Share

Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku
Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku
Author: Perarenita

Malam Suram

Author: Perarenita
last update Huling Na-update: 2025-01-12 07:17:04

"Sebentar lagi usia kandunganku 7 bulan, Mas. Apa kamu belum bisa pulang juga?" tanya Rosa yang kini duduk di depan jendela menikmati udara malam.

["Akan Mas usahakan, Sayang. Mas pasti pulang, tapi tidak sekarang,"] jawab Hasan dari seberang sana.  

Sejak istrinya hamil 2 minggu, ia sudah pergi melakukan perjalanan bisnis ke Padang. Karena yang di kelolanya sekarang adalah anak perusahaan yang pertama, jadi Hasan membutuhkan waktu yang lama untuk mengembangkan cabang Nuansa (ada di season 1 asal-usul Nuansa.) Mereka selalu bertukar kabar lewat panggilan vidio. Siang malam, siang malam datang silih berganti hingga sekarang tak terasa 7 bulan waktu telah berlalu. 

"Apa tidak bisa di serahkan dulu sama yang lain? Ini penting, Mas. Acara anak pertama kita, lo. Papah aja pulang, meski dia sedang di eropa." 

"Iya, iya ... Sayang, insyaallah ya. Akan Mas usahakan." 

"Dari kemarin jawabamu itu-itu mulu, Mas! Bosen aku dengarnya!" rajuk Rosa, bibirnya cemberut memenuhi layar ponsel suaminya. 

Lelaki itu menjadi gemas, rindu, semua bercampur menjadi satu. Namun, saat ini ada hal yang membuatnya tak bisa meninggalkan Padang. Bukan hanya sekedar anak perusahaan yang baru di bangun, akan tetapi ... ada tamu yang tak di undang yang mengharuskannya untuk tetap berada di sana.

"Emuach," kata Hasan, ia hanya bisa melakukan sun jauh untuk menenangkan sang istri. Seperti biasa, wanita itu akan luluh, dan berhenti merengek. Akan tetapi tidak berlaku untuk malam ini. Rosa, dia semakin jadi melipat wajahnya, sepertinya rasa rindu sudah tak bisa di tahannya lagi. 

"Aku ngantuk, Mas. Sudah dulu," ucap Rosa, tanpa menunggu jawaban ia langsung mematikan panggilan itu secara sepihak. 

Tut ... Tut ... Tut ....

"Iya-iya-iya-iya aja terus dari kemarin!" omelnya seraya menutup jendela dan bergegas naik ke tempat tidur menyusul keponakannya yang sudah terlelap sejak tadi. Gadis itu adalah Chika, anak dari kakak suaminya. 

Ponsel Rosa bergetar, memberi tanda bahwa ada satu pesan masuk. Sekilas ia melihat nama si pengirim, dan isi dari pesan tersebut, 'Maafkan Mas, Sayang. Mas janji akan cepat pulang,' ucapnya dalam hati membaca pesan  yang ternyata dari sang suami. Tak ada niat untuk membalas, Rosa kembali meletakkan ponselnya di nakas, lalu mematikan lampu bersiap untuk tidur. Sunyi ... Rosa pun mulai berlabuh ke alam mimpi. 

Pyarrrrr! 

"Astagfirullah," ibu hamil itu langsung membuka kedua matanya kala mendengar benda terjatuh di kamarnya, "eummm, apa itu?" gumamnya sendiri. 

Ia pun menyalakan lampu, dan melihat ke sekeliling takut bila suara itu berasal dari jendela atau ada maling yang masuk menerobos rumahnya, "jam 1 malem," lirihnya. Rosa pun turun dari tempat tidur. 

Degh. 

Tubuhnya mematung kala melihat bingkai yang berisi foto pernikahannya tergeletak di lantai, jadi suara benda terjatuh tadi berasal dari sana. Namun, bukan pecahan kaca atau hancurnya bingkai itu yang membuatnya jadi mematung, melainkan arti dari jatuhnya benda tersebut. 

"Astagfirullah," Rosa meraba perutnya yang terasa keram, berulang kali ia menarik nafas guna mencari ketenangan di dalam dirinya, "huffff ... huffff ... huffff. Ya allah, lindungi keluarag hamba," lirihnya lagi.  

