Home / Romansa / Ranjang Panas Sang Arjuna / Bab 37 Melahirkan bayi Laki-laki

Share

Bab 37 Melahirkan bayi Laki-laki

Author: Handira Rezza
last update Last Updated: 2025-03-13 17:49:03

Terlihat ada darah mengalir di sela kaki Nadia, wanita cantik itu segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

"Keluarga tolong tunggu di luar saja," ucap salah satu suster yang menghalangi masuk Ibu Sonia.

"Aku adalah ibunya. kenapa aku tidak boleh masuk?" ucap Ibu Sonia yang tidak bisa berpikir jernih kala itu.

"Ini prosedur rumah sakit, Bu. Silahkan tunggu saja di ruang tunggu," balas asisten dengan lembut.

Ibu Sonia segera duduk di kursi tunggu. Tapi pikirannya tidak tenang melihat Nadia mengeluarkan banyak darah seperti itu. Di dalam pikirannya Nadia kecapekan bekerja.

Nadia terlalu bersemangat ingin mendirikan brand sendiri tanpa memikirkan tubuhnya yang berbadan dua.

"Ya Tuhan selamatkan anakku," ucap Ibu Sonia sembari mengangkat tangannya berdoa.

Nadia sangat lama di dalam IGD menjadikan Ibu Sonia tidak bisa duduk diam di kursi. Sesekali ia berdiri dan mondar mandir di depan IGD.

"Nadia, Ibu tidak akan memaafkan diri sendiri kal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 38 Enam Tahun Kemudian

    Nadia menyeringai tipis, "Dengan cara memberikan mereka menderita," jawab Nadia. "Saat ini juga mereka sudah menderita, uang yang dj pakai foya foya susah tidak ada," balas Ibu Sonia. Nadia tersenyum sinis, lalu dia menggandeng tangan Ibu Sonia untuk segera menuju mobil pulang ke rumah. Nadia sudah kangen dengan putra tercintanya. "Di bawah kekuasaan Arjuna. Mereka tidak mungkin bisa berkutik, tidak bisa leha-leha menikmati kerja keras orang lain lagi," ucap Nadia "Jadi kamu akan membalas mereka dengan cara apa sebenarnya. Ibu masih belum paham?" tanya Ibu Sonia. "Membiarkan mereka di tindas oleh Arjuna. Lalu aku yakin rumor yang tersebar tempo hari tentang skandal Arjuna dan putri dari pengusaha yang bangkrut, pasti Meraka akan mencari cara agar bisa diganti dengan Karina," jawab Nadia. Ibu Sonia seperti sudah paham apa maksud Nadia, "Yah Meraka akan mempermalukan diri sendiri dengan mengganti peran siapa yang melakukan skandal dengan Arjuna de

    Last Updated : 2025-03-14
  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 39 Paman, Maukah jadi Ayahku?

    Anak itu merengek meminta sosok yang baru ditemuinya itu untuk menjadi Ayahnya. "Apa paman tidak mau jadi Ayahku?" tanya Anak itu.Pria itu menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa, Paman saja belum menikah, sekarang begini saja, dimana orang tuamu. Paman akan mengantar kamu ke orang tuamu," ucap Pria itu.Anak itu terlihat sumringah karena bisa mempertemukan Ibunya dan Laman tampan yang baru saja dia temui. Tapi Asisten dari Pria itu mengingatkan bahwa ada yang pekerjaan penting yang tidak bisa di tinggalkan."Biar saya saja yang mengantar anak ini ke resepsionis. Biar diumumkan kalau ada anak hilang," ucap Yoga."Maaf Nak. Ada hal penting yang harus aku lakukan. Jadi biar asistenku saja yang mengantarmu ke orang tuamu," jawab Arjuna sembari mengelus rambut anak itu. Ada perasaan yang menyatu dengan tatapan anak itu. Arjuna semakin penasaran kenapa bisa ada perasaan yang aneh saat bertatap muka dengan bocah kecil yang baru saja di jumpainya itu. "Yah saya

    Last Updated : 2025-03-14
  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 40 Apa dia Pantas menjadi istriku?

    Saat Arjuna penasaran dengan sosok anak yang pertama kali dijumpainya tadi. Perasaan tak karuan dihatinya menjadi-jadi. "Apa mungkin Nadia hamil setelah malam itu?" ucap Arjuna dengan suara lantang. "Itu tidak mungkin, Tuan. Kalau dia hamil anak Tuan Arjuna bisa saja Nadia langsung meminta pertanggungjawaban, siapa yang tidak mau melahirkan anak dari Tuan Arjuna," ucap Yoga. Arjuna diam sejenak, apa yang dikatakan oleh Yoga ada benarnya juga. Maan mungkin Nadia akan diam saja ketika mengandung anaknya. Anak seorang pria yang kaya nan berpengaruh di kota ini. Uang yang diberikan Nyonya Rana kala itu juga tidak akan cukup untuk membiayai hidup anak yang dilahirkan Nadia. "Aku masih penasaran," gumam Arjuna dalam hati. Arjuna sudah sampai rumah dia langsung istirahat masuk kamarnya. Sedangkan Yoga memilih untuk menghubungi Nyonya Rana dan memberitahukan bahwa dia melihat Nadia di hotel yang sama dengan pertemuan yang dihadiri oleh Arjuna hari ini. "A

    Last Updated : 2025-03-15
  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 41 Paman Kenal Ibuku?

    Nyonya Rana langsung berteriak kencang tentang pertanyaan Arjuna yang sudah jelas jawabannya apa. "Dia pantas jadi istrimu, dia sama-sama dari keluarga berjaya seperti kita. Tidak seperti Nadia yang berasal dari keluarga berantakan," ucap Nyonya Rana. Arjuna merasa kesal mendengar hal yang dikatakan oleh Ibunya. Dia mengepalkan tangannya erat, melotot siap menerkam siapa yang membuatnya tidak senang. "Keluar!" tegar Arjuna sambil menunjukan pintu kamarnya. "Ar-juna, aku ini ibumu bukan anak buahmu, kamu jangan semena-mena kepada ibumu sendiri, ingat saja kamu hanya boleh menikah dengan Lisa," balas Nyonya Rana. "Aku tidak mau, silahkan saja coret dari keluarga keluarga atau ahli waris," balas Arjuna. "Apa kamu mau ibu gila, Arjuna?" bentak Nyonya Rana. "Ibu akan mengurungmu di sini sampai kamu berubah pikiran!" tegas Ibu Rana "Aku sama sekali tidak takut dengan ancaman Ibu," imbuh Arjuna. Nyonya Rana menghentakkan kakinya lalu pergi da

    Last Updated : 2025-03-15
  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 42 Kamu harus tahu aku mencintaimu Nadia

    Tubuh Nadia gemetar melihat sosok pria tampan itu. Reflek dia langsung menyembunyikan sang Putra di balik tubuhnya agar Arjuna tidak memperhatikan wajah putranya. "Ka-mu?" ucap Nadia lirih "Ternyata dia putramu," ucap Arjuna sembari menghela nafas. "Lama tidak berjumpa, Nadia. Kamu jadi semakin cantik," lanjut Arjuna. Nadia masih diam seribu bahasa tidak tahu harus berkata apa. Sedangkan Bima putranya dia tersenyum ke arah Arjuna. Anak kecil itu kini berhadapan dengan Arjuna, walau Nadia berusaha untuk menyembunyikannya. "Paman, ibuku cantik 'kan?" ucap Bima. "Ah paman, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku kemarin?" imbuh Bima. "Hah, kemarin?" ucap Nadia lirih, kalau ada pertanyaan seperti itu berarti Bima dan Arjuna sudah bertemu sebelumnya. "Iya, Bu. Aku bertemu paman ini dan bertanya apakah dia mau jadi Ayahku," balas Bima. Wajah Nadia memerah, dia jadi salah tingkah mendengar ucapan sang putra. Sedangkan Arjuna malah sebaliknya di

    Last Updated : 2025-03-16
  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 42 Berbicaralah sepatah kata

    Nadia melirik bunga yang dibawa Arjuna, bunga dari dekorasi yang dia ambil untuk diberikan kepada Nadia. "Tidak modal sekali," gerutu Nadia lalu dia turun dari panggung dan menerima bunga pemberian Arjuna. "Terima kasih, Tuan," ucap Nadia sambil tersenyum untuk menghargai Arjuna di depan banyak orang. "aku sungguh terkejut saat kamu muncul sebagai pemilik perusahaan yang sedang berkembang ini, sekali lagi aku ucapkan selamat," ucap Arjuna. Nadia membungkuk sedikit tanda menghormati Arjuna. Lalu Pak Abraham yang mengetahui bahwa itu adalah Nadia pemilik perusahaan tas yang sedang banyak penggemar itu membuatnya lupa daratan. Dia sesumbar dan sombong kepada para tamu. "Anakku memang luar biasa," ucap Pak Abraham lalu tersenyum lebar. "Bukan saatnya untuk membanggakan Nadia," bisik Lentina. "Diam kamu!" seru Pak Abraham. "Kenapa aku tidak boleh membanggakan putriku sendiri? Lihatlah putrimu yang tidak berguna itu, membuatku rugi saja!" lanjut Pak Abr

    Last Updated : 2025-03-16
  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 43 Pembalasan

    Langit menatap sejenak Karina, lalu melihat ke arah Nadia yang menurutnya berkharisma sekali. Wajahnya tampak semakin segar, cantik dan mempesona di mata Langit."Selamat Nadia, atas berdirinya sebuah bisnis yang sudah kamu impikan sejak lama," ucap Langit sembari mendekat ke Nadia."Terima kasih sudah hadir dan menyaksikan terwujudnya impianku," balas Nadia mendatar saja.Karina terlihat cemburu, pasalnya dia Ingin Langit membelanya dan ikut memojokkan Nadia. Tapi justru sebaliknya, dia malah memberikan selamat sekaligus bernostalgia masa lalu."Kalau boleh, bisakah luangkan waktu untuk mengobrol denganku?" tanya Langit."Tidak bisa, banyak yang ingin mengobrol denganku," jawab Nadia lalu menunjuk ke sebuah arah yang memang beberapa orang sedang menunggu Nadia."Ah, kalau begitu bisakah di luar launching produk ini kita bisa bertemu untuk mengobrol masalah bisnis," ucap Langit.Nadia menggelengkan kepalanya, dia sangat tidak setuju dengan permintaan Lang

    Last Updated : 2025-03-17
  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 44 Ranjang Pengantin.

    Di dalam ruangan gelap Nadia dibawa orang itu, lalu perlahan. mencumbunya dari belakang "Hentikan!" teriak Nadia. "Tidak, aku sudah menunggu lama untuk hari ini," bisik lembut suara itu. Jantung Nadia berdetak lebih cepat, tubuhnya merinding mendengar suara lembur itu. Suara parau agak berat khas milik Arjuna. "Arjuna, kamu tidak boleh melakukan ini, aku mohon. Kamu akan menikah 'kan?" tanya Nadia lirih. "Aku tidak akan menikah dengan wanita lain selain kamu," jawab Nadia. "Berita pernikahanmu dengan Lisa sudah tersebar di semua kalangan. Bahkan banyak berita gosip menayangkan itu. Jangan konyol melakukan ini padaku," bala Nadia. Arjuna membalikkan posisi tubuh Nadia, sehingga menghadap ke arahnya lalu mencecap lembut. Awalnya Nadia memberontak ingin melepaskan ciuman itu. Tapi entah mengapa tubuhnya tidak bisa menolak. "Apakah boleh aku seperti ini?" gumam Nadia dalam hati. "Aku merasa nyaman dengan perilaku Arjuna. Apa

    Last Updated : 2025-03-17

Latest chapter

  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 80 Ada Sesuatu yang ingin aku katakan

    Pak Anwar menatap wajah polos itu. Mulutnya sudah gatal ingin menunjukkan siapa dia sebenarnya. Tapi dia meminta persetujuan Arjuna dulu. "Bima, Ayah akan menunjukkan sesuatu padamu," ucap Arjuna."Jawab dulu pertanyaanku tadi," ucap Bima. "Ayah tahu selama di desa aku selalu diejek tidak punya Ayah, anak haram, anak liar seperti yang dikatakan oleh nenek sihir tadi. Aku tidak menangis karena sudah biasa," imbuh Bima.Anak sekecil itu menceritakan sakit hatinya. Bagaimana dia dipandang setengah mata oleh orang-orang hanya karena terlahir tanpa Ayah. Walau di desa tempat ia tinggal sebagian besar adalah milik neneknya. Saat bermain di lapangan atau bersama teman-teman pasti dia mendengar orang dewasa menceritakan hal itu. Apalagi anak-anak mereka akan mengejek kalau tidak ada neneknya."Maafkan Ayah yang terlambat menemukanmu," ucap Arjuna lalu memeluk Bima. Hatinya teriris mendengar cerita Bima. "Terlambat?" tanya Bima. "Memangnya Ayah benar Ayah kandungku?" imbuh Bima dengan wajah

  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 79 Aku bukan cucu kandungmu. Kenapa baik padaku?

    Arjuna agak geram mendengar ucapan itu. Pak Anwar juga sangat terkejut dengan pertanyaan istrinya. Bisa-bisanya dia mengatakan hal yang tak patut seperti itu di depan anak kecil. "Rana!" bentak Pak Anwar. "Kakek, aku sudah biasa mendapatkan penghinaan seperti ini," ucap Bima. "Berarti memang kamu anak liar sungguhan yang dipungut Arjuna entah dari mana," balas Nyonya Rana tersenyum. Brak! Pak Anwar menggebrak mejanya lalu berkata, "Ternyata kamu tidak instrospeksi diri di dalam penjara yang pengap itu. Aku akan menambah hukuman untukmu," Wajah Nyonya Rana tampak pucat tapi baginya sebelum mengolok anak yang dibawa Arjuna pulang ke rumahnya adalah sebuah penyesalan. Walau dia harus dihukum oleh suaminya. Dia sangat lega jika sudah melontarkan kalimat menohok untuk Bima. "Aku tidak salah, memangnya anak itu siapa aku harus bersikap baik padanya. Bahkan dia sendiri mengakui bahwa dia sudah biasa disepelekan," ucap Nyonya Rana. "Dia anakku, dan aku tidak akan tinggal diam j

  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 78 Anak liar darimana dia?

    Nadia mengangguk pelan, mau tidak mau menang dia harus menikah dengan Arjuna. Semua demi Bima, dia harus mengalah. "Aku serius, asalkan Bima bahagia. Maka akan aku tanggung kepedihan hidup demi anakku," balas Nadia"Kamu juga berhak bahagia sayangku, tidak demi siapapun. Bahagialah demi dirimu sendiri," sahut Bu Sonia.Nadia mengangguk pelan, dia juga ingin bahagia demi dirinya sendiri. Tapi sekarang ada anak yang harus dia bahagiakan."Aku mengerti, Bu. Kelak aku akan bahagia demi diriku sendiri," balas Nadia."Harus, sekarang istirahat dulu saja. Besok kita akan hadapi Rana bersama-sama. Jika dia berani menyakiti Bima," kata Bu Sonia bersemangat sambil mengepalkan tangannya."Ibu benar juga, jika benar wanita jahat itu menyakiti anakku. Aku akan membalasnya," ucap Nadia sambil tersenyum.Di hati Nadia masih tersimpan dendam. Pasalnya Nyonya Rana sangat jahat padanya dimasa lalu, rasa sakit itu tidak akan pernah pudar walau sudah enam tahun lamanya.

  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 77 Apa kamu serius akan menikah dengan Arjuna?

    Nadia menoleh ke arah Bima lalu dia memeluk anak semata wayang yang dia cintai. "Menikah dengan Paman Arjuna seperti kemauanmu. Ibu akan menunggu waktu yang tepat," jawab Nadia. "Aku suka Paman Arjuna," ucap Bima. "Asalkan Bima bahagia, ibu juga bahagia," balas Nadia sambil tersenyum. Ibu dan Anak itu berpelukan dengan erat. Ada kepuasan tersendiri di hati Bima saat dia tahu bakal memiliki seorang Ayah yang sah. Melihat anak dan cucunya bahagia membuat hatinya lega. Mungkin kesengsaraan Meraka selama enam tahun ini akan berakhir. "Bima, semoga kehidupanmu setelah ini akan bahagia," ucap Bu Sonia. "Amin," balas Bima bersemangat, dia lalu bergantian memeluk Bu Sonia. Nenek yang sangat Bima sayangi karena semenjak lahir Bu Sonia mengasuhnya bergantian dengan Nadia. Walau ada pengasuh tidak semua di urus pengasuh dua puluh empat jam. "Sudah malam, tidurlah. Besok bukankah kamu mau berkunjung ke rumah Kakek Anwar?" tanya Bu Sonia.

  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 76 Apa Ibu Akan menikah dengan Paman Arjuna?

    Pak Abraham menghentikan langkahnya dia menatap sosok cantik paripurna walau usianya sudah tak lagi muda. Siapa dia kalau bukan Ibu Sonia. Mantan mertuanya juga selangkah lebih maju menjilat Ibu Sonia agar bermurah hati pada Meraka. "Sonia, kamu semakin cantik saja. Ah, apa kabar Sonia. Kita sudah lama tidak bertemu, ya," ucap Neneknya Nadia. "Aku memang cantik dari dulu. Tapi bukankah Ibu sibuk dengan menantu baru dambaan Ibu yang menurut sama mertua itu. Tidak seperti diriku yang pembangkang. Jadi tidak usah basa basi," balas Ibu Sonia. "Lancang sekali kamu, punya anak lonte saja belagu," balas mantan adik iparnya. Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Adiknya Pak Abraham. "Jangan hina anakku," ucap Pak Abraham. "Ka-kak kenapa kamu tega menamparku?" tanya Adiknya. "Kamu lancang, kamu bisa membuat Sonia tidak suka dan marah," jawab Pak Abraham. Ibu Sonia menertawakan Pak Abraham yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Entah apa yang se

  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 75 Jual saja Adik Ayah, itu juga kalau laku.

    Apk Abraham menggertakkan giginya, dia sangat tersinggung. Walau itu kenyataannya Nadia yang merupakan anaknya tidak boleh berkata seperti itu."Jaga mulutmu, Nadia. Mana mungkin Ayah menipu wanita yang Ayah cintai sendiri," ucap Pak Abraham."Ibumu tidak memiliki apapun saat menikah dengan Ayahmu. Dia hanya pekerja Ayahmu saja," balas Bibinya Nadia."Kalau memang begitu kenyataannya. Kenapa perusahaan bangkrut Ayah tidak mampu mengembalikan seperti semula?" tanya Nadia."Kamu pikir mendirikan perusahaan gampang hah?!" bentak Pak Abraham."Asal ada modal semuanya gampang, lihat gedung ini. Ibu yang membjayaiku. Ayah saja yang bodoh lebih memilih ani-ani yang hanya bisa menghabiskan uang daripada Ibuku yang kaya raya," ucap Nadia dengan angkuh.Menurut Nadia memangnya yang bisa angkuh hanya keluarga Ayahnya saja yang parasit itu. Saat ini Nadia juga bisa bersikap angkuh bahkan lebih menyakitkan saat menghina keluarga Ayahnya. Biarkan saja seperti itu mereka ya

  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 74 Ayah, sekarang tahu rasanya dicampakkan?

