Aku sempat berpikir bahwa aku tidak seberuntung seperti orang yang sangat beruntung di planet ini. Aku Tere. Gadis yang hidup sebatang kara dan hanya berteman dengan kesunyian dan kegelapan. Sejak usiaku 7 tahun, aku telah kehilangan keluarga ku. Bukan karena kecelakaan melainkan karena mereka tega membuang ku ke jalanan. Entah apa salahku? Aku tidak cacat dan aku juga tidak meminta untuk di lahirkan ke dunia ini. Tapi mereka sangat tega kepadaku? Mereka tega membuang ku ke jalanan dengan alasan aku hanya membawa kesialan di dalam kehidupan mereka. Saat itu aku berusaha memohon agar mereka tak meninggalkan ku di tempat asing ini. Tapi tak satupun di antara mereka memiliki keinginan untuk membawaku pulang. Mereka membawa ku jauh dari rumah agar tak satupun ada orang yang mengenaliku ataupun mengenali keluargaku. Mereka meninggalkan ku seorang diri di tempat ini dalam kondisi kelaparan. Tubuhku yang kurus ini juga merasa sangat kedinginan karena hujan deras mengguyur tubuhku. Aku berusaha berjalan untuk mencari pertolongan, tapi sepertinya tempat ini jauh dari pemukiman warga karena tak melihat seorang pun melewati tempat ini. Karena tubuh kurus ku ini tak sanggup menahan rasa dingin yang menusuk hingga terasa sampai ke tulang akhirnya aku pun perlahan lemas karena perutku juga sangat kelaparan. Langit pun perlahan mulai gelap dan hujan semakin deras, tubuhku mulai sangat lemas hingga akhirnya aku terjatuh dan tak sadarkan diri. Bagaimana nasib Tere selanjutnya? Temukan kisahnya dalam bab- bab yang telah di suguhkan untuk anda para pembaca setia Good Novel. Selamat membaca Salam dari saya buat kalian semua _Riri Kaori_
Lihat lebih banyakSore ini aku menunggu senja untuk kembali datang menyapaku walau sesaat, tapi cuaca sore ini sedang tak bersahabat. Air yang jatuh dari langit mengingatkan ku pada peristiwa itu, peristiwa dimana aku pertama kali kehilangan Mama, Papa, dan kedua kakakku.
Aku kehilangan mereka bukan karena kecelakaan, tapi karena mereka yang membuangku ke jalanan. Menurut mereka aku adalah anak pembawa sial, dan mereka membawaku sangat jauh dari rumah untuk membuang ku agar aku tau arah pulang.
Aku tidak cacat, lalu mengapa mereka tega membuang ku! Aku tidak meminta untuk di lahirkan ke dunia ini. Aku menangis sekencang-kencangnya tapi tak sedikit pun mereka mengasihi ku. Aku seperti sampah di mata mereka.
Namaku Tere. Saat itu usiaku 7 tahun. Tubuhku yang kurus ini menggigil karena hujan deras mengguyur tubuhku. Perutku yang lapar membuatku lemas berjalan untuk menemukan jalan pulang.
Aku berjalan tanpa henti hingga aku benar-benar tak sanggup lagi untuk melangkah, dan akhirnya aku tak menyadarkan diri.
Langit semakin gelap namun hujan tak kunjung reda. Ketika aku tersadar dan perlahan membuka mata, ternyata aku terbaring lemas tak berdaya tepat di bawah pohon mangga yang lebat. Baju yang ku gunakan basah kuyup dan tubuhku semakin menggigil seolah ada es batu yang lebih besar dari tubuh kurus ku ini masuk hingga ke tulang.
Rasanya aku akan mati di tempat ini. Perutku sangat lapar dan aku tak sanggup menahan rasa dingin yang menggila ini.
