7 hari kemudian…!“Bang, ada yang nyari tuh!” Mona sepupunnya panggil Brandi yang tengah asyik bertelponan dengan dua sahabatnya Loha di Flores dan Pelda Majid di Semarang.Lama tak bertemu mereka langsung bertelponan bertiga, Loha malah ajak kedua sahabatnya agar jalan-jalan ke Flores.Dia juga tak ragu perlihatkan Cicil alias Mechalie kekasih bulenya yang kini sudah berbadan dua.Termasuk Pelda Majid, yang juga segera naik pelaminan, karena Sandra si bule Australia naga-naganya juga telat mens. Setelah di pompa terus oleh si Majid.“Siapa Mona?” sahut Brandi, lalu tutup ponselnya.“Wanita Bang, aku nggak kenal juga, cantik lohh ceweknya!” sahut Mona tertawa, lalu mencium tangan Brandi, sekalian pamit ke sekolah bersama Ryan kakaknya, yang sudah pamit ke Brandi dan menunggu di halaman depan dengan motor maticnya.Brandi pun melangkah keluar, dia tertegun saat menatap seorang wanita cantik lembut, duduk di terasnya. Juga ada sebuah mobil SUV keluaran gres nangkring di halaman rumahnya
Demi penuhi janjinya pada Yeni, sekaligus ingin bekuk salah satu pembunuh bayaran Brandon Hasim Zailan. Brandi pun kembali pantau rumah bos Syamsudin, yang baru 1 hari yang lalu di lepas police line-nya.Polisi menutup kasus ini, karena si pelakunya Serda Andi sudah koit!Sedangkan Arka sampai kini masih koma di rumah sakit, sehingga harapan Brandi untuk korek keterangan dari Arka, tentang jati diri rekan Serda Andi si pembunuh bayaran ini buyar.Tugas Brandi memang harus tuntaskan dua eksekutor, seperti job yang dibebankan padanya, oleh Brandon Hasim Zailani saat di Jakarta dulu.Pengamatan Brandi membuahkan hasil di malam ke 3, saat melihat ada sebuah mobil masuk ke rumah tersebut.Dari kejauhan terlihat seorang pria berbadan gempal keluar dari mobil ini, Brandi agak aneh, mobil ini sepertinya milik mendiang Syamsudin.Si pria ini tak ragu masuk ke rumah ini, seolah-olah rumah ini sudah menjadi miliknya saja. “Aneh sekali, kenapa mobil si bos Syamsudin di pegang laki-laki itu,” bati
“Jadi Wiwi kini terganggu jiwanya…?” Brandi menatap AKP Aldot, saat dia beri keterangan di Mapolsek Bitahan.“Betul banget kapten, kamu ternyata ganas juga hajar si pembunuh bayaran itu, sehingga si Wiwi stres dalam waktu dua minggu kehilangan dua selingkuan sekaligus!” ceplos AKP Aldot, saat kembali bersua Brandi di kantornya.“Apa boleh buat APK Aldot, jijik aku dengan tubuh telanjangnya, yang malah rangkul tubuhku sangat kuat, padahal aku tak niat membunuh, hanya refleks saja!” sahut Brandi.“Ha-ha-ha…andai si Wiwi yang rangkul, mungkin beda kali yaa urusannya!” kelekar Aldot.“Wah itu pasti,” sahut Brandi ikutan tertawa.Keduanya terus bercerita panjang lebar, Aldot kini senang, dia seolah dapat mitra baru, untuk binasakan musuh-musuh keluarganya.Aldot juga sudah tahu siapa ‘big bos’ Brandi, yang tak lain dan tak bukan adalah ayahnya sendiri. Brandi apa adanya bilang semuanya.“Kalau pingin, aku punya dua wanita cantik, kamu boleh pilih yang mana!” bisik Aldot sambi kedipkan mata.
Yeni kontan terdiam, tapi isyarat matanya terlihat menunggu…! Menunggu di serang pastinya.Brandi senyum sendiri, sebagai pria berpengalaman, dia paham, saat ini si manis lembut ini sedang menunggu gebrakan dari dirinya.Wanita walaupun kepingin, pasti jaim…!!!Brandi bangkit dan kini duduk mendekati Yeni. Lalu tanpa ragu dia menarik tangan si janda manis ini menuju ke rudal balistiknya yang masih tertutup celana jeansnya.Awalnya Yeni melengus ke samping, malu menatap wajah Brandi. Tapi tanpa di tuntun lagi, tangannya malah menarik resleting Brandi dan kini malah menelusup ke dalam dan akhirnya sampailah ke pengaman segitiga.Tangan lentik ini ternyata sangat trampil. Dalam waktu hitungan detik, Yeni sampai menatap nanar wajah Brandi, tanda kaget, si rudal balistik kini sudah terangkat tegak dalam posisi siap tempur.Yang bikin Yeni melongo, benda ini selain keras, juga bikin tangannya hampir tak muat meremasnya.Brandi langsung menarik wajah Yeni dan melumat bibir merah ini, adu gel
Malamnya…!Brandi menceritakan usahanya ke Ela ibu angkatnya, untuk mencari jati diri ibunya yang ternyata bernama Putri Zeremiah.Ela tentu aja kaget dan tak menyangka, kalau anak angkatnya ini anak seorang wanita keturunan Eropa-Timteng.Walaupun dulu salah satu faktor dia ngebet mau bawa Brandi, karena melihat wajah Brandi saat bayi lucu bak bule, hidungnya mancung pula, tapi rambutnya lurus hitam.Tapi….siapa ayah kandung Brandi?“Jadi keluarga Amir Thamrin juga mengaku tak tahu siapa ayah kandungmu, karena kamu bukan anak Emir Thamrin?” tanya Ela“Betul bu…inilah yang membuat aku bingung, kepada siapa lagi aku bertanya?” keluh Brandi, sambil hela nafas panjang.Tapi ia belum mau menceritakan soal harta warisan jumbo itu, khawatir ibunya keceplosan pada semua orang, ini berbahaya bagi keselamatan dirinya dan juga ibu angkatnya ini.“Satu-satunya jalan…kamu tanyalah pamanmu itu, tuan Ahmad Miller, ku rasa dia pasti tahu dengan siapa dulu ibu kamu dekat!” saran Ela.“Jadi…aku harus b
Marcia tak sungkan ajari Brandi mobil SUV mewah ini saat mereka tes drive, kadang tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, tapi Marcia pura-pura tak tahu saja.Dia sibuk menjelaskan kelebihan mobil berharga mehong ini, sedangkan Brandi malah keasyikan menatap bodynya yang memang yahud punya.Sesaat Brandi lupa dengan si janda Yeni, karena Marcia di matanya menang segalanya. Walaupun soal denok, Yeni tak kalah dengan Marcia. “Gimana pa…eh Bang saja yaa, Bang Brandi, apakah sudah paham?” tanya Marcia.“Paham gunung montok…aduuuhh eh maksudnya kalau di bawa naik gunung enak nggak?” ceplos Brandi sambil tepuk jidatnya.Marcia malah tertawa dan justru tidak berniat memperbaiki baju blousenya yang mencetak bodynya ini, dengan rok sebatas lutut.“Tentu enak donk Bang, kan ini 4X4, kalau naik gunung yang bisa bergerak, nah itu beda lagi,” sahut Marcia tertawa.“Maksudnya bisa bergerak gimana?” sahut Brand pura-pura lugu.“Ih si Abang pura-pura polos, emank aku nggak tahu sejak di dealer tadi