    Orang yang mengawasi Nadia dan Arjuna masih berada di tempat. Dia heran melihat kebahagiaan dua sejoli itu. Menurutnya seseorang kalau banyak harta harus ingat dengan keluarganya. "Ini tidak bisa dibiarkan. Dia kaya sekarang ditambah menjadi kekasih Arjuna. Aku dengar mereka juga akan menikah. Pasti hidupnya akan semakin berlimang harta," gumam Pak Abraham.Menurutnya seorang anak harus berbakti pada keluarganya. Bukan asyik senang-senang sendiri menikmati harta sendiri atau suaminya. "Aku harus menemui, Nadia bagaimanapun caranya," ucap Pak Abraham.Pria paruh baya itu membuntuti Nadia kemana dia pergi. Hingga tibalah di sebuah gedung tempat Nadia bekerja. Sayangnya saat Pak Abraham ingin masuk ke gedung itu di cegah oleh satpam karena tidak mempunyai identitas masuk ke gedung itu."Bedebah sialan! Apa kalian tahu siapa aku?" bentak Pak Abraham."Kami tidak tahu siapa Anda. Makanya kami tidak memperbolehkan Anda masuk," jawab Satpam."Aku adalah Ayah N

  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 73 Nadia, kamu tidak boleh bahagia sendirian

    Nadia menghembuskan nafasnya kasar. Demi bisa mengusir Langit dari hadapannya dia rela menggunakan nama Arjuna sebagai tameng. "Tentu saja karena aku mau memberikan keluarga yang utuh demi anakku," balas Nadia. "Lebih baik kamu segera pergi dan jangan ganggu Nadia lagi sebelum aku kehilangan kesabaran," ucap Arjuna sembari meregangkan jemarinya."Pokoknya sebelum janur melengkung aku akan terus berusaha," balas Langit lalu berdiri dan pergi dari hadapan mereka berdua.Arjuna ingin meninju Langit karena kurang ajar terhadap Nadia. Dia lancang dan seenaknya bersikap. Kesabaran orang ada batasnya apalagi dia berucap di depan Arjuna, seorang lelaki yang akan menjadi suaminya kelak.*Arjuna, jangan bertindak gegabah. Disini banyak mata melihat aku takut akan jadi bahan gosip lagi kalau kamu emosi hanya karena orang tidak penting itu," cegah Nadia."Kamu benar, tapi aku tidak suka dengannya," balas Arjuna."Tahan emosimu, Arjuna. Jangan beri contoh yang tid

  • Ranjang Panas Sang Arjuna   Bab 72 Aku dan Arjuna akan menikah

    Langit ingin segera menyiakan apa yang ditanyakan oleh Arjuna. Masalahnya Nadia akan menghindarinya jika langsung mengakui perasaannya. Tapi kalau kelamaan dipendam Nadia akan lebih dalam mempunyai perasaan dengan Arjuna. Maka dengan nekat Langit mengatakan, "Sebelum janur kuning melengkung, bukankah sebuah hubungan itu belum dikatakan sah. Soal perasan semua orang bisa berubah apalagi belum ada pernikahan yang sah," "Memangnya siapa juga yang mau menjalin hubungan denganmu sampai ke jenjang pernikahan kalau bukan Karina seorang," jawab Nadia. Kalimat itu menusuk hari Langit, Nadia mana mungkin mengatakan itu. Padahal dahulu Nadia sangat mencintai Langit dan menjadikannya tempat bersandar. "Kamu juga dulu ingin menikah denganku, Nadia," ucap Langit. 'Itu dulu, sebelum kamu menjebakku karena sudah berhubungan dengan Karina," balas Nadia. "Sejak saat itu rasa cintaku sudah hilang," lanjut Nadia. Bagaikan tertampar dengan kerasnya. Begitulah rasa sakit y

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status