“Makan yuk Da, lapar nih, dari tadi malam gak sempat makan gara-gara anak setan berulah” kataku, bukan sekali dua kali anak setan itu berulah, selalu membuatku menderita sengsara, ku pegangi perutku, rasanya semua organ pencernaanku sudah mengkerut karena kekurangan nutrisi.
“Anak setan?” tanya Irine heran saat pertama kali mendengar istilah itu.
“Iya, sepupuku, kelakuannya aneh pokoknya kayak anak setan,” jelasku singkat pada Ida dan Irine.
“Aku juga punya adik kecil yang nakal banget, berarti dia ‘anak setan’ juga dong?” kata Ida sambil tertawa terbahak-bahak mengingat kelakuan adiknya.
“Yah, bisa jadilah, ayo, keburu antreannya panjang,” kataku, segera kutarik tangan Ida dan Irine, ku seret mereka menuju kantin.
Belum berapa menit sejak bel istirahat berbunyi, kantin yang luasnya hanya sepenggal dusta itu sudah dipenuhi siswa-siswi yang kelaparan, ada apa dengan orangtua jaman ini? Tidak dikasih sarapankah anak-anaknya? Atau memang mereka semua tukang lapar? Ah, persetan dengan semua itu, aku sudah laparrr, bisa-bisa aku mengamuk di kantin ini gara-gara kelaparan.
“Rin, kamu pesan minum sana, terus Ida, kamu cari meja, masa’ tiap makan kita duduk di parkiran terus,” perintahku pada mereka, yah, nasib adik kelas, sok baik dan manis dulu, mengalah sama kakak kelas kalau meja kantin penuh yang mau gak mau duduk di parkiran, nanti setelah jadi kakak kelas, baru waktunya pembalasan dendam, bahkan meja kantin akan ku beri tanda tangan, nama terang, dan cap stempel!!! Sementara untuk sekarang nge-gembel dulu lah.
“Oke, aku pesen nasi+gorengan ya, sambelnya yang banyak” pesan Irine, kami harus berbagi tugas, agar kami dapat makan dengan cepat dan tenang.
“Oke deh, kita pesan makan sama semua saja ya, biar tidak pindah-pindah, masalahnya antriannya itu loh” kataku memperjelas jenis makanan yang akan kami pesan.
Deretan antrian di ibu yang jual nasi dan gorengan itu panjang dan rame banget. Apalagi aku anak baru, aku pun harus berteriak biar ibu itu denger pesananku,
“Bu, nasi dan gorengan tiga, aaarrgh!” teriakku, tapi kakiku diinjak oleh kakak kelas, “Tahan Jana, tahan” kataku dalam hati, kutahan, kutarik kakiku pelan-pelan, dan akhirnya bebas.
“Bu, tiga bu, tigaaa nasinyaa!” teriakku lagi.
“Nih, dua ya!” kata ibu itu sambil menyodorkan satu piring nasi, lengkap dengan lauknya.
“Lohh, kok hanya satu?” heran aku sama ibu itu, sudah kubilang tiga, malah dikasih satu, terus dia bilang apa tadi? Dua? Dua darimanaaa? Sabar, sabar, sudah lapar tak tertahankan sekarang harus menahan emosi dari segala penjuru lagi, huh.
Kuambil nasi itu, kemudian, ehh, ehh kedua kakiku diinjak kakak kelas, lalu kucabut kakiku dengan sekuat tenaga dari himpitan kaki-kaki jahanam itu, aku pun hampir terjatuh, dan…
“Arrghh” teriakku, tak sadar aku merangkul orang yang berdiri di samping kiriku karena aku hampir jatuh. Sosok itu tinggi dan putih. Dia kaget, kami berdua saling berpandangan sesaat, dia melongo, aku tak kalah kaget dan juga melongo.“Cieee, hahahahaha,” kata cowok lain yang disampingnya, saat tertawa matanya sipit segaris, “si mata sipit segaris” dan cowok yang ku rangkul pundaknya adalah Aditian. Sial!
“Eh, maaf ya, gak sengaja” kataku sambil cepat-cepat pergi sebelum mukaku blushing seperti tomat karena malunya. Masih kudengar tawa Dito, si mata sipit segaris itu.
Aku menghampiri Ida dan Irine yang sudah duduk manis dengan 3 capuccino dimeja.
“Kenapa mukamu kok bersemu merah gitu” tanya Ida tanpa basa-basi.