Malamnya…!Baru saja saling berciuman di kamar Yeni dan akan segera memasukan belalainya yang tegang maksimal ke perabotan Yeni lebat rumputnya.Brandi kaget bukan main saat mendengar ada gedoran keras di pagar rumah wanita ini.Brandi dan Yeni saling pandang, keduanya pun buru-buru merapikan lagi pakaiannya, lalu Brandi dengan santai keluar dari kamar membuka pintu rumah wanita ini.Tanpa takut sedikitpun, Brandi menuju ke halaman pagar dan ia tak kaget saat melihat ada 10 orang laki-laki berdiri di depan pagar ini dan setelah terbuka langsung ke halaman rumah Yeni.Sikap permusuhan pun langsung mereka perlihatkan, tapi Brandi tidak gentar sama sekali.“Ooo jadi ini laki-laki kurang ajar yang berani nginap di rumah warga kami,” terdengar suara seorang pria, yang jadi pemimpin ke 9 orang itu.Belum terlalu tua usianya, orang ini menatap bengis sekaligus ada rasa cemburu dengan Brandi, apalagi saat melihat rambut Yeni agak awut-awutan dan hanya kenakan daster.Anehnya, tak ada warga lai
Brandi kini sengaja jalan-jalan di desa Taruing ini, dia pamit ke Yeni dan bilang masih ada urusan. Yeni pun dengan senyum melepas 'ayanknya' yang jauh lebih perkasa daripada mendiang bos Syamsudin.“Kalau sampai seminggu Abang di sini, bisa jalan ngesot aku Bang, masa aku di genjot siang malam,” bisik Yeni tertawa sambil mencubit Brandi, sebelum pemuda ini masuk ke mobilnya.Brandi tertawa saja dan mencium bibir Yeni dan sempat-sempat meremas perabotan Yeni, hingga wanita ini langsung cubit perut Brandi.Saat meninggalkan rumah Yeni, Brandi sudah sadar sejak tadi ada 2 buah motor mengikuti mobilnya.“Hmm umpan mulai mematuk…!” batin Brandi, lalu cek pistolnya dan masih komplet berisi 12 peluru sekaligus.Inilah senjata canggih yang dia beli melalui online dan mendapatkan izin langsung dari markas besarnya.Saat melewati jalan sepi, di depannya Brandi kaget saat melihat ada keributan, tapi ini bukan keributan biasa, lebih tepatnya duel 1 lawan 10 orang sekaligus.“AKP Aldot…!” batin Br
“Bunga apalagi Aguan, kamu jangan main-main!” dengus Hagu menahan sabar sakaligus amarahnya. Karena si rentiner ini sekehendak hati menerapkan bunga hutang.“Bunga keterlambatan bayar!” kaat Aguan lagi sinis.Brakkkk….meja di depan Aguan pecah berantakan kacanya, Hagu yang terlanjur marah menggebrak meja kaca ini.Wajah Aguan kontan memucat. Anak buahnya 3 orang bermunculan, termasuk yang tadi terpincang-pincang.“Kamu jangan macam-macam Aguan!”“Hehh kamu mengancam aku?” Aguan tak mau kalah gertak dan inilah kesalahannya, tiba-tiba kaki kiri Hagu bergerak cepat.Bukkkk…ngekkkk!Sebuah tendangan keras menyamping membuat Aguan terjengkang dan setengah koit saking kerasnya tendangan ini. Hagu akhirnya tak bisa menahan sabar lagi, kakinya bergerakk cepat dan Aguan pun meringis menahan yang terasa nyiut-nyiut sampai ke kepala. Dua orang maju menubruk Hagu, tapi pemuda yang terlanjur marah ini sudah bangkit dan dia justru yang menyongsong dan duluan menyerang ke duanya.Plakk…plakk…bukkk
Hagu jambak rambut si begal ini setelah tadi ia copot helmnya. Wajah Hagu langsung mengeras, karena wajah si begal ini adalah…salah satu centeng si Aguan.Bukkk…bukkk…krakkkk!Saking kesalnya Hagu langsung patahkan kedua tangan si begal ini.“Biar kamu tak lagi membegal,” desis Hagu, lalu sekali tendang, si begal ini pingsan seketika, kemudian Hagu pergi begitu saja dan mendekati si ojek tadi.Kontan aksi heroik Hagu bikin semua orang melongo dan Hagu pun dengan santainya meminta si tukang ojek tadi lanjutkan perjalanan kembali ke rumah Sofia.Warga pun beramai-ramai angkat tubuh si begal dan sebagian menelpon polisi. Andai tak pingsan, bisa jadi si begal ini akan di permak habis-habisan dan nasibnya mungkin lebih buruk lagi.Wajah si tukang ojek berseri-seri, Hagu tanpa ragu beri dia satu juta, padahal tadi ‘sewanya’ hanya 50 ribu. “Kalau mau jalan lagi, jangan sungkan cari saya di pangkalan Om Jagoan,” seloroh si ojek, Hagu hanya angkat jempol.“Loh Mas Hagu, kenapa lengan bajumu co
