"Bapak ini kenapa sih? Kok bisa-bisanya malah minta ibu untuk pulang? Ibu belum selesai memberi pelajaran sama besan kita itu," ujar Bu Tuti yang baru saja turun dari boncengan motor suaminya. Dia kembali menggerutu sebari memasuki rumah mereka."Iya nih, Bapak." Olip ikut menyahut. Perempuan itu duduk di samping ibunya.Pak Purnomo pun mengembuskan napas kasar. "Bu. Bapak hanya tidak mau kalau terjadi kerusuhan nantinya. Apalagi kalau sampai Pak Eko tahu. Bisa tambah rusuh nanti," ujar Pak Purnomo memberitahu."Bapak takut sama Pak Eko?" tanya Bu Tuti kemudian.Pak Purnomo langsung mendelik mendengar perkataan istrinya. "Kata siapa Bapak takut sama besan kita? Bapak hanya tidak ingin terjadi kegaduhan. Itu saja." Dia meralat tuduhan dari sang istri.Sedangkan Bu Tuti hanya mencebikkan bibir mendengar perkataan suminya. Dia menatap Olip kemudian. "Dan kamu. Kamu tinggal di sini, kan?" tanyanya kemudian.Olip langsung mengangguk dengan semangat. "Iya dong, Bu."Bu Tuti ikut mengangguk.
"Dasar tidak punya sopan santun. Datang bukannya ngasih salam, bukannya tanya kabar suami bagaimana setelah ditelantarkan beberapa hari, malah main tanya gaji suami. Duit, duit, duit terus yang dipikirin. Heran," ujar Bu Lestari melihat sikap Olip. Benar-benar tak habis pikir.Sedangkan Olip yang mendengar ucapan ibu mertuanya tentu merasa tidak suka. Perempuan itu menatap kesal Bu Lestari. "Loh, Bu. Itu sudah kewajiban Kak Ridwan, kan ngasih nafkah sama aku. Apa salahnya kalau aku menanyakannya sekarang?"Bu Lestari merasa muak dengan kalimat Olip yang trus mengatakan kewajiban-kewajiban Ridwan.Perempuan itu pun seketika bangun dari duduknya lalu menatap tajam Olip. "Kewajiban-kewajiban terus yang kamu bicarakan. Kamu hanya membicarakan kewajiban Ridwan. Apa kamu tidak berpikir kalau kamu juga mempunyai kewajiban pada Ridwan? Dasar istri tidak berguna!" maki Bu Lestari dengan suara nyaring."Cukup!" teriak Olip tak kalah nyaring dengan suara mertuanya.Pak Eko yang kebetulan baru da
Mika sarapan dengan lahap. Menu hari ini adalah soto ayam sesuai dengan permintaan Mika semalam. Beberapa hari di sini, mereka lebih sering makan seafood dan itu membuat Mika merasa bosan. Untuk itu, di hari terakhir ini dia memutuskan untuk meminta pada suaminya menu yang lain.Noval yang melihat Mika makan begitu lahap hanya bisa menggeleng pelan. "Kamu lapar banget?" tanyanya kemudian.Mika malah menggeleng. "Enggak.""Kok tumben makannya buru-buru sekali? Seperti orang yang tidak pernah makan saja beberapa hari." Noval berujar."Atau seperti orang yang takut kehilangan makanannya," lanjut Noval.Mika malah tersenyum lebar. Senyumnya lucu karena dilakukan dalam keadaan mulutnya penuh makanan. Dia pun mengunyah makanannya sebentar lalu segera menelannya. "Memang aku belum pernah makan ini. Beberapa hari ini, kan kita makannya seafood terus. Makanya aku bersemangat waktu kamu beneran ngasih aku soto."Noval mengangguk beberapa kali. "Ini baru soto, ya. Daging ayam. Bagaimana kalau ak
Pak Purnomo yang kebetulan keluar dari kamar melihat apa yang terjadi pada putrinya. Pria itu melotot dan langsung merasa marah melihat Olip yang didorong oleh Noval sampai terjatuh."Noval! Apa yang kau lakukan?" tanya Pak Purnomo. Dia mendekat dan menatap menantunya itu dengan marah.Tak kalah menakutkannya dengan Pak Purnomo, Noval pun menatap mertuanya dengan tatapan tajam. Pria itu menunjukkan pandangan mengintimidasi. "Melakukan apa yang sudah anak Anda lakukan pada istri saya," ujar Noval dengan suara datarnya.Pak Purnomo semakin melotot. "Tapi tidak seperti itu juga. Kamu laki-laki dan putriku seorang perempuan. Bisa-bisanya kamu melakukan itu padanya!" bentak Pak Purnomo dengan membentak Noval."Siapa pun orang yang berani melukai istriku, maka dia juga harus mendapatkan balasan," ujar Noval dengan suara penuh penekanan. Urat-urat dalam leher pria itu terbentuk dengan jelas, pertanda kalau pria itu tengah marah besar."Masih untung dia tidak aku buat berdarah seperti apa yan