“Kalian gak tahu apa yang barusan menimpa sahabatmu ini?” tanyaku kepada mereka, tapi terlebih juga kepada diriku sendiri, kenapa aku blushing?
“Gak tahu! Emangnya kenapa? Kamu ketemu Lee Minho atau Song Joong Ki?” tutur Ida sambil ketawa.
“Karena keadaan rame jadi gak ada yang sadar kalo aku tadi meluk cowok astral gila itu!” pikirku dalam hati.
“Syukurlah,, ehm, gak apa-apa kok, makan,” kataku dengan nada yang ku buat-buat yang malah terdengar aneh karena sebenarnya aku sedang susah payah mengatur nafas dan dentuman detak jantungku yang tak karuan.
“Kok cuma satu sih Jan, punya kami?” protes Irine yang melihatku makan sendiri.
“Oh, ya, emm, kalian ambil sendiri ya, aku udah bayar kok tadi” mohonku dengan senyum lebar.
★★★★★★★★★★★★★★★★★★★
“Pulang duluan ya, Jan” pamit Ida, katanya dia harus jemput adiknya pulang sekolah, jadi dia terburu-buru.
“Oke deh, salam ya, buat ‘saudara setan’ ” tambahku, tapi dia udah keluar kelas duluan, sedangkan aku masih berkutat dengan tugas fisika yang sulit dengan kelompokku.
“Akhirnya selesai, besok tinggal print makalahnya, terus kita presentasi,” kataku kepada teman-teman sekelompok.
Aku mencari Irine, tapi tidak kutemukan diantara teman-teman lain, akhirnya aku memutuskan untuk langsung pulang.
Didepan gerbang kulihat ada Aditian and the geng, Dito dan Andy, sejak kapan merka dekat? Mereka berdiri sambil memperhatikan setiap orang yang lewat.
“Aduh, ngapain sih mereka disitu” gumamku sambil merapatkan jaket abu-abu miliku menutupi nama, mana gak ada jalan keluar lain lagi, kenapa sih ini sekolah cuma punya satu pintu gerbang? Buat enam kek!
“Jangan-jangan, Aditian sudah tahu identitasku, duhh, tamat riwayatku hari ini, mana Irine dan Ida sudah pada pulang lagi,” omelku semakin cemas.
Karena takut diapa-apakan sama mereka, akupun menunggu mereka pulang, terjebak dan aku baru bisa pulang jam 4 sore. Sial!
★★★★★★★★★★★★★★★★★★★
“Hai, apa kabar?” smsku pada Aditian, mengawali percakapan online.
“Lu maunya apa sih, gua tuh udah ada yang punya jadi jangan ganggu gue” balasnya ganas.
“Lu pikir gua gak kenal siapa lu, Aditian, orang sombong yang dengan penyesalan seumur hidup pernah gue ajak kenalan, mana mungkin ada yang mau dekat sama orang sombong kayak lu!” balasku panjang lebar.
“Lu kalo ngomong seenaknya jidat lu, ya!” balasnya lagi, mana dia ngatain jidatku lagi, anak siapa sih ini?
Pokoknya setiap malam kalau gak ada kerjaan dan jika si “anak setan” itu gak mengganggu aku bisa mengganggu Adit dengan meminjam sifat setan “anak setan” (?).
★★★★★★★★★★★★★★★★★★★
“Woy, aku dapat kontak f******k-nya Aditian, nih,” kata Irine menyodorkan layar hpnya tepat didepan mukaku.
“Mana?” tanyaku antusias, kayak anak kecil yang dapat hadiah besar.
“apaan gak ada apa-apanya, foto profilnya aja anjing, gak ada cewek atau juga kontak cewek atau komentar dari cewek begitu?” komentarku setelah mengetahui bahwa f******k-nya kosong.
★★★★★★★★★★★★★★★★★★★
“Oh, jadi cewek kamu itu anjing!!” kataku memulai sms.
“Jaga ya, itu mulut, gak pernah sekolah apa? lu gak tau diri banget ya, jadi orang!!!” tulisan smsnya terbaca seperti orang yang marah, bukan, marah sekali.
“Mati, dia marah, gimana nih?” tanyaku dalam hati “tapi aku benar kan, emang cuma ada gambar anjing di facebooknya kok”
“Sorry ya, bukannya aku bermaksud untuk mengejek pacarmu, tapi foto profilmu yang di f******k gambar anjing kan?” sms ku menjelaskan.
“Maaf Dit, aku gak bermaksud menghina atau bagaimana ya” jelasku lagi dalam sms.
