Gio masuk ke dalam rumah. Hampir tengah malam. Gio langsung menuju kamar. Ia melihat Agahta yang sudah terbaring di atas ranjang. Mungkin sudah tidur…. Gio melepaskan jas dan sepatunya. Setelah itu ikut berbaring dengan istrinya. Perlahan memeluk tubuh Agatha dari belakang. “Kamu bau..” ucap Agatha yang ternyata masih terjaga. “Kamu dari mana?” tanya Agatha. tanpa memutar tubuhnya. ia mencium aroma yang campur pada tubuh suaminya itu. “Aku dari Bar. Aku bersama temanku, Samuel,” jelas Gio. Agatha membuka matanya. “Aku tahu kamu gak mabuk. Tapi bau tubuh kamu alkohol. dan bau parfum wanita.” “Selain dengan Samuel. Kamu dengan siapa lagi?” tanya Agatha. Gio terdiam—ia mengecup bahu Agatha. “Aku hanya dengan Samuel. Tapi aku sempat berpapasan dengan wanita. Itulah mungkin kenapa bauku bercampur dengan bau wanita itu.” Agatha mengusap tangan Gio yang berada di perutnya. “Kamu tidak berbohong kan?” tanya Agatha. Gio menggeleng. ia menenggelamkan wajahnya di tengku
“Apa jadwalku hari ini?” tanya Gio pada Cika. Cika mengikut jalannya Gio doari belakang. “Hari ini ada acara makan malam bersama bagian Winston fashion. Penjualan bagian Wisnton fashion meningkat drastis. Sehingga untuk perayaan, mereka mengundang anda untuk makan malam bersama.” Gio mengangguk. “Aku juga sudah membaca laporannya.” Gio berhenti. “Bulan ini pendapatan mereka lebih 3 kali lipat dari kemarin kan?” Cika mengangguk. “Iya, Sir. Untuk itu mereka mengagendakan acara perayaan.” “Baiklah aku akan ke sana.” Gio mengangguk. Gio berhenti lagi. “Aku tidak sendiri. kalian ikut denganku.” Zidan dan Cika mengangguk. Di sebuah restoran. Nampak para karyawan sudah hadir dan duduk di bangku masing-masing. Ketika Gio datang, semuanya serentak berdiri dan memberi salam dengan hormat. Gio mengangguk pelan dan mengambil duduk. “Terima kasih sudah datang ke acara tim kita, Sir.” Ucap seorang laki-laki sebagai kepala. Gio mengangguk. “Selamat atas keberhasilan kalian.” menatap sem
Julie langsung masuk ke dalam lift yang digunakan oleh Gio. “Kau akan ke bar-nya Samuel kan?” tanya Julie. Gio mengangguk. Lalu menekan tombol. Kebetulan sekali restoran yang digunakan tempat perayaan tim adalah restoran yang berada di dalam hotel milik Samuel. Untuk itu, sekalian saja Gio datang ke bar Samuel untuk bertemu dengan temannya satu itu. Gio menatap Julie sekilas. “Tidak ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Julie memandang Gio. “aku minta maaf.” Gio menatakannya meski ia sendiri juga belum yakin. Julie tersenyum dan mengangguk. “Aku akan memaafkanmu asal kau bersikap baik padaku.” Julie bersindekap. “Bagaimana dengan istrimu? Apa dia sudah tahu?” tanyanya. Gio menggeleng. “Tidak.” Kemudian menatap Julie. “Aku minta padamu. jangan memberitahu Agatha. Itu masa lalu dan aku tidak ingin karena masalah itu, rumah tanggaku terganggu.” Julie tersenyum miring. Kemudian mendekat. ia berjinjit dan mendongak. “Beritahu atau tidak. Itu tergantung padamu.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Julie sembari minum. “Kalian terlihat sangat serius,” imbuhnya. Gio mengedikkan pelan. “Tidak ada urusannya denganmu.” Julie tertawa pelan. “Kau sedari dulu memang seperti ini. jika kau sudah komitmen dengan satu wanita maka kau akan beriskap sangat cuek pada wanita lain.” Gio mengangguk. “Kau tahu.” Julie tersenyum. “Aku ingin kau bersikap baik padaku. anggap saja aku temanmu. Kita bisa berteman. Seperti kau dan Samuel.” Gio bersindekap. “Itu sulit.” Julie bersandar—matanya lurus menatap Gio. “Tidak mustahil ketika mantan kembali berteman. Tapi itu memang sangat jarang.” Julie menatap satu anak kecil yang digandeng oleh orang tuanya. “Ah..” menunjuk anak perempuan dengan dagunya. “Jika anak kita masih hidup seharusnya anak kita seusianya.” Julie mengernyit. “Bukankah seperti itu? aku menghitung mungkin usianya sekarang 12 atau 13 tahun…” Gio mengangkat gelas yang terisi oleh air putih. Sedangkan Julie mengangkat gelas y
“Aku membencimu!” Julie memukul dada Gio. Tenaganya tidak seberapa. Hanya seperti pukulan ringan baginya. “Apa kau tahu saat aku harus pergi tiba-tiba?” tanya Julie. “Aku hancur. Aku tidak mau meninggalkanmu. Tapi aku tidak punya pilihan lain.” Julie menangis. Meraung.. Mengungkapkan emosinya yang selama ini ia pendam. Gio melihat orang-orang yang sedang menatap mereka. Agar tidak menjadi bahan tontonan dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan juga. Gio menarik Julie keluar dari Restoran. Di lorong yang sepi ini… Gio akan membiarkan Julie berbicara… juga mengumpatinya. “Kau malu?” tanya Julie. Gio berkacak pinggang. “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. aku maupun kau dulu juga hancur. Tapi itu bagian dari masa lalu. aku hidup di masa depan dan tidak akan terpengaruh oleh masa lalu.” “Aku harap kau juga begitu.” Julie menggeleng. “Aku terus dihantui rasa bersalah karena membunuh anak kita. apa yang akan kau lakukan?” tanya Julie den
“Kenapa meminta maaf? Apa kamu melakukan kesalahan?” tanya Agatha. Gio menggeleng. ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu. “Aku lupa, aku ada sesuatu untuk kamu.” Gio menjauh sebentar. Ia mengambil paper bag yang berada di atas meja. Ia merasa bersalah pada istrinya. Sehingga ia membeli sesuatu… Gio mengambil duduk di samping Agatha. Kemudian membuka paper bag itu. Yang berisi sebuah jam tangan cantik berwarna pink. “Ini keluaran terbaru, katanya..” Gio meringis pelan. “Karena cantik. jadi aku membelinya.” Mencoba memasangkan jam tangan itu di tangan Agatha. Agatha melihat jam tangan pink itu yang sudah terpasang di pergelangan tangannya. “Cantik.” Agatha mengangguk. Gio tersenyum—tangannya mengusap puncak kepala Agatha. “Aku akan membeli banyak kalau kamu suka.” “Kamu tidak pernah belanja.” Gio mencubit pelan pipi Agatha. “Gunakan uangku sayang..” Agatha mengangguk. “Iya nanti.” “Sekarang makan dulu.” Agatha mengambil piring. Diisinya dengan
21++“Aku tahu.” Gio mengangguk. Tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu ketika dirinya berselingkuh. “Kamu akan kabur dan meninggalkanku.” Gio mendekat—mengecup singkat bibir istrinya itu. Agatha menggeleng. “Tidak.” “Yang akan aku lakukan adalah memotong milikmu!” menatap ke bawah sebentar. “Lalu aku akan membunuhmu.” Gio mengerjap. kemudian terkekeh. “Jangan bercanda..” Merinding juga dengan ancaman istrinya. “Bagaimana bisa kamu memotong milikku..” Agatha menatap Gio. Menepuk pelan bahu suaminya itu. “Maka jangan pernah berselingkuh.” Memperagakan bagaimana saat memotong… Gio mengerjap—menadadak semua bulut kuduknya merinding. Lalu terkekeh dan berusaha tersenyum. “Mana mungkin aku berselingkuh. Aku hanya menyukaimu..” Agatha turun dari pangkuan Gio. “Tidak ada yang tahu ke depannya. tapi kamu harus mengingatnya ketika ingin berselingkuh.” Agatha menunduk. “Aku akan memotong milikmu itu!” Setelah itu Agatha berjalan menjauh. Berjalan ke atas pergi ke kamar. “Tungg
Di sebuah klub. Seorang wanita tengah menikmati minumannya ditemani beberapa temannya. Wanita itu meminum pelan.. “Hei Julie kau tidak akan kembali?” tanya teman Julie. Julie menggeleng. “Aku senang di sini. aku ingin terus di sini.” Julie mengangkat gelasnya.. Kedua temannya menyambutnya dengan gembira. Malam ini setelah pertengkaran dengan Gio, Julie memutuskan untuk pergi ke klub bersama teman-temannya. Namun ia merasa tidak ada yang menyenangkan di sini. Meski ramai sekitarnya, tapi Julie merasa ia sendirian. Sampai ia mendongak—matanya bertatapan dengan seorang pria. “Bukankah dia Minjae?” tanya teman Julie yang berada di samping. Julie menatap Minjae. Sepertinya pria itu sadar dengan kehadiran Julie. “Waah dia semakin keren saja.” Teman Julie itu menggeleng pelan. “Dia dulu sangat culun tapi sekarang sangat keren.” “Bukankah dia menjadi artis di negara asalnya? Aku pernah melihat dia tampil bersama grupnya di tv.” Imbuh teman Julie yang lain. “Wajah
Di sebuah klub. Seorang wanita tengah menikmati minumannya ditemani beberapa temannya. Wanita itu meminum pelan.. “Hei Julie kau tidak akan kembali?” tanya teman Julie. Julie menggeleng. “Aku senang di sini. aku ingin terus di sini.” Julie mengangkat gelasnya.. Kedua temannya menyambutnya dengan gembira. Malam ini setelah pertengkaran dengan Gio, Julie memutuskan untuk pergi ke klub bersama teman-temannya. Namun ia merasa tidak ada yang menyenangkan di sini. Meski ramai sekitarnya, tapi Julie merasa ia sendirian. Sampai ia mendongak—matanya bertatapan dengan seorang pria. “Bukankah dia Minjae?” tanya teman Julie yang berada di samping. Julie menatap Minjae. Sepertinya pria itu sadar dengan kehadiran Julie. “Waah dia semakin keren saja.” Teman Julie itu menggeleng pelan. “Dia dulu sangat culun tapi sekarang sangat keren.” “Bukankah dia menjadi artis di negara asalnya? Aku pernah melihat dia tampil bersama grupnya di tv.” Imbuh teman Julie yang lain. “Wajah
21++“Aku tahu.” Gio mengangguk. Tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu ketika dirinya berselingkuh. “Kamu akan kabur dan meninggalkanku.” Gio mendekat—mengecup singkat bibir istrinya itu. Agatha menggeleng. “Tidak.” “Yang akan aku lakukan adalah memotong milikmu!” menatap ke bawah sebentar. “Lalu aku akan membunuhmu.” Gio mengerjap. kemudian terkekeh. “Jangan bercanda..” Merinding juga dengan ancaman istrinya. “Bagaimana bisa kamu memotong milikku..” Agatha menatap Gio. Menepuk pelan bahu suaminya itu. “Maka jangan pernah berselingkuh.” Memperagakan bagaimana saat memotong… Gio mengerjap—menadadak semua bulut kuduknya merinding. Lalu terkekeh dan berusaha tersenyum. “Mana mungkin aku berselingkuh. Aku hanya menyukaimu..” Agatha turun dari pangkuan Gio. “Tidak ada yang tahu ke depannya. tapi kamu harus mengingatnya ketika ingin berselingkuh.” Agatha menunduk. “Aku akan memotong milikmu itu!” Setelah itu Agatha berjalan menjauh. Berjalan ke atas pergi ke kamar. “Tungg
“Kenapa meminta maaf? Apa kamu melakukan kesalahan?” tanya Agatha. Gio menggeleng. ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu. “Aku lupa, aku ada sesuatu untuk kamu.” Gio menjauh sebentar. Ia mengambil paper bag yang berada di atas meja. Ia merasa bersalah pada istrinya. Sehingga ia membeli sesuatu… Gio mengambil duduk di samping Agatha. Kemudian membuka paper bag itu. Yang berisi sebuah jam tangan cantik berwarna pink. “Ini keluaran terbaru, katanya..” Gio meringis pelan. “Karena cantik. jadi aku membelinya.” Mencoba memasangkan jam tangan itu di tangan Agatha. Agatha melihat jam tangan pink itu yang sudah terpasang di pergelangan tangannya. “Cantik.” Agatha mengangguk. Gio tersenyum—tangannya mengusap puncak kepala Agatha. “Aku akan membeli banyak kalau kamu suka.” “Kamu tidak pernah belanja.” Gio mencubit pelan pipi Agatha. “Gunakan uangku sayang..” Agatha mengangguk. “Iya nanti.” “Sekarang makan dulu.” Agatha mengambil piring. Diisinya dengan
“Aku membencimu!” Julie memukul dada Gio. Tenaganya tidak seberapa. Hanya seperti pukulan ringan baginya. “Apa kau tahu saat aku harus pergi tiba-tiba?” tanya Julie. “Aku hancur. Aku tidak mau meninggalkanmu. Tapi aku tidak punya pilihan lain.” Julie menangis. Meraung.. Mengungkapkan emosinya yang selama ini ia pendam. Gio melihat orang-orang yang sedang menatap mereka. Agar tidak menjadi bahan tontonan dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan juga. Gio menarik Julie keluar dari Restoran. Di lorong yang sepi ini… Gio akan membiarkan Julie berbicara… juga mengumpatinya. “Kau malu?” tanya Julie. Gio berkacak pinggang. “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. aku maupun kau dulu juga hancur. Tapi itu bagian dari masa lalu. aku hidup di masa depan dan tidak akan terpengaruh oleh masa lalu.” “Aku harap kau juga begitu.” Julie menggeleng. “Aku terus dihantui rasa bersalah karena membunuh anak kita. apa yang akan kau lakukan?” tanya Julie den
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Julie sembari minum. “Kalian terlihat sangat serius,” imbuhnya. Gio mengedikkan pelan. “Tidak ada urusannya denganmu.” Julie tertawa pelan. “Kau sedari dulu memang seperti ini. jika kau sudah komitmen dengan satu wanita maka kau akan beriskap sangat cuek pada wanita lain.” Gio mengangguk. “Kau tahu.” Julie tersenyum. “Aku ingin kau bersikap baik padaku. anggap saja aku temanmu. Kita bisa berteman. Seperti kau dan Samuel.” Gio bersindekap. “Itu sulit.” Julie bersandar—matanya lurus menatap Gio. “Tidak mustahil ketika mantan kembali berteman. Tapi itu memang sangat jarang.” Julie menatap satu anak kecil yang digandeng oleh orang tuanya. “Ah..” menunjuk anak perempuan dengan dagunya. “Jika anak kita masih hidup seharusnya anak kita seusianya.” Julie mengernyit. “Bukankah seperti itu? aku menghitung mungkin usianya sekarang 12 atau 13 tahun…” Gio mengangkat gelas yang terisi oleh air putih. Sedangkan Julie mengangkat gelas y
Julie langsung masuk ke dalam lift yang digunakan oleh Gio. “Kau akan ke bar-nya Samuel kan?” tanya Julie. Gio mengangguk. Lalu menekan tombol. Kebetulan sekali restoran yang digunakan tempat perayaan tim adalah restoran yang berada di dalam hotel milik Samuel. Untuk itu, sekalian saja Gio datang ke bar Samuel untuk bertemu dengan temannya satu itu. Gio menatap Julie sekilas. “Tidak ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Julie memandang Gio. “aku minta maaf.” Gio menatakannya meski ia sendiri juga belum yakin. Julie tersenyum dan mengangguk. “Aku akan memaafkanmu asal kau bersikap baik padaku.” Julie bersindekap. “Bagaimana dengan istrimu? Apa dia sudah tahu?” tanyanya. Gio menggeleng. “Tidak.” Kemudian menatap Julie. “Aku minta padamu. jangan memberitahu Agatha. Itu masa lalu dan aku tidak ingin karena masalah itu, rumah tanggaku terganggu.” Julie tersenyum miring. Kemudian mendekat. ia berjinjit dan mendongak. “Beritahu atau tidak. Itu tergantung padamu.
“Apa jadwalku hari ini?” tanya Gio pada Cika. Cika mengikut jalannya Gio doari belakang. “Hari ini ada acara makan malam bersama bagian Winston fashion. Penjualan bagian Wisnton fashion meningkat drastis. Sehingga untuk perayaan, mereka mengundang anda untuk makan malam bersama.” Gio mengangguk. “Aku juga sudah membaca laporannya.” Gio berhenti. “Bulan ini pendapatan mereka lebih 3 kali lipat dari kemarin kan?” Cika mengangguk. “Iya, Sir. Untuk itu mereka mengagendakan acara perayaan.” “Baiklah aku akan ke sana.” Gio mengangguk. Gio berhenti lagi. “Aku tidak sendiri. kalian ikut denganku.” Zidan dan Cika mengangguk. Di sebuah restoran. Nampak para karyawan sudah hadir dan duduk di bangku masing-masing. Ketika Gio datang, semuanya serentak berdiri dan memberi salam dengan hormat. Gio mengangguk pelan dan mengambil duduk. “Terima kasih sudah datang ke acara tim kita, Sir.” Ucap seorang laki-laki sebagai kepala. Gio mengangguk. “Selamat atas keberhasilan kalian.” menatap sem
Gio masuk ke dalam rumah. Hampir tengah malam. Gio langsung menuju kamar. Ia melihat Agahta yang sudah terbaring di atas ranjang. Mungkin sudah tidur…. Gio melepaskan jas dan sepatunya. Setelah itu ikut berbaring dengan istrinya. Perlahan memeluk tubuh Agatha dari belakang. “Kamu bau..” ucap Agatha yang ternyata masih terjaga. “Kamu dari mana?” tanya Agatha. tanpa memutar tubuhnya. ia mencium aroma yang campur pada tubuh suaminya itu. “Aku dari Bar. Aku bersama temanku, Samuel,” jelas Gio. Agatha membuka matanya. “Aku tahu kamu gak mabuk. Tapi bau tubuh kamu alkohol. dan bau parfum wanita.” “Selain dengan Samuel. Kamu dengan siapa lagi?” tanya Agatha. Gio terdiam—ia mengecup bahu Agatha. “Aku hanya dengan Samuel. Tapi aku sempat berpapasan dengan wanita. Itulah mungkin kenapa bauku bercampur dengan bau wanita itu.” Agatha mengusap tangan Gio yang berada di perutnya. “Kamu tidak berbohong kan?” tanya Agatha. Gio menggeleng. ia menenggelamkan wajahnya di tengku
“Kau mengejekku?” tanya Samuel. “Orang tuaku diam-diam memasang cctv agar bisa memantauku.” Gio mengangguk. “Kalau begitu cari cctv itu dan berikan padaku. aku akan mencari rekamannya sendiri.” “Kau yakin?” tanya Samuel. Gio mengangguk. “Ya.” “Baiklah, aku akan mencarinya. mungkin itu menjadi bukti satu-satunya yang membuktikan segalanya.” Samuel memandang Gio. “Sekarang aku tanya. Kau bisa lega jika cctv itu bisa membuktikan kau tidak tidur dengannya. tapi bagaimana jika kau memang benar tidur dengannya?” Gio menatap lurus ke depannya. Iya, ia juga harus memikirkan kemungkinan terburuknya. “Aku akan memberitahu istriku. Apapun semuanya, aku tidak akan menyembunyikannya.” “Dan aku akan meminta maaf pada Julie atas kesalahan itu.” Gio menghela napas. “Aku akan memberikan sesuatu untuk menebus kesalahan itu. hartaku.. atau apapun itu..” Samuel menepuk pelan bahu Gio. “Kau pria yang bertanggung jawab…” “Tapi bagaimana dengan istrimu. Bagaimana kalau dia tidak mau me