Stefan melihat sebuah gazebo yang berada tidak jauh dari sana. Dia melangkah ke arah gazebo tersebut. Di sekitar gazebo terdapat banyak salju palsu yang sengaja dibuat untuk mendapatkan kesan musim dingin.Lelaki itu duduk di meja yang ada di gazebo tersebut. Dia menatap salju palsu tersebut dan mendadak merasa sebentuk perasaan dingin. Dia berkata pada Jonas, “Dekorasi salju palsunya sangat bagus. Cocok dengan pemandangannya.”“Karena tahun baru, ada baiknya dekorasi yang baru biar semua orang merasakan suasana tahun baruan dan natal. Di vila kita bisa bermain ski, kalau Pak Stefan tertarik, saya bisa bawa Pak Stefan ke sana.”“Saya suka main ski di daerah utara yang memang ada saljunya,” kata Stefan dengan tenang.Jonas tertawa dan berkata, “Kebetulan sekali, aku juga menyukainya. Lain kali kalau ada waktu, kita janjian untuk main bersama dan menikmati pemandangan di daerah utara.”“Pak Stefan sedang ada pikiran karena masalah hati?” tanya Jonas lagi.Jonas tidak memiliki kekasih, te
Sepuluh menit kemudian, Yose muncul di gazebo tempat mereka sedang duduk.“Pak Yose,” sapa Stefan sambil bangkit berdiri.“Maaf mengganggu waktu Pak Yose.”Karena malam ini Stefan harus kembali ke Mambera, dia harus mengganggu waktu Yose sekarang juga. Yose hanya tertawa kecil dan berkata, “Nggak apa-apa, Pak Stefan. Silakan duduk.”Setelah dia mempersilakan Stefan untuk duduk, Yose meminta adiknya untuk memanggil pelayan agar dapat mempersiapkan minuman dan makanan ringan.“Apa yang Pak Stefan ingin tanyakan padaku?”Stefan tersenyum dan tampak sedikit salah tingkah. Dengan pelan dia berkata, “Ini tentang urusan perasaan pribadi. Aku mau sedikit belajar dari Pak Yose karena kita berdua sama-sama mengalami pernikahan dadakan.”Yose sendiri masih belum tahu kalau ternyata Stefan menikah secara mendadak. Jonas tidak mengatakan apa pun ketika pulang ke rumah. Mendengar ucapan Stefan, Yose tampak sangat terkejut. Lelaki seperti Stefan ternyata bisa menikah secara dadakan?“Pak Stefan sudah
“Setelah pernikahan dadakan kalian, bagaimana hubungan kalian berdua?” tanya Yose ingin tahu.Dia dan Mulan memang menikah secara mendadak, tetapi keduanya sudah saling mengenal selama 11 tahun lamanya. Selain itu Mulan merupakan sosok yang sudah dia tunjuk sebagai masa depan. Karena usia perempuan itu terlalu muda, Yose menutupi perasaannya seorang diri.Hingga ketika Mulan tidak berani pulang karena paksaan menikah dari orang rumahnya, perempuan itu dengan terpaksa memintanya menjadi kekasih bohongan. Yose menangkap kesempatan tersebut untuk menjebak Mulan dan membuat perjanjian pernikahan.Karena Yose menikah dengan orang yang telah dikenal, keadaannya cukup berbeda dengan Stefan yang menikah dengan orang asing. Tiba-tiba rasa ingin tahu mengelilingi benak Yose.“Sebelum menikah, aku sudah menjelaskannya pada nenekku kalau aku nggak masalah harus menikahi dia, asalkan setelah menikah, Nenek nggak boleh ikut campur urusanku lagi. Aku menutupi identitasku dengan tujuan untuk memantau
