Share

39. Ini Berbahaya!

Penulis: Zila Aicha
last update Terakhir Diperbarui: 2024-03-08 21:37:29

"Tidak, Yang Mulia. Tidak seperti itu," Riley membantah cepat-cepat.

Rowena memicingkan mata, menatap pemuda itu dengan mata jernihnya, mencoba mencari-cari tanda-tanda kebohongan melalui mata Riley. Namun, ternyata dia tak bisa menemukannya sehingga gadis muda yang masih berusia 18 tahun itu mengangguk.

"Kalau begitu, katakan yang sebenarnya!" Rowena berujar dengan nada memerintah, khas seorang anggota kerajaan.

Riley menimbang-nimbang, membasahi bibir, hingga kemudian memutuskan untuk menjawab, "Saya memang ingin menemui salah seorang staf wanita tapi itu karena ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada dia, Yang Mulia."

Rowena masih menunggu kelanjutan penjelasan Riley itu. Namun, ternyata Riley tak berkata apapun setelah itu.

"Hm, baiklah. Aku melepaskanmu kali ini," Rowena berkata pelan.

Seolah Riley tak menduganya sama sekali, pemuda itu mengangkat kepalanya tiba-tiba, "Yang Mulia. Anda serius?"

Rowena mendesah pelan, "Ya. Ini karena kau sudah menyelamatkan aku dan aku bukan o
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • Sang Dewa Perang Terkuat    40. Examiner

    "Oh, hm ... aku ...."Riley berdeham kecil, menyamarkan kegugupannya. Sementara James menatapnya dengan mata elangnya tanpa berkedip, seakan sedang menginterogasi teman satu kamarnya itu melalui tatapan. Meskipun lampu di dalam kamar itu tidak terlalu terang, keduanya masih bisa melihat dengan jelas dengan sorot cahaya minim. Akan tetapi, tentu saja Riley tidak mau kalah dari James. Dia pun segera memutus tatapan mereka dan memilih untuk lanjut berjalan melewati James yang masih terheran-heran menatapnya. Pemuda itu kemudian duduk di atas tempat tidurnya, sebelum dia berkata, "Aku ... dari luar."James mengembuskan napas dengan kasar dan lompat kembali ke atas tempat tidur empuknya, "Aku tahu kau memang dari luar. Maksud aku, kau dari mana? Tak mungkin kau berjalan-jalan ke luar tanpa tujuan atau arah kan?""Itu yang baru saja aku lakukan," Riley menjawab setelah mendengar perkataan James yang akhirnya malah menjadi sebuah ide untuknya."Omong kosong. Kau tidak mungkin jalan keluar

    Terakhir Diperbarui : 2024-03-10
  • Sang Dewa Perang Terkuat    41. Itu Tidak Adil!

    Bukannya menjawab pertanyaan Andrew, Greg malah tertawa misterius, membuat Andrew kian penasaran.Namun, Andrew tetap percaya pada teman lamanya itu sehingga akhirnya dia hanya berkata, "Lakukan yang terbaik. Aku harap caramu ini berhasil.""Pasti berhasil," Greg berkata dengan penuh percaya diri.Andrew mengangguk dan beberapa hari kemudian membiarkan pria yang telah memiliki satu putra yang masih menempuh pendidikan di luar istana itu mengatur segala hal.Tidak seperti biasanya, pagi di mana Greg akan memulai menjadi penguji, para calon prajurit itu tidak dibiarkan menikmati sarapan pagi mereka. Mereka justru diminta untuk langsung berbaris di tengah lapang tiga puluh menit sebelum latihan dimulai."Aku cemas," Alen memecah keheningan yang sedang menyelimuti barisannya.Riley yang berdiri tepat di sampingnya menanggapi tanpa menoleh, "Semua orang sedang cemas, Alen."Diego menelan ludah dengan begitu sangat gugup. Pria muda yang sudah memotong rambutnya menjadi super pendek dan berb

    Terakhir Diperbarui : 2024-03-11
  • Sang Dewa Perang Terkuat    42. Dia Tidak Bercanda!