Ketika aku tersadar, aku sangat merasa ketakutan dan tak kuasa menahan lapar dan dingin yang merasuk ke tubuhku. Aku bingung harus bagaimana. Hatiku terasa sakit sakit dan dadaku sangat sesak, mengapa mereka tega membuang ku ke jalan dan membiarkan ku akan mati seperti ini! Rasanya benar-benar aku seperti akan mati di tempat ini. Aku berharap ada seseorang yang akan menolong ku, tapi kemana orang-orang itu, mengapa tak satupun ada yang lewat d tempat ini. Aku sangat kebingungan dan tak tau harus bagaimana lagi.
Aku kembali memejamkan mataku dan kembali berharap jika aku membuka mata seseorang sudah menolong ku.
*****
Tak terasa suara adzan subuh berkumandang di mesjid, sepertinya mesjid itu tak jauh dari sini. Aku ingin beranjak dari tempat ini tapi tetap saja aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk melangkahkan kaki, untuk mengangkat badanku saja bangun aku tak memiliki kekuatan, aku harus bagaimana Tuhan.
Aku hanya pasrah saat itu, dan berdoa terus menerus dengan penuh harap. Jika aku harus mati kelaparan dan kedinginan di tempat ini, mungkin sudah takdirku.
Malam yang panjang sudah kulalui dengan hujan yang sangat deras tanpa henti. Sang fajar mulai datang dan sang mentari mulai menunjukkan lukisan indah di langit, tanda hujan tak akan turun lagi. Aku tetap terus berdoa penuh harap.
Aku tertidur di dalam ketidak berdayaanku, tiba-tiba buah mangga yang ada di atas pohon itu jatuh dan menimpa kepalaku dan membuatku harus membuka mata dengan kondisi yang sangat amat lemas.
"Awww... Rasanya sangat sakit". Aku melihat sejenak buah itu lalu perlahan mengambil nya dan memakannya.
"Apakah aku harus bertahan hidup dengan pohon yang di penuhi buah ini? Apakah aku bisa mengisi perut laparku dengan buah ini? Lalu bagaimana dengan tubuh kurus ku yang hanya memakai pakaian basah akibat kehujanan? Ah sudahlah, aku tak boleh banyak mikir dulu, yang penting aku bisa mengisi perutku yang sangat lapar ini." Gumam ku
Satu biji buah mangga ukuran sedang sudah ku lahap, lumayan aku bisa merasa sedikit kenyang, walaupun aku memakannya dengan cara mengupasnya dengan gigiku ini.
Kepalaku masih sedikit pusing mungkin karena akibat perutku lapar ditambah lagi buah mangga itu jatuh tepat di kepalaku. Tapi tidak masalah, mungkin ini cara Tuhan agar aku dapat bertahan hidup.
Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya. Dan aku berusaha berdiri dan duduk di bawah sinar matahari agar baju ku yang basah ini akibat hujan bisa kering.
Sangat sulit memang, tapi mungkin ini yang harus aku hadapi meski hatiku menjerit ingin pulang.
Sambil berjemur di bawah sinar matahari, aku memperhatikan di sekeliling ku. Benar-benar tak ada orang yang lewat.
Aku berusaha menguatkan diriku agar aku dapat berjalan mencari pertolongan. Tapi sepertinya ada mesjid di sekitar sini, itu berarti ada rumah di dekat sini. Aku harus berusaha mencari pertolongan agar aku tak berada di tempat ini terus menerus.
Ketika aku merasa bajuku yang basah ini lumayan kering dan perutku sudah tak terasa lapar lagi karena berkat buah mangga itu, aku memutuskan untuk mencari pertolongan, kali aja aku beruntung bisa bertemu dengan orang baik yang akan menolong ku.
Aku berjalan tanpa tahu jalan, yang penting aku bisa selamat di pikiranku.
Aku mencari mesjid yang mengeluarkan suara adzan subuh tadi, tapi di mana mesjid itu. Rasanya aku berjalan sudah lumayan jauh, tapi aku belum melihat tanda-tanda ada seseorang yang tinggal di dekat sini atau seseorang yang lewat.
