Sistem
[Selamatkan dunia ini. Gagal berarti hukuman mati.]
[Y / T]
Liora menatap layar biru transparan yang melayang di hadapannya. Satu kalimat terpampang jelas, dan tidak memberikan ruang untuk menolak.
Dunia Mystic Horizon.
Tapi kenapa bukan tokoh utama? Kenapa ia malah terjebak dalam tubuh Lyara Blackthorn si Pengkhianat Kehancuran?
“Ini gila…” bisiknya. Matanya menatap pilihan di layar, Y dan T. Hidupnya kini bergantung pada sistem misterius yang seakan mempermainkan nasibnya.
Ia mencoba mengingat alur permainan Mystic Horizon, tapi ingatannya kabur. Ia bahkan belum pernah menamatkan misi dalam game ini. Sekarang, ia tak hanya harus bertahan, tapi juga hidup sebagai karakter yang dibenci semua orang meskipun dulu diam-diam ia menyukainya.
“Bisakah aku menolak?” harapnya, hampir putus asa.
Sistem menjawab tanpa jeda:
[Quest tidak dapat ditolak.]
[Quest tetap harus dijalankan.]
Liora tertawa lirih. Tak ada jalan keluar. Dengan tangan gemetar, ia memilih Y.
Layar berganti.
[Profil Karakter: Lyara Blackthorn]
[Julukan: Pengkhianat Kehancuran]
[Status: Diburu hidup atau mati]
[Kekuatan:Berpedang - kekuatan lain akan terbuka seiring misi dan ingatan kembali]
“Diburu…hidup atau mati?” desisnya. Dunia ini tak hanya asing bahkan memusuhinya sejak awal.
Sistem kembali muncul:
[Misi Utama: Pulihkan keseimbangan Mystic Horizon]
[Kegagalan: Eksekusi langsung.]
“Terima kasih atas sambutan hangatnya,” gumam Liora sarkastis. Tapi dibalik ketakutan itu, sebuah tekad mulai menyala kembali. Jika ini ujian, ia akan hadapi. Jika ini perang, maka ia akan bertahan untuk kembali ke dunianya.
Sebuah suara kecil menyentak kesadarannya.
“Tuan?”
Seekor beast mungil berbentuk kucing hitam pekat mendekat. Matanya biru bersinar, tubuh mungilnya membawa kehangatan yang asing tapi menenangkan.
“Kael…” gumam Liora, mengenali makhluk itu dari ingatan game. Sang pelindung setia.
Kael tampak gusar. “Tuan seharusnya tidak mengambil risiko sebesar itu! Setelah menyerap mana dan perang terakhir, kekuatan Tuan tak stabil! Tapi jangan khawatir apapun yang terjadi aku akan melindungimu.”
Liora menghela napas. Sebelum sempat menjawab, layar kembali menyala.
Sistem
[Misi baru: Tetaskan Telur Naga dalam 24 jam]
[Kegagalan: Eksekusi langsung]
[Y / T]
“Setidaknya, ini tak seberat menyelamatkan dunia,” gumam Liora lega.
“Tuan!” suara Kael menegur, kesal karena diabaikan.
“Maaf, Kael…” jawabnya pelan.
Beast itu memalingkan wajah, namun suaranya melunak. “Sebaiknya kita keluar dari ruang sihir ini dan istirahat, Tuan.”
Mereka berjalan menuruni tangga, menuju kamar di lantai dua. Aroma pinus menguar dari dinding kasar. Sebuah jendela kecil memperlihatkan langit malam yang pekat, sementara lentera di atas meja memancarkan cahaya temaram.
“Silahkan bersihkan diri dulu, Tuan,”
Setelah membersihkan diri, Liora meletakan telur naga dengan hati-hati dalam keranjang kecil yang sudah di taruh Kael di kasurnya.
Liora menatap telur itu. Hangat, rapuh dan penuh harap.
“Terima kasih, Kael… Kau sudah bekerja keras. Sekarang, giliran aku yang akan menjaga telur ini. Beristirahatlah.”
Kael mengangguk, lalu beristirahat dengan tubuh lelahnya.
Liora membaringkan tubuhnya. Misi ini mungkin tampak sederhana, tapi ia tahu…kehidupan baru sedang tumbuh di dalam cangkang itu dan dunia bisa saja bergantung padanya.
“Selamat malam. Mimpi indah telur naga.”
Ia mengelus pelan permukaan telur yang dingin.
Namun belum sempat terpejam, layar biru kembali muncul.
Sistem
[Ada entitas asing mendekat!]
Catatan: Beast adalah makhluk mistis yang memadukan pesona hewan dengan kekuatan magis dan perilaku luar biasa. Ia memiliki kontrak sakral dengan tuannya, beast tidak hanya berperan sebagai pelayan setia tetapi juga sebagai pelindung.
Pagi itu seharusnya membawa semangat baru bagi Liora, namun pikirannya masih terpaku pada notifikasi sistem semalam muncul entitas asing terdeteksi, lalu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.Dengan rasa gelisah yang tak hilang, ia memutuskan tinggal di rumah untuk memastikan telur naga tetap aman. Untuk mengalihkan pikirannya, ia menjelajahi perpustakaan milik Lyara, tempat yang hanya bisa diakses Lyara dan Kael karena ada lapisan sihir yang melindunginya.Rak-rak tersusun rapi, penuh dengan buku ramuan, sihir kuno, dan sejarah kerajaan. Tapi satu buku kecil yang usang menarik perhatiannya. Saat dibuka, ia membaca kalimat pendek penuh teka-teki.“Pertentangan terjadi. Aku tahu semuanya akan berakhir sia-sia.”Halaman berikutnya.“Jalan ini penuh keraguan. Tapi pentingkan dirimu sendiri. Mereka takkan peduli.”Tangannya gemetar saat membuka halaman selanjutnya.“Pengkhianatan akan terjadi atas nama kebebasan. Kan kuambil semua kekuatan mereka…”Kertasnya tersobek sehingga kalimat yang tert
“Sistem…lakukan sesuatu….”Tubuh Liora terangkat, lilitan tanaman sihir mencekik lehernya. Penglihatannya mulai kabur. Bandit berwajah luka mendekat dengan senyum kemenangan. “Dua burung sekali tangkap, harta dan kekuatanmu akan menjadi milikku. Pengorbanan rekan-rekanku tak sia-sia.”Liora mulai kehilangan kesadaran.Namun, angin tiba-tiba berhembus liar, tajam. Sebuah cahaya melintas, dan dalam sekejap menancap di bahu pria itu.“ARGHHH!”Tubuhnya terpental, menghantam pohon dan terguling menjauh. Lilitan tanaman di leher Liora mengendur, membuatnya jatuh tersungkur, terengah-engah. Sementara Kael, yang tergantung, dibebaskan oleh tiupan angin lembut.“SIAPA KAU!” raung bandit itu, matanya liar menatap sekitar.Tombak yang tadi menancap di tubuhnya melayang kembali di udara lalu jatuh ke tangan pemiliknya.Dari balik pepohonan, sosok pria muncul. Rambut pirang berkilau, mata biru tajam seperti langit musim panas. Jubah biru tua berkibar bersama hembusan angin. “Orang sepertimu tak
Langkah kaki bergema di koridor yang sunyi, berat dan berirama, seperti denting jam yang kehilangan waktu. Di ujung lorong, seorang pria berdiri di depan pintu besar yang menjulang kokoh. Ia mengetuk. Suaranya memecah keheningan.Dari dalam, terdengar suara datar, “Masuk.”Ia menarik nafas, lalu mendorong pintu perlahan. Cahaya temaram dari jendela besar menyinari sosok pria yang berdiri membelakangi pintu.Pria yang baru masuk berhenti beberapa langkah di belakangnya. Ia membungkuk, memberi hormat. “Tuan. Saya membawa kabar… Dia telah kembali. Setelah tiga ratus tahun.”Keheningan jatuh. Detik jam berdetak pelan, seolah waktu menahan nafas.Tuannya perlahan berbalik. Tatapannya tajam, dan senyum licik merekah di bibirnya.“Akhirnya… Hari itu tiba juga.”Tangannya mengepal.“Mulai rencanakan pergerakan. Kali ini, tanpa kesalahan.”“Siap, Tuan.” Pria itu membungkuk dan pergi tanpa suara.Tuannya menatap ke luar jendela. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. Di matanya, berkecamuk ambisi yang
