Ketika Bulan melihat keegoisan dan kekejaman Oki dan Shaka, dia diam-diam menyembunyikan kisi-kisi itu di lengan bajunya.Mereka mendorongnya ke tepi jurang demi kisi-kisi ujian.Kalau begitu Bulan akan membawa kisi-kisi ini bersamanya. Baru kali ini Bulan melakukan hal yang menentang Oki dan Shaka, sebagai anak dan kakak mereka."Oh, begitu." Arjuna mengangguk.Kisi-kisi ini seperti soal bocoran di zaman modern.Arjuna pun teringat akan teriakan Shaka kepada Bulan kemarin. Mungkin karena kertas ini."Kisi-kisi dari Sekolah Pelita?"Lelaki tua yang ada di kereta itu menatap kertas yang ada di tangan Bulan. Tatapannya tidak lagi santai dan ramah seperti sebelumnya, tetapi suram dan tajam."Tuan." Pelayan itu juga tampak serius. "Haruskah kita memberi tahu mereka untuk mengambil tindakan?"Pada saat ini, Bulan memasukkan kertas kisi-kisi ke tangan Arjuna. "Arjuna, cepat ambil. Dengan adanya ini, kamu pasti dapat mengikuti ujian di musim semi."Arjuna mengambil kertas itu, kemudian merobe
Para siswa Bratajaya hanya diuji mengisi kitab dan tanya jawab, sederhananya adalah menghafal buku.Makin banyak buku yang dihafal seseorang, maka dia makin hebat.Oleh karena itu, selama sepuluh hari Arjuna bersekolah, dia mendengarkan buku-buku yang telah dilafalkan oleh para pelajar di sekolah selama sepuluh hari.Arjuna memiliki ingatan yang cukup baik. Dia menghafal semua buku yang telah dibaca oleh para pelajar. Dia juga menghafal semua buku yang belum dibaca oleh para pelajar, yaitu buku-buku yang dibelinya dari toko buku.Karena kurangnya pria dan pasukan di perbatasan selama beberapa tahun terakhir, Kaisar Kerajaan Bratajaya memerintahkan pengurangan jumlah pelajar dalam ujian kekaisaran.Setelah menerima perintah tersebut, menteri pendidik mulai secara drastis meningkatkan kesulitan ujian kekaisaran, yaitu soalnya menjadi makin rumit dan tidak jelas.Jumlah kitab yang harus dihafal para pelajar kini belasan kali lipat dari jumlah sebelumnya.Daya ingat manusia terbatas, mayor
"Arjuna, Desa Kenari ada di depan."Arjuna mendongak, lalu dia melihat sebuah desa yang luasnya dua kali lipat dari Desa Embun.Rumah-rumah bata relatif sedikit di Desa Embun, tetapi rumah-rumah tersebut ada di mana-mana di Desa Kurnia. Hal ini menunjukkan bahwa Desa Kurnia tidak hanya lebih besar dari Desa Embun, tetapi juga jauh lebih kaya daripada Desa Embun.Di depan Desa Kurnia terdapat sebuah lapangan datar yang luas.Arjuna memandang sebidang tanah yang luas itu dengan iri.Dengan tanah yang begitu luas, bagaimana mungkin tidak kaya?Saat berbelok memasuki desa, Arjuna jelas merasakan tubuh Bulan sedikit gemetar."Tante, jangan takut, ada aku."Bulan berbalik, menatap pemuda yang berdiri di belakangnya.Pria muda ini bukan lagi pria tak terurus yang dilihatnya setengah tahun lalu.Sekarang dia berdiri tegak, matanya cerah, dia teguh dan kuat, juga tampak berwibawa.Bulan tersenyum tenang. "Ada Arjuna, Tante tidak takut.""Ayo kita masuk ke desa."...Tidak jauh di belakang Arjun
