Suhu udara di ruang kerja terasa turun beberapa derajat selsius. Maura merasakan perasaan dingin yang menusuk pori-pori.
"Jadi, kamu masih mau berlagak amnesia?" tanya Dewangga yang kesabarannya semakin menipis."Aku memang amnesia, Dewangga."Air mata Maura kembali menggenang mengaburkan pandangannya. Dia tak tahu bagaimana caranya meyakinkan pria itu bahwa dirinya tak berbohong.Maura menunduk dalam-dalam sambil menggenggam erat pena hitam. Detik berikutnya air matanya tumpah membasahi pipinya lagi.Dia menyeka wajahnya. Suara sesenggukkan dari tangisnya mulai terdengar amat pelan dan tertahan."Ini berkas pemeriksaan kesehatanku. Harusnya kamu baca walaupun hanya sebentar," kata Maura putus asa sambil menyodorkan berkas kesehatannya yang tadi ditolak pria itu.Dewangga menghela napasnya kasar. Ini pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan mereka, dia melihat Maura menangis seberapapun kerasnya dia membuat wanita itu menderita di rumahnya.Dewangga pun mengambil berkas kesehatan itu dengan kasar, kemudian membaca isinya sekilas.Sejenak kemudian dia mengangkat kelopak matanya dan memandang Maura yang tertunduk sambil mengusap pipinya.Maura mengangkat wajahnya. Pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Dewangga yang dingin.Walaupun pria itu adalah suaminya, dia merasa mereka sangat asing.Maura tahu mempertahankan pernikahan yang seperti itu hanya akan membuang-buang waktu mereka."Aku akan belajar membuat tanda tanganku lagi," ucap Maura dengan suara hampir serak. "Beri aku waktu, Dewangga.""Berapa lama? Sehari? Dua hari?"Maura menenangkan diri agar tak kembali menangis. "Aku masih amnesia. Aku butuh waktu sedikit banyak.""Berapa lama?""Mungkin ... setahun?" ujar Maura ragu."Kamu gila? Kamu meminta saya menunggu selama itu, Maura? Kamu mau mempermainkan saya?" tanya Dewangga marah sambil berdiri dan membanting berkas kesehatan Maura ke meja."Setahun akan cepat berlalu tanpa terasa, Dewangga," ujar Maura gelagapan dan putus asa. "Lagi pula keadaanku masih amnesia. Aku butuh waktu untuk pulih.""Tanpa terasa kamu bilang?" ucap Dewangga berapi-api. "Tiga tahun ini saya sudah sering kali muak terhadapmu, Maura!"Maura menunduk gelisah. "Kecelakaan dan mengalami amnesia bukanlah keinginanku," ujarnya dengan perasaan campur aduk. Wanita itu hampir menangis lagi."Aku tak bisa mengingat apapun. Bahkan aku lupa dengan keluargaku sendiri," lanjut Maura. "Aku hanya butuh waktu untuk mempersiapkan segalanya sebelum kita resmi berpisah."Dewangga kembali duduk sambil berusaha meredam amarahnya."Kalau kamu keberatan ... delapan bulan saja. Beri aku waktu delapan bulan.""Tidak bisa!" tolak Dewangga keras. "Saya tak mau membuang-buang waktu lagi.""Tapi ....""Tiga bulan," ujar Dewangga. Nada bicara pria itu lebih terkontrol. "Saya beri kamu waktu tiga bulan.""Tiga bulan?" Maura termenung.Dia tak tahu apakah waktu sesingkat itu akan cukup baginya untuk mempersiapkan segalanya atau tidak. Tapi dia tak punya pilihan."Ya. Saya beri kamu waktu tiga bulan untuk tinggal di sini," ujar Dewangga. "Dan saya beri kamu waktu tiga hari untuk belajar lagi membuat tanda tangan. Setelah tiga hari, kamu tetap harus menandatangani surat cerai ini. Setelah tiga bulan, surat cerai ini akan saya bawa untuk segera diproses," ucap Dewangga sambil meraih berkas cerai mereka.Maura tertunduk dengan beragam pikiran campur aduk."Jangan serakah, Maura. Tiga bulan harusnya cukup untukmu bersiap-siap pergi dari rumah ini," ujar Dewangga dengan amarah yang mulai mereda. "Saya sudah cukup berbelas kasih. Jadi, jangan pernah menjadi orang yang tamak dan tak tahu diri.""Baiklah." Maura mengangguk setelah memikirkan beberapa pertimbangan secara singkat. "Setelah tiga bulan, kamu bisa hidup tenang tanpaku.""Ya, setelah tiga bulan saya akan hidup tenang tanpa kamu," ujar Dewangga. "Tapi ....""Tapi apa?" Maura menatap pria itu dengan gugup.Dewangga mencondongkan tubuhnya ke depan. Tatapan matanya menghujam dingin dan mengancam."Selama tiga bulan ini, saya tak akan membiarkan kamu hidup tenang di rumah ini."Maura menelan ludahnya. Matanya terbelalak menatap Dewangga yang bersungguh-sungguh."Selama kamu tinggal di rumah ini, kamu urus sendiri kebutuhanmu. Bersihkan sendiri pakaian dan kamarmu. Mulai hari ini, tak ada lagi orang yang akan melayanimu," lanjut pria itu.Dewangga memeriksa arloji di pergelangan tangannya. Dia berdiri sambil merapikan kemeja dan jasnya, kemudian menyimpan berkas perceraian itu di laci meja kerjanya dan berlalu pergi meninggalkan Maura dengan membawa beberapa map.Keheningan dan kehampaan menyergap hati dan pikiran Maura. Wanita itu menarik napas lagi entah yang keberapa kalinya.Dia berdiri dengan tubuh lelah sambil meraih berkas kesehatannya dan pergi meninggalkan ruang kerja Dewangga yang penuh aroma buku.Ketika dia hendak menuju kamarnya, Maura melewati ruang tengah yang sunyi.Di sana dia melihat seorang wanita cantik tengah duduk tersenyum sambil membaca sebuah majalah bisnis dengan secangkir teh hangat di tangannya. Seketika pandangan mata mereka bertemu."Kenapa melihatku seperti itu, Maura?" tanya wanita itu sambil meletakkan cangkir tehnya di meja dengan elegan."Anda siapa? Anda mengenal saya?" tanya Maura dengan alis berkerut.Wanita itu berdiri sambil meletakkan majalah yang dibacanya di meja dan tersenyum. Sungguh, dia terlihat semakin cantik dan menawan dengan senyumnya."Jadi kamu beneran amnesia?" tanyanya setengah mengejek.Maura semakin mengerutkan alisnya."Aku Alena, saudara tiri kamu. Kamu nggak ingat?"Maura tertegun. Dia pernah mendengar nama Alena dari Lusi saat Lusi menceritakan sedikit tentang keluarganya. Lusi bilang, hubungan mereka tak begitu akur bahkan mereka sering bertengkar."Untuk apa kamu ke sini?" tanya Maura tak senang. "Kamu ... datang bukan untuk menjengukku, kan?"Alena tersenyum mencibir. Kendati begitu, dia masih terlihat begitu cantik. "Menjengukmu? Apa aku kurang kerjaan?""Alena, berkas kemarin apa sudah kamu siapkan?" tanya Dewangga yang datang dari arah tangga sambil membawa tas kerja dan menghampiri wanita itu."Sudah." Alena mengangguk."Apa ada masalah?" tanya Dewangga lagi, menaruh perhatian pada Alena tanpa menyadari bahwa tak jauh dari sana ada Maura."Nggak ada, kok. Semuanya berjalan baik. Kamu bisa memeriksanya siang ini." Alena tersenyum lembut sambil memandang Dewangga dengan tatapan memuja."Baguslah. Saya tahu kamu bisa diandalkan," ujar Dewangga sambil tersenyum dan menepuk ringan pundak wanita itu.Maura memegang dadanya. Ada perasaan aneh menelusup masuk ke hati."Ayo, kita berangkat," ajak Dewangga pada Alena."Kalian akan pergi bersama?"Lontaran pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Maura sehingga Dewangga menoleh ke arahnya.Dewangga menatap Maura dengan pandangan dingin."Ya," jawab pria itu singkat."Ayo, Dewangga. Hari semakin siang," ujar Alena tersenyum sambil mengulurkan tangannya dan memegang lengan pria itu.Keduanya berlalu dari sana sambil mengobrol perihal pekerjaan dan meninggalkan Maura yang semakin tertegun.Maura melihat Dewangga tersenyum hangat menatap Alena sambil keduanya berjalan beriringan.Itu pertama kalinya bagi Maura melihat pria itu tersenyum. Hanya saja, senyumannya bukan untuknya."Apa mungkin mereka punya hubungan khusus?" gumam Maura perlahan.Entah mengapa hati Maura berdenyut sakit ketika dia memikirkan kemungkinan itu.Maura menggeleng menepis pikiran buruknya."Aku harus istirahat. Habis itu, aku mau ketemu sama papa."