    "Apa yang kami lakukan selama ini menjadi sia-sia."Namun, Greg hanya mengangkat tangan, meminta mereka diam kembali. Pria paruh baya yang masih terlihat sangat bugar di usianya yang telah mencapai lebih dari setengah abad itu berujar, "Aku tidak menerima protes. Bagi kalian yang tidak setuju, kalian bisa meninggalkan istana ini sekarang juga."Perkataan Greg tersebut membuat semua calon prajurit itu terdiam seketika.Setelah merasa mereka sudah tenang, Greg berkata lagi, "Hal ini dimaksudkan agar kalian tidak terpacu dengan peringkat. Seharusnya kalian senang karena tak perlu lagi terbebani dengan peringkat itu selama aku menjadi penguji kalian."Alen tiba-tiba mengangkat tangan. "Pak, bagaimana dengan pemilihan jenderal perang? Apa tetap tiga kandidat dari prajurit baru, prajurit lama dan prajurit pilihan Jenderal Reece?""Ya, itu tidak akan berubah. Aku tidak akan mengganti apapun yang telah ditetapkan oleh Jenderal Reece dan Raja Keannu." Jawaban itu membuat mereka tenang kembal

    Terakhir Diperbarui : 2024-03-11
  • Sang Dewa Perang Terkuat    43. Kau Pasti Berhasil!

    Alen dan Diego pun kini hanya bisa bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan."Sekarang, perhatikan layar dan segera pergilah ke gedung latihan menurut daftar yang tertera di layar itu!" suara Greg kembali terdengar.Riley yang masih terlihat tenang itu segera memusatkan kembali perhatiannya pada layar itu dan membaca.Nama Alen menjadi yang pertama muncul di layar itu dibandingkan ketiga temannya yang lain. Pemuda yang jantungnya berdetak lebih kencang dibanding sebelumnya itu berkata, "Sampai ketemu di latihan kedua, kawan."Riley mengangguk dan membalas, "Kau pasti berhasil."Alen balas tersenyum sebelum kemudian meninggalkan area itu dengan perut yang masih kosong. Tidak lama kemudian, nama Riley pun muncul. Dia pun berkata, "Aku pergi dulu."James menanggapi, "Kalau kau gagal, aku bersumpah akan langsung mengajakmu berduel, Wood."Riley mendengus, tapi dia tahu James sedang memberinya semangat. Memang, cara James sangatlah aneh, tapi Riley bisa memahaminya dengan baik.Hal itu

    Terakhir Diperbarui : 2024-03-12
  • Sang Dewa Perang Terkuat    44. Lihat Layar Itu!

    Riley mendengar percakapan itu dengan samar tapi dia sama sekali tidak terganggu. Pemuda itu masih bisa menjaga konsentrasinya dengan baik.Bahkan, kini dia terkesan jauh lebih berkontrasi penuh. Memang, dalam hal fokus, Riley selalu menjadi yang terbaik. Ayahnya sendiri, William Mackenzie bahkan juga mengatakan bila sang putra memiliki daya fokus yang jauh lebih baik dibandingkan dengan dirinya.Sang petugas dengan cermat memperhatikan setiap peluru yang ditembakkan oleh Riley dan terkesan dengan kemampuan Riley yang begitu cepat."12," sang petugas berujar sembari tersenyum.Petugas yang lain mulai ikut tertarik dan melihat Riley yang kembali menembak. Begitu tembakan itu terkena sasaran, para petugas itu tersenyum senang.Para calon prajurit yang tadinya berkomentar buruk itu terlihat kaget, "Bagaimana bisa dia secepat itu?""17," sang teman yang selalu menghitung.Mereka terpana ketika sang petugas akhirnya berujar, "25 dengan catatan waktu ...."Ketika menyebutkan waktu yang diha

    Terakhir Diperbarui : 2024-03-12
  • Sang Dewa Perang Terkuat    45. Apa Kau Lupa?

    "Kita akan segera tahu sebentar lagi," Riley menjawab sambil masih menatap ke arah layar.James yang masih mengunyah rotinya berkomentar, "Ada sepuluh pesawat. Memang berapa calon prajurit yang bisa diangkut oleh pesawat itu?""100 aku rasa." Riley memutar arah pandang, kini mencari kedua sosok teman-teman satu kamarnya yang masih belum terlihat di sana.James berhenti mengunyah seketika, "Wow! Kau tahu lebih banyak ternyata."Tetapi Riley tak menanggapinya, James pun melanjutkan, "Hei, ayahmu sebelumnya seorang mantan prajurit kan? Ayo, jujurlah!"Mendengar ucapan itu, Riley seketika menoleh, "Memang kenapa kalau ayahku dulu seorang prajurit? Dan kenapa kalau bukan?"James mendesah dan segera menghabiskan rotinya yang tersisa sedikit sebelum dia berbicara kembali. "Maka semua kemampuan yang sudah kau perlihatkan selama ini menjadi masuk akal, kalau memang memiliki ayah yang dulu seorang prajurit."Riley kembali mengedarkan arah pandang dan tetap mempertajam matanya, guna mencari Alen

    Terakhir Diperbarui : 2024-03-16
  • Sang Dewa Perang Terkuat    46. Jaga Sikapmu!

