BERSAMBUNG
Setelah belanja buat keperluan Bobby, mereka kembali lagi ke penginapan ini. Tak sadar sejak tadi gerak-gerik mereka di awasi seorang pria, lalu menelpon seseorang.Brandi dan Zafera tentu saja tak menyadari ini…!Hubungan keduanya kini makin akrab, Zafera malah salut dengan pendirian Brandi, yang ngaku sama sekali tak berminat dengan warisan itu.“Aku tahu diri Zafera, aku bukan anak kandung Emir Thamrin. Andai bundaku masih hiduppun pasti akan ku tolak. Lebih penting bagiku akan bertanya siapa ayah kandungku tersebut. Pamanku Ahmad Miller dan bibiku saja tak tahu, siapa sebenarnya ayah kandungku tersebut!” kata Brandi, mirip keluhan.Kaget juga wanita turunan Timteng ini, masa iya seorang Brandi menolak warisan jumbo Emir Thamrin dan Putri Zeremiah.Di mana nilainya tak main-main, bahkan berlipat-lipat dari kekayaan ayanya tersebut.Sedangkan seluruh keluarganya, terutama bibi-bibinya, atau saudara ayahnya, semuanya berebut warisan tersebut, dari dulu hingga saat ini.Sampai-sampai r
“Aku gagal Saffana, pengawal Amir Thamrin berhasil rebut lagi Bobby dari tanganku,” sahut Brandi, sambil pasang mimik menyesal dan seolah tak berdaya.Pria bule tampan ini terlihat menatap sinis ke Brandi, dia seolah meremehkan kemampuannya, tapi Brandi sengaja terlihat bersikap biasa saja. Tidak tunjukan sikap sebaliknya.“Kok…kamu bisa kalah sih, padahal kamu kan seorag serdadu dan sudah sukses menculik Bobby dari peternakan kuda tuan Amir Thamrin yang di jaga sangat ketat itu?” tanya Saffana seolah tak percaya dengan ucapan Brandi.Diam-diam Brandi heran sendiri, darimana Saffana tahu semua ini, seolah-olah wanita pasang alat pelacak di badannya.“Justru itulah kesalahanku Saffana yang tak perhitungkan situasi. Mereka bawa banyak sekali aparat dan aku tak punya pilihan lain selain kabur. Sekaligus melepaskan Bobby dan Zafera yang sempat aku culik,” cetus Brandi sambil melhat tayangan breaking news di TV di dinding aparteman mewah ini.“Saffana lihat!” si bule tadi lalu tunjuk tayang
Brandi senyum kecil saat Saffana dan James White seakan tak sabaran ingin ajak dirinya ke Swiss, untuk cairkan harta warisan itu.“Kita harus segera tuan Brandi, apalagi saat ini tuan jadi borunan aparat Uni Emirat Arab dan juga pegawal tuan Amir Thamrin yang biasa bertindak keras dan kejam,” kata James White kemukakan alasannya dan mulai membujuk.Namun keduanya mendadak terdiam, saat Brandi bilang justru mau balik ke Indonesia dulu, dengan alasan ada urusan pribadi yang tak bisa di tunda-tunda saat ini.Keduanya terdiam seketika, wajah Saffana nampak sekali menampilkan kekecewaan.“Tak bisakah pulang ke Indonesia Anda tunda dulu tuan Brandi, kita akan bertemu notaris yang selama ini jaga tu harta, baru sama-sama dengan notaris ini ke Swiss..! Nah setelahnya, barulah tuan Brandi pulang ke Indonesia…soal bagian harta, nanti kita rundingkan dengan sang notaris itu!” bujuk Saffana.Tapi Brandi yang punya planning sendiri, langsung menggeleng dan bilang pulang ke Indonesia lebih prioritas