“Pak Yose, kamu sudah berpengalaman, jadi aku berencana minta saran dari Pak Yose. Dulu bagaimana caranya jujur dengan istrimu? Waktu istrimu mengetahuinya, bagaimana reaksinya? Apa yang kamu lakukan agar membuatnya menerimamu dengan sepenuh hati dan nggak memikirkan reaksi orang di luar sana?”Yose mengerti dengan kegundahan yang ada di pikiran Stefan. Lelaki itu bukan tidak ingin jujur mengenai identitasnya pada sang istri, dia hanya takut istrinya akan terluka jika dia jujur nanti. Selain itu, keberadaan Amelia memang merupakan sebuah masalah. Jika diselesaikan dengan cara yang tidak tepat, maka Amelia akan iri dan hubungan keduanya akan rusak bahkan menjadi musuh.Dengan begitu maka akan berdampak pada hubungan Stefan dan juga istrinya. Yose mengangkat gelasnya dan menyesapnya sambil berkata, “Pak Stefan, keadaan kita berdua nggak sama. Meski aku dan istriku menikah mendadak, itu semua karena rencanaku sendiri.”“Aku sudah sejak lama sekali suka dengan istriku selama 11 tahun. Aku
“Lebih baik Pak Stefan yang jujur langsung dibandingkan dia tahu dari orang lain,” kata Yose yang mengerti dengan perasaan Stefan.Mungkin kalau kala itu Yose yang jujur secara langsung dengan Mulan mengenai identitasnya, reaksi perempuan itu tidak akan berlebihan karena hal itu menunjukkan Yose mempercayai perempuan itu sehingga dia memutuskan jujur.Akan tetapi karena Mulan mengetahuinya dari Owen, Mulan merasa Yose tidak percaya pada dirinya dan merahasiakan hal tersebut darinya. Ditambah dengan kedua mertuanya yang merasa jarak keduanya sangat jauh dan khawatir bahwa Mulan akan direndahkan oleh keluarga Yose. Oleh karena itu, kedua orang tua Mulan pernah menolak kebersamaan mereka berdua.“Kalau kamu yang bilang sama dia secara langsung, dia merasa kamu sudah percaya dengannya. Kalau orang lain yang bilang, dia akan marah dan merasa kalau di dunia ini hanya dia yang nggak mengetauinya dan kamu sudah membohonginya. Dia merasa kamu nggak percaya dengan dia dan juga bersikap waspada d
Adiknya yang ketiga, Jody dan juga yang kelima, Jonas, merupakan anak-anak yang paling membuat kedua orang tuanya khawatir. Karena mereka tidak dilahirkan dari ibu yang sama, usia keduanya tidak jauh berbeda. Orang-orang seusia Jonas rata-rata sudah memiliki dua anak.“Aku ingin sekali bantu Pak Jonas cari kekasih tapi sayangnya aku nggak kenal banyak perempuan muda. Mungkin aku nggak bisa bantu Pak Jonas untuk hal ini. Tapi aku bisa minta istriku bantu carikan. Atau mungkin aku bisa sampaikan pada nenekku. Dia lagi mencarikan pasangan buat adikku, mungkin dia bisa bantu carikan juga untuk Pak Jonas?”Jonas hanya diam saja dan tidak berkata apa pun. Dia memang belum pernah bertemu dengan Nenek Sarah. Akan tetapi, gosip yang beredar mengatakan bahwa Nenek Sarah merupakan orang yang jeli.“Kalau begitu aku hanya bisa merepotkan Nenek Sarah saja.”Yose juga merasa akan sangat sulit jika Stefan yang membantu Jonas mencari jodoh. Stefan merupakan lelaki yang tidak suka didekati oleh perempu
Setelah keluar dari Vila Ferda, Stefan memutuskan untuk tidak menetap lebih lama di Kota Aldimo. Dia berangkat kembali ke Mambera di hari yang sama. Stefan tidak memberi tahu Olivia terlebih dahulu kalau dia hendak pulang karena ingin memberikan kejutan untuk perempuan itu.Selama perjalanan pulang, Stefan memikirkan kembali ucapan Yose. Lelaki itu menyarankan dia untuk jujur atas semuanya tanpa perlu memikirkan perasaan Amelia. Bukan urusan Stefan jika Amelia menyukainya karena Stefan tidak pernah mendekati perempuan itu.Kalau dia memikirkan perasaan Amelia dan seperti permintaan Aksa yang menunggu Amelia melupakannya dulu baru memberi tahu Olivia, maka sampai kapan dia harus menunggu? Selain itu Amelia bukan siapa-siapa bagi Stefan, untuk apa dia harus mendengarkan ucapan Aksa?Dia harus memilih hari di mana Olivia sedang senang dan hari yang spesial. Stefan berencana menggunakan cara spesial untuk jujur pada perempuan itu.“Dimas.”“Iya, Pak,” sahut Dimas dengan santun.“Coba kamu
Dimas mengingatkan lelaki itu. Kala itu atasannya ini tidak peduli dengan Olivia. Bahkan nama istrinya saja juga tidak diingat olehnya. Mereka yang selalu mengingatkan Stefan siapa nama istrinya.Untuk hari ulang tahun pernikahan juga jangan harap Stefan bisa mengingatnya. Lelaki itu tidak ada sifat romantis dalam dirinya.“Kamu yakin 10 Oktober?” ujar Stefan memastikan.“Biar saya lihat buku nikah saat pulang nanti,” ujar Stefan lagi.Melihat perasaan Stefan yang jauh lebih baik dibandingkan ketika datang langsung memberanikan diri bertanya, “Pak, Pak Stefan berencana kasih kejutan buat Ibu?”“Memangnya kamu pikir mau kasih kamu kejutan?” Dimas hanya terdiam dan tidak berani berkata apa pun lagi.Saat ini Olivia sedang meminta kakaknya untuk menemani dia belanja di pasar. Stefan bilang lelaki itu akan membawanya pulang untuk merayakan tahun baru, oleh karena itu dia harus membeli barang untuk dibawa pulang. “Aku juga nggak tahu mereka suka apa. Kak, kakak ikuti saja waktu dulu beli
Nana tidak berpikir Rosalina membohonginya. Rosalina hanya menjalankan tugasnya sebagai kakak ipar. Samuel sudah bukan anak kecil lagi, Rosalina sebagai kakak ipar mana mungkin selalu mengawasi ke mana dia pergi? Mungkin saja Samuel baru pulang di tengah malam, sehingga wajar saja jika Rosalina tidak tahu.“Kemarin aku pulangnya malam, dan hari ini aku nggak keluar rumah. Aku cuma di kamar saja bayar utang tidurku,” ucap Samuel seraya berjalan turun menghampiri mereka berdua. Lalu dia pun menyapa Nana dengan nada sungkan. “Halo, Nana Imut.”Samuel hanya bisa memanggil Nana dengan sebutan itu karena dia tidak tahu siapa nama sebenarnya. Nana Imut sebenarnya hanya nama panggilan. Mungkin saja saat masih kecil dia sangat menggemaskan sehingga orang-orang yang lebih tua darinya memanggilnya dengan sebutan “Nana Imut”, dan panggilan itu masih bertahan hingga sekarang.Nana membalas sapaan Samuel dengan mengangguk. Lalu Samuel pun kembali menatap ke arah Rosalina dan berkata kepadanya, “Kak
“Oke, yuk!” sahut Nana.Rosalina menggandeng tangan Nana keluar, dan Nana juga dengan senang hati mengikutinya. Sementara itu, Samuel yang menguping obrolan mereka dari depan tangga di dekat jendela mulai panik.Apa jangan-jangan Rosalina lupa dengan tugasnya hari ini? Rosalina mengajak Nana datang ke rumah sesuai dengan permintaan Samuel, tetapi sebelum Samuel menemukan tempat yang dia cari, Rosalina malah mengajak Nana pergi bermain layang-layang. Mana mereka bermainnya di halaman pula.Di halaman memang ada pohon agar Samuel bisa bersembunyi, tetapi bersembunyi di pohon yang jaraknya sangat jauh. Kalaupun dia bisa melihat Rosalina dan Nana bermain, dia tidak bisa melihat detail-detail kecilnya dengan jelas.Dalam hati Samuel mengumpat kakaknya. Rosalina hanya mengatakan hari ini anginnya kencang cocok untuk bermain layangan, tetapi Calvin malah dengan gamblangnya mengirimkan layang-layang untuk Rosalina. Alhasil jadinya mereka berdua benar-benar bermain layangan.Samuel tidak bisa b
“Sudah lama banget aku nggak main layang-layang. Kayaknya semenjak aku dewasa, aku sudah nggak pernah sentuh layangan lagi. Waktu aku masih kecil sih sering banget. Untung saja hari ini ada kamu, aku jadi teringat lagi sama masa kecilku yang bahagia.”“Aku juga jarang banget main layang-layang. Waktu kecil cuma kakak adikku saja yang punya, aku nggak. Walaupun harganya nggak seberapa, om dan mamaku nggak pernah beliin aku layangan. Dulu yang paling baik sama aku malah pengasuhku. Dia yang bikinin aku layangan, walaupun terbangnya nggak bisa terlalu tinggi. Aku sayang banget sama layangan itu, tapi baru aku mainkan dua kali, layangan itu dirusak sama Giselle. Aku laporin ke Mama, malah aku yang dimarahi. Pengasuhku juga kena marah dan nggak diizinin untuk bikinin aku layangan lagi. Aku nggak punya mainan apa-apa. Sebelum aku berumur dua tahun, papaku beliin aku banyak banget mainan, ada banyak boneka yang cantik-cantik. Tante Dewi bilang aku suka banget sama boneka. Tapi sejak papaku me
Nana bertanya, “Kenapa kamu nggak ke toko bunga?” Rosalina menjawab, “Aku mau istirahat sebentar. Dokter Panca menyuruhku untuk nggak terlalu lelah, katanya tubuhku masih lebih lemah dibanding orang lain dan harus dirawat dengan baik. Aku nggak boleh terlalu capek atau begadang." "Sebenarnya, bekerja di toko bunga nggak melelahkan, tapi adikku sering datang ke sana dan membuat keributan. Sangat menjengkelkan." "Calvin menyuruhku beristirahat saja di rumah. Lagi pula, ada orang yang menjaga toko. Kalau aku nggak ada di sana, adikku hanya akan berkeliling sebentar lalu pergi.” Nana berkata, “Kamu masih terlalu lembut. Kalau itu aku, setiap kali dia datang, aku akan menghajarnya sampai dia kapok dan nggak berani datang lagi." "Dengan semua yang sudah dia lakukan untuk menindasmu, kamu seharusnya nggak menganggapnya lagi sebagai saudara." Rosalina tersenyum dingin, “Aku juga nggak menganggapnya saudara. Dia hanya bisa menang lewat omongan, dan aku malas meladeni dia. Aku nggak perlu
Begitu Nana tiba di depan gerbang halaman rumah Rosalina, dia melihat perempuan baru keluar dan berseru, "Nana!" Rosalina tersenyum, "Aku dengar kamu sudah datang sejak tadi. Aku penasaran kenapa belum melihatmu, lalu aku menebak pasti kamu pergi ke rumah Tante Dewi. Aku baru saja mau mencarimu." Nana menjawab, "Nenek ada di rumah. Aku datang, tentu harus menyapanya dulu. Aku mengobrol sebentar dengan Nenek sebelum ke sini." Dia maju beberapa langkah, dengan akrab menggandeng lengan Rosalina, lalu melirik ke dalam dan bertanya, "Samuel nggak ada di rumah, 'kan?" "Kenapa? Kamu mencarinya?" Rosalina menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Nggak, hanya saja dia selalu menunjukkan wajah cemberut di belakang Nenek setiap kali melihatku. Aku nggak mau bertemu dengannya, supaya dia nggak berpikir bahwa aku akan mengikuti keinginan Nenek." "Siapa yang mau sama dia? Aku punya banyak kakak senior, pilih salah satu saja, mereka pasti nggak akan berani menolak aku." Rosalina langsung kesa
Di perusahaan sedang sangat sibuk dan belakangan ini dia sering berada di luar. Teman-temannya mulai mengeluh karena ketidakhadirannya. Namun, neneknya tahu alasan sebenarnya dia keluar, jadi tidak mendesaknya untuk segera pulang. Meskipun begitu, dia tidak bisa berlama-lama di sini. Terlalu banyak pekerjaan yang menunggu. Nenek tertawa dan berkata, "Kalau makanannya enak, makanlah lebih banyak. Tinggal di sini beberapa hari lagi." "Nenek, aku sibuk bekerja. Aku datang ke sini hanya karena guruku datang. Sekarang guruku sudah pulang, aku juga harus kembali bekerja." Nenek menggenggam tangannya dan berkata, "Bagaimana kalau Nenek menelepon keluargamu dan bilang supaya kamu tinggal lebih lama di Mambera?" "Nenek, nanti saat libur Tahun Baru aku akan datang lagi. Sekarang aku benar-benar nggak bisa tinggal lebih lama. Hari ini pun aku datang hanya karena Rosalina terus-menerus memaksaku untuk menemaninya." Nana merasa Sarah seperti tahu siapa dirinya sebenarnya. Dia mencoba menging
