BERSAMBUNG
“Aku gagal Saffana, pengawal Amir Thamrin berhasil rebut lagi Bobby dari tanganku,” sahut Brandi, sambil pasang mimik menyesal dan seolah tak berdaya.Pria bule tampan ini terlihat menatap sinis ke Brandi, dia seolah meremehkan kemampuannya, tapi Brandi sengaja terlihat bersikap biasa saja. Tidak tunjukan sikap sebaliknya.“Kok…kamu bisa kalah sih, padahal kamu kan seorag serdadu dan sudah sukses menculik Bobby dari peternakan kuda tuan Amir Thamrin yang di jaga sangat ketat itu?” tanya Saffana seolah tak percaya dengan ucapan Brandi.Diam-diam Brandi heran sendiri, darimana Saffana tahu semua ini, seolah-olah wanita pasang alat pelacak di badannya.“Justru itulah kesalahanku Saffana yang tak perhitungkan situasi. Mereka bawa banyak sekali aparat dan aku tak punya pilihan lain selain kabur. Sekaligus melepaskan Bobby dan Zafera yang sempat aku culik,” cetus Brandi sambil melhat tayangan breaking news di TV di dinding aparteman mewah ini.“Saffana lihat!” si bule tadi lalu tunjuk tayang
Brandi senyum kecil saat Saffana dan James White seakan tak sabaran ingin ajak dirinya ke Swiss, untuk cairkan harta warisan itu.“Kita harus segera tuan Brandi, apalagi saat ini tuan jadi borunan aparat Uni Emirat Arab dan juga pegawal tuan Amir Thamrin yang biasa bertindak keras dan kejam,” kata James White kemukakan alasannya dan mulai membujuk.Namun keduanya mendadak terdiam, saat Brandi bilang justru mau balik ke Indonesia dulu, dengan alasan ada urusan pribadi yang tak bisa di tunda-tunda saat ini.Keduanya terdiam seketika, wajah Saffana nampak sekali menampilkan kekecewaan.“Tak bisakah pulang ke Indonesia Anda tunda dulu tuan Brandi, kita akan bertemu notaris yang selama ini jaga tu harta, baru sama-sama dengan notaris ini ke Swiss..! Nah setelahnya, barulah tuan Brandi pulang ke Indonesia…soal bagian harta, nanti kita rundingkan dengan sang notaris itu!” bujuk Saffana.Tapi Brandi yang punya planning sendiri, langsung menggeleng dan bilang pulang ke Indonesia lebih prioritas
“Saya…tahu diri tuan Amir, tahu diri bukan anak kandung Emir Thamrin seperti yang dikatakan Zafera.” Aku Brandi apa adanya.Amri Thamrin terdiam sesaat, jadi cerita Zafera tak bohong, Brandi menolak warisan jumbo tersebut, pikirnya.Inilah yang bikin kagum Amir Thamrin, masih ada orang yang begitu ‘gila’ menolak warisan yang luar biasa besarnya, dan orang ini ada di depannya saat ini, anak muda pula.Pria ini sampai tak habis pikir, ini di luar nalar, batinnya.Amir Thamrin tarik nafas, sambil isap cerutunya, lalu hembuskan pelan-pelan, bingung sendiri dengan pendirian pemuda tampan ini.“Jadi begin…inilah yang aneh Brandi, kami pun semua heran, kenapa malah kamu yang jadi Pewaris Tunggal seluruh harta Emir Thamrin tersebut. Jujur saja, saya sudah bertemu notaris Emir Thamrin dan dia bilang, kunci harta warisan itu ada padamu, karena Emir Thamrin sudah jadikan kamu sebagai passwordnya, siapapun tak akan bisa tanpa password itu…aturan bank sangat ketat, apalagi jumlah warisan ini tidak