Setelah perjalanan yang menguras tenaga, Liora dan rombongannya tiba di Desa Talewind, sebuah desa kecil di lembah Pegunungan Erto. Jalan-jalan berbatu yang biasanya sunyi, hari ini desa terlihat berbeda, penuh warna, penuh kehidupan. Festival Angin dan Cahaya akan segera dimulai, dan seluruh desa larut dalam semangat persiapan.Jalanan berbatu dipenuhi warga yang sibuk menggantung lentera angin dari kertas pastel. Panggung besar berdiri megah di tengah alun-alun, dihiasi pita-pita berwarna yang menari bersama angin lembut khas Talewind yang membawa aroma bunga liar, kini membawa gelombang kebahagiaan.Toko-toko kecil memamerkan pernak-pernik festival dari ukiran kayu berbentuk serigala, burung, dan bunga Lily of the Valley yang masing-masing menjadi simbol harapan, perlindungan dan penjaga Zephyros. Aroma ayam panggang manis, roti keberuntungan, dan pai buah hutan menggoda indera setiap yang melintas.“Liora, aku ingin yang itu!” seru naga kecil, matanya berbinar sambil menunjuk perme
Di depan mata mereka, sebuah gudang makanan dikepung oleh gerombolan monster yang mengamuk. Suara jeritan dan denting senjata memenuhi udara malam. Beberapa warga tampak terluka parah, sementara sisanya bertahan dengan alat seadanya, tangan mereka gemetar, namun tekad mereka tak runtuh.“Sial, jumlahnya makin banyak!” desis Aelric, matanya menyipit saat menatap pusat kekacauan.Di antara kerumunan itu, muncul sosok raksasa Gravetrail, bos berbentuk bison berotot dengan tanduk tanduk bercahaya yang memancarkan aura kegelapan pekat. Senjata kayu berduri yang diayunkannya bisa menghancurkan batu dalam sekali tebas.Tiga ksatria pelindung sudah nyaris tumbang. Penduduk desa makin terdesak.“Aertherwing!” panggil Aelric. “Sembuhkan mereka.”Makhluk bersayap perak muncul dari langit, mengepak anggun, lalu melesat ke arah korban terluka. Cahaya dari tubuhnya memancar lembut, menyembuhkan mereka satu per satu.“Kean, bersiap!” seru Liora, menggenggam pedang biru bercahaya. Matanya tajam, penu
Liora tahu, membawa Kael dan naga kecil bukan pilihan yang baik. Selain karena energi naga kecil itu belum stabil dan mudah terdeteksi, keberadaanya di luar rumah Aelric harus tetap menjadi rahasia. Perjalanan ini harus ia lakukan seorang diri.Semakin dalam ia menembus hutan, suara-suara asing mulai terdengar. Samar di awal, lalu semakin jelas, sekelompok orang. Liora memperlambat langkahnya dan bersembunyi di balik semak lebat.“Apa yang mereka lakukan di sini?” gumamnya pelan.Di hadapannya, bunga raksasa berdiri di tengah lingkaran para penyihir berjubah hitam dan bertopeng. Cahaya bulan memantul di kelopak-kelopaknya yang bercahaya seolah hidup. Namun Liora tahu keindahan itu palsu.Ketika bunga itu membuka kelopaknya, ia berubah menjadi makhluk mengerikan. Gigi-gigi tajam menyeringai di dalamnya, menghisap energi dari seorang pria dan seorang anak kecil yang terikat akar hitam. Wajah mereka pucat, tubuh gemetar, sekarat.“Tanaman ini lebih mengerikan dibandingkan di game.” Liora