"Kamu juga menyuruhnya mendorong kereta itu ke dalam parit."Pria tua itu terkejut lagi, pikirannya menjadi makin yakin.Dia tidak boleh melewatkan pemuda ini."Kamu memang bukan orang biasa.""Apa?" Bulan lebih terkejut lagi. "Kalian sengaja mendorong keretanya ke dalam parit?"Pria tua itu tersenyum malu. "Kami memang sengaja.""Kenapa begitu? Omong-omong, kenapa kalian mengikuti kami?" Bulan tampak bingung."Ka ... kami ...." Pria tua itu agak gagap.Pelayan yang berdiri di samping lelaki tua itu merasa telinganya bermasalah.Kalau tidak, mengapa dia mendengar tuannya gagap?Bisa-bisanya tuannya gagap, padahal tuannya adalah ...."Kami tersesat."Lelaki tua itu masih gagap sehingga pelayannya tidak dapat menahan diri untuk tidak menjawab dulu."Ya, ya!" Lelaki tua itu mengangguk berulang kali. "Kami tersesat, jadi kami mengikutimu sepanjang jalan. Melihat kalian akan masuk ke dalam desa, aku pun berpikir untuk mendorong keretaku ke parit. Setelah kamu membantu, aku akan memberimu ha
"Kamu bisa bicara atau tidak?" Sang pria tua menendang pelayannya.Pelayan itu menyentuh pantatnya yang sakit sambil bergumam, "Memang benar, apakah aku salah bicara?""Harus diikuti seketat ini. Kalau dia hilang, ke mana aku harus mencarinya?"Pria tua itu mengabaikan pelayannya. Dia mengangkat tirai kereta, melihat Arjuna yang berjalan ke dalam Kediaman Kosasih...."Tuan, Nyonya, Tuan Muda."Begitu Arjuna dan Bulan melangkah ke dalam Kediaman Kosasih, pelayan Keluarga Kosasih berlari ke aula utama untuk melapor."Nyonya Muda kembali!""Dia sudah kembali?" Kurnia yang sedang makan kacang mendongak. "Dia mencuri barang di rumah dan masih berani kembali?""Baguslah dia kembali, kita tidak perlu repot-repot mengantar surat cerai kepadanya." Ucapan Neha sama jahatnya dengan ekspresinya."Apakah dia kembali sendirian?" Nada bicara Susanto, kepala Keluarga Kosasih, relatif tenang."Ada seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun kembali bersamanya.""Shaka?"Susanto, si rubah tua, mulai
Awalnya, Salma merasa sedikit kecewa ketika dia mendengar pelayan mengatakan bahwa seorang pemuda menemani Bulan kembali.Karena Salma mengira itu Shaka. Salma sangat licik, dia tahu bahwa Susanto sangat memandang penting Shaka dan akan menghargai Shaka.Melihat orang yang datang adalah Arjuna, bukan Shaka, Salma sangat senang.Bulan, Bulan, kamu benar-benar bodoh. Kamu pikir dengan membawa seorang pecundang kembali, dia bisa mendukungmu? Lucu sekali.'"Kakak, kenapa kamu masih berdiri di sana? Kalau kamu tidak pergi sekarang, pakaian hari ini tidak bisa kering."Selir yang bersikap kurang ajar terhadap istri sah merupakan suatu pemberontakan besar.Namun, Neha malah pura-pura tidak melihatnya. Dia harus mempertahankan citra dasar sebagai ibu mertua, lebih baik biarkan orang lain yang melakukan hal jahat."Apakah kamu tuli, tidak mendengar? Cepat pergi cuci ....""Persetan denganmu!"Arjuna dengan cepat melangkah maju, mengambil cangkir teh yang ada di samping Kurnia, kemudian menghant
Di dalam aula Kediaman Kosasih."Aduh, aduh!"Para pengawal Keluarga Kosasih ada yang tergeletak, berjongkok, membungkuk atau merangkak di lantai, merintih kesakitan.Para pengawal yang tumbang itu memiliki memar di wajah mereka, sedangkan penampilan sama seperti saat dia baru masuk ke Kediaman Kosasih. Rambutnya masih rapi, napas juga stabil.Arjuna menatap para pengawal dengan dingin. "Masih ada yang mau maju?"Para pengawal itu menutupi wajah mereka dan menundukkan kepala. Mereka takut menarik perhatian Arjuna. Beberapa bahkan mulai merangkak keluar."Apa yang kalian lakukan? Apakah Keluarga Kosasih membayar mahal kalian untuk kepengecutan kalian? Cepat berdiri dan hajar dia!"Kurnia menyentuh kepalanya yang dihantam Arjuna sembari berteriak kepada para pengawal.Akan tetapi, makin dia berteriak, makin cepat pula para pengawal merangkak pergi.Susanto yang berada di luar aula juga berusaha menghentikan mereka, tetapi tidak berhasil. Mereka benar-benar takut dipukuli.Setiap gerakan
Ayah mertua, ibu mertua dan suaminya terus meminta maaf, tetapi Bulan tidak mengatakan apa-apa.Selama ini, dia sudah cukup memahami karakter mereka.Tidak ada seorang pun dari Keluarga Kosasih, dari muda hingga tua, yang dapat dipercaya.Sebagai pria tua yang licik, Susanto tentu bisa menebak kekhawatiran Bulan."Bulan, aku akan meminta Kurnia menulis surat jaminan untukmu. Bukan hanya Kurnia, aku dan ibu mertuamu juga akan menulisnya. Kami berjanji bahwa Keluarga Kosasih akan memperlakukanmu dan keluargamu seperti keluarga sendiri.""Tuan!""Ayah!"Neha dan Kurnia menatap Susanto secara bersamaan. Mereka tidak setuju dengan usulan Susanto.Memperlakukan Bulan seorang dengan baik sudah cukup, untuk apa membawa-bawa keluarganya?Terutama Arjuna yang ada di depan mereka ini.Dia miskin dan malas, pecundang total. Kelak dia pasti akan bergantung pada keluarganya.Susanto lanjut berbicara seolah dia tidak mendengar protes dari istri dan anaknya. Kali ini dia berbicara kepada Arjuna. "Sura
"Jangan pikir aku tidak akan memukulmu hanya karena kamu kakakku!" Dinda menyerbu sambil mengangkat tangan kecilnya."Kalau begitu sini, bocah kecil."Disa dan Dinda bertarung di depan, sementara Daisha yang ada di belakang mereka menegur mereka. "Kak Disa, Dinda, kalian sudah menikah sekarang. Kenapa kalian masih bertingkah seperti anak kecil? Hentikan sekarang juga!""Daisha." Arjuna menggandeng tangan Daisha. "Jarang-jarang mereka sesenang ini. Biarkan saja mereka.""Tuan, kamu terlalu memanjakan mereka.""Hm?" Arjuna melingkarkan tangannya ke pinggang Daisha. "Apakah kamu menyalahkanku hanya memanjakan Disa dan Dinda, tidak memanjakanmu?"Sambil berbicara, Arjuna memiringkan kepalanya, kemudian berbisik di telinga Daisha. "Oke, kalau begitu aku akan lebih memanjakanmu malam ini."Ketika Arjuna menyebut kata "malam", dia sengaja menekankan nadanya."Tidak, bukan seperti yang Tuan bayangkan."Daisha, yang paling tidak tahan digoda, langsung tersipu."Seperti apa?"Arjuna paling menyu
Dalam dua kompetisi pertama, orang lain merasa bahwa Arjuna beruntung, tetapi Hendra tidak berpikir demikian.Arjuna tidak hanya bisa membuat makanan unik seperti cake, tetapi dia juga seorang genius bisnis.Orang seperti itu cepat atau lambat akan menjadi saingannya, jadi Hendra harus menyingkirkannya sebelum Arjuna menjadi kuat."Kamu harus berhati-hati, orang itu banyak akal." Sugi sedikit khawatir."Tenang saja, Yang Mulia." Hendra penuh percaya diri. "Kalau aku tidak berhasil membunuhnya, aku punya cara lain. Dia tidak akan selamat pada hari kompetisi.""Oh?" Mendengar perkataan Hendra, mata Sugi berbinar. "Kamu punya ide lain? Coba katakan.""Yang Mulia ...." Hendra mendekati Sugi, kemudian berbisik di telinganya."Kamu ingin menggunakan mereka?" Raut wajah Sugi sedikit serius."Yang Mulia, orang-orang kita tidak mudah bertindak, hanya bisa mereka. Dengan adanya mereka, bahkan para dewa pun tidak dapat menyelamatkan Arjuna.""Tapi apakah kamu tahu konsekuensi dari menggunakan mer
