Desa Albarracin, Spanyol. Salah satu desa terindah di dunia. Desa yang menyajikan panorama abad pertengahan yang sangat kental, rumah-rumah di desa ini rata-rata dibangun di atas bukit, dengan material-material yang ringan, begitu juga dengan rumah peristirahatan Victor ini.
Dari jendela kamarnya Halwa dapat melihat ke sekeliling desa itu, dan ia merasa seperti tinggal di abad pertengahan, dengan banyaknya benteng batu yang menghiasi sudut kota, dan bukit-bukit tandus yang mengelilingi desa yang berada di wilayah tengah Aragon ini, meski demikian udaranya terasa sejuk. Di gang-gang sempit desa ini terdapat jalur-jalur yang berliku, yang mengarah ke menara-menara batu kuno, istana-istana dan juga kapel-kapel, serta situs bersejarah lainnya. "Kamu tidak istirahat, Aira?" tanya mama, "Tidurlah sebentar, kamu tidak tidur selama di pesawat." Halwa "Aku takut, Ma. Aku selalu merasa ketakutan saat akan beranjak tidur. Aku takut mimpi buruk lagi," jawab Halwa. "Besok Victor akan mengantarmu terapi ke Psikolog yang ada di desa ini, Sayang. Dokter itu katanya teman baik Victor, jadi kamu tidak perlu sungkan-sungkan padanya. Semoga saja dengan rutinnya kamu mengikuti terapinya, perlahan tapi pasti kenangan buruk itu tidak akan mengganggumu lagi." "Aku berhutang banyak padanya, Ma. Pria itu mau menolong aku yang bahkan tidak akrab dengannya," desah Halwa. "Maka dari itu bangkitlah, Nak. Kuatkan dirimu dalam menghadapi cobaan berat ini. Mulai menata kembali hidupmu." "Ya, aku akan bangkit. Demi anakku," tekad Halwa. Satu minggu kemudian ... Victor mengajaknya menyusuri jalan setapak yang akan mengarah ke puncak bukit, tempat ia akan memperlihatkan pemandangan indah di malam hari nanti pada Halwa. Pria itu selalu mengajaknya ke sana, sesuai dengan arahan psikiater yang membantu terapi trauma Halwa, untuk menenangkan pikiran Halwa sebelum ia beranjak tidur. Dan kegiatan rutin itu memang sedikit membantunya, karena sudah beberapa hari ini mimpi buruk itu tidak pernah datang kembali. "Apa orang tuamu tidak keberatan kami tinggal di sini, Vic?" tanya Halwa. "Mereka tidak pernah mendatangi tempat ini," jawab Victor. "Bagaimana kalau tiba-tiba mereka datang, dan mendapati aku beserta keluargaku tinggal di rumah peristirahatannya?" Victor mengangkat bahunya, "Kalaupun mereka datang, mereka tidak berhak mengusir siapapun yang aku izinkan tinggal di sana... Karena rumah itu adalah pemberian Opaku, dan sudah atas namaku." "Vic, kalau aku sudah memiliki penghasilanku sendiri, bolehkah aku menyewa vila lain untukku dan keluargaku? Aku tidak ingin terus-terusan membebanimu." "Kamu bebas tinggal di mana saja kamu mau, aku tidak akan melarangnya. Aku hanya bisa menemanimu selama dua minggu ini saja, sekalian mengajakmu mengelilingi desa ini untuk melihat fasilitas umum seperti rumah sakit dan sebagainya." "Apa setelah itu kamu akan kembali ke Jakarta?" tanya Halwa, ia belum terbiasa tinggal di negara ini tanpa Victor. "Ya, aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan perusahaanku," jawabnya. Victor menelengkan sedikit kepalanya untuk melihat fitur wajah Halwa, wanita itu nampak sedang mengerutkan keningnya, mungkin merasa khawatir dengan ketiadaan Victor di desa ini. Sudah banyak kemajuan di dalam diri wanita itu. Halwa sudah tidak histeris lagi di dalam tidurnya, dan tidak ada lagi tatapan kosong wanita itu, selama tidak meninggalkannya sendirian. Memang sesekali dia terlihat termenung, tapi tidak separah sebelumnya, dan responnya sekarang jauh lebih bagus, Halwa sudah mau bicara banyak dengan Victor dan juga sudah mulai menampakkan senyumnya. Senyum yang mampu menghangatkan hati Victor yang sudah membeku, sejak pertama kali mereka bertemu. 