"Apa aku tidak salah lihat?" Kwa Chi melotot melihat pemandangan menggemaskan di depannya. Empat kimcil lenggang-lenggok dengan senyum menggoda mendatangi empat tokoh istana yang berdiri terpesona. Mereka melongo saat ABG nan segar itu menyingkap baju sehingga terlihat perbukitan yang indah. "Aku belum pernah melihat cabe-cabean demikian menggemaskan," kata Lo Yo Loe penuh hasrat. "Ranum sekali." "Kepalamu juga ranum sekali," sahut Cakra sambil mencengkram kepalanya. "Sudah waktunya untuk dipetik." Cakra menghisap partikel energi dengan ilmu Seruput Jiwa sehingga Lo Yo Loe terduduk lemas kehilangan kesaktiannya. Kemudian Cakra mencengkram kepala Kho Phi dan melakukan hal serupa. "Kau semestinya malu mempunyai selera seumuran cucumu." Mereka tidak menyadari apa yang terjadi karena terkesima dengan pertunjukan empat ciblek yang sangat berani. "Aku tahu mereka adalah sihir," kata Kwa Chi. "Tapi aku sulit melepaskan mataku dari mereka." "Aku yakin bukan pengaruh sihir saja," sa
"Apakah bangsawan yang melarikan diri di belakangmu adalah temanmu juga?" Lesmana terkejut mendengar pertanyaan Cakra. Ia tidak melihat penguntit lain selain kedua temannya. Lesmana menoleh kepada temannya. Mereka menggeleng. Ketiga telik sandi itu mengakui kalau mereka ceroboh. Jika pengintai itu bermaksud jahat, mereka sudah mati. "Aku tidak tahu siapa bangsawan itu, Yang Mulia," kata Lesmana. "Adipati hanya menugaskan kami bertiga." "Aku curiga tokoh tua itu agen mata-mata dari puteri bangsawan terkemuka di kerajaan ini." Biasanya puteri bangsawan mengirim mata-mata untuk mengetahui posisinya sehingga mereka dapat bertemu di satu tempat. Bidasari paling sering mengirim telik sandi sehingga mereka sering berjumpa secara kebetulan, padahal sudah direncanakan. "Dyah Citraningrum maksud Yang Mulia?" tanya Lesmana. "Aku tidak tahu siapa," sahut Cakra. "Mereka menjuluki aku pendekar mata keranjang, tapi mereka mengejar-ngejar aku. Sebenarnya siapa yang mata keranjang?" Dyah Citr
"Bagaimana aku menolaknya?" Citrasari mondar-mandir dengan bingung. Sebentar lagi Pangeran Indrajaya tiba di keraton. "Apakah aku pergi saja?" "Patik kira pergi ke wilayah Timur adalah jalan terbaik," kata Senopati Chang Khi Lung, pengganti Senopati Prawira yang hilang secara misterius. "Raja Timur pasti melindungi gusti ayu." "Tapi Raja Timur dalam perjalanan ke mari, senopati," keluh Citrasari resah. "Aku belum mendapat kabar lagi mereka sudah sampai mana." Lagi pula, seluruh pejabat kadipaten pasti mendapat tekanan kalau ia mencoba kabur, terutama senopati. Citrasari tidak mau pembantu terdekatnya dihukum gantung gara-gara tidak mencegahnya pergi. "Aku tidak mau rakyatku menderita, senopati," kata Citrasari pasrah. "Barangkali sudah suratan Yang Widi aku mesti menjadi selir." "Patik dan prajurit rela mati demi gusti ayu," sahut senopati. "Rakyat tidak menginginkan gusti ayu menjerumuskan diri ke dalam neraka perkawinan." Beberapa selir menderita kelainan jiwa karena siksaan
"Apa yang telah kau lakukan Lu Qiu Khan?" Indrajaya memandang tokoh sakti itu dengan sinar mata menyala-nyala. Wajahnya merah padam menahan malu. Indrajaya merasa kehilangan muka di depan adipati dan pembantu dekatnya. "Bagaimana keping emas dapat berganti ubi manis?" Lu Qiu Khan bungkam seribu basa. Kotak mahar itu tidak pernah lepas dari pengawasan dirinya. Jika bukan tokoh utama istana, kepala Lu Qiu Khan pasti sudah menggelinding ke lantai ditebas keris pusaka oleh Indrajaya. Lu Qiu Khan mengambil sebiji ubi dari dalam kotak untuk memastikan, lalu menyantapnya. "Nyata ubi Cilembu," kata Lu Qiu Khan. "Bukan ilusi." Kemudian Lu Qiu Khan membuka dua kotak perhiasan yang belum diserahkan. Lu Qiu Khan mendelik melihat perhiasan berlian berubah menjadi kantong berisi wedang lemon. "Kekuatan sihir sudah merubah barang berharga yang kita bawa," ucap Lu Qiu Khan bergetar, dilanda amarah memuncak. "Aku tahu siapa pelakunya." Lu Qiu Khan menggeser pandangannya ke Raja Timur yang
Cakra turun dari wuwungan dan mendarat di samping Bramantana dengan pedang emas di tangan, pedang itu perwujudan dari Tongkat Petir. "Kau adalah putera mahkota Nusa Kencana!" hardik Indrajaya. "Kenapa kau turut campur urusan negeriku?" Cakra menjawab dengan konyol, "Aku suka es campur di negerimu...!" Semangkok es campur muncul secara tiba-tiba di tangan Cakra. Es itu langsung ludes disikat. "Panas-panas begini minum es campur segar sekali." Lu Qiu Khan tahu pemuda itu menciptakan es campur bukan menggunakan sihir, melainkan ilmu Cipta Saji Paripurna. Tidak salah lagi pemuda itulah yang telah merubah keping emas dan perhiasan menjadi ubi manis dan wedang lemon! "Perbuatanmu memancing perang!" kata Indrajaya. Cakra membentak, "Jadi pangeran jangan plin-plan! Tadi kau memintaku makan es campur! Sekarang disuruh makan kerang!" Indrajaya sangat gemas dengan kekonyolan Cakra. "Aku baru tahu pangeran Nusa Kencana berotak miring." "Sekarang kau menyuruh aku ke Kacapiring!" Indraja
"Barangkali aktornya berbeda, baginda ratu merasa kena prank." Cakra enggan mencoba meski ia berhak meminta kepada Ratu Nusa Kencana selama puteri mahkota dalam masa kehamilan. Ratu Purbasari adalah ratu tercantik di jazirah ini yang tidak mengundang seleranya. Tabiat buruk menenggelamkan pesonanya di mata Cakra. "Ia jadi ilfil kepadaku." Fredy menduga sahabatnya tidak melaksanakan babad kerajaan sebagaimana mestinya. "Barangkali beliau ingin dirimu menyambanginya ketimbang menyambangi perempuan lain." Kemungkinan itu sangat kecil. Ratu Purbasari menolak untuk simpati karena ia murid Pangeran Wiraswara. Pangeran ketiga adalah musuh bersama istana. Ratu Singkawang berhasil menghasut keturunannya untuk menghapus dari silsilah kerajaan. Pangeran Wiraswara adalah pangeran terbuang akibat mata keranjangnya. "Aku tidak ada bedanya dengan guruku kalau menyambangi ibu mertua." "Jadi gurumu juga demikian?" "Aku kira kebencian ibu suri tidak demikian dalam kalau hanya diintip setiap
Cakra memutuskan untuk meninggalkan keraton adipati. Rencananya berantakan gara-gara kedatangan puteri bungsu Nyi Ratu Suri. Nyi Ageng Kencana dan Ratu Purbasari adalah ratu paling menyebalkan sepanjang masa. "Kalian pergi ke rumah kepala dukuh. Lokasi itu strategis untuk markas pergerakan karena berada di perbatasan, sehingga kerajaan Timur gampang mengirim bantuan jika terjadi serangan besar-besaran." "Kau mau pergi ke mana?" tanya Fredy. "Aku pulang ke Nusa Kencana, perempuan menyebalkan itu pasti mengikuti ke mana aku pergi sebelum niatnya terlaksana." Cakra memejamkan mata dan memusatkan pikiran, tubuhnya sekonyong-konyong lenyap. Cakra muncul di atas kuda coklat yang menunggu di luar pagar keraton. "Kita pergi ke pusat kota, Gemblung," kata Cakra. "Aku itu heran kenapa hidupku selalu dikejar-kejar perempuan." "Risiko cowok ganteng, Yang Mulia." Nyi Ageng Kencana pasti menyusulnya ke istana Nusa Kencana. Ratu pertama itu takkan meninggalkan keraton adipati sebelum pert
"Kau diperintah ayahandamu untuk meminta bantuanku?" Cakra menunggangi kuda dengan santai. Beberapa penduduk yang berpapasan heran dibuatnya. Ratu pertama tidak tampak secara kasat mata, sehingga Cakra terlihat bicara sendiri. "Kau mestinya tanya kepada ibundamu apa alasan beliau tidak mau pulang ke alam roh." Cakra melihat hubungan di antara ibu dan anak kurang harmonis. Nyi Ageng Kencana seolah tidak mau berkomunikasi dengan ibundanya. Ia condong kepada ayahandanya. Barangkali karena keberpihakan ibundanya kepada Nyi Ageng Permata. Cakra bertanya, "Kau enggan menghubungi ibundamu apakah karena di pesanggrahan leluhur ada kakakmu?" Wajah Nyi Ageng Kencana tampak ditekuk seperti pelana kuda. Cakra heran bagaimana Pangeran Restusanga memilih perempuan membosankan itu ketimbang kakaknya yang berwajah ceria. "Aku kelihatan membosankan karena kakakku sangat memuakkan," kata Nyi Ageng Kencana. "Ia sering menggoda garwaku. Kemudian ia diasingkan dan mengambil sikap berseberangan de
"Selamat pagi, Tuan Khong!" Seluruh pelayan di dapur mengangguk hormat menyambut kedatangan kepala koki di pintu masuk. "Ada yang sakit pagi ini?" "Tidak ada, Tuan Khong." "Bagus." Khong mendatangi Chan Xian yang tengah menyiapkan minuman hangat. "Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Khong. "Pagi terindah bagiku," jawab Chan Xian. "Kau pasti mendapat gift universe lagi." Pelayanan kamar yang memuaskan akan menerima uang tip besar dari tamu. Chan Xian adalah primadona di penginapan termewah di Butong. Chan Xian terlihat sangat ceria, padahal hatinya menderita. "Aku dapat sepuluh gift universe pagi ini. Entah karena pelayanan yang memuaskan atau karena kecantikan diriku." "Perempuan cantik selalu memuaskan." Khong adalah kepala koki mata keranjang. Beberapa asisten koki sering tidur dengannya. Chan Xian pasti sudah jadi korban kalau bukan puteri mahkota. Semua pegawai menaruh hormat kepadanya. Chan Xian menjadi asisten koki secara sukarela. Ia tinggal di rumah mewah dengan
Hari sudah pagi. Cakra bangun dan pergi mandi, kemudian berpakaian. Jie masih tertidur pulas di pembaringan. Cakra menghubungi Nawangwulan lewat Sambung Kalbu. "Sayang...!" pekik puteri mahkota Segara gembira. "Ada apa menghubungi aku?" "Aku ada informasi penting," sahut Cakra. "Lima puluh istri Manggala akan mengadakan pertemuan rahasia di rumah Adinda, kepala front office kastil Mentari, dengan modus party dance." "Sayang ... kau berada di kampung Luhan?" "Ikan paus membawa diriku ke mari." "Ia ratu siluman. Ia sering menolong kesatria yang ingin berkunjung ke negeriku." "Tapi jutek banget." Nawangwulan tertawa lembut. "Ia biasanya minta upah ... barangkali ia sungkan karena kau adalah calon garwaku, ia jadi bete." "Dari mana ia tahu aku calon garwamu?" "Seluruh penghuni samudera sudah tahu kabar itu, dan Ratu Paus bukan sekedar tahu, ia mengenal sosokmu." Upah yang diminta pasti bercinta. Edan. Bagaimana ia bercinta dengan ikan paus? Siluman ikan biasanya hanya berubah
Sejak awal Cakra sudah curiga dengan Jie. Ia melihat sosok berbeda terbelenggu tabir misteri. Cakra ingin membebaskan sosok itu dari belenggu dengan mengalirkan energi intisari roh. "Aku adalah puteri mahkota dari kerajaan Terumbu," kata Jie. "Aku mendapat kutukan dari Raja Sihir karena menolak lamarannya." "Ada kerajaan sihir di jazirah tirta?" "Tidak ada. Ia pemilik Puri Abadi di wilayah tak bertuan." "Kalian kesulitan menangkap Raja Sihir untuk mencabut kutukan?" "Raja Sihir ditemukan tewas saat tokoh istana menyerbu ke Puri Abadi." "Siapa yang membunuhnya?" "Ia mati diracun murid tunggalnya, Raden Manggala." "Jadi kau datang ke kampung Luhan dalam rangka mencari Raden Manggala untuk mencabut kutukan?" "Ahli nujum istana mendapat wangsit; aku akan terbebas dari kutukan kalau ada kesatria gagah dan tampan bersedia bercinta denganku." "Kesatria di negerimu tidak ada yang bersedia?" "Lubangku mendadak hilang, ada bibir besar saja." "Lubangmu tertutup tabir sehingga ter
Kehidupan di kampung Luhan tenteram dan damai, padahal menjadi markas pergerakan. Kelompok ini sulit diketahui keberadaannya. Mereka berbaur dengan masyarakat dan menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa. Pada saat dibutuhkan, mereka beroperasi secara masif, terstruktur, dan sistematis. Pergerakan seperti itu sangat berbahaya karena mereka akan memanfaatkan setiap peristiwa untuk menjatuhkan istana. "Kau tahu di mana kediaman Raden Manggala?" tanya Cakra. "Aku melihat tidak ada kekacauan di kampung ini. Gerakan mereka rapi sekali." "Bagaimana rupa Raden Manggala saja aku tidak tahu," sahut Jie. "Konon ia operasi plastik di negeri manusia sehingga sulit dikenali. Aku curiga anggota pergerakan telah menculik Chan Xian." "Apakah kakakmu pernah berurusan dengan kelompok Manggala?""Tidak." "Lalu ia diculik untuk apa? Untuk minta tebusan?" "Untuk jadi istri." "Jadi pemimpin pemberontak itu bujang lapuk?" "Istri keseribu." "Luar biasa...! Cukup untuk modal pemberont
"Aku berasal dari bangsa Incubus." Cakra merasa jawaban itu adalah jawaban paling aman. Nama bangsa itu sudah termasyhur ke seantero jagat raya. Ia pasti menjadi binatang buruan jika mengaku bangsa manusia. Perempuan di negeri ini akan menjadikan dirinya gongli dengan penampilan sekeren ini. "Jangan keras-keras," tegur perempuan gembrot. "Kedengaran mereka hidupmu dijamin bakal susah." Cakra kaget. "Mereka tergila-gila pada bangsa Incubus. Mereka rela meninggalkan suami untuk mendapatkan pria Incubus, lebih-lebih pria segagah dan setampan dirimu." Cakra terbelalak. Celaka! "Kau bukan wanita kampung ini?" "Namaku Jiefan, panggil saja Jie, kayaknya kita seumuran. Aku dari negeri tetangga." "Oh, pantas...! Lagi pula, siapa yang tertarik kepada perempuan sebesar kerbau bunting? Ia pasti menjadi musuh lelaki satu bangsa! "Jadi aku aman jalan bersama dirimu?" "Kau aman kalau mengaku dari bangsa manusia dan berwajah jelek." "Waduh...!" "Kau akan jadi musuh per
"Aku tahu kau menyusul ke bukit karang bukan untuk menyampaikan kabar itu," kata Cakra. "Kau ingin mengajakku bercinta." "Aku adalah maharatu! Sungguh tidak pantas bercinta di sembarang tempat!" Akan tetapi, perempuan itu menjadi sangat liar saat Cakra menghantam di atas batu karang, sampai sang ratu mandi keringat dan pingsan saking capeknya. Padahal Cakra belum apa-apa. Ratu Sihir dan Ratu Ipritala muncul di bukit karang. "Nah, dua lagi datang," kata Cakra. "Bermain threesome kayaknya seru." Mereka tiba di dekat Cakra. Ratu Ipritala tersenyum nakal. "Kau luar biasa...! Purbasari sampai ketiduran, pasti kelelahan." "Ia pingsan." "What?!" "Padahal teganganku belum turun." "OMG!" "Jangan basa-basi. Aku tahu kedatangan kalian untuk apa." Tiga jam kemudian, mereka tergeletak pingsan di samping Ratu Purbasari saking lelahnya. Cakra belum apa-apa. Kemudian muncul Ratu Pagedongan, Roro Kidul, dan Blorong di angkasa samudera. "Kami datang untuk menjemput dirimu,
Ratu Dublek dan panglima perang tiba di pantai berkarang yang menjadi lokasi pertemuan dengan utusan Raden Manggala. Debur ombak memecah pantai berkarang menjilat kaki mereka, berbuih-buih. Mereka terkejut melihat kesatria gagah dan tampan berdiri di batu besar seolah menunggu kedatangan mereka, di dekatnya dua utusan Raden Manggala tergeletak mati. "Kalian tak bisa lari dariku," kata Cakra. "Aku akan mengejar kalian ke dasar segara sekalipun." "Aku sudah meninggalkan istana secara sukarela," ucap Ratu Dublek. "Kau butuh singgasana untuk Romadara dan sudah didapatkan. Apa lagi yang kau inginkan?" Ratu Dublek mencoba untuk negosiasi. Kelihatannya tidak ada peluang untuk kabur. "Aku menginginkan jazirah bentala terbebas dari gangguan makhluk seperti kalian." "Aku akan pergi dari jazirah bentala untuk selamanya." "Dan berbuat kerusakan di jazirah lain. Perbuatanmu sudah melampaui batas. Perempuan seperti dirimu sudah sepantasnya berbaring bersama dua kutu kupret ini."
"Terimalah hukuman atas kelancangan dirimu!" Ketua lama berubah menjadi Bintang Kehidupan dengan sinar kemerahan yang menyilaukan mata. Bintang itu berusaha menyambar Cakra yang bergerak menghindar dengan lincah. Semua pendekar yang berada di sekitar mereka berusaha menghalangi pandangan dari sinar yang membutakan mata itu. "Ketua lama mulai mengeluarkan ilmu dari kitab terkunci," keluh Ratu Purbasari. "Sampai kapan Cakra mampu bertahan?" "Ilmu warisan Wiraswara sangat dahsyat di tangannya, tapi tidak cukup untuk menandingi," kata Ratu Sihir. "Kita juga tidak bisa menolong, bahkan untuk diri sendiri." "Hei! Lihat...!" seru Ratu Ipritala. Cakra berubah menjadi Seberkas Sinar. Cahaya berekor berwarna keemasan itu menggulung Bintang Kehidupan meninggalkan siluet di angkasa. "Ratu Kencana kiranya sudah mewariskan ilmu roh kepada pangeran," ujar Ratu Purbasari. "Tapi belum cukup untuk memenangkan pertarungan." Padahal ilmu itu diperoleh dari Nyi Ratu Suri lewat kemesraan, dan men
"Aku adalah Raja Agung yang akan menyeretmu pulang ke gerbang siksa." Sebilah pedang kencana muncul secara tiba-tiba di tangan Cakra, pedang itu jelmaan Tongkat Petir. Ketua lama tertawa dengan congkak. "Ha ha ha! Jadi kau murid Ki Gendeng Sejagat?" Sebuah tongkat yang sama persis muncul dalam.genggaman ketua lama, kemudian tongkat itu berubah menjadi pedang serupa. Aku tidak pernah mendengar Tongkat Petir mempunyai kembaran, batin Cakra. Tapi guruku pernah menciptakan duplikatnya. Aku tidak tahu mana yang asli. "Ha ha ha! Gurumu benar-benar gendeng sudah mewariskan tongkat palsu kepada muridnya!""Aku yakin tongkatmu palsu, seperti tongkat di balik celanamu!" Ratu Dublek tersenyum mengejek, ia berkata, "Apakah kau sekarang masih cukup nyali untuk menantang garwaku setelah mengetahui tongkatmu palsu? Aku memberi kesempatan kepadamu untuk hidup dengan melanjutkan permainanku yang terganggu olehmu." "Kau bukan perempuan seleraku," kata Cakra sinis. "Kakek peot itu sudah me