Malam itu untuk pertama kalinya, aku merasa bersalah sudah bicara kasar sama dia, sekitar 10 kali aku sms dia, tapi tidak ada balasan
Hari ini aku sengaja berangkat pagi-pagi, padahal biasanya telat bahkan aku tidak memandikan Dika dan tidak mengambil uang saku. Aku ingin lihat dia, ya, dia hanya demi lihat cowok sinis nan sombong itu. Dari lantai 4 gedung Farmasi kulihat dia berjalan melangkahkan kaki masuk lingkungan sekolah, ku lihat dia, sejak dia mulai memarkirkan sepeda putihnya, dengan cool dia berjalan menuju kelasnya. Dia memakai jaket hitam dan memakai penutup kepalanya sehingga wajahnya tidak begitu terlihat, biasa orang seperti ini ingin tampil sok misterius, dan dia berhasil. Bola mataku mengikuti kemana Adit berjalan, deg, tiba-tiba dia berhenti dan memutar badannya, beberapa saat kemudian seperti di film-film horor, ah, bukan, film romantis, dunia serasa milik kita berdua bang, hah? Bang? sejak kapan aku manggil dia abang? Slow motion, dunia serasa berhenti, hanya terdengar suara nafasku yang terengah-engah seperti habis lari marat
Bab V Pagi harinya, seperti biasa aku berangkat sekolah, tidak ada yang istimewa, segalanya berjalan sesuai rutinitas, hanya saja, aku tidak dapat pergi lebih pagi, karena si ‘anak setan’bangun lebih pagi daripada biasanya. Sesampainya disekolah, Ida dan Irine duduk mengelilingi bangku ku. Irine sudah cerita ke Ida tentang kejadian Adit yang menghampiriku kemarin. “Apa? Kamu suka Aditian?” Ida hampir saja membuat teman sekelas salah paham dengan pertanyaannya itu. “Aku gak bilang suka ya, Da, aku Cuma bilang, ada perasaan aneh yang menjalariku setiap kali aku bertemu dengan dia” aku berusaha menjelaskan pada kedua sohibku itu tentang apa yang aku rasakan ketika aku berhadapan dengan sosok yang bernama Aditian itu, ada berbagai macam rasa, manis, asem, gurih, nano-nano. “Menurutku kamu suka, bukan, memang kamu cinta Aditian, kenapa aku bisa bilang begitu? Biasanya di drama korea begitu to, kalau kamu be
Enam bulan sudah kami lalui di sekolah ini, setelah ujian semester usai kami libur selama beberapa minggu, menghabiskan libur semester sekaligus natal dan tahun baru. Aku memutuskan untuk pulang, menikmati waktu libur bersama keluarga di rumah. Tak banyak yang aku lakukan, hanya di rumah dan sesekali jalan-jalan. Rumahku berada diluar kota Semarang, disebuah desa kecil nan permai, aku sangat menikmati liburan semester ini, terbebas dari setiap beban tugas di sekolah, bebas dari si ‘anak setan’, tapi ada terselip rindu untuk sahabat-sahabatku, Irine dan Ida. Komunikasi di desaku tidak lancar, sebab keterbatasan jaringan internet. Oleh karena itu aku jarang telpon atau sms Ida dan Irine, aku tak tahu kabar mereka. Begitu liburan usai, aku senang karena dapat berkumpul dengan mereka, hanya mereka yang mengerti diriku, selain orangtua. Beberapa hari kami masuk sekolah, masih belum ada mata pelajaran yang diajarkan, hanya regristasi dan penetapan jadwal
Pagi ini aku bangun dengan perasaan was-was, karena hari ini adalah hari penting, yakni pembagian rapot. Aku mencemaskan nilaiku di semester pertamaku disini, orangtuaku tidak bisa datang untuk pengambilan raport, jadi yang mewakili mereka adalah tante Anna. Tante Anna adalah orang yang tegas, bisa kena marah kalau ternyata nilaiku dibawah standar. Tante Anna membawa Dika, karena tidak ada orang dirumah, kami berangkat pukul 8.00 WIB karena acara dimulai pukul 09.00, kami menaiki motor menuju sekolah. Setibanya kami disekolah, parkiran diluar sudah penuh, jadi kami masuk ke parkiran dalam. Suasana sekolah saat itu sudah penuh sesak dengan para wali murid bersama dengan siswa. Ada satu panggung besar ditengah lapangan basket, dan ada kursi yang sudah disediakan didepan panggung itu agar para tamu dapat menikmati penampilan siswa berbakat, tentu bukan diriku, mereka adalah orang dengan suara yang bagus, bisa dance bahkan ada yang lihai menari tarian tradisional. Pang