'Namanya Aira Halwatuzahra, kalian bisa panggil dia Halwa.' Victor teringat kembali saat Tita memperkenalkan Halwa pada teman-temannya. Wanita itu dapat langsung mencuri perhatian Victor, saat ia melihat senyumnya yang merekah laksana bunga, yang mekar di padang hati Victor yang gersang. 'Bunga paling indah. Sesuai dengan namanya.' "Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah menempatkan beberapa anak buahku di sekitarmu dan juga orang tuamu. Jangan sungkan-sungkan menghubungiku jika ad masalah, sekecil apapun itu." Victor berusaha menenangkan Halwa. Kerutan di keningnya perlahan memudar, Halwa menghentikan langkahnya hanya untuk menatap Victor, "Itu berarti kamu tinggal satu minggu lagi di sini?" "Ya., aku akan segera menyelesaikan urusanku di sana, supaya bisa kembali ke sini lagi, itu pun kalau kamu membutuhkanku." "Terima kasih untuk semua kebaikanmu, Vic. Aku pasti akan dengan senang hati kalau kamu sering-sering mengunjungi kami." "Ingin aku bawakan apa dari Jakarta?" tanya Victor. "Kamu sampai dengan selamat, itu saja sudah cukup untukku Vic," jawab Halwa. "Kalau begitu, aku akan tiba dengan selamat." Halwa kembali menatap penuh wajah pria itu, terlihat kaku begitu juga dengan nada suaranya. Tapi hatinya hangat sekali, Halwa bahkan tidak menyangka kalau pria yang selama ini ia kenal sebagai pria yang introvert, tapi banyak bicara saat sedang bersamanya. Dan terlebih lagi, pria itu telah mengeluarkannya dari neraka itu, menarik Halwa keluar dari keterpurukannya, dan menenangkannya saat mimpi buruk itu kembali hadir. Ya, Halwa tahu tangan hangat Victor lah yang selalu mendekapnya dengan erat, setiap kali mimpi buruk itu hadir. Suaranya yang terdengar lembut dan sedikit kaku, mampu menembus sampai ke alam bawah sadar halwa, dan menariknya keluar dari dalam kegelapan itu. Dan saat Halwa sudah sepenuhnya sadar, ia membiarkan pria itu memeluk dan menenangkannya, karena Halwa sangat membutuhkannya, membutuhkan dukungan penuh dari seseorang. Halwa membiarkannya saat Victor menenangkannya hingga Halwa kembali tertidur. Halwa hanya berpura-pura lupa di pagi harinya, supaya Victor tidak menjadi canggung karenanya. Satu bulan pun berlalu. Halwa baru saja selesai melakukan terapi, dan sedang menunggu Papanya yang sedang ke toilet saat seseorang berpakaian safari serba hitam menghampirinya. "Nona Aira Halwatuzahra?" tanyanya. "Ya," jawab Aira. Ia mengira pria itu adalah salah satu dari pengawal yang ditugaskan Victor untuk menjaganya dan juga menjaga kedua orang tuanya. "Mr. Omero meminta kami membawa anda untuk menemuinya," "Mr. Omero?" Halwa belum pernah mendengar nama Omero sebelumnya, apa pria ini salah orang? "Mr. Victor Omero Covaz." Pria itu menyebutkan nama lengkap Victor. "Victor? Di mana dia?" tanya Halwa sumringah, sudah hampir satu bulan Halwa tidak melihatnya, jadi sekarang Victor sudah sampai di negara ini? "Ikut saya, Nona!" seru pria itu. "Iya, tapi saya tunggu Papa saya terlebih dahulu," ujar Halwa. "Papa anda akan segera menyusul dengan mereka," pria itu menunjuk dua orang lagi yang berpakaian sama dengannya, yang sedang berdiri tegak di depan lorong yang mengarah ke toilet. "Baiklah kalau begitu." Halwa mengikuti langkah pria itu sampai di luar