Dengan mengendap-endap Joane terus berjalan menyusuri lorong sebuah gedung yang sekarang sedang digunakan oleh keluarganya untuk melaksanakan pesta pernikahan yang mewah.
Setelas selesai di make up, Ia pamit untuk ke kamar mandi karena ingin buang air kecil. Namun sebenarnya, itu hanya alasannya saja agar Ia bisa mencari celah untuk keluar dan melarikan diri dari pernikahannya.Saat sedang menuju ke ke kamar mandi, Ia melihat ada sebuah pintu menuju ke ruangan lain. Untung saja tak ada seorangpun yang mengikutinya saat Ia mengatakan ingin pergi ke kamar kecil.Maka, dengan melewati pintu itu, Joane berusaha untuk mencari jalan keluar dari gedung itu. Rupanya pintu yang Ia lewati tadi, terhubung ke jalan belakang yang tembus ke gank sempit yang ada di belakang gedung.Setelah berhasil keluar dari gedung itu, maka Joane segera berlari menyusuri gang kecil yang kanan kirinya terdapat perumahan warga.Dengan bertelanjang kaki, Ia terus berlari tanpa tujuan, yang jelas Ia ingin agar keluarganya tidak bisa menemukannya.Sesekali Ia akan menengok ke belakang untuk memastikan tak ada pengawal dari Ayahnya yang sedang mengejarnya. Bahkan Ia sama sekali tak berani menggunakan ponselnya untuk menghubungi atau meminta tolong pada teman-temannya.Jika Ia menggunakan ponselnya, maka dengan mudah pastilah Ayahnya akan segera mengerahkan seluruh pengawal untuk mencarinya ke segala penjuru kota. Orang-orang yang berpapasan dengannya bahkan merasa heran karena melihatnya masih menggunakan gaun pengantin putih. Namun, Joane tak peduli dengan pandangan Mereka. Ia terus berjalan bahkan kadang berlari agar segera menjauh dari gedung.Tanpa terasa kakinya mulai terluka karena kerikil tajam yang diinjaknya. Ia memang sengaja melepas wedgesnya karena merasa akan menghambat gerakannya. Dengan nafas yang terengah, Joane sejenak berhenti di depan sebuah pintu gerbang rumah yang sangat besar dan mewah.Ia melihat jalanan yang dilaluinya, tak nampak seorangpun yang bisa ditanyainya. Sejenak Ia menatap pada gerbang rumah itu. Kemudian dengan perlahan Ia mendorong pintu gerbang . Ternyata tak terkunci, sehingga dengan mudah gerbang itu bisa Ia buka.Joane pun masuk dan menutup gerbang kembali. Kemudian Ia duduk bersandar pada gerbang sambil mengatur nafas dan menyeka keringat yang bercucuran. Ia meneteskan air matanya, ketika mengingat semua kejadian hari ini. Joane menangis terisak pilu, karena Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya..Bahkan, tanpa Ia sadari, dibalik kaca yang ada di lantai tiga rumah besar itu ada sepasang mata elang yang tajam sedang menatapnya dingin tanpa rasa simpati sedikitpun.Joane menatap ke sekeliling rumah itu. Tapi tak seorangpun yang ada Ia temukan. Dalam hatinya Ia heran juga, rumah sebesar dan semewah ini kenapa sangat sepi dan tak ada penjaganya?Ia menyeka air matanya dengan gaun pengantin putihnya. Kemudian berjalan mengitari halaman samping menuju ke bagian belakang rumah itu. Siapa tahu ada orang yang bisa Ia mintai tolong di sana.Namun, lagi-lagi Ia nampak keheranan. Di halaman belakang juga tak ada seorangpun manusia yang Ia lihat. Rumah itu sekelilingnya di bangun tembok yang tinggi. 'Dan kemana semua penghuninya? gumamnya dalam hati.Joane melihat ada sebuah tali jemuran, yang diatasnya terdapat beberapa baju yang masih menggantung. Ia mendekatinya, dan mengambil sepotong baju daster bermotif bunga. Ia kembali menatap gaun pengantinnya. Kemudian Ia berjongkok dan melepaskan gaun itu.Rupanya Joane ingin mengganti pakaiannya dengan baju yang Ia ambil dari jemuran itu. Setelah mengganti pakaiannya, Ia kemudian duduk bersandar pada tembok rumah itu. Mungkin Ia akan menunggu seseorang barangkali nanti ada yang datang atau bahkan keluar dari rumah besar itu.Sementara itu, di gedung tempat reseosi pernikahannya, Ayah dan Ibunya serta semua pengawal sibuk mencari keberadaannya. Di seluruh penjuru dan sudut gedung itu, Mereka tak menemukan pengantin wanita, sedangkan janji suci pernikahan akan segera dilaksanakan.Ayah Joane, Tuan Wilson sangat marah mengetahui Putrinya telah melarikan dari pernikahan itu. Tentu saja Ia sangat malu pada semua tamu undangan yang ada di sana. Sedangkan Nyonya Wilson hanya bisa menangis karena tak tahu kini putrinya sedang berada di mana."Kurang ajar, anak tak tahu diri!. Lihat kelakuan putri kesayanganmu. Sekarang Dia berani mempermalukan Kita dan melarikan diri dari pernikahannya yang telah Kita rencanakan dengan keluarga Anderson.""Ini salahmu, kenapa harus memaksanya menikah dengan Pria tua itu?" Nyonya Wilson yang sebenarnya kurang setuju dengan rencana Suaminya itu pun membalas ucapan Tuan Wilson."Asal Kamu tahu, Aku melakukannya karena Aku tidak ingin melihat Putriku sengsara. Makanya Aku menikahkannya dengan Putra Rekan bisnisku."Itulah yang selalu menjadi alasan Tuan Wilson menikahkan Joane dengan seorang Pria Putra dari teman bisnisnya."Yang Kau pikirkan hanya harta dan harta terus! Apa Kau tak pernah berpikir tentang kebahagiaan Putrimu, hah!. Nyonya Wikson melampiaskan rasa kesalnya pada Suaminya."Lihat sekarang, Putriku hilang dan entah di mana Dia kini. Bagaimana jika ada hal buruk yang menimpanya?"Nyonya Wilson terus menangis meratapi kepergian Joane ,Putri semata wayangnya.Seharusnya dari awal Ia berani mendukung Joane untuk menentang Ayahnya dalam pernikahan paksa ini. Namun, Ia tak bisa berbuat apa-apa.Hari sudah hampir senja. Jaane nampak mengerjapkan matanya beberapa kalli untuk memulihkan kesadarannya. Rupanya Ia tertidur untuk beberapa lama dengan duduk bersandar di tembok rumah besar itu.Suasananya masih sama, tak ada seorangpun yang ada di sana. Bahkan saat hari akan gelap pun, tak nampak lampu rumah itu menyala. Ia berpikir apakah memang rumah ini tak berpenghuni sama sekali?Joane memberanikan diri untuk mencoba masuk ke rumah itu lewat pintu belakang yang Ia lihat dari tadi siang. Perlahan Ia mengetuk pintunya beberapa kali untuk memastikan apakah ada orang di dalam atau tidak.Karena tak ada sahutan dari dalam, maka Joane mendorong pintu itu perlahan. Dan Ia bisa membukanya, karena tidak terkunci. Ia melangkah masuk dengan hati-hati. Suasana yang temaram karena hari sudah gelap, membuatnya lebih waspada.Memang benar-benar sepi, tak ada seorangpun yang nampak di dalam rumah itu. Joane menatap ke setiap sudut rumah itu, rupanya kini Ia sedang berada di ruang dapur. Matanya jelalatan mencari saklar lampu.Saat melihat saklar lampu ternyata ada di sebelah dinding kanannya, Ia pun mendekat dan menyalakan saklarnya.CEKLEEKSeketika ruang dapur nampak terang, kini Ia bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalam ruang dapur itu. Ada sebuah anak tangga yang mengarah ke lantai atas. Joane mendongakkan kepalanya, mengikuti ujung tangga itu.Alangkah terkejutnya Ia kala melihat ada sesosok yang berdiri di ujung tangga itu. Sosok yang mengenakan baju serba hitam dengan rambut yang awut-awutan menutupi wajahnya. Dan Ia membawa sebuah tongkat .Joane gemetar ketakutan dan mundur ke belakang, sampai tubuhnya menabrak tembok."Aaaaakkkhhhhh,......" Joane berteriak histeris karena takut. Dan tubuhnya pun merosot ke lantai tak sadarkan diri.Sementara sosok yang Joane lihat tadi, kini mulai menuruni anak tangga dan mendekatinya. Setelah sampai di dekat tubuh Joane yang tergeletak tak sadarkan diri, Ia pun terkekeh seraya memukul pelan tubuh Joane dengan tongkatnya.Joane membuka matanya. Pandangannya masih remang-remang. Ia mencoba mengerjapkan matanya dan mengedarkan tatapan matanya ke sekeliling ruangan itu.Joane bangun dan mencoba untuk duduk. Otaknya sedang mencoba untuk berpikir dengan hal yang sebelumnya terjadi saat Ia memasuki rumah besar ini dari pintu belakang.Tiba-tiba pintu terbuka, Joane ketakutan dan naik ke atas tempat tidur lagi dan merapatkan tubuhnya ke sudut sambil memeluk lutut. Seraut wajah wanita yang sudah cukup renta terlihat di pintu yang sudah terbuka.Wanita tua itu perlahan mendekati ranjang Joane. Ia kemudian terkekeh melihat wajah Gadis yang ada di depannya itu menjadi pias dan pucat."Kemarilah, mendekatlah padaku. Jangan takut begitu, Aku ini bukan setan." katanya sambil mengulurkan tangannya. Joane belum bergeming dari tempatnya, Ia masih ragu dengan perkataan wanita tua itu."Namaku Nek Ishaq, ayo kemarilah. Lihatlah makanan ini. Kau pasti lapar kan?" dengan masih diliputi perasaaan takut, Jaone beringsut perl
Monster yang berwajah mengerikan itu semakin mendekati Joane. Dengan taring tajamnya, Ia seakan siap mencabik tubuh gadis yang masih sangat segar itu. Suaranya menggeram, cairan hijau yang kental terus menetes dari mulutnya yang bertaring."Jangaan,.....pergilah,.....ampuuunn." Joane mundur ketakutan dengan tubuh gemetaran. Tubuhnya serasa tak bertulang, lari pun sudah tak punya tenaga lagi."Beraninya Kau mengusikku,....tubuhmu akan menjadi santapanku, ha ha ha ha......" Monster itu semakin mendekat, Joane menutup wajahnya dan berteriak sekencang-kencangnya."Toloooooong,.....Siapapun tolong Akuuuuu.""Hey bocah, bangun! pagi-pagi sudah mengigau tak karuan. Ayo cepat bangun, dasar pemalas!" Joane tersentak kaget manakala Ia mendengar suara cetar Nek Ishaq ada di dekat telinganya. Dengan tongkatnya, Ia menggoyang-goyangkan tubuh Joane agar bangun."Nenek? Aku di mana Nek?" Joane duduk dan menatap ke sekelilingnya. Monster itu sudah tak ada di sana. Ia menatap jendelanya yang sudah ter
"Hey, bangun,.....ayo cepat bangun. Dasar penakut." Joane membuka matanya dan tersentak kaget, hampir saja Ia berteriak kalo saja Nek Ishaq tak segera mencubit pipinya."Hey, apa yang yang sudah Kau lakukan gadis nakal? bukankah sudah ku bilang, jangan naik ke lantai tiga hah!""Adduuhh Nek, maaf, ampun Nek. Sungguh Aku tidak sengaja naik ke sana." "Tidak sengaja apanya, jelas-jelas Kau sudah mengunjakkan kakimu di sana. Dan Kau sudah mengusik Monster itu.""Iya Nek, Aku,.....melihatnya Nek. Aduh ,tolong Aku Nek.....Aku tidak mau dimakan olehnya."Joane memeluk tubuh Nek Ishaq dengan erat sampai perempuan tua itu sesak nafas. Dengan tongkatnya, Ia memukul punggung Joane.PLETAKK"Auww Nek, sakit. Kenapa memukul punggungku."Joane merajuk. Sedangkan Nek Ishaq langsung menepis tubuh gadis itu."Salahmu sendiri, kenapa memelukku sangat erat. Aku hampir kelhilangan nafasku!""Maaf Nek, Aku takut Nek. Aku takut Monster itu akan mengejarku ke sini." Joane ketakutan dan mengarahkan tatapann
sampai hari ini Joane tak habis pikir dengan Tuan Pieter, pemilik rumah besar yang sekarang Ia tinggali. Ia tak pernah keluar rumah, setiap pagi Ia akan berangkat ke Kantor, dan sorenya sekitar jam empat sudah kembali lagi ke rumah. Setelah itu, Ia tak pernah keluar lagi dari lantai atas. Masalah makanan pun cukup diantarkan saja ke lantai atas dan di taruh di meja yang ada di depan kamarnya."Nek Tuan Pieter itu sebenarnya Siapa sih?" tanya Joane suatu ketika pada Nek Ishaq yang telah lama tinggal di rumah itu."Nanti Kau juga akan tahu. Yang penting, jangan sampai Kau membuatnya murka dengan segala kecerobohanmu." hanya itu jawaban yang Ia dengar dari nenek tua itu."Dan di rumah sebesar ini hanya ada Kita bertiga saja ya Nek.""Iya, Karena Tuan Pieter memang tidak suka kalo terlalu banyak orang. Berisik katanya." Joane semakin tidak mengerti dengan sikap dari Tuan Pieter. Bahkan sekalipun Ia tak pernah melihatnya tersenyum. Mukanya sangat kaku dan sikapnya juga sangat dingin. Tak p
Dengan perasaan yang penuh dengan tanda tanya, akhirnya Joane menaiki tangga menuju lantai tiga, tempat yang paling Ia takuti. Karena di sana merupakan tempat kediaman si Tuan dingin, yang tak pernah mau tersenyum. Bahkan bicara saja sangat sedikit, hanya yang penting-penting saja.Ketika sampai di lantai atas, Joane celingukan, dan akhirnya Ia bisa menemukan sosok dingin yang sedang duduk memegang tablet ditangannya, di sudut ruangan. Jika tidak teliti, maka posisinya tidak akan bisa dilihat. Apalagi semua cat dan interior yang ada di sana berwarna gelap.'Manusia macam apa yang bisa hidup di tempat seperti ini,' gumam Joane dalam hatinya."Kemarilah, kenapa hanya berdiri di situ?" heran juga Joane dengan sikap Tuan Pieter itu. Padahal Ia belum menatap ke arahnya sama sekali, tapi sudah tahu tentang kedatangannya. Maka, Joane pun melangkah mendekati Tuan Pieter dan setelah jaraknya hanya sepuluh langkah lagi, Joane berhenti dan duduk bersimpuh layaknya pelayan di hadapan Sang Raja."
"Dua tahun yang lalu, Tuan kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya."Dengan penuh seksama, Joane mendengarkan penuturan dari Nenek tua itu. Ternyata kisah hidup Tuan Pieter sangatlah tragis. Istri dan Putri kecilnya meninggal karena ulah dari orang yang menaruh dendam padanya.Sejak peristiwa itu, Ia menjadi pria yang sangat dingin. Bahkan Ia memutuskan untuk pindah dari rumahnya yang dulu, dan menetap di rumah yang sekarang ditempatinya. Namun, Ia juga lebih memilih untuk tidak bergaul dengan dunia luar. Meskipun setiap hari Ia selalu tetap bekerja di Kantor, namun itu hanya untuk urusan pekerjaan saja. Selebihnya, Ia hanya mengurung diri di dalam kamar dan ruang kerjanya. Ia juga tidak mengijinkan orang lain untuk tinggal di rumah besar itu selain Nek Ishaq, orang yang benar-benar sudah dipercayainya."Siaoa yang sudah membunuh Mereka Nek?" "Saingan bisnis Tuan tentunya.""Dan sampai sekarang Tuan lebih suka tinggal sendiri dan kesepian ya Nek." lanjut Joane lagi d
Seorang lelaki muda yang berparas tampan sedang duduk terpekur di sisi ranjang. Du depannya nampak sedsng terbaring tubuh seorang wanita yang sudah berumur dengan selang infus ditangannya."Kau, sejak kapan ada di sini. Bukankah seharusnya Kau bekerja di Kantor?" Pemuda itu menggeser kursinya agar lebih mendekat, dengan seulaa senyum Ia menggenggam tangan Sang Mama."Hari ini tidak ada rapat maupun pertemuan dengan klien Ma, makanya Aku bisa menemani Mama di sini." sahutnya dengan lembut."Mana Adikmu Luis. Apa Kau sudah berhasil menemukannya?" dengan nafas berat pemuda itu menggeleng. Setiap hari yang ditanyakan adalah Adiknya, yang sampai hari ini belum bisa ditemukan."Bagaimana keadaannya sekarang. Mama sangat cemas setiap hari memikirkan Adikmu itu.Semua ini karena Papamu yang keras kepala itu Luis.""Sudahlah Ma, jangan menyalahkan Papa terus-terusan." Luis sepertinya merasa keberatan kalo Mamanya selalu menyalahkan Papanya yang telah membuat keputusan besar untuk Joane."Mama
"Nek, apa Aku salah kalo berpikir Tuanlah yang telah memakan Mie Instanku kemarin malam?"dengan setengah berbisik Joane bertanya tentang masalah yang sampai sekarang belum bisa Ia temukan Siapa sebenarnya yang telah menghabiskan Mie nya."Ish, jaga bicaramu itu Jo. Jangan menuduh sembarangan, itu namanya fitnah. Asal kamu tahu Jo, kalo Tuan itu tidak boleh makan Mie insfan. Ada masalah dengan lambungnya,""Tapi, di rumah ini kan cuma ada Kita bertiga Nek. Atau jangan-jangan Nenek yang memakannya."PLETAAKKKKCentong yang ada ditangan Nenek tua itu langsung mendarat di kepala Joane."'Auuwww Nek, sakit. Iya maaf, Aku kan cuma bercanda. Kenapa memukulku dengan centong?"Nek Ishaq terkekeh, melihat gadis itu merajuk."Makanya jangan asal tuduh. Di pukul baru tahu rasa Kamu Jo," "Habisnya, Aku sangat penasaran siapa yang telah memakannya dengan diam-diam tanpa ijin dariku.""Siapa tahu di makan tikus Jo.""Selama Aku tinggal di sini, rasanya belum pernah sekalipun Aku melihat seorang ti
Tuan Pieter melangkah masuk, kemudian menarik tangan Joane yang masih duduk di sisi Mamanya."Ikut Aku pulang!" "Iya Tuan, Saya akan ikut pulang. Tapi tolong beri Saya sedikit waktu lagi untuk menjelaskan pada Mama Saya.""Kenapa Anda bersikap begitu pada adik Saya Tuan..Siapa Anda, kenapa terlalu menekannya begitu..Jangan-jangan Anda ini seorang pen.....""Karena Dia adalah pembantuku, dan Dia sudah terikat perjanjian denganku." Jawab Tuan Pieter dengan wajah datar."Tuan, tolong,....biarkan Dia pulang bersamaku karena Joane adalah putriku." Nyonya Wilson menghiba pada Tuan Pieter agar tidak membawa putrinya. Kini Joane yang kebingungan sendiri, akankah ikut pulang ke rumah atau ikut pulang bersama Majikannya itu."Tuan, beri waktu Saya sebentar untuk bicara dengan Mereka." "Lima menit, waktumu hanya lima menit." ucap Tuan Pieter dan membalikkan badan melangkah ke pintu dan menunggu Joane di depan kamar."Ma, Kakak, maafkan Aku. Bukannya Aku tidak sayang sama Kalian. Tapi Tuan Piet
Joane cuma bisa duduk termenung sendirian di sisi ranjang menemani Majikannya. Sudah hampir satu jam Ia Menunggui Tuan Pieter, karena Nek Ishaq sudah pulang duluan. Lagi pula memang tidak boleh ada dua orang yang menunggui pasien.'Siapa yang sedang sakit ya?' sedari tadi Joane sebenarnya merasa gelisah. Begitu Ia melihat Clara di rumah sakit itu juga, Ia jadi penasaran siapa sebenarnya yang sedang bersama Clara.Joane bangkit dan berdiri dibdepan kaca..Ia menyingkap tirai jendela dan mengintip ke luar.Ingin sekali Ia keluar dan bertanya, tapi bagaimana dengan Tuan Pieter nanti. Dia pasti akan marah jika tahu ditinggal sendiri. Akhirnya Ia duduk lagi di samping ranjang Tuannya. Meskipun pikirannya masih gelisah. Jadinya duduk pun tak merasa senang."Berisik sekali Kau. Duduk saja tidak bisa tenang!"Joane kaget mendengar suara sarkas itu. "Tuan,....maaf, Saya kira Anda belum sadarkan diri.""Ambilkan Aku minum." perintah Tuan Pieter pada gadis itu."Ini Tuan." Jaone mengulurkan sebo
"Nek, apa Aku salah kalo berpikir Tuanlah yang telah memakan Mie Instanku kemarin malam?"dengan setengah berbisik Joane bertanya tentang masalah yang sampai sekarang belum bisa Ia temukan Siapa sebenarnya yang telah menghabiskan Mie nya."Ish, jaga bicaramu itu Jo. Jangan menuduh sembarangan, itu namanya fitnah. Asal kamu tahu Jo, kalo Tuan itu tidak boleh makan Mie insfan. Ada masalah dengan lambungnya,""Tapi, di rumah ini kan cuma ada Kita bertiga Nek. Atau jangan-jangan Nenek yang memakannya."PLETAAKKKKCentong yang ada ditangan Nenek tua itu langsung mendarat di kepala Joane."'Auuwww Nek, sakit. Iya maaf, Aku kan cuma bercanda. Kenapa memukulku dengan centong?"Nek Ishaq terkekeh, melihat gadis itu merajuk."Makanya jangan asal tuduh. Di pukul baru tahu rasa Kamu Jo," "Habisnya, Aku sangat penasaran siapa yang telah memakannya dengan diam-diam tanpa ijin dariku.""Siapa tahu di makan tikus Jo.""Selama Aku tinggal di sini, rasanya belum pernah sekalipun Aku melihat seorang ti
Seorang lelaki muda yang berparas tampan sedang duduk terpekur di sisi ranjang. Du depannya nampak sedsng terbaring tubuh seorang wanita yang sudah berumur dengan selang infus ditangannya."Kau, sejak kapan ada di sini. Bukankah seharusnya Kau bekerja di Kantor?" Pemuda itu menggeser kursinya agar lebih mendekat, dengan seulaa senyum Ia menggenggam tangan Sang Mama."Hari ini tidak ada rapat maupun pertemuan dengan klien Ma, makanya Aku bisa menemani Mama di sini." sahutnya dengan lembut."Mana Adikmu Luis. Apa Kau sudah berhasil menemukannya?" dengan nafas berat pemuda itu menggeleng. Setiap hari yang ditanyakan adalah Adiknya, yang sampai hari ini belum bisa ditemukan."Bagaimana keadaannya sekarang. Mama sangat cemas setiap hari memikirkan Adikmu itu.Semua ini karena Papamu yang keras kepala itu Luis.""Sudahlah Ma, jangan menyalahkan Papa terus-terusan." Luis sepertinya merasa keberatan kalo Mamanya selalu menyalahkan Papanya yang telah membuat keputusan besar untuk Joane."Mama
"Dua tahun yang lalu, Tuan kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya."Dengan penuh seksama, Joane mendengarkan penuturan dari Nenek tua itu. Ternyata kisah hidup Tuan Pieter sangatlah tragis. Istri dan Putri kecilnya meninggal karena ulah dari orang yang menaruh dendam padanya.Sejak peristiwa itu, Ia menjadi pria yang sangat dingin. Bahkan Ia memutuskan untuk pindah dari rumahnya yang dulu, dan menetap di rumah yang sekarang ditempatinya. Namun, Ia juga lebih memilih untuk tidak bergaul dengan dunia luar. Meskipun setiap hari Ia selalu tetap bekerja di Kantor, namun itu hanya untuk urusan pekerjaan saja. Selebihnya, Ia hanya mengurung diri di dalam kamar dan ruang kerjanya. Ia juga tidak mengijinkan orang lain untuk tinggal di rumah besar itu selain Nek Ishaq, orang yang benar-benar sudah dipercayainya."Siaoa yang sudah membunuh Mereka Nek?" "Saingan bisnis Tuan tentunya.""Dan sampai sekarang Tuan lebih suka tinggal sendiri dan kesepian ya Nek." lanjut Joane lagi d
Dengan perasaan yang penuh dengan tanda tanya, akhirnya Joane menaiki tangga menuju lantai tiga, tempat yang paling Ia takuti. Karena di sana merupakan tempat kediaman si Tuan dingin, yang tak pernah mau tersenyum. Bahkan bicara saja sangat sedikit, hanya yang penting-penting saja.Ketika sampai di lantai atas, Joane celingukan, dan akhirnya Ia bisa menemukan sosok dingin yang sedang duduk memegang tablet ditangannya, di sudut ruangan. Jika tidak teliti, maka posisinya tidak akan bisa dilihat. Apalagi semua cat dan interior yang ada di sana berwarna gelap.'Manusia macam apa yang bisa hidup di tempat seperti ini,' gumam Joane dalam hatinya."Kemarilah, kenapa hanya berdiri di situ?" heran juga Joane dengan sikap Tuan Pieter itu. Padahal Ia belum menatap ke arahnya sama sekali, tapi sudah tahu tentang kedatangannya. Maka, Joane pun melangkah mendekati Tuan Pieter dan setelah jaraknya hanya sepuluh langkah lagi, Joane berhenti dan duduk bersimpuh layaknya pelayan di hadapan Sang Raja."
sampai hari ini Joane tak habis pikir dengan Tuan Pieter, pemilik rumah besar yang sekarang Ia tinggali. Ia tak pernah keluar rumah, setiap pagi Ia akan berangkat ke Kantor, dan sorenya sekitar jam empat sudah kembali lagi ke rumah. Setelah itu, Ia tak pernah keluar lagi dari lantai atas. Masalah makanan pun cukup diantarkan saja ke lantai atas dan di taruh di meja yang ada di depan kamarnya."Nek Tuan Pieter itu sebenarnya Siapa sih?" tanya Joane suatu ketika pada Nek Ishaq yang telah lama tinggal di rumah itu."Nanti Kau juga akan tahu. Yang penting, jangan sampai Kau membuatnya murka dengan segala kecerobohanmu." hanya itu jawaban yang Ia dengar dari nenek tua itu."Dan di rumah sebesar ini hanya ada Kita bertiga saja ya Nek.""Iya, Karena Tuan Pieter memang tidak suka kalo terlalu banyak orang. Berisik katanya." Joane semakin tidak mengerti dengan sikap dari Tuan Pieter. Bahkan sekalipun Ia tak pernah melihatnya tersenyum. Mukanya sangat kaku dan sikapnya juga sangat dingin. Tak p
"Hey, bangun,.....ayo cepat bangun. Dasar penakut." Joane membuka matanya dan tersentak kaget, hampir saja Ia berteriak kalo saja Nek Ishaq tak segera mencubit pipinya."Hey, apa yang yang sudah Kau lakukan gadis nakal? bukankah sudah ku bilang, jangan naik ke lantai tiga hah!""Adduuhh Nek, maaf, ampun Nek. Sungguh Aku tidak sengaja naik ke sana." "Tidak sengaja apanya, jelas-jelas Kau sudah mengunjakkan kakimu di sana. Dan Kau sudah mengusik Monster itu.""Iya Nek, Aku,.....melihatnya Nek. Aduh ,tolong Aku Nek.....Aku tidak mau dimakan olehnya."Joane memeluk tubuh Nek Ishaq dengan erat sampai perempuan tua itu sesak nafas. Dengan tongkatnya, Ia memukul punggung Joane.PLETAKK"Auww Nek, sakit. Kenapa memukul punggungku."Joane merajuk. Sedangkan Nek Ishaq langsung menepis tubuh gadis itu."Salahmu sendiri, kenapa memelukku sangat erat. Aku hampir kelhilangan nafasku!""Maaf Nek, Aku takut Nek. Aku takut Monster itu akan mengejarku ke sini." Joane ketakutan dan mengarahkan tatapann
Monster yang berwajah mengerikan itu semakin mendekati Joane. Dengan taring tajamnya, Ia seakan siap mencabik tubuh gadis yang masih sangat segar itu. Suaranya menggeram, cairan hijau yang kental terus menetes dari mulutnya yang bertaring."Jangaan,.....pergilah,.....ampuuunn." Joane mundur ketakutan dengan tubuh gemetaran. Tubuhnya serasa tak bertulang, lari pun sudah tak punya tenaga lagi."Beraninya Kau mengusikku,....tubuhmu akan menjadi santapanku, ha ha ha ha......" Monster itu semakin mendekat, Joane menutup wajahnya dan berteriak sekencang-kencangnya."Toloooooong,.....Siapapun tolong Akuuuuu.""Hey bocah, bangun! pagi-pagi sudah mengigau tak karuan. Ayo cepat bangun, dasar pemalas!" Joane tersentak kaget manakala Ia mendengar suara cetar Nek Ishaq ada di dekat telinganya. Dengan tongkatnya, Ia menggoyang-goyangkan tubuh Joane agar bangun."Nenek? Aku di mana Nek?" Joane duduk dan menatap ke sekelilingnya. Monster itu sudah tak ada di sana. Ia menatap jendelanya yang sudah ter