Nyonya Everstone dengan gerakan cepat merebut amplop cokelat yang baru saja diserahkan seorang pembantu kepada Alicia. Suasana di ruangan itu seketika berubah tegang.Wajah Alicia memucat, tubuhnya seolah membeku. Tamat riwayatnya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, tetapi ia berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meskipun sia-sia."Aku sudah lama curiga padamu," kata Nyonya Everstone dengan nada tajam, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Apa kau selingkuh?"Jantung Alicia berdegup kencang, tetapi ia tahu panik hanya akan memperburuk keadaan. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya saat ia berusaha mencari alasan.Dengan gerakan kasar, Nyonya Everstone merobek amplop dan menarik isinya. Matanya membelalak."Foto apa ini?" gumamnya, alisnya bertaut dalam kebingungan.Alicia menelan ludah. Saat matanya menangkap foto yang dipegang oleh wanita itu, ia merasa lega sekaligus bingung.Nyonya Everstone menatap foto dengan ekspresi tak terbaca. Di sana, terlihat gambar seorang bayi—Darl
Laurent berdiri diam di depan lemari kaca yang menyimpan guci abu ibunya. Pandangannya tak lepas dari foto yang terpajang di sana—sosok wanita yang selalu ia rindukan, yang senyumnya kini hanya bisa ia lihat dalam gambar.Setiap kali rasa bersalah menyiksanya, Laurent kembali ke tempat ini. Ia merasa gagal, tak mampu menyelamatkan ibunya dari rumah sakit jiwa. Hari demi hari, penyesalan itu semakin menyesakkan dadanya.Di sisi lain, Alicia melangkah pelan menuju makam kosong yang ia buat sebagai simbol kematian Darley. Tangannya menyentuh nisan dingin itu, namun pikirannya terganggu saat tanpa sengaja menangkap sosok dari kejauhan.Mata Alicia menyipit. Ia berdiri terpaku, mengamati dengan penuh selidik.Dulu, Laurent mengunjungi makam ayah Elara. Dan sekarang? Wanita itu berdiri di depan tempat abu ibu Elara.Jangan-jangan…Alicia merasakan gelombang kecurigaan semakin kuat. Langkahnya pelan namun pasti, mendekati Laurent yang masih berdiri di sana, tampak begitu tenggelam dalam kese
Ucapan Alicia terus terngiang di telinga Laurent.Abu ibunya diganti dengan abu anjing? Itu tak bisa diterima.Tangannya mengepal di atas meja, jemarinya menekan kuat permukaan kayu hingga buku-bukunya memutih. Rasa muak, amarah, dan ketidakpercayaan bercampur menjadi satu, menggelegak dalam dadanya.Seorang anak buahnya masuk dengan langkah hati-hati, menunggu perintah."Ambil sampel abu di guci ibuku," suara Laurent dingin, tajam seperti pisau. "Cek apakah itu benar abu manusia atau hanya abu anjing."Anak buahnya mengangguk cepat. "Baik, Nyonya."Saat itulah Adrian masuk ke dalam ruangan. Tatapannya penuh kecemasan saat melihat wajah istrinya yang menegang."Kau yakin dia mengatakan hal itu padamu?" tanya Adrian, suaranya sedikit meninggi, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.Laurent menoleh, matanya menyala dengan kemarahan yang tertahan. "Dia mengatakannya langsung. Aku mendengar sendiri dari mulutnya."Adrian menghela napas panjang. Ia tahu betapa dalamnya kebencian
Alicia menyelinap dalam kegelapan, membuntuti ke mana pun Dianora pergi malam itu. Rasa ingin tahunya bercampur dengan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi. Apa yang direncanakan Laurent dengan mendekati adik iparnya?Namun, lebih dari itu, ada sesuatu yang membuat napas Alicia terasa berat. Setelah mengamati dengan saksama, ia semakin yakin—Laurent bukan sekadar wanita asing yang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka. Laurent adalah Elara. Dan jika dugaannya benar, ia tidak akan membiarkan wanita itu berada di atas angin. Tidak peduli apa pun caranya.Duduk di dalam mobil, Alicia menunggu, matanya tak lepas mengawasi dari kejauhan. Laurent dan Dianora bertemu di sebuah kafe yang terletak di kawasan baru yang baru saja diresmikan beberapa hari lalu.Dianora turun dari mobilnya, mantel tipis membungkus tubuhnya dengan anggun. Udara malam menyentuh pipinya, tapi dia tak peduli. Dengan langkah ringan, ia menuruni tangga panjang yang menghubungkan tempat parkir dengan kafe di bawah. Tangg
Malam itu, Elara masih terjaga di kamarnya.Setelah kejadian di meja makan dan di dapur, pikirannya dipenuhi dengan berbagai emosi. Lelah, marah, sedih, dan perasaan tidak berdaya bercampur menjadi satu.Lalu, ketukan terdengar di pintu.“Nyonya Elara.”Elara menoleh. Seorang pelayan berdiri di ambang pintu dengan sikap ragu.“Tuan Damian meminta Anda ke kamarnya sekarang.”Jantung Elara berdegup lebih cepat.Damian… memanggilnya?Untuk apa?Hingga saat ini, pria itu hampir tidak pernah mengundangnya ke kamar. Mereka tidur terpisah, dan Damian selalu bersikap dingin padanya.Tapi sekarang?Ada harapan kecil yang tumbuh dalam hatinya.Mungkin… mungkin malam ini akan berbeda.Mungkin akhirnya Damian akan melihatnya sebagai istrinya.Dengan tangan gemetar, Elara memilih gaun malam yang lembut dan elegan. Ia menyisir rambutnya dengan rapi, mengenakan sedikit lipstik tipis agar wajahnya tidak terlihat pucat.Ia ingin terlihat pantas di mata suaminya.Ia ingin Damian melihatnya, bukan sebag
Satu tahun yang lalu…“Aku tidak sudi menikah dengan gadis itu! Dengan keluarga bangkrut itu!” suara Damian bergema di dalam ruang kerja keluarga Everstone. Rahangnya mengeras, sorot matanya penuh kemarahan.Duduk di seberangnya, wanita paruh baya dengan gaun elegan tetap tenang. Ibu Damian, sosok yang selalu berpikir logis dalam segala situasi, hanya menyesap tehnya tanpa terganggu oleh amarah putranya.“Lalu kau ingin bagaimana?” katanya dengan nada tenang namun tegas. “Keluarganya memiliki utang yang menumpuk, dan satu-satunya cara untuk menyelesaikan ini tanpa skandal adalah pernikahan. Lagi pula…” Dia menatap Damian dengan penuh perhitungan. “Gadis itu katanya memiliki peruntungan bagus setelah menikah. Jadi sebaiknya kita menerima perjodohan ini.”Damian menghela napas kasar. Peruntungan bagus? Omong kosong apa itu?Ia membuang pandangannya ke luar jendela sebelum akhirnya menoleh ke arah pintu ruangannya. Dulu, dia pernah menyukainya. Seorang gadis muda yang dulu hidup dengan
Saat ini...Elara membuka matanya perlahan, kelopak matanya terasa berat seolah dunia baru saja kembali padanya setelah lama tenggelam dalam kegelapan. Cahaya putih dari lampu rumah sakit menusuk pandangannya, membuatnya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara alat medis yang berdenting pelan di sekitarnya.Seorang perawat berdiri di sisi ranjangnya, tampak terkejut begitu melihatnya sadar. Tanpa banyak bicara, perawat itu segera berbalik dan keluar dari ruangan, kemungkinan untuk memberi tahu dokter.Tak lama kemudian, seorang dokter masuk, wajahnya tenang tapi profesional, dengan clipboard di tangannya. Ia memeriksa Elara, memastikan kondisinya stabil sebelum akhirnya berbicara.“Kondisi Anda sudah cukup stabil sekarang,” katanya lembut, menatapnya dengan tatapan menenangkan.Elara menelan ludah, suaranya terasa serak ketika ia akhirnya bertanya, “Maaf… apa yang sebenarnya terjadi pada saya?”Dokter itu meletakkan clipboard-nya dan
Adrian tetap berdiri tegap di depan ranjang Elara, ekspresinya tenang, seolah tak terganggu oleh keterkejutan wanita itu.Tentu saja Elara tidak mengenalinya. Bertahun-tahun yang lalu, ketika dia berusia tujuh belas tahun, pada sebuah pesta megah yang diadakan kakeknya, perhatian Elara hanya tertuju pada satu orang—Damian. Saat itu, dia jatuh cinta pada pandangan pertama, begitu terpesona hingga tak menyadari kehadiran siapa pun di sekitarnya, termasuk Adrian.Adrian mengingat semuanya. Betapa gadis itu tampak bersinar dalam gaun putihnya, betapa matanya berbinar saat menatap Damian. Tidak ada celah bagi Adrian untuk masuk ke dalam dunianya.Namun kini, keadaan berbalik. Setelah mengetahui bahwa Elara mengalami kecelakaan, koma selama tiga minggu, dan dikhianati oleh suaminya, Adrianlah yang datang menunggunya, menjenguknya, merawatnya dari kejauhan.Karena dia telah jatuh cinta pada Elara sejak lama.Elara menatap pria di hadapannya, kebingungan masih menguasai benaknya. "Maaf, saya
Alicia menyelinap dalam kegelapan, membuntuti ke mana pun Dianora pergi malam itu. Rasa ingin tahunya bercampur dengan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi. Apa yang direncanakan Laurent dengan mendekati adik iparnya?Namun, lebih dari itu, ada sesuatu yang membuat napas Alicia terasa berat. Setelah mengamati dengan saksama, ia semakin yakin—Laurent bukan sekadar wanita asing yang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka. Laurent adalah Elara. Dan jika dugaannya benar, ia tidak akan membiarkan wanita itu berada di atas angin. Tidak peduli apa pun caranya.Duduk di dalam mobil, Alicia menunggu, matanya tak lepas mengawasi dari kejauhan. Laurent dan Dianora bertemu di sebuah kafe yang terletak di kawasan baru yang baru saja diresmikan beberapa hari lalu.Dianora turun dari mobilnya, mantel tipis membungkus tubuhnya dengan anggun. Udara malam menyentuh pipinya, tapi dia tak peduli. Dengan langkah ringan, ia menuruni tangga panjang yang menghubungkan tempat parkir dengan kafe di bawah. Tangg
Ucapan Alicia terus terngiang di telinga Laurent.Abu ibunya diganti dengan abu anjing? Itu tak bisa diterima.Tangannya mengepal di atas meja, jemarinya menekan kuat permukaan kayu hingga buku-bukunya memutih. Rasa muak, amarah, dan ketidakpercayaan bercampur menjadi satu, menggelegak dalam dadanya.Seorang anak buahnya masuk dengan langkah hati-hati, menunggu perintah."Ambil sampel abu di guci ibuku," suara Laurent dingin, tajam seperti pisau. "Cek apakah itu benar abu manusia atau hanya abu anjing."Anak buahnya mengangguk cepat. "Baik, Nyonya."Saat itulah Adrian masuk ke dalam ruangan. Tatapannya penuh kecemasan saat melihat wajah istrinya yang menegang."Kau yakin dia mengatakan hal itu padamu?" tanya Adrian, suaranya sedikit meninggi, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.Laurent menoleh, matanya menyala dengan kemarahan yang tertahan. "Dia mengatakannya langsung. Aku mendengar sendiri dari mulutnya."Adrian menghela napas panjang. Ia tahu betapa dalamnya kebencian
Laurent berdiri diam di depan lemari kaca yang menyimpan guci abu ibunya. Pandangannya tak lepas dari foto yang terpajang di sana—sosok wanita yang selalu ia rindukan, yang senyumnya kini hanya bisa ia lihat dalam gambar.Setiap kali rasa bersalah menyiksanya, Laurent kembali ke tempat ini. Ia merasa gagal, tak mampu menyelamatkan ibunya dari rumah sakit jiwa. Hari demi hari, penyesalan itu semakin menyesakkan dadanya.Di sisi lain, Alicia melangkah pelan menuju makam kosong yang ia buat sebagai simbol kematian Darley. Tangannya menyentuh nisan dingin itu, namun pikirannya terganggu saat tanpa sengaja menangkap sosok dari kejauhan.Mata Alicia menyipit. Ia berdiri terpaku, mengamati dengan penuh selidik.Dulu, Laurent mengunjungi makam ayah Elara. Dan sekarang? Wanita itu berdiri di depan tempat abu ibu Elara.Jangan-jangan…Alicia merasakan gelombang kecurigaan semakin kuat. Langkahnya pelan namun pasti, mendekati Laurent yang masih berdiri di sana, tampak begitu tenggelam dalam kese
Nyonya Everstone dengan gerakan cepat merebut amplop cokelat yang baru saja diserahkan seorang pembantu kepada Alicia. Suasana di ruangan itu seketika berubah tegang.Wajah Alicia memucat, tubuhnya seolah membeku. Tamat riwayatnya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, tetapi ia berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meskipun sia-sia."Aku sudah lama curiga padamu," kata Nyonya Everstone dengan nada tajam, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Apa kau selingkuh?"Jantung Alicia berdegup kencang, tetapi ia tahu panik hanya akan memperburuk keadaan. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya saat ia berusaha mencari alasan.Dengan gerakan kasar, Nyonya Everstone merobek amplop dan menarik isinya. Matanya membelalak."Foto apa ini?" gumamnya, alisnya bertaut dalam kebingungan.Alicia menelan ludah. Saat matanya menangkap foto yang dipegang oleh wanita itu, ia merasa lega sekaligus bingung.Nyonya Everstone menatap foto dengan ekspresi tak terbaca. Di sana, terlihat gambar seorang bayi—Darl
Dante berjalan melintasi halaman pesta yang mulai lengang, matanya sibuk mencari sosok Laurent di antara para tamu yang berpamitan. Pesta hampir usai, dan ia sudah lelah. Setelah menemukan Mr. Chang dan menyampaikan salam perpisahan dengan sopan, ia akhirnya memutuskan untuk pulang.Di dalam mobil, Dante duduk di kursinya dengan kaki menggantung. Wajahnya masih menyiratkan kemarahan yang tersisa dari kejadian tadi. Ia mengusap lengannya yang memerah, lalu menoleh ke arah Laurent dengan ekspresi serius."Mama, tadi aku dicubit oleh bibi kotoran," katanya dengan penuh emosi.Laurent menoleh, alisnya sedikit terangkat. Senyumnya muncul samar, tapi bukan karena kekhawatiran. Ada kilatan kepuasan di matanya."Benar kata Mama," Dante melanjutkan, tangannya mengepal kecil. "Bibi itu jahat!"Laurent mengangguk pelan, menyembunyikan kegembiraannya yang dingin. Ia melihat bagaimana kebencian mulai berakar dalam hati bocah itu, menyebar seperti racun yang ditanamkan dengan sempurna. Tidak ad
Laurent membawa Dante pergi tanpa perlawanan, langkahnya ringan seolah tak ada beban. Alicia terdiam, matanya membuntuti punggung Laurent yang menjauh, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Mengapa Laurent tidak membalasnya? Mengapa ia memilih mundur tanpa sedikit pun melanjutkan pertengkaran?Suara Damian menyusup di telinganya. "Kenapa membuat keributan di pesta orang?" bisiknya pelan, nyaris seperti teguran.Alicia mengabaikan peringatan itu, masih terpaku pada bayangan Laurent dan Dante yang semakin jauh. "Anak kecil itu…" gumamnya tanpa sadar. "Dia anak yang diadopsi oleh Laurent, kan?""Ya," Damian mengangguk. "Anak yang diadopsi setelah orang tuanya tewas dalam bencana." Ia melirik Alicia dengan alis sedikit berkerut. "Kenapa? Apa dia membuat masalah dengan Darley?"Alicia tak langsung menjawab. Pikirannya masih sibuk mencerna bagaimana Laurent, yang selalu terlihat dominan dan penuh kendali, justru memilih diam kali ini. "Aneh sekali dia hanya diam saja," kata
Adrian melangkah ke dalam taman yang telah disulap menjadi negeri dongeng, tempat pesta ulang tahun cucu seorang pengusaha sukses tengah berlangsung. Lampu-lampu kristal tergantung di antara pepohonan, sementara bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut. Musik lembut mengalun, berpadu dengan tawa anak-anak yang bermain riang di playground khusus yang disediakan.Laurent menggandeng Dante, bocah kecil itu tampak terpesona oleh keindahan pesta di sekelilingnya. Matanya yang polos berbinar kagum saat melihat dekorasi megah di taman luas itu."Mama, Dante juga mau pesta seperti ini!" serunya dengan penuh antusias.Laurent menatap anak itu, bibirnya melengkung dalam senyum kecil, tapi tak ada kehangatan di dalamnya. Senyum itu lebih seperti sebuah kewajiban daripada ungkapan kasih sayang yang tulus. Adrian memperhatikannya dari samping. Ia tahu bahwa di balik ketenangan Laurent, masih ada luka yang menganga, terutama karena bocah yang kini berada di sisinya adalah anak kandung Alicia—per
Alicia menekan nomor di ponselnya, jari-jarinya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang tertahan. Ketika suara pria di ujung sana menjawab, suaranya terdengar datar dan penuh perhitungan."Sebaiknya, kau bereskan seseorang nanti malam," kata Alicia dengan dingin."Siapa lagi kali ini?" tanya pria itu, suaranya penuh rasa ingin tahu namun tanpa emosi.Alicia menarik napas dalam, menguatkan dirinya. "Pembantu di rumah ini. Dia sudah tahu kalau ada yang menerorku dengan surat hasil tes DNA. Aku tidak mau hancur sekarang, apalagi kalau Damian sampai tahu."Sejenak, ada keheningan di seberang. Lalu pria itu tertawa pelan. "Kau tahu, kadang aku heran bagaimana kau bisa tidur nyenyak dengan semua ini."Alicia mengeratkan genggamannya pada ponselnya. "Kau tahu, kadang aku bersyukur karena Darley mati," katanya, suaranya begitu dingin hingga udara di sekitarnya terasa membeku. "Karena jika tidak, mungkin Damian lambat laun akan tahu bahwa Darley bukan anaknya, tapi anak or
Tiga tahun kemudian…“Mama!” panggil suara kecil dari seorang anak laki-laki yang baru saja turun dari kursi balitanya dengan langkah tertatih. Matanya berbinar, penuh semangat, sementara sisa makanan masih menempel di sudut bibirnya. Babysitter yang sedang menyuapinya tersenyum sabar, lalu menyeka mulut anak itu dengan lembut.Laurent, yang berdiri tak jauh dari sana, tersenyum kecil. “Kau makan dengan lahap?” tanyanya seraya mendekati anak itu.Anak laki-laki itu mengangguk penuh semangat, membuat rambutnya yang lembut bergoyang sedikit. “Enak, Ma!”Laurent berjongkok di hadapannya. “Dante, nanti malam ikut Mama dan Papa pergi ke pesta, ya.”“Pesta, Ma?” tanya Dante dengan mata polos yang membesar karena antusiasme.Laurent mengangguk. “Iya, Mama mau kenalin kamu ke teman-teman Mama dan Papa.”Dante langsung melompat kecil kegirangan. “Dante suka pesta!” serunya penuh keceriaan.Laurent tersenyum tipis, lalu berbalik dan menaiki tangga menuju lantai atas. Dia membuka pintu sebuah k