Dia bisa memakai perhiasan kapan saja dia mau, dan tidak memakainya jika tidak ingin. Dia memiliki koleksi perhiasan pribadi yang sangat banyak, apalagi dengan tambahan perhiasan yang diberikan oleh ibu mertuanya. Perempuan itu tidak kekurangan perhiasan. Bahkan, dia sangat menyukai perhiasan, terutama batu giok. Di dalam koleksinya, terdapat banyak sekali perhiasan giok berharga. Setelah tiga menantu perempuan masuk ke keluarga, dia membagikan sebagian koleksi perhiasannya kepada mereka. Selain itu, untuk sembilan cucu menantu, dia juga telah menyiapkan hadiah perhiasan. Namun, dia tetap menyimpan beberapa untuk dirinya sendiri—sebagai warisan terakhir. Dia berharap akan memiliki seorang cicit perempuan suatu hari nanti. Jika dia benar-benar mendapatkan cicit perempuan, maka semua perhiasan simpanannya itu akan diberikan kepada cicitnya sebagai mas kawin. "Ma, lihat siapa yang datang!" Menantu sulungnya tiba-tiba berkata dengan penuh semangat. Sarah sengaja menunjukkan ekspresi
Baik memesan makanan dari menu maupun menikmati prasmanan, semuanya sangat lezat, membuat para tamu sangat puas. Tidak heran jika hotel-hotel di bawah naungan Adhitama Group selalu ramai. Banyak orang datang hanya untuk makan, bukan menginap. Para tamu yang menginap di hotel bisa mendapatkan diskon 30 persen saat makan di restoran hotel. Di lantai satu, selain restoran, ada juga kafe, toko oleh-oleh khas Mambera, taman bermain anak-anak, serta area membaca. Di area membaca, terdapat beberapa rak buku besar yang penuh dengan berbagai jenis buku. Saat hujan, tamu bisa menghabiskan waktu seharian di hotel tanpa merasa bosan. Pelayan itu tersenyum. "Baiklah, aku akan mencari Bu Fenny. Silakan lanjutkan urusanmu." Nana tersenyum dan pergi. Pelayan itu pun kembali ke pekerjaannya. Nana berjalan sambil menikmati pemandangan. Dengan santai, dia menghabiskan 40 menit sebelum akhirnya sampai di rumah utama.Meskipun Rosalina yang mengundangnya, tetapi karena Nenek Sarah ada di rumah, sebag
Sejujurnya, dia juga diperlakukan seperti harta berharga yang disayangi oleh keluarganya ketika di rumahnya. Di tempat gurunya, para senior dan saudara-saudari seperguruannya juga sangat baik padanya. Belum pernah ada yang menunjukkan wajah dingin padanya. Hanya Samuel yang selalu memasang wajah dingin setiap kali melihatnya, seolah-olah dia berhutang miliaran kepadanya dan belum melunasinya. Nana juga tahu alasan di balik sikap Samuel yang tampak sopan dan ramah di depan para tetua tetapi bersikap dingin padanya di belakang mereka. Semua itu hanya karena dia mengira Nenek Sarah ingin menjodohkan mereka. Namun, Nana tidak akan repot-repot mendekati lelaki itu. Memangnya dia pikir dirinya uang yang akan disukai semua orang?Meskipun dia pernah menyukai Samuel, setelah mendengar kata-katanya, dia memaksa dirinya sendiri untuk belajar melepaskan perasaan itu. Namun, bagaimanapun juga, mereka tetap saja sulit untuk benar-benar menghindari satu sama lain. Pelayan itu berpikir Nana takut