Diana berlari sambil meneteskan air matanya yang tidak bisa dia tahan lagi, dia tidak berani melihat ke belakang dia takut Rama akan membencinya padahal Rama sudah sangat baik padanya, tapi tidak apa-apa Diana akan membalas Rama suatu saat nanti.
Diana sedang berhenti di depan toko sambil menagis dia menundukkan kepalanya, orang-orang yang lewat melihatnya dengan perasaan iba, tetapi tidak ada satupun yang berhenti, mendekati, atau bertanya kenapa. Diana tidak peduli dengan tatapan orang, dia hanya diam.
Tiba-tiba seorang laki-laki memberikannya sebuah tisu
"Ini untukmu"
Suara laki-laki itu dingin
Diana melihat sebuah sepatu hitam mendekatinya, mendongak dan melihat penampilan tampan memakai kacamata hitam dia tak bisa melihat ekspresi apa yang di buat laki-laki itu
Diana menolak mengambilnya, dia tak kenal siapa laki-laki ini, dia hanya menundukkan kepalanya lagi
Laki-laki itu kesal di abaikan dia langsung membuka kacamantanya terlihat wajah tampannya yang awalnya tertutup, tapi auranya masih dingin acuh tak acuh
Diana masih menunduk saat dia melihat aksi laki-laki itu dia kembali mendongak dia terkejut melihat laki-laki yang menabrak dia siang tadi
"Kamu... Kenapa kamu di sini hah?"
Diana kesal masih menambahkan
"Apa kamu mau menabrak aku lagi? Ingin membuatku membunuhku?"
Nathan hanya diam hanya menatap prempuan itu, lucu seperti kucing yang menahan cakarnya agar tidak menyakiti siapapun, tetapi masih mengeluarkan kata-kata kesal. Wajah Nathan masih dingin acuh tak acuh
Diana kesal di abaikan dia masih marah
"Apa mau kamu? Tidak menjawab kata-kataku kamu tidak punya mulut ya? Tidak di gunakan?"
Diana megembungkan pipinya kesal, berbalik dan pergi
Bodo amat sama laki-laki itu aku tidak peduli apa mau dia, ngeselin
Nathan diam saja tapi tetap mendatangi Diana yang berjalan pergi dengan kesal
*************
Di ujung jalan di dekat toko roti ada sebuah mobil berwarna putih di dalamnya ada seorang laki-laki yang menunjukan ekspresi sangat jelek
Rama kesal melihat interaksi laki-laki itu dengan Diana
Dia bertanya-tanya siapa dia?
Untuk apa dia memperlakukan Diana seperti itu?
Rama hanya melihat punggung laki-laki itu tidak melihat wajahnya. Rama membuka layar ponselnya dan membuka kontak sekertarisnya nama kontaknya sekertaris Rian, dia langsung menekan panggilan
Panggilan itu langsung di terima, Rama langsung mengatakan
"Rian kamu cari informasi seseorang bernama Nathan Adrian, siapa dia, kehidupannya dan apa saja tentang dia"
"Baik akan saya cari, jika sudah ada akan saya kirimkan besok ke kantor bapak"
"Cari secara detail, saya ingin setiap inci bahkan apapun tentang dia"
"Siap"
Rian tidak banyak bertanya karena dia hanya mengikuti apa kata-kata bosnya
Rian adalah asisten pribadi Rama dia memiliki penampilan bisa di katakan lelaki tampan berambut coklat, memiliki lesung pipi di pipi kanannya, suka tersenyum, tapi jika sekali orang mencari masalah dengannya akan dia selesaikan sampai akarnya, dia juga sekertaris yang multitalenta bisa segalanya karena itulah Rama terkadang menyuruh dia mencari informasi seseorang.
Rama menutup telponnya dengan puas, tapi hatinya masih kesal
Siapa laki-laki itu apakah dia Nathan Adrian yang akan di jodohkan dengan Diana?