Aku terus berusaha untuk berjalan, walau tubuh ku sudah mulai terasa lemas kembali.
Dan akhirnya aku menemukan seorang ibu-ibu yang sepertinya hendak ke pasar. Aku hanya mampu mengatakan tolong lalu aku kembali tak menyadarkan diri lagi.
Aku tak tahu ibu itu menolong ku atau tidak, karena saat itu aku benar-benar kembali tak menyadarkan diri dan tak merasakan apa-apa sama sekali.
Ketika aku terbangun, dan melihat di sekeliling ku, sepertinya aku berada di rumah sakit. Aku ingin bertanya pada dokter yang memeriksa ku tapi mulutku belum mampu untuk mengeluarkan suara.
"Apakah ibu itu yang menolong ku lalu membawa ku ke rumah sakit? Lalu kemana ibu itu? Aku tak melihatnya sama sekali". Gumamku.
Karena berhubung aku benar-benar masih sangat lemas, akhirnya aku mengikuti mataku yang memang ingin terpejam kan.
Ketika aku kembali terbangun di malam hari, aku merasa sedikit membaik. Tapi tak ada lagi dokter yang masuk di ruangan ini untuk memeriksa ku. Bahkan aku tak memiliki teman kamar yang di rawat di rumah sakit ini. Aku benar-benar sendiri di sini, dan orang yang menolong ku itu siapa dan kemana dia!
Aku menengok ke meja yang berbeda tepat di sisi kananku, dan lumayan ada makanan yang tersedia. Aku bisa memakannya untuk memuaskan perutku yang sudah mulai bawel ini.
Saat aku sedang asyik makan makanan yang tersedia di meja itu, tiba-tiba aku di kagetkan dengan kedatangan seorang perawat, dan perawat itupun terkejut melihatku makan dengan sangat lahapnya meski tanganku masih kondisi terinfus.
"Kamu sudah bangun anak manis?" Kata dokter itu.
"Aku hanya mengangguk sambil menikmati makanan yang ku makan ini."
Meski rasa makanan ini hambar, tapi setidaknya aku bisa makan dan tak kelaparan lagi.
Perawat itu hanya melihat ku sambil tersenyum lalu memberikan ku selimut dan obat yang harus ku minum setelah aku selesai makan.
Disisi lain Romi tak memiliki anak dari selingkuhan yang ia nikahi secara siri, dan kehidupannya pun kini semakin merosot. Romi dan selingkuhan nya kini hidup semakin sulit, di tambah lagi selingkuhan yang ia nikahi itu memiliki pria lain.Usaha mantan mertuakupun kian merosot dan orang kepercayaan Romi telah menggelapkan dana perusahaan lalu menghilang. Romi seakan gila akibat tak memiliki aset lagi sama sekali.Oleh sebab itu selingkuhan Romi yang ia nikahi kini berpaling karena Romi tak memiliki apa-apa lagi. Dan itu semua aku ketahui dari salah satu mantan karyawan Romi yang di pecat saat aku tak sengaja bertemu di sebuah swalayan ketika hendak berbelanja untuk kebutuhan putriku.Namu berbanding terbalik denganku, saat ini masalah materi bukan menjadi masalah utama dalam kehidupanku karena putriku memiliki rezeki yang bagus. Tapi yang menjadi masalah utamaku dalam kehidupanku adalah aku hanya takut putriku kecewa ter
Seiring berjalannya waktu tak terasa usia putriku sudah 5 tahun. Ia pun semakin menganggap bahwa dokter Pras adalah ayahnya, namun perasaan akan takut kekecewaan putriku terhadap ku semakin besar.Aku tak ingin putriku kecewa karena mengetahui bahwa dokter Pras sebenarnya hanyalah ayah angkatnya. Setelah Ki diskusikan kepada dokter Pras tentang hal ini, iapun menanggapi nya dengan santai. Entah apa yang ada di dalam pikiran dokter Pras ini.Hari demi hari telah terlewati, putriku begitu sangat manja terhadap dokter Pras yang ia anggap sebagai ayahnya yang sebenarnya.Aku tak ingin Karena hanya masalah ini justru putriku membenciku, aku tak ingin putriku menganggap bahwa aku telah membohongi nya. Bagaimana tidak putriku sangat pandai menjebak dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga.Di tambah lagi ketika putriku meminta untuk berfoto bersama dokter Pras dan denganku juga, memang sepeleh tapi itu
Hari demi hari aku kembali pulih dan dokter Pras tak pernah berubah sama sekali padaku meski aku tak lagi menjadi pasien nya. Dokter Pras makin intens berkunjung ke rumah untuk bermain sejenak bersama putriku. Bahkan dokter Pras memberi nama putriku dengan nama Ratu Wani. Aku tak menjadi masalah mengenai nama pemberian dokter Pras untuk putri ku, mungkin hal itu dapat mengobati kerinduan dokter Pras kepada sang istri yang di mana mereka berdua dulu sangat menginginkan anak. Dokter Pras memperlakukan Ratu layaknya sebagai anak sendiri, bahkan terkadang dokter Pras memenuhi segala keperluan Ratu meski akupun sudah menolaknya berkali-kali karena ketidak enakan ku pada dokter Pras, tapi tetap saja ia melakukannya dengan alasan itu adalah rejeki Ratu yang tak boleh di tolak. Dokter Pras tak ingin melewatkan tumbuh kembang Ratu sedikit pun, dokter Pras sudah sangat menyayangi Ratu layaknya anaknya
Setelah melewati perjuangan demi perjuangan, kini aku sudah menjadi seorang ibu. Rasa haru, bahagia, sedih bercampur jadi satu. Tepat tanggal 10 September pukul 05.00 pagi anak perempuan semata wayangku lahir dan ku beri nama ia Nur yang artinya cahaya, agar ia dapat menguatkan siapapun itu termasuk aku ibunya dengan cahaya yang ia miliki. Aku berharap dengan lahirnya Nur ke dunia yang kejam ini aku dapat kuat menghadapi ujian hidup yang silih berganti. Meski Romi saat ini benar-benar tak ada di sisiku lagi, paling tidak Nur adalah kekuatan ku saat ini. Aku berjuang dengan seorang diri untuk merawat dan membesarkan anak semata wayangku. Aku tak peduli lagi dengan apa yang di lakukan Romi terhadap ku. Penghianatan Romi yang selama ini ia berikan kepadaku, kini aku berusaha melupakan nya demi anakku. Aku tahu saat ini Romi sedang menikmati kebahagiaan nya bersama Desi, ta
Saat ini aku menunggu hari untuk melahirkan anak pertamaku dari Romi, aku harap dengan kesendirianku ini aku bisa tegar melewati proses persalinanku. Aku sudah tak tau lagi di mana keberadaan Romi, sepertinya ia sudah bahagia hidup bersama Desi dengan sebuah ikatan sakral.Aku pikir mungkin setelah aku melahirkan anakku aku akan mengurus gugatan cerai terhadap Romi agar aku tak merasakan kepedihan yang amat dalam lagi. Tak mengapa jika aku seorang diri membesarkan anakku, dan kelak ketika anakku dewasa ia akan tahu dengan sendirinya siapa ayahnya yang sebenarnya. Aku tak akan melarang Romi jika ia ingin menengok anak semata wayangku, karena biar bagaimanapun juga Romi tetap ayah kandungnya. Kecuali ia ingin mengambilnya dariku mungkin aku akan bertindak tegas, sebab aku akan mengurus hak asuh anakku.Semuan yang ku lalui tidaklah muda, banyak hal yang membuat air mataku jatuh berkali- kali meski aku berusaha untuk menahannya namun tetap juga