Hagu tak mau menunda, setelah mandi dan berganti pakaian, dia pun tanya di mana ada bank terdekat.Sofia lalu sebutkan bank yang dimaksud dan Hagu permisi. “Kamu jangan khawatir aku pasti balik lagi ke sini. Pokoknya rumah ini tetap milikmu dan sertifikatnya akan aku ambil,” janji Hagu.Sofia yang awalnya was-was lega, dia juga yang beri Hagu petunjuk gunakan ‘ojek’ menuju bank tersebut agar cepat.Apalagi saat dia melihat di kamar depan, tas ransel Hagu masih ada, yang artinya si pemuda yang tak sengaja ia temui ini tak bakal berbohong.Hagu juga melakukan ini karena ‘ucapan’ Datuk Hasim Zailani yang secara ajaib menemuinya dan minta dirinya segera bantu Sofia, terlebih ini ada hubungannya dengan orang yang bernama Brandon dan Radin, ini yang bikin Hagu sangat penasaran.“Bikin bulu kudukku merinding saja, selain di mimpi, Datuk juga bisa muncul terang-terangan di depanku, ni orang pakai ilmu apa sih…? Terus kenapa aku selalu di kait-kaitkan sebagai salah satu keturunannya…? Masa iya
“Rileks saja, jangan tegang…asal kamu tahu Hagu, rohku ini kenapa masih gentayangan? Itu karena yang bisa menyempurnakan rohku adalah keturunanku yang ke 7. Nah, semua keturunan segarisku terus aku pantau…!” sahut roh Datuk, sehingga Hagu tentu saja makin bingung sendiri.Anehnya si roh Datuk ini menatap foto di dinding. "Brandon, Kanah, aku sudah bimbing salah satu keturunan kalian ke sini..tenang saja, dia bisa selesaikan semua masalah!" kata si roh Datuk ini.Makin kagetlah si Hagu, apa arti dari ucapan roh gentayangan ini. Bingung apa hubungannya dengannya? Itulah yang bikin Hagu tak habis pikir sekaligus penasaran, mana roh ini tak mau lagi menjelaskan soal ini.Saat Hagu dengan tangan gemetaran menaruh rokoknya, roh Datuk Hasim Zailani tiba-tiba lenyap, hampir terjengkang dan mau copot jantung Hagu."Ya Tuhan, ini mimpi apa benaran sih?" Hagu sampai berkali-kali cubit lengannya. Dia boleh berani dengan musuh-musuhnya, tapi kalau bertemu roh, mana malam-malam begini lagi, nyali
“Jadi begini kisahnya mas Hagu, mendiang nenekku yang bernama Rose dulu pernah dekat dengan seorang lelaki, bolehlah di bilang kekasihnya di masa muda. Nah, oleh si pria itu, rumah berikut sertifikatnya di berikan buat nenek aku. Kebetulan, pria yang di foto itu kakeknya si pria itu dan ibunya itu otomatis nenek buyutnya,” Sofia mulai bercerita.“Waah beruntung juga nenekmu itu Sofia di kasih rumah, lalu…maksudnya lanjutkan kisahnya?” cetus Hagu lagi makin tertarik.“Nenek aku pesan ke almarhum ibu, agar foto itu jangan di buang dan biarkan di sana. Biar sebagai pengingat siapa pemilik asli rumah ini.”Rose dulu saat muda adalah kekasih dari Radin, mereka sempat menjalin cinta, namun karena hubungan ini tak berlanjut, Rose lalu menikah dengan orang lain.Setelah berumah tangga, suami Rose ternyata ringan tangan dan mengkhianatinya, Rose bahkan sempat koma dan suaminya di hajar Radin hingga masuk penjara. Sebelum meninggal dunia, Rose mempunyai anak perempuan, yang juga ibunda dari So
