    Ada bahagia, ada pula duka yang menyelimuti. Itulah gambaran hati seorang Devan Wijaya saat ini. Sempat gunda dengan gagal nya pernikahan dia dan Sarah, namun luka itu terbayarkan dengan lahir nya sang putra. Senyuman terus terukir di wajah Devan saat menatap wajah bayi nya yang dia abadikan dengan kamera ponsel. Ketika akan pulang ke rumah, Devan kembali menghampiri ruang NICU-pria itu meminta ijin pada petugas agar dapat melihat secara langsung anak laki-laki nya, dan tentu saja Devan tidak lupa memotret wajah anak nya. "Keponakan saya memang sangat tampan," ujar Deni tiba-tiba, dan perkatan dari Deni membuat Devan tercengang. Sebab, pria itu sama sekali tidak menyadari Deni yang telah duduk didekat nya. Menatap Deni dengan tidak suka, Devan menjauhkan ponsel nya dari pria itu. "Dia anakku!" Devan bersuara dengan tegas, terselip amarah dalam nada bicara pria itu. Deni cengengesan, sembari menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. Ucapan Devan membuat nya mati kutu. "He---he---he

    Terakhir Diperbarui : 2024-07-07
  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Rania dan Devan yang Kembali Dekat

    Mimik wajah papa Akio berubah, amarah sudah menyelimuti wajah pria berdarah Jepang itu akan pertanyaan yang putri nya layangkan sebab itu mampu membangunkan emosi. Rahang nya mengeras, sorot mata papa Akio laksana belati yang siap membunuh. Dan, kemarahan pria itu mampu tertangkap oleh Sarah. "Kamu, masih berani bertanya tentang Devan setelah apa yang kamu lakukan. Papa sudah memperingatkan mu tentang hal ini, namun kamu tetap dengan keras kepala-mu, itu!" ujar papa Akio pelan, namun penuh penekanan. Kemarahan di dalam diri nya pada Sarah--kian meletu-letup. Kata-kata yang mengalir dari mulut sang ayah, laksana pisau--mampu mencabik-cabik hati hati Sarah. Wajah nya telah berubah mendung, bolamata Sarah sudah berkaca-kaca. "Aku, melakukan itu semua karena aku mencintainya, Paa---? Aku melakukan semua itu karena aku mencintai nya. Apakah, aku salah---?" Suara Sarah sudah berubah parau, air mata pun sudah bercucuran membasahi kedua pipi mulus wanita itu. Sarah kini terisak, menangis pi

    Terakhir Diperbarui : 2024-07-09
  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Kebersamaan Rania dan Devan

    Pernah menjalin hubungan sebagai suami-istri, namun suasana canggung begitu antara Devan dan juga Rania. Devan---, pria itu mencoba menggoda Rania, namun sang mantan istri hanya membisu, Rania nampak malu-malu.Bersama Devan membuat waktu terasa cepat untuk Rania. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam."Sudah jam 10 malam. Namun, kenapa--mama belum juga kembali? Bukankah, tadi dia mengatakan hanya sebentar?" gumam Rania dalam hati, wanita bersurai hitam itu nampak berpikir. Mengalihkan pandangan nya pada Devan, Rania mendapati Devan yang begitu sibuk dengan gawai nya. Pria itu seperti nya sedang memeriksa sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan. Namun, sedetik kemudian terasa ada sesuatu yang mengganggu untuk Rania, Devan yang belum juga pulang. "Ini sudah jam 10 malam-tapi dia belum juga pulang," bathin Rania, yang masih setia melemparkan pandangan nya pada Devan. Namun Rania cepat-cepat memindai pandangan nya ke arah lain--saat mendapati pergerakan sang mantan. Devan

    Terakhir Diperbarui : 2024-07-10

Bab terbaru

  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Akhir Kisah Rania dan Devan

    5 bulan kemudian Oeek---- Oeek---- Suara tangisan bayi menggema di dalam ruangan operasi, dan suara tangisan bayi yang terdengar, membuat sosok-sosok dewasa itu seketika mengucapkan rasa syukur. "Selamat ya, Deni, akhir nya kamu sudah menjadi ayah," ujar Devan, menghampiri Deni dan memeluk sebentar pria itu. "Terima kasih Tuan," ujar Deni, dengan senyum lepas di wajah--kebahagiaan nyata terlihat di wajah pria itu, di mana binar bahagia nyata terlihat di bola mata nya. "Deni----," panggil Rania beberapa menit kemudian. Datang nya sosok Rania, mengembangkan senyum di wajah Deni, namun ada nya air mata yang dia temukan pada kelopak mata kakak angkat nya, membuat Deni pun tak mampu membendung kesedihan itu lagi. Bagi Deni, Rania adalah sosok kakak yang baik untuk nya. Melangkah menghampiri, Deni segera memeluk tubuh wanita itu saat sudah berada dekat dengan nya. "Kau, sudah menjadi seorang, ayah, Deni, selamat!" ujar Rania dengan lirih, sudah ada butir kristal yang mene