lobby. Sudah ada mobil yang menunggu mereka, dan Halwa diminta untuk segera naik ke mobil mewah itu. Halwa mulai panik saat mobil tidak mengarah ke desanya, supir itu malah melajukan mobilnya ke arah kota. "Ki ... Kita mau ke mana? Di mana Victor ingin bertemu?" tanyanya dengan panik. Tidak ada satupun dari keempat pria tegap itu yang menjawabnya, dua pria duduk di sisi Halwa, sementara dua lagi duduk di depannya. Halwa semakin panik saat mobil memasuki bandara, lalu terus masuk ke landasan pacu, dan berhenti di sebelah jet pribadi. Salah satu pengawal itu turun dan menahan pintu untuk Halwa, "Silahkan turun, Nona. Mr. Omero menunggu anda di dalam jet pribadinya itu. Beliau tidak memiliki waktu banyak untuk bertemu anda." Oh, jadi Victor datang hanya untuk menemuinya sebentar saja? Halwa bergegas menaiki tangga jet pribadi itu, dan pintunya langsung tertutup saat Halwa sudah memasukinya. Perasaannya mulai tidak enak. "Apa kau pikir kau bisa kabur begitu saja dariku?" tanya suara dingin yang dipenuhi dengan kemarahan di belakangnya, Halwa langsung balik badan ke arah suara itu. Seketika tubuh Halwa bergetar hebat, ketakutan yang teramat sangat kembali mencengkramnya, seolah-olah terapi berminggu-minggu yang ia jalani menguap sepenuhnya hanya dengan sekali melihat pria itu.Dengan kedua telapak tangan bersandar pada kaca besar ruang kerjanya, Edzhar terlihat seperti sedang menikmati pemandangan ibu kota, yang dipenuhi dengan gedung-gedung bertingkat, dan kendaraan yang padat merayap. Tapi sebenarnya pikirannya sedang tersita pada sosok wanita yang ia cari-cari selama ini. Sudah satu bulan lebih anak buah Edzhar belum bisa menemukan keberadaannya, Halwa. Wanita yang sudah menyebabkan kekasihnya bunuh diri. Kedua matanya masih menyala-nyala dengan api dendam. Ia belum puas memberi pelajaran pada wanita itu, tapi seseorang telah berhasil mengeluarkannya dari dalam penjara. Edzhar selalu bertanya-tanya di dalam hatinya, siapa sosok yang sudah berani menantangnya itu? Dan sampai kini pun ia belum menemukan para pria yang sudah melecehkan kekasihnya itu. Semua yang terlibat di dalam insiden itu seperti menghilang di telan bumi, termasuk Halwa. "Sampai aku bisa menemukanmu, habis kau Halwa!!" geram Edzhar sambil mengepalkan kedua tangannya. Sesaat kemudian
Pria yang dipanggil Yas langsung menyerahkan tabletnya pada Halwa, dan Halwa merasa nyawanya tercabut dari raganya saat itu juga, saat ia melihat tayangan video orang tuanya yang tengah disekap entah dimana.Halwa menjatuhkan tablet itu dan langsung mencengkram lengan Edzhar,"Jangan sakiti mereka, please! Aku saja. Sakiti aku saja jangan mereka," isaknya."Mulai saat ini, turuti keinginan saya!" tegas Edzhar sambil menepis tangan Halwa."Ya, Aku akan menuruti apapun maumu." "Ingat! Kalau kau sampai mencoba untuk bunuh diri lagi, orang tuamu juga akan segera menyusulmu! Kalau kau mencoba kabur dari saya lagi, saya akan memotong bagian tubuh orang tuamu itu setiap harinya sampai kau kembali! Mengerti?" ancam Edzhar dan dengan cepat Halwa menganggukkan kepalanya."Sekarang katakan padaku, bagaimana Victor bisa membantumu?" "A ... Aku tidak tahu. Terakhir aku ingat aku memutus nadiku sendiri di kamar mandi, dan aku terba