Perlahan tapi pasti, kakinya mulai melangkah mendekati serpihan kaca yang sudah tak lagi berbentuk. Rosa mengambil kertas yang masih melekat di bingkai yang berwarna hitam itu. Senyum bahagia jelas terukir di sana. Foto pernikahan yang di ambil saat satu tahun yang lalu. Meskipun awalnya mereka menikah karna terpaksa. Namun, Rosa begitu yakin bahwa ikrar suci yang di ucapkan oleh lelaki pilihan Papahnya, itu sungguh tulus, dan tak mungkin ternodai. Akan tetapi, kejadian malam ini membuat hatinya menjadi risau. Yang Rosa tahu, bila bingkai foto apalagi foto pernikahan tiba-tiba terjatuh itu menandakan pertanda buruk akan terjadi, tetapi ia tak tahu kejadian buruk apa yang akan menimpa dirinya. Rosa hanya mampu berserah diri pada sang pencipta. 

Tak ingin berprasangka buruk, wanita 36 tahun itu bergegas menyimpan foto pernikahannya, dan membersihkan serpihan kaca, lalu mengambil wudhu bersiap untuk melakukan sholat malam. Ia tak ingin terus di hantui oleh pikiran buruk, mengingat sang suami yang hampir 7 bulan tak kunjung pulang. 

"Assalamualaikum warahmatulahiwabarakatuh." 

"Assalamualaikum warahmatulahiwabarakatuh." 

Selesai tahiyat akhir, Rosa menumpahkan segala keluh kesahnya. Segala hal buruk yang menghantui pikirannya, ingin ia ceritakan pada sang pemilik nadi. Tenang, ia hanya ingin tenang, dan damai meski sebenarnya ia pun gelisah.  

"Aku percaya padamu, Mas. Kamu tidak mungkin bermain di belakangku," gumam Rosa sebelum menutup mata, dan kembali berlabuh ke alam mimpi. 

"Bismillahirrahmanirrahim," setelah selesai melakukan sholat malam, wanita itu ingin kembali memejamkan matanya karena saat ini masih tengah malam. 

"Panas-panas! Tolong! Api ada api! Tolong, kebakaran-kebakaran!" 

"Mas, kamu di dalam?" 

"Sayang, tolong! Panas-panas!" 

"Mas!" 

Tok-tok-tok

"Buka pintunya, Mas!" 

"Jangan kesini, Rosa! Menjauhlah! Selamatkan putri kita!" 

"Mas! Buka pintunya!" 

"Pergi Rosa! Pergi! Bawa anak kita pergi!" 

"Masss! Buka pintunya, Mas!" 

Brakkkk! 

"Aaaaaa panassss!" 

"Tolong kebakaran!" 

"Kebakaran!" 

"Kebakaran!" 

"MASSSSSSSS!"  

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Mertua Bunglon

    "MASSSSS!" Rosa tersentak dari tidurnya. Ia langsung terduduk dengan nafas memburu, bulir keringat membasahi tubuh, "astagfirullah ... astagfirullah," lirihnya. Lagi-lagi perutnya terasa keram. "Ya allah, mimpi apa itu," ucapnya sendiri. Rosa mencoba mengatur nafas, dan menenangkan diri. Ia tak boleh setres, karna hal itu akan berdampak pada bayi yang tengah di kandungnya, "kamu kaget ya? Maafkan Mamah, Sayang," lirih Rosa seraya mengelus perutnya yang kian membuncit. "Eum ... hoammm, tante kenapa?" tanya Chika yang ikut terbangun sebab suara gemerusuh di sebelahnya. "Tante kebelet pipis," jawab Rosa asal. Ia pun tersenyum, dan mengelus lengan keponakannya, "Chika bubuk lagi ya, ini masih gelep," ucapnya lembut. Bocah 3 tahun itu pun mengangguk lalu kembali memejamkan matanya, sedangkan Rosa ia semakin gelisah sebab kejadian malam ini begitu aneh menurutnya. Jam baru menunjukkan pukul 2 dini hari, itu artinya baru beberapa menit ia terlelap, dan sekarang kembali terjaga karna mi

    Huling Na-update : 2025-01-12
  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Jangan Kasar ini Rumah Saya!