    Wajah Alen dan Diego seketika memucat, tapi Riley mencoba menenangkan mereka dengan berkata, "Semoga asumsiku salah. Meskipun tas ini adalah bekal untuk kita, aku harap mereka tidak membuat kita kehausan dan kelaparan nanti."James berujar, "Kali ini aku tidak setuju denganmu, Wood. Melihat kegilaan Greg Sehel, sepertinya dia akan membuat kita benar-benar mati kelaparan dan kehausan."Riley memberikan tatapan tajam pada pemuda itu, tapi James hanya mengangkat bahu. Keempat pemuda itu hanya terdiam, menunggu hingga latihan pertama yang justru lebih terkesan seperti seleksi prajurit yang tidak berkompeten itu berakhir.Tak ada pembicaraan di antara mereka. Hal ini dikarenakan mereka yang masih terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Mereka melihat satu per satu orang berlari menuju ke arah lapangan itu."Oh, itu Jason Hoult." Riley menunjuk ke arah pemuda yang tersenyum lebar pada teman-temannya.Diego berkomentar, "Dia yang dulu mendapat peringkat ketiga saja terlihat kewala

    Terakhir Diperbarui : 2024-03-16
  • Sang Dewa Perang Terkuat    47. Kau Mengenal Dia?

    Diego mengabaikan perkataan James, tak mau bersusah payah membalas pria yang kerap melontarkan kalimat menyebalkan yang hanya membuatmya semakin jengkel itu.Dia lalu membaca daftar nama para calon prajurit yang mungkin dia kenal dan mendapatkan beberapa nama dari asrama 2. Pemuda itu langsung mengangguk lega, "Setidaknya aku mengenal tiga orang dari asrama kita.""Bagus. Ada yang bisa menenangkan kau kalau kau nanti menangis di tengah-tengah misi," James berkomentar lagi.Riley sungguh ingin mengambil kain dan menyumpal mulut James agar dia tak bisa berbicara lagi. Sayangnya, dia tak bisa melakukan itu karena Greg kembali berkata, "Misi kalian akan kalian ketahui ketika kalian berada di dalam pesawat masing-masing."Mereka kembali tak membuat suara dan menunggu instruksi sang penguji."Dan sekarang silakan kalian pergi ke pesawat kalian dan segera tentukan ketua kelompok," Greg memerintah."Oh, satu hal lagi," kata Greg sebelum membubarkan mereka secara resmi, "Di tempat misi kalian

    Terakhir Diperbarui : 2024-03-17

Bab terbaru

  • Sang Dewa Perang Terkuat    33. Penyebab

    “Jadi, kalian bisa memberi kami waktu untuk meratapi anggota keluarga kami, bukan? Kalian tidak lupa bukan bahwa Keannu Wellington bukan hanya seorang raja negeri ini, tapi dia adalah kepala keluarga kami. Dia suamiku, ayah dari kedua anakku dan seorang kakek dari cucuku,” kata Monica dengan nada datar tapi tegas.Perkataan sang ratu rupanya berhasil membuat para pejabat istana itu saling lirik dan akhirnya terbungkam.Beberapa di antara mereka tampak mundur beberapa langkah seakan memang benar-benar tidak ingin mengganggu lagi anggota keluarga kerajaan. James Gardner sendiri tersenyum melihat para pejabat istana yang sebagian merupakan jajaran menteri penting itu tidak berkutik di hadapan sang ratu. James tidak bisa tidak terkesan pada kemampuan sang ratu yang mampu membuat orang-orang tunduk atas perintahnya. Hal itu karena menurut James sangatlah langka dan jarang terjadi.Sebelum dia melepaskan jabatannya sebagai seorang wakil jenderal perang, dia telah bertemu dengan begitu ba

  • Sang Dewa Perang Terkuat    32. Bukankah Kami Berhak?

    Dikarenakan James tidak kunjung bergerak dari tempatnya berdiri dan malah terdiam seperti sebuah patung, Rowena langsung melirik ke arah Xylan.Xylan tentu saja mengerti maksud dari kakak perempuannya itu sehingga dia cepat-cepat berkata, “Jenderal Gardner, apa … kau baik-baik saja?”James sontak tersadar dari lamunannya dan mengangguk pada Xylan. Dengan kebingungan yang sedang menguasai pikirannya, dia tetap melangkah masuk ke dalam kamar sang raja.Begitu dia memasuki area itu untuk pertama kalinya, James bisa melihat jasad raja Kerajaan Ans De Lou yang terbaring kaku di atas tempat tidur mewah itu. Dia hanya bisa menghembuskan napas pelan melihat orang yang pernah bertanggung jawab atas kerumitan hubungan antara ayahnya dan juga ayah Riley itu. Akibat kesalahan raja yang telah wafat itu, hubungannya dengan Riley pun meregang.Akan tetapi, sang raja telah meminta maaf kepadanya dan dia pun telah memaafkan segala kesalahannya sehingga saat itu sudah tidak ada rasa amarah ataupun den

  • Sang Dewa Perang Terkuat    31. Perisai

    Sebelum James memberikan jawaban atas perkataan Xylan Wellington, sang putra mahkota yang masih sangat muda itu, Xylan telah kembali berbicara, “Jenderal Gardner, aku tahu permintaanku ini sangat berlebihan.”“Dan aku tahu … tujuanmu bersedia kembali ke istana ini adalah demi kakak iparku, namun … aku sangat membutuhkan bantuanmu, Jenderal Gardner,” Xylan menambahkan dengan raut wajah penuh permohonan.James menghela napas panjang dan kemudian menggelengkan kepalanya.Hal itu membuat Xylan lemas dan juga kecewa. Tetapi, itu hanya berlangsung sementara karena tidak lama kemudian Xylan mendengar James berkata, “Anda tidak perlu meminta saya sampai seperti ini, Yang Mulia.”Xylan terhenyak. Terlebih lagi James melanjutkan dengan berkata, “Sebagai seorang Jenderal Perang Kerajaan Ans De Lou, tugas saya tidak hanya melindungi negeri ini. Tapi juga melindungi kepala pemimpin kerajaan ini.”Mulut Xylan terbuka sedikit karena terkejut mendengar jawaban James yang tanpa sedikitpun keraguan it

  • Sang Dewa Perang Terkuat    30. Kau Bisa Membantuku?

    “Apa yang sedang terjadi sebenarnya?” Reiner terlihat semakin bingung.Biasanya, jika mereka memenangkan sebuah peperangan, mereka akan disambut dengan begitu meriah.Tidak hanya sejumlah prajurit istana saja yang menyambut mereka, namun juga para pejabat istana serta anggota keluarga kerajaan akan menyambut kedatangan mereka.Akan tetapi, saat itu hanya ada sejumlah prajurit dan prajurit pengawal pangeran saja yang ada di lapangan tempat pesawat mereka akan segera mendarat.Hal itu tentu saja menimbulkan berbagai pertanyaan yang akhirnya mencuat di kepala para prajurit yang baru kembali dari pertempuran antara hidup dan mati itu. “Apa mereka tidak mendengar kabar kemenangan kita?” celetuk salah seorang prajurit kelas satu dengan nada penuh rasa kecewa.Seorang prajurit kelas dua menanggapi, “Tidak mungkin. Mereka pasti mendengarnya. Ini sebuah kemenangan besar yang ditunggu-tunggu. Mereka tidak mungkin tidak tahu.”“Betul. Istana pasti telah mengumumkan berita paling membahagiakan i

  • Sang Dewa Perang Terkuat    29. Keresahan

    “Astaga, Xylan! Mengapa kau meragukan dia?” Rowena membalas dengan nada pelan, seolah takut membuat putra kecilnya yang sedang tertidur dalam gendongannya terbangun akibat suaranya yang mungkin terlalu kencang.Xylan menggelengkan kepala, “Aku sama sekali tidak bermaksud meragukan dia. Hanya saja, aku tahu tujuan utamanya kembali ke istana ini, Rowena. Dia ….”“Berhenti berpikir seperti itu! Dia akan sangat kecewa kalau dia tahu ternyata kau meragukan kesetiaannya,” kata Rowena dengan tajam.Rupanya nada suaranya kali itu sedikit agak lebih keras sehingga sang putra, Kharel Mackenzie terganggu tidurnya sampai bocah kecil itu menggerakkan tubuhnya.Rowena pun kembali mencoba untuk membuat pangeran kecil itu terlelap lagi dengan cara menimangnya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.Xylan terdiam, seakan dia tahu sang kakak masih belum selesai berbicara.Ternyata memang benar dugaan Xylan. Usai keponakan kesayangannya itu tertidur tenang lagi, Rowena pun berkata lagi, “Xylan, menuru

  • Sang Dewa Perang Terkuat    28. Kegagalan?