Rama mengepalkan tangannya dengan kera sambil mengigit bibirnya, rasanya dia ingin keluar dari mobil dan menarik Diana tapi dia menahan dirinya karena siang tadi Diana sudah mengakhiri hubungan mereka. Rama hanya menghela napas dia tidak pergi hanya melihat interaksi mereka berdua
Kembali ke tempat Diana
Diana berjalan dengan kesal laki-laki itu masih mengikutinya, Diana tak suka di ikuti dia berbalik dan langsung marah
"Apa mau kamu? Daritadi mengikuti aku terus. Dan siapa kamu?"
Nathan hanya diam dia tidak mau mengatakan siapa dia kalau Diana tau siapa dia pertemuan besok akan tidak menarik lagi
Diana dia abaikan lagi untuk kedua kalinya, dia hanya mendengar suara banyak perempuan bersorak melihat mereka berdua yang berjalan seperti pasangan yang bertengkar
Satu pasangan mendekati mereka, laki-laki berkata terlebih dahulu ke Nathan
"Hai tuan jika kamu terus bertengkar dengan dia, hubungan kalian berdua nanti tidak baik, kurasa kalian berdua cocok satu tampan dan satu cantik"
Perempuan lagi melanjutkan tetapi dia berkata kepada Diana
"Kamu juga lebih baik jangan bertengkar, baikan saja"
Diana dan Nathan diam menatap aneh pasangan itu
Siapa mereka?
Apa hubungannya mereka dengan kami berdua?
Karena kesal Diana makin menjadi dia langsung berteriak kepada pasangan itu
Kami bukan pasangan!!!
Tiba-tiba Nathan juga ikut mengatakan itu di waktu yang sama bersamaan
Pasangan itu hanya tertawa tidak percaya dengan mereka
"Kalian kan kenyataan pasangan sampai berkata di waktu sama seperti itu"
"Kami tidak..."
Kata-kata Diana di potong oleh Nathan
Nathan berkata dengan merendahkan tidak peduli nadanya dingin
"Ya kami pasangan apa maumu?"
Ucapan Nathan membuat pasangan itu kanget, takut bahkan ingin berlari dari sana
Nathan menambahkan dengan lembut tetapi orang bisa merasa itu ancaman
"Kalian pergi dari sini atau saya akan panggilkan keamanan setempat dan melaporkan kalian sudah menganggu orang? Apa kalian mau?"
Pasangan itu hanya meneguk air liur dan pergi dengan terburu-buru
Diana melihat kepergian pasangan itu dengan terburu-buru, takut seperti kehidupan mereka tinggal sedikit lagi tertawa
Nathan melihat Diana tertawa membuat perasaan asing di dirinya kambuh lagi, tapi dia mengabaikannya, Nathan ingin pergi dan tidak peduli lagi dengan Diana dia tidak suka terlalu banyak di lihat orang
Saat dia ingin pergi Diana mendekati Nathan dan berkata
"Walapun kamu sudah ingin menabrak ku tadi siang akan aku maafkan, dan terima kasih sudah mengatakan itu, untuk menolongku aku tidak suka terlalu menjadi pusat perhatian orang"
Diana berkata sambil tersenyum walaupun masih ada air mata di matanya bibirnya merah karena dia menggigitnya, matanya layu dan hidungnya merah, dia berkata seperti itu dengan senyum bukan membuat orang bahagia malah membuat orang merasa sakit
Cahaya menerangi senyuman indah Diana membuat Nathan melebarkan matanya beberapa detik membuat orang tak sadar bahwa dia pernah melakukan itu, dia kembali ke tampilannya yang dingin acuh tak acuh
Diana masih menambahkan
"Selamat tinggal aku tidak tau nama kamu siapa, tapi sepertinya kamu orang ya baik, untuk tisunya maaf aku tidak menerimanya, sepertinya ini untuk minta maaf kamu tadi siang karena sudah menabrakku aku terima, dan kita tidak ada balasan lagi karena kamu sudah minta maaf denganku dengan cari ini"
Diana tersenyum sedikit dan berbaik pergi
Kenapa saat Nathan melihat ekspresi Diana seperti itu membuat hatinya sakit dia merasa seperti kehilangan sesuatu dalam dirinya
Siapa kamu Diana?