“Temuilah tuan Brandon, aku sudah mengontak beliau, kamu besok di tunggu jam 10 pagi di kantornya. Jangan telat beliau itu on time dan super sibuk!” pesan Mr-KN, tanpa mau jelaskan apa alasannya, sehingga Brandi justru di minta bertemu sang taipan ini.Besoknya…!Brandi tiba 30 menit sebelum pukul 10, dan pas jarum menunjukan angka 10, sekretaris cantik Brandon menelpon ke bawah dan minta Brandi segera naik ke atas sekarang juga.Tanpa buang waktu, Brandi sesuai instruksi Mr-KN, jelaskan semua hasil penyelidikannya terkait Mr M dan Tuan Chino Hamuk ini.Brandon mendengarkan dengan seksama hasil penyelidikan Brandi di Dubai tanpa menyela, setelah Brandi selesai cerita, pria ini tersenyum tipis.Terlihat dari wajahnya sama sekali tidak kaget dengan fakta yang barusan Brandi sampaikan. Brandi sampai bingung. Jangan-jangan sepak terjangku selama di Dubai diketahui tuan Brandon ini? pikir Brandi.“Brandi…aku paham tentu kamu bingung bukan? Kenapa sekarang kamu berada di sini.” ceplos Brando
Orang ini terus berjalan dan menuju ke sebuah kafe and resto di mal mewah ini. Brandi terus mengikuti dan kini dia tak ragu masuk ke sana.Setelah mengintai, akhirnya Brandi menemukan wanita tersebut sedang bicara dengan seseorang.Setelah lihat kiri dan kanan, Brandi pun mendekat menguping apa yang dibicarakan wanita yang mirip Audrey ini.“Aku hanya minta uangku, kapan kamu bayar?” terdengar suara wanita ini.“Nikita, aku kan sudah bilang berkali-kali, saat ini aku tak punya uang!” sahut si lelaki itu.“Loh kenapa begitu? Kan kamu janji hari ini, kamu kan kembali dapat order untuk bunuh Tuan Brandon Hasim Zailani dengan bayaran mahal?” sahut wanita ini hingga si lelaki ini terlihat kaget bukan main.“Wanita sialan, jangan keras-keras, nanti kedengaran orang.” kata orang itu lagi, dengan suara geram.“Tak bisa, perjanjiannya kamu bayar hari uangku yang 150 juta kamu pakai, itu bukan jumlah yang sedikit tau. Atau jangan salahkan aku kalau ku bongkar semua kebusukan kalian,” terdengar w
“Nikita kamu di mana, hati-hati jangan bertemu si Andi, dia berniat ingin menghabisi kamu, atas perintah Mr M, karena kamu dianggap akan membocorkan semua rahasianya, Nikita…!” terdengar suara Audrey di telpon itu.“Nikita sudah tewas…!” sahut Brandi pendek.“Ihh ini siapa…apa kamu bilang! Nikita sudah tewas?”“Dia sudah di tembak si Andi di sebuah restoran di mal, kamu cek ke rumah sakit, di mana jenazahnya sedang di urus,” cetus Brandi.Brandi lau langsung menutup ponselnya dan mematikannya sekalian, dia tak mau suaranya di kenali Audrey.Brandi sengaja tak mau sebutkan secara detil, sebab dia yakin di tempat tadi pastinya sudah geger dan viral di mana-mana.“Hmm…aneh sekali, Audrey ternyata kenal baik dengan Nikita juga si Serda Andi ini, mereka rupanya bagian dari komplotan Mr M,” batin Brandi sambil jalankan kembali mobilnya menuju ke pencucian mobil, untuk bersihkan bekas ceceran darah mendiang Nikita.Brandi lalu kontak bagian informasi divisi mereka, agar melacak di mana Serda
Brandi kini menjauh dari kamar ini, dia lalu mendekati dua penjaga yang sedang terkantuk-kantuk dan sedang jaga di bagian depan rumah ini.Makan gaji buta saja, kerjanya molor terus, bukannya jaga, pikir Brandi gemas sendiri. Brandi lalu mengambil sebuah batu dan melemparnya ke arah salah satu penjaga ini. Cukup kuat lemparannya dan telak kena.“Tukkk…Aduhhhh, bangsat siapa yang lempar batu ke aku,” bentaknya marah, karena batu tadi tepat kena jidatnya, sehingg benjol sebesar telor puyuh pun terbentuk.Saat itulah dia melihat ada bayangan orang yang berlari menuju ke arah kamar-kamar istri si bosnya ini.“Tubul bangun, ada maling, dia berlari dan menuju ke arah kamar istri-istri si bos!” kata orang ini bangunkan kawannya.Diam-diam dia rupanya ngeri mengejar sendiri, padahal badannya gempal dan lengannya kokoh. Agaknya jiwa hello kitty nya bangkit melihat bayangan itu.Jangan-jangan hantu, pikirnya.“Mana malingnya, berani sekali ke sini,” kata Tubul langsung nanar matanya, sebab sed