Di tepi danau yang dikelilingi pepohonan raksasa, suara denting pedang membelah udara, bercampur dengan bisikan angin dan gemericik air. Sinar matahari menyelinap di antara dedaunan, menarik di atas riak permukaan danau. Aelric duduk bersila di atas batu datar, menyatu dengan energi alam. Kelopak matanya terbuka perlahan, menajamkan pandangan ke arah dua sosok yang bertarung, Liora dan Kael.Liora melompat ringan, tubuhnya berputar laksana bayangan angin. Pedangnya berdesing membentuk lengkungan tajam menuju sisi Kael, yang menangkis dengan refleks sempurna. Cahaya magis berkilauan di setiap benturan senjata mereka.Dengan satu gerakan gesit, Liora menghilang lalu muncul di belakang Kael, ujung pedangnya menempel di leher rubah itu.“Bagus,” gumam Aelric, tersenyum miring. “Sekarang, kita ubah aturannya.”Namun sebelum latihan berlanjut, suara anak-anak memecah ketegangan. Beberapa dari mereka, termasuk Rema, gadis berambut hitam pendek datang sambil membawa tas jerami.“Kak Aelric! K
Begitu monster terakhir melesat masuk, Liora Menyusul ke dalam gua yang diselimuti kegelapan. Udara lembab menusuk paru-parunya, dan bau basah tanah bercampur darah menguar di udara. Ia mempersempit pandangannya, mencoba menembus pekatnya gua bebatuan yang seolah menelan cahaya.Langkahnya terhenti tiba-tiba tanah di bawahnya menganga. Terlambat.Bruk!Tubuhnya terhempas jatuh ke dalam bawah gua yang curam. Suara jatuhnya menggema, membangunkan kesunyian yang mencekam.Rasa sakit menyambar tubuhnya, tapi lebih dari itu sepuluh pasang mata kini tertuju padanya.Monster-monster itu berdiri mengelilingi sesosok mahluk besar, seekor Beast ular dengan sisik kehitaman, nafasnya berat menahan luka di tubuhnya. Monster-monster itu layaknya pembunuh.Sistem[Hidden Quest][Misi: Singkirkan Monster yang menyerbu Zevar][Hadiah: 10 poin | Sisa waktu: 15 Menit]“Sial…” desis Liora, berdiri dengan satu lutut, tangan meraih ganggang pedangnya.Dalam sekejap, mereka menyerang.Cakar. Taring. Racun.
Begitu monster terakhir melesat masuk, Liora Menyusul ke dalam gua yang diselimuti kegelapan. Udara lembab menusuk paru-parunya, dan bau basah tanah bercampur darah menguar di udara. Ia mempersempit pandangannya, mencoba menembus pekatnya gua bebatuan yang seolah menelan cahaya.Langkahnya terhenti tiba-tiba tanah di bawahnya menganga. Terlambat.Bruk!Tubuhnya terhempas jatuh ke dalam bawah gua yang curam. Suara jatuhnya menggema, membangunkan kesunyian yang mencekam.Rasa sakit menyambar tubuhnya, tapi lebih dari itu sepuluh pasang mata kini tertuju padanya.Monster-monster itu berdiri mengelilingi sesosok mahluk besar, seekor Beast ular dengan sisik kehitaman, nafasnya berat menahan luka di tubuhnya. Monster-monster itu layaknya pembunuh.Sistem[Hidden Quest][Misi: Singkirkan Monster yang menyerbu Zevar][Hadiah: 10 poin | Sisa waktu: 15 Menit]“Sial…” desis Liora, berdiri dengan satu lutut, tangan meraih ganggang pedangnya.Dalam sekejap, mereka menyerang.Cakar. Taring. Racun.
Di tepi danau yang dikelilingi pepohonan raksasa, suara denting pedang membelah udara, bercampur dengan bisikan angin dan gemericik air. Sinar matahari menyelinap di antara dedaunan, menarik di atas riak permukaan danau. Aelric duduk bersila di atas batu datar, menyatu dengan energi alam. Kelopak matanya terbuka perlahan, menajamkan pandangan ke arah dua sosok yang bertarung, Liora dan Kael.Liora melompat ringan, tubuhnya berputar laksana bayangan angin. Pedangnya berdesing membentuk lengkungan tajam menuju sisi Kael, yang menangkis dengan refleks sempurna. Cahaya magis berkilauan di setiap benturan senjata mereka.Dengan satu gerakan gesit, Liora menghilang lalu muncul di belakang Kael, ujung pedangnya menempel di leher rubah itu.“Bagus,” gumam Aelric, tersenyum miring. “Sekarang, kita ubah aturannya.”Namun sebelum latihan berlanjut, suara anak-anak memecah ketegangan. Beberapa dari mereka, termasuk Rema, gadis berambut hitam pendek datang sambil membawa tas jerami.“Kak Aelric! K
Liora tahu, membawa Kael dan naga kecil bukan pilihan yang baik. Selain karena energi naga kecil itu belum stabil dan mudah terdeteksi, keberadaanya di luar rumah Aelric harus tetap menjadi rahasia. Perjalanan ini harus ia lakukan seorang diri.Semakin dalam ia menembus hutan, suara-suara asing mulai terdengar. Samar di awal, lalu semakin jelas, sekelompok orang. Liora memperlambat langkahnya dan bersembunyi di balik semak lebat.“Apa yang mereka lakukan di sini?” gumamnya pelan.Di hadapannya, bunga raksasa berdiri di tengah lingkaran para penyihir berjubah hitam dan bertopeng. Cahaya bulan memantul di kelopak-kelopaknya yang bercahaya seolah hidup. Namun Liora tahu keindahan itu palsu.Ketika bunga itu membuka kelopaknya, ia berubah menjadi makhluk mengerikan. Gigi-gigi tajam menyeringai di dalamnya, menghisap energi dari seorang pria dan seorang anak kecil yang terikat akar hitam. Wajah mereka pucat, tubuh gemetar, sekarat.“Tanaman ini lebih mengerikan dibandingkan di game.” Liora
Di depan mata mereka, sebuah gudang makanan dikepung oleh gerombolan monster yang mengamuk. Suara jeritan dan denting senjata memenuhi udara malam. Beberapa warga tampak terluka parah, sementara sisanya bertahan dengan alat seadanya, tangan mereka gemetar, namun tekad mereka tak runtuh.“Sial, jumlahnya makin banyak!” desis Aelric, matanya menyipit saat menatap pusat kekacauan.Di antara kerumunan itu, muncul sosok raksasa Gravetrail, bos berbentuk bison berotot dengan tanduk tanduk bercahaya yang memancarkan aura kegelapan pekat. Senjata kayu berduri yang diayunkannya bisa menghancurkan batu dalam sekali tebas.Tiga ksatria pelindung sudah nyaris tumbang. Penduduk desa makin terdesak.“Aertherwing!” panggil Aelric. “Sembuhkan mereka.”Makhluk bersayap perak muncul dari langit, mengepak anggun, lalu melesat ke arah korban terluka. Cahaya dari tubuhnya memancar lembut, menyembuhkan mereka satu per satu.“Kean, bersiap!” seru Liora, menggenggam pedang biru bercahaya. Matanya tajam, penu
Setelah perjalanan yang menguras tenaga, Liora dan rombongannya tiba di Desa Talewind, sebuah desa kecil di lembah Pegunungan Erto. Jalan-jalan berbatu yang biasanya sunyi, hari ini desa terlihat berbeda, penuh warna, penuh kehidupan. Festival Angin dan Cahaya akan segera dimulai, dan seluruh desa larut dalam semangat persiapan.Jalanan berbatu dipenuhi warga yang sibuk menggantung lentera angin dari kertas pastel. Panggung besar berdiri megah di tengah alun-alun, dihiasi pita-pita berwarna yang menari bersama angin lembut khas Talewind yang membawa aroma bunga liar, kini membawa gelombang kebahagiaan.Toko-toko kecil memamerkan pernak-pernik festival dari ukiran kayu berbentuk serigala, burung, dan bunga Lily of the Valley yang masing-masing menjadi simbol harapan, perlindungan dan penjaga Zephyros. Aroma ayam panggang manis, roti keberuntungan, dan pai buah hutan menggoda indera setiap yang melintas.“Liora, aku ingin yang itu!” seru naga kecil, matanya berbinar sambil menunjuk perme