Mendengar menantunya masuk rumah sakit dari orang kepercayaannya, Meysa dan sang suami pun lekas mendatangi rumah sakit juga. Terlihat kekhawatiran dari wajah Meysa akan keadaan sang menantu."Ayo dong, Pa kalau jalan," ujar Meysa pada sang suami. Kedua orang itu tengah berjalan di lorong rumah sakit dengan Meysa yang tampak terburu-buru."Iya-iya, Ma. Sabar. Ruangan Mika juga tidak akan pindah," ujar pria paruh baya dengan penampilannya yang masih gagah meski umur sudah hampir memasuki kepala lima."Ih, Papa. Mama ini mau cepet-cepet tahu kabar Mika. Gimana bisa dia masuk rumah sakit seperti itu?" tanya Meysa kemudian.Suami Meysa hanya tersenyum menggeleng pelan. Dia yakin menantunya itu tidak apa-apa karena orang-orangnya pun hanya memberitahu kalau Mika masuk ke rumah sakit. Akan tetapi tidak mengatakan penyebabnya. Akhirnya, dia pun mempercepat langkah mengikuti sang istri.Tak lama, mereka pun sampai di ruangan di mana Mika dirawat. "Mika. Sayang." Meysa memasuki kamar dengan bu
"Nggak mau!" teriak Olip ketika ibu mertuanya meminta dia untuk berbelanja ke warung. Perempuan itu membuang mukanya.Bu Lestari yang tak ingin membiarkan menantunya itu ongkang-ongkang kaki saja langsung mendelik. "Heh! Kamu ini keras kepala sekali," ujarnya sampai menoyor kepala Olip menggunakan satu tangannya."Sekarang belanja atau kamu tidak usah makan di sini," lanjut Bu Lestari dengan berkacak piggang. Perempuan itu menatap nyalang menantunya yang terus membangkang selama ini.Olip menatap suaminya yang sedang berbarinng di atas ranjang. "Kak," panggilnya bermaksud meminta pertolongan suaminya. Ridwan yang masih merasa kesal atas insiden uang gaji kemarin malah mengubah posisi baringnya menjadi membelakangi sang istri.Bu Lestri yang melihat itu langsung tersenyum sinis. "Nah. Sekarang kamu cepat pergi dari sini. Cepat ke warung sana untuk membeli bahan makanan. Ini uangnya dan ini catatan apa saja yang harus kamu beli. Ibu tahu kamu pasti belum bisa kalau tidak ada catatan," u
Mika suka hal ini. Dia diperlakukan seperti anak sendiri oleh mertuanya. "Gimana bulan madunya kemarin?" tanya Maysa tiba-tiba. Perempuan itu menatap menantunya dengan senyum simpul.Mika yang ditanya seperti itu pun hanya mengangguk saja. "Iya. Lancar, Ma."Meysa terlihat sangat bahagia. "Bagus-bagus. Yang sering-sering, ya buatnya. Biar cepet jadi. Mama udah nggak sabar dapat cucu," ujarnya dengan senyum-senyum memikirkan cucunya akan lahir dari rahim sang menantu.Mika mendelik. Dia pikir tadi mertuanya bertanya mengenai kelancaran apa. Ternyata yang dimaksud adalah tentang itu. Mika hanya tersenyum saja karena dia dan Noval tidak melakukan apa pun."Sudah. Kamu istrahat saja sekarang. Kamu pasti kelelahan setelah pulang dari bulan madu kemarin dan ditambah sama ulah adik kamu yang satu itu." Meysa mengelus kepala menantunya dengan penuh kasih sayang.Mika mengangguk dengan senyuman. Perempuan itu pun mulai memejamkan mata untuk tidur karena dia benar-benar sudah merasa mengantuk.
"Ini bayaranmu," ujar Noval memberikan sebuah amplop pada pria di sampingnya.Berada dalam sebuah mobil, Noval sedang duduk di kursi bagian belakang bersama seseorang. Kendaraan roda empat itu berjalan di pekatnya malam. Pria di samping Noval tersenyum. Dia memberikan sebuah ponsel pada Noval lalu menerima amplop yang disodorkan kepadanya. "Terima kasih, Tuan." Dia mencium benda yang ada di tangan.Noval mengangguk dan tatapannya masih tertuju pada ponsel di tangan untuk memeriksanya sebentar. "Menjijikkan."Pria di samping Noval terkekeh. "Manusiawi, Tuan."Noval mengangguk. "Berhenti, Pak," titahnya pada sang sopir. Tak lama mobil pun berhenti. "Turunlah."Pria di samping Noval mengangguk. "Kalau ada pekerjaan lagi, jangan sungkan menghubungi," ujarnya yang langsung turun dari mobil."Jalan." Mobil kembali berjalan tetapi tak lama kendaraan besi berhenti kembali di tempat yang sepi."Sudah sampai, Tuan," ujar sang sopir.Noval yang sejak tadi berkutat dengan ponsel dan menunduk. Ta
Pak Eko dan Bu Lestari pun menoleh ke arah pemilik suara. Terlihat Pak Purnomo baru saja keluar dati dalam rumah."Ada apa ini berisik-berisik?" tanya Pak Purnomo."Ini Pak. Ada besan datang. Katanya mau ketemu Olip," ujar Bu Tuti."Kenapa ngga diminta duduk?" tanya Pak Purnomo."Iya nih Bu Tuti. Kok saya datang nggak diminta duduk. Bagaimana sih?" tanya Bu Lestari dengan senyum simpul. Dia sepertinya senang kalau melihat besannya yang satu ini dimarahi oleh istrinya.Bu Lestari pun segera menarik suaminya untuk duduk. "Sini, Pak.""Bu. Ambilkan minim dan panggilkan Olip sama Ridwan," ujar Pak Purnomo memerintah sang istri."Iya-oya." Bu Tuti pun bangkit dari tempat duudknyadan masuk untuk memanggil anak dan menantunya juga membuatku minum."Apa kabar, besan?" tanya Pak Purnomo."Baik." Pak Eko menjawab."Pak Purnomo ini gimana aih? Olip hamil kok nggak ngasih tahu kami?" tanya Bu Lestari kemudian.Pak Purnomo terkejut. "Loh? Ridwan tidak menceritakan semua ini ke kalian?" tanyanya ke
Bu Lestari dan Pak Eko menuju rumah Pak Purnomo untuk menemui anak dan juga menantunya. Kabar kehamilan Olip yang didapat membuat mereka kesal sekaligus bahagia."Udah, Bu. Nggak usah ngomel-ngomel mulu," ujar Pak Eko ketika mereka berada di atas motor dan Bu Lestari tampak menggerutu tanpa henti sejak tadi."Ibu ini sedang kesal, Pak," ujar Bu Lestari memberi tahu."Iya Bapak tahu. Tapi udah dong keselnya. Jangan nyerocos terus. Nanti kalau bapak ngga bisa fokus nyeri gara-gara suara Ibu bagaimana?" tanya Pak Eko. Dia melirik keberadaan istrinya melalui kaca spion.Bu Lestari langsung menepuk pundak Pak Eko dari belakang. "Bapak ini. Memangnya suara ibu ini sura apaan sampai-sampai bisa membuat Bapak ngga konsen naik motor?" Dia bersungut-sungut."Ibu hnaya kesal aja, Pak. Kenapa Ridwan dan Olip itu tidak bilang sejak awal kalau dia pindah dari kontrakan ke rumahnya besan. Kalau dia bilang sejak awal, kan kita nggak perlu ke kontrakan dia dulu. Buang waktu. Buang bensin. Capek." Bu L
Sinta memberikan minuman pada Mika. Setelah ditinggal Nyonya Saseka dan juga Noval, beberapa waktu dari itu Mika bangun dari tidurnya. Sinta segera membantu ketika melihat sahabatnya itu ingin minum."Noval mana, Sin? Kok kamu yang ada di sini?" tanya Mika kemudian.Sinta mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan Mika. "Kamu nggak suka kalau aku ada di sini?" tanyanya kemudian.Nika mengembuskan napas kasar. "Bukan gitu.""Iya-iya aku paham," ujar Sinta kemudian."Kamu ini dalam keadaan seperti ini masih saja mau bercanda." Mika menyeka keringat yang ada di keningnya."Dia lagi pergi. Katanya cari makan," ujar Sinta kemudian."Astaga. Aku memang belum masak lagi." Mika memegang kepalanya dan merutuki diri."Ya udah sih. Toh keadaan kamu masih nggak baik-baik aja gini. Lagi pun Noval juga nggak masalah kalau beli di luar. Kaya ini. Kalau aku, pasti mau beli tiap hari aja. Biar nggak capek-capek masak dan badan bau bawang," ujar Sinta dengan kekehannya.Mika berdecak. "Kamu ini." Dia
"Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi!" teriak Pak Bowo pada Ridwan ketika mereka sudah berada di rumah. Pria itu begitu marah oda menantunya akan kejadian hari ini.Selain membuat kerusuhan, kejadian kali ini juga membahayakan Olip dan kandungannya. "Bapak ini kenapa sih malah marah-marah sama Kak Ridwan? Marah tuh sama Kak Mika tuh yang udah dorong aku sampai aku jatuh," ujar Olip membela suaminya."Iya nih Bapak. Bapak kenapa malah marahin Rid---""Diam!" bentak Pak Purnomo sekali lagi. Pria itu menatap ketiganya dengan raut kemarahan. Terutama pada Ridwan."Sudah berapa kali Bapak katakan saka kalian. Noval bukan tipikal orang yang akan sapa mukul orang kain kalau tidak ada apa-apa." Dia bersungut-sungut. Heran sama anak dan istrinya ini. Kenapa masih saja bodoh."Pasti. Bapak yakin. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan sama kamu Ridwan!" Dia menunjuk ke arah Ridwan.Ridwan yang sudah smrasa ketakutan karena yadi dia mendengar jika neneknya Mika akan membawa kasus ini ke jalu
"Ada apa tuh? Ada apa?" tanya para tetangga yang berkumpul di depan rumah Mika dan melihat keributan antara kakak beradik itu. "Mana aku tahu? Lah ini baru mau lihat." Yang lain menjawab. Mereka pun mulai fokusuntuk melihat dan mencari tahu apa yang sebenatnya terjadi. Mika yang memang sedang berada di rumah beristirahat tak pergi ke toko karena kejadian beberapa hari lalu terkejut dengan kedatangan sang adik yang tiba-tiba saja marah-marah dan juga meneriakinya dengan alasan dia yang sudah menggoda Ridwan. Tentu saja Mika merasa bingung. "Apa maksud kamu?" tanya Mika dengan kerutan di kening dia menatap wajah sang adik yang menunjukkan kemarahan. "Nggak usah pura-pura nggak tahu!" teriak Olip sekali lagi. Bola matanya melotot dan dia mengangkat dagu. "Kak Mika ngapain gidain suami aku?" tanyanya dengan menunjuk ke arah wajah Mika. "Jangan semabrangan kalau ngomong kamu." Mika yang sejak tadi hanya memerhatikan kemarahan adiknya kini mulai tersulut emosi. Apalagi dengan tuduhan
"Ada apa tuh? Ada apa?" tanya para tetangga yang berkumpul di depan rumah Mika dan melihat keributan antara kakak beradik itu."Mana aku tahu? Lah ini baru mau lihat." Yang lain menjawab. Mereka pun mulai fokusuntuk melihat dan mencari tahu apa yang sebenatnya terjadi.Mika yang memang sedang berada di rumah beristirahat tak pergi ke toko karena kejadian beberapa hari lalu terkejut dengan kedatangan sang adik yang tiba-tiba saja marah-marah dan juga meneriakinya dengan alasan dia yang sudah menggoda Ridwan.Tentu saja Mika merasa bingung. "Apa maksud kamu?" tanya Mika dengan kerutan di kening dia menatap wajah sang adik yang menunjukkan kemarahan."Nggak usah pura-pura nggak tahu!" teriak Olip sekali lagi. Bola matanya melotot dan dia mengangkat dagu."Kak Mika ngapain gidain suami aku?" tanyanya dengan menunjuk ke arah wajah Mika."Jangan semabrangan kalau ngomong kamu." Mika yang sejak tadi hanya memerhatikan kemarahan adiknya kini mulai tersulut emosi. Apalagi dengan tuduhan tidak
Mendengar cerita suaminya, tentu saja Olip menjadi marah. Perempuan itu meradang dan langsing bergegas pergi untuk menemui kakaknya. "Kurang ajar. Berani-beraninya Kak Mika ini." Dia bersungut-sungut.Ridwan yang terkejut dengan reaksi Olip pun ternyata langsung mengejar langkah sang istri. Dia menahan lengan Olip ketika berhasil mengejar langkah istrinya. "Kamu mau ke mana?" tanya Ridwan."Mau ke rumahnya Kak Mika." Olip pun menunjuk ke arah rumah Mika.Sudah Ridwan duga. "Ngapain?" tanyanya kemudian dengan ekspresi terkejut."Ya mau ngelabrak mereka lah," jawab Olip penuh dengan ambisi."Nggak suami nggak istri sama aja," sambung Olip.Bola matanya melotot, warna kulit wajahnya terlihat memerah pertanda kalau perempuan itu tengah menahan amarah. "Enak aja dia godain kamu. Nggak tahu malu. Udah punya suami juga. Masih aja godain suami orang. Mana suaminya gebukin kamu lagi. Harusnya tuh yang Noval gebukin istrinya yang ganjen itu."Noval ikut melotot. "Nggak usah." Dia menahan tangan
Ternyata, apa yang katakan Pak Purnomo membuat Olip berpikir. Perempuan itu merasa apa yang dikatakan bapaknya benar. Tidak mungkin Noval datang dan memukul Ridwan tanpa alasan. "Pasti ada sesuatu di balik semua ini," ujarnya kemudian."Udah dua hari ini suamiku nggak bisa nyari kerja gara-gara dihajar Noval tanpa jelas. Bikin kesel aja." Dia menggerutu."Sebaiknya aku tanyakan saja pada Kak Ridwan apa yang sebenarnya terjadi. Biar aku tahu alasan kenapa Noval main pukul Kak Ridwan. Biar aku ada penjelasan yang jelas ketika aku melaporkan Noval nanti." Dia menjentikkan jari dan tersenyum.Perempuan itu meletakkan gelas yang sebelumnya berisi susu nutrisi ibu hamil lalu pergi menuju kamarnya di mna Ridwan sedang beristirahat di sana."Loh, Lip? Mana minuman untuk aku?" tanya Ridwan yang melihat istrinya kembali tanpa membawa apapun padahal tadi dia meminta Olip untuk mengambilkan minuman.Olip tidak menjawab. Perempuan itu malah menaiki ranjang lalu duduk di hadapi Ridwan. Dia memberik
"Sekarang katakan. Apa yang sudah kamu lakukan sehingga Noval memukuli kamu?" tanya Pak Purnomo yang sudah mengantuk Ridwan ke ruang tamu rumah mereka.Sedangkan Ridwan yang ditanya seperti itu malah menghindari tatapan bapak mertuanya. Dia berdesis cukup keras sembari memegangi bagian-bagian tubuhnya yang dipukuli Noval seolah memberitahukan betapa sakitnya pukulan itu.Cara yang dilakukan oleh Ridwan berhasil menarik simpati Olip. Perempuan itu pun menatap bapaknya dan menepuk lengan bapaknya pelan. "Bapak ini. Kaka Ridwan lagi kesakitan ini. Kok malah ditanya-tanya sih?" "Ya bapak, kan hanya tanya. Apa susahnya dia tinggal jawab. Orang tinggal buka mulut aja. Nggak harus jalan kaki sepanjang lima kilo mereka." Pak Purnomo berujar."Ya, kan tapi suami aku ini sedang kesakitan. Lihat itu ujung bibirnya lebam. Pasti sakit kalau dibuat bicara," ujar Olip dengan menunjuk ke arah ujung bibir Ridwan yang terlihat merah."Harusnya Bapak itu tanya tuh menantu Bapak yang satunya. Kenapa dia