"Ini bayaranmu," ujar Noval memberikan sebuah amplop pada pria di sampingnya.Berada dalam sebuah mobil, Noval sedang duduk di kursi bagian belakang bersama seseorang. Kendaraan roda empat itu berjalan di pekatnya malam. Pria di samping Noval tersenyum. Dia memberikan sebuah ponsel pada Noval lalu menerima amplop yang disodorkan kepadanya. "Terima kasih, Tuan." Dia mencium benda yang ada di tangan.Noval mengangguk dan tatapannya masih tertuju pada ponsel di tangan untuk memeriksanya sebentar. "Menjijikkan."Pria di samping Noval terkekeh. "Manusiawi, Tuan."Noval mengangguk. "Berhenti, Pak," titahnya pada sang sopir. Tak lama mobil pun berhenti. "Turunlah."Pria di samping Noval mengangguk. "Kalau ada pekerjaan lagi, jangan sungkan menghubungi," ujarnya yang langsung turun dari mobil."Jalan." Mobil kembali berjalan tetapi tak lama kendaraan besi berhenti kembali di tempat yang sepi."Sudah sampai, Tuan," ujar sang sopir.Noval yang sejak tadi berkutat dengan ponsel dan menunduk. Ta
Berita besar menggemparkan semua orang. Vidio-vidio tak senonoh tersebar di seluruh desa, bahkan lebih luas daripada yang kita bayangkan. Sudah banyak orang yang terlanjur melihat dan mengunduhnya meski seseorang yang mengupload pertama kali sudah menghapus postingannya untuk menghilangkan jejak.Semua orang mulai membicarakan pelaku yang ada di dalam vidio tak senonoh itu. Memangnya, siapa mereka?Ridwan dan Olip. Ya. Vidio mereka yang sedang melakukan hubungan intim tersebar luas di media sosial. Banyak yang merasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, tetapi itu benar.Dua orang ibu-ibu sedang bergunjing, sembari berjalan dan sesekali melihat layar ponsel di tangan. "Pantas saja mereka memaksa menikah dan mengkhianati Mika. Ternyata hubungan mereka sudah sejauh itu.""Iya. Nggak nyangka, ya.""Ibu-ibu. Ada apa ini? Ngobrolnya seru sekali sampai ndak lihat jalan." Pak Eko. Pria yang baru saja pulang dari bekerja itu menyapa.Ekspresi para ibu-ibu yang melihat keberadaan Pak Ek
Mika yang tengah asyik mensecrol ponselnya sembari menyandar pada kepala bankar yang ditinggikan langsung menegakkan tubuh dengan bola mata melotot. "Ini apa?" tanyanya kemudian.Noval yang tengah duduk di sofa sembari memangku kertas entah kertas apa itu langsung mengalihkan pandangan pada Mika. "Kenapa?" tanyanya kemudian."Ini. Sinta mengirim ini sama aku." Mika tak menjelaskan apa yang dia maksud, tetapi perempuan itu menunjuk ke arah layar ponselnya sembari menatap sang suami."Apa sih?" tanya Noval yang memiih untuk bangkit mendekat. Dia berdiri di samping istrinya dan melihat ponsel milik sang istri.Ternyata, ponsel Mika menampilkan vidio asusila antara Ridwan dan Olip. "Oh." Hanya itu respons yang diberikan oleh Noval.Mika yang mendengar pun langsung menatap suaminya dengan kerutan di kening. "Hanya o?"Noval ikut menatap istrinya bingung. "Terus, aku harus apa memangnya?" tanyanya kemudian.Mika sempat menganga. "Noval. Ini vidio terlarang yang beredar luas loh. Pasti dampa
Pak Eko pun segera keluar untuk menemui orang-orang yang sudah berkumpul di depan rumahnya. Dia melihat ekspresi warga tampak kesal dan juga marah. Pak Eko tahu apa yang sedang terjadi. Pasti ini semua mengenai vidio anak dan menantunya yang beredar luas.Seorang pria dari kumpulan para warga maju. Dia mendekati Pak Eko. "Selamat siang Pak Eko," ujar seseorang yang tak lain adalah RT setempat. Pak Eko pun langsung mengangguk. "Iya, Pak RT."Rt bernama Rohiman itu tampak sungkan mengatakan apa yang ingin dia katakan. "Sudah Pak RT. Katakan saja apa tuntutan kita," ujar salah satu warga karena RT mereka terlihat ragu-ragu dalam menyampaikan apa yang mereka inginkan.Pak Rohiman mengangguk pelan. "Maaf, Pak Eko. Kedatangan kami ke sini ... ini mengenai anak Pak Eko dan juga menantu Pak Eko. Tentu Pak Eko sudah mengetahui kabar yang beredar di sini bukan?" tanyanya kemudian.Pak Eko pun mengangguk tanpa ragu. "Ya. Pak. Saya sudah mengetahui itu. Dan untuk masalah itu, Pak RT dan Bapak-Ba
"Tuh kamu lihat. Ibu aku aja bisa bantu kita. Orang tua kamu malah ngusir kita. Heran. Jadi orang tua kok nggak ada effordnya melindungi anak yang mendapat masalah." Setelah mendapat izin untuk tinggal di rumah kedua orang tuanya, Olip dan Ridwan kini tengah duduk santai di ruang tengah dengan menonton tivi.Ridwan yang baru saja mendapat olokan dari istrinya pun berdecak. "Iya-iya. Orang tua kamu yang paling mengerti deh." Dia memilih mengalah. Daripada nanti jadi ramai karena berdebat.Olip mencebik. "Dari awal tuh ya. Sudah keliatan banget kalau orang tua kamu itu yang sepertinya nggak akan ada di samping kita kalau kita ada masalah.""Kan kemarin udah mau nampung kita," ujar Ridwan mengingatkan kebaikan kedua orang tuanya. Sebagai anak tentu dia tidak mau kalau orang tuanya terus dihina."Itu, kan kewajiban." Olip menjawab. "Sebelumnya juga kita tinggal di rumah orang tua aku."Ridwan menggeleng. "Aduh. Udah deh. Jangan bahas itu lagi. Mendingan kita pikirin bagaimana besok kita
Olip yang baru sampai langsung mendapat tatapan aneh dari teman-temannya. Perempuan itu menyadari benar sikap temannya yang berubah pada dirinya. Bahkan denga jelas dia mendengar beberapa orang mengatakan kalau dirinya tidak tahu malu karena masih berani datang setelah vidionya tersebar luas."Lip. Dipanggil dosen tuh," ujar salah seorang perempuan berkacamata. Olip tahu perempuan itu adalah salah satu teman kelasnya yang paling pintar."Ngapain dosen manggil?" Kenapa itu musti dipertanyakan?Olip tanpa kata langsung menuju ruang dekan. Tidak ada kata terima kasih yang terucap dari bibirnya untuk temannya tadi. Sebelum memasuki ruang sang dosen, Olip mengetuk pintu lebih dulu."Masuk." Seruan masuk itu membuat Olip segera memasuki ruangan.Sepertinya dia akan disidang."Duduk Olip." Seorang pria berkemeja biru tua berujar dengan menunjuk kursi yang ada di hadapannya.Olip mengangguk lalu duduk di hadapan dosennya. Dia disodori sebuah ponsel di mana layarnya menayangkan viddionya dan s
Ridwan yang dipecat menjadi guru pun langsung membereskan meja kerjanya. Beberapa barang dia tinggal dan beberapa lagi harus dia bawa. Beberapa guru yang melihat kepergian Ridwan pun menganguk dengan senyum tipis. Seperti mereka hanya berbasa-basi saja pada pria itu."Semoga segera menemukan pekerjaan baru, ya." Salah satu guru bahkan mendoakannya. Ridwan hanya mengangguk. Dia meragukan hal itu. Setelah vidionya tersebar, memangnya masih ada sekolah yang mau menerimanya menjadi guru?Dia melanjutkan langkah. Di depan kelas, dia bertemu dengan sahabatnya yang sepertinya baru saja selesai mengajar. Mereka berpapasan dan Ridwan bisa melihat ekspresi sahabatnya itu tak ramah.Tepat ketika jarak mereka sudah dekat, sahabatnya itu berujar. "Aku kecewa sama kamu, Wan. Aku pikir kamu menikah dengan Olip karena Cinta. Tapi ternyata karena kalian mengkhianati Mika bahkan memiliki skadal seperti ini. Aku harap kamu tidak menyesal dengan apa yang s
"Cie yang baru aja pulang dari bulan madu." Baru saja sampai di toko, Mika sudah mendapat ejekan dari sahabatnya.Detik kemudian Sinta memasang wajah kasihan. Dia berdecak sembari menggeleng pelan. "Tapi sayang. Kasihan sekali kamu. Baru juga pulang dari bulan madu, udah masuk rumah sakit aja," ujarnya kemudian.Mika tak suka itu. Dia meletakkan tasnya di atas meja. "Apaan sih? Itu Noval aja yang berlebihan. Masa kepala kepentok meja aja sampai diinap rawat segala. Kan ngabisin duit," ujar Mika dengan menyentuh kepalanya yang masih diplester karena luka."Namanya juga perhatian sama istri, Mik." Sinta pun menaik turunkan alisnya bermaksud menggoda sang sahabat."Jangan mulai." Mika menatap Sinta dengan penuh peringatan.Mika terkekeh. Beberapa saat kemudian Sinta mengingat sesuatu. "Lagian adek kamu itu gila banget. Berani-beraninya celakain kamu. Sekarang, viral dah tuh vidio panasnya sama Ridwan," ujar Sinta dengan rasa gemas yang tak bisa ditutupi. Kita bisa lihat juga rasa puas da
Pak Eko dan Bu Lestari pun menoleh ke arah pemilik suara. Terlihat Pak Purnomo baru saja keluar dati dalam rumah."Ada apa ini berisik-berisik?" tanya Pak Purnomo."Ini Pak. Ada besan datang. Katanya mau ketemu Olip," ujar Bu Tuti."Kenapa ngga diminta duduk?" tanya Pak Purnomo."Iya nih Bu Tuti. Kok saya datang nggak diminta duduk. Bagaimana sih?" tanya Bu Lestari dengan senyum simpul. Dia sepertinya senang kalau melihat besannya yang satu ini dimarahi oleh istrinya.Bu Lestari pun segera menarik suaminya untuk duduk. "Sini, Pak.""Bu. Ambilkan minim dan panggilkan Olip sama Ridwan," ujar Pak Purnomo memerintah sang istri."Iya-oya." Bu Tuti pun bangkit dari tempat duudknyadan masuk untuk memanggil anak dan menantunya juga membuatku minum."Apa kabar, besan?" tanya Pak Purnomo."Baik." Pak Eko menjawab."Pak Purnomo ini gimana aih? Olip hamil kok nggak ngasih tahu kami?" tanya Bu Lestari kemudian.Pak Purnomo terkejut. "Loh? Ridwan tidak menceritakan semua ini ke kalian?" tanyanya ke
Bu Lestari dan Pak Eko menuju rumah Pak Purnomo untuk menemui anak dan juga menantunya. Kabar kehamilan Olip yang didapat membuat mereka kesal sekaligus bahagia."Udah, Bu. Nggak usah ngomel-ngomel mulu," ujar Pak Eko ketika mereka berada di atas motor dan Bu Lestari tampak menggerutu tanpa henti sejak tadi."Ibu ini sedang kesal, Pak," ujar Bu Lestari memberi tahu."Iya Bapak tahu. Tapi udah dong keselnya. Jangan nyerocos terus. Nanti kalau bapak ngga bisa fokus nyeri gara-gara suara Ibu bagaimana?" tanya Pak Eko. Dia melirik keberadaan istrinya melalui kaca spion.Bu Lestari langsung menepuk pundak Pak Eko dari belakang. "Bapak ini. Memangnya suara ibu ini sura apaan sampai-sampai bisa membuat Bapak ngga konsen naik motor?" Dia bersungut-sungut."Ibu hnaya kesal aja, Pak. Kenapa Ridwan dan Olip itu tidak bilang sejak awal kalau dia pindah dari kontrakan ke rumahnya besan. Kalau dia bilang sejak awal, kan kita nggak perlu ke kontrakan dia dulu. Buang waktu. Buang bensin. Capek." Bu L
Sinta memberikan minuman pada Mika. Setelah ditinggal Nyonya Saseka dan juga Noval, beberapa waktu dari itu Mika bangun dari tidurnya. Sinta segera membantu ketika melihat sahabatnya itu ingin minum."Noval mana, Sin? Kok kamu yang ada di sini?" tanya Mika kemudian.Sinta mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan Mika. "Kamu nggak suka kalau aku ada di sini?" tanyanya kemudian.Nika mengembuskan napas kasar. "Bukan gitu.""Iya-iya aku paham," ujar Sinta kemudian."Kamu ini dalam keadaan seperti ini masih saja mau bercanda." Mika menyeka keringat yang ada di keningnya."Dia lagi pergi. Katanya cari makan," ujar Sinta kemudian."Astaga. Aku memang belum masak lagi." Mika memegang kepalanya dan merutuki diri."Ya udah sih. Toh keadaan kamu masih nggak baik-baik aja gini. Lagi pun Noval juga nggak masalah kalau beli di luar. Kaya ini. Kalau aku, pasti mau beli tiap hari aja. Biar nggak capek-capek masak dan badan bau bawang," ujar Sinta dengan kekehannya.Mika berdecak. "Kamu ini." Dia
"Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi!" teriak Pak Bowo pada Ridwan ketika mereka sudah berada di rumah. Pria itu begitu marah oda menantunya akan kejadian hari ini.Selain membuat kerusuhan, kejadian kali ini juga membahayakan Olip dan kandungannya. "Bapak ini kenapa sih malah marah-marah sama Kak Ridwan? Marah tuh sama Kak Mika tuh yang udah dorong aku sampai aku jatuh," ujar Olip membela suaminya."Iya nih Bapak. Bapak kenapa malah marahin Rid---""Diam!" bentak Pak Purnomo sekali lagi. Pria itu menatap ketiganya dengan raut kemarahan. Terutama pada Ridwan."Sudah berapa kali Bapak katakan saka kalian. Noval bukan tipikal orang yang akan sapa mukul orang kain kalau tidak ada apa-apa." Dia bersungut-sungut. Heran sama anak dan istrinya ini. Kenapa masih saja bodoh."Pasti. Bapak yakin. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan sama kamu Ridwan!" Dia menunjuk ke arah Ridwan.Ridwan yang sudah smrasa ketakutan karena yadi dia mendengar jika neneknya Mika akan membawa kasus ini ke jalu
"Ada apa tuh? Ada apa?" tanya para tetangga yang berkumpul di depan rumah Mika dan melihat keributan antara kakak beradik itu. "Mana aku tahu? Lah ini baru mau lihat." Yang lain menjawab. Mereka pun mulai fokusuntuk melihat dan mencari tahu apa yang sebenatnya terjadi. Mika yang memang sedang berada di rumah beristirahat tak pergi ke toko karena kejadian beberapa hari lalu terkejut dengan kedatangan sang adik yang tiba-tiba saja marah-marah dan juga meneriakinya dengan alasan dia yang sudah menggoda Ridwan. Tentu saja Mika merasa bingung. "Apa maksud kamu?" tanya Mika dengan kerutan di kening dia menatap wajah sang adik yang menunjukkan kemarahan. "Nggak usah pura-pura nggak tahu!" teriak Olip sekali lagi. Bola matanya melotot dan dia mengangkat dagu. "Kak Mika ngapain gidain suami aku?" tanyanya dengan menunjuk ke arah wajah Mika. "Jangan semabrangan kalau ngomong kamu." Mika yang sejak tadi hanya memerhatikan kemarahan adiknya kini mulai tersulut emosi. Apalagi dengan tuduhan
"Ada apa tuh? Ada apa?" tanya para tetangga yang berkumpul di depan rumah Mika dan melihat keributan antara kakak beradik itu."Mana aku tahu? Lah ini baru mau lihat." Yang lain menjawab. Mereka pun mulai fokusuntuk melihat dan mencari tahu apa yang sebenatnya terjadi.Mika yang memang sedang berada di rumah beristirahat tak pergi ke toko karena kejadian beberapa hari lalu terkejut dengan kedatangan sang adik yang tiba-tiba saja marah-marah dan juga meneriakinya dengan alasan dia yang sudah menggoda Ridwan.Tentu saja Mika merasa bingung. "Apa maksud kamu?" tanya Mika dengan kerutan di kening dia menatap wajah sang adik yang menunjukkan kemarahan."Nggak usah pura-pura nggak tahu!" teriak Olip sekali lagi. Bola matanya melotot dan dia mengangkat dagu."Kak Mika ngapain gidain suami aku?" tanyanya dengan menunjuk ke arah wajah Mika."Jangan semabrangan kalau ngomong kamu." Mika yang sejak tadi hanya memerhatikan kemarahan adiknya kini mulai tersulut emosi. Apalagi dengan tuduhan tidak
Mendengar cerita suaminya, tentu saja Olip menjadi marah. Perempuan itu meradang dan langsing bergegas pergi untuk menemui kakaknya. "Kurang ajar. Berani-beraninya Kak Mika ini." Dia bersungut-sungut.Ridwan yang terkejut dengan reaksi Olip pun ternyata langsung mengejar langkah sang istri. Dia menahan lengan Olip ketika berhasil mengejar langkah istrinya. "Kamu mau ke mana?" tanya Ridwan."Mau ke rumahnya Kak Mika." Olip pun menunjuk ke arah rumah Mika.Sudah Ridwan duga. "Ngapain?" tanyanya kemudian dengan ekspresi terkejut."Ya mau ngelabrak mereka lah," jawab Olip penuh dengan ambisi."Nggak suami nggak istri sama aja," sambung Olip.Bola matanya melotot, warna kulit wajahnya terlihat memerah pertanda kalau perempuan itu tengah menahan amarah. "Enak aja dia godain kamu. Nggak tahu malu. Udah punya suami juga. Masih aja godain suami orang. Mana suaminya gebukin kamu lagi. Harusnya tuh yang Noval gebukin istrinya yang ganjen itu."Noval ikut melotot. "Nggak usah." Dia menahan tangan
Ternyata, apa yang katakan Pak Purnomo membuat Olip berpikir. Perempuan itu merasa apa yang dikatakan bapaknya benar. Tidak mungkin Noval datang dan memukul Ridwan tanpa alasan. "Pasti ada sesuatu di balik semua ini," ujarnya kemudian."Udah dua hari ini suamiku nggak bisa nyari kerja gara-gara dihajar Noval tanpa jelas. Bikin kesel aja." Dia menggerutu."Sebaiknya aku tanyakan saja pada Kak Ridwan apa yang sebenarnya terjadi. Biar aku tahu alasan kenapa Noval main pukul Kak Ridwan. Biar aku ada penjelasan yang jelas ketika aku melaporkan Noval nanti." Dia menjentikkan jari dan tersenyum.Perempuan itu meletakkan gelas yang sebelumnya berisi susu nutrisi ibu hamil lalu pergi menuju kamarnya di mna Ridwan sedang beristirahat di sana."Loh, Lip? Mana minuman untuk aku?" tanya Ridwan yang melihat istrinya kembali tanpa membawa apapun padahal tadi dia meminta Olip untuk mengambilkan minuman.Olip tidak menjawab. Perempuan itu malah menaiki ranjang lalu duduk di hadapi Ridwan. Dia memberik
"Sekarang katakan. Apa yang sudah kamu lakukan sehingga Noval memukuli kamu?" tanya Pak Purnomo yang sudah mengantuk Ridwan ke ruang tamu rumah mereka.Sedangkan Ridwan yang ditanya seperti itu malah menghindari tatapan bapak mertuanya. Dia berdesis cukup keras sembari memegangi bagian-bagian tubuhnya yang dipukuli Noval seolah memberitahukan betapa sakitnya pukulan itu.Cara yang dilakukan oleh Ridwan berhasil menarik simpati Olip. Perempuan itu pun menatap bapaknya dan menepuk lengan bapaknya pelan. "Bapak ini. Kaka Ridwan lagi kesakitan ini. Kok malah ditanya-tanya sih?" "Ya bapak, kan hanya tanya. Apa susahnya dia tinggal jawab. Orang tinggal buka mulut aja. Nggak harus jalan kaki sepanjang lima kilo mereka." Pak Purnomo berujar."Ya, kan tapi suami aku ini sedang kesakitan. Lihat itu ujung bibirnya lebam. Pasti sakit kalau dibuat bicara," ujar Olip dengan menunjuk ke arah ujung bibir Ridwan yang terlihat merah."Harusnya Bapak itu tanya tuh menantu Bapak yang satunya. Kenapa dia