Langkah kaki bergema di koridor yang sunyi, berat dan berirama, seperti denting jam yang kehilangan waktu. Di ujung lorong, seorang pria berdiri di depan pintu besar yang menjulang kokoh. Ia mengetuk. Suaranya memecah keheningan.Dari dalam, terdengar suara datar, “Masuk.”Ia menarik nafas, lalu mendorong pintu perlahan. Cahaya temaram dari jendela besar menyinari sosok pria yang berdiri membelakangi pintu.Pria yang baru masuk berhenti beberapa langkah di belakangnya. Ia membungkuk, memberi hormat. “Tuan. Saya membawa kabar… Dia telah kembali. Setelah tiga ratus tahun.”Keheningan jatuh. Detik jam berdetak pelan, seolah waktu menahan nafas.Tuannya perlahan berbalik. Tatapannya tajam, dan senyum licik merekah di bibirnya.“Akhirnya… Hari itu tiba juga.”Tangannya mengepal.“Mulai rencanakan pergerakan. Kali ini, tanpa kesalahan.”“Siap, Tuan.” Pria itu membungkuk dan pergi tanpa suara.Tuannya menatap ke luar jendela. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. Di matanya, berkecamuk ambisi yang
“Sistem…lakukan sesuatu….”Tubuh Liora terangkat, lilitan tanaman sihir mencekik lehernya. Penglihatannya mulai kabur. Bandit berwajah luka mendekat dengan senyum kemenangan. “Dua burung sekali tangkap, harta dan kekuatanmu akan menjadi milikku. Pengorbanan rekan-rekanku tak sia-sia.”Liora mulai kehilangan kesadaran.Namun, angin tiba-tiba berhembus liar, tajam. Sebuah cahaya melintas, dan dalam sekejap menancap di bahu pria itu.“ARGHHH!”Tubuhnya terpental, menghantam pohon dan terguling menjauh. Lilitan tanaman di leher Liora mengendur, membuatnya jatuh tersungkur, terengah-engah. Sementara Kael, yang tergantung, dibebaskan oleh tiupan angin lembut.“SIAPA KAU!” raung bandit itu, matanya liar menatap sekitar.Tombak yang tadi menancap di tubuhnya melayang kembali di udara lalu jatuh ke tangan pemiliknya.Dari balik pepohonan, sosok pria muncul. Rambut pirang berkilau, mata biru tajam seperti langit musim panas. Jubah biru tua berkibar bersama hembusan angin. “Orang sepertimu tak
Pagi itu seharusnya membawa semangat baru bagi Liora, namun pikirannya masih terpaku pada notifikasi sistem semalam muncul entitas asing terdeteksi, lalu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.Dengan rasa gelisah yang tak hilang, ia memutuskan tinggal di rumah untuk memastikan telur naga tetap aman. Untuk mengalihkan pikirannya, ia menjelajahi perpustakaan milik Lyara, tempat yang hanya bisa diakses Lyara dan Kael karena ada lapisan sihir yang melindunginya.Rak-rak tersusun rapi, penuh dengan buku ramuan, sihir kuno, dan sejarah kerajaan. Tapi satu buku kecil yang usang menarik perhatiannya. Saat dibuka, ia membaca kalimat pendek penuh teka-teki.“Pertentangan terjadi. Aku tahu semuanya akan berakhir sia-sia.”Halaman berikutnya.“Jalan ini penuh keraguan. Tapi pentingkan dirimu sendiri. Mereka takkan peduli.”Tangannya gemetar saat membuka halaman selanjutnya.“Pengkhianatan akan terjadi atas nama kebebasan. Kan kuambil semua kekuatan mereka…”Kertasnya tersobek sehingga kalimat yang tert
Sistem [Selamatkan dunia ini. Gagal berarti hukuman mati.] [Y / T]Liora menatap layar biru transparan yang melayang di hadapannya. Satu kalimat terpampang jelas, dan tidak memberikan ruang untuk menolak. Dunia Mystic Horizon.Tapi kenapa bukan tokoh utama? Kenapa ia malah terjebak dalam tubuh Lyara Blackthorn si Pengkhianat Kehancuran?“Ini gila…” bisiknya. Matanya menatap pilihan di layar, Y dan T. Hidupnya kini bergantung pada sistem misterius yang seakan mempermainkan nasibnya.Ia mencoba mengingat alur permainan Mystic Horizon, tapi ingatannya kabur. Ia bahkan belum pernah menamatkan misi dalam game ini. Sekarang, ia tak hanya harus bertahan, tapi juga hidup sebagai karakter yang dibenci semua orang meskipun dulu diam-diam ia menyukainya.“Bisakah aku menolak?” harapnya, hampir putus asa.Sistem menjawab tanpa jeda:[Quest tidak dapat ditolak.][Quest tetap harus dijalankan.]Liora tertawa lirih. Tak ada jalan keluar. Dengan tangan gemetar, ia memilih Y.Layar berganti.[Profil