Serda Andi buru-buru mau ambil senjatanya yang terjatuh, tapi Brandi langsung bergerak cepat. Sebuah tendangan kembali dia layangkan, saat itulah tanpa diduga Brandi.Tubul sudah bangkit dengan tertatih-tatuh dan bergerak sambil ayunkan goloknya sekuatnya ke arah Serda Andi.Crakkk….!Perut tanpa pakaian Serda Andi terburai, pria ini terjatuh berbarengan dengan tubuh Tubul yang juga ambruk ke tanah.Tembakan Serda Andi yang menembus perutnya, membuat centeng ini tewas tak lama kemudian. Serda Andi bahkan bak ayam kena sembelih, menggelepar di tanah.Brandi sampai terpana melihat pemandangan yang tak di sangka-sangka ini, dia tak keburu menolong Serda Andi.Terdengar teriakan histeris dari istri-istri bos Syamsudin, melihat suami mereka terkapar di tanah dengan tubuh berlumuran darah.Tapi mata tajam Brandi melihat ada dua wanita yang terlihat tak begitu sedih, dialah si istri ke 2 dan istri ke 5 Syamsudin…Loli.Tak lama datanglah patroli polisi, bunyi sirene nguing-nguing membuat temp
Plakk…plakkk…plakk…!Walaupun tak terlalu keras, tapi pukulan di perut yang di lakukan Chulbuy dengan tongkat komando, membuat wajah para polisi obesitas ini merah padam, malu bukan main.Apalagi Mapoltabes ini terletak di sisi jalan raya yang padat, sehingga jadi pusat perhatian semua orang yang lalu lalang. Saat tiba di depan Aiptu Sulistyo dan kebetulan yang paling terakhir kena giliran, Chulbuy menatap wajah si polisi ini.“Hmm…perut kamu ini kebanyakan makan uang haram kan? Entah berapa miliar kamu kumpulkan dari uang-uang sogokan itu. Pangkat Aiptu bergaji jenderal kamu ini,” sindir Chulbuy dan plakk, sengaja agak keras menepuk perut si Aiptu ini, hingga wajahnya langsung meringis.Aiptu Sulistyo benar-benar di permalukan Chulbuy yang masih mangkel, karena dulu kena kadalin pria yang kini jadi anak buahnya.Chulbuy lalu berputar di barisan belakang dan dia kaget! Terlihat seorang polwan berpangkat Aipda yang belum terlalu tua, badan terlihat sangat kurus, pucat lagi, kayak ora
“Jadi Kapoltabes di Banjarbaru Om…?” Chulbuy agak kaget. “Iya Chul, besok kamu harus terbang ke sana, untuk sertijab dengan pejabat sebelumnya,” kata Komjen Joko, yang kini jabat Wakapolri.Saat Komjen Joko jelaskan ini dan itu, mata buaya Chubuy malah terfokus pada seorang polwan cantik berpangkat Bripda, yang jadi asisten sang Wakapolri ini.Komjen Joko mendehem, hingga Chulbuy gelagapan dan si polwan ini menahan tawanya.“Itu kemenakanku, sepupu misanmu sendiri, macam-macam ku ketuk palamu,” sungut Komjen Joko, yang tahu track record keponakannya ini.Chulbuy tertawa berderai dan dia pun tak sungkan menyapa sepupu misannya ini.“Hati-hati dengan si playboy ini Rika, mau shopping atau jalan kemanapun, bahkan mobil atau rumah enteng dia belikan. Tapi kamu nggak bakalan jadi nyonyahnya,” kata Komjen Joko peringatkan Bripda Rika, yang kembali tertawa berderai perlihatkan giginya yang putih rata.“Tenang Om, aku dah tahu sepak terjangnya,” sahut Bripda Rika terkekeh. Chulbuy, kembali k
Dahi Chulbuy berkerut, saat melihat seorang pria tampan berbaju militer mendatangi Kanika dan…memeluknya.Keduanya kini mendekatinya. “Komisaris Chul ini suamiku, Kolonel Pakor,” Kanika tak sungkan kenalkan suaminya, yang tingginya hampir sama dengan Chulbuy.Tak kalah tampannya di bandingkan Chulbuy.Kolonel Pakor dengan ramah menyalami Chulbuy, sehingga otomatis hasratnya padam seketika, tak ada minat lagi ajak Kanika aneh-aneh.Chulbuy ingat pesan paman Darlan di Batupecah, jangan sesekali gauli bini orang, atau ilmu kebalnya runtuh dan dia akan tewas mengenaskan.Setelah pasangan ini berlalu, Chulbuy menepuk jidatnya sambil tertawa sendiri. "Hampir saja, ruwah kajian ilmu kebalku, duehh nafsu-nafsuuu...!" gumam Chulbuy.Setelah beri laporan ke atasannya, Chulbuy hari itu juga terbang ke Bangkok.Tak ingin berlama-lama, walaupun Sawika sempat menelponnya apakah butuh kehangatannya lagi. Namun dengan alasan capek tawaran ‘enak’ ini di tolaknya, dia langsung carter private jet dan te
“Aku ikut!” kata Chulbuy saat Kanika bergegas keluar kafe ini untuk kembali ke markas sektor Pulau Kasino, di mana saat ini dilaporkan anak buah Kanika,Chino Hamuk kabur bersama anak buahnya, yang serbu markas polisi sektor itu.“Jangan bunyikan serine, siapa tahu komplotan itu masih berada di sana, juga agar tak bikin kaget warga di Pulau ini!” kata Chulbuy dan Kanika mengangguk dan tak jadi ambil lampu strobo yang bisa di copot di kap mobil, kini mereka tancap gas menuju ke tempat tadi.Belum 5 menitan tancap gas, tiba-tiba mereka berselisihan dengan dua buah mobil yang larinya sangat kencang.“Kanika sini aku yang bawa, kayaknya itu mobil para komplotan Chino Hamuk,” kata Chulbuy.Kanika langsung mengangguk dan mereka pun bertukar posisi dalam kondisi mobil masih jalan, walaupun perlahan.“Maaf..!” kata Kanika saat tak sengaja duduk di pangkuan Chulbuy, sampai tercium bau harum lembut tubuh si Letkol Polisi ini.Sesaat Chulbuy terlena juga dengan bau parfum ini, apalagi tubuh Kanik
Proses pemindahan uang kemenangan Chulbuy yang sangat besar butuh waktu lumayan lama, saking banyaknya kemenangannya ini.Bahkan keduanya masih sempat ngopi di ruangan khusus, sambil menunggu proses ini, di sinilah Huang Lie cerita, kalau dia mengetahui Chulbuy seorang polisi, karena penasaran."Kok tuan bisa begitu tenang main judinya, andai kartu yang terakhir datang beda, kebayang banyaknya tuan kalah? Juga uangku pasti habis!" kata Huang bertanya, karena penasaran."Sebenarnya kenapa aku tenang?Jujur uang yang aku pakai buat main judi itu uang tak halal juga, makanya aku main tanpa beban. Kalau itu uang negara atau uang pribadi, mungkin sama saja kayak anda, pasti guguplah, aku nggak munafik," cetus Chulbuy, hingga Huang Lie tertawa dan langsung jempol. "Hebat, cerdik dan anda layak di sebut dewa judi," puji Huang lagi.Setelah proses transfer beres, mereka pun langsung ke kantor polisi sektor susul Letkol Kanika.Di markas polisi sektor Pulau Kasino…!“Anda berdua harusnya jang
Huang Lie yang duduk di sisi Chulbuy ikutan tegang, bahkan Sawika pucat pasi, melihat Chulbuy yang terlihat berubah wajahnya.Benar-benar pemandangan yang sangat bikin spot jantung berdetak kencang. Bahkan ratusan penonton yang tentu saja paham main judi poker kini sampai tak ada yang berani bersuara, saking tegangnya.Andai ada yang batuk, pasti se antero ruangan kasino yang luas ini akan terdengar jelas.Wajah Chino Hamuk terlihat makin ceria melihat Chulbuy yang berubah wajahnya. Senyum kemenangan makin nampak dari raut wajahnya.Tapi alis Chino Hamuk kini terangkat, saat melihat raut muka Chulbuy kini kembali berubah, senyum tipis tersungging di bibirnya, bahkan kini Chulbul mengisap cerutunya dengan gaya santai.“Anda memang penjudi hebat tuan Chino Hamuk, tak mudah di gertak, tapi…kartu aku adalah…!”Dengan cepat bak main sulap, Chulbuy tarik kartu bawahnya dan memperlihatkan ke semua orang, apa kartu di bawah itu.Lantas, setelahnya dengan santai meletakaannya di atas meja dan
Inilah trik jitu Chulbuy, yang sengaja permainkan emosi para penjudi lain, terutama Chino Hamuk, Huang Lie pun sampai geleng-geleng kepala melihat hebatnya Chulbuy bermain judi.Taktik Chulbuy berhasil, setelah permainan di lanjutkan, lama-lama 3 orang terpaksa keluar dengan wajah keruh, karena keok besar.‘Teror’ mental yang Chulbuy lakukan benar-benar bikin ke 3 penjudi, yang terdiri dari 2 wanita dan satu orang bule ini out, dengan kekalahan tak sedikit.Kini tersisa Chulbuy, Huang Lie, Chino Hamuk dan satu pria berwajah Asia lainnya, yang Chulbuy duga pasti ‘rekan’ Chino Hamuk.Permainan lanjut, ke 4 orang ini silih berganti menang, tapi lama-lama terlihat, kalau Chulbuy dan Chino Hamuk yang paling unggul, bahkan si pria Asia ini siap-siap out, karena modalnya hampir habis, termasuk…Huang Lie.Huang Lie memang kerap mengalah, seakan beri jalan agar Chulbuy unggul, begitu juga dengan si wajah Asia, yang juga berlaku begitu buat Chino Hamuk.Kartu kembali di bagi untuk ke sekian kali
Penjudi lain tak paham apa yang diomongkan Chino Hamuk, tapi Huang Lie sepertinya paham, terlihat kekagetan di wajahnya, tahu Chulbuy seorang polisi!Tapi si mata sipit ini tentu saja tak ingin bertanya, dia seolah sibuk ‘menyusun’ koin—koin miliknya.“Tentu saja, dari mana lagi aku dapat uang kalau bukan uang sogokan itu. Siapa tahu peruntunganku ada di sini dan uang itu nambah berkali-kali lipat. Nggak perlu jadi penyulundup narkoboy agar tajir melintir, lalu sewa centeng-centeng tolol untuk habisi orang yang pernah di sogok!” sahut Chulbuy kalem sambil senyum kecil, hingga mata Chino Hamuk makin mendelik, mendekati melotot.Sindiran Chulbuy tentu saja sangat telak. Tapi Chino Hamuk kini pasang wajah cuek bebek.“Tuan-tuan dan nyonyah, kita siap bermain. Kartu akan segera di kocok dan di bagi!” si pembagi kartu remi mulai kocok kartunya dan menaruhkan di sebuah tempat khusus.Lalu mulai membagi satu kartu yang di telungkupkan pada ke 7 orang ini, lalu kartu kedua sengaja di buka, dua
Chulbuy seolah menemukan Nova dan Kristin dalam diri Sawika, si gadis Thai ini benar-benar pasangan yang sepadan dalam bercinta.Mau gaya apa saja, ho oh terus si Sawika ini.“Gilaa kamu tuan Mike, i like it…!” lenguh Sawika keenakan saat Chulbuy gunakan jurus gendongnya, juga jurus-jurus ‘mabuk’ lainnya hingga Sawika bilang, baru kali ini menemukan partner yang hebat.Mereka terus bercinta hingga tengah malam dan berlanjut terus hingga 3 hari kemudian.Mereka bahkan malas keluar kamar hotel mewah ini, apalagi Sawika sudah pindah ke kamar Chulbuy, tidak lagi di kamar terpisah.“Sayangnya aku pake pengaman tuan Mike, kalau nggak pasti cakep banget blasteran anak kita yaah,” canda Sawika, setelah untuk ke sekian kalinya mereka kembali memadu ciinta.Chulbuy…hanya tertawa saja, teringat ia ucapan ayahnya, yang juga semacam Undang-undang mutlak bagi keturunan Hasim Zailani, yakni tak boleh lari dari tanggung jawab.“Berani berbuat, beranii tanggung jawab, apapun resikonya,” kata Brandi, ya