Orang-orang di sana tidak lagi mengenal konsep pelajar, petani, pengrajin dan pedagang. Semua orang setara. Apa pun yang kamu lakukan, selama kamu menghasilkan uang dengan kemampuanmu sendiri, orang lain akan menghormatimu.Kalau orang lain mendengarnya, pasti mereka akan menertawakan Arjuna bermimpi karena mabuk.Namun, Tamael berbeda.Dia percaya pada Arjuna, karena dia telah mengenal Arjuna sebelum bekerja sama dengan Arjuna.Seorang bajingan bodoh dan malas jatuh ke jurang, kemudian setelah siuman menjadi orang yang berbeda. Arjuna tidak hanya sangat pintar, tetapi juga mengetahui banyak hal yang tidak mereka ketahui.Tamael tidak percaya adanya hantu atau dewa, dia juga tidak percaya adanya dewa gunung.Satu-satunya hal yang dapat menjelaskan perubahan Arjuna adalah, dia bukan lagi Arjuna yang dulu.Kemudian, Arjuna memberi tahu Tamael bahwa dia akan mengikuti ujian kekaisaran.Tamael sepenuhnya mendukung Arjuna. Dia tidak hanya sering mengirim buku dan peralatan menulis kepada Ar
Karena itu adalah wilayah tak bertuan, pada dasarnya tidak ada yang mengurus. Gubernur Kota Perai mengeluarkan beberapa perintah untuk menekan para bandit. Akan tetapi, beberapa kabupaten terus saling mendorong perintah itu.Satu-satunya orang yang pernah benar-benar mengirim orang untuk menekan para bandit adalah Eshan. Justru karena alasan inilah Naga Bermata Satu senang datang ke Kabupaten Damai untuk merampok.Setelah Eshan gagal, gubernur sendiri mengirim pasukan untuk menekan para bandit. Namun, Gunung Magmora terjal, mudah dipertahankan tetapi sulit diserang. Selain itu, sebagian besar bandit adalah tentara yang melarikan diri. Orang-orang ini sangat ahli dalam seni bela diri dan sangat kejam. Tim penindas bandit gagal setelah tiga atau empat kali mencoba."Oh." Arjuna menyentuh kepalanya sambil menunjukkan senyum konyolnya yang khas. "Aku tidak ingat banyak hal setelah jatuh ke jurang. Abaikan aku, lanjut cerita.""Kemudian ...." lanjut Tamael.Kemudian, Tamael baru mengetahui
Ada sejumlah besar barang cacat menumpuk di gudang yang tidak dapat dijual. Pelanggan dari Kota Perai ingin Tamael membayar tiga kali lipat dari harga asli sesuai aturan.Tamael tidak mampu membayar ganti rugi dalam waktu sesingkat itu, jadi dia berharap para pelanggan memberinya waktu.Tidak ada orang sebaik itu di dunia. Tidak peduli seberapa ganas para pelanggan itu berebut barang dan seberapa baik mereka berbicara, mereka tetap saja mendesak Tamael sekarang.Mereka juga mengancam jika Tamael tidak segera memberi ganti rugi, mereka akan menuntut Tamael, bukan di Kabupaten Damai, melainkan ke gubernur Kota Perai.Jika mereka melaporkan hal ini kepada gubernur, Tamael pasti akan masuk penjara kalau dia tidak mampu membayar kompensasi.Sebenarnya, masuk penjara bukan apa-apa bagi Tamael. Jumlah pria di Dinasti Bratajaya lebih sedikit daripada wanita. Sekarang Tamael masih bisa punya anak. Paling lama, dia akan mendekam di penjara selama satu setengah tahun, kemudian dibebaskan.Masalah
Keluarga kaya akan membeli beras, mi dan kain dalam jumlah besar di awal musim semi. Jadi pada saat ini, pengurus rumah keluarga kaya akan pergi ke mana-mana untuk mencari beras dan mi berkualitas tinggi dengan harga murah.Keluarga kaya di Kota Perai memang lebih hebat dari keluarga kaya di Kabupaten Damai. Sekali beli, mereka membeli beberapa, bahkan puluhan muatan beras.Satu muatan beras beratnya lima puluh kilogram, beberapa atau belasan muatan beratnya beberapa ratus hingga ribu kilogram.Dalam membeli kain, lebih banyak lagi. Sekali beli, jumlahnya bisa mencapai belasan sampai dua puluh potong.Setelah satu kelompok orang datang, datanglah satu kelompok lagi.Ketika kelompok orang ketiga tiba, tidak ada cukup beras, mi dan kain di toko Tamael untuk dijual.Para tamu dari Kota Perai mulai berkelahi di toko untuk merebut beras, mi dan kain.Tamael tidak punya pilihan selain turun tangan untuk menengahi, tetapi itu sama sekali tidak ada gunanya. Setelah Tamael setuju untuk mengimpo