***Maura tiba-tiba terbangun dari tidur lelapnya. Dia segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh."Apa sekarang udah malam? Kenapa gak ada yang bangunin aku?" ujar Maura sambil turun dari tempat tidur dengan terburu-buru dan mengenakan sandalnya.Dilihatnya langit di luar masih terang, padahal dia merasa sudah lama tertidur."Kenapa masih pukul sebelas siang," ujarnya sambil melirik jam di atas nakas.Semenjak amnesia, dia sering merasa tertidur cukup lama, padahal waktu bergulir baru beberapa jam.Maura menghela napasnya. Perutnya terasa lapar karena semenjak turun dari pesawat dan tiba di rumah, dia belum makan apapun.Dia pun segera pergi menuju ruang makan dengan rambut sedikit berantakan dan make-up tebal yang belum dibersihkannya."Mbok, tolong siapin makan siang," pinta Maura pada seorang wanita paruh baya yang sedang mengelap beberapa gelas wine.Wanita paruh baya itu menatap Maura dengan gugup, seolah melihat hantu."Maaf, Nyonya. Tuan Dewangga sudah berpesan tadi pagi bahwa saya ataupun asisten rumah tangga yang lain tak boleh melayani Nyonya lagi seperti dulu," tolaknya sambil menggenggam erat kain lap di tangannya. "Kalau Nyonya mau makan, Nyonya bisa bikin sendiri di dapur."Maura tertegun. Dia ingat dengan ucapan pria itu tadi pagi. Pria itu sungguh tak main-main dengan ucapannya."Baiklah."Maura pun beranjak ke dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang makan."Apa aku bisa masak sesuatu?" tanya Maura pada dirinya.Maura menatap beberapa bahan makanan di depannya. Dia kebingungan. Tak ada satupun ide yang terlintas di benaknya.Dia tak tahu harus membuat apa dan bagaimana cara membuat masakan.Maura memilih opsi yang mungkin paling mudah. Dia menggoreng sebuah telur dengan canggung."Hambar. Aku lupa masukin garam," gumam Maura perlahan saat telur goreng buatannya yang hampir gosong telah berpindah ke piring.Dia menggoreng telur lain, namun telurnya terlalu asin sehingga dia tak sanggup untuk memakannya.Sampai percobaan ke lima, dia baru berhasil membuat telur goreng yang sedikit gosong di pinggirannya namun masih layak dimakan menurut versinya."Ya, udah. Yang ini aja."Maura tersenyum cukup puas.Dia teringat hari-hari tersulit dalam hidupnya ketika nyawanya hampir terenggut dan hanya ada Lusi di sampingnya.Kematiannya saja berhasil dia taklukkan, mengapa dia harus menyerah karena tak bisa memasak telur?Maura berjanji, sesulit apapun dia hidup di rumah itu, dia yakin bisa bertahan. Ya, Maura harus bertahan.Dibawanya telur itu menuju meja makan. Tetapi, baru saja beberapa langkah meninggalkan dapur, dia mendengar percakapan seseorang yang tak jauh darinya."Kasihan nyonya Maura. Setelah dia amnesia, dia gak boleh dilayani lagi seperti dulu," ucap seseorang sambil mengelap sebuah guci berukuran besar."Apanya yang kasihan? Biar dia tahu rasa!" ujar seorang wanita paruh baya yang juga sedang mengelap guci lain dengan nada puas. "Nyonya Maura kan jahat, biar aja dia susah sendiri. Sok-sokan bikin telur goreng. Palingan juga gosong."Maura menggenggam erat piring di tangannya. Ada rasa sedih dan juga marah.Sebenarnya dia pernah berbuat jahat apa pada mereka? Mengapa mereka mengatakan hal seperti itu?Majikan dan pembantu, mereka sama-sama menindasnya dalam keadaannya yang sekarang.Maura mengatur napasnya sambil berjalan. Dia bersikap seolah-olah tak mendengar apapun. Seberapa keras Maura mencoba mengingat, nyatanya tak ada ingatan apapun di kepalanya. Yang ada kepalanya malah berdenyut sakit. Kedua asisten rumah tangga itu terdiam ketika mereka mendengar langkah kaki Maura yang berjalan ke