"Jangan takut, Nona. Kami hanya akan merias wajahmu dan merapikan rambutmu," jawab salah satu dari mereka dengan lembut sambil mendudukkan Halwa di kursi meja riasnya. "Meriasku? Untuk apa?" Halwa melihat kedua wanita itu saling tatap dengan bingung dari cerminnya, sepertinya kedua wanita itupun tidak mengetahui apa tujuan dari pria iblis itu menyuruh mereka merias Halwa. 'Apa pria itu mau menjualku? Ya Tuhan! Aku takut sekali. Aku tidak bisa meminta bantuan pada siapapun, bahkan ponselpun aku tidak pegang, semua disita Edzhar.' desah Halwa dalam hati. Halwa membiarkan kedua wanita itu meriasnya, juga menata rambut panjangnya, protes pun akan percuma, karena sudah jelas kedua wanita itu pasti lebih takut pada Edzhar. Halwa menatap pantulan dirinya di cermin, ia bukanlah tipe wanita yang suka berhias diri, berbeda dengan sahabatnya Tita, yang selalu berhias dan berpakaian serba modis kemanapun wanita itu pergi
"Pe ... Pernikahan? Ke ... Kenapa kamu menikahiku?" tanya Halwa tergagap."Seperti yang sudah saya bilang tadi, kau harus membayar kesalahanmu seumur hidupmu! Kalau seseorang bisa membebaskanmu dari penjara, maka tidak akan ada yang bisa membebaskanmu dari penjaraku! Dan saya akan pastikan, kau akan mendapatkan nerakamu di dalam pernikahan ini!" jawab Edzhar dengan nada dingin yang menusuk.'Ya Tuhan! Sampai kapan pria itu akan sadar, kalau bukan aku lah yang mengajak Tita ke kapal pesiar itu?' tanya Halwa dalam hati.Edzhar turun terlebih dahulu, dan Yas membukakan pintu untuk Halwa. Ingin rasanya Halwa melarikan diri dari sana, ia tidak mau menikahi monster itu. Tapi Halwa segera mengurungkan niatnya itu ketika teringat, kalau kedua orang tuanya masih berada di dalam genggaman pria itu.Pernikahannya sendiri berjalan cepat, dan Halwa tidak terlalu mengikuti prosesnya, ia masih shock dengan kenyataan, kalau mulai hari ini ia sudah menja
"Ed, bangun Ed!" seru anne sambil menggoyang-goyangkan bahu Edzhar.Edzhar hanya bergumam pelan, sebelum menarik lagi selimut untuk menutupi dada terbukanya, dan kembali tertidur.Sambil mendesah kesal, anne kembali menyibak selimut Edzhar dan menggoyangkan bahu Edzhar lagi, kali ini dengan lebih kencang, "Ed!!""Ada apa? Kenapa membangunkanku? Aku masih ngantuk," tanya Edzhar sambil menghalau matanya yang silau karena cahaya lampu dengan telapak tangannya."Pembantumu itu kabur!" jawab anne.Sontak Edzhar langsung terduduk, "Kabur?" ulangnya."Iya! Kabur!"Edzhar menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin dia bisa kabur, Anne. Akses kendaraan umum dua puluh kilo meter jauhnya dari rumah ini! Belum lagi dengan banyaknya anak buahku, mereka tidak akan membiarkan wanita itu pergi begitu saja!" 'Wanita itu tidak akan berani kabur, karena aku masih menahan kedua orang tuanya. Dan wanita itu tidak bodoh dengan tidak
Victor sedang mendengarkan laporan keuangan yang terdiri atas laporan perubahan modal, neraca akhir tahun buku baru untuk dibandingkan dengan tahun buku sebelumnya, beserta laporan laba rugi dari tahun buku yang bersangkutan, dan juga laporan arus kas, serta catatan atas laporan keuangan dari data tersebut ketika ponselnya berbunyi. Satu kali berdering ia masih mengabaikannya, hingga deringan ketiga ia baru mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya, lalu mengarahkan tangannya untuk menghentikan sejenak rapat umum pemegang saham itu ketika melihat nama yang tertera di layarnya. Tanpa membuang waktu lagi, Victor segera menerima panggilan telepon dari Delon, salah satu bodyguardnya yang ia tugaskan untuk menjaga Halwa dan keluarganya itu, jantungnya mulai berdetak hebat, berbagai pikiran terburuk melintas silih berganti di benaknya, "Ada apa?" tanyanya dengan nada khawatir. "Nona