“Saya…tahu diri tuan Amir, tahu diri bukan anak kandung Emir Thamrin seperti yang dikatakan Zafera.” Aku Brandi apa adanya.Amri Thamrin terdiam sesaat, jadi cerita Zafera tak bohong, Brandi menolak warisan jumbo tersebut, pikirnya.Inilah yang bikin kagum Amir Thamrin, masih ada orang yang begitu ‘gila’ menolak warisan yang luar biasa besarnya, dan orang ini ada di depannya saat ini, anak muda pula.Pria ini sampai tak habis pikir, ini di luar nalar, batinnya.Amir Thamrin tarik nafas, sambil isap cerutunya, lalu hembuskan pelan-pelan, bingung sendiri dengan pendirian pemuda tampan ini.“Jadi begin…inilah yang aneh Brandi, kami pun semua heran, kenapa malah kamu yang jadi Pewaris Tunggal seluruh harta Emir Thamrin tersebut. Jujur saja, saya sudah bertemu notaris Emir Thamrin dan dia bilang, kunci harta warisan itu ada padamu, karena Emir Thamrin sudah jadikan kamu sebagai passwordnya, siapapun tak akan bisa tanpa password itu…aturan bank sangat ketat, apalagi jumlah warisan ini tidak
“Temuilah tuan Brandon, aku sudah mengontak beliau, kamu besok di tunggu jam 10 pagi di kantornya. Jangan telat beliau itu on time dan super sibuk!” pesan Mr-KN, tanpa mau jelaskan apa alasannya, sehingga Brandi justru di minta bertemu sang taipan ini.Besoknya…!Brandi tiba 30 menit sebelum pukul 10, dan pas jarum menunjukan angka 10, sekretaris cantik Brandon menelpon ke bawah dan minta Brandi segera naik ke atas sekarang juga.Tanpa buang waktu, Brandi sesuai instruksi Mr-KN, jelaskan semua hasil penyelidikannya terkait Mr M dan Tuan Chino Hamuk ini.Brandon mendengarkan dengan seksama hasil penyelidikan Brandi di Dubai tanpa menyela, setelah Brandi selesai cerita, pria ini tersenyum tipis.Terlihat dari wajahnya sama sekali tidak kaget dengan fakta yang barusan Brandi sampaikan. Brandi sampai bingung. Jangan-jangan sepak terjangku selama di Dubai diketahui tuan Brandon ini? pikir Brandi.“Brandi…aku paham tentu kamu bingung bukan? Kenapa sekarang kamu berada di sini.” ceplos Brando
Orang ini terus berjalan dan menuju ke sebuah kafe and resto di mal mewah ini. Brandi terus mengikuti dan kini dia tak ragu masuk ke sana.Setelah mengintai, akhirnya Brandi menemukan wanita tersebut sedang bicara dengan seseorang.Setelah lihat kiri dan kanan, Brandi pun mendekat menguping apa yang dibicarakan wanita yang mirip Audrey ini.“Aku hanya minta uangku, kapan kamu bayar?” terdengar suara wanita ini.“Nikita, aku kan sudah bilang berkali-kali, saat ini aku tak punya uang!” sahut si lelaki itu.“Loh kenapa begitu? Kan kamu janji hari ini, kamu kan kembali dapat order untuk bunuh Tuan Brandon Hasim Zailani dengan bayaran mahal?” sahut wanita ini hingga si lelaki ini terlihat kaget bukan main.“Wanita sialan, jangan keras-keras, nanti kedengaran orang.” kata orang itu lagi, dengan suara geram.“Tak bisa, perjanjiannya kamu bayar hari uangku yang 150 juta kamu pakai, itu bukan jumlah yang sedikit tau. Atau jangan salahkan aku kalau ku bongkar semua kebusukan kalian,” terdengar w
“Nikita kamu di mana, hati-hati jangan bertemu si Andi, dia berniat ingin menghabisi kamu, atas perintah Mr M, karena kamu dianggap akan membocorkan semua rahasianya, Nikita…!” terdengar suara Audrey di telpon itu.“Nikita sudah tewas…!” sahut Brandi pendek.“Ihh ini siapa…apa kamu bilang! Nikita sudah tewas?”“Dia sudah di tembak si Andi di sebuah restoran di mal, kamu cek ke rumah sakit, di mana jenazahnya sedang di urus,” cetus Brandi.Brandi lau langsung menutup ponselnya dan mematikannya sekalian, dia tak mau suaranya di kenali Audrey.Brandi sengaja tak mau sebutkan secara detil, sebab dia yakin di tempat tadi pastinya sudah geger dan viral di mana-mana.“Hmm…aneh sekali, Audrey ternyata kenal baik dengan Nikita juga si Serda Andi ini, mereka rupanya bagian dari komplotan Mr M,” batin Brandi sambil jalankan kembali mobilnya menuju ke pencucian mobil, untuk bersihkan bekas ceceran darah mendiang Nikita.Brandi lalu kontak bagian informasi divisi mereka, agar melacak di mana Serda
Brandi kini menjauh dari kamar ini, dia lalu mendekati dua penjaga yang sedang terkantuk-kantuk dan sedang jaga di bagian depan rumah ini.Makan gaji buta saja, kerjanya molor terus, bukannya jaga, pikir Brandi gemas sendiri. Brandi lalu mengambil sebuah batu dan melemparnya ke arah salah satu penjaga ini. Cukup kuat lemparannya dan telak kena.“Tukkk…Aduhhhh, bangsat siapa yang lempar batu ke aku,” bentaknya marah, karena batu tadi tepat kena jidatnya, sehingg benjol sebesar telor puyuh pun terbentuk.Saat itulah dia melihat ada bayangan orang yang berlari menuju ke arah kamar-kamar istri si bosnya ini.“Tubul bangun, ada maling, dia berlari dan menuju ke arah kamar istri-istri si bos!” kata orang ini bangunkan kawannya.Diam-diam dia rupanya ngeri mengejar sendiri, padahal badannya gempal dan lengannya kokoh. Agaknya jiwa hello kitty nya bangkit melihat bayangan itu.Jangan-jangan hantu, pikirnya.“Mana malingnya, berani sekali ke sini,” kata Tubul langsung nanar matanya, sebab sed
“Rileks saja, jangan tegang…asal kamu tahu Hagu, rohku ini kenapa masih gentayangan? Itu karena yang bisa menyempurnakan rohku adalah keturunanku yang ke 7. Nah, semua keturunan segarisku terus aku pantau…!” sahut roh Datuk, sehingga Hagu tentu saja makin bingung sendiri.Anehnya si roh Datuk ini menatap foto di dinding. "Brandon, Kanah, aku sudah bimbing salah satu keturunan kalian ke sini..tenang saja, dia bisa selesaikan semua masalah!" kata si roh Datuk ini.Makin kagetlah si Hagu, apa arti dari ucapan roh gentayangan ini. Bingung apa hubungannya dengannya? Itulah yang bikin Hagu tak habis pikir sekaligus penasaran, mana roh ini tak mau lagi menjelaskan soal ini.Saat Hagu dengan tangan gemetaran menaruh rokoknya, roh Datuk Hasim Zailani tiba-tiba lenyap, hampir terjengkang dan mau copot jantung Hagu."Ya Tuhan, ini mimpi apa benaran sih?" Hagu sampai berkali-kali cubit lengannya. Dia boleh berani dengan musuh-musuhnya, tapi kalau bertemu roh, mana malam-malam begini lagi, nyali
“Jadi begini kisahnya mas Hagu, mendiang nenekku yang bernama Rose dulu pernah dekat dengan seorang lelaki, bolehlah di bilang kekasihnya di masa muda. Nah, oleh si pria itu, rumah berikut sertifikatnya di berikan buat nenek aku. Kebetulan, pria yang di foto itu kakeknya si pria itu dan ibunya itu otomatis nenek buyutnya,” Sofia mulai bercerita.“Waah beruntung juga nenekmu itu Sofia di kasih rumah, lalu…maksudnya lanjutkan kisahnya?” cetus Hagu lagi makin tertarik.“Nenek aku pesan ke almarhum ibu, agar foto itu jangan di buang dan biarkan di sana. Biar sebagai pengingat siapa pemilik asli rumah ini.”Rose dulu saat muda adalah kekasih dari Radin, mereka sempat menjalin cinta, namun karena hubungan ini tak berlanjut, Rose lalu menikah dengan orang lain.Setelah berumah tangga, suami Rose ternyata ringan tangan dan mengkhianatinya, Rose bahkan sempat koma dan suaminya di hajar Radin hingga masuk penjara. Sebelum meninggal dunia, Rose mempunyai anak perempuan, yang juga ibunda dari So
“Om…sudah sampai di Jakarta!”“Oh yaa…baiklah terima kasih!” Hagu pun tak ragu keluar dari taksi gelap ini, mobil taksi ini gelap ini langsung tancap gas.“Masa ini Jakarta…? Katanya banyak gedung bertingkat dan di maan-mana macet, ini yang bertingkat nggak seberapa?” batin Hagu kebingungan sendiri. Dia sama sekali tak sadar, saat ini berada di Kota Sukabumi.Hagu lalu mampir ke sebuah warung, karena perutnya lapar.“Ini benarkah Jakarta?” tanya Hagu pada pemilik warung yang sediakan pesanannya.“Hah…Om salah, ini kota Sukabumi, Om nyasar yaa?” sahut di pemilik warung ikutan bingung, Hagu tentu saja terkejut bukan main.“Apa…jadi ini bukan Jakarta?” Hagu sampai berhenti makan.“Rupanya tuan nyasar, kalau mau ke Jakarta masih jauh, kalau perjalanan lancar minimal 3,5 sampai 4 jam dari sini. Tapi kalau macet bisa 6-7 jam baru sampai!” sahut si pemilik warung, lalu pergi meninggalkan Hagu, untuk layani pengunjung warung lainnya. Hagu duduk termenung dan mengingat wajah si sopir taksi ge
Di kamar lainnya, Hagu sama sekali tak bisa pejamkan mata. Pemuda ini berdiri di balkon kamarnya dan menatap Kota Kuala Lumpur, sambil termenung ingat mimpinya tadi sore yang baginya sangat aneh dan membuat bulu kuduknya sering berdiri tanpa bisa di cegah.“Aneh sekali, kenapa aku bisa mimpi kakek Datuk Hasim Zailani dan aku di sebut cucu buyutnya…?” batin Hagu sambil kembali isap rokoknya, benar-benar puyeng kepala pemuda ini.Akhirnya saat jarum jam sudah menunjuk ke angka pukul 2 malam, barulah Hagu bisa tidur nyenyak, tanpa mimpi.Balanara paham ‘sahabat’ barunya ini pusing tak punya identitas, karena paspornya tertinggal di Bangkok.Balanara lalu kontak staf di kantornya, agar membantu Hagu urus paspor dan surat-surat lainnya ke kedutaan Suriah yang ada di ibukota Malaysia ini.“Agar kamu tak di tangkap aparat saat berkeliaran di Kuala Lumpur, nanti biar anak buahku di kantor bantu kamu,” saran Balanara, Hagu pun mengangguk dan benar-benar sangat berterima kasih dengan 'Abangnya'
“Kelak kamu akan tahu, belum saatnya kamu kini tahu. Kamu masih banyak PR yang harus diselesaikan cucuku. Sekalian bantu saja keluarga si Balanara juga keluarga si Ryan ya, dia bukan orang lain denganmu,” sahut pria tampan dalam foto tersebut.“I-iya Om...eh kek…maksudnya apa? Aku ada hubungan dengan Balanara dan Om Ryan?” sahut Hagu masih gugup.Namun orang foto itu malah seperti kembali ke asal, tidak lagi bicara, foto besar itu tetap hanya berupa foto, tidak lagi terlihat hidup atau bicara.“Mas…mas…bangun, ini kopi panas silahkan di minum, nggak enak kalau dingin!”Hagu kaget, ia ternyata ketiduran, matanya sampai liar menatap kiri dan kanan, saat mentok ke foto tadi, bulu kuduknya kembali meremang.“Astagaa…aku ketiduran dan…bermimpi!” batin Hagu sambil menatap lurus foto itu.“Waah enak banget kamu, baru ku tinggal 30 menitan lebih, langsung molor,” ceplos Balanara.Hagu tentu saja kebingungan, perasaan di baru saja masuk di ruangan ini, kenapa malah di bilang lebih 30 menitan..