arah meja makan. Keduanya segera pergi dari sana dengan wajah gugup. Setelah makan, Maura kembali ke kamar dan membersihkan dirinya dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Dengan mengenakan jubah mandi, dia duduk di depan meja rias dan memandang wajahnya yang polos tanpa make-up. Dia teringat ucapan Lusi yang mengatakan bahwa Dewangga menyukai wanita cantik. "Apa aku harus berdandan lagi hari ini demi menarik perhatian Dewangga seperti yang Lusi bilang?" gumamnya perlahan sambil menatap lekat wajahnya. Dewangga membencinya, dia ingat itu. Jadi, rasanya percuma jika dia berdandan. Toh, pasti Dewangga tetap akan membencinya karena dia pernah menjebak pria itu di kamar h
Bibir Maura terkatup rapat sambil menatap Dewangga. Pria itu begitu akrab dan hangat ketika berbicara dengan Alena, tapi akan tampak dingin dan kasar ketika berbicara dengannya. "Aku nggak menuduh kamu selingkuh. Aku hanya merasa ...." Maura menghentikan kalimatnya. Dia tak tahu bagaimana cara mengatakan seluruh perasaannya bahwa dia sangat menyesal atas situasi mereka yang sekarang terjebak sebuah pernikahan yang tak diinginkan. "Intinya, aku ingin meminta maaf atas segala kesalahanku yang dulu. Maaf, aku telah hadir di antara kalian." Maura beranjak dari sana untuk mencuci peralatan makan yang digunakannya. Tapi, Dewangga dan Alena sama-sama terkejut. Apa yang barusan mereka dengar? Sejak kapan seorang Maura bersedia meminta maaf? Dewangga mengepalkan tangannya erat. Kata maaf yang Maura lontarkan tak akan mengubah pendiriannya untuk membuat wanita itu menderita di rumahnya. Dia tak akan berbelas kasih atas penderitaan yang dirasakannya selama tiga tahun terakhir selama mereka
"Ha, ha, ha .... Aku bercanda, Oma," ujar Maura sambil tertawa canggung. "Jangan dianggap serius." Maura mematikan kompor karena masakannya telah matang. Dia segera mencuci tangannya dan menghampiri wanita tua itu sambil melepaskan celemek dan meninggalkan oseng daging sayuran di wajan. "Sini, Oma. Duduk sini," ajaknya sambil meraih lengan wanita tua itu dan membawanya duduk di salah satu kursi dapur. Maura diam-diam melirik ekspresi wajah Dewangga yang mulai kembali datar. Bahkan ekspresi wajah Mia juga terlihat lega. "Dasar, anak nakal. Oma sampai kaget. Oma kira kamu nggak mau kenal lagi sama oma," gerutu Oma Ambar sambil duduk. "He, he, he ...." Maura kembali tertawa. Dia lega karena sepertinya dia tak melakukan kesalahan fatal. "Kamu kelihatan cantik banget hari ini, Maura," puji oma Ambar tulus sambil menatap penampilan wanita itu. "Padahal cuma pakai lipstik doang, ya? Cuma seoles, pula." "Ah, Oma bisa aja." Maura merasa malu, tapi juga senang karena wanita tua itu terlih
"Dia jemput kamu?" tanya Andreas sambil menatap ekspresi wajah Maura yang terlihat kaget. "Kayaknya iya." Maura mengangguk. "Aku pulang duluan, ya, Mas." "Oke." Kini giliran Andreas yang mengangguk. Maura beranjak menenteng tasnya dan meninggalkan sesuatu di meja. "Maura," panggil Andreas ketika Maura hampir mencapai pintu keluar. "Masakan kamu ketinggalan." Maura menoleh. Andreas berjalan cepat sambil menyodorkan rantang susun plastik berukuran sedang milik Maura yang berisi gulai ayam khas Minang yang baru dipelajarinya hari ini. Kelas memasak itu memang memperbolehkan pesertanya membawa pulang masakan yang sudah mereka buat, karena itulah biayanya lumayan mahal bagi Maura. "Terima kasih banyak, Mas," kata Maura sambil menerima rantang susunnya dan tersenyum lebar. "Aku pulang, ya." Maura melambaikan tangan. "Ya, hati-hati di jalan." Dewangga menatap tajam Maura dan Andreas bergantian. Hatinya diliputi rasa tak nyaman, kemudian dia menarik tangan Maura dan pergi begitu saja.