Edzhar terus mengeluarkan sumpah serapahnya saat Victor memeluk Halwa, dan membisikkan kata-kata lembut di telinganya, "Ssttt! Tenanglah, Aya. Ini aku Victor," bujuknya sambil mengelus punggung Halwa. Halwa masih terlihat memberontak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Victor, "Lepaskan aku! Tolong lepaskan aku," isaknya. Victor menangkup pipi Halwa, dan menatapnya dengan lembut, "Aya! Look, I'm here for you, no matter what! I'm here to protect you!" Perlahan kesadaran Halwa mulai kembali, awalnya ia mengira ini hanyalah mimpi, tidak mungkin kan Victor ada di sini? Di perkebunan Edzhar? Tapi suara lembut yang sangat dikenalnya itu mampu menyelusup masuk ke dalam dirinya, "Aya! Ini aku, Victor." Aya, hanya pria itu saja yang memanggilnya seperti itu. Dan kini Halwa sudah sepenuhnya sadar, meski tubuhnya teramat sangat letih, sebentar lagi ia pasti akan
"Edzhar, ada apa ini? Cepat jelaskan kenapa pembantu itu bisa menjadi istrimu? Kenapa kau menikah tanpa izin dari Anne terlebih dahulu?" cecar anne, tapi Edzhar masih terus mengabaikannya."Aku akan tetap membawa Aya dari sini!' tegas Victor."Silahkan bawa wanita itu, kalau memang wanita itu bersedia pergi denganmu!" balas Edzhar."Edzhar!" tegur anne lagi, kali ini ia baru mendapatkan perhatian dari putranya itu,"Apa makan malam sudah siap, Anne?" tanyanya dengan nada lembut."Sudah, sekarang lebih baik kita segera memulai makan malam ini, sambil kamu menjelaskan kenapa bisa kamu diam-diam sudah menikah?""Baiklah kalau begitu. Silahkan nikmati makan malam kalian!' seru Edzhar sambil melenggang pergi."Kamu mau ke mana?" tanya anne saat melihat putranya itu melangkah ke arah yang berlawanan dengan ruang makan.Edzhar menghentikan langkahnya, lalu balik badan ke arah anne sambil merentangkan kedua tangannya,
Napass Halwa tercekat, ia menangkup mulutnya dan menatap punggung Edzhar dengan tatapan tidak percaya. Berarti suaminya itu masih berpikiran kalau Halwalah penyebab kematian Tita, dan ia merasakan sakit yang menusuk di dadanya, sakit karena Edzhar masih juga tidak mempercayainya."Aku bukan pembunuh ... " desahnya sebelum menyerah pada kabut gelap yang menariknya ke alam bawah sadarnya, dan Victor menangkap badan Halwa saat jatuh pingsan."Halwa!" pekik Azalea membuat Edzhar balik badan, dan melihat Victor yang sudah membopong Halwa dan membawanya keluar dari tempat itu.Azalea, Andre, dan teman-teman yang lainnya mengikuti di belakang mereka, menyisakan Edzhar, Aaron dan Clare saja yang masih berhadapan dengan kedua orang tua Tita itu.Tapi rasa khawatir yang teramat sangat pada istrinya itu, membuat Edzhar berniat mengejar mereka. Tapi baru satu langkah Edzhar ingin menyusul mereka, tangan om Bara menahannya,"Mau ke mana? Melihat istri
"Kali ini aku mengalah karena Aira sendiri yang memilih untuk terus bersamamu, meski aku tahu itu ia lakukan demi menyelamatkan orang tuanya! Tapi sekali lagi kau mengecewakannya, aku tidak akan segan-segan merebutnya kembali darimu!! Dan jangan pernah berharap saat itu aku akan bersikap mengalah seperti saat ini!! Camkan kata-kataku itu baik-baik, Ed!!" tegas Victor dengan tetap membelakangi Edzhar.Kata-kata yang Victor lontarkan tadi terus-menerus terngiang-ngiang di telinga Edzhar, hingga tanpa sadar pria itu terlihat melamun di tengah canda gurau teman-temannya itu."Ed ... " panggil Halwa sambil menyentuh lembut lengan suaminya itu."Ya, Aşkım?" tanya Edzhar lembut."Kenapa diam saja? Apa kamu sedang tidak enak badan?" tanya Halwa."Sepertinya iya, bagaimana kalau kita pulang duluan saja? Kamu juga harus istirahat demi anak kita," sarannya dan Halwa menganggukkan kepalanya.Ini kesempatannya untuk segera menjauhkan Halwa da