“Ha-ha-ha…bagaimana kalau mampir ke rumahku atau tepatnya rumah kakek buyutku, kita bisa ngobrol santai di sana, tapi bukan di Penang sini, di Kuala Lumpur!”Tiba-tiba tanpa di duga Hagu, Balanara mengundang ke rumahnya, padahal mereka baru kenal tanpa sengaja di tempat ini.Bukannya menolak, entah karena dorongan apa, Hagu mengiyakan saja, terlebih dia juga bingung mau kemana…!Hagu kaget saat Balanara di jemput mobil mewah yang langsung membawa mereka ke Bandara Penang Airport dan Hagu makin kagum, Balanara naik private jet, yang akan langsung menerbangkan mereka ke Kuala Lumpur.Awalnya heran juga Hagu, kok ada pemuda se tajir Balanara mau nangkring di kafe kelas biasa di Penang sini.“Jangan kaget yaa…kakek buyutku itu dulunya salah seorang taipan di sini. Lalu menurun ke kakekku dan akhirnya sampai ke ayahku. Aku ini generasi ke 5 dari kakek buyutku itu,” cerita Balanara saat mereka sudah berada dalam private jet mewah ini.“Jangan-jangan Anda ini keturunan Hasim Zailani,” ceplos
Hagu ternyata komit dengan niatnya, uang dari kelompok Al Harun dulu, benar-benar dia bagi-bagikan buat siapa saja yang membutuhkan dan Boby, Sari dan Ona kini giliran yang dapat uang darinya.Begitu sampai di pelabuhan Muara Sungai Mekong, tanpa buang waktu, Hagu cs beli tiket kapal fery, kini tujuan mereka ke Malaysia.Kalau sebelumnya mereka melewati sungai, kini mereka melewati Laut Cina Selatan yang sangat luas dan wajah ke 4 nya kini lega bukan main, sebab sudah berhasil keluar dari mimpi buruk.Padahal sebelumnya bermimpi akan dapat kerja enak dan gaji tinggi, hingga rela meninggalkan negeri sendiri.Diam-diam sebenarnya masih banyak warga Indonesia yang terjebak di sana. Boby, Sari dan Ona hanyalah 3 orang yang beruntung selamat setelah bertemu Hagu.Akhirnya, sampailah mereka di pulau Penang Malaysia.Boby, Sari dan Ona terkejut, saat Hagu bilang akan bertahan di Malaysia, dia tak ikut menuju ke Indonesia.“Kalian lanjutkan saja perjalanan ke Indonesia, aku ingin bertahan di
Dari ngantuk berubah jadi lenguhan manja dan akhirnya Crea pasrah menikmati layanan istimewa pemuda ini, yang tak ada puas-puasnya melumat apem rimbunnya tersebut.Crea sudah mengajari bebek berenang dan kini si bebek makin tak terkendali."Tahu enak gini, si Arai dulu ku sikat juga,' batin Hagu makin mabuk olehh nafsunya sendiri.Hagu yang baru pertama kali adu kelamin, kembali mengajaknya melayang di babak kedua.Kali ini Crea tak segan ‘ajari’ bebek berenang ini gaya-gaya yang mendebarkan jakun. Hagu…makin tenggelam dalam indahnya percintaan dengan Crea.Yang namanya nikmat pasti ingin mengulang dan terus mengulang, begitu juga keduanya. Apalagi Hagu dia tak bisa ngerem nafsunya dengan Crea. Paginya Boby, Sari dan Ona saat sarapan yang di sediakan ART Crea sampai saling pandang, saat terdengar suara desahan di kamar sang tuan rumah.Sari dan Ona sampai senyum-senyum di kulum dan mereka agak memerah wajahnya. Boby yang aslinya ada dikit-dikit ngondek mengedipkan mata pada dua sahab
Tiba-tiba Hagu kaget, saat tangan lentik Crea meraba pahanya, jantung Hagu kontan berdetak kencang. Anehnya kali ini dia diam saja, beda saat bersama Arai, tangan wanita itu dulu di kibaskan.“Kata orang, kalau di pegang langsung tegang, benaran perjaka!” canda Crea sambil berbisik, sampai dengus nafasnya menerpa wajah Hagu.“Masa sih, jadi kamu belum percaya…coba pegang!” tantang Hagu mulai terbawa suasana.Dan Hagu kaget setengah enak, saat tangan lentik dan halus Crea mulai menyelusup ke celana nya dan memegang ularnya…dan dalam hitungan detik pelan-pelan mulai terbangun.“Benaran perjaka tuan, sudah mulai keras…besar lagi,” bisik Crea terkaget-kaget sekaligus mulai terbakar sendiri. Tak menyangka pemuda ini memiliki size di atas rata-rata. Tak ada apa-apanya milik mantan suamiku, batinnya.Di usianya yang sudah hampir 22 tahunan, inilah pertama kalinya benda keramat milik Hagu di pegang seorang wanita dewasa.Reaksi Hagu…diam saja menikmatin, tanpa ada niat menghentikan ulah nakal