  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Rania dan Sarah yang Saling Menerima

    Kaget, dengan bola mata yang membeliak penuh. Namun, menyadari bagaimana sambutan nya dengan segera Rania, mengembalikan mimik wajah nya. "Maaf," ujar Rania dengan kikuk, wanita itu nampak salah tingkah merasa tidak enak hati pada Sarah. Sarah yang menunduk, seketika mendongak--iris hitam nya, begitu dalam dan tajam, menatap manik hitam Rania. Masih menatap, Sarah akhir nya bersuara. "Apakah, kau tidak akan memaafkan aku?" tanya Sarah dengan lirih, ada mendung yang sudah menyelimuti wajah cantik wanita itu bagaimana mendapati sambutan Rania akan permintaan maaf dari nya. Wajah Rania mendadak kaku, terperangah--sebab merasa Sarah sudah salah sangkah pada nya," Oh, bukan begitu maksudku, kau salah sangkah! Aku, sudah memaafkan mu, sejak kau mengijinkan Papa, dan Mamaku untuk kembali bersatu " jelas Rania. "Benarkah?" ujar Sarah dengan senyum yang mengembang di wajah, wanita yang sedang mengandung 4 bulan itu terlihat sumringah, bola mata nya pun berbinar bahagia. "Yaa!"

  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Sarah yang Menerima Deni

    Dua Minggu kemudian Duduk berdampingan, namun walaupun duduk bersama, Sarah, maupun Deni tak ada yang saling berbicara. Ntah, apa yang ada dalam pikiran kedua nya, namun kedua sosok itu lebih memilih untuk diam. Suasana canggung begitu terasa. Ingin berbicara, namun--Deni bingung harus memulai nya dari mana. Sarah terus saja mendiam kan nya. Alhasil, Deni tetap dengan diam nya--dengan sesekali melirik kan pandangan nya pada Sarah. Mendapati Sarah yang meremas jari-jari nya, pria itu hanya bisa mendesahkan napas nya berat. "Aku seperti melihat orang lain. Padahal Sarah yang aku kenal, adalah sosok yang arogant, dan suka, banyak bicara!" gumam Deni dalam hati, dengan diam-diam menatap pada Sarah. Hening--- Hening--- Sampai kapan--mereka saling, diam? Setidak nya itu lah yang ada di dalam pikiran Deni saat ini. Tak, mampu menahan diri itu lagi--Deni memilih untuk bersuara terlebih dahulu. "Kenapa, kau tidak memberitahukan padaku--kalau kau, sedang mengandung?" ujar Deni

  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Kehamilan Sarah yang terbongkar

    Malam hari "Rania----." Suara panggilan membuat lamunan panjang Rania membelah, wanita berambut indah itu seketika memindai pandangan nya pada asal suara. "Dev---,"gumam nya, saat mendapati kedatangan sang suami. Sebagai seseorang yang sangat mengenal baik Rania, tentu Devan tahu-seperti apa istri nya itu. Air muka yang Rania tunjukkan saat ini, Devan yakin ada sesuatu yang begitu membebani istri nya itu saat ini. "Kamu, baik-baik saja'kan?" tanya Devan. Menutup pintu ruangan, pria itu menyeretkan langkah berat nya menuju Rania. Rania tak langsung menyambut pertanyaan yang Devan layangkan. Pertanyaan yang pria itu berikan, kembali menyadarkan Rania atas kenyataan yang dia ketahui hari ini. Diam, iris hitam Rania begitu lekat, dan dalam, menatap manik hitam Devan. "Tidak! Aku tidak boleh memberitahukan hal ini pada Devan." Rania bermonolog dalam hati, wanita itu sedang berperang dengan suara hati nya sendiri. "Aku baik-baik saja!" sahut Rania, memutuskan pandangan-ber

  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Deni Bercerita Pada Rania

    Sarah telah kembali berada di dalam mobil. Namun, bukan nya langsung pergi meninggalkan area depan restorant, Desicner perhiasan itu justru masih setia tetap berada di sana. Begitu malu saat Rania melihat tanda merah di leher nya, membuat Sarah menenggelamkan wajah nya sedalam mungkin di antara bundaran setir, dengan tak henti-henti nya menggerutu. "Sebel! Sebel! Bagaimana, bisa aku seceroboh ini?!" gerutu Sarah, sembari memukul-mukul kuat bundaran setir. Puas meluapkan kekesalan nya, Sarah mendongak, dan wanita itu mendapati Rania yang melintasi depan mobil nya. Mendapati Rania yang tersenyum--Sarah yakin kalau saudara tiri nya itu tengah menertawakan diri nya. Masih setia memandang Rania, hingga berakhir diri nya mendapati Ibu satu anak itu yang berlalu dengan sebuah mobil mewah. Lama memandang, Sarah memutuskan pandangan setelah teringat rencana nya yang akan berziarah ke makam sang Bunda. Menghidupkan mesin mobil, dan berlalu pergi meninggalkan depan restorant. **** *****

  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Sarah yang Mengijinkan Papa Akio dan Mama Ani Kembali Bersama