    Selama Ben mengenal James, baru saat itu dia melihat James terlihat begitu sangat frustasi.Biasanya James selalu tampak datar, dingin dan tak jarang malah tanpa emosi. Akan tetapi, James yang sangat kaku itu telah berubah.Rasa cemas dan gelisah itu ditampakkan dengan jelas. Hal itu tentu membuat Ben cukup bingung menanggapinya.Akan tetapi, dia kemudian mendengar Reiner berkata, “Tenanglah, James! Ini bukan berarti kau tidak bisa membawa Riley pulan selamanya. Namun, kau hanya belum bisa membawanya pulang saat ini saja.”Reiner menepuk punggung James yang terlihat sedikit bergetar itu. Oh, Reiner sangat terkejut. Rupanya James benar-benar sangat memikirkan perasaan putra sahabat mereka itu. “Ingat, James. Kita akan kembali ke sana untuk mencarinya lagi, jadi kau tidak perlu merasa bersalah,” Reiner menambahkan.Bukannya menjadi tenang, James malah semakin resah. Pria muda itu menoleh ke arah Reiner dan membalas, “Bagaimana bisa aku tidak merasa bersalah, Rei? Aku … sudah berjanji

  • Sang Dewa Perang Terkuat    27. Apa yang Harus Aku Lakukan?

    Seakan baru tersadar, James sontak mengangguk perlahan, “Kau benar, Rei. Kita … harus kembali ke istana dan menyusun strategi lagi untuk menemukan Riley.”Reiner pun akhirnya bisa bernapas dengan penuh kelegaan.“Ayo! Kita harus segera meninggalkan tempat ini terlebih dulu,” ucap Reiner.James melihat sekeliling area tersebut untuk yang terakhir kalinya. Setelah dia merasa semua usahanya sudah cukup untuk saat itu, dia segera naik ke pesawat yang akan membawanya kembali menuju Kerajaan Ans De Lou.Selama dalam perjalanan, James lebih banyak terdiam.Sementara Reiner dan Ben yang juga berada di dalam pesawat yang sama dengan James berulang kali masih mengajak James berbicara. Namun, pria muda itu tetap memilih untuk diam.Padahal, Reiner ingin menghiburnya dengan cara mengalihkan perhatian James dari masalah Riley yang belum ditemukan. Sayangnya, dia masih gagal melakukannya. James masih terlihat tidak ing

  • Sang Dewa Perang Terkuat    26. Prasangka Buruk

    Sang prajurit sontak mendadak takut.Apalagi, sorot mata James Gardner tiba-tiba berubah tajam seolah sedang menusuk dirinya.Oh, dia sungguh hanya bermaksud untuk mengungkapkan apa yang sedang dia pikirkan. Dia tidak bermaksud menyinggung jenderal perang itu.Dia tentu saja tidak berani melawan James Gardner. Nyalinya pun seketika semakin menciut kala dia mendengar James berbicara kembali, “Ayo! Katakan padaku! Apa kau bermaksud mengatakan kalau Riley tidak mau bertemu denganku?”Prajurit bernama Joseph Zow itu dengan segera menggelengkan kepala kuat-kuat. “Tidak, Jenderal Gardner. Bukan itu maksud saya. Saya hanya-”“Lalu, apa? Bagaimana bisa kau berpikir Riley tidak ingin keluar dari tempat persembunyiannya?” kini nada suara James semakin terdengar frustasi.Tidak mau suasana di sana semakin tidak terkendali, Reiner segera mendekati sahabatnya itu dan berkata, “James, hentikan!&r

  • Sang Dewa Perang Terkuat    25. Sengaja?

    Reiner mengedipkan mata mendengar perkataan temannya tersebut. Lelaki itu pun menggelengkan kepala dengan tegas, “Masalah militer di istana? Kau gila? Masalah seperti apa?”“Tidak ada masalah perebutan kekuasaan di istana, James. Pangeran Xylan dan Putri Rowena memiliki hubungan yang sangat baik,” Reiner menjelaskan dengan alis terangkat akibat sangat heran.Belum sempat James menjawab penjelasan Reiner, Ben sudah buru-buru ikut berkata, “Reiner benar. Mereka berdua tidak pernah memiliki masalah. Tidak mungkin mereka bertengkar.”“Tentu saja. Bahkan, Putri Rowena selalu mendukung Pangeran Xylan. Sangat mustahil memperebutkan sebuah tahta. Lagipula, Putri Rowena pastilah masih sangat sedih karena Riley belum ditemukan. Mana mungkin dia memikirkan-”“CUKUP!” James tiba-tiba memotong perkataan Reiner yang sangat panjang itu.Reiner hendak meneruskan perkataannya, tapi rupanya James sedang agak kesal sehingga dia tidak memperdulikan niat Reiner tersebut dan malah lanjut berkata, “Astaga!

DMCA.com Protection Status