"Maura, kamu nggak apa-apa, Nak?? Maura? Maura?" Panggilan lembut beberapa kali membuat Maura membuka matanya perlahan. Dia menatap langit-langit kamar dan mulai teringat bahwa sebelum terjatuh dia berada di sisi ranjang Dewangga. Di sampingnya, oma Ambar duduk menggenggam tangannya dengan wajah khawatir. Kemudian Maura merasakan pijatan lembut dan hangat di kakinya. Mia ada di ujung ranjang sambil mengoleskan minyak dan memijat kakinya, sementara Yanti datang membawa teh hangat. "Syukurlah kamu udah sadar." Kekhawatiran di wajah oma Ambar sedikit berkurang. "Kamu kenapa? Bagian mana yang sakit?" "Oma?" Maura mencoba bangkit untuk duduk, kepalanya masih sedikit pusing ditambah sakit akibat benturan. "Jangan bergerak terlalu banyak. Kamu minum dulu tehnya. Dewangga lagi menghubungi dokter," kata oma Ambar sambil menyodorkan teh yang dibawa Yanti. Maura menoleh ke tempat lain, kemudian meminum setengah cangkir. Di dekat jendela, Dewangga masih berbicara dengan seseorang di telepo
Lontaran pertanyaan dari Alena membuat Maura gugup. Mungkin dia telah melakukan kesalahan di masa lalu. Tapi sekarang, jangan sampai dia membuat Dewangga dan Alena bertengkar karenanya. "Maaf, Alena. Aku bisa jelasin," kata Maura tak enak hati sambil berdiri. Wanita itu benar-benar mengira Dewangga dan Alena memiliki hubungan khusus. "Duduk, Maura. Kakimu harus istirahat," ujar Dewangga menekan pundak Maura sehingga wanita itu kembali duduk. "Diam di sini. Tak ada yang perlu dijelaskan," lanjut pria itu dengan tegas. Dia mengerti dengan jelas maksud perkataan Maura yang mengira dirinya ada hubungan khusus dengan Alena. "Tapi Dewang—" "Saya yang membawa Maura ke sini." Dewangga memotong ucapan Maura sambil berdiri tegak, sekaligus menjawab pertanyaan Zefan dan Alena. Zefan maupun Alena semakin terkejut. Keduanya saling melempar pandang, sementara Maura semakin tak enak hati. "Maura, kamu tunggu di sini. Aku akan memastikan pertemuan ini tak akan lebih dari satu jam," kata Dewang
Maura menoleh menatap Zefan, mempertanyakan apa yang Dewangga katakan. "Oh, itu ... jadwalnya udah ditetapkan, Nyonya. Jam empat sore nanti Nyonya harus udah tiba di sana," kata Zefan. "Kenapa kamu gak tanya dulu ke saya? Saya belum menyetujui apapun," protes Maura. "Sore ini saya ada kelas memasak." "Maaf, Nyonya. Saya yang salah. Saya nggak tahu kalau nyonya udah ada rencana. Tapi ... gak mudah bikin janji sama psikolog ini, Nyonya." Zefan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia sudah terbiasa menjadi kambing hitam bosnya, tetapi kejadian hari ini sedikit membuatnya kesal karena dia belum siap. "Saya gak mau pergi ke psikolog hari ini," tolak Maura. "Jadwalnya ganti aja jadi besok pagi. Saya mau ikut kelas memasak." "Tidak bisa. Kakimu terkilir. Pastikan kondisi kakimu baik dulu baru ikut kelas memasak lagi," ujar Dewangga tegas, kemudian tatapannya berubah mengancam. "Jangan membuat oma selalu mencemaskanmu, Maura." Maura menarik napasnya. Ya, oma Ambar pasti akan semakin m
Alena dengan cepat menguasai perasaannya. Wanita itu tersenyum begitu manis dan memikat, dengan senyuman tulus dan polos andalannya. "Jangan menuduhku sembarangan, Zefan. Menuduh tanpa bukti, sama aja dengan fitnah," kata Alena dengan sikap yang tenang sambil memperbaiki dasi Zefan yang sedikit miring. "Apa kamu punya buktinya?" Zefan mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa Alena mampu menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Dia juga tahu senyum wanita itu saat ini adalah senyuman palsu. "Aku belum memiliki bukti apapun. Tapi, kalau benar itu perbuatanmu, bukti pasti akan mengarah padamu, Alena," jawab Zefan sambil menyingkirkan tangan wanita itu. "Kalau begitu, cari aja dulu buktinya," kata Alena sambil tersenyum. "Tapi bukti itu tak akan pernah ada karena memang aku tak melakukan apapun." Alena berlalu dari sana dengan tenang seolah tak pernah terjadi apapun, sementara Zefan mematung memikirkan hal yang baru saja Alena katakan. "Semakin menyangkal, semakin besar dugaannya, dan
Di kantor sore itu, Zefan yang tengah membantu merapikan beberapa berkas kontrak, menatap bosnya setelah membaca sebuah pesan yang masuk. Keduanya sama-sama duduk di sofa setelah selesai berdiskusi singkat.“Malam ini ada acara, kan? Pernikahan anaknya pak Bobby,” katanya membuka suara sekaligus mengingatkan, membuat Dewangga menoleh sekilas. “Setelan jas pesananmu katanya akan tiba di sini sebentar lagi. Gaun dan sepatunya juga.”Dewangga menjawab dengan anggukan.“Dengan siapa kamu akan datang? Apa aku harus menghubungi nyonya Maura buat minta dia bersiap-siap?”Dewangga terdiam sejenak. Dia teringat dengan penolakan Maura padanya saat pria itu mengajaknya membeli hadiah kalau wanita itu libur bekerja nanti. Mungkin Maura juga akan menolak ajakannya datang ke pesta pernikahan itu malam ini.Bukankah memang sebelumnya dia tak pernah mengajak wanita itu menghadiri berbagai acara? Pasti Maura juga bisa menebaknya meski sekarang dia amnesia.“Nggak usah hubungi dia,” ujar pria itu denga
“Tiga puluh ribu, Mas,” jawab penjual bakso itu yang langsung menatap Maura. “Neng, ini suaminya, ya?” tanya penjual bakso itu, membuat Maura enggan mengakuinya karena takut pria itu akan marah. “Iya, Pak.” Dewangga yang menjawab sambil menyodorkan selembar uang kertas berwarna merah. “Kembaliannya ambil aja.” Penjual bakso itu tersenyum cerah. “Makasih Mas. Duh, yang satu cantik, yang satunya lagi ganteng. Dua-duanya baik pula. Benar-benar pasangan suami istri yang cocok.” Maura terdiam sambil tersenyum kaku, sementara Dewangga menanggapi candaan itu dengan ekspresi santai, seperti ekspresinya saat menjenguk pak Jo di rumah sakit dulu. Penjual bakso itu berpamitan pergi, meninggalkan keduanya. “Ayo, pulang,” kata Dewangga sambil berjalan lebih dulu. Wajahnya yang ramah kembali berubah datar. Maura berjalan dalam diam sambil menatap kerikil, mengikuti Dewangga di belakangnya. “Kenapa kamu malah ada di rumah? Bukannya tadi pagi bilangnya mau ke restoran?” tanya Dewangga sa
Maura tercekat menatap Dewangga. Tatapannya beralih pada mbok Narti yang masih menangis dengan tubuh gemetar.Kapan dia berkata ingin memecat wanita paruh baya itu?“Dewangga, aku … aku nggak bermaksud mecat mbok Narti,” ujarnya perlahan sambil menunduk.Mengingat bahwa dia bersikap sangat buruk di masa lalu, pasti Dewangga akan salah paham dan tak akan percaya padanya.Segala penjelasannya akan menjadi sia-sia.“Lalu, apa yang saya dengar barusan?” tanya pria itu masih dengan wajah yang garang.Maura mendesah frustrasi. “Aku nggak tahu kenapa mbok Narti ngomong kayak gitu.”“Mbok, ikut saya,” perintah Dewangga sambil berjalan meninggalkan Maura.Mbok Narti segera mengikuti, sementara Maura diam-diam mengepalkan tangannya di belakang tubuhnya.Dewangga masuk ke ruang kerjanya, diikuti mbok Narti.Pria itu segera duduk di kursinya.“Mbok, bukannya suami Mbok masih di rumah sakit?” tanya pria
Maura menarik napasnya panjang, menetralisir rasa sesak dan kecewa di dadanya.“Kamu juga pasti tahu sendiri alasan kenapa selama ini kamu nggak pernah ngajak aku buat beli hadiah. Iya, kan?” Maura balik bertanya sambil menatap Dewangga. “Karena aku nggak tahu selera mama Laura, atau selera siapapun di rumah keluargamu terlebih aku yang sekarang. Jadi sebaiknya kamu ajak orang lain aja, supaya nggak salah beli barang.”Maura tersenyum sendiri sambil menunduk menatap jari-jari tangannya yang gemetar, menertawakan dirinya.Mengapa dia harus kecewa? Dia sendiri yang bukan orang baik sehingga semua orang membencinya. Tentu saja dia harus menerima segala konsekuensinya sekarang.Atmosfer di dalam mobil terasa lebih berat. Dewangga melonggarkan dasinya dan tiba-tiba saja menghentikan mobilnya di tepi jalan.“Keluar!” titahnya dengan nada dingin, membuat Maura terkejut.“Dewangga, ini masih jauh dari restoran, lho,” ujarnya protes.
“Clara, tolong jaga bicaramu,” pinta Dewangga dengan tatapan tajam. Clara mendengus. “Biasanya juga aku kayak gini, kok. Biasanya juga dia selalu membalas kata-kataku. Kenapa sekarang jadi Kakak yang belain dia? Selama ini dia kan yang paling pintar membela dirinya sendiri. Kenapa hari ini tiba-tiba jadi diam? Kayak bukan Maura aja,” gerutu Clara. “Clara ….” Narendra meninggikan suaranya setengah oktaf. “Sebaiknya kamu tutup mulut.” “Lho, yang aku bilang itu bener, kok. Dia itu arogan, sombong, dan nyebelin hanya karena bisa memenangkan hati oma. Hanya karena dia tahu oma sayang banget sama dia, bahkan om Teguh, tante Laura dan mama harus mikir dua kali kalau mau nyinggung dia. Kakak lupa dengan penderitaan kak Angga selama menikah dengannya?” lanjut Clara seolah belum puas mengatakan isi hatinya. “Semua orang tahu kalau kak Angga tertekan menikah dengannya. Semua orang nggak buta, kecuali kak Naren yang otaknya ada masalah.” “Clara!” Dewangga juga menaikkan suaranya, sementara N
“Oma melihat Dewangga tidur di ruang kerja semalam,” ujar Laura sambil menatap mata Maura. "Oma udah minta Dewangga pindah ke kamar, tapi kayaknya dia tetap di ruang kerja, deh.""Oh?" Maura semakin terkejut. "Kalau itu, aku ....""Selamat pagi, Maura. Selamat pagi semuanya." Oma Ambar datang bersama Vivian dan Clara.“Selamat pagi.”"Dewangga belum datang, ya?""Belum, Oma." Narendra yang menjawab.“Kamu datang pagi sekali,” ejek Clara sambil tersenyum pada Maura dan duduk di samping ibunya, dekat dengan Narendra setelah oma Ambar dan yang lainnya duduk. "Biasanya kami semua yang sering menunggumu datang. Tapi hari ini kamu mau menunggu kami. Benar-benar ajaib."Vivian menatap Clara, memintanya untuk menjaga mulutnya, membuat Clara merasa kesal.“Apa tidurmu nyenyak, Nak?” tanya oma Ambar pada Maura dengan lembut.Maura mengangguk tersenyum, membuat wanita tua itu lega.“Oma cuma perhatian sama dia aja, deh. Rasanya nggak adil,” gerutu Clara."Clara, hati-hati dengan mulutmu," ujar N
Maura menyeka matanya dengan kasar, kemudian mendorong dada Dewangga padahal wanita itu masih ada dalam gendongannya. “Kamu akan jatuh kalau mendorongku seperti itu, Maura,” peringat Dewangga sambil menatap Maura tajam. "Turunkan aku, Dewangga," pinta Maura. Bukannya menurunkan wanita itu, Dewangga malah berjalan ke arah tempat tidur dan menurunkan Maura dengan lembut di atas kasur. “Kalau mau tidur, tidur di sini,” kata Dewangga tak mempedulikan ucapannya, kemudian pria itu duduk di samping Maura yang tengah berbaring menatapnya. “Katakan padaku, mengapa kamu menangis?” “Nggak kenapa-napa,” jawab Maura sambil berbaring memunggungi pria itu dan memejamkan matanya. Dewangga menatap bahu Maura yang terlihat kecil. Dia mengerutkan alisnya. Apa Maura sekurus ini dulu? Bobot tubuhnya pun terasa ringan. Kemudian dia segera memperbaiki posisi selimut yang dipakai wanita itu. “Kalau kamu tak mau kita tidur di ranjang yang sama, cukup katakan sejujurnya saja,” gumam Dewangga perlahan, t
Maura menahan napasnya ketika mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan teras. "Mereka semua keluargamu?" tanya Maura dengan perasaan cemas. Dewangga mengangguk. "Bersikaplah seolah-olah kamu mengenal mereka semua. Aku dan Naren akan berusaha membantumu agar tak ada yang tahu bahwa kamu amnesia." "Yang pakai baju putih di samping kiri oma Ambar itu papa Teguh Bagaskara. Di sebelahnya mama Laura. Di samping kanan Oma itu tante Vivian adiknya papa, lalu anak perempuannya Clara, sekaligus adiknya Naren. Kamu bisa ingat, kan?" Maura mengangguk mengerti. Dia turun dan mengikuti langkah Dewangga menuju teras rumah. "Akhirnya setelah beberapa bulan berlalu, kalian mau menginap juga di rumah oma," kata oma Ambar senang, menyambut keduanya dengan senyum lebar. "Lho? Kamu beneran Maura?" tanya Laura sambil melihat penampilannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Maura tercekat. Apa mereka mengetahui bahwa dia tengah amnesia? Maura pun menoleh pada Dewangga dengan perasaan was-wa
Maura menatap Dewangga dengan pandangan takut. Ingatannya satu lagi perlahan datang, namun semuanya hanya ingatan buruk. Ingatan kali ini lebih jelas dari ingatan lainnya, seolah baru terjadi kemarin. Maura ingat bagaimana wajah Dewangga yang sangat marah ketika dia menjambak Alena di masa lalu karena diam-diam Alena memprovokasinya, kemudian ketika Maura terpancing amarah, Alena bersikap seolah-olah semua salah Maura. Saat itu Dewangga hampir menamparnya. Alena selalu menjebak Maura seolah Maura selalu menganiayanya, kemudian berpura-pura lemah dan tertindas. Maura yang di masa lalu sangat pemarah karena faktor frustrasi, selalu terpancing dan masuk dalam jebakannya. Maura merasakan sudut hatinya begitu nyeri ketika ingatan itu muncul. Dia menderita dan sedih di waktu yang bersamaan. "Maura? Ada apa?" tanya Dewangga khawatir saat melihat wajah wanita itu pucat pasi. Maura beringsut menjauh dan menatap Dewangga dengan tubuh gemetar. "Jangan mendekat." Dewangga yang melihatnya me