    Beberapa hari ini Devan merasa ada yang berbeda dengan Deni. Orang kepercayaan, juga adik ipar nya. Menurut Devan sedang tidak baik-baik saja. Deni yang selalu smart, dan selalu terlihat gentle, akhir-akhir ini nampak tidak bersemangat. Terus memandang, Devan yang selama ini memendam rasa penasaran nya akhir nya bertanya. "Bolehkah, aku bertanya sesuatu?" tanya Devan, dengan nada suara yang terdengar ragu. Deni yang tengah memandang wajah ponsel, seketika menengadah--pria itu menatap Devan dengan lekat-lekat. Devan tak langsung melontarkan pertanyaan. Di tatap nya wajah Deni lamat-lamat, lingkaran hitam pada kelopak mata, wajah yang kusut, seperti nya pria itu akhir-akhir ini kurang beristirahat. "Apakah, kau sedang ada masalah? Sebab yang aku perhatikan beberapa hari ini kau nampak murung. Mata mu pun nampak menghitam. Bukankah, aku jarang memberikan kau pekerjaan yang membuat kau lembur. Atau jangan-jangan, kau sering menghabiskan waktu di Klup malam bersama para wani

  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Satu Malam Bersama Deni

    Beberapa menit kemudian "Apa, menginap di sini?!" sahut Deni. Bola mata nya membeliak, kaget juga sedikit shyok setelah mendengar keinginan Sarah barusan. "I-ya," sahut Sarah dengan ragu, sambutan Deni menciptakan mimik wajah yang berubah pada wanita itu. Sarah nampak menahan malu. "Nggak!" Deni menolak dengan tegas, dan penolakan keras dari pria itu menciptakan kekecewaan, juga sedih di wajah Sarah. Namun, hanya sesaat saja. Seketika wanita cantik berdarah Jepang Indonesia itu, kembali memohon pada Deni. Memegang tangan pria itu dengan erat-erat, dan menatap nya dengan memohon. "Den, aku mohon-kali ini saja. Aku sedang benar-benar membutuhkan seseorang untuk berkeluh kesah. Kematian Mama, dan hubungan ku dan Papa yang merenggang, membuat aku merasakan rumahku seperti di neraka," pinta Sarah. Memasang wajah memelas nya, Sarah menatap Deni dengan bola mata berair. "Bukankah, kau memiliki teman? Jika kau tidak nyaman berada di rumah mu, kau bisa pergi menginap di rumah mer

  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Sarah Mendatangi Deni

    Waktu telah berada di pukul 11 malam. Di saat banyak penghuni bumi sudah menjemput alam mimpi nya, hal serupa tak berlaku bagi Sarah. Walaupun telah dilanda rasa kantuk yang teramat sangat--namun Desicner cantik itu tak kunjung dapat tidur. Bangkit dari tidur nya, Sarah mengacak-ngacak rambut nya frustasi. "Kenapa, aku terus memikirkan omongan Rania, terus-sih?!" gerutu Sarah, dengan wajah frustasi nya. Karena tak dapat kunjung tidur, berakhir Sarah memutuskan untuk pergi ke dapur. Dia akan mengambil beberapa cemilan ringan, dan juga minuman soda, guna untuk menemani nya menonton film. Kedua kaki Sarah telah memijak di lantai dasar. Akan melangkah menuju arah dapur, namun hal itu Sarah urungkan saat dari jauh lebih tak sengaja wanita berkulit putih itu mendapati keberadaan papa Akio. "Papa," gumam Sarah, dengan pandangan tak terputus dari papa Akio, di mana pria paruh baya itu tengah berdiri di depan jendela kaca besar, sembari melemparkan pandangan nya ke arah luar. Lama me

  • Suami Dadakan Ku Bukan Kuli Biasa    Dilema nya Sarah

    Beberapa menit menempuh perjalanan dengan kendaraan roda empat nya Sarah akhir nya kembali tiba di rumah nya. Namun, saat mobil milik nya telah terparkir wanita cantik itu tak langsung berlalu dari dalam mobil. Masih setia berada di kursi nya, dengan pandangan yang menerawang begitu jauh. Seperti ada sesuatu yang begitu membebani pikiran nya. Sekian detik berada di sana, Sarah akhir nya berlalu dari dalam mobil. Menyeretkan langkah kaki nya ke dalam rumah, Sarah mendapati suasana rumah yang dalam keadaan lengang. Menelusuri setiap sudut ruangan, Sarah nampak seperti tengah mencari sesuatu. Hingga, terdengar suara langkah kaki, dan dia mendapati kedatangan salah satu pelayan rumah. "Bibi----," panggil Sarah dengan setengah teriakkan, dan itu membuat pelayan tua itu menghentikan langkah kaki nya, dan menghampiri nya. "Nona," ujar nya dengan sopan. "Di mana, Papa?" tanya Sarah dengan nada suara nya yang terdengar menuntut. "Tuan Besar sedang berada di taman samping rumah," j

DMCA.com Protection Status