Jody Gardner mengangguk tenang dan Steven segera mengucapkan beberapa rencana yang telah muncul di dalam kepalanya. Begitu mendengar rencana yang terdengar luar biasa itu, Jody Gardner tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk punggung sang anak buah. "Wah! Tak kusangka. Kau benar-benar sangat ahli dalam hal ini. Dari mana kau bisa mendapatkan ide se-briliant itu?" Steven hanya tersenyum senang mendengar pujian dari sang jenderal. Sementara itu, di bagian tempat peristirahatan yang lain, Bill, Sang Dewa Perang Terkuat yang pernah dimiliki oleh Kerajaan Ans De Lou terlihat sedang duduk di taman bersama dengan anak buah kepercayaannya, Andrew. "Ah, rasanya saya tidak pernah sebahagia ini selama 3 tahun ini," ucap Andrew. "Kenapa?" tanya Bill yang saat ini sedang menikmati udara malam sambil merapatkan jaketnya. "Menang." Bill segera menoleh ke arah sang anak buah yang sedang tersenyum, "Jody Gardner juga telah memenangkan beberapa perang bersamamu kan?" Andrew Reece mengangg
Cassandra membelalakkan mata, "Kakek."Arthur pun berjalan mendekat dan berniat menyentuh tangan Cassandra, tapi wanita itu dengan tegas menyentak tangan sang pengawal. Cassandra terlalu terkejut atas apa yang sedang terjadi. Ia masih kesulitan mempercayai jika sang kakek tega melakukan hal itu kepada dirinya yang merupakan cucu kandungnya."Cassie. Menurutlah atau-""Atau apa, Kek? Menikahkan aku dengan pria lain?" sela Cassandra sambil mundur beberapa langkah.Ia menggelengkan kepala, terlihat begitu terluka."Jangan keras kepala, Cassie!" bentak Christopher."Arthur, tunggu apa lagi?" ucap George, memerintah kembali sang anak buah kakeknya.Cassandra menatap kakaknya dengan tatapan kecewa dan menoleh kembali memutar pandangan ke arah sang kakek, "Kenapa, Kek? Apa salahku?' Aku-""Tak usah dengarkan dia, Kek! Cepat bawa saja ke sana!" potong Shirley cepat, tak ingin memberikan kesempatan bagi kakaknya untuk menghindari hukuman kakek mereka.Cassandra sungguh tidak mengerti. Ketiga o
Kata-kata Bill membuat Shirley bergetar, entah bagaimana kata-kata itu berhasil membuatnya begitu takut. Memang, sejak pria itu menghilang lalu muncul kembali dalam keluarga itu aura Bill terlihat sangat jauh berbeda.Namun, baru sekali ini ia merasakan ketakutan yang sampai merontokkan hatinya.Tetapi hal itu tidak terjadi pada Christopher Wood yang memiliki hati yang sangat keras serta temperamen yang cukup buruk. Tidak merasakan takut malah pria itu terlihat begitu kembali marah karena merasa terhina telah diancam oleh cucu menantunya yang menurutnya tidak berguna itu.Lelaki tua itu memberang marah, "Kau pikir kau siapa berani mengancam kakek mertuamu, berandal?""Punya pekerjaan yang tidak jelas saja sudah mulai sombong!" tambah Christopher terlihat tidak bisa mengontrol kemarahannya sedikitpun.Urat nadinya di bagian leher bahkan terlihat begitu jelas saat ia berteriak marah.Namun, Bill tidak sempat membalasnya karena lebih sibuk membawa istrinya untuk segera pergi ke rumah s