“Om…sudah sampai di Jakarta!”“Oh yaa…baiklah terima kasih!” Hagu pun tak ragu keluar dari taksi gelap ini, mobil taksi ini gelap ini langsung tancap gas.“Masa ini Jakarta…? Katanya banyak gedung bertingkat dan di maan-mana macet, ini yang bertingkat nggak seberapa?” batin Hagu kebingungan sendiri. Dia sama sekali tak sadar, saat ini berada di Kota Sukabumi.Hagu lalu mampir ke sebuah warung, karena perutnya lapar.“Ini benarkah Jakarta?” tanya Hagu pada pemilik warung yang sediakan pesanannya.“Hah…Om salah, ini kota Sukabumi, Om nyasar yaa?” sahut di pemilik warung ikutan bingung, Hagu tentu saja terkejut bukan main.“Apa…jadi ini bukan Jakarta?” Hagu sampai berhenti makan.“Rupanya tuan nyasar, kalau mau ke Jakarta masih jauh, kalau perjalanan lancar minimal 3,5 sampai 4 jam dari sini. Tapi kalau macet bisa 6-7 jam baru sampai!” sahut si pemilik warung, lalu pergi meninggalkan Hagu, untuk layani pengunjung warung lainnya. Hagu duduk termenung dan mengingat wajah si sopir taksi ge
Di kamar lainnya, Hagu sama sekali tak bisa pejamkan mata. Pemuda ini berdiri di balkon kamarnya dan menatap Kota Kuala Lumpur, sambil termenung ingat mimpinya tadi sore yang baginya sangat aneh dan membuat bulu kuduknya sering berdiri tanpa bisa di cegah.“Aneh sekali, kenapa aku bisa mimpi kakek Datuk Hasim Zailani dan aku di sebut cucu buyutnya…?” batin Hagu sambil kembali isap rokoknya, benar-benar puyeng kepala pemuda ini.Akhirnya saat jarum jam sudah menunjuk ke angka pukul 2 malam, barulah Hagu bisa tidur nyenyak, tanpa mimpi.Balanara paham ‘sahabat’ barunya ini pusing tak punya identitas, karena paspornya tertinggal di Bangkok.Balanara lalu kontak staf di kantornya, agar membantu Hagu urus paspor dan surat-surat lainnya ke kedutaan Suriah yang ada di ibukota Malaysia ini.“Agar kamu tak di tangkap aparat saat berkeliaran di Kuala Lumpur, nanti biar anak buahku di kantor bantu kamu,” saran Balanara, Hagu pun mengangguk dan benar-benar sangat berterima kasih dengan 'Abangnya'
“Kelak kamu akan tahu, belum saatnya kamu kini tahu. Kamu masih banyak PR yang harus diselesaikan cucuku. Sekalian bantu saja keluarga si Balanara juga keluarga si Ryan ya, dia bukan orang lain denganmu,” sahut pria tampan dalam foto tersebut.“I-iya Om...eh kek…maksudnya apa? Aku ada hubungan dengan Balanara dan Om Ryan?” sahut Hagu masih gugup.Namun orang foto itu malah seperti kembali ke asal, tidak lagi bicara, foto besar itu tetap hanya berupa foto, tidak lagi terlihat hidup atau bicara.“Mas…mas…bangun, ini kopi panas silahkan di minum, nggak enak kalau dingin!”Hagu kaget, ia ternyata ketiduran, matanya sampai liar menatap kiri dan kanan, saat mentok ke foto tadi, bulu kuduknya kembali meremang.“Astagaa…aku ketiduran dan…bermimpi!” batin Hagu sambil menatap lurus foto itu.“Waah enak banget kamu, baru ku tinggal 30 menitan lebih, langsung molor,” ceplos Balanara.Hagu tentu saja kebingungan, perasaan di baru saja masuk di ruangan ini, kenapa malah di bilang lebih 30 menitan..
“Ha-ha-ha…bagaimana kalau mampir ke rumahku atau tepatnya rumah kakek buyutku, kita bisa ngobrol santai di sana, tapi bukan di Penang sini, di Kuala Lumpur!”Tiba-tiba tanpa di duga Hagu, Balanara mengundang ke rumahnya, padahal mereka baru kenal tanpa sengaja di tempat ini.Bukannya menolak, entah karena dorongan apa, Hagu mengiyakan saja, terlebih dia juga bingung mau kemana…!Hagu kaget saat Balanara di jemput mobil mewah yang langsung membawa mereka ke Bandara Penang Airport dan Hagu makin kagum, Balanara naik private jet, yang akan langsung menerbangkan mereka ke Kuala Lumpur.Awalnya heran juga Hagu, kok ada pemuda se tajir Balanara mau nangkring di kafe kelas biasa di Penang sini.“Jangan kaget yaa…kakek buyutku itu dulunya salah seorang taipan di sini. Lalu menurun ke kakekku dan akhirnya sampai ke ayahku. Aku ini generasi ke 5 dari kakek buyutku itu,” cerita Balanara saat mereka sudah berada dalam private jet mewah ini.“Jangan-jangan Anda ini keturunan Hasim Zailani,” ceplos