Home / Pendekar / Perjanjian Leluhur / 05. Muka Tempayan

Share

05. Muka Tempayan

Author: Enday Hidayat
last update Last Updated: 2022-02-23 12:07:24

"Giliran ditunggu-tunggu tidak muncul," keluh Fredy kecewa. "Atau semua itu omong kosong?"

Cerita penduduk tentang keangkeran hutan bunian ternyata mitos belaka. Mereka melewati hutan itu dengan lancar, tanpa ada makhluk yang memberhentikan mobil untuk menumpang ke kota atau sekedar tebar pesona.

Barangkali tidak ada bunian yang tertarik sehingga enggan menampakkan diri. Mereka tahu yang mengendarai mobil adalah Fredy, seorang pemuda yang berharap dapat bercinta dengan makhluk selain manusia.

Malam Jumat kliwon adalah malam di mana mereka seharusnya muncul. Penduduk sampai kecut lewat setelah hari gelap, saking santernya cerita itu.

"Mereka ngeri melihatmu," ujar Cakra. "Jadi tidak berani muncul."

"Wajahku seram ya?"

"Kelewat keren. Jadi mereka tidak percaya kalau kamu manusia."

"Aku tahu kamu lagi bicara tentang diri sendiri. Kamu tidak pantas jadi anak petani."

Aku bukan anak petani, sahut Cakra dalam hati. Aku anak saudagar kaya yang hartanya disedekahkan pada ayahmu untuk menghindari perjanjian leluhur. Tapi aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya karena kamu tidak tahu apa-apa.

Mereka adalah dua anak muda yang memiliki kepribadian berbeda. Cakra tidak takut bertemu dengan makhluk bunian tapi bukan untuk bercinta, sementara Fredy sudah terobsesi semenjak dewasa, bahkan menunggu kedatangan utusan kerajaan untuk menjemput. Maka itu ia berpakaian seperti pangeran.

Cakra berpakaian ala putera mahkota karena dibelikan Priscillia model begitu. Jadi tidak ada pilihan. Ia tidak mungkin mengenakan pakaian yang ada di rumah, pesta ulang tahun pacarnya dihadiri kalangan borjuis.

"Sejujurnya pesonamu tidak bisa disembunyikan dengan memanggul pacul," puji Ambu selesai berdandan tadi. "Mutiara tidak hilang kilaunya meski mandi lumpur."

"Jadi keinginan Ambu membuat aku jelek gagal malam ini."

"Aku ingin anakku terlepas dari perjanjian."

Ambu seharusnya bangga mempunyai menantu puteri kerajaan. Kehidupan keluarga Paman Wikudara meningkat pesat sejak terpilih jadi sang pangeran. Kepergiannya membawa berkah. Tapi Ambu lebih baik kehilangan semua harta daripada kehilangan anak semata wayang.

Cakra sebenarnya memiliki dua adik, mereka meninggal waktu usia lima dan enam tahun. Barangkali orang tuanya trauma untuk mempunyai anak lagi. Kematian itu tidak perlu terjadi andai mereka tidak meninggalkan kota dan harta. Penanganan dokter jauh lebih memberi harapan ketimbang dukun beranak.

Kelap-kelip lampu yang membingkai nama hotel menyambut kedatangan mereka di pelataran lobi.

Cakra turun dari dalam taksi, kemudian taksi melaju lagi menuju ke tempat parkir di basement.

Penerima tamu menuruni anak tangga lobi dengan langkah gemulai. Cakra kira dua perempuan cantik itu datang untuk menyambutnya, ia bersiap-siap, ternyata mereka lewat begitu saja.

Sebuah mobil mewah keluaran terbaru berhenti di pelataran. Sopir segera keluar dan membukakan pintu belakang. Seorang pria berpenampilan gagah turun dari dalam mobil.

Gadis cantik itu ternyata tidak tertipu oleh casing. Mereka tahu mana orang miss queen dan mana crazy rich. Senyum dan rasa hormatnya seakan bermata.

Semua orang mengira pria itu adalah bangsawan terkemuka di kota ini, padahal utusan kerajaan yang menyamar.

Mahameru berjalan dikawal tiga prajurit pilihan; Brajaseta, Artasena, dan Linungga. Mereka adalah komandan pasukan pengawal istana.

Utusan kerajaan itu mendapat kabar para bangsawan kota berkumpul di hotel bintang lima ini. Klan Bimantara juga hadir. Calon pangeran pasti ada di antara tamu undangan. Malam ini mereka harus berhasil menjalankan titah baginda ratu.

Padahal orang yang dicari ada di depan mata, bahkan tersenggol oleh Mahameru. Pria itu tidak berusaha untuk minta maaf. Arogan sekali. Ia menaiki anak tangga lobi dengan gaya bangsawan nomor satu di kota ini.

Cakra jadi keki. Ia menyentuh bahu Linungga yang berjalan paling belakang, dan berkata, "Bro, bosmu saudagar barang pecah belah ya?"

"Kok tahu?"

"Mukanya kaku kayak tempayan."

Mahameru tidak terpancing. Ia tahu bangsa manusia hobi bullying, sesuatu yang sangat tabu di kerajaan, bisa perang antar suku. Hobi yang lagi trending di negerinya adalah mancing mania dengan caddy cantik.

Brajaseta yang temperamental datang menghampiri, dan bertanya, "Anda ngomong apa tadi?"

Cakra menjawab tanpa rasa takut sedikit pun, ilmu bela diri klan Bimantara cukup untuk menghadapi cecunguk macam begini, "Muka bos kalian hancur kayak tempayan pecah."

"Apa itu tempayan?"

Cakra mengusap-usap kepala, sambil menggerutu, "Kalian manusia apa jin tidak tahu tempayan?"

Cakra bengong melihat mereka pergi meninggalkannya. Baru kali ini bangsawan tidak tersinggung dibilang jin. Padahal ia sudah siap-siap minta maaf dengan alasan khilaf.

Mahameru dan ketiga pengawalnya dipersilakan masuk dengan ramah oleh security yang berjaga di pintu. Giliran Cakra hendak masuk, pria berpakaian ala polisi itu menahannya.

"Maaf," kata security. "Anda tidak boleh masuk."

Cakra kaget. "Loh kenapa? Saya bawa kartu undangan."

"Saya hanya menjalankan tugas. Tolong hargai saya."

"Anda mestinya hargai saya," balik Cakra kesal. "Saya ini pacar gadis yang merayakan ulang tahun."

"Saya cuma menjalankan perintah."

"Perintah siapa?"

"Aku," jawab Dirgantara sambil muncul di pintu dengan wajah angker. Beliau adalah papi Priscillia. "Kau tidak layak ada di pesta anakku."

Cakra jadi mati gaya. Ia sebetulnya ingin menghindari pertemuan dengan pria itu. Gonggongannya bikin panas kuping.

Dirgantara sengaja memelihara beberapa herder untuk memburunya jika nekat berkunjung ke rumah. Maka itu Cakra menyebutnya komandan herder.

"Tidak tahu malu datang ke pesta dengan baju dari anakku," dengus Dirgantara sinis. "Jadi sopirnya saja tidak pantas."

Pria itu juga menggaji beberapa herder untuk mengintai gerak-gerik mereka. Priscillia sudah sembunyi-sembunyi order baju di butik dan dikirim lewat paket, tapi masih terendus juga.

"Saya sebenarnya tidak tertarik menghadiri pesta puteri bapak," kata Cakra mencoba menahan malu dari jilatan mata tamu yang hendak masuk. "Priscillia memaksa saya untuk datang."

"Dan aku memaksa kamu untuk pergi!"

Perlakuan Dirgantara sangat menyinggung harga diri. Ia pasti sudah mengabsen penghuni kebun binatang kalau bukan di tempat umum. Cinta berbeda kasta sungguh berat perjuangannya.

"Apa yang membuatmu masih berdiri di situ?" hardik Dirgantara. "Lekas pergi!"

Priscillia muncul dari dalam dan menegur ayahnya, "Papi apa-apaan sih? Bikin malu saja."

"Kamu bikin malu," sergah Dirgantara. "Anak gembel diundang. Kamu sudah merendahkan tamu lain."

"Ini pestaku! Aku berhak mengundang siapa yang kumau!"

"Kalau bicara soal hak, maka kamu juga harus bicara hak orang yang membayar semua ini."

"Baik! Silakan Papi berpesta sama teman-teman Papi! Aku pergi!" Lalu Priscillia mengajak Cakra untuk meninggalkan hotel. "Kita rayakan berdua di tempat lain."

Cakra menolak, "Tempatmu di sini."

"Di sini kamu cuma dapat hinaan!"

"Karena tempatku bukan di hotel berbintang."

"Maka itu kita pergi."

Cakra memandangnya dengan lembut. "Kamu masih cinta aku?"

"Buat apa kamu tanya itu?"

"Kamu lanjutkan pestamu, biarkan aku pulang."

Mata Priscillia berkaca-kaca. "Kamu jangan pulang."

"Ya sudah aku tunggu di luar." Cakra menyerahkan buket bunga yang dipegangnya. "Happy birthday, god bless you."

"Terima kasih." Priscillia mengecup kuntum bunga dengan haru. "Kamu petik di halaman rumah ya?"

"Aku tidak cukup uang untuk membelinya."

Dirgantara kelihatan sangat muak mendengar obrolan mereka.

"Masuklah," pinta Cakra. "Bersenang-senanglah di dalam."

Priscillia belum beranjak juga dari tempatnya. Ia memandang kekasihnya dengan air mata mengalir pedih.

Dirgantara kehilangan sabar. Ia menarik puterinya masuk ke ruang lobi.

"Acara segera dimulai."

Cakra memberi isyarat agar tidak membantah. Priscillia pergi dengan berat hati. Tamu undangan membuntuti mereka.

Tinggallah Cakra sendiri terduduk lemas di pagar lobi merenungi nasib.

Mahameru keluar dari lobi dan duduk di sisinya, kemudian berkomentar, "Purnama tertutup mega seakan bersedih melihat seorang lelaki tercampakan."

"Lumayan puitis juga." Cakra tersenyum kecut. "Aku kira orang kaku macam Anda tidak punya kata-kata manis."

"Aku bisa membawamu masuk sebagai tamuku."

"Pasti ada syaratnya."

"Aku sudah tanya semua tamu yang ada di dalam, tidak ada yang tahu orang yang kucari. Tinggal kamu belum ditanya. Apa kamu pernah dengar orang yang bernama Cakra Agusti Bimantara?"

"Aku sendiri."

Mahameru terdiam sejenak, kemudian berkata, "Purnama semakin bersedih."

"Kenapa?"

"Tampangmu kayak pangeran, sayang otakmu kayak keran ... bocor."

Mahameru bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Cakra.

"Sekalian saja bilang kalau kau kid slebew."

"Itu sebutan tetanggaku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Perjanjian Leluhur   06. Gerbang Labirin

    Taksi meluncur keluar dari basement dan berhenti mendadak di pelataran lobi hotel. Cakra yang duduk bersandar ke pagar lobi menengok. Kaca jendela taksi terbuka dan muncul kepala Fredy seraya berteriak, "Cepetan naik! Kita harus segera pergi!" "Aku menunggu acara selesai," sahut Cakra santai. "Sebentar lagi Priscillia keluar." Ia tidak mau pulang sebelum pacarnya muncul. Priscillia pasti kecewa. "Aku sudah ngomong sama pacarmu!" seru Fredy. "Ia minta kamu untuk segera pergi!" Cakra terpaksa menghampiri dan masuk ke mobil. Belum juga ia sempat memasang sabuk pengaman, taksi sudah melesat separuh terbang meninggalkan pelataran lobi. Fredy mengendarai taksi dengan gila-gilaan. Melalap habis kendaraan yang memadati jalan raya. Sulit merangsek maju lewat jalur kanan, menyalip lewat jalur lambat. Masa bodoh dengan bunyi klakson yang terdengar sengit dari mobil lain. "Kamu nyopir kayak dikejar setan," keluh Cakra. "Kalau begini caranya, bukan segera sampai ke rumah, tapi mampir di ruma

    Last Updated : 2022-02-24
  • Perjanjian Leluhur   07. Terjebak Di Labirin Transisi

    Mereka berhenti mendorong taksi setelah tiba di pinggir jalan sehingga tidak mengganggu lalu lalang kendaraan, jika ada. Malam begini kemungkinan kecil kendaraan berani lewat. "Perlu bantuan apa lagi?" tanya Cakra. "Asal jangan minta pijat plus plus." "Sudah pergi sana," jawab Fredy. "Jangan iri kalau cover girl bunian mengajakku kencan." "Aku pulang dulu ya. Hati-hati." "Kamu juga." "Bunian kayaknya berani muncul kalau kita pisah, ia tidak bingung pilih yang mana. Ada yang lebih ganteng tapi kere." "Semoga ia mendatangi aku, lumayan buat menghangatkan badan." Fredy duduk beristirahat di kabin. Cukup menguras tenaga juga mendorong mobil ke sisi jalan. Apes sekali ia malam ini, pertama kali jadi sopir taksi ban kempes di tengah hutan. Cakra sebenarnya tidak tega meninggalkan Fredy sendirian. Ia merasa tenang karena di hutan bunian tidak pernah terdengar ada perampokan. Barangkali keangkeran hutan ini membuat nyali mereka ciut. Cakra terpaksa pulang jalan kaki. Jarak tempuh ke

    Last Updated : 2022-02-25
  • Perjanjian Leluhur   08. Bukan Menunggu Dijemput

    Ratu Purbasari terbangun dari tidurnya. Ia beranjak turun dari pembaringan. Biasanya ada petunjuk penting di Cermin Mustika jika ia terjaga secara mendadak. Kakinya segera melangkah ke cermin ajaib untuk mengetahui apa yang terjadi. Mungkinkah pemberontak itu berhasil menguasai wilayah barat padahal sudah dikirim beberapa ratus prajurit tambahan? Ratu Purbasari terkejut bercampur bahagia manakala di cermin terpampang seorang pemuda yang duduk bersandar di kursi taksi seperti kebingungan. Tapi mengapa ia membawa teman? Pasti bukan menunggu dijemput! Ratu Purbasari sebenarnya ingin menggunakan Sambung Kalbu untuk menghubungi Mahameru karena lebih praktis, tapi kuatir mahapatih berada di keramaian sehingga mengundang kecurigaan manusia. Ia terpaksa berkomunikasi lewat gadget. "Kau berada di mana?" tanya Purbasari setelah tersambung. "Patik baru saja masuk ke sebuah diskotik." Terdengar suara Mahameru di speaker gadget. "Lagi mengamati pengunjung berjoget." "Calon terpilih terjebak d

    Last Updated : 2022-02-25
  • Perjanjian Leluhur   09. Negeri Yang Dituju

    Fredy mengemudikan taksi dengan kencang. Taksi meluncur mulus di jalan raya seolah semua ban normal. Kecepatan ditambah, mobil tidak mengalami guncangan sedikit pun, padahal melewati jalan berlubang. "Aku sempat lihat sebelum berangkat ban masih kempes," cetus Fredy heran. "Keanehan apa lagi ini?" "Keanehan apapun kalau menyenangkan patut kita syukuri," kata Cakra. "Jadi jalan saja terus." Ia tidak peduli dengan segala keanehan yang terjadi. Yang penting cepat sampai di rumah. Malam sudah menjelang fajar. Abah dan Ambu pasti gelisah menunggu. Sangkaan mereka, ia pasti dijemput utusan kerajaan, padahal terjebak di hutan sialan ini. "Mobil jalan kan?" tanya Fredy. "Terbang juga boleh." "Maksudnya tidak bergerak di tempat." "Kamu lihat pepohonan terlewati, berarti taksi tidak bergerak di tempat." "Kamu tidak merasakan sesuatu yang ganjil?" "Nikmati saja keganjilan ini. Jangan banyak berpikir." Cakra sudah lelah memikirkan kejadian malam ini. Mereka banyak mengalami peristiwa yan

    Last Updated : 2022-02-26
  • Perjanjian Leluhur   10. Pondok Asmara

    Sebuah bangunan besar bertingkat terbuat dari kayu langka terlihat sangat indah dengan lampu lampion bermodel unik dan antik. Di pelataran depan terdapat pendopo memanjang dengan partisi untuk menambatkan kuda, saat itu sudah terisi penuh. Pondok Asmara, begitu pengunjung menyebut penginapan itu, warga menyebut Pondok Maksiat. Satu-satunya rumah bordir yang ada di wilayah barat. Di penginapan ini bukan hanya tersedia layanan kebutuhan batin, tamu bebas berjudi dan pesta tuak semalam suntuk, asal tidak membuat keributan. Jika ada yang berani berbuat onar, beberapa penjaga berilmu tinggi siap mengusir. Jadi pondok itu aman untuk tamu yang sekedar singgah buat mengisi perut atau beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Beberapa kamar disediakan untuk pengelana rimba, sebutan bagi tamu yang sekedar mampir buat makan atau menginap. Sementara untuk pengelana cinta tersedia banyak kamar yang di dalamnya dihuni perempuan cantik. Mereka tidak menjajakan rayuan, tapi menunggu di dalam

    Last Updated : 2022-02-28
  • Perjanjian Leluhur   11. Tamu Istimewa

    "Ternyata sampai juga," kata Fredy sambil membelokkan taksi memasuki pelataran Pondok Asmara. "Aku sangka kayak di hutan bunian, cuma bolak-balik." Fredy menghentikan taksi di depan pintu masuk. Malam sudah menjelang pagi. Suasana kelihatan sepi. Satu pun tidak ada makhluk yang lalu lalang. Mereka turun. "Kayaknya penginapan," komentar Cakra. "Banyak kuda tamu di pendopo." "Penginapan apa rumah hantu?" celoteh Fredy. "Sepi banget." "Mereka bangsa pemalas. Di kita jam segini sudah berkeliaran mencari rejeki." "Namanya penginapan untuk tempat beristirahat. Mereka pasti bangun siang. Di penginapan masa mencari rejeki?" "Banyak yang mencari rejeki di penginapan." "Rumah bordir maksudnya?" "Otakmu bawaannya ngeres saja. Penginapan itu tempat mencari rejeki bagi pegawainya." "Berarti benar bangsa pemalas. Pegawai jam segini belum bangun." "Untuk lebih jelasnya kita masuk. Siapa tahu tidak ada penerima tamu, atau tidak buka dua puluh empat jam." "Tunggu sebentar," ujar Fredy, lang

    Last Updated : 2022-03-01
  • Perjanjian Leluhur   12. Perempuan Sisa

    Kakek renta berbadan ceking muncul dari dalam penginapan dengan tergesa-gesa, di belakangnya mengejar perempuan gembrot mengenakan sarung dengan wajah kesal. "Jangan kabur perampok!" teriak perempuan itu. "Enak saja bilang aku perampok! Aku sudah merampok apa?" "Merampok diriku!" "Aku sudah bilang kantong uangku ketinggalan! Aku bayar nanti!" "Modus! Kantong kemenyan dibawa, masa kantong uang lupa?" "Kalau aku lupa bawa kantong kemenyan, terus aku ngamar pakai apa?" "Ada apa, Tongkat Bertuah?" tegur Iblis Cinta yang baru selesai memperbaiki penyok-penyok kecil pada taksi. "Pagi buta begini sudah bikin gaduh." "Tarif lontemu kemahalan," lapor Tongkat Bertuah. "Padahal perempuan sisa." "Kurang ajar! Minta dilayani tiga kali bilang perempuan sisa!" "Berapa bayaranmu, Cemani?" tanya Iblis Cinta. "Tiga keping emas." Iblis Cinta terkejut. "Mahal sekali!" "Untuk tiga ronde, tuanku." Iblis Cinta bertanya pada Tongkat Bertuah, "Kau merasa kemahalan sekeping emas untuk sekali main?

    Last Updated : 2022-03-02
  • Perjanjian Leluhur   13. Tidak Ada Makhluk Segala Tahu

    Cakra memiliki dua pilihan untuk keluar dari negeri ini, pergi ke mata air pengukuhan di istana atau mencari Ki Gendeng Sejagat. Dua-duanya adalah pilihan buruk. Pergi ke istana berarti ia harus menikah dengan puteri kerajaan dan mengkhianati cinta Priscillia. Sementara mencari pertapa sakti itu adalah perbuatan sia-sia. Ia sudah puluhan tahun menghilang dari dunia perkelahian. Namun semangatnya untuk mencari gerbang keluar tidak luntur. Ia sudah berjanji ke orang tuanya untuk segera pulang, dan ia tidak pernah ingkar janji. Lagi pula, tidak ada makhluk di jagad raya ini yang segala tahu meski berilmu tinggi. Iblis Cinta belum tentu sepenuhnya benar. Jadi mungkin saja ada jalan lain selain gerbang labirin. Kabar tentang kedatangan mereka sudah tersebar ke seluruh penghuni pondok, sehingga ketika ada tamu keluar dari sebuah kamar, wanita penghuni kamar itu meminta pelayan untuk segera menghubungi mereka seolah takut keduluan oleh temannya. "Apakah di antara kalian ada yang berkena

    Last Updated : 2022-03-03

Latest chapter

  • Perjanjian Leluhur   397. Matinya Sang Pecundang

    Raden Manggala bersama beberapa pembantunya mengadakan perjamuan makan malam yang dihadiri puluhan istrinya. Perempuan-perempuan muda itu pergi ke Puri Abadi secara sukarela tanpa sepengetahuan suami atau orang tua sehingga dikabarkan diculik. Kebiasaan jelek warga kampung Luhan adalah menyebarkan berita tanpa menyaring dahulu kebenaran berita itu. "Perjuangan takkan pernah padam," kata Raden Manggala. "Kita tinggalkan para pecundang yang menginginkan imbalan semata. Aku akan berusaha memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kalian." Semua wanita yang menghadiri perjamuan tidak tahu kalau makanan dan minuman yang dihidangkan adalah hasil rampokan. Mereka mengira uang hasil usaha penginapan termewah di Butong, milik Manggala. Mereka juga baru mengetahui sosok Manggala secara jelas, dan mereka tidak menyesal menjadi istrinya. Manggala sangat gagah dan tampan. "Aku sebelumnya minta maaf, kalian ke depannya akan mengalami pengurangan fasilitas, sebab hartaku ludes diambil

  • Perjanjian Leluhur   396. Menolak Ampunan

    Cakra merasa banyak waktu senggang. Kelompok pergerakan bukan ancaman serius secara global, skalanya sangat kecil. Maka itu ia tidak keberatan ketika istana mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam untuk janji suci mereka. "Pesta itu untuk rakyat," kata Nawangwulan. "Kita tidak perlu hadir sepanjang waktu." "Protokoler istana melarang rakyat untuk menyampaikan ucapan selamat secara langsung," keluh Cakra. "Jadi kita hadir sekedar seremonial saja." "Kau maunya seperti apa?" "Kita keliling Kotaraja untuk menyapa rakyat." "Perlu berapa hari kita mengelilingi Kotaraja?" "Tidak sampai tujuh hari tujuh malam kan? Apa salahnya kita mengadakan resepsi di setiap penginapan yang disinggahi supaya rakyat merasa lebih dekat?" "Sayang ... aku berarti harus merubah protokoler istana." "Ibunda ratu keberatan?" "Ia keberatan kalau kita merasa kecewa dengan perjamuan." "Kalau begitu kita rubah pesta sesuai keinginan kita!" Seluruh pegawai istana kelimpungan ada perubahan agenda

  • Perjanjian Leluhur   395. Setia Pada Uang

    Dengan bantuan intisari roh, Cakra berhasil memindahkan harta di kediaman adipati ke rumah Adinda yang kini kosong. "Aku butuh kereta barang untuk mengangkut ke istana," gumam Cakra. "Warga kampung Luhan pasti curiga kalau aku sewa kereta barang. Apakah aku minta bantuan Nawangwulan saja?" Ratu Kencana muncul di kamar tirakat. Cakra tersenyum senang. "Kebetulan...!" seru Cakra. "Kebetulan apa?" sergah Ratu Kencana. "Kebetulan kau sedang mau digampar?" "Aku butuh kereta barang untuk mengangkut harta karun ke istana. Dapatkah kau menciptakan binatang penarik bertenaga super?" "Tidak ada ilmu yang bisa menciptakan makhluk hidup, tapi kau bisa menciptakan tiruannya." "Betul juga...! Lalu kau datang mau apa?" Plak! Plak! "Aku ingin menamparmu...!" geram Ratu Kencana. "Aku menjadi gunjingan di semua jazirah gara-gara kau!" Pasti soal bercinta lagi, batin Cakra kecut. Ratu itu sangat jengkel dibilang mentransfer ilmu lewat kemesraan. "Kau mestinya memberi klarifikasi! Ja

  • Perjanjian Leluhur   394. Generasi Nasi Bungkus

    Kampung Luhan gempar. Penggerebekan rumah Adinda oleh pasukan elit Kotaraja sangat mengejutkan. Gelombang protes muncul secara sporadis. Mereka menganggap penangkapan lima puluh wanita dan beberapa petugas keamanan sangat beraroma politis. Adipati Butong laksana kebakaran jenggot, padahal tidak berjenggot. Ia bukan meredam massa yang berdemo di depan kantor kadipaten, malah semakin membangkitkan amarah. "Tenang! Tenang! Beri saya kesempatan untuk berbicara!" Warga berusaha diam, kebanyakan orang tua perempuan yang ditangkap. "Saya tidak tahu apa-apa dalam peristiwa itu! Istana tidak berkoordinasi dengan saya! Saya akan melancarkan protes keras pada istana!" "Bukan protes! Bebaskan anak kami! Mereka tidak bersalah!" "Pasukan elit sudah berbuat sewenang-wenang! Mereka membawa anak kami ke Kotaraja untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak mereka lakukan!" "Bebaskan anak kami...!" "Bebaskan istri kami...!" "Tenang! Tenang! Beri saya waktu untuk menyelesaikan

  • Perjanjian Leluhur   393. Tuan Khong

    "Selamat pagi, Tuan Khong!" Seluruh pelayan di dapur mengangguk hormat menyambut kedatangan kepala koki di pintu masuk. "Ada yang sakit pagi ini?" "Tidak ada, Tuan Khong." "Bagus." Khong mendatangi Chan Xian yang tengah menyiapkan minuman hangat. "Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Khong. "Pagi terindah bagiku," jawab Chan Xian. "Kau pasti mendapat gift universe lagi." Pelayanan kamar yang memuaskan akan menerima uang tip besar dari tamu. Chan Xian adalah primadona di penginapan termewah di Butong. Chan Xian terlihat sangat ceria, padahal hatinya menderita. "Aku dapat sepuluh gift universe pagi ini. Entah karena pelayanan yang memuaskan atau karena kecantikan diriku." "Perempuan cantik selalu memuaskan." Khong adalah kepala koki mata keranjang. Beberapa asisten koki sering tidur dengannya. Chan Xian pasti sudah jadi korban kalau bukan puteri mahkota. Semua pegawai menaruh hormat kepadanya. Chan Xian menjadi asisten koki secara sukarela. Ia tinggal di rumah mewah dengan

  • Perjanjian Leluhur   392. Bukan Hanya Milik Puteri Mahkota

    Hari sudah pagi. Cakra bangun dan pergi mandi, kemudian berpakaian. Jie masih tertidur pulas di pembaringan. Cakra menghubungi Nawangwulan lewat Sambung Kalbu. "Sayang...!" pekik puteri mahkota Segara gembira. "Ada apa menghubungi aku?" "Aku ada informasi penting," sahut Cakra. "Lima puluh istri Manggala akan mengadakan pertemuan rahasia di rumah Adinda, kepala front office kastil Mentari, dengan modus party dance." "Sayang ... kau berada di kampung Luhan?" "Ikan paus membawa diriku ke mari." "Ia ratu siluman. Ia sering menolong kesatria yang ingin berkunjung ke negeriku." "Tapi jutek banget." Nawangwulan tertawa lembut. "Ia biasanya minta upah ... barangkali ia sungkan karena kau adalah calon garwaku, ia jadi bete." "Dari mana ia tahu aku calon garwamu?" "Seluruh penghuni samudera sudah tahu kabar itu, dan Ratu Paus bukan sekedar tahu, ia mengenal sosokmu." Upah yang diminta pasti bercinta. Edan. Bagaimana ia bercinta dengan ikan paus? Siluman ikan biasanya hanya berubah

  • Perjanjian Leluhur   391. Badai Sudah Berlalu

    Sejak awal Cakra sudah curiga dengan Jie. Ia melihat sosok berbeda terbelenggu tabir misteri. Cakra ingin membebaskan sosok itu dari belenggu dengan mengalirkan energi intisari roh. "Aku adalah puteri mahkota dari kerajaan Terumbu," kata Jie. "Aku mendapat kutukan dari Raja Sihir karena menolak lamarannya." "Ada kerajaan sihir di jazirah tirta?" "Tidak ada. Ia pemilik Puri Abadi di wilayah tak bertuan." "Kalian kesulitan menangkap Raja Sihir untuk mencabut kutukan?" "Raja Sihir ditemukan tewas saat tokoh istana menyerbu ke Puri Abadi." "Siapa yang membunuhnya?" "Ia mati diracun murid tunggalnya, Raden Manggala." "Jadi kau datang ke kampung Luhan dalam rangka mencari Raden Manggala untuk mencabut kutukan?" "Ahli nujum istana mendapat wangsit; aku akan terbebas dari kutukan kalau ada kesatria gagah dan tampan bersedia bercinta denganku." "Kesatria di negerimu tidak ada yang bersedia?" "Lubangku mendadak hilang, ada bibir besar saja." "Lubangmu tertutup tabir sehingga ter

  • Perjanjian Leluhur   390. Ada Yang Lain

    Kehidupan di kampung Luhan tenteram dan damai, padahal menjadi markas pergerakan. Kelompok ini sulit diketahui keberadaannya. Mereka berbaur dengan masyarakat dan menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa. Pada saat dibutuhkan, mereka beroperasi secara masif, terstruktur, dan sistematis. Pergerakan seperti itu sangat berbahaya karena mereka akan memanfaatkan setiap peristiwa untuk menjatuhkan istana. "Kau tahu di mana kediaman Raden Manggala?" tanya Cakra. "Aku melihat tidak ada kekacauan di kampung ini. Gerakan mereka rapi sekali." "Bagaimana rupa Raden Manggala saja aku tidak tahu," sahut Jie. "Konon ia operasi plastik di negeri manusia sehingga sulit dikenali. Aku curiga anggota pergerakan telah menculik Chan Xian." "Apakah kakakmu pernah berurusan dengan kelompok Manggala?""Tidak." "Lalu ia diculik untuk apa? Untuk minta tebusan?" "Untuk jadi istri." "Jadi pemimpin pemberontak itu bujang lapuk?" "Istri keseribu." "Luar biasa...! Cukup untuk modal pemberont

  • Perjanjian Leluhur   389. Musuh Satu Kampung

    "Aku berasal dari bangsa Incubus." Cakra merasa jawaban itu adalah jawaban paling aman. Nama bangsa itu sudah termasyhur ke seantero jagat raya. Ia pasti menjadi binatang buruan jika mengaku bangsa manusia. Perempuan di negeri ini akan menjadikan dirinya gongli dengan penampilan sekeren ini. "Jangan keras-keras," tegur perempuan gembrot. "Kedengaran mereka hidupmu dijamin bakal susah." Cakra kaget. "Mereka tergila-gila pada bangsa Incubus. Mereka rela meninggalkan suami untuk mendapatkan pria Incubus, lebih-lebih pria segagah dan setampan dirimu." Cakra terbelalak. Celaka! "Kau bukan wanita kampung ini?" "Namaku Jiefan, panggil saja Jie, kayaknya kita seumuran. Aku dari negeri tetangga." "Oh, pantas...! Lagi pula, siapa yang tertarik kepada perempuan sebesar kerbau bunting? Ia pasti menjadi musuh lelaki satu bangsa! "Jadi aku aman jalan bersama dirimu?" "Kau aman kalau mengaku dari bangsa manusia dan berwajah jelek." "Waduh...!" "Kau akan jadi musuh per

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status