Sebuah senyuman aneh langsung saja terbit di bibir sang raja muda berwajah tampan itu. Wajah yang membuat Monica Wilhelm yang awalnya tidak berniat menikahi orang yang tidak dia suka menjadi setuju menerima pinangannya. Namun, kali ini Monica terlihat begitu keheranan dengan sikap suaminya yang menurutnya menjadi-jadi itu.Dia bukannya tidak tahu dengan sifat asli sang suami yang memang bukanlah raja dengan memiliki kepribadian yang keren, tapi dia tetap saja masih sulit menerima sisi buruk suaminya yang satu ini. Perlahan, Keannu mengubah senyum aneh itu menjadi sebuah senyum miring yang jelas ditujukan untuk menghina. Yang dihina tentu saja adalah William Mackenzie yang dibahas oleh keduanya."Dia hanya hidup menumpang di keluarga istrinya, Monica. Menjadi beban bagi keluarga itu. Sungguh menjijikkan."Keannu menjeda dengan sebuah tawa kecil sebelum kembali melanjutkan kata-katanya."Kau bisa bayangkan itu? Seorang Jenderal Perang Terkuat yang pernah ada di Kerajaan Ans De Lou nya
Sang ratu kerajaan Ans De Lou, Monica Wilhelm pun menyerah karena tidak mungkin lagi dia bisa memperbaiki ataupun menggagalkan apa yang sedang diinginkan oleh suaminya itu.Keannu Wellington adalah orang yang paling keras kepala yang pernah dia kenal seumur hidupnya. Jika dia sudah memiliki keinginan yang sangat kuat, maka bagaimanapun caranya dia pasti akan berusaha keras untuk mendapatkannya. Meskipun, hal itu harus menggunakan cara kotor sekalipun.Apalagi, dia sekarang ini sudah menjadi seorang raja yang memiliki kekuasaan yang bisa dikatakan tidak terbatas, sehingga keinginannya pun tak akan terbendung lagi.Maka, tanpa ingin berusaha lagi Monica memilih untuk segera meninggalkan Keannu dan pergi ke kediamannya sendiri. Ia menunggu kedatangan William Mackenzie yang memang sudah dipastikan akan kembali ke istana meskipun dengan sebuah paksaan."Bawa ke sini Penasihat Perang malam ini juga," perintah Keannu sambil masih memegang gelas yang berisi minuman memabukkan.Frederick, pria
Penjaga itu terlonjak kaget, sampai-sampai ia terpaksa harus mundur beberapa langkah. "Saya tidak tahu, Tuan," ucap sang penjaga, mulai terlihat takut."Minggir!" ucap Bill."Maaf, Tuan Bill. Anda tidak bisa masuk, Tuan Besar melarang Anda-"Tak bisa menunggu lebih lama lagi, Bill menerobos masuk ke dalam rumah besar itu. Sang penjaga berniat mencegah, tapi ia tak berani setelah melihat raut wajah Bill yang terlihat begitu mengerikan.Secara bersamaan, Bill melihat orang yang dia sedang cari-cari. Seringaian pun muncul di wajah Bill.Untuk sesaat, Arthur terlihat akan membalikkan badan dan kabur dari Bill. Tapi, nyatanya kaki jenjangnya tidak bisa ia gerakkan seinchi pun dari tempatnya. Kakinya terasa begitu berat, padahal otaknya telah menyadari adanya bahaya dan memerintahkannya untuk segera pergi.Bill. Cucu menantu keluaga Wood ini sama sekali tak seperti dahulu. Laki-laki yang badannya jauh lebih besar darinya itu kini memiliki aura yang berbeda yang begitu menakutkan. Sapuan pa
"Aku? Bill Stewart, suami dari cucu menantumu, Cassandra Wood, Kakek. Apa kau sudah lupa akan hal itu?" jawab Bill.Christopher sontak menatap jengkel. "Pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi!" usir Christopher.Bill mendesah, "Ini terakhir kalinya aku menahan diri, Kek. Lain kali, aku tidak akan peduli lagi. Akan aku hadapi semuanya, termasuk Kakek!" Sumpah serapah pun seketika ke luar dari mulut Christopher Wood dengan begitu lancarnya, sementara Bill meninggalkan rumah itu dengan langkah lebar-lebar. Ia menoleh sebentar sebelum membawa mobilnya kembali menuju rumah sakit tempat istrinya dirawat.Ketika ia sedang memarkir mobilnya di rumah sakit, ia agak terkejut saat melihat beberapa orang dengan pakaian serba hitam dengan lambang kerajaan bunga lily di bagian depan saku jas mereka. Bunga lily merupakan lambang Kerajaan Ans De Lou.Seakan seperti mendapatkan sebuah peringatan, Bill segera berlari menuju kamar istrinya dan menghentikan langkahnya saat di sana sudah ada ses
Beberapa tahun lalu, tahun di mana Jody Gardner yang masih muda baru saja mendapatkan kepercayaan bergabung dengan pasukan utama, dia benar-benar dikejutkan oleh pemandangan tak biasa yang tersuguh di depan kedua mata biru lautnya sesaat sebelum dia menghadiri pertemuan resmi dengan salah seorang menteri di istana.Saat itu, unit baru dilatih di luar istana karena bangunan dan fasilitasnya yang belum memadai. Dengan setelan jas lengkapnya, ia melihat jenderap perang sedang berjongkok di dekat rerumputan dan semak-semak.William Mackenzie yang masih muda sedang berusaha melepaskan seekor kucing yang terjerat tali di pinggir jalan. Setelahnya, ia menggendong kucing liar dengan warna abu-abu itu."Kucing itu berdarah, Jenderal," ucap Jody dengan pandangan jijik. Ia seorang prajurit yang telah menyaksikan orang-orang terbunuh di depan matanya di medan perang dan ia tidak pernah keberatan akan hal itu. Tapi jika darah itu bukan berasal dari medang perang, ia membencinya.Sang jenderal ber
Tanpa mengalihkan arah pandangnya, Ben berpikir keras. James pun tidak hanya berdiam diri, menunggu jawaban Ben. Dia sendiri berulang kali menyentuh sapu tangan itu untuk meneliti. Tidak hanya itu, jenderal perang Kerajaan Ans De Lou saat itu juga mengendus sapu tangan berwarna abu-abu itu seolah sedang mencari sesuatu.Melihat apa yang dilakukan oleh James, Ben tidak sabar berkomentar, “Kau bukan anjing. Mana bisa kau melacak keberadaan seseorang dari mengendus benda itu?”James seketika memberi tatapan jengkel pada Ben, “Bukan begitu. Aku hanya mencoba mencium aroma sapu tangan ini. Siapa tahu … ternyata ada sebuah petunjuk.”“Lalu … apa kau mendapatkan petunjuk setelah mengendus kain itu?” Ben bertanya dengan tatapan santai.Dengan ekspresi penuh kekecewaan James pun menjawab, “Tidak. Aku hanya mencium aroma tanah.”Kalau saja saat itu mereka tidak berada di dalam situasi yang serius, tawa Ben pasti sudah meledak. Akan tetapi, saat itu mereka sedang mengerjakan misi penting sehin
Foei Maccray membalikkan badan dan menatap sinis ke arah sang junior.Ketika dia melihat kepatuhan Lory Blackwell, Foei Maccray pun tersenyum miring seolah puas telah berhasil membuat salah satu juniornya tersebut tunduk terhadap perintahnya.Tentu saja hal itu membuat dirinya menjadi besar kepala. Oleh karena itu, dengan begitu angkuhnya Foei berujar kembali, “Tetaplah berdiri di sini sampai kami tidak terlihat oleh matamu. Setelah itu … baru kau bisa berjalan.”Lory Blackwell tidak menjawabnya. Tetapi Foei menganggap diamnya Lory itu sebagai sebuah kepatuhan sehingga dia kembali berkata, “Bagus! Memang seharusnya kau patuh pada perintah seniormu.”Lory hanya menelan ludah tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun. Akan tetapi, Foei memang tidak membutuhkan jawaban sehingga dia hanya lanjut berjalan bersama dengan teman baiknya, Derrick Weybe yang terlihat mulai bosan berada di daerah sekitar Lory. Para prajurit lain pun mengikuti dua orang prajurit senior itu dengan perasaan yang c
Derrick mendecih sebal, sementara Foei langsung menanggapi, “Oh, kau ini rupanya sangat penakut ya!” Foei melempar arah pandangnya pada Derrick dan kemudian melempar sebuah senyum dengan ekspresi mengejek. Derrick menggelengkan kepalanya, ikut tersenyum mengejek.“Kalau kau takut, mengapa kau mau ikut dalam misi penting ini?” ucap Foei.Lory cepat-cepat menggelengkan kepala, “Saya tidak takut … saya-”“Hah? Tidak takut? Lalu, mengapa kau tadi berkata demikian?” Derrick memotong perkataan Lory, seolah sengaja memang tidak ingin mendengarkan Lory berbicara.“Jelas-jelas kau ini penakut! Astaga! Seharusnya kau tetap saja berada di istana dan tidak perlu ikut dalam pencarian Jenderal Mackenzie,” jelas Foei dengan senyuman miring. “Dasar pengecut!” ejek Derrick lagi. “Prajurit yang menyedihkan sepertimu tapi berani mengatai kami kalau kami lamban? Cih! Kau pikir kau ini siapa? Atasanku?” Foei berkata dengan nada dingin serta ekspresi meremehkan.Ah, dia memang benar-benar sangat puas m
Melihat senyuman James yang penuh keyakinan itu, Ben seketika sadar bila sahabatnya itu memang tidak bisa ditebak. Tapi, saat dia kembali mengingat bagaimana hubungan antara James dan Riley di masa lalu, dia merasa bila semua yang dikatakan oleh James memang benar adanya. Riley selalu terbuka sepenuhnya pada James. Pemuda itu hanya menyembunyikan satu hal, yakni fakta mengenai dirinya yang merupakan putra William Mackenzie. Selain itu, Riley tidak memiliki rahasia lain dari James. Sementara itu, Riley pun menjadi satu-satunya orang yang bisa memahami James dengan sangat baik. Hanya Riley yang mampu mengerti setiap tindakan yang dilakukan oleh James dan James pun hanya mau membicarakan banyak hal dengan Riley.Maka, dengan melihat semua fakta itu Ben akhirnya mengangguk, “Baiklah, kalau begitu. Aku harus melakukan apa?”James mendengus dan langsung memasang wajah cemberut, “Ayolah, Ben! Aku tadi sudah memberitahumu.”Ben memutar bola mata, “Aku masih tidak mengerti. Tolong jelaskan
Meskipun tampak bingung dengan perintah sang jenderal perang, mereka tetap kompak menjawab, “Siap, Jenderal.”Tidak lama kemudian semua prajurit itu membentuk sebuah barisan di mana mereka akan bersiap-siap melakukan pencarian terhadap Riley Mackenzie seperti yang diperintahkan oleh James Gardner.Sebagian besar dari para prajurit kelas satu tidak sedikitpun ragu melakukan tugas itu, namun ada beberapa di antara prajurit kelas dua yang tampaknya masih tidak yakin dengan apa yang akan mereka kerjakan.Dua di antara mereka adalah Foei Mccray dan Derrick Weybe“Aku tidak mengerti, mengapa Jenderal Gardner malah melakukan pencarian di hutan. Mana mungkin Jenderal Mackenzie ada di sini? Ini tidak masuk akal,” ucap Derrick yang baru saja berbaris menghadap ke arah depan hutan.Pria muda berusia dua puluh enam tahun itu berada di barisan paling depan bersama dengan teman baiknya sehingga mereka masih bisa berbicara dengan nada suara yang cukup pelan.Foei mengangguk setuju, tampak juga berpi
Gary Davis menggelengkan kepala dengan ekspresi super bingung. Dia tak bisa menerka-nerka perihal apa yang mungkin terjadi. Dia sendiri tidak terlalu mengenal James Gardner. Dia memasuki istana ketika James Gardner tepat mengundurkan diri dari jabatan wakil jenderal perang. Sehingga pada dasarnya dia pun hanya bertemu dengan James beberapa kali saja. Hal itu berbeda dengan Riley Mackenzie. Tidak terhitung jumlahnya dia telah bertemu dengan Riley. Bahkan, bisa dibilang dia sudah mengetahui bagaimana sikap Riley. Namun, dia tidak bisa memikirkan apapun tentang James Gardner. Dia sama saja seperti orang buta jika disangkut pautkan dengan James. “Jenderal Mackenzie muda saja tidak curiga terhadapmu. Padahal dia lebih lama berada di istana dibandingkan dengan jenderal perang yang satu itu. Aku tidak mengerti,” kata Elena yang juga belum menemukan jawaban dari pertanyaan yang mengganggu dirinya itu.Dia pun juga masih belum mengerti. Akan tetapi, sebuah hal pun terbersit di dalam pikir
Elena Goldwin menggigit bibir, merasa telah berbuat salah. Wanita tua itu pun berucap, “Maafkan saya, Pangeran … oh, maksud saya … Gary.”Melihat wajah penuh rasa Elena, Gary menjadi tidak nyaman. Dilihatnya wanita tua yang telah menjaga dirinya sejak dia masih kecil itu. Wanita itu sudah sangat berjasa banyak bagi keluarganya. Tidak hanya mengabdikan dirinya sebagai asisten rumah tangga, dia juga menjadi sosok ibu pengganti bagi adiknya. Memang usianya lebih pantas dipanggil sebagai “nenek”, namun perannya justru lebih cocok sebagai seorang ibu bagi dirinya sendiri dan juga Rowen.Astaga! Apa yang sudah aku lakukan? Dia sudah berkorban banyak, tapi apa yang sudah aku perbuat? Wanita tua yang telah membantuku dengan segala waktu dan tenaganya itu malah aku buat hampir saja menangis, Gary membatin dengan jengkel.Pria muda itu menyentuh tangan Elena, membuat wanita itu kaget. Dia kemudian mendengar Gary berujar, “Kau tidak perlu meminta maaf, Nek. Dan aku … akulah yang seharusnya
Gary Davis seketika mendesah pelan. Rasa bersalah segera mendera hatinya.Dia pun segera memposisikan tempat duduknya ke arah sang adik lal menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah.Tatapan bocah itu benar-benar lugu dan polos sehingga membuat perasaan Gary semakin kacau.Rowen, adik laki-lakinya itu masih begitu sangat kecil, tapi dia harus ikut menanggung permasalahan yang tidak seharusnya dia pikirkan di usia belia. Dengan nada yang begitu sangat lembut Gary pun berujar, “Rowen, maafkan aku. Aku … tahu kau pasti merasa sangat kesepian. Tapi … percayalah aku melakukan semua ini demi kita. Aku-”“Kau mempertaruhkan nyawamu, Kak. Aku … aku ….”Gary menggelengkan kepala, “Jangan pikirkan aku! Kau hanya harus tumbuh dengan sehat dan aman. Agar nanti di saat kita bisa memperoleh apa yang seharusnya menjadi milik kita, kita bisa berdiri dengan tegak.”Tiba-tiba saja perkataan Gary tersebut malah membuat Rowen menunduk sedih. “Gary, tidak bisakah kau tinggalkan itu semua?”Rowen memb
Sesungguhnya, bukan hanya Doris Tan yang rasanya sulit mempercayai apa yang Xylan putuskan. Namun, ketiga rekan pengawalnya pun juga merasakan hal yang sama.Bahkan, gambaran ekspresi ketiga sangat jelas sekali terlihat dari hanya sekali melihat. Terutama Jim Chesnut yang terlihat begitu syok mendengar perkataan Xylan. Mulutnya bahkan sampai terbuka lebar dan dia pun lupa untuk menutupnya lagi. “Y-Yang Mulia, saya sangat bingung. Saya … saya-”“Doris Tan,” Xylan memotong perkataan Doris dengan nada tegas.Doris pun terdiam, seolah tahu bahwa Xylan akan segera menjelaskan alasan raja muda itu. Benar saja, tidak lama kemudian Xylan berkata, “Hm, kau … memang melakukan hal yang benar dengan mengakui kesalahanmu.”Dia berhenti selama beberapa detik, sengaja untuk memberi waktu pada Doris untuk menenangkan diri sebelum dia melanjutkan apa yang ingin dia katakan.Ketika Doris terlihat jauh lebih tenang, Xylan pun melanjutkan, “Namun, kau melakukan itu dengan cara yang salah.”Ludos Flee m