“Aku menikahimu untuk memuliakanmu dan membuatmu bahagia. Biarlah pekerjaan rumah dikerjakan orang lain sekaligus berbagi rejeki. Habibati boleh memilih siapa yang ingin dipekerjakan di rumah kita.” Perkataan suamiku membuatku berkaca-kaca. Semoga kebaikan Mister Halim bukan hanya saat awal pernikahan, doaku dalam hati.“Ya Habibati, hati-hati berjalan. Jangan banyak melamun, suami gantengmu ada di sini bersamamu.” Aku tersipu kedapatan melamun selama perjalanan menuju masjid Nabawi, hampir saja jatuh bila tanganku tak digenggamnya.Pulang dari masjid kami berjalan-jalan di seputar masjid yang amat indah ini. Aku senyum-senyum saat ingat menjelang kajian tarhib Ramadhan yang lalu. Segerombolan merpati yang bermain di pelataran masjid menarikperhatianku. Aku menghambur ke arah mereka yang berusaha menangkapnya namun gagal. Suamiku tertawa melihat kelakuanku. Sambil berjalan-jalan kami mengobrol apa saja. Kami begitu haus informasi mengenai satu sama lain. “Setelah selesai ibadah haj
Setelah menjadi istri Mister Halim hari-hariku terasa sangat cepat berlalu. Suami tampanku selalu bersikap manis membuatku serasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia. Setiap dini hari kami lomba untuk bangun lebih awal untuk salat tahajud dan yang menang boleh meminta hadiah apa pun dari yang kalah. Ini bukan hal mudah bagiku mengingat malamnya selalu kelelahan setelah melakukan ibadah lain. Walhasil aku sering menjadi pihak yang kalah dan dengan penuh kemenangan suamiku akan menagih hadiahnya."Ya Habibi, aku menyerah. Kalau seperti ini terus aku tak akan pernah menang."Suamiku malah tertawa melihatku mengangkat kedua tangan usai dibangunkan untuk yang ke sekian kali."Tapi Habibati sudah menang setiap hari di hatiku," ujarnya seraya menggendongku seolah aku ini gadis kecilnya yang menggemaskan dan membawaku ke kamar mandi.Setelah bersuci kami pun larut dalam sujud dan doa, pada Dia yang telah memberikan selaksa nikmat pada kami."Ya Habibi, apakah aku boleh ikut ke kebun ku
"Masya Allah ini orang-orang sudah seperti semut saja." Spontan aku berkomentar melihat tayangan di YouTube."Lagi lihat apa, ya Habibati?""Ibadah haji. Aku merinding melihatnya."Suamiku mendekat dan ikut menonton. Minggu depan kami akan melakukan ibadah haji dan aku makin giat mengumpulkan ilmu Tara cara ibadah haji. Meski sudah dijelaskan oleh suamiku yang sudah ibadah haji berkali-kali tapi belum terbayang. Menonton video pun tetap tak membuatku hapal seluruhnya."Aduh aku pusing deh. Enggak hafal-hafal pelaksanaannya." Aku mengeluh untuk ke sekian kalinya."Haha ... Kamu itu lucu kalau cemberut. Enggak usah dipikirin, nanti ikuti aja Umar sebagai pemimpin rombongan ibadah haji kita. Sudah siap kopernya belum?""Astaghfirullah aku lupa nyiapin koper. Saking bingungnya enggak hafal-hafal makasik haji. Aku siapin dulu ya Habibi."Aku beranjak mendekati lemari. Tak banyak yang akan kami bawa karena hanya sekitar seminggu kami akan melakukan ibadah haji.Aku ingat pernah mempertanyaka
“Ya, Habibi, serius kita hanya bawa baju sekoper kecil ini?” Aku menepuk-nepuk koper hitam nan keren itu.“Sangat serius. Biarlah kita bawa baju sedikit biar tak repot di jalan. Gampanglah di Indonesia nanti kita ngeborong baju buat di rumahmu.”Ah, aku selalu lupa kalau suamiku seorang sultan. “Lala, kamu tega banget sih enggak ngajakin aku mudik.” Ayu sahabatku merajuk.Aku tertawa melihatnya memanyunkan bibir dengan maksimal. “Ish, konsisikan itu bibir. Kalau saja bisa, sungguh aku ingin sekali ngajak kamu mudik bareng. Apa daya Madam lagi sakit jadi kamu tak mungkin ninggalin beliau kan?” Aku menepuk-nepuk lengannya menunjukkan rasa empati.“Kamu mau titip salam sama keluargamu, Na?” Aku bertanya pada Erna yang merawat Ummi menggantikanku.Erna tersenyum dengan segan. Padahal kami berasal dari latar belakang yang sama. Rumah kami pun tak terlalu jauh. Tapi Erna segan padaku hanya karena aku menikah sama sultan. Kok jadi tak enak gini.“Salam sama Ibu dan keluargamu. Sampaikan per
"Ya Habibatii, kenapa wajahmu sekelam malam. Padahal tadi wajahmu masih secerah matahari." Suami tampanku menghentikan jalannya dan memandang penuh rasa khawatir."Orang-orang itu menggunjing kita. Mereka menyanjungmu dan mencemoohku." Aku mengisyaratkan dengan pandangan mataku.Rasanya menyesal mengikuti saran suamiku untuk tak memakai cadar. Coba kalau tetap bercadar seperti kebiasaan di Arab mungkin aku tak akan sakit hati begini."Kamu bilang di Indonesia orang masih menganggap aneh orang bercadar. Tak apa buka saja, yang penting tak ada aurat yang kau perlihatkan," kata beliau saat aku minta pendapatnya saat di pesawat."Apa yang mereka bilang?" suamiku memang belum mengerti Bahasa Indonesia kecuali sedikit saja yang umum seperti terima kasih, tolong, saya, kamu, dan yang seperti itu.Aku mengatakan semua yang kudengar. Sebenarnya aku bukan seorang pengadu, tapi untuk hal yang satu ini rasanya aku ingin beliau menenangkan hatiku."Ucapan mereka tentangmu semuanya salah. Kita lebih
“Tak repot sama sekali. Kamu sedang halangan kan? Jadi nanti bisa menunggui barang ini selagi aku shalat. Selagi bisa aku ingin selalu menyambut panggilannya di awal waktu, sebagaimana aku suka bila Dia mengabulkan doaku dengan segera. Kamu juga begitu kan?” Tanyanya dengan senyum lembut yang sangat teduh. Dia memang seperti itu, tak pernah menasihatiku dengan cara menggurui.Taxi yang kami pesan melaju meninggalkan udara Jakarta yang sangat panas setelah Dzuhur. Rasa lelah setelah perjalanan ditambah keliling mall kini terasa saat duduk bersandar dengan nyaman dalam mobil ber-AC. Mobil yang bergerak di jalanan yang mulus membuat kami seakan diayun-ayun. Kulihat suamiku menutup mata sejak beberapa menit masuk mobil. Aku pun mulai menguap dan kepala kusandarkan ke bahu tegap lelaki halalku.Rasanya baru sebentar memejamkan mata saat kudengar suamiku berulang kali mengatakan kalimat masya Allah dengan nada takjub. Aku membuka mata karena rasa penasaran juga karena rasa kantuk sudah sete
Aku kasihan sekali melihatnya yang nampak tersiksa. Apalagi mobil yang kami tumpangi agak terlalu pendek untuk tubuh jangkungnya. Kuusap-usap bagian yang kejedot dan kini lebih waspada memandang jalan. Setiap ada jalan di depan yang rusak atau berlubang aku segera memperingatkan agar dia waspada. “Nanti kita perbaiki jalan menuju rumahmu ini supaya nyaman.” Apa katanya, memperbaiki jalan? Ah, sultan mah bebasKami tiba di rumah berbarengan dengan adzan Maghrib. Ah, untunglah. Coba kalau kami tiba sore hari, sudah pasti banyak tetangga yang menonton karena kepo pada suamiku. Apalagi di depan warung Ibu sekarang ada bangku-bangku. Biasa dipakai orang yang makan jajanan buatan Ibu. Selain rujak dan pecel, Ibu juga bikin seblak serta jajanan lainnya dibantu oleh Imah. Membuat warung Ibu tambah ramai. Apalagi sore hari, banyak ibu-ibu yang duduk makan jajanan sambil ngajak main anak-anak balita mereka. Itu yang kudengar dari Lina saat dia nelpon. Tak terbayang seheboh apa kalau pas mereka
Bangun tidur aku langsung mandi wajib karena baru selesai haid. Saat selesai berganti baju ternyata anakku juga sudah bangun. “Ucil mau ikut ke mesjid sama Bubun,” katanya saat melihatku memakai mukena.Di kampung kami shalat Subuh dan Maghrib memang selalu ramai bukan hanya oleh bapak-bapak tapi juga ibu-ibu dan anak-anak. Bahkan sebagian mereka setelah shalat Maghrib duduk menunggu shalat Isya sekalian.“Anak saleh. Yuk Bubun bantu ambil air wudlu.” Aku menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.Azan Subuh terdengar dari masjid dekat rumah saat kami keluar dari kamar mandi. Di ruang tengah Ibu, Lina, juga suamiku sudah siap dengan pakainan shalat. Kami beriringan menuju masjid yang hanya berjarak seratus meter. Subuh yang dingin tapi hatiku hangat.Ibu membawa setermos air panas serta serenceng kopi. Tanganku langsung menyambar sekaleng kue yang kami bawa kemarin. Kadang-kadang warga di sini memang berinisiatif membawa apa saja yang mereka punya untuk sarapan bersama setelah sh