Kenapa kita baru bertemu dua kali kamu selalu membuat hatiku sakit dengan ekspresi mu?
Nathan mengabaikan rasa sakit itu lagi hanya tersenyum licik
Nathan berbalik dan pergi ke ujung gag untuk mengambil mobilnya yang dia parkiran tadi, awalanya dia hanya ingin pura-pura baik kepada Diana, saat Diana sudah sampai di mobilnya dia langsung meninggalkan Diana di tempat sepi di gang itu.
Tapi teryata yang dia pikirkan salah, Diana adalah gadis yang baik tetapi terlalu keras kepala, dia tidak mau di bantu oleh siapapun, Nathan memberinya sebuah tisu Diana memberinya sebuah penolakan dan terima kasih padahal dia hanya melakukan hal kecil kepadanya, yang membuat Nathan makin tertarik
Nathan keluar dari gang itu dengan mobil hitam mewahnya.
*******************
Keesokan harinya
Di rumah Diana, mata Diana masih sembab dia menagis lama tadi malam dengan diam-diam orang tuanya tidak tau bahwa dia menagis
Diana masih memikirkan tentang kemarin dia memutuskan hubungan dengan Rama, tapi dia tidak bisa seperti ini terus karena hari ini adalah hari dia bertemu dengan calon suaminya
Diana berdiri malihat wajahnya di kaca menghela napas panjang, dia mengambil handuk memasuki kamar mandinya dan mandi, 30 menit kemudian dia menatap kaca lagi melihat wajahnya masih lesu, mencari make up nya untuk menutup wajah lesunya
30 menit Diana memakai make upnya terlihat wajah seorang gadis cantik seperti biasanya walapun di matanya masih tampak seperti berkabut
Diana masih memakai handuk dia lilit ke tubuhnya, Dia berjalan ke lemari dekat kasurnya, membukanya terlihat banyak sekali baju gaun, atasan dan bawahan
Diana bingung ingin memakai baju apa karena suasana hatinya hari ini tidak terlalu baik. Diana berdiri lama di depan lemari sambil melamun, saat itu terdengar suara ketukan dari luar
Tok...
Tok...
Terdengar suara lembut seorang laki-laki
"Diana nak kamu sudah bangun? Ada di dalam?"
Itu adalah ayah Diana yang berada di luar kamar
Diana tersadar dari lamunannya, tapi dia langsung menjawab panggilan ayahnya dengan lembut
"Diana sudah bangun ayah, tunggu sebentar ayah, Diana baru selesai mandi"
Diana masih memakai handuknya sekarang ini rambut dia yang awalanya basah sudah kering dan riasan wajahnya tadi yang awalnya bagus berantakan
Diana buru-buru memilih bajunya yaitu gaun biru muda selutut yang menurut dia lumayan bagus, dia langsung memakainya, memakai ulang make upnya
Langsung membuka pintu, saat Diana membuka pintu terlihat wajah ayahnya yang khawatir dengan Diana
"Maaf ayah menganggu kamu?"
"Tidak ayah, kebetulan saja Diana tadi sedang selesai mandi, maaf ayah menunggu lama, kenapa ayah mengetuk pintu Diana tadi ada sesuatu?"
Diana menjawab sambil tersenyum menyembunyikan kesedihannya
"Oh itu, tentang perjodohan kamu bagaimana apakah kamu menyetujuinya? Apa tidak?"
Ayah Diana bersemangat mendengar jawaban anaknya "ya" atau"tidak"tapi dia masih menyimpan ekspresinya
"Ayah aku.....
Bersambung........
Hujan turun sangat lebat membuat suara-suara terpendam bahkan yang bersuara besar pun tetap terdengar kecil karena tertutup suara hujan lebatDi sebuah kota bernama kota sky seorang laki-laki berwajah lembut, berkacamata, sedang duduk menyelesaikan banyak sekali berkas dia terlihat sangat sibukRama bekerja sebagai seorang pengacara, dia memilih bekerja di kota ini, karena kota ini memiliki pemandangan langit malam yang sangat indah, membuat Rama ingin mengajak Diana melihat pemandangan ini suatu saat nanti, tapi sepertinya untuk sekarang dia tidak mau memikirkan hal itu karena Diana sudah memutuskan hubungan dengan diaKantor Rama terletak di lantai 15 sebuah gedung bertingkat, kantornya berada di paling atas, kantor itu memiliki fasilitas yang mewahRama sedang sibuk menyelesaikan banyak berkas, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar"Masuk"Pintu terbuka menampilkan sosok tinggi, berwajah tampan, bibir tipis, memiliki mata berw
Diana yang di tinggalkan Nathan, Diana membuat ekspresi tidak menentu di wajahnya kaget, lucu, bahkan masih ada rasa sedih di wajahnyaDia adalah orang yang anehKenapa dia lakukan seperti itu kepadaku padahal aku tidak kenal siapa dia?Jika aku bertemu dengan dia lagi nanti aku akan mengembalikan jaket ini, dan mengucapkan terima kasihEkspresi Diana berubah menjadi tersenyum hangat, tetapi dia juga tertawa mengingat kejadian tadi*****************Nathan mengendarai mobilnya karena dia bingung harus berkata apa lagi dengan Diana, dia hanya baik pada Diana karena dia tidak mau mainannya nanti sakit, malah membuat dia makin susah saja jika terjadi apa-apa dengannyaNathan mengingat waktu pertemuan mereka jam 13:00 nanti dia penasaran wajah seperti apa yang akan di perlihatkan Diana nanti, apakah kaget?, pura-pura tidak kenal?, Atau tidak peduliNathan semakin penasaran memikirkannya, tanpa dia sadari m
"Masalah apa?""Itu bos ada tamu datang ke kantor kita, dia ingin mendiskusikan kerja sama""Tapi saya sedang sibuk saya tidak mau di ganggu""Bos ini sangat penting, karena menyangkut keuntungan kita""Saya Katakan saya sibuk kamu paham?""Tapi bos ini..."Diana mendengar perdebatan Rama dengan Rian dia merasa seperti dia menganggu Rama dia tidak mau membuat masalah lagi untuk Rama karena sudah 2 kali Rama susah karena diaJadi Diana berkata dengan Lembut kepada Rama memotong kata-kata Rian"Rama lebih baik kamu ke kantor saja, tapi apa luka kamu sudah baik-baik saja? Atau masih sakit?"Mendengar nada lembut Diana Rama melihat ke arah Diana yang tampak khawatir, Rama menjawab dengan lembut tersenyum, sambil menutup telponnya, tidak peduli dengan kata-kata Rian"Lukannya sudah tidak sakit lagi, tapi Diana bagaimana kamu jika aku tinggal?""Aku tidak apa, aku juga masih ada urusan, lebih baik kamu ke kantor
50 menit yang laluDi jalan xx tempat Diana dan Rama bertemu seorang perempuan sedang menghentikan mobilnya karena melihat perkelahian di depannya, dia tidak bisa terus melaju jadi dia hanya memainkan ponselnya dengan malasSaat dia asik bermain game sebuah telpon muncul di layar ponselnya, nomor kontaknya bos nathan yang meneleponnyaDia langsung mengangkatnya"Iya ada apa bos? Ada masalah?""Iya saya lupa tadi ada berkas yang masih di atas meja belum saya simpan nanti kamu simpan di laci meja kerja saya""Iya baik bos setelah ini saya akan ke kantor untuk menyimpannya"Terdengar suara ribut dari luar dan suara perempuan menghentikan pertengkaranNathan mendengar suara seperti suara Diana dia langsung bertanya kepada Novita"Novita kamu dimana? Saya mendengar suara ribut dan ada perempuan juga?""Oh itu bos iya, ada keributan di sini di jalan xx, 3 orang laki-laki berkelahi, 1 perempuan memeluk satu laki-la
Hari yang cerah awan berkumpul di langit tidak terlalu banyak atau sedikit memperlihatkan warna langit yang biru seperti air laut Indah dan indah. Itu adalah pagi hari yang indah untuk sebagian orang tidak untuk Diana Pagi-pagi sekali dia sudah menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal, tapi dia tau itu nomor siapa itu adalah nomor Nathan dia malas menyimpannya, dia kira Nathan tidak ada meneleponnya lagi hari ini karena mereka sudah ada janji bertemu kamarin tapi ternyata tidak Nathan masih meneleponnya Diana menjawab telepon sambil mengantuk mengusap matanya menguap berkata dengan malas "iya?" Nathan mendengar suara malas Diana berkata dengan biasa saja "Kamu ingat kan hari ini kita ada bertemu?" Diana menghela napas panjang menjawab "Iya aku tau, kamu kira aku lupa?" "Oh bagus jika kamu tidak lupa, yasudah aku tutup telponnya" Nathan menutup telponnya dengan satu ketukan di layarnya. Diana masih
Sebuah tangan menepuk lembut bahu Diana, Diana terkejut langsung menoleh, ia melihat Rama yang sedang tersenyum kepadanya Rama menggunakan baju jas lengkap dengan sepatu berwarna coklat, kacamata masih terbingkai indah di matanya. Melihat Rama tersenyum kepadanya Diana balas terseyum dengan canggung. "Diana apa yang kamu lakukan di sini?" Rama bertanya dengan khawatir Diana hanya membalas kata-kata Rama dengan tersenyum, tidak mengucapkan sepatah katu pun, membuat Rama khawatir, Rama tidak tau harus berbuat apa jadi dia memeluk tubuh Diana dengan erat, menenangkan "Diana kamu ada masalah? jika ada katakan kepadaku, akan kubantu" Diana merasa pelukan hangat Rama di tubuhnya Diana langsung melepasnya, dia tidak mau di lihat orang, karena kejadian tadi bisa membuat orang salah paham. Pelukannya di lepas oleh Diana membuat Rama mengerucutkan bibirnya sedih, tapi dia masih menangkan Diana. Melihat ekspresi sedih Rama dari yang tersenyum menjadi sedih, Dian
Diana langsung bergegas berjalan mencari taksi untuk mengantarnya ke rumah sakit, dia berterima kasih di dalam hatinya untuk perempuan yang berteriak mengatakan alamat rumah sakit tadi. Jika kita bertemu, aku akan mengatakan terima kasih Diana tersenyum bahagia, dia akhrinya bisa tau alamat rumah sakit anak itu, jadi dia tidak lelah mencarinya. Diana berjalan menuju pinggir jalan, ada sebuah taksi berwarna biru di ujung jalan menuju ke tempatnya, dia lansung melambaikan tangannya untuk memanggil taksi itu. Tidak lama Diana melambaikan tangannya, taksi itu berhenti di sebelahnya, Diana berjalan mendekat ke taksi membuka pintu langsung masuk. sopir taksi yang sedang memegang kemudi, membalikan tubuhnya dengan lembut bertanya kepada Diana "Mbak mau pergi kemana?" "kerumah sakit xi adrian hospital, bisa pak?" "bisa mbak" sopir taksi, membalikan tubuhnya ke depan, dengan lembut memegang kemudi, menjalankan mobilnya. Diana di dalam t
Tidak terasa mereka bertiga sudah sampai di depan ruangan vip yang di pesan Nathan untuk anak yang di selamatkan Diana, Billy dan Diana melihat Novita seperti memohon untuk membukakan pintu, Novita paham dengan tatapan mereka langsung membuka pintu, terlihat Nathan yang sedang duduk memegang gelas di tangannya, dengan wajah dingin tapi tatapanya kesal melihat Diana. Diana tidak melihat mata kesal Nathan dia hanya berjalan mendatangi anak yang dia selamatakan tadi yang masih berbaring di atas kasur rumah sakit. Novita berjalan ke sebalah kanan Nathan dengan gugup, berpikir bosanya pasti sedang marah karena kejadin tadi, Billy berjalan medekati Diana sambil mengecek keadaan anak itu. Nathan menoleh ke kanan menatap Novita yang sedang berdiri di sebelahnya dengan tangannya yang terkait erat mencubit kuku-kukunya dengan gugup, Nathan tidak peduli dengan kegugupan Novita, dia mengerakan tangannya memanggil Novita untuk menundukan kepalnya. Karena tidak mau bosnya semakin marah No
Sembilan bulan telah berlalu sejak kejadian itu, Diana lambat laun sudah menerima semua kenyataan itu, untuk kedua orang tua yang sudah merawatnya dia tidak pernah menemui mereka lagi sejak itu, yah mereka juga tidak berada di indonesia untuk saat ini ataupun sembilan bulan lalu.Dia hidup dengan bahagia karena dia sudah tau semuanya dimasa lalu dan dia merasa perasaan dan hatinya sudah terisi semua saat ini, Karena sejak saat itu pertemanannya dengan Kirana menjadi sangat baik, bahkan mereka tidak menjadi musuh lagi, tapi sayangnya Kirana sekarang tidak berada di indonesia dia kembali keluar negeri.Diana sekarang sedang berada dirumah sendirian, tetapi dia sedang asik menatap layar ponselnya dengan tersenyum, karena dia sedang membalas pesan teks temannya yaitu Novita, dia ingin mengajak Diana untuk membantunya memilih baju pernikahan, saat menerima pesan itu dia sangat bersemangat dia juga ingin tau baju pengantin apa yang bagus dipakai oleh temannya ini.Beberapa seminggu yang lal
David dan Kirana masih berada didalam mobil, Kirana melirik david dari sudut matanya dan berkata dengan nada ringan, "David aku sudah memutuskan, sepertinya aku ingin mejelaskan semua hal yang kutahu kepada Diana dan beberapa dendam dan kenyataan yang harus dia tau, agar kami tidak salah paham lagi dan aku tidak mau menyimpan dendam lagi dengan Diana."David menganggukan kepalanya, menatap Kirana dan berkata dengan lembut, "kamu ingin memberitahunya kapan?".Kirana berpikir selama beberapa saat setelah itu dia balas menatap David dengan berkata, "Sepertinya besok, lebih cepat lebih baik dan besok juga hari libur."David tersenyum sedikit dan berkata dengan nada biasa, "Oke, dan kamu ingin berbicara empat mata saja dengan Diana?".Kirana menggelengkan kepalanya perlahan-lahan, dan menjawab dengan ketegasan dimata putih hitamnya, "Tidak, aku akan mengajak Diana, Novita, Nathan, kamu, dan Rama."Mendengar ucapan Kirana membuat David seketika terkejut, dia tidak tau kenapa Kirana harus me
Diana bermimpi dia sebuah tempat yang dia rasa akrab, dia menyapu sekelilingnya dia entah kenapa merasa tempat ini sangatlah akrab, dia seperti pernah melihat tempat ini, tetapi dia tidak terlalu ingat di mana dia pernah melihatnya, seperti penuh dengan banyak kenangan, dia mengulurkan tangannya kedepan dan menatap tangannya yang sangat kecil, dia terkejut, dia bingung kenapa tangannya sangat kecil seperti umur 8 atau 10 tahun, menghela nafas dengan kasar, dia hanya bisa menerima kenyataan bahwa dia menjadi gadis kecil sekarang, bahkan dia ingin sekali mencari cermin untuk melihat wajahnya.Tetapi dia juga ingin mencari suaminya, mungkin saja dia bertemu suaminya yang juga menjadi anak kecil seperti dia, apakah itu akan sangat imut?Dia sangat penasaran dan tanpa sadar tersenyum lucu.Sampai seseorang perawat masuk kedalam ruangannya untuk memeriksa keadaanya, perawat itu menatap Diana kecil dia berkata, "Adek apakah kamu masih mengalami pusing kepala?."Di
David mengendarai mobilnya seperti apa yang dikatakan oleh Kirana, saat sampai dipersimpangan jalan, Kirana melihat ada toko yang menjual bunga, dia menoleh kearah David yang duduk disebelahnya, dia juga mendengar David sedang bersenandung tampak bahagia, tetapi dia tidak tau kenapa lelaki itu bisa bahagia, dia melirik David dari sudut matanya dan berkata dengan ringan, "Berhenti." David langsung mengerem mendadak, untung saja Kirana sudah siap dan memegang pegangan mobil yang ada disebelahnya jika tidak, wajahnya sudah menghantam kaca mobil, David yang terkejut itu, langsung menoleh kearah Kirana yang seperti tersenyum tetapi tidak tersenyum menatapnya berkata, "Aku keluar dulu, kamu tunggu disini." David mengangguk, setelah itu Kirana keluar dari mobil dan masuk kedalam toko bunga. Di dalam toko bunga Kirana, membeli sepaket bunga melati sekaligus dengan pandan dan juga air yang berada didalam botol, pemilik toko itu tersenyum kearah Kirana dan berkata, "Apa ini digunakan untuk me
Nathan yang tampak sangat gugup dan ketakutan terjadi sesuatu dengan Diana, dan tanpa pikir panjang saat melihat rumah sakit, dia langsung menghentikan mobilnya dan membawa Diana secara horizontal untuk masuk kedalam rumah sakit.Dokter dan perawat melihat Nathan masuk, mereka langsung membawa kursi roda, dan Nathan mendudukkan Diana diatasnya dengan lembut, saat sudah melihat pasien di atas kursi roda, perawat langsung membawa Diana yang tidak sadarkan diri ke ruangan UGD.Dan Nathan dengan khawatir menunggu diluar ruangan, dia mondar-mandir didepan pintu, sambil menggigit jarinya, tampak sangat putus asa dan sangat khawatir, bahkan seperti sikap acuh tak acuh dan dingin Nathan, tidak terlihat sama sekali sekarang, hanya digantikan dengan perasaan gugup dan takut diwajahnya.Dia tidak mau memberitahu ibunya kalau Diana sedang ada dirumah sakit, dia ingin memberitahu ibunya saat Diana sudah sadarkan diri, karena dia takut ibunya sangat khawatir.
Kirana berbalik dan menatap lelaki itu dengan terkejut, penampilan lelaki itu bisa dibilang dia memiliki rambut coklat pendek, dengan kulit putih, dengan wajah tampan, bibir merah, dan gigi putih, mata berwarna coklat, hidung mancung dan setelan baju biasa ditubuhnya, dengan senyum bahagia di wajahnya dia menatap Kirana yang juga berbalik mentapnya. Kirana yang melihat wajah familiar dan senyum familiar itu ingin langsung berbalik dan kabur, tetapi lelaki itu langsung memeluk tubuh Kirana dengan erat ada sedikit rasa sedih dinadanya berkata, "Kirana aku merindukanmu." Merasakan tubuhnya dipeluk dengan erat, kirana langsung mengerutkan kening, Kirana meronta-ronta dipelukan lelaki itu, untuk melepaskannya, tetapi bukannya dilepaskan, lelaki itu memeluknya semakin erat. Kirana tidak tahan lagi dan meraung dengan kesal, "Jonathan kenapa kamu memelukku, lepaskan aku sekarang juga!." lelaki yang bernama jonthan itu, seperti tidak mendengarkan ucapan Kirana dia masih s
David mengejar Kirana sampai kedepan kafe, tetapi Kirana tidak menyadari bahwa David mengejarnya dan sekarang tepat berdiri dibelakangnya sambil tersenyum menatap bahu Kirana, dia lebih tinggi dari Kirana, jika dijejerkan Kirana tingginya hanya sampai bahunya saja, dia ingin mendekati Kirana dan memeluknya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ingin memeluk seseorang dan melindunginya bahkan ingin merubahnya menjadi lebih baik, untuk masa lalu yang sudah lewat bahkan jika dia dulu membenci perempuan yang ada dihadapannya ini, dia tidak peduli lagi.Karena tujuan utamanya sekarang adalah memiliki perempuan ini sepenuhnya dari hati, pikirin bahkan tubuh, tapi mungkin itu hanya hayalannya saja, setiap dia bertemu dengan perempuan ini dia selalu saja menjauh darinya, seperti tidak memperdulikannya, padahal dia sudah berkali-kali mengejarnya meyatakan perasaannya, tetapi sayangnya perempuan ini tidak peka atau hanya mengira dia berbohong?, Padahal dia sudah mengatakan yang seju
Ketika mereka sampai jembatan itu sangat sepi bahkan satu orang lewatpun tidak ada sama sekali, tetapi pemadangan diseberang jembatan itu cukup bagus dan juga udaranya sangat sejuk.Nathan yang keluar terlebih dahulu, setelah itu diikuti oleh Diana, yang langsung mengangkat kepalanya sedikit keatas untuk merasakan dan menghirup udara sejuk, dia sekarang sedang berdiri diatas jembatan dengan kedua tangannya menyentuh pinggiran pagar jembatan, Nathan juga berdiri disebelahnya dan menatapnya dalam diam, dia bahagia melihat istrinya yang tampak menikmati tempat ini.Diana menoleh dan menatap suaminya dengan senyum lembut dibibirnya matanya yang tampak meyipit memberikan ilusi, bahwa saat melihat mata itu seseorang yang menatapnya akan melihat perempuan itu sangat bahagia.Tapi memang benar Diana sangat bahagia, karena saat mendengar cerita dan langsung datang ketempatnya langsung benar-benar berbeda, bahkan dia sangat senang bisa tau tempat yang disukai oleh suaminy
Novita yang terkejut karena dilempar oleh Diana, walapun itu tidak sakit, karena Billy dengan cepat menangkap tubuhnya, walapun dia terpana, karena mungkin keinginannya yang terlalu besar dan cepat untuk melindungi Novita dia langsung menangkap tubuh Novita dengan cepat.Novita mencium bau parfum dari tubub Billy yang sangat nyaman, membuatku ketagian dan memeluk Billy semakin erat, Billy yang dipeluk semakin erat oleh Novita membuatnya melebarkan matanya, dia sebenarnya bahagia dipeluk seperti itu oleh Novita, tetapi disisi lain dia takut jika dia dipeluk oleh perempuan yang dia suka terlalu lama, dia takut dia tidak bisa menahan dirinya.Billy mengigit bibirnya keras, seperti menahan dirinya untuk tidak mendorong Novita untuk menciumnya.Setelah lama mereka berpelukan, Novita dengan cepat melepaskan pelukannya dari tubuh Billy, Billy merasa lengannya kosong, dia hanya bisa menghela nafas perlahan, dan menatap Novita yang masih saja tampak merajuk didepannya.