Aku menyimpan cupcake pemberian Adit didalam kulkas paling atas, dengan tulisan “Jangan dimakan”, karena itu merupakan kenangan pertama, pemberian pertama dari Adit, aku tidak tega menggigit lalu menelan cupcake yang lucu itu. Mungkinkah Adit sudah mengetahui perasaanku? Identitasku sebagai Rena belum terbongkar kan?Entahlah! Semua kacau karena Dika, si anak setan itu.Tak lama setelah kejadian cupcake beserta pengakuan tidak langsung yang terucapkan oleh si anak setan itu, aku mendengar bahwa Adit putus dengan pacarnya, yang ku tahu bernama Tania. Aku tidak tahu perasaanku setelah mendengar kabar itu dari Irine, antara bersalah dan bahagia karena hubungan mereka berakhir. Namun setelah mereka putus, aku juga merasa kalau sikap Adit tambah dingin terhadap siapa pun terutama kepadaku. 🍁🍁🍁Tahun pertamaku disini be
21 April 2014, hari kartini, pihak OSIS membuat acara setelah apel pagi dan perayaan hari Kartini, semua siswa harus memakai pakaian adat, akan diadakan berbagai lomba, tapi aku tidak berminat ikut lomba-lomba seperti itu, sebenarnya bukan tidak berminat sih, tapi tidak ada bakat, hahahak, dasar aku. Aku janjian sama Ida dan Irine untuk dandan bareng dikosku, karena letak kosku dekat sekolah juga. Sehari sebelum hari H, Irine membawa seperangkat alat tempur, yang sebagian besar aku tidak mengerti namanya, yang kutahu hanya catok, alas bedak, lisptik. Ida datang terlebih dahulu, jam 5 dia sudah buat huru-hara dirumah orang, “Jana, Jana!” Teriaknya sambil menggedor-gedor pintu luar dan jendela kamarku. “Iya, iya,” dengan mata setengah terpejam aku susah payah menemukan knop pintu kamar. “Kamu datangnya kepagian, kenapa gak jam 2 subuh aja kamu datang,” aku masih mengucek-ngucek mata yang membiasakan dengan cahaya sekitar. “Iya dong, kan mau dandan
Aku baru selesai memandikan si anak setan, aku bergegas meraih sepedaku dan meluncur ke sekolah, aku tidak ingin terlambat lalu dihukum berlari keliling lapangan. Aku memasuki lingkungan sekolah bertepatan dengan bunyi bel tanda masuk. Aku berlari melewati lapangan, menyusuri tangga hingga lantai 4, berlarian di lorong membuat langkah kakiku menggema ke seluruh penjuru. “Huh, hampir aja”. Seruku ketika menggenggam gagang pintu kelas, ku dapati belum ada guru yang masuk. Aku langsung duduk di bangku, disamping Ida. “Napas Jan, napassss”, katanya melihatku kehabisan napas. Tak lama Bu Valentina masuk, kamipun belajar tentang perjalanan obat di dalam tubuh, dari mulai masuknya sampai dikeluarkan. “Jan, bener gak sih berita kalau kamu naksir Adit?” Anggita, teman yang duduk di depanku tiba-tiba bertanya, aku tak bisa menyembunyikan eskpresi terkejut dari wajahku. “Darimana kamu dengar berita itu?”, aku mencoba mencari info
Aku melemparkan diriku ke atas kasur, “hari yang sangat melelahkan,” batinku. Setelah melalui hari tanpa Adit, dan menyadari kenaifanku tak berani memasuki ruangan itu, meskipun aku tepat didepannya. Aku memejamkan mata, berusaha melupakan gema tawa yang terngiang di telingaku. Matahari bersinar begitu terik, walaupun begitu anak-anak Benedictus menikmati penampilan tari dalam acara open house SMK bergengsi ini. “Woaaaaa,” teriakan para buaya dan sepupunya, biawak pun ikut memanas mengiringi beat dance. “ Jan, turun ke ba
Aku menyeka air mataku, ini momen terakhir, ujung perjalanan masa remajaku. Aku kembali berjalan menyusuri lorong indah itu, tak hentinya menatap pajangan foto sebagai saksi kebersamaan kami selama 3 tahun. Aku menyusuri lorong itu bersama Ida dan Irine. Ida memakai mini dress berwarna hitam, dengan make up tipis ala remaja, dan sepatu kets dengan warna senada. Irine memakai dress brokat berwarna merah cabe dengan berbagai hiasan bunga dibagian depannya, ia menawan dengan tambahan high heels hitamnya. Malam ini, semua tampak berbeda, meskipun ukurannya kami masih 17 tahun, tapi malam ini penampilan kami layaknya wanita dewasa. "Jan, ada apa dengan kakimu?" Ida menghentikan langkahku, kini kami semua tertuju pada kaki ku. Ada memar biru dibagian lutut sebelah kiri. Ah, aku tidak menyadarinya, pantas saja rasanya sakit dari tadi, ternyata sudah berbekas. " Apa karena kecelakaan tadi?" Ida mengernyitkan keningnya, tatapannya tulus sekali, dia benar-benar khawatir.
Setelah menghadapi berbagai ujian dan pencobaan hidup, kini saatnya pesta perpisahan. Memang, saat awal masuk sekolah ini, rasanya ingin cepat lulus, tapi saat momen kelulusan di depan mata, rasanya masih belum rela bahwa semuanya sudah terlewati begitu saja. "Jan, kamu sudah menemukan baju yang akan kamu pakai untuk acara kelulusan?" Irine duduk di sampingku, diikuti oleh Ida. Kami bertiga duduk di tepi lapangan basket, duduk santai, melihat klub basket sedang latihan. "Belum, kamu?" Tanyaku balik kepada Irine, aku belum sempat mencari baju yang akan ku pakai untuk acara Minggu depan, saat pengumuman kelulusan disampaikan sekaligus acara perpisahan. Semua akan diadakan di sekolah. " Bagaimana dengan perasaanmu Jan," tanya Ida membuyarkan konsentrasi ku dari klub basket, Adit berhasil memasukkan bola ke ring, rasanya ingin berteriak, tapi aku harus mengendalikan diri. "Perasaan? Perasaan apa?" Aku masih belum bisa sepenuhnya mengalihkan fokus&nb
Ketika aku berbalik untuk pergi meninggalkan aku melihat Ida dan Irine, sekilas Dito berdiri dilantai 2 sedang memperhatikan kami, dia entah kapan, mungkin dia hanya menikmati drama persahabatan ini. Aku berlari dengan air mata, diikuti oleh sumpah serapah Ida yang begitu jelas dan terngiang-ngiang ditelingaku. Sesampainya di kos, aku menangis sesenggukan, kami sudah bersahabat bertahun-tahun, sekarang tanpa hanya karena hal-hal sepele. Ku benamkan menangis dalam-dalam di bantal, menangis sekencang mungkin, suara tangisku teredam oleh busa bantal. Tok tok.
Hari ini adalah hari yang menguras energi ku, Ida marah padaku lantaran saat ulangan kimia aku tidak memberi contekan kepadanya."Da, sudahlah, aku kan sudah memberikan catatan ku padamu, bukannya dipelajari, kamu malah minta contekan," aku mempercepat jalanku berusaha menyamai kecepatan Ida yang ada beberapa meter didepan. Dia sama sekali tidak menoleh, aku sendiri sadar kemarahannya memuncak ketika Bu Risa tahu dia akan mencontek dan kertas ulangannya langsung diambil, tanpa ampun, dia mendapat nilai 30 plus dipermalukan didepan kelas karena sikapnya itu."Hei! Dengarkan aku!" Aku meraih tangan Ida sebelum dia mencapai gerbang sekolah. Dengan kasar dia hempaskan genggamanku dan langsung berjalan menjauh, aku mematung, apakah tidak ada sedikit saja kesadaran dalam dirinya, bahwa yang dia lakukan juga salah. 🍁🍁🍁Aku
Pelajaran sejarah sungguh membosankan, sudah siang, jam terakhir, pelajaran sejarah, ditambah suara Bu Endang yang mendayu merdu, meja di kelas menjadi tempat ternyaman untuk tidur rupanya. Mataku sudah tertutup beberapa kali, aku tidak boleh tidur, karena aku duduk di bangku depan, tapi ...aku tertidur. Aku terbangun ketika mendengar riuhnya gelak tawa anak-anak dikelas, "Oh, ternyata dia dengar, sekarang dia sudah sadar," Bu Endang tersenyum lembut ke arahku. Aku yang masih belum "ngeh" menatap linglung sekitarku, semua mata menatap ke arahku, beberapa dengan bisik-bisik, beberapa lagi dengan tangan menutupi mulut menahan tawa. "Jan, malu-maluin lu ah," Ida menepuk punggung ku , dai duduk di sampingku. Tega-teganya dia tidak membangunkan ku. "Kamu sih, kenapa gak bangunin aku, bukannya tadi kamu juga tidur," bisikku dengan mata melotot. " Iya, aku tadi tidur, tapi tidur ayam, jadi bangun lagi, kamu? Enak banget tidurnya, be
Semester demi semester ku lalui di sekolah ini. Tempat sederhana yang begitu berharga, dengan segala kejadian, tangis, kenangan, tawa, dan dia. Hari ini pemngambilan rapor di tahun keduaku. Seperti sebelumnya, orangtuaku tidak dapat menghadiri acara pengambilan rapot karena jarak. Tante Anna satu-satunya pilihanku, meski hubungan kami tidak sebaik sebelum kejadian menyedihkan yang berlangsung beberapa Minggu sebelumnya, setidaknya di depan umum, kami "baik-baik saja." " Nilaimu turun, Jana. Tante pikir itu karena kamu belum bisa membagi waktu belajar, apalagi sekarang kamu kos," nada bicara Tante Anna sangat sarkastik. "Iya, Tante, di tahun berikutnya aku akan berusaha lebih baik lagi, mengatur waktu lebih baik lagi," aku berusaha untuk tetap menghormatinya sebagai adik ibuku, dan orang yang lebih tua tentunya. Kami berjalan melewati lorong menuju lapangan, tempat stand-stand berada, meninggalkan Ida dan Irine masih di lantai 4 menunggu oran
Aku tidak bisa tidur malam ini. Terus terjaga dalam lemari gelap dan sesak itu, ingin keluar, namun bayangan om Adi membuatku mengurungkan niat. Pukul 5 pagi, aku keluar dari lemari pakaian. Aku mandi, dan bergegas pergi ke sekolah. Aku tidak memiliki tempat tujuan selain sekolah sekarang. Masih terlalu awal, aku sampai di sekolah saat masi sangat sepi. Aku masuk ke dalam kelas, duduk di bangku pohon belakang, mencari tempat aman untuk menutupi kesedihan dan ketakutan ku. Kedua mataku kini telah membengkak karena semalaman menangis. Aku telungkup di meja, berusaha untuk tidak mengingat kejadian mengerikan itu, dan menahan tangis. Sepanjang pelajaran aku hanya menunduk, untungnya beberapa guru tidak masuk dan hanya meninggalkan tugas. Kriiing...kringgg. Bel istirahat berbunyi, anak-anak berhamburan ke kantin. Aku masih terduduk di bangku ku, memikirkan bagaimana langkah selanjutnya. "Wo
Siang ini matahari bersinar begitu terik, aku ingin segera pulang ke rumah, mandi dan istirahat. Aku menuju parkiran untuk mengambil sepedaku. Setelah itu, aku mengayuh sepedaku dengan laju untuk menghemat waktu mencapai rumah, karena aku suda lelah. "Cin-cot-ciiitttt." Ban sepedaku yang bagian depan berderit, bunyi derit itu memekakkan telingaku. Aku menepikan sepeda dan mengeceknya, ban depanku kempes. Sial! Aku menuntun sepedaku, mencari bengkel. Setelah berjalan selama 15 menit, aku menemukan bengkel. "Bang, tolong, ban sepeda saya kempes." Abang-abang yang daritadi sibuk otak-atik motor pun, beralih ke sepedaku. Aku mengecek uang di kantong seragam, hah? tersisa 5000. Aku menunggu 5 menit, si Abang memompa sepedaku. "Ini annti kalau kempes lagi, berarti ban sepeda kamu bocor ya." "Oke bang, terimakasih." Aku memberikan selembar uang lima ribu rupiah itu kepadanya. Habis duitku. Akupun me
Aku melemparkan diriku ke atas kasur, “hari yang sangat melelahkan,” batinku. Setelah melalui hari tanpa Adit, dan menyadari kenaifanku tak berani memasuki ruangan itu, meskipun aku tepat didepannya. Aku memejamkan mata, berusaha melupakan gema tawa yang terngiang di telingaku. Matahari bersinar begitu terik, walaupun begitu anak-anak Benedictus menikmati penampilan tari dalam acara open house SMK bergengsi ini. “Woaaaaa,” teriakan para buaya dan sepupunya, biawak pun ikut memanas mengiringi beat dance. “ Jan, turun ke ba