Di dalam ruangan gelap Nadia dibawa orang itu, lalu perlahan. mencumbunya dari belakang
"Hentikan!" teriak Nadia. "Tidak, aku sudah menunggu lama untuk hari ini," bisik lembut suara itu. Jantung Nadia berdetak lebih cepat, tubuhnya merinding mendengar suara lembur itu. Suara parau agak berat khas milik Arjuna. "Arjuna, kamu tidak boleh melakukan ini, aku mohon. Kamu akan menikah 'kan?" tanya Nadia lirih. "Aku tidak akan menikah dengan wanita lain selain kamu," jawab Nadia. "Berita pernikahanmu dengan Lisa sudah tersebar di semua kalangan. Bahkan banyak berita gosip menayangkan itu. Jangan konyol melakukan ini padaku," bala Nadia. Arjuna membalikkan posisi tubuh Nadia, sehingga menghadap ke arahnya lalu mencecap lembut. Awalnya Nadia memberontak ingin melepaskan ciuman itu. Tapi entah mengapa tubuhnya tidak bisa menolak. "Apakah boleh aku seperti ini?" gumam Nadia dalam hati. "Aku merasa nyaman dengan perilaku Arjuna. ApaHanya memberi waktu saja itu adalah hal yang mudah untuk Arjuna. Menunggu saja selama enam tahun dia jabanin apalagi hanya memberinya waktu untuk berpikir. "Jangan lama-lama nanti aku diambil orang," goda Arjuna lalu mencecap bibir Nadia. "Justru aku butuh waktu lama untuk melihat keseriusanmu," ucap Nadia. "Aku akan buktikan tidak dengan waktu yang lama," balas Arjuna. "Satu lagi Arjuna!" tegas Nadia. "Katakan saja," balas Arjuna. "Aku ingin mendapatkan restu dari kedua orang tuamu. Keluargamu, mama sebaliknya juga," pinta Nadia. Nadia hanya ingin hubungan cinta dengan Arjuna mengalah restu dari kedua belah pihak. Tidak ingin dia menjalin hubungan tanpa restu dan dukungan dari keluarga. "Aku akan usahakan itu," ucap Arjuna. "Berjanjilah, atau kita tidak akan pernah bisa menyatu," balas Nadia. "Jangan khawatir kalau kita berjodoh maka semua akan terlewati," ucap Arjuna sambil menggenggam kedua tangan Nadia lalu menciumnya
Arjuna menatap sinis ke arah Lisa. Wanita dengan gaya hidup bebas sepeti Lisa tidak pantas menjadi pasangan hidupnya. Walaupun dia putri dari keluarga kaya sekalipun. Kepribadian sepeti itu tidak akan bisa menggoyahkan hatinya. Saat ini dia masih mendapatkan tunjangan dari orang tua. Nanti kalau orang tuanya sudah jompo atau tiada, Arjuna tidak yakin bahwa Lisa bisa hidup dengan kayak sama persis ketika orang tuanya masih ada. ""Kamu tidak layak menjadi istriku. Aku tidak lagi ingin berurusan denganmu, pergilah!" tegas Arjuna. "Arjuna!" seru Lisa sambil mengepalkan tangan. "Kita sudah tidak ada urusan, jadi aku harap kamu tidak menggangguku lagi," ucap Arjuna. "Kamu akan menyesal, Arjuna. Karena tidak mau menikah denganku," balas Lisa. Arjuna hanya menatap Wanita yang dia anggap gila itu. Lalu dia masuk ke mobilnya langsung pergi meninggalkan Lisa yang kesal karena di tolak cintanya oleh Arjuna. "Huft, wanita rendahan yang dibalut putri dar
Nadia tersenyum saja, ya sangat wajar kalau Bima sangat takjub dengan bangunan yang ada di depannya saat ini. Pasalnya di desa tidak ada sekolah yang bangunannya semegah ini. "Ini adalah sekolah Ibu dulu, ayo masuk," ajak Nadia. "Hah, sekolah TK saja sebesar Ini?'" tanya Bima. "Tak hanya TK saja di balik bangunan ini. Tapi ada SD hingga SMA," ucap Nadia. wanita cantik itu menggandeng sang putra menuju dalam sekolah dan berkeliling sebelum masuk ke ruang kepala sekolah untuk berdiskusi tentang sekolah yang akan dilakukan oleh Bima. "Luas sekali," ucap Bima sambil matanya melihat sekeliling. "Iya karena ini sekolah taraf internasional," jawab Nadia. Bima hanya mengangguk saja. Walau dia takjub dengan apa yang dilihatnya tapi dia tidak mau menunjukkan kepada khayalak ramai kalau memang dia berasal dari desa. Menurut bocah itu akan memalukan jika ada orang yang tahu dia berasal dari desa. "Bu, tolong ceritakan padaku, bagaimana cara orang
Nadia melihat siapa yang mendekat untuk menegurnya. Yang dia lihat dari ujung kaki sampai ujung kepala adalah manusia tidak penting untuk hidupnya. "Oh ternyata kamu," ucap Nadia lalu berpaling karena tidak mau membuat keributan. Namun saat hendak membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri wanita itu menghalau tangannya sehingga Nadia mengurungkan niat untuk masuk dalam mobil. "Ada apa lagi?" tanya Nadia sinis. "Beraninya kamu mengabaikan aku, memangnya kamu sudah merasa hebat, hah!" jawab Lisa sambil matanya mendelik. "Lalu siapa kamu merasa tidak berhak diabaikan?" balas Nadia santai saja. Nadia merasa tidak ada yang perlu dibahas tapi sepertinya urusan akan panjang kalau meladeni wanita gila di depannya ini. "Tentu saja aku adalah Lisa, orang yang statusnya lebih tinggi daripada kamu. Begitu saja kamu tidak paham," ucap Lisa. "Atas dasar apa statusmu lebih tinggi dariku? Aku sudah punya perusahaan sendiri diusia sekarang. Sedangkan kamu buat Hed
Pelayan itu tampak ngos-ngosan masuk ruang tamu rumah Nadia. Bagaimana tidak, dia langsung lari menghampiri Nadia begitu melihat berita skandal di internet. "Lihat ini," ucap Pelayan itu. "Apaan sih," balas Nadia lalu mengambil ponsel pelayan itu. Mata Nadia melotot melihat layar ponsel itu. Pelayan Nadia tampak kebingungan melihat Nadia bersikap biasa saja. Bukannya berita ini bisa mencoreng nama baiknya. "Nadia apa kamu baik-baik saja. Apa aku perlu melapor kepada Nyonya?" tanya Pelayan kepercayaan Ibu Sonia yang ikut pindah ke ibu kota. "Tidak usah, aku baik-baik saja. Aku bisa mengatasi rumor seperti ini, murahan sekali," jawab Nadia agak jengkel. Pelayan itu mengangguk kalau sudah seperti ini biasanya Nadia sudah bertemu dengan musuhnya. "Aku akan mendukungmu apapun yang akan kamu lakukan nanti," ucap Pelayan. "Terima kasih," jawab Nadia sembari tersenyum. Berita yang mengatakan bahwa Nadia mempunyai anak di luar nikah t
Nadia mengangguk, hari ini ditemani oleh Ibu Sonia dia mendatangi kantor polisi untuk membuat laporan tentang pencemaran nama baik, ujaran kebencian, penghinaan melalui media elektronik. "Saya sudah capture beberapa akun yang mencemarkan nama baik saya," ucap Nadia di depan para wartawan. "Anak saya bukan anak haram. Apa hak mereka melabeli anak saya dengan sebutan anak haram?" tanya Nadia dengan tegas. Banyak pernyataan yang dilontarkan oleh Nadia terkait masalah yang menimpanya. Diam bukan berarti takut tapi menunggu waktu yang tepat untuk membalas perbuatan tercela itu. Melihat Nadia sudah bersuara membuat beberapa orang panas dingin karena harus berurusan dengan pihak berwajib. "Hah, dia berlagak sekali. Aku jadi penasaran gadun mana yang memeliharanya," ucap Lisa sambil menikmati teh hangat di ruang tamunya. "Masih bisa kamu menikmati teh dengan santai seperti ini, ya," ucap Ayah Lisa sembari memperlihatkan wajah garang. Di tangannya ada cambuk
Lisa kalang kabut tapi dia harus menghadapi kenyataan bahwa di rumah sudah datang petugas keamanan. "Ayah bagaimana ini?" tanya Lisa. "Hadapi saja," jawab Ayah Lisa. Walau ada drama berpikir ingin kabur, akhirnya Lisa tunduk digiring ke kantor polisi. Dia dimintai keterangan karena menyebar kebencian berita tidak benar di sosial media. Tak hanya Lisa, Karina juga Ibu Lentina juga kena ciduk. Mereka melawan petugas tapi karena bukti kuat mereka juga di giring ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. "Apa yang kalian lakukan. Aku mengungkap fakta tapi kalian malah membuatku seolah adalah penjahat," ucap Karina. "Lepaskan kami, karena tidak bersalah. Seharunya yang kalian tangkap itu Nadia karena dia menjual diri demi hidup mewah. Lagipula anaknya itu pasti hasil dari tidur rame-rame dengan banyak lelaki," ucap Lentina panjang lebar. Sepanjang perjalanan ke kantor polisi ibu dan anak itu berteriak minta dilepaskan. Mereka sibuk mengumpat d
Nyonya Rana merasa Arjuna hanya berbohong, mana ada orang yang berani naik ranjang pria adalah gadis perawan. "Untuk apa bohong," jawab Arjuna. "Jaman sekarang serba canggih, Ibu takut kalau itu rekayasa saja," ucap Nyonya Rana. Arjuna menggelengkan kepalanya, rekayasa dan alami itu beda. Walaupun Arjuna juga pertama kali merasakan itu. Mungkin rasanya akan beda kalau itu adalah sebuah operasi untuk terlihat masih perawan. "Ibu terlalu banyak memakan berita gosip murahan," ucap Arjuna. "Bukan gosip, banyak kok para gadis keluarga kaya yang melarikan itu agar suaminya tidak kecewa saat malam pertama," balas Nyonya Rana. "Jadi para gadis keluarga kaya itu pergaulan bebas dan Ibu memakluminya, aku sih takut terkena penyakit," ucap Arjuna.Bukan itu maksud Nyonya Rana, tapi dia meyakini bahwa Nadia melakukan trik jahat itu untuk menjerat Arjuna. Sehingga Arjuna terpikat oleh pesona Nadia yang masih perawan."Arjuna pokoknya Ibu mau kemu menyelam
Pak Anwar menatap wajah polos itu. Mulutnya sudah gatal ingin menunjukkan siapa dia sebenarnya. Tapi dia meminta persetujuan Arjuna dulu. "Bima, Ayah akan menunjukkan sesuatu padamu," ucap Arjuna."Jawab dulu pertanyaanku tadi," ucap Bima. "Ayah tahu selama di desa aku selalu diejek tidak punya Ayah, anak haram, anak liar seperti yang dikatakan oleh nenek sihir tadi. Aku tidak menangis karena sudah biasa," imbuh Bima.Anak sekecil itu menceritakan sakit hatinya. Bagaimana dia dipandang setengah mata oleh orang-orang hanya karena terlahir tanpa Ayah. Walau di desa tempat ia tinggal sebagian besar adalah milik neneknya. Saat bermain di lapangan atau bersama teman-teman pasti dia mendengar orang dewasa menceritakan hal itu. Apalagi anak-anak mereka akan mengejek kalau tidak ada neneknya."Maafkan Ayah yang terlambat menemukanmu," ucap Arjuna lalu memeluk Bima. Hatinya teriris mendengar cerita Bima. "Terlambat?" tanya Bima. "Memangnya Ayah benar Ayah kandungku?" imbuh Bima dengan wajah
Arjuna agak geram mendengar ucapan itu. Pak Anwar juga sangat terkejut dengan pertanyaan istrinya. Bisa-bisanya dia mengatakan hal yang tak patut seperti itu di depan anak kecil. "Rana!" bentak Pak Anwar. "Kakek, aku sudah biasa mendapatkan penghinaan seperti ini," ucap Bima. "Berarti memang kamu anak liar sungguhan yang dipungut Arjuna entah dari mana," balas Nyonya Rana tersenyum. Brak! Pak Anwar menggebrak mejanya lalu berkata, "Ternyata kamu tidak instrospeksi diri di dalam penjara yang pengap itu. Aku akan menambah hukuman untukmu," Wajah Nyonya Rana tampak pucat tapi baginya sebelum mengolok anak yang dibawa Arjuna pulang ke rumahnya adalah sebuah penyesalan. Walau dia harus dihukum oleh suaminya. Dia sangat lega jika sudah melontarkan kalimat menohok untuk Bima. "Aku tidak salah, memangnya anak itu siapa aku harus bersikap baik padanya. Bahkan dia sendiri mengakui bahwa dia sudah biasa disepelekan," ucap Nyonya Rana. "Dia anakku, dan aku tidak akan tinggal diam j
Nadia mengangguk pelan, mau tidak mau menang dia harus menikah dengan Arjuna. Semua demi Bima, dia harus mengalah. "Aku serius, asalkan Bima bahagia. Maka akan aku tanggung kepedihan hidup demi anakku," balas Nadia"Kamu juga berhak bahagia sayangku, tidak demi siapapun. Bahagialah demi dirimu sendiri," sahut Bu Sonia.Nadia mengangguk pelan, dia juga ingin bahagia demi dirinya sendiri. Tapi sekarang ada anak yang harus dia bahagiakan."Aku mengerti, Bu. Kelak aku akan bahagia demi diriku sendiri," balas Nadia."Harus, sekarang istirahat dulu saja. Besok kita akan hadapi Rana bersama-sama. Jika dia berani menyakiti Bima," kata Bu Sonia bersemangat sambil mengepalkan tangannya."Ibu benar juga, jika benar wanita jahat itu menyakiti anakku. Aku akan membalasnya," ucap Nadia sambil tersenyum.Di hati Nadia masih tersimpan dendam. Pasalnya Nyonya Rana sangat jahat padanya dimasa lalu, rasa sakit itu tidak akan pernah pudar walau sudah enam tahun lamanya.
Nadia menoleh ke arah Bima lalu dia memeluk anak semata wayang yang dia cintai. "Menikah dengan Paman Arjuna seperti kemauanmu. Ibu akan menunggu waktu yang tepat," jawab Nadia. "Aku suka Paman Arjuna," ucap Bima. "Asalkan Bima bahagia, ibu juga bahagia," balas Nadia sambil tersenyum. Ibu dan Anak itu berpelukan dengan erat. Ada kepuasan tersendiri di hati Bima saat dia tahu bakal memiliki seorang Ayah yang sah. Melihat anak dan cucunya bahagia membuat hatinya lega. Mungkin kesengsaraan Meraka selama enam tahun ini akan berakhir. "Bima, semoga kehidupanmu setelah ini akan bahagia," ucap Bu Sonia. "Amin," balas Bima bersemangat, dia lalu bergantian memeluk Bu Sonia. Nenek yang sangat Bima sayangi karena semenjak lahir Bu Sonia mengasuhnya bergantian dengan Nadia. Walau ada pengasuh tidak semua di urus pengasuh dua puluh empat jam. "Sudah malam, tidurlah. Besok bukankah kamu mau berkunjung ke rumah Kakek Anwar?" tanya Bu Sonia.
Pak Abraham menghentikan langkahnya dia menatap sosok cantik paripurna walau usianya sudah tak lagi muda. Siapa dia kalau bukan Ibu Sonia. Mantan mertuanya juga selangkah lebih maju menjilat Ibu Sonia agar bermurah hati pada Meraka. "Sonia, kamu semakin cantik saja. Ah, apa kabar Sonia. Kita sudah lama tidak bertemu, ya," ucap Neneknya Nadia. "Aku memang cantik dari dulu. Tapi bukankah Ibu sibuk dengan menantu baru dambaan Ibu yang menurut sama mertua itu. Tidak seperti diriku yang pembangkang. Jadi tidak usah basa basi," balas Ibu Sonia. "Lancang sekali kamu, punya anak lonte saja belagu," balas mantan adik iparnya. Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Adiknya Pak Abraham. "Jangan hina anakku," ucap Pak Abraham. "Ka-kak kenapa kamu tega menamparku?" tanya Adiknya. "Kamu lancang, kamu bisa membuat Sonia tidak suka dan marah," jawab Pak Abraham. Ibu Sonia menertawakan Pak Abraham yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Entah apa yang se
Apk Abraham menggertakkan giginya, dia sangat tersinggung. Walau itu kenyataannya Nadia yang merupakan anaknya tidak boleh berkata seperti itu."Jaga mulutmu, Nadia. Mana mungkin Ayah menipu wanita yang Ayah cintai sendiri," ucap Pak Abraham."Ibumu tidak memiliki apapun saat menikah dengan Ayahmu. Dia hanya pekerja Ayahmu saja," balas Bibinya Nadia."Kalau memang begitu kenyataannya. Kenapa perusahaan bangkrut Ayah tidak mampu mengembalikan seperti semula?" tanya Nadia."Kamu pikir mendirikan perusahaan gampang hah?!" bentak Pak Abraham."Asal ada modal semuanya gampang, lihat gedung ini. Ibu yang membjayaiku. Ayah saja yang bodoh lebih memilih ani-ani yang hanya bisa menghabiskan uang daripada Ibuku yang kaya raya," ucap Nadia dengan angkuh.Menurut Nadia memangnya yang bisa angkuh hanya keluarga Ayahnya saja yang parasit itu. Saat ini Nadia juga bisa bersikap angkuh bahkan lebih menyakitkan saat menghina keluarga Ayahnya. Biarkan saja seperti itu mereka ya
Orang yang mengawasi Nadia dan Arjuna masih berada di tempat. Dia heran melihat kebahagiaan dua sejoli itu. Menurutnya seseorang kalau banyak harta harus ingat dengan keluarganya. "Ini tidak bisa dibiarkan. Dia kaya sekarang ditambah menjadi kekasih Arjuna. Aku dengar mereka juga akan menikah. Pasti hidupnya akan semakin berlimang harta," gumam Pak Abraham.Menurutnya seorang anak harus berbakti pada keluarganya. Bukan asyik senang-senang sendiri menikmati harta sendiri atau suaminya. "Aku harus menemui, Nadia bagaimanapun caranya," ucap Pak Abraham.Pria paruh baya itu membuntuti Nadia kemana dia pergi. Hingga tibalah di sebuah gedung tempat Nadia bekerja. Sayangnya saat Pak Abraham ingin masuk ke gedung itu di cegah oleh satpam karena tidak mempunyai identitas masuk ke gedung itu."Bedebah sialan! Apa kalian tahu siapa aku?" bentak Pak Abraham."Kami tidak tahu siapa Anda. Makanya kami tidak memperbolehkan Anda masuk," jawab Satpam."Aku adalah Ayah N
Nadia menghembuskan nafasnya kasar. Demi bisa mengusir Langit dari hadapannya dia rela menggunakan nama Arjuna sebagai tameng. "Tentu saja karena aku mau memberikan keluarga yang utuh demi anakku," balas Nadia. "Lebih baik kamu segera pergi dan jangan ganggu Nadia lagi sebelum aku kehilangan kesabaran," ucap Arjuna sembari meregangkan jemarinya."Pokoknya sebelum janur melengkung aku akan terus berusaha," balas Langit lalu berdiri dan pergi dari hadapan mereka berdua.Arjuna ingin meninju Langit karena kurang ajar terhadap Nadia. Dia lancang dan seenaknya bersikap. Kesabaran orang ada batasnya apalagi dia berucap di depan Arjuna, seorang lelaki yang akan menjadi suaminya kelak.*Arjuna, jangan bertindak gegabah. Disini banyak mata melihat aku takut akan jadi bahan gosip lagi kalau kamu emosi hanya karena orang tidak penting itu," cegah Nadia."Kamu benar, tapi aku tidak suka dengannya," balas Arjuna."Tahan emosimu, Arjuna. Jangan beri contoh yang tid
Langit ingin segera menyiakan apa yang ditanyakan oleh Arjuna. Masalahnya Nadia akan menghindarinya jika langsung mengakui perasaannya. Tapi kalau kelamaan dipendam Nadia akan lebih dalam mempunyai perasaan dengan Arjuna. Maka dengan nekat Langit mengatakan, "Sebelum janur kuning melengkung, bukankah sebuah hubungan itu belum dikatakan sah. Soal perasan semua orang bisa berubah apalagi belum ada pernikahan yang sah," "Memangnya siapa juga yang mau menjalin hubungan denganmu sampai ke jenjang pernikahan kalau bukan Karina seorang," jawab Nadia. Kalimat itu menusuk hari Langit, Nadia mana mungkin mengatakan itu. Padahal dahulu Nadia sangat mencintai Langit dan menjadikannya tempat bersandar. "Kamu juga dulu ingin menikah denganku, Nadia," ucap Langit. 'Itu dulu, sebelum kamu menjebakku karena sudah berhubungan dengan Karina," balas Nadia. "Sejak saat itu rasa cintaku sudah hilang," lanjut Nadia. Bagaikan tertampar dengan kerasnya. Begitulah rasa sakit y