Azalea mengalihkan perhatiannya dari Halwa ke Edzhar, "Kamu memperlakukannya dengan baik, kan?!" tanyanya sambil menyipitkan kedua matanya."Oh, tentu saja," jawabnya santai.Edzhar kembali merangkul pinggang Halwa, dan menariknya dengan gerakan posesif hingga semakin merapat padanya, bukan karena ingin menegaskan pada Azalea, tapi karena dari sudut matanya, ia melihat Victor yang sedang melangkah mendekati mereka."Lea, Andre mencarimu," ucap Victor pada Azalea, meski kedua matanya menatap bolak-balik ke Halwa dan Edzhar."Andre? Bukankah dia tadi sedang ke kamar kecil?" Tanyanya, Victor hanya menjawabnya dengan menaikkan bahunya."Andre?" tanya Halwa."Ah, sahabat yang pernah aku ceritakan padamu itu, Wa. Yang ingin aku jodohkan padamu dulu. Tapi sepertinya tidak perlu, karena sekarang kamu sudah menjadi istri Edzhar, dan Andre sudah menjadi kekasihku. Aku cari Andre dulu ya, nanti aku kenalkan dia pada kalian!" jelas Azalea se
Pagi itu, Halwa sedang memasak sesuatu di dapur untuk sarapan paginya dan juga Edzhar ketika ia merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya, disusul dengan dagu seseorang yang bersandar manja di bahunya, yang sudah pasti orang itu adalah suaminya, Edzhar."Kamu masak apa?" tanya pria itu dengan suara serak, khas orang yang baru bangun tidur."Aku tidak bisa masak yang rumit, jadi ayam goreng saja yaa, Mama sudah mengungkepnya untuk kita, jadi aku tinggal menggorengnya," jawab Halwa.Sudah satu minggu mereka di Jakarta, dan kini tengah berada di Apartment Edzhar. Dan baru satu hari Halwa bermalam di Apartment ini, setelah sebelumnya mereka bermalam di rumah mama dan papa."Kenapa kamu matikan kompornya?" protes Halwa saat Edzhar mengulurkan tangannya untuk mematikan kompor listrik yang tengah Halwa gunakan itu.Alih-alih menjawab, Edzhar malah memutar badan Halwa ke arahnya, dan langsung mendaratkan ciuman ke bibirnya. Awalnya Halwa mere
Dua minggu kemudian.Sinar matahari pagi sudah menembus masuk ke dalam kamar, tapi Halwa dan Edzhar masih enggan untuk meninggalkan tempat tidur mereka. Edzhar masih memeluk Halwa dari belakangnya, dan Halwa membiarkannya. Sudah lama mereka saling diam dengan posisi seperti itu, dan itu adalah rutinitas pagi mereka setiap harinya.Dan setiap itu juga Halwa memikirkan nasehat mamanya tentang hubungannya dengan Edzhar. Mungkin tidak ada salahnya ia menuruti nasehat mamanya itu, dengan memberikan kesempatan kedua pada pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.Dua minggu setelah mama kembali ke rumah tahanannya, Edzhar tidak sekalipun mencuri ciuman itu darinya lagi, pria itu benar-benar telah menepati janjinya pada Halwa."Eughh!" Halwa memekik pelan sambil memegang perutnya, membuat Edzhar seketika itu juga terduduk sambil menatap penuh khawatir ke wajah Halwa,"Ada apa?" tanyanya.Halwa berbalik terlentang sekarang, sam