"Apakah ada kuda seperti itu?" Daisha memiringkan kepalanya. Kelembutannya disertai dengan sedikit kelucuan.Arjuna tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap kepalanya. "Ya.""Di mana? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.""Di toko pandai besi, baru saja dibuat. Tentu saja kamu belum pernah melihatnya.""Toko pandai besi? Kenapa ada kuda di toko pandai besi? Dan baru dibuat? Apakah kuda bisa dibuat?"Kali ini, bukan hanya Daisha yang terkejut, Disa dan Dinda juga penasaran."Tentu saja," kata Arjuna dengan tegas.Ngomong-ngomong, sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.Selama Festival Musim Semi, Arjuna bosan di rumah, jadi dia menggambar sesuatu, kemudian meminta pandai besi untuk membuatnya.Pandai besi itu mengirim seseorang untuk memberi tahu Arjuna kemarin bahwa barang yang dia pesan sudah siap. Arjuna bisa mengambilnya kapan saja.Setelah kembali ke kota kabupaten, Arjuna tidak terburu-buru pergi ke rumah kecil tempat dia tinggal, melainkan pergi ke penj
"Sialan!""Disa ...." Sudah terlambat bagi Arjuna untuk menghentikannya.Bersamaan dengan suara Disa yang merdu dan menawan, dia pun muncul di hadapan orang-orang.Arjuna menggelengkan kepalanya. Disa baik dalam segala hal, kecuali sifat impulsifnya. Terutama ketika dia mendengar orang lain mengatakan hal-hal buruk tentang Arjuna. Dia akan seperti ayam betina yang mengepakkan sayapnya untuk melindungi suaminya.Bagaimana dia bisa tahan ketika mendengar Hendra dan yang lainnya mempermalukan Arjuna seperti itu?"Hendra, aku akan mewakili tuanku untuk bertanding denganmu!""Haha!" Hendra tertawa terbahak-bahak. Dia menunjuk Arjuna sembari berkata, "Ternyata kamu benar-benar pengecut! Bisa-bisanya kamu membiarkan seorang wanita mewakilimu bertanding!""Memangnya kenapa kalau wanita? Apakah kamu tidak berani bertanding denganku?" ucap Disa sambil mengangkat kepalanya dengan marah."Bam!"Hendra menepuk meja yang ada di sampingnya, menunjuk Disa lalu berteriak, "Ikut campur apa kamu dalam pe
"Mengubah metode kompetisi?"Eshan dan Sugi, yang biasanya tak cocok satu sama lain, berbicara serempak untuk pertama kalinya."Benar, mari kita adakan lomba kereta di ronde ketiga. Ini adil untuk kalian berdua."Balapan kereta merupakan acara yang populer di kalangan masyarakat Dinasti Bratajaya.Dari ibu kota hingga kabupaten dan kota, setiap tempat menyelenggarakan balap kereta setiap tahun."Oke, balap kereta. Sepakat."Sugi berbicara lebih dulu. Begitu dia selesai berbicara, Hendra segera lanjut berkata, "Aku akan bermain di babak ketiga!"Selain berbisnis, Hendra adalah penggemar balap kereta dan sering berpartisipasi dalam perlombaan tersebut."Yang Mulia, aku akan ikut serta!"Irwan, yang berada di belakang Eshan, melangkah maju. Seperti Hendra, dia menyukai balap kereta dan sering berpartisipasi dalam kompetisi. Levelnya sebanding dengan Hendra.Arjuna mencuri perhatian di dua ronde pertama, dia tidak bisa membiarkan Arjuna mencuri perhatian di ronde ini."Kamu?"Hendra menyer