“Bu……. Ibu……… bangun bu…. Bangun……..”“Romiiiiii……………… ibu Rom…………….. ibu…………..”“Ibu meninggal…….. Rom…. Kamu di mana? cepat pulang…. Ibu meninggal…”Aku histeris melihat ibu meninggal ketika aku bersihkan badan ibu mertuaku. Aku menelpon Romi yang baru saja berangkat ke kantor, tapi Romi hanya membentakku di telpon. Ibu benar- benar meninggalkan aku dan meninggalkan kita semua.Romi benar- benar tak memiliki hati, hatinya sudah di butakan oleh Desi. Anak macam apa Romi ini, ibunya meninggal malah ia membentakku di telpon.Bukannya ia langsung pulang untuk mempersiapkan pemakaman ibunya, malah ia pergi bersama Desi dengan alasan ada pekerjaan penting
Senja seakan ikut merasakan apa yang menjadi kesedihanku saat ini. Ketika senja datang pancaran warnanya tak secerah seperti hari- hari kemarin saat ia datang menyapaku.Entah mengapa ini belum berakhir! Aku sangat terpukul, mungkin ada saat di mana aku akan pulang ke rumah ibu untuk menenangkan perasaanku. Aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kandunganku hanya karena tingkat stresku yang tinggi akibat menghadapi situasi yang semakin hari semakin membuatku rapuh.Jika bukan karena aku merawat ibu mertuaku, mungkin aku sudah pamit pulang ke rumah peninggalan ibuku. Mungkin untuk sementara aku harus menguatkan diriku bertahan di rumah ini untuk mengurus ibu mertuaku sampai sembuh total. Tak ada lagi yang dapat di harapkan dari Romi, ia sudah masa bodoh denganku, dengan rumah tangga kami, dengan bayi yang ada di dalam kandunganku dan terlebih lagi dengan ibunya sendiri. Dan itu semua karena Desi yang berusaha mengalihkan perhatian Romi
Tak terasa usia pernikahanku dengan Romi sudah memasuki 3 tahun. Dan belum ada perubahan sama sekali dengan sikap Romi hingga aku mengandung anaknya sendiri.Saat ini aku sedang mengandung 3 bulan anak Romi, namun perasaanku semakin hari semakin hancur menghadapi sikap Romi yang menurutku sudah sangat keterlaluan. Ia benar- benar tak menganggapku sebagai seorang istri, Romi hanya meluangkan waktunya bersama Desi.Ibu mertuaku pun sudah mulai sakit- sakitan karena adik Romi lari dari rumah dengan seorang pria, dan ayah mertuaku baru saja meninggal 2 bulan yang lalu. Situasi ini benar- benar sangat sulit bagiku. Aku sedang mengandung, suamiku Romi semakin parah dengan sikapnya yang berubah drastis.Situasiku sangat rapuh saat ini, dan masalah mama pun hampir terlupakan karena hal- hal bodoh yang berusaha merusak rumah tanggaku semenjak Romi mengurus perusahaan ibu mertuaku. Perlahan- lahan rumah tanggaku goyah hanya karena
Hari demi hari kehidupan rumah tanggaku sedikit rumit. Aku pikir, sejak kesalah pahamanku dengan suamiku tentang salah satu karyawan ibu, sekarang muncul masalah baru yang menyelimuti lika- liku rumah tanggaku.Semakin besar usaha ibu mertuaku yang di kembangkan oleh suamiku Romi, semakin besar pula tantangan dalam rumah tanggaku.Sekarang banyak wanita di luar sana yang mulai mendekati suamiku. Dari karyawannya sendiri hingga client suamiku. Aku terkadang ingin menyerah dengan semua ini, tapi aku di kuatkan dengan perjuangan Romi pertama kali mendekatiku. Namun kini aku merasa benar- benar sangat sulit untuk berpikir jernih karena memang semua yang aku jalani saat ini adalah sesuatu yang menurutku bisa membuatku kehilangan kendali dan terkadang membuat emosiku tidak terkontrol dengan baik.Aku berusaha untuk tetap tenang menghadapi tantangan demi tantangan dalam rumah tanggaku, namun terkadang sangat sakit kurasa. Meski
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen