Di negara berkembang seperti Indonesia, sangat tidak diperbolehkan untuk menyewa rahim seorang wanita dengan alasan yang kuat dan dilindungi dalam undang-undang pernikahan. Sangat berbeda sudut pandang jika berada di negara maju seperti Australia, Jerman, dan belahan dunia lainnya. Akan tetapi, banyak orang mempertanyakan kenapa justru pernikahan sirih bahkan perselingkuhan semakin marak di negara berkembang tersebut. Jawabannya hanyalah entahlah, begitu buruk pola pikir para suami yang enggan menjaga komitmen pernikahan mereka dengan berbagai macam alasan yang dilontarkan sehingga secara sadar menyakiti perasaan seorang istri. Kini, Reymond harus menempuh cara seperti ini hanya untuk membahagiakan Merry yang menginginkan baby semenjak dua tahun pernikahan mereka. Tidak banyak, orang-orang seperti Reymond yang mau membayar rahim seorang janda senilai dua belas digit tersebut. Baginya kini, bukan masalah, membahagiakan seorang istri akan membuka pintu rezeki untuk bisnisnya sebagai
Darin terbaring didalam kamar VIP rumah sakit Blacktown Hospital Sydney, dengan air mata mengalir disudut matanya. Entah apa yang ia rasakan saat ini, ketika merasa linu dibagian pangkal pahanya setelah melakukan pemeriksaan. Lagi-lagi Darin terkenang sosok suami pertamanya, bergumam dalam hati, "Jika kamu masih hidup, mungkin aku tidak akan pernah menghadapi pahitnya kehidupan ini. Kenapa kecelakaan itu harus terjadi, kala kita baru saja menikah, Delon. Bahkan aku harus melakukan cara ini untuk menyelamatkan putri kesayanganku dari orang yang telah menabrak mu, sayang ..." Ya, pernikahan pertama Darin dengan Delon yang masih berusia satu hari beberapa waktu lalu, harus direnggut paksa oleh takdir setelah pemberkatan pernikahan mereka ketika ia masih berusia 20 tahun tepat dihalaman gedung gereja, ketika Bima yang tak bisa mengendalikan kecepatan kendaraannya dalam keadaan emosi serta pengaruh alkohol kala itu. Bima tidak mampu mengendalikan arah stir kemudinya, seketika langsung m
Jantung Darin berdegup lebih cepat ketika kedua netra itu lagi-lagi saling bertemu. Tampak wajah Reymond yang sangat tampan, mampu memberikan ketenangan bagi wanita kesepian sepertinya. Akan tetapi, ketika mereka akan memasuki mobil SUV milik Reymond yang sudah berada di loby, terdengar suara mantan suami Darin dari arah belakang mereka. "Reymond, Darin," sapa Bima dengan raut wajah sedikit kebingungan karena mencari keberadaan istri pria bule tersebut. Reymond yang sangat mengenal siapa Bima, menoleh kearah pria oriental itu tanpa perasaan sungkan ataupun bersalah sambil berkata dengan angkuhnya, "Hei, bukankah kau tidak akan menemui putrimu, bro? Karina ada diruangan ICU bersama istriku. Jika kau ingin bertemu dengannya, silahkan. Karena aku akan membawa Darin kekediaman ku, permisi!" Melihat Reymond akan berlalu meninggalkannya begitu saja, membuat Bima tersulut emosi karena perasaan curiga juga cemburu, "Apakah kau akan tinggal bersama mantan istriku? What the hell, Rey! Come o
Tidak mengacuhkan ucapan Darin yang tampak gugup ketika Reymond mengusap lembut serta mencium perutnya dengan penuh kasih sayang, pria gagah dan mapan itu tertawa kecil. Reymond juga tidak sungkan untuk terus mengusap lembut perut janda cantik tersebut tanpa perasaan canggung. Entahlah, kali ini Reymond hanya mengikuti saran Dokter Frans, sebagai spesialis dokter pilihannya agar memberikan kenyamanan juga kebahagiaan bagi wanita yang tengah mengandung benihnya. Kembali terdengar suara Darin yang tak mampu menahan rasa geli, karena merasa tergelitik oleh ulah Reymond, "Tu-tuan, please. Anda harus kembali ke rumah sakit, karena Nyonya Merry sedang menunggu Anda di sana. Saya harus istirahat, Tuan." Perlahan Reymond mendongakkan kepalanya, kembali mengalihkan pandangannya kearah Darin yang tak kuasa menahan malu atas perbuatan pria berstatus suami orang ini, "Maafkan aku, Darin. Mulai saat ini, kamu panggil aku Rey saja. Jangan Tuan, karena kamu bukan karyawan hotel lagi melainkan kam
Mendengar penuturan Darin yang merasa tidak yakin metode IVF mereka akan berhasil, membuat Reymond melirik kearah Merry dengan menelan ludahnya berkali-kali. Bagaimana tidak panik, mereka berdua sudah berkali-kali menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan keturunan, akan tetapi tidak pernah berhasil. Reymond berusaha untuk tetap menjaga perasaan Merry agar tidak terpikir oleh sang istri, apa yang diucapkan Darin barusan. "Kita lagi berusaha, jika memang tidak berhasil, mungkin kita akan memikirkan cara yang lebih baik lagi," titahnya sambil menggenggam erat jemari Merry yang berada diatas meja makan. Akan tetapi, Merry langsung menundukkan wajahnya, tersirat kesedihan yang dalam akan ucapan yang baru keluar dari bibir Darin. "Honey, jika metode kita ini gagal, aku mengizinkan kamu untuk menikah dengan Darin. Yang penting kita harus memiliki anak, hun," tunduknya dengan mata berkaca-kaca. Darin mengerjabkan kedua bola matanya, ia tidak menyangka bahwa ucapannya terlalu menya
Wajah Darin sedikit meringis, menahan rasa ngilu yang semakin menyesakkan dibawah sana, ketika Dokter Frans melakukan tindakannya dengan sangat hati-hati. Akan tetapi, Reymond masih berdiri disisinya membuat ia hanya bisa mencium aroma wangi parfum mewah yang menguar menusuk hidungnya. Sehingga melupakan rasa ngilu yang semakin kuat mengacak-acak bagian intinya. Darin menghela nafas dalam, "Hufhh ..." Lagi-lagi ia meringis, membuat Reymond langsung mendekatkan wajahnya kearah janda beranak satu tersebut. Reymond berbisik ketelinga Darin, "Maafkan aku, Darin. Aku akan terus mendampingi mu," tuturnya untuk memberikan kekuatan membuat janda satu anak itu semakin gelisah, serta melirik kearah Merry yang berada dibalik tirai penghalang ruangan Dokter Frans agar tidak terlihat dari arah luar. Entah mengapa, ada perasaan cemburu dalam hati Merry, ketika menyaksikan sang suami begitu dekat dengan Darin. Dadanya seakan-akan bergemuruh, jantungnya berdegup kencang, bahkan kepalanya semakin
Matahari bersinar terang, menyapa penthouse yang sedikit berbeda diarea Blacktown Hospital Sydney. Tidak ada suara orang berbicara, tak ada tanda-tanda bahwa suasana tengah berada di sebuah rumah sakit. Yang kini hanya terasa bentuk kemewahan dan kenyamanan tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Sejak bertemu dengan Bima dan Sandra satu minggu yang lalu, membuat Darin semakin tampak tengah menelan satu kekecewaan. Bagaimana tidak, pria yang belum menggugatnya selama dua tahun perpisahan mereka, harus membawa sang kekasih menemui Dokter Frans ketika mereka telah selesai melakukan pemeriksaan. Hancur, sakit, ketika Darin berpapasan dengan Bima membawa Sandra dengan wajah yang tampak serba salah. Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang menari-nari dalam benak mereka berdua, ketika saling berpapasan. Tidak ada senyuman, ataupun tegur sapa yang berarti kala itu. Hanya pikiran-pikiran negatif yang ada dalam benak Bima untuk sang mantan istri, begitu juga sebaliknya. Darin mengerjabkan
Mendengar suara Dokter Frans dan kepanikan beberapa suster dari dalam kamar, Merry berjalan tertatih berusaha keluar dari kamar miliknya, hanya untuk memastikan kondisi penthouse yang berada dilantai 20 Blacktown Hospital Sydney baik-baik saja. "Ada apa ini, kenapa semua terdengar seperti tengah panik ..." Merry berjalan menuju pintu kamar, kemudian membuka kenop pintu, dan melongokkan wajahnya keluar kamar dengan nafas sedikit berat, "Honey, honey!" Ia terus mencari keberadaan Reymond yang tidak tampak puncak hidungnya. Salah seorang pelayan menghampiri Merry, seraya bertanya, "Nyonya Merry, apakah Anda akan berjalan menuju kamar, Nyonya Darin? Karena hmm ... eee ... Nyonya Darin mengalami pendarahan. Saat ini tengah dilakukan tindakan." Mendengar penjelasan tentang Darin mengalami pendarahan, jantung Merry berdebar kencang. Ia takut, jika janda cantik yang tengah mengandung anaknya tersebut mengalami keguguran seperti kebanyakan ibu-ibu mengandung pada trimester pertama. Tangan M
Sudah lebih dari satu minggu Reymond berada di kota metropolitan bersama Darin yang tengah menata management hotel. Tidak ada firasat yang berarti bagi keduanya, ditambah Karina sudah merasa nyaman berada di sekolah yang baru. "Ingat, jangan lupa untuk makan, makanan yang sehat ... kamu masih dalam proses penyembuhan!" tegas Darin sebelum melepas kepergian putri kesayangannya menuju sekolah internasional yang tidak jauh dari hotel mereka. Karina mengangguk mengerti, sedikit melirik ke arah Reymond yang masih di sibukkan dengan beberapa kegiatan. "Mi, hari ini aku akan bertemu dengan Daddy. Kemarin aku menemuinya di parkiran hotel kita, tapi ... hmm ..." Cepat Darin menepis semua ucapan Karina, karena tidak ingin mendengar nama mantan suaminya di sebut oleh sang putri, "Please ... jangan pernah membahas Daddy di sini. Di kediaman kita, karena Mami telah memiliki kehidupan bersama Rey!" tegasnya membuat putri kecilnya mengangguk patuh. "Baiklah, Mi. Aku berangkat dulu." Karina menge
Dua insan terlarut dalam manisnya cinta atas dasar perselingkuhan karena perasaan nyaman. Reymond yang sejak awal tidak ingin melepaskan Darin, seketika berubah memperjuangkan sang janda demi mendapatkan anak yang sempurna tanpa harus menikahi janda dua triliun tersebut, karena tidak ingin menyakiti Merry sebagai istri sahnya. Peluh mengucur deras membasahi tubuh dua insan yang tampak mengkilap, membuat Darin mendekap tubuh pria itu ketika mencapai puncak kenikmatan mereka berdua secara bersamaan. Dengan nafas masih memburu, Darin yang merasa sudah merasa tenang saat ini, tampak lebih menikmati hidupnya sebagai menjadi yang kedua bagi Reymond. "Aku mencintaimu, Rey, jangan pernah tinggalkan aku, karena aku benar-benar mencintaimu," tuturnya lembut ketika melepaskan penyatuan mereka. Tampak senyuman indah diujung bibir Reymond, ia langsung menoleh kearah Darin yang langsung merebahkan tubuhnya di lengan pria pujaannya, hanya menjawab, "I love you too, Darin, tidurlah," kecupnya lemb
Kedua netra itu lagi-lagi bertemu, hanya untuk sekedar meyakinkan hati mereka berdua. Dalam benak Reymond merutuki kebodohannya sendiri karena telah salah memberikan hadiah beberapa hari lalu untuk Darin sebagai kado ulang tahunnya. Sementara dalam benak Merry, apa ini serba kebetulan, kenapa Reymond tampak lebih tenang menghadapi semua ini, kemudian bergegas Reymond mengomeli pihak toko perhiasan dihadapan sang istri melalui panggilan telepon. Kembali Reymond menoleh kearah Merry, mengecup lembut kening sang istri seraya berkata, "Maafkan aku, sayang. Pukul sepuluh nanti pihak toko perhiasan akan mengganti liontin berlian ini, dengan inisial namamu. Sekali lagi maafkan aku," tunduknya sambil memeluk tubuh ramping sang istri dari arah belakang dengan mata tertutup. Merry mendekap erat lengan Reymond yang memeluknya, menikmati hangatnya tangan sang suami penuh kerinduan, "Kamu terlalu lelah, honey. Aku harap kamu selalu menjaga kesehatan, jangan lupa jika kamu tiba di Singapura hubu
Malam semakin sejuk, malam yang indah bagi Darin dengan adanya kehadiran Reymond walau harus mengejutkan tanpa harus berkabar. Pria bule nan gagah itu tak melepaskan tangannya dari tubuh Darin, ia benar-benar ingin membahagiakan janda satu anak itu, tanpa diganggu oleh siapapun termasuk Merry. Reymond sengaja menonaktifkan gawai miliknya ketika memasuki gedung apartemen yang berada dilantai tiga tersebut, hanya untuk memberikan satu kejutan istimewa untuk wanita pujaan hatinya. "Rey, pulanglah ... jangan buat aku menjadi serba salah karena kamu menghabiskan waktu bersama ku," elaknya ketika merasakan gelagat pria itu semakin menjadi, ketika mengecupnya penuh damba. "Please Darin ... aku benar-benar jatuh hati padamu, aku tidak ingin melihatmu menjauh dariku. Satu tahun kita bersama, rasanya aku tidak ingin jauh lagi," ia kembali mengecup lembut bibir wanita yang masih berdiri dihadapannya. Lagi-lagi Darin menolak, "Apa yang kamu inginkan? Apakah kamu menginginkan aku mengembalikan
Siang yang cerah, namun tidak secerah perasaan Merry, karena tidak menyangka bahwa Reymond lebih memilih untuk tetap tinggal di apartemen mereka bersama Darin, dibandingkan mengejarnya sebagai seorang istri sah. Ia masih terduduk dikursi taman, melihat-lihat suasana yang tidak begitu ramai. Membayangkan wajah cantik Caroline yang akan menjadi istri sesuai pilihan keluarga besar sang suami. "Ogh Tuhan, bagaimana jika keluarga Reymond mengetahui bahwa putra kami mengalami kebutaan juga gangguan pendengaran serta tidak dapat bicara? Apa yang harus aku katakan kepada mereka, apakah mereka akan tetap menikahkan suamiku dengan wanita itu ...?" Ia menundukkan pandangannya, karena tidak ingin siapapun yang menyaksikan kesedihan hatinya saat ini. Akan demikian, ketika Merry terlarut dalam suasana hati yang masih berkecamuk, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara wanita yang sangat dikenalinya. "Bisakah kita bicara berdua?" sapa Darin tanpa perasaan sungkan. Merry sedikit terlonjak kemudian m
Satu bulan berlalu, Merry terlalu fokus merawat buah hati yang dilahirkan oleh Darin dengan penuh perasaan sayang, walau masih menyimpan rasa kekecewaan yang dalam terhadap Reymond. Akan tetapi ia merasa memiliki tujuan untuk tetap merawat Baby Kevin dengan penuh perhatian. Sementara Darin masih proses pemulihan pasca operasi, dengan memberikan asi eksklusif kepada sang putra yang mengalami kebutaan serta tuna wicara dan tidak dapat mendengar tersebut. Tidak sedikitpun dari mereka berdua mengurangi semangat untuk menunjukkan bahwa mereka menjadi ibu terbaik dihadapan Reymond, demi pertumbuhan sang buah hati. Entahlah kini keduanya seperti tengah berjuang demi Baby Kevin atau justru menarik simpati pria bule bermata biru tersebut. Perlahan Darin menghampiri Merry di dalam kamar bayi, untuk memberikan asi pada baby mungil yang baru berusia satu bulan tersebut. Dengan nada lembut, ia menoleh kearah Merry yang sangat memperlakukan sang putra sangat telaten, "Merry, biar saya menyusuinya
Sudah lebih dari dua hari mereka berdua berada di rumah sakit. Tidak ada tanda-tanda pemulihan yang berarti dari bayi mereka juga Darin yang masih terbaring lemah di ruang ICU. Tangan Reymond masih terus menggenggam jemari Darin, hanya untuk sekedar memastikan bahwa wanita berstatus janda itu tidak sendirian. Sementara Merry masih berada di ruang NICU untuk menemani sang bayi yang dinyatakan tidak bisa melihat. Bayi berjenis kelamin laki-laki yang diberi nama Kevin Claire Jones itu ternyata mengalami kebutaan yang di vonis permanen karena sesuatu hal tidak dapat di uraikan secara detail. Hati wanita mana yang tidak akan hancur, ketika mendengar dokter anak mengatakan bahwa putra mereka tidak bisa merespon cahaya ketika melakukan pemeriksaan, ditambah tidak bisa mengeluarkan suara seperti bayi lainnya. Merry duduk dikursi sebelah incubator, matanya berkaca-kaca ketika melihat tangan dan kaki itu bergerak cepat kesembarang arah, memberikan respon bahwa bayi itu baik-baik saja dalam
Setelah menyaksikan sang suami membawa Darin ke rumah sakit bersama Richard, tanpa menghiraukan perasaan Merry sebagai istri sah, lagi-lagi ia dikejutkan dengan sosok Bima yang sudah berdiri dihadapannya. Gegas Merry bertanya, karena perasaan penasaran, "Bima? Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah, kamu berada di Sydney?" Dengan angkuh Bima menyunggingkan senyuman lirih, ia tidak menyangka akan berhadapan dengan wanita seperti Merry, "Jawab aku, apakah kau membiarkan Reymond tidur dengan Darin? Bukankah kau tahu Darin itu masih belum resmi bercerai dariku?"Akan tetapi, Merry langsung menjawab pertanyaan Bima dengan nada tegas, "Bukan urusan mu, Tuan Bima. Aku rasa lebih pantas suamiku tidur dengan Darin, dibandingkan wanita yang berdiri di belakangmu saat ini!" tukasnya, langsung meninggalkan restoran apartemen. Entah mengapa, walau sesungguhnya hati Merry hancur karena kejujuran Reymond yang jatuh cinta kepada Darin, ia tidak memperdulikan dibandingkan harus berhadapan dengan g
Mendengar ucapan seperti itu dari Richard, membuat Darin langsung menarik tangan pria yang berstatuskan duda tersebut, agar menjauh dari sang mantan suami sambil mengancam pria oriental itu, "Jangan pernah menggangu hidup ku lagi!" Ia menoleh kearah Caroline yang tampak shock karena keributan dua pria itu, mengeluarkan ucapan tegas, "Jika calon suami yang kamu maksud itu adalah Reymond, saat ini dia sedang berbahagia bersama istrinya!" Bima menggeleng tidak percaya, ia sama sekali tidak terima bahwa sang istri akan mendapatkan penggantinya lebih cepat, ditambah kondisi Darin yang tengah hamil besar. Kembali ia berteriak untuk menghentikan langkah janda satu anak itu, "Sampai kapan pun, kamu tidak akan pernah menikah Darin, karena aku tidak akan mengajukannya!" Lagi-lagi Darin dibuat kesal oleh pria yang pernah menghabiskan masa pernikahan mereka selama sepuluh tahun lebih, "Jika kamu tidak mau mengurusnya, maka aku yang akan melakukannya, Bima Lee Seung!" Gegas Darin meninggalkan t