Halwa segera menempelkan ibu jarinya dan seketika itu juga pintu ruang kerja Edzhar terbuka, pria itu nyaris melompat dari kursinya saat melihat Halwa masuk sambil membawa nampan berisi kopi panas dan juga cemilan, hingga dalam sekejap pria itu sudah berada di depannya, dan langsung memindahkan nampan itu ke tangannya."Apa yang sedang kamu lakukan? Perutku seperti turun ke lantai saat melihatmu membawa kopi panas ini, Wa! Bagaimana kalau kamu tersiram? Apa tidak ada pelayan yang membantumu? Aku akan memecat semuanya!!" cecar Edzhar, Halwa hanya ternganga melihat suaminya yang terlihat panik itu."Ed, tenanglah Ed. Jangan salahkan mereka, aku yang ingin membawanya sendiri ke sini, mereka mau membantuku, tapi akunya yang tidak mau, Ed!" jelas Halwa, ia merasa tidak enak kalau para pelayan mendapatkan hukuman karenanya.Masih tetap memegang nampan dengan motif Tulip Ustmani yang sama dengan cangkirnya itu, Edzhar mengerutkan keningnya sebelum bertanya,
Halwa sedang berbincang-bincang di halaman belakang dengan mamanya, sambil merangkai bunga mawar yang sudah ia pilih untuk ia letakkan di kamarnya, karena ia sangat menyukai bunga itu."Aku ingin sekali melihat mawar hitam, Ma. Tapi sayang, mawar itu hanya dapat tumbuh di Halfeti," desah Halwa sambil mencium salah satu mawar yang tengah ia pegang itu."Aira, jangan-jangan kamu sedang ngidam! Kamu ngidam mau melihat dan mencium mawar hitam," tebak mama, dan Halwa langsung menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar."Mana ada ngidam aneh seperti itu, Ma? Mama ada-ada saja," kekeh Halwa."Aira, ngidam itu memang tidak bisa di prediksi dan tidak bisa direncanakan! Mama pernah dengar ada yang ngidam gigit telinga mantan pacarnya, di depan suaminya! Lebih aneh dari ngidam kamu kan?" "Tidak, Ma. Aku memang ingin melihat mawar hitam itu sejak dulu, bahkan sejak aku SMA. Aku ingin melihatnya langsung dari pohonnya, bukan mawar hitam yang suda
'Maafkan aku, Aşkım. Aku akan membayar semua kesalahanku padamu seumur hidupku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, karena aku begitu mencintaimu.'Kata-kata Edzhar semalam terus-menerus terngiang di telinga Halwa. Ia melirik pria yang kini sedang duduk santai di seberangnya, sambil menikmati sarapan pagi buatan mama. Mereka hanya makan berdua saja di meja itu, sama-sama menempati ujung meja.Hari ini sepertinya Edzhar tidak berangkat ke kantornya, karena pria itu hanya mengenakan kaos polo. Terlihat sederhana, tapi justru membuatnya terlihat lebih maskulin lagi, kerena menampakkan lengannya yang terlihat kuat itu.Tapi ... Apapun yang Edzhar kenakan, pria itu akan selalu terlihat memukau. Karena keelokannya terlekat pada diri pria itu sendiri, bukan dari caranya berpakaian. Bahkan jika bahunya yang kokoh itu hanya dibalut dengan karung goni sekalipun, pria itu akan tetap terlihat layaknya pria necis lainnya. Dan fakta itu semakin membuat perut H
Malam harinya, Edzhar terbangun karena gerakan gelisah Halwa, wanita itu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, hingga Edzhar mendekatkan telinganya ke arah Halwa, tapi tetap saja entah apa yang sedang diracaukan istrinya itu, Edzhar tidak dapat menangkapnya dengan jelas.Edzhar kembali menarik selimut Halwa yang turun karena gerakan kakinya itu, lalu memeluk wanita yang tengah memunggunginya itu, sambil menggumamkan kata-kata lembut untuk menenangkannya."Tidurlah, Aşkım. Aku akan terus memelukmu seperti ini sampai kamu merasa tenang," bisik Edzhar lembut sambil mengecup puncak kepala Halwa.Edzhar menyurukkan kepalanya ke rambut lebat Halwa, ia menikmati halus dan wanginya rambut istrinya itu. "Aku rela terbangun setiap malam, demi bisa mengusir semua mimpi burukmu itu, Aşkım. Aku yang telah menyebabkanmu menderita seperti ini, maka biarkan aku juga mengobati hatimu yang terluka. Karena aku mencintaimu, aku begitu mencintaimu hingga aku merasa