Nadia mengangguk, hari ini ditemani oleh Ibu Sonia dia mendatangi kantor polisi untuk membuat laporan tentang pencemaran nama baik, ujaran kebencian, penghinaan melalui media elektronik.
"Saya sudah capture beberapa akun yang mencemarkan nama baik saya," ucap Nadia di depan para wartawan. "Anak saya bukan anak haram. Apa hak mereka melabeli anak saya dengan sebutan anak haram?" tanya Nadia dengan tegas. Banyak pernyataan yang dilontarkan oleh Nadia terkait masalah yang menimpanya. Diam bukan berarti takut tapi menunggu waktu yang tepat untuk membalas perbuatan tercela itu. Melihat Nadia sudah bersuara membuat beberapa orang panas dingin karena harus berurusan dengan pihak berwajib. "Hah, dia berlagak sekali. Aku jadi penasaran gadun mana yang memeliharanya," ucap Lisa sambil menikmati teh hangat di ruang tamunya. "Masih bisa kamu menikmati teh dengan santai seperti ini, ya," ucap Ayah Lisa sembari memperlihatkan wajah garang. Di tangannya ada cambukLisa kalang kabut tapi dia harus menghadapi kenyataan bahwa di rumah sudah datang petugas keamanan. "Ayah bagaimana ini?" tanya Lisa. "Hadapi saja," jawab Ayah Lisa. Walau ada drama berpikir ingin kabur, akhirnya Lisa tunduk digiring ke kantor polisi. Dia dimintai keterangan karena menyebar kebencian berita tidak benar di sosial media. Tak hanya Lisa, Karina juga Ibu Lentina juga kena ciduk. Mereka melawan petugas tapi karena bukti kuat mereka juga di giring ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. "Apa yang kalian lakukan. Aku mengungkap fakta tapi kalian malah membuatku seolah adalah penjahat," ucap Karina. "Lepaskan kami, karena tidak bersalah. Seharunya yang kalian tangkap itu Nadia karena dia menjual diri demi hidup mewah. Lagipula anaknya itu pasti hasil dari tidur rame-rame dengan banyak lelaki," ucap Lentina panjang lebar. Sepanjang perjalanan ke kantor polisi ibu dan anak itu berteriak minta dilepaskan. Mereka sibuk mengumpat d
Nyonya Rana merasa Arjuna hanya berbohong, mana ada orang yang berani naik ranjang pria adalah gadis perawan. "Untuk apa bohong," jawab Arjuna. "Jaman sekarang serba canggih, Ibu takut kalau itu rekayasa saja," ucap Nyonya Rana. Arjuna menggelengkan kepalanya, rekayasa dan alami itu beda. Walaupun Arjuna juga pertama kali merasakan itu. Mungkin rasanya akan beda kalau itu adalah sebuah operasi untuk terlihat masih perawan. "Ibu terlalu banyak memakan berita gosip murahan," ucap Arjuna. "Bukan gosip, banyak kok para gadis keluarga kaya yang melarikan itu agar suaminya tidak kecewa saat malam pertama," balas Nyonya Rana. "Jadi para gadis keluarga kaya itu pergaulan bebas dan Ibu memakluminya, aku sih takut terkena penyakit," ucap Arjuna.Bukan itu maksud Nyonya Rana, tapi dia meyakini bahwa Nadia melakukan trik jahat itu untuk menjerat Arjuna. Sehingga Arjuna terpikat oleh pesona Nadia yang masih perawan."Arjuna pokoknya Ibu mau kemu menyelam
Nyonya Rana menggigit ujung kukunya. Dia mendadak pusing membayangkan harus memiliki cucu dari seorang yang dia benci. Ini tidak bisa dibiarkan. "Aku tidak sudi mengakuinya. Lebih baik menikahkan Arjuna dengan wanita yang lebih baik dan memiliki anak yang sah," jawab Nyonya Rana. "Tetap saja anak itu darah daging Arjuna," balas Yoga. "Dia terlahir dari rahim wanita yang kotor, aku tidak sudi mengakuinya karena dia aib bagi keluarga ini. Anak haram sepertinya lebih baik tidak pernah lahir," jawab Nyonya Rana masih kekeh. Arjuna yang dari tadi berdiri di balik pintu ruang kerjanya mengepalkan tangannya kesal. Dia sangat tidak terima dengan ucapan Ibunya sendiri Bagaimana busa seorang bisa berkata cucunya sendiri adalah aib yang tidak boleh terpublish. Arjuna bergegas pergi ke suatu tempat, percakapan Ibunya dan Yoga membuatnya tersadar kenapa selama ini selalu merasakan perasaan familiar dan hangat saat bertemu dengan anak Nadia. Saat bocah itu memanggilnya Ayah at
Arjuna membawa sample rambut itu ke rumah sakit yang tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga dan kenalan yang lainnya. Bahkan Yoga asistennya juga tidak tahu menahu soal tes ini. Kalau dia tahu takutnya Yoga akan membocorkan ke Nyonya Rana. Dia asisten yang sudah tidak salah dia percaya lagi. "Sebelah sini, Arjuna," ucap Dokter Natali sambil melambaikan tangan agar Arjuna melihatnya. "Ini, tolong kamu tes sampel ini dengan rambut milikku," ucap Arjuna lalu memotong sedikit rambutnya dengan gunting. Dokter itu menerima sample lalu dia sendiri yang menguji sample DNA tersebut. Tak butuh waktu lama pengujian selesai, dia segera menemui menemui Arjuna. "Bagaimana hasilnya?" tanya Arjuna bersemangat. "Pengujian memang sudah selesai tapi hasilnya bisa kamu dapatkan besok pagi, aku harus melakukan satu pengujian lagi," jawab Dokter. "Aku kira bisa langsung selesai hari ini, jadi aku harus menunggu besok pagi lagi?' tanya Arjuna lesu. "Jang
Arjuna tersenyum bahagia mendengar jawaban Dokter Natali. Jadi memang Nadia dan Arjuna ditakdirkan bersama karena ada anak. Apapun yang terjadi dia bertekad untuk membawa Nadia ke pelaminan. "Wanita yang melahirkan anakku adalah wanita yang istimewa," jawab Arjuna sambil tersenyum bahagia. "Aku semakin penasaran. Jika sudah siap kamu harus mengenalkan wanita itu padaku," ucap Dokter Natali "Jangan khawatir, aku akan mengundangmu saat kami menikah nanti," balas Arjuna. Dokter Natali bingung, pasalnya Arjuna tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada wanita manapun. Hingga saat ini dia memiliki anakpun rasanya bagai mimpi di siang bolong. Jangankan bersetubuh, melirik wanita yang sayang kepadanya tanpa busanapun dia tak akan tertarik atau melirik. "Menikah?" tanya Dokter Natali kaget. "Ya, kamu tahu Natali. Dia sudah kembali, orang yang membuatku setengah mati mencarinya dia sudah ada di ibu kota. Lalu dia juga membawa seorang anak. Dia belum mengak
Arjuna menatap wajah anak yang ceria itu. Tentu saja dia mau menjadi Ayahnya karena memang Arjuna adalah Ayah biologisnya. "Arjuna, jangan ambil pusing celotehan anak kecil," ucap Ibu Sonia. "Aku bersedia jadi Ayahmu kok," jawab Arjuna. Bima bersorak gembira dia langsung memeluk Arjuna lalu pria tampan itu membalas pelukan anak yang sudah ketahuan darah daging siapa. "Bima, nenek bilang kamu jangan sembarangan meminta lelaki menjadi ayahmu," ucap Ibu Sonia. "Nenek jahat, aku suka Paman ini yang jadi Ayahku. Aku tidak sembarangan memilih Ayah kok," balas Bima. Ibu Sonia menatap tajam Bima dia tidak menyukai Bima memanggil Arjuna dengan sebutan Ayah. Itu akan bahaya untuk ketenangan hidup Bima maupun Nadia. Orang yang tidak menyukai Nadia akan mencoba mencari cara mencelakai Nadia dan Bima. "Bima, dia bukan Ayahmu. Nenek rasa Paman Arjuna juga tidak nyaman jika kamu panggil Ayah. Dia belum menikah," ucap Ibu Sonia. "Nenek aku mau Paman A
Arjuna tersenyum tipis, agaknya Ibu Sonia mulai curiga padanya yang sudah mengetahui fakta tentang Bima. Untuk saat ini Arjuna pura-pura tidak tahu dahulu. "Aku tidak tahu apa yang Ibu maksud," jawab Arjuna. "Jangan berlagak bodoh, aku tahu kamu sudah mengirim doang untuk mencari tahu informasi tentang Nadia selama ini," ucap Ibu Sonia. Akhir-akhir ini ada banyak siang yang lalu lalang di sekitar rumahnya di desa. Bahkan orang-orang asing itu bertanya-tanya tentang seorang perempuan yang pernah tinggal di sebuah rumah yang tak jauh dari perkebunan sawit. "Apa aku ketahuan?" tanya Arjuna sambil cengengesan. "Apa yang kalian bicarakan. Paman ayo kita pergi bermain saja. Bicara sama nenek itu nggak asyik," ajak Bima. "Arjuna aku harap kamu jangan main-main. Jika susah mengetahui fakta jangan coba untuk merebutnya dari Nadia. Karena hanya dia semangatnya untuk hidup," jawab Ibu Sonia. "Aku setuju," jawab Arjuna. Arjuna mengangguk, lalu dia
Ibu Sonia menggelengkan kepalanya lalu dia berkata, “Arjuna tidak akan merebut putramu,” Nadia menatap tajam sang ibu seakan tidak percaya dengan apa yang ibunya katakan. Bisa jadi ini adalah tak tik dari Arjuna bukan? “Bu, Arjuna itu licik. Dia pasti melakukan ini dengan sengaja, berdalih mengajaknya bermain lalu tidak mengembalikan Bima padaku,” ucap Nadia yang khawatir. Ibu Sonia tahu kekhawatiran Nadia seperti apa, tapi bukankah memberikan kesempatan Ayah dan anak kandung itu untuk menghabiskan waktu bersama tidak apa-apa. "Nadia, tenangkan saja pikiranmu sejenak. Berpikir positif saja Arjuna tidak akan melakukan apa yang kamu khawatirkan," ucap Ibu Sonia. "Bagaimana aku bisa tenang. Anakku ada ditangan orang yang salah. Pikiranku jadi kacau memikirkan nenek lampir itu kalau bertemu dengan Bima," balas Nadia. "Rana tidak akan berani melakukan sesuatu pada Bima. Lalu Arjuna akan menjaga Bima dengan baik. Biarkan saja Bima menikmati waktu bersa
Pak Anwar menatap wajah polos itu. Mulutnya sudah gatal ingin menunjukkan siapa dia sebenarnya. Tapi dia meminta persetujuan Arjuna dulu. "Bima, Ayah akan menunjukkan sesuatu padamu," ucap Arjuna."Jawab dulu pertanyaanku tadi," ucap Bima. "Ayah tahu selama di desa aku selalu diejek tidak punya Ayah, anak haram, anak liar seperti yang dikatakan oleh nenek sihir tadi. Aku tidak menangis karena sudah biasa," imbuh Bima.Anak sekecil itu menceritakan sakit hatinya. Bagaimana dia dipandang setengah mata oleh orang-orang hanya karena terlahir tanpa Ayah. Walau di desa tempat ia tinggal sebagian besar adalah milik neneknya. Saat bermain di lapangan atau bersama teman-teman pasti dia mendengar orang dewasa menceritakan hal itu. Apalagi anak-anak mereka akan mengejek kalau tidak ada neneknya."Maafkan Ayah yang terlambat menemukanmu," ucap Arjuna lalu memeluk Bima. Hatinya teriris mendengar cerita Bima. "Terlambat?" tanya Bima. "Memangnya Ayah benar Ayah kandungku?" imbuh Bima dengan wajah
Arjuna agak geram mendengar ucapan itu. Pak Anwar juga sangat terkejut dengan pertanyaan istrinya. Bisa-bisanya dia mengatakan hal yang tak patut seperti itu di depan anak kecil. "Rana!" bentak Pak Anwar. "Kakek, aku sudah biasa mendapatkan penghinaan seperti ini," ucap Bima. "Berarti memang kamu anak liar sungguhan yang dipungut Arjuna entah dari mana," balas Nyonya Rana tersenyum. Brak! Pak Anwar menggebrak mejanya lalu berkata, "Ternyata kamu tidak instrospeksi diri di dalam penjara yang pengap itu. Aku akan menambah hukuman untukmu," Wajah Nyonya Rana tampak pucat tapi baginya sebelum mengolok anak yang dibawa Arjuna pulang ke rumahnya adalah sebuah penyesalan. Walau dia harus dihukum oleh suaminya. Dia sangat lega jika sudah melontarkan kalimat menohok untuk Bima. "Aku tidak salah, memangnya anak itu siapa aku harus bersikap baik padanya. Bahkan dia sendiri mengakui bahwa dia sudah biasa disepelekan," ucap Nyonya Rana. "Dia anakku, dan aku tidak akan tinggal diam j
Nadia mengangguk pelan, mau tidak mau menang dia harus menikah dengan Arjuna. Semua demi Bima, dia harus mengalah. "Aku serius, asalkan Bima bahagia. Maka akan aku tanggung kepedihan hidup demi anakku," balas Nadia"Kamu juga berhak bahagia sayangku, tidak demi siapapun. Bahagialah demi dirimu sendiri," sahut Bu Sonia.Nadia mengangguk pelan, dia juga ingin bahagia demi dirinya sendiri. Tapi sekarang ada anak yang harus dia bahagiakan."Aku mengerti, Bu. Kelak aku akan bahagia demi diriku sendiri," balas Nadia."Harus, sekarang istirahat dulu saja. Besok kita akan hadapi Rana bersama-sama. Jika dia berani menyakiti Bima," kata Bu Sonia bersemangat sambil mengepalkan tangannya."Ibu benar juga, jika benar wanita jahat itu menyakiti anakku. Aku akan membalasnya," ucap Nadia sambil tersenyum.Di hati Nadia masih tersimpan dendam. Pasalnya Nyonya Rana sangat jahat padanya dimasa lalu, rasa sakit itu tidak akan pernah pudar walau sudah enam tahun lamanya.
Nadia menoleh ke arah Bima lalu dia memeluk anak semata wayang yang dia cintai. "Menikah dengan Paman Arjuna seperti kemauanmu. Ibu akan menunggu waktu yang tepat," jawab Nadia. "Aku suka Paman Arjuna," ucap Bima. "Asalkan Bima bahagia, ibu juga bahagia," balas Nadia sambil tersenyum. Ibu dan Anak itu berpelukan dengan erat. Ada kepuasan tersendiri di hati Bima saat dia tahu bakal memiliki seorang Ayah yang sah. Melihat anak dan cucunya bahagia membuat hatinya lega. Mungkin kesengsaraan Meraka selama enam tahun ini akan berakhir. "Bima, semoga kehidupanmu setelah ini akan bahagia," ucap Bu Sonia. "Amin," balas Bima bersemangat, dia lalu bergantian memeluk Bu Sonia. Nenek yang sangat Bima sayangi karena semenjak lahir Bu Sonia mengasuhnya bergantian dengan Nadia. Walau ada pengasuh tidak semua di urus pengasuh dua puluh empat jam. "Sudah malam, tidurlah. Besok bukankah kamu mau berkunjung ke rumah Kakek Anwar?" tanya Bu Sonia.
Pak Abraham menghentikan langkahnya dia menatap sosok cantik paripurna walau usianya sudah tak lagi muda. Siapa dia kalau bukan Ibu Sonia. Mantan mertuanya juga selangkah lebih maju menjilat Ibu Sonia agar bermurah hati pada Meraka. "Sonia, kamu semakin cantik saja. Ah, apa kabar Sonia. Kita sudah lama tidak bertemu, ya," ucap Neneknya Nadia. "Aku memang cantik dari dulu. Tapi bukankah Ibu sibuk dengan menantu baru dambaan Ibu yang menurut sama mertua itu. Tidak seperti diriku yang pembangkang. Jadi tidak usah basa basi," balas Ibu Sonia. "Lancang sekali kamu, punya anak lonte saja belagu," balas mantan adik iparnya. Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Adiknya Pak Abraham. "Jangan hina anakku," ucap Pak Abraham. "Ka-kak kenapa kamu tega menamparku?" tanya Adiknya. "Kamu lancang, kamu bisa membuat Sonia tidak suka dan marah," jawab Pak Abraham. Ibu Sonia menertawakan Pak Abraham yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Entah apa yang se
Apk Abraham menggertakkan giginya, dia sangat tersinggung. Walau itu kenyataannya Nadia yang merupakan anaknya tidak boleh berkata seperti itu."Jaga mulutmu, Nadia. Mana mungkin Ayah menipu wanita yang Ayah cintai sendiri," ucap Pak Abraham."Ibumu tidak memiliki apapun saat menikah dengan Ayahmu. Dia hanya pekerja Ayahmu saja," balas Bibinya Nadia."Kalau memang begitu kenyataannya. Kenapa perusahaan bangkrut Ayah tidak mampu mengembalikan seperti semula?" tanya Nadia."Kamu pikir mendirikan perusahaan gampang hah?!" bentak Pak Abraham."Asal ada modal semuanya gampang, lihat gedung ini. Ibu yang membjayaiku. Ayah saja yang bodoh lebih memilih ani-ani yang hanya bisa menghabiskan uang daripada Ibuku yang kaya raya," ucap Nadia dengan angkuh.Menurut Nadia memangnya yang bisa angkuh hanya keluarga Ayahnya saja yang parasit itu. Saat ini Nadia juga bisa bersikap angkuh bahkan lebih menyakitkan saat menghina keluarga Ayahnya. Biarkan saja seperti itu mereka ya
Orang yang mengawasi Nadia dan Arjuna masih berada di tempat. Dia heran melihat kebahagiaan dua sejoli itu. Menurutnya seseorang kalau banyak harta harus ingat dengan keluarganya. "Ini tidak bisa dibiarkan. Dia kaya sekarang ditambah menjadi kekasih Arjuna. Aku dengar mereka juga akan menikah. Pasti hidupnya akan semakin berlimang harta," gumam Pak Abraham.Menurutnya seorang anak harus berbakti pada keluarganya. Bukan asyik senang-senang sendiri menikmati harta sendiri atau suaminya. "Aku harus menemui, Nadia bagaimanapun caranya," ucap Pak Abraham.Pria paruh baya itu membuntuti Nadia kemana dia pergi. Hingga tibalah di sebuah gedung tempat Nadia bekerja. Sayangnya saat Pak Abraham ingin masuk ke gedung itu di cegah oleh satpam karena tidak mempunyai identitas masuk ke gedung itu."Bedebah sialan! Apa kalian tahu siapa aku?" bentak Pak Abraham."Kami tidak tahu siapa Anda. Makanya kami tidak memperbolehkan Anda masuk," jawab Satpam."Aku adalah Ayah N
Nadia menghembuskan nafasnya kasar. Demi bisa mengusir Langit dari hadapannya dia rela menggunakan nama Arjuna sebagai tameng. "Tentu saja karena aku mau memberikan keluarga yang utuh demi anakku," balas Nadia. "Lebih baik kamu segera pergi dan jangan ganggu Nadia lagi sebelum aku kehilangan kesabaran," ucap Arjuna sembari meregangkan jemarinya."Pokoknya sebelum janur melengkung aku akan terus berusaha," balas Langit lalu berdiri dan pergi dari hadapan mereka berdua.Arjuna ingin meninju Langit karena kurang ajar terhadap Nadia. Dia lancang dan seenaknya bersikap. Kesabaran orang ada batasnya apalagi dia berucap di depan Arjuna, seorang lelaki yang akan menjadi suaminya kelak.*Arjuna, jangan bertindak gegabah. Disini banyak mata melihat aku takut akan jadi bahan gosip lagi kalau kamu emosi hanya karena orang tidak penting itu," cegah Nadia."Kamu benar, tapi aku tidak suka dengannya," balas Arjuna."Tahan emosimu, Arjuna. Jangan beri contoh yang tid
Langit ingin segera menyiakan apa yang ditanyakan oleh Arjuna. Masalahnya Nadia akan menghindarinya jika langsung mengakui perasaannya. Tapi kalau kelamaan dipendam Nadia akan lebih dalam mempunyai perasaan dengan Arjuna. Maka dengan nekat Langit mengatakan, "Sebelum janur kuning melengkung, bukankah sebuah hubungan itu belum dikatakan sah. Soal perasan semua orang bisa berubah apalagi belum ada pernikahan yang sah," "Memangnya siapa juga yang mau menjalin hubungan denganmu sampai ke jenjang pernikahan kalau bukan Karina seorang," jawab Nadia. Kalimat itu menusuk hari Langit, Nadia mana mungkin mengatakan itu. Padahal dahulu Nadia sangat mencintai Langit dan menjadikannya tempat bersandar. "Kamu juga dulu ingin menikah denganku, Nadia," ucap Langit. 'Itu dulu, sebelum kamu menjebakku karena sudah berhubungan dengan Karina," balas Nadia. "Sejak saat itu rasa cintaku sudah hilang," lanjut Nadia. Bagaikan tertampar dengan kerasnya. Begitulah rasa sakit y