Dan ternyata, benda yang jatuh itu adalah sebuah drone milik negara Sanis. Setelah drone itu ditembak jatuh oleh Reka, Martis dan Reka mendekati lokasi jatuhnya drone untuk menyelidiki lebih lanjut. Mereka mencari tanda-tanda atau informasi yang dapat mengungkapkan tujuan dan maksud di balik pengintaian dari negara Sanis. Mereka juga akan berusaha untuk mengumpulkan bukti yang kuat agar dapat membela Negeri Semangka dan mengungkap kebenaran kepada aliansi.Setelah mendekati lokasi jatuhnya drone, Martis dan Reka segera melakukan beberapa hal. Pertama, mereka akan memeriksa drone tersebut untuk melihat apakah ada informasi yang dapat mereka peroleh dari sana, seperti logo atau tanda pengenal yang dapat mengungkap identitas pihak yang mengendalikan drone tersebut. Selain itu, mereka juga akan mencari jejak atau petunjuk lain yang dapat membantu mereka mengungkap tujuan pengintaian oleh negara Sanis."Reka, lihatlah logo yang ada pada drone ini. Ini adalah logo Negara Mamarika dan ada pu
Martis dengan suara tegas menjawab, "Siapa kalian dan apa yang kalian inginkan? Kami hanya melewati wilayah ini dengan tujuan damai."Pemimpin Pasukan Sanis dengan nada sombong membalas, "Kalian berdua adalah mata-mata dari Negeri Semangka, bukan?! Kami tidak akan membiarkan kalian melangkah lebih jauh. Serahkan diri kalian atau hadapilah konsekuensinya!"Lalu Reka dengan penuh keyakinan menyangkal, "Kami bukanlah mata-mata. Kami hanya ingin membela kebenaran dan melindungi rakyat Negeri Semangka dari ketidakadilan yang dilakukan oleh negara Sanis. Kami tidak akan mundur!" seru Reka dengan kedua mata yang menatap tajam ke sekeliling mereka.Martis dengan tekad yang bulat pun tidak mau kalah. "Kami siap melawan jika itu yang kalian inginkan. Tapi ingatlah, kekuatan sejati tidak hanya terletak pada senjata, tetapi juga pada kebenaran dan keadilan. Kami akan membuktikan hal itu kepada kalian."Kemudian Pemimpin Pasukan Sanis dengan nada meremehkan menyahutinya, "Kalian berdua hanyalah du
"Baiklah, Kak Martis. Aku akan membantumu," jawab Reka dengan semangat. Mereka berdua kemudian mulai mengikat para tentara Sanis yang masih hidup untuk diinterogasi.Butuh waktu beberapa puluh menit untuk Martis dan Reka menunggu musuh yang mereka sandera agar kembali sadarkan diri.Byur...!Karena tidak sabar, Reka akhirnya mengguyur mereka dengan seember air.Usaha Reka untuk membuat mereka sadar berhasil. Dan saat mereka membuka kedua mata masing-masing, wajah mereka sangat terkejut."A-apa yang kalian inginkan? Di-di mana ini?" tanya salah satu pria dengan gugup."Kau tidak berhak bertanya kepada kami. Yang berhak bertanya adalah kami. Tugas kalian saat ini hanyalah menjawab semua pertanyaan kami dengan jujur. Kalau tidak, kalian lihat itu!" seru Reka dengan wajah yang dipenuhi amarah.Ketiga pria itu melihat ke arah yang Reka tunjuk. Ternyata di sana ada sebuah karung putih yang di dalamnya terbungkus sesuatu. Dan dari karung itu berceceran darah berwarna merah yang masih segar.
"Rencanaku adalah kita harus bergerak cepat. Kita harus mengirim pesan kepada pemimpin mereka bahwa kita tidak takut dan siap untuk melawan. Tapi sebelum itu, kita harus memastikan bahwa mereka tidak bisa kembali ke negaranya dan memberi tahu tentang keberadaan kita," jawab Martis dengan tegas.Reka mengangguk, "Baiklah, Kak. Aku percaya padamu. Kita harus melindungi negeri Semangka.""Betul sekali, Reka. Dan satu hal lagi, kita harus selalu waspada. Kita tidak tahu apa yang mereka rencanakan selanjutnya," tambah Martis."Kak, apa kamu pernah bertemu dengan pemimpin mereka sebelumnya?" tanya Reka, penasaran dengan pengalaman Martis.Martis tersenyum, "Itu cerita panjang, Reka. Mungkin suatu saat nanti aku akan menceritakannya padamu. Sekarang, mari kita fokus pada apa yang harus kita lakukan selanjutnya.""Tapi Kak, bagaimana cara kita bisa mengirim pesan kepada pemimpin mereka?" tanya Reka yang semakin penasaran."Ada beberapa cara, Reka," jawab Martis. "Kita bisa menggunakan mata-ma
Sementara itu, di negeri Semangka, Martis dan Reka sedang berlatih bela diri. Mereka berdua telah bekerja keras selama beberapa hari terakhir, mempersiapkan diri untuk apa pun yang mungkin terjadi."Kak, apa kamu pikir mereka akan merespons surat kita?" tanya Reka, setelah mereka beristirahat sejenak.Martis mengangkat bahu, "Tidak ada yang bisa kita pastikan, Reka. Tapi, kita telah melakukan yang terbaik. Sekarang, kita hanya bisa berharap dan bersiap untuk apa pun yang mungkin terjadi."Beberapa hari kemudian, mereka menerima balasan dari negara Sanis. Martis membuka surat itu dan membaca isinya. Wajahnya tampak tenang, tetapi matanya menunjukkan kekecewaan.Berikut adalah isi surat dari negara Sanis yang dikirimkan ke Martis dan Reka:"Kepada Martis dan Reka,Kami dengan ini menolak permintaan dan tuntutan kalian yang diungkapkan dalam surat yang kami terima. Kami tidak menganggap serius ancaman dan klaim kalian terhadap negara Sanis. Kami melihatnya sebagai upaya sia-sia untuk mem
Beberapa minggu kemudian, perang semakin sengit. Namun, kondisi di negara Sanis mulai memburuk. Rakyat semakin gelisah, mereka memprotes tindakan Perdana Menteri Natanpenyu. Demonstrasi dimulai di berbagai kota, menuntut penghentian peperangan segera dan ganti kepemimpinan.Di sisi lain, pasukan negeri Semangka, bersama pasukan aliansi, semakin melancarkan serangan balik yang cukup efektif. Mereka berhasil meruntuhkan beberapa benteng pertahanan Sanis dan memperlemah kekuatan militer mereka.Martis dan Reka, bersama pasukan mereka, tetap berjuang gigih dan tak kenal lelah di front perang. Mereka tidak menyangka, nasib mereka akan mengalami perubahan besar. Saat sebuah serangan besar-besaran dilancarkan oleh pasukan aliansi, mereka menemukan sebuah bunker rahasia milik Sanis yang tersembunyi di balik gunung besar.Ketika mereka memasuki bunker tersebut, mereka terkejut menemukan rahasia besar di balik perang ini. Bukan hanya Natanpenyu yang mengendalikan perang ini, tetapi ada juga tok
Beberapa hari kemudian, pertempuran antara Martis dan pasukan Sanis terjadi sangat intens. Martis, dengan keberaniannya telah memimpin pasukannya dengan baik. Mereka telah melakukan serangan strategis, mencoba untuk meminimalisir kerugian sambil merusak moral pasukan Sanis.Namun, yang namanya pertempuran selalu penuh dengan ketidakpastian dan bahaya. Martis dan pasukannya telah berjuang dengan segala kemampuan mereka, tetapi tentu saja, ada risiko dan konsekuensi yang harus mereka hadapi.Saat ini, di bagian barat negara Sanis, Martis dan seratus anggota Elit Herupa tengah mencoba mengambil alih wilayah tersebut. Dan kebetulan, di wilayah barat, negara Sanis memiliki persenjataan militer yang digadang-gadangkan memiliki tank terkuat. Namun Martis tidak takut, dia juga memiliki sistem yang sangat membantunya dalam segala hal."Tim A, ayo kalian maju ke sisi kanan, dan Tim B ke sisi kiri. Aku dan Reka akan maju lewat sisi tengah." Martis memberikan komando pada pasukan Elitnya.Untuk m
Ternyata, di tempat lain, ada seorang hacker terkenal yang membatu pasukan Hiamas. Hacker itu adalah anggota Herupa yang Martis kirim untuk membantu. Hacker tersembunyi itulah yang meretas sistem penyerangan negara Sanis. Dia berhasil membuat arah roket pasukan Sanis yang ditujukan ke jalur Gaja justru berbalik arah ke negaranya sendiri.Ditengah ambang putus asa, Perdana Mentri Natanpenyu ternyata terus meminta bantuan kepada negara Mamarika. Ia mengatakan bahwa negara Sanis membutuhkan amunisi, amunisi, dan amunisi. "Jadi bagaimana ini, Mac Lewis? Kapan sekiranya amunisi akan dikirim kemari? Sebab, pasukan kami hampir kehabisan amunisi." Natanpenyu berbicara dengan Mac Lewis yang berada di negara Mamarika via telpon."Tenang saja, kami akan segera mengirim bantuan amunisi dan senjata lainnya. Akan tetapi, tidak bisa sekarang," jawab Mac Lewis di seberang sana. Walaupun pihak Mamarika menyetujuinya, akan tetapi mereka tidak dapat mengirimnya secara waktu dekat karena adanya konflik i
Martis dengan cepat menebas kepala pemimpin hewan liar itu."Memangnya, apa yang aku dapatkan jika aku mengalahkanmu, hah?" tanya Martis seraya menendang kepala iblis yang mirip kepala anjing.Berp...!Akan tetapi, Martis mendengar suara berderap.Ketika Martis berbalik badan, ia melihat semua hewan liar iblis di sana tunduk padanya."Eh...? Kok, kalian...?" Martis menggaruk kepalanya karena bingung dengan adegan ini.Kemudian, munculah sesosok iblis wanita dengan penampilan yang menawan."Hormat, Hamba, pada Bos...!"Martis semakin bingung, tapi ia segera menemukan ide cemerlang."Kalian semua, bangunlah."Setelah Martis memerintahkan mereka bangkit dari sujudnya, barulah mereka berdiri."Namaku adalah Martis! Aku Bos di sini sekarang! Bagi siapa yang menentangku, silahkan temui aku, dan aku siap menghadapinya!"Ternyata, Martis tiba pertama kali di alam iblis berada di sebuah desa yang lumayan besar. Kawanan hewan yang nampak liat tadi ternyata adalah salah satu garis pertahanan des
Setelah menempuh ruang dimensi yang sistem ciptakan, akhirnya Martis Tiba di dunia iblis."Wah..., pemandangannya tidak jauh beda dengan dimensi kami.""Roar...! Hargh...!"Tiba-Tiba Martis di seruduk oleh sekor binatang buas."Wow...! A-apakah semua hewan liar di alam iblis ini semuanya besar seperti ini?" ujar Martis seraya menghindari serangan dari hewan liar tadi."Baru juga sampai, langsung disambut dengan beginian...? Hadeh...!" Martis sedikit mengeluh.Awalnya, Martis berharap saat tiba di alam iblis akan mendapatkan suatu hal menarik yang berbeda dari dunianya. Dan ternyata..., ya memang benar berbeda. Sungguh sangat berbeda sekali dengan keadaan di dunianya.Martis yang diserang hewan liar tentunya tidak akan diam saja. Dia memperhatikan area sekitarnya sesaat, kemudian mengatur siasat untuk pertarungan. "Ternyata benar dugaanku...," ujar Martis, di mana saat ini ia tengah di kelilingi oleh gerombolan hewan liar yang penampilannya sedikit mirip seperti anjing, tapi ada yang
Martis kemudian menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian membuangnya secara perlahan. "Huft...! Baiklah kalau begitu. Yang pasti, Ririn, aku mengucapkan banyak terima kasih padamu. Berkat adanya kehadiran dirimu dalam hidupku, semuanya berubah total. Dan semuanya berubah menjadi jauh lebih baik, dan tidak pernah sekali pun aku merasakan perubahan yang dampaknya buruk dalam hidupku selama ini." Meskipun Martis tahu, bahwasanya Ririn yang tampilannya tidak dapat nyata seutuhnya, tapi Martis tetap menganggap bahwa sistem adalah kunci dari semua keberhasilannya selama ini. Kemudian, Martis memperhatikan Ririn yang nampak akan melakukan sesuatu. "Ririn..., apa yang akan kau lakukan...? Apakah jangan-jangan..., kamu...?" Ririn menjawab dengan senyuman, tidak, saat ini tubuh visual Ririn bentuknya sama persis dengan Mia. Jadi, yang Martis rasakan saat ini adalah melihat senyuman dari seorang Mia, Istri tercintanya Martis seorang. Kemudian Martis merasakan ruangan di sekitarnya berubah
Tiba-tiba, Martis terpikirkan suatu hal di masa lalu. 'Oh, iya, Sistem, eh, tidak! Ririn..., apakah kau ingat dengan nama itu?' Tring! "Sistem tidak akan pernah lupa dengan apapun yang telah dilakukan oleh User setiap detik pun. Benar, aku adalah Ririn." Martis senang mendengar jawaban dari Ririn. "Apakah Martis masih memiliki pertanyaan dan keluh kesah lainnya? Ririn akan siap membantu mencari solusi terbaik untuk Martis. Karena itu adalah tugas dan kewajiban Ririn sebagai Sistem." Entah kenapa, Martis merasa terharu setelah membaca jawaban balasan dari Ririn. Sepertinya Martis merasa bahwa Ririn adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya. Tanpa Sistem, Martis tidak akan bisa jadi sepertinya orang yang sampai saat ini terbilang kehidupannya sangat didambakan oleh banyak orang. "Em..., Ririn, bisakah kau membuat visualisasi tubuh? Aku akan merasa lebih senang jika kau dapat melakukannya." Permintaan Martis ada-ada saja, ya? Dia sudah dapat berkomuni
Kemudian Martis berpikir sejenak. "Aku...? Aku bisa menggunakan gelar Raja Kegelapan karena telah mengalahkan Raja Kegelapan yang sebelumnya? Jadi..., itu artinya..., em...?" Martis termenung, ia sedang berpikir apa yang akan ia lakukan dengan gelar itu. Ia pun bergumam, 'Apakah berati aku setara dengan Raja Iblis? Tapi..., bukankah Raja Kegelapan jauh lebih tinggi dibanding Raja Iblis? Benar, tidak, sih? Ah..., aku jadi penasaran. Bagaimana jika aku masuk dalam dimensi dunia kegelapan? Apakah di sana aku akan dapat pencerahan? Sebab di masa lalu, aku ingat betul, bahwa aku pernah mengalahkan Lord dan blablabla...,' ungkap Martis dalam hatinya yang saat ini sedang berkecamuk. 'Tapi..., jika dipikir lebih jeli lagi, sebenarnya gelar-gelar itu tidaklah sesuai dengan keadaannya.' Martis memuntahkan secangkir teh hangat dan lanjut bertarung dengan pikirannya. 'Kalau begitu..., inilah arti dari pribahasa tong kosong nyaring bunyinya. Kelurahan Raja Kegelapan, aku kira sangatlah ku
Nampak ada lingkaran cahaya yang makin lama semakin membesar. Lingkaran cahaya itu sangat bulat, dan ada pancaran kehangatan bagi orang di sekitar yang dapat merasakannya. 'Kehangatan itu terasa sangat nyaman,' Bahkan, Martis sekalipun merasakan kenyamanan saat ia akan melakukan Teknik Legendaris ini. Kemudian, Martis yang tengah mengangkat kedua tangannya seperti menadah ke udara, ia lalu menggerakkan kedua tangannya. Lantas, lingkaran cahaya yang berbentuk bulat dan mengambang di atas kepala Martis tadi itu bergerak, dan gerakannya sesuai dengan apa yang Martis pikirkan. "Hiyat...!" teriak Martis, dengan tubuhnya yang saat ini langsung dibanjiri oleh keringat. "Denki Gama...!" Sekali lagi Martis berteriak dengan keras. Teriakan itu adalah kode, sebagaimana kuatnya usaha Martis dalam melakukan teknik sekuat ini. Lingkaran cahaya bulat yang berwarna kuning keputihan itu kemudian melesat ke arah Raja Kegelapan. "Jurus apa ini?! Selama ratusan tahun ku hidup di dunia ini
Pertarungan Martis melawan Raja Kegelapan masih berlanjut. Tapi kali ini, Martis nampak biasa saja. Karena sekarang sistem miliknya sudah pulih seperti semula. Jadi, semua terasa mudah bagi Martis. "Martis...! Kenapa kekuatanmu jauh berbeda dibanding saat terakhir kali kita bertemu?!" Raja Kegelapan akhirnya sadar, ternyata Martis jauh lebih kuat darinya. "Kenapa? Apakah sekarang kau mulai merasa takut? Hem?" Martis bertingkah santai. Ia sengaja menahan semua serangan dari Raja Kegelapan. "Jangan sembarangan, kau! Aku...? Takut padamu?! Mimpi...!" Raja Kegelapan kali ini benar-benar melupakan seluruh kekuatan dan kemampuan miliknya demi menghadapi Martis. Sudah ratusan tahun Raja Kegelapan hidup, namun baru hari ini ia menghadapi seorang manusia yang seperti Martis. Namun, walaupun ia tahu Martis adalah manusia yang kuat, rasa gengsi yang sangat besar dalam dirinya tak membuatnya takut. Ia berpikir ini mempertaruhkan harga dirinya. Apa kata orang nantinya, jika tahu Raja Kegelapan
Saat Emily dan Phynoglip berbicara, mereka tidak menyadari bahwa Martis sedang melakukan sesuatu yang sangat penting. Martis berjalan ke arah sebuah ruangan yang tersembunyi di balik sebuah pintu rahasia. Di dalam ruangan tersebut, Martis menemukan sebuah perangkat yang sangat canggih. Perangkat tersebut adalah sebuah alat yang dapat mendeteksi keberadaan Raja Kegelapan. Martis telah mencari alat tersebut selama bertahun-tahun, dan akhirnya ia menemukannya. Martis mengaktifkan alat tersebut dan menunggu beberapa saat hingga alat tersebut menunjukkan hasilnya. Saat hasilnya muncul, Martis terkejut. Raja Kegelapan ternyata berada di sebuah tempat yang sangat dekat dengan mereka. Martis tidak menyangka bahwa Raja Kegelapan akan berada di tempat yang begitu dekat. Martis segera mematikan alat tersebut dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Ia harus segera memberitahu Emily dan Phynoglip tentang hasilnya. Saat Martis kembali ke tempat Emily dan Phynoglip, ia melihat bahwa mer
Dalam benaknya, Martis terus berpikir. Dengan konsentrasinya yang sangat baik, Martis mencoba menelaah tentang kejadian hari ini. Dan pada saat ini, Mia sedang berjalan ke arah pintu yang tersembunyi di belakang tirai, dengan Phynoglip dan Emily mengikuti di belakangnya. Martis juga mengikuti mereka, dengan rasa penasaran yang semakin besar. Saat mereka mencapai pintu tersebut, Mia berhenti dan menatap Martis dengan senyumannya yang lembut. "Aku akan menunjukkan kamu bahwa kita tidak memiliki apa-apa yang berharga," ucap Mia. Dan tiba-tiba saja, ada kejadian aneh. Mia menghilang begitu saja di hadapan mereka. Phynoglip serta Emily terkejut dan menatap bayangan tersebut dengan rasa penasaran. "Apa yang terjadi?" tanya Phynoglip heran. "Aku tidak tahu," ucap Emily yang sama herannya. "Tapi aku rasa Mia yang kita lihat sebelumnya bukanlah Mia yang sebenarnya." Dan selang beberapa menit kemudian, Mia muncul kembali. Ternyata..., sosok yang mengaku sebagai Mia ini hanyalah bayang