    "Chika, Ibu udah bangun?" tanya Bi Wiwid, wanita yang juga menginap di rumah Rosa karna bekerja sebagai ART. "Belum, Bi. Semalem tante nggak tidur," jawab Chika seadanya. "Ooo, ya sudah kalau gitu jangan di ganggu ya," "Iya, Bi."Bi Wiwid pun langsung menghampiri Bu Wati yang sejak tadi begitu riuh menekan bel. Ceklek ... Ceklek ... Pintu besi itu saling bertumburan menimbulkan suara yang cukup bising, tetapi suasana akan terdengar lebih bising lagi apa bila wanita tua yang ada di depan pagar tak segera di temui, "maaf Ibu cari siapa?" tanya Bi Wiwid yang memang belum pernah bertemu dengan sosok mertua majikannya. "Kamu yang siapa? Kamu tidak tahu saya siapa?" Bu Wati sedikit nyolot sebab rasa kesal telah menghantui hatinya, "kamu pasti pemb*ntu di rumah ini, 'kan! Kerja tu yang becus! Ada orang datang bukannya langsung di bukain pintu! 2 jam saya berdiri di sini!" cecar Bu Wati tanpa jeda. "Rosa juga kemana! Mertua datang bukannya di sambut!" lanjutnya mengomel seraya masuk ke

    Huling Na-update : 2025-01-12
  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Chika Kenapa?

    Bu Wati tersenyum kikuk. Sikap tegas sang menantu tak ubah meskipun sudah 7 bulan mereka tak berjumpa, "baiklah, Nak. Maafkan Ibu ... tapi kamu harus percaya pada Ibu, Ibu tidak menjewernya, Ibu tadi mengambil semut di telinganya. Iya, 'kan," kata Bu Wati seraya menoel lengan Wiwid agar wanita itu mendukung ucapannya. Bi Wiwid hanya mampu menundukkan kepalanya, lalu menjawab dengan terbata, "i-iya, Bu. Tadi ada semut di telinga saya," ungkap Bi Wiwid. Rosa tahu bagaimana sikap wanita tua yang bergelar Ibu untuk suaminya ini, ialah wanita yang memiliki sikap seperti bunglon, jadi bagaimana Wiwid menjawab, ia mengerti bahwa jawaban itu hanyalah sebuah keterpaksaan. "Ya sudah, Wid. Tolong buatkan nasi goreng, ya." Pinta Rosa pada Art-nya. "Baik, Bu," jawab Wiwid cepat, lalu bergegas pergi ke dapur untuk menyajikan nasi goreng kesukaan majikannya seperti biasanya.'Loh, nasi goreng? Rumah semewah ini kok sarapannya nasi goreng?' monolog Bu Wati dalam hati, 'gagal dong mau manjain peru

    Huling Na-update : 2025-01-12
  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Mimpi atau Nyata?

    "Chika," panggil Rosa, ia pun duduk di sebelah keponakannya, "kalau Chika nggak mau main sama nenek, Chika boleh main di kamar aja," ucapnya seraya mengelus rambut panjang gadis kecil itu.Perlahan Chika mengangkat wajahnya, dan memberanikan diri untuk menatap wanita yang ada di sebelahnya ini, "Chika mau main keluar, tapi Chika nggak mau main sama nenek, Tante," ungkapnya pelan. Rosa mengerti, mungkin saja tadi sikap mak lampir sang mertua kembali kambuh yang mengakibatkan cucunya menjadi takut, "ya sudah, oya Chika mandi sama siapa?" tanya Rosa mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. "Mandi sendiri, Tante." "Anak pinter ... ya sudah kalo gitu Tante mau mandi dulu ya." "Iya, Tante." Perlahan Rosa beranjak dari sana sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit. Ia kembali melewati bingkai foto yang tiba-tiba terjatuh semalam. Ia pun kembali teringat, betapa gelisah perasaannya semalam, "Papah," lirihnya. Rosa mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kama

    Huling Na-update : 2025-01-12
  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Oleh-Oleh

    "TARAAA! SURPRISE!!!" seru dua lelaki yang beda usia itu. Mereka begitu puas melihat ekspresi linglung yang di tampilkan oleh Rosa. "Astaga, Mas! Pah! Kalian ini bikin aku jantungan!" Bukannya di sambut dengan senyuman, mereka malah di sembur omelan, "kalian ya! Kalo aku shock gimana! Kalo aku nggak siap gimana! Main pekik, dan muncul tiba-tiba aja!" omelnya seraya melayangkan satu bogeman ke perut suaminya. "Aw, ampun, Sayang." Pak Erik pun tertawa melihat putrinya begitu kesal, "pasti kamu mikir yang macem-macem, 'kan tentang suamimu ... hayooo ngakuuu ...," ledek sang ayah. "Apaan sih, Pah!" Rosa pun diam, tak lagi memukuli suaminya. "Kesel, 'kan karena Hasan nggak pulang-pulang ... iya, 'kan ...." "Nggak, tu. Biasa aja." "Alah, nggak mau ngaku ... semalem aja marah-marah." "Loh, kok Papah tahu?" Pak Erik, dan Hasan pun saling melempar pandang serta senyum yang menawan, "tahulah, orang Papah yang,---" "Sttttt, jangan di teruskan. Nanti istrimu jadi marah sama Papah," bis

    Huling Na-update : 2025-01-12
  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Gagal Bercinta

    Berulang kali Rosa mengucap syukur sebab suaminya itu datang tepat sebelum acara di mulai. Hatinya yang kecewa, kini telah berbunga. Rosa bahkan tak sabar menunggu pukul 4 tiba. "Selama Ayah pergi pola Bunda gimana, Nak?" ucap Hasan yang kini masih mengajak anaknya bicara sambil mengelus lembut perut istrinya yang tengah membuncit. Ia masih ingat betul saat 7 bulan yang lalu bagaimana tingkah istrinya itu. Orang tua menyebutnya 'Ngidam,' tapi bagi Hasan tingkah istrinya itu benar-benar menggemaskan. Bagaimana tidak, sejak pagi Rosa melarang Hasan bekerja. Ia ingin mengajak suaminya pergi jalan-jalan, tapi ternyata bukan keliling kota, melainkan jalan dari pos jaga hingga ke ujung perumahan. Dan itu mereka lakukan berulang kali dari pagi hingga siang. Lalu yang lebih parahnya, diam-diam Rosa menghilang, dan membuat Hasan jadi gelabakan. Setelah Hasan pusing mencari Rosa, ternyata wanita itu sedang duduk di atas pohon tengah menikmati buah jambu air yang baru di petik olehnya. "Bicar

    Huling Na-update : 2025-01-12
  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Badai

    "Aku sudah mandi, Mas. Kamu saja sana." Melihat mood istrinya mendadak buruk, Hasan pun tak ingin bila hal ini terus terjadi hingga berkepanjangan. Bila sempat mood istrinya tak membaik, sedikit banyak akan berdampak pada acara nuju bulan nanti. Lelaki itu pun bergegas menutup tirai kamar lalu membuka pakaiannya, dengan cepat ia melakukan seperti apa yang tengah di inginkan istrinya, "kita bermain cepat saja, Sayang," bisik Hasan. Rosa pun tersenyum, benar saja ... mood istrinya kembali normal. Dengan singkat, padat, dan jelas Hasan mengacau ar-e-a sensitiv istrinya. Baginya, kesenangan istri adalah hal yang utama. "Ehm, Mas ... Ahhhhhh," Rosa me-nd-esa- panjang saat mereka sama-sama mencapai titik kepu-as-an itu. "Udah, ya. Kalo kurang nanti malem kita lanjut lagi, sebetulnya Mas juga, ... heheheh," Hasan tak melanjutkan ucapannya, ia malah tersenyum kikuk menampilkan barisan gigi putihnya."Iya, Mas," sahut Rosa dan juga tersenyum melihat keringat mengujur di wajah suaminya.

    Huling Na-update : 2025-01-12
  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Wanita Simpanan Suamiku

    Mbok Ipeh mulai melakukan tugasnya, ia meminta Bi Wiwid untuk mengambilkan 7 lembar kain yang sudah di persiapkan. Kain itu yang akan menjadi salah satu syarat terpenting untuk acara nuju bulan ini. "Ndok, pakai ini," kata Mbok Ipeh seraya memberikan selembar kain pada Rosa. Rosa pun menurut, dan mengganti pakaiannya dengan selembar kain, sebab dirinya akan di mandikan dengan air kembang 7 warna. Selanjutnya setelah proses mandi kembang selesai, Mbok Ipeh akan membimbing Hasan untuk membelah kelapa muda yang sudah di sediakan khusus untuk acara ini. Pada bagian ini, kita akan mengetahui jenis kelamin yang sedang di kandung Rosa. Apakah dia lelaki atau seorang perempuan, akan tetapi hanya sebagian orang yang masih percaya, dan sebagian pula menganggapnya mitos. Namun, ketika Hasan akan membelah kelapa muda itu, langit yang awalnya mendung, kini semakin mendung, seakan hujan akan turun. "Bismillahirrahmanirrahim," lirih Hasan. Ia pun mengangkat g-olok, dan akan membelah kelapa mud

    Huling Na-update : 2025-01-12

Pinakabagong kabanata

  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Penguntit

    "Sayang, tenang! Jangan begini, pikirkan anak kita! Kasihan dia pasti semakin terguncang!" ungkap Hasan mengingatkan. Sedangkan Pak Erik, ia buru-buru keluar, dan memanggil dokter sebelum putrinya semakin menggila, dan semua menjadi kacau. "Anak? Apa kau memikirkan itu saat kau berada di sana, Mas! Saat kau bersenang-senang dengannya! Saat aku minta kau untuk kembali! Tutup mulutmu, dan jangan pernah singgung soal anak! Ini anakku! tidak ada hakmu atas dirinya! Sekarang juga pergi dari hadapanku!" bentak Rosa. Tak ada lagi benda di dekatnya yang bisa di lempar, yang tersisa hanya tiang infus yang berada di sebelah bankarnya. Rosa menatap nyalang suaminya, tanpa pikir panjang ia mengangkat tingan itu, dan akan ia lemparkan pada suaminya. Namun, belum sempat Rosa meluapkan emosinya, sang ayah datang bersama dokter, dan dua suster berdiri di belakang. Krekkkk! "Astaghfirullah, Nak! Sadar!" teriak Pak Erik ketika masuk ke dalam kamar, dan menyaksikan putrinya tengah mengangkat tiang

  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Dia Pengkhianat, Pah!

    "Aku mau kita pisah!" "Tidak, Sayang. Mas mohon, jangan!" "Lepaskan aku, Mas! Kita bukan suami-istri lagi!" "TIDAK, SAYANG! TIDAK!"Hasan tersentak dari tidurnya, dan keringat dingin menyapa tubuhnya, "astagfirullah, astagfirullah," ucapnya seraya bernafas lega saat sadar bahwa dirinya masih berada di rumah sakit, dan istrinya masih terbaring di sebelahnya tak sadarkan diri. "Hanya mimpi," gumam Hasan, ia pun mengusap lembut jemari istrinya yang masih terpaut erat dengan jemarinya. Lelaki itu kembali menangis mengingat betapa menderita istrinya selama ia tinggal berdinas ke Padang. "Maafkan, Mas ... Sayang," gumamnya lagi. Hasan mencium jemari istrinya dengan lembut, ia merasa sangat berdosa. Namun, mau bagaimana lagi, kepergiannya ke Padang bukan untuk bersenang-senang, ia ke Padang untuk merintis usaha baru, memperluas jangkauan bisnis keluarga istrinya, tetapi yang di dapat sekarang, rumah tangganya berada di ambang kehancuran. Lelaki itu tak tahu harus berbuat apa untuk me

  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Pisah!

    Astaghfirullah, Pah. Sungguh ... aku tidak mengenal wanita itu." "Huffff!" Lagi, Pak Erik hanya bisa menarik nafasnya dalam. Ia merasa percuma terus bertanya, karena jawaban Hasan tetap sama, "tapi ... bila tidak mengenal kenapa dia bisa hamil?" tanya Pak Erik lagi. "Aku yakin, aku di jebak oleh dia, Pah," ungkap Hasan. Pak Erik menatap dalam manik mata menantunya. Ia berusaha mencari kebohongan di sana. Namun, yang terlihat hanyalah kesungguhan, tak ada kedustaan apalagi kecurangan. Pak Erik melihat mata itu masih sama seperti beberapa tahun yang lalu, mata yang memancarkan kejujuran, kasih sayang, dan juga tanggung jawab. Kini Pak Erik menjadi ragu akan kebenaran yang di katakan Mawar. "Akan Papah cari tahu kebenarannya," kata Pak Erik. Ia berjalan mendekati sofa yang ada di sudut ruangan. Tubuhnya lelah sehabis menempuh perjalanan jauh, ia butuh istirahat ia butuh tidur, agar bisa berfikir jernih, dan tidak salah langkah dalam mengambil keputusan. Bu Wati, wanita tua itu mengi

  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Wanita itu ... Siapa Dia?

    Hujan di luar sepertinya mulai mereda, dan Rosa ... ia belum juga sadarkan diri. Selang infus menempel di tangannya, obat yang di suntik melalui infus mengalir ke seluruh penjuru tubuhnya. Di samping, dengan setia Hasan duduk menemani istrinya. Rasa penyesalan itu masih ada, sebab banyak waktu yang terbuang hanya untuk mempelajari sebuah materi yang tak ada habisnya.7 bulan dia pergi berdinas. Selama 7 bulan juga mereka hanya berkomunikasi melalui sambungan telfon. Istrinya selalu tersenyum bila mereka tengah melakukan panggilan Vidio, wanita itu juga mengatakan bahwa dia baik-baik saja meski mereka sedang berjauhan. Namun, pada kenyataannya, seperti di hantam bebatuan keras saat ia mengetahui berat bayi yang di kandung tidak normal, padahal usia kandungan sudah menginjak 7 bulan, apa bayinya kurang nutrisi? atau mungkin istrinya yang dengan sengaja tak menjaga pola makan serta memperhatikan kebutuhan sang bayi? Entahlah, Hasan hanya bisa menarik rambutnya kasar, merasa bodoh atas t

  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Tolong, Dokter!

    Jauh-jauh dari Padang ia datang ke Palembang hanya untuk meminta keadilan dari lelaki incarannya. Namun yang di dapat, ia malah di acuhkan begini, bahkan tak di anggap sama sekali. Sakit .... Namun, bukankah cinta membutuhkan pengorbanan? Maka dari itu, dirinya harus lebih keras lagi dalam berjuang demi bisa mencapai tujuannya. "Tujuanmu apa datang kesini, dan menghancurkan segalanya!" tanya Hasan saat mereka berdua berada di dapur tadi. "Aku hanya ingin hidup bersamamu," jawab Mawar. Wanita itu begitu puas bisa memandang wajah Hasan sedekat ini, dekat, bahkan sangat dekat. Dan di belakang, tak sengaja Bi Wiwid melihat kedekatan antara dua insan yang tak ada ikatan apapun. Namun, Bi Wiwid langsung pergi begitu saja sebab takut dikira tengah mengintip. Itulah mengapa Bi Wiwid mendadak gagu saat Rosa bertanya di mana suaminya. "Kasihan, Ibu ... dia wanita baik, kenapa hidupnya begitu berliku," lirih Bi Wiwid. Ia terus memandang mobil yang di kendarai oleh majikannya. "Namanya juga h

  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Bagaimana, Mas?

    "Astagfirullah, bukan itu. Ayo kita bicara di dalam saja," ajak Hasan, lalu menarik istrinya masuk ke dalam kamar. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" bentak Rosa lalu menjauh dari lelaki yang amat di bencinya. Ya ... yang tersisa sekarang hanyalah kebencian. Entah mengapa setelah melihat foto b-ugi-L suaminya bersama wanita itu, hati Rosa seakan tercabik-cabik, dan sekarang melihat langsung wajah suaminya Rosa merasa ingin melenyapkan lelaki ini dari muka bumi. "Mas di jebak, Sayang." "Kamu pikir ini sinetron, Mas?" "Sumpah!" "Sudah ku bilang jangan bermain dengan sumpah! Badai di luar belum usai, dan kamu ingin mengundangnya datang lagi!" "Dia orang pertama yang mau bekerja sama dengan cabang Nuansa. Saat itu, sebelum Mas menerima tawaran kerja sama dengannya, Mas menghubungi Papah dulu, dan saat itu Papah meng'iya,'kan, dan Mas langsung bertemu dengannya siang itu juga, tapi ... setelah itu entah mengapa Mas tidak sadar,---" "Tidak sadar kalau sampai kebablasan?

  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   Ingat Punya Istri?

    "Tidak! Tolong urus secepatnya.""Tapi ... bukankah kalian,---" "Tidak usah banyak tanya! Apa profesimu sekarang jadi wartawan?" Sontak Fahri langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia bingung dengan keinginan Rosa. Bukankah mereka baru menikah? bahkan usia pernikahan mereka belum genap 2 tahun, dan sekarang ... mengapa minta di uruskan perceraian? Apakah menikah segampang itu untuk jadi, dan lepas begitu saja? Fahri jadi sedikit takut untuk berumah tangga, hingga saat ini tepat pada usianya yang hampir memasuki kepala 4. "Halo! Bagaimana?" tanya Rosa yang merasa bingung sebab tak ada jawaban dari lawan bicaranya. "Baiklah," sahut Fahri pada akhirnya. Mendengar jawaban itu, sontak Rosa langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Moodnya benar-benar hancur, ia sedang tak ingin bicara dengan siapapun, termasuk sanak saudara yang masih berkumpul di depan yang mungkin saja saat ini tengah membicarakan rumah tangganya. Tok ... Tok ... Tok. "Bu," panggil Bi Wiwid. Rosa diam,

  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   CERAI

    "Apa yang harus aku katakan, Mas? Semua sudah jelas. Kita pernah menghabiskan malam bersama, dan sekarang aku mengandung anakmu. Kamu tahu, aku masih menyimpan foto serta Vidio panas kita. Yang di hancurkan istrimu tadi itu hanya sebagian, yang lain masih banyak tersisa di ponselku. Kamu mau lihat?" ucapnya santai, seperti tak merasa sakit pada lengannya yang di cengkram kuat oleh Hasan. "Tutup mulut busukmu!" Hasan mengangkat tangannya, dan akan melayangkan pukulan ke wajah gadis itu, tetapi Pak Erik yang melihat tak ingin Hasan menyakiti wanita itu. "Hentikan, Hasan!" teriak Pak Erik tepat sebelum tangan kekar itu menyentuh wajah Mawar, "jangan buat malu dirimu. Sudah Papah katakan selesaikan baik-baik! Sekarang masih banyak orang di rumah, apa kamu tidak malu bagaimana tanggapan mereka nanti! Untung acara di majukan jadi para kolega kerja, dan teman dekat Rosa belum ada yang datang, coba kalau mereka menyaksikan ini, bisa malu keluarga kita!" ungkap Pak Erik penuh penekan. Hasan

  • Rahasia di Balik Perjalanan Dinas Suamiku   SANDIWARA MAWAR

    "Astaghfirullah ... bertemu dengannya saja tidak pernah, baru ini Mas melihat dia," ungkap Hasan. "Hah! Wajar kamu betah di sana! Berulang kali aku minta pulang, tidak kamu gubris. Banyak sekali alasan kamu. Yang ini, yang itu, ternyata, ada dia yang membuatmu lupa dengan aku, dan calon anakmu! Kamu pikir enak, Mas saat hamil begini di tinggal suami? Kamu pikir enak, Mas berbadan dua! Kamu pikir aku bisa melalui semuanya dari usia 2 Minggu sampe 7 bulan seorang diri? Nggak, Mas! Aku nggak kuat! Aku nggak sekuat yang kamu bayangin! Tapi aku harus kuat, karena aku percaya kamu di sana beneran kerja! Aku harus kuat demi kamu, dan anakku ... tapi yang ku dapat apa? Oleh-olehmu sungguh luar biasa!" ungkap Rosa, ia tak perduli dengan mereka yang ada di sana, yang Rosa inginkan hanyalah membuang semua uneg-uneg yang memenuhi hatinya. Hasan tak bergeming, ia bahkan tak tahu lagi harus dengan cara apa agar istrinya percaya bahwa dia, sungguh setia, dan wanita itu ... 'wanita itu,' ungkap

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status