Alicia menyelinap dalam kegelapan, membuntuti ke mana pun Dianora pergi malam itu. Rasa ingin tahunya bercampur dengan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi. Apa yang direncanakan Laurent dengan mendekati adik iparnya?Namun, lebih dari itu, ada sesuatu yang membuat napas Alicia terasa berat. Setelah mengamati dengan saksama, ia semakin yakin—Laurent bukan sekadar wanita asing yang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka. Laurent adalah Elara. Dan jika dugaannya benar, ia tidak akan membiarkan wanita itu berada di atas angin. Tidak peduli apa pun caranya.Duduk di dalam mobil, Alicia menunggu, matanya tak lepas mengawasi dari kejauhan. Laurent dan Dianora bertemu di sebuah kafe yang terletak di kawasan baru yang baru saja diresmikan beberapa hari lalu.Dianora turun dari mobilnya, mantel tipis membungkus tubuhnya dengan anggun. Udara malam menyentuh pipinya, tapi dia tak peduli. Dengan langkah ringan, ia menuruni tangga panjang yang menghubungkan tempat parkir dengan kafe di bawah. Tangg
Setelah insiden jatuh dari tangga tadi malam, Dianora dinyatakan koma oleh dokter. Kabar itu mengguncang semua orang, terutama keluarganya.Laurent belum mengetahui bahwa ada tangan Alicia di balik kejadian tragis ini. Namun, satu hal yang pasti—kejatuhan Dianora bukanlah sebuah kecelakaan biasa.Di rumah sakit, suasana begitu tegang. Sang ibu, yang telah bertahun-tahun mengirim Dianora ke luar negeri demi masa depan yang lebih baik, kini hanya bisa menangis tanpa henti di samping tempat tidur putrinya. Air matanya jatuh membasahi tangan Dianora yang terkulai lemah, sementara suara alat medis yang berbunyi monoton semakin menambah beban di hatinya.Di sisi lain ruangan, Alicia berdiri dengan ekspresi tenang. Sesekali, ia berpura-pura menenangkan ibu mertuanya, mengusap punggung wanita itu dengan lembut. Namun di balik wajah penuh simpati itu, matanya memancarkan kilatan dingin.Malam itu, Laurent hendak meninggalkan rumah sakit. Namun langkahnya terhenti ketika Damian tiba-tiba menyu
Laurent menggandeng tangan kecil Dante, membawanya kembali ke kamar yang terletak tepat di sebelah kamar mereka. Langkahnya tegap, tanpa ragu, sementara Dante hanya bisa mengikuti dengan wajah tertunduk.Sesampainya di kamar, Laurent membuka pintu dan mendorong Dante masuk dengan lembut, tapi tegas."Elea berani tidur sendiri, padahal dia lebih kecil darimu," ucapnya dingin. "Tapi kamu? Malah masuk ke kamar Mama dan Papa, mengganggu waktu kami?"Dante mengerjap, matanya yang bulat mulai memerah. "Tapi Dante takut, Ma..." suaranya lirih, hampir seperti bisikan.Laurent tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Dengan gerakan kaku, ia menuntun Dante ke ranjang dan menarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya."Tadi ada bayangan hitam di sana, Ma..." Dante berbisik lagi, suaranya dipenuhi ketakutan."Itu hanya halusinasi, Dante," jawab Laurent, nadanya datar, nyaris tanpa emosi. Tanpa memperdulikan wajah ketakutan bocah itu, ia berjalan ke arah saklar lampu."Jangan matikan lampuny
Lorong rumah sakit yang sepi mendadak dipenuhi ketegangan yang mengendap di udara. Lampu-lampu neon di langit-langit memancarkan cahaya pucat, memantulkan bayangan panjang di lantai marmer.Damian, yang baru saja keluