Elang berdiri tegak. Mata tajamnya menghunus ke depan, tanpa berkedip, menghantar sengatan dingin yang bisa membekukan. Bila tatapan itu mewujud, maka ia akan menjadi mata pisau yang akan mencabik-cabik apapun yang dilalui tatapan itu. Tangannya terangkat ke atas dan suara gemuruh terdengar segera setelahnya. Gelombang air raksasa tercipta di belakang Elang --pria tampan itu terlihat tenang, namun tidak dengan aura yang menguar dari tubuhnya. Getaran disertai tekanan luar biasa berat menerpa sekeliling. “Ka-kau… seorang Le-level satu?!” Suara seruan tercekik itu berasal dari seorang laki-laki paruh baya di hadapannya. Laki-laki itu tidak sendiri, ada sekitar tiga puluh lebih laki-laki lain, namun semuanya dalam kondisi mengenaskan dan terkapar di atas tanah yang terlihat bergenang. “Katakan padaku, dari mana dan di mana benda itu?!” Elang hanya membuka sedikit bibirnya, namun suara itu seakan menggelegar, mengguncang seluruh bukit tempat mereka berada. “Ti-tidak… Kami tidak tah
Malam itu Aliya sungguh-sungguh tidak bisa tidur. Jangankan untuk terlelap, bahkan memejamkan mata pun nyaris tidak bisa ia lakukan.Hatinya luar biasa gelisah, namun ia bingung untuk menjabarkan perasaan gelisah ini.Aliya turun dari ranjang besarnya.Ia menoleh ke ranjang yang telah dua minggu ini tanpa kehadiran Elang.Elang telah pergi lagi sejak terakhir kali ia pulang dari luar negeri. Dan dalam dua minggu ini, ia hanya tiga kali Aliya dihubungi oleh Elang, selebihnya, saat Aliya hendak menghubungi Elang, nomor ponsel Elang tidak aktif.Begitu pula tatkala ia hendak mencoba melakukan komunikasi jarak jauhnya dengan Elang, ia pun gagal.Tentu saja, itu karena Elang masih melakukan closure itu. Bahkan ketika terakhir kali, di penghujung bulan lalu dirinya meminta Elang untuk membuka closure, itu tidak terjadi.Justru mereka malah menghabiskan waktu dengan percintaan panas --dan bisa diterka, selanjutnya pembicaraan tentang closure itu pun terlupakan dan tidak lagi diungkit.Aliya k
“Katakan padaku, bagaimana Elang? Apakah sudah ditemukan cara untuk menyelamatkannya?” Aliya bertanya dengan suara yang bergetar. Dalam ruang tengah itu, duduk Nawidi, Dean, Agni dan ke empat teman-teman elemen lainnya. Kecuali Dean dan Nawidi, semuanya terdiam tanpa ada satupun yang berani mengeluarkan suara. Situasi terasa begitu tegang. Bagaimana tidak. Sudah hampir seminggu ini, Aliya menerima kabar dari Dean, bahwa Elang terhisap dan terjebak ke dalam sebuah lubang misterius yang muncul tiba-tiba. Aliya diberitahu Dean, bahwa Elang menghilang setelah menghadapi sekelompok elemen penganut atau sekte aliran sesat. Dean melakukan penelusuran dan penyelidikan, lalu mendapat informasi bahwa seluruh sekte itu telah habis setelah menghadapi seorang Elemen Air berlevel satu. Tidak mudah bagi Dean untuk mencari tahu keberadaan Elang, namun pula tidak sulit, saat Dean memiliki kekayaan yang melimpah untuk mengerahkan orang-orang mencari informasi mengenai keberadaan Elang. Dan denga
[Sis… can I phone you?] (Sis.. bisakah aku meneleponmu?) Aliya mengirimkan pesan teks melalui media WA kepada Diani. Dengan nama lengkap Windiani, ia adalah seorang rekan kerja saat Aliya masih bekerja sebagai pengajar di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris sebelumnya. Di awal pertemuan Aliya dengan Elang, Diani menjadi tempat curhat bagi Aliya. Hampir segalanya yang berkaitan dengan Elang, ia ceritakan pada Diani. Entah bagaimana asal muasalnya, dirinya dan Diani bisa menjadi sedekat itu. Yang Aliya ingat hanyalah, suatu kebetulan yang membuat posisi meja kerja Aliya, pindah ke samping Diani. Sejak itu pula, Aliya mulai berbagi cerita dengan Diani. Dan yang membuat Aliya lebih takjub lagi, Diani tidak pernah meragukan cerita dari Aliya. Semua keanehan tentang diri Aliya, hingga bahkan kisah tentang dunia elemen, dapat Diani terima dengan baik. Bahkan tanpa mempertanyakan kebenaran dari apa yang diceritakan oleh Aliya. Satu ketika Diani akhirnya bercerita pula pada Aliya, bahwa
Keringat dingin mengucur di seluruh tubuh Aliya. Sudah sekitar tiga jam ia duduk diam dan hanya mengatur keluar masuk napas dengan teratur, sesuai yang telah diarahkan oleh Dean pada dirinya. Ia tidak melakukan apapun selain itu, namun dari menit ke menit, ia merasakan rasa lelah yang mulai menyelimuti dirinya. namun teringat pesan yang sekian kali ditekankan oleh Dean, selama tujuh jam Aliya harus melakukan hal yang saat ini tengah ia lakukan dan mengabaikan beberapa hal yang mungkin akan ia rasakan, atau ia lihat. Demikian Dean memperingatkan dirinya. Dan godaan itu mulai datang, di menit ke empat puluh, saat ia memasuki jam ke empat. Kelebatan bayangan-bayangan dalam alam pikiran Aliya mulai menari di pelupuk matanya. Bayangan tentang Elang dan dirinya sejak awal pertemuan mereka. Kenangan manis itu masih bisa diabaikan oleh Aliya, namun tatkala bayangan kenangan pahit mulai menggantikan bayangan kenangan manis, Aliya mulai merasa terusik. Wajah mendiang Ridwan –sahabat sek
Aliya merasakan tubuhnya bergetar, keringat dingin itu sudah mengering dan tidak lagi bercucuran seperti sebelumnya. Suara alarm dari ponselnya berdering nyaring, namun lamat-lamat tertangkap oleh pendengaran Aliya. Tubuhnya sangat lelah, ia menarik napas dalam dan mengembus sangat perlahan demikian pula dengan kedua kelopak matanya. Tujuh jam telah berlalu. Aliya sungguh merasakan seluruh tubuhnya begitu kelelahan, hampir tidak bertenaga lagi, hingga ia terjatuh ke belakang dengan napas agak tersengal. Melakukan posisi duduk bersila, tidak pernah berhasil ia lakukan lebih dari satu jam. Namun, hari ini ia baru saja melakukan duduk bersila dengan kaki melipat di atas paha, selama tujuh jam! Konsentrasi dan melakukan fokus pikiran, benar-benar di luar pemikiran Aliya selama ini-- terasa seperti tubuh telah mengalami benturan kecelakaan. Ringsek, lemas, nyeri seluruh sendi-- dan entah apa lagi kata yang bisa menggambarkan dengan tepat kondisi tubuh yang saat ini ia rasakan. Bagaim
Suara gemuruh angin terdengar. Dedaunan dan kerikil di area sekitar beterbangan dan berputar, terbawa arus pusaran angin. Getaran di tanah terasa kian membesar, nyaris membuat retakan panjang yang bisa meruntuhkan segala sesuatu yang berdiri di atas tanah. Namun area tempat Dean, Agni dan Terry berdiri, tetap utuh. “Om!” Agni berseru lantang ketika kepalanya mendongak ke atas dan melihat titik hitam yang kian membesar. Setelah sebelumnya Terry mengikuti petunjuk Dean dan mengerahkan kemampuannya yang tertutup selama ini dan bahkan tidak Terry sendiri sadari, yakni menemukan di mana titik Lubang Hitam aneh itu akan muncul. “Sir!” Kali ini Terry berseru, saat melihat Lubang hitam itu kian membesar disertai suara gemuruh dan juga angin yang bertiup kencang di sekeliling mereka. “Agni.” Pemuda Api itu segera mendekati Dean dan berdiri tepat di samping kiri Dean. “Kau siap?” Agni mengangguk. “Siap Om.” “Saya akan masuk sekarang,” ucap Dean pada Agni lalu menepuk pundak Agni, me
"Apa yang terjadi?!" Agni berseru panik. Kedua matanya terpatri pada Lubang Hitam yang sedetik lalu mengeluarkan bunyi ledakan nyaring. Terry tidak kalah panik. "We must take them out!!" (Kita harus mengeluarkan mereka!!) "Gue tau!! Tapi gimana caranya! Om minta gue standby di sini untuk leading mereka keluar!" Terry terdiam. Dadanya berdebar, sama dengan Agni, kedua matanya juga tak kunjung lepas dari Lubang Hitam itu. Ia panik dan ingin masuk untuk membantu Dean keluar dari sana. Namun bagaimana caranya? Dan Agni benar, ia pun mendengar dan mengetahui dengan jelas, bahwa Agni bertugas diam di bawah sini, untuk menjadi mercusuar bagi Dean saat akan keluar dari Lubang Hitam itu. Terry bisa saja melempar Agni masuk ke Lubang Hitam yang masih membuka itu, dan kemudian membuat dirinya sendiri juga masuk ke sana. Karena dia seorang elemen Angin. Tapi jika mereka semua berada di dalam dan tersesat di sana, bagaimana mereka akan keluar? Bukankah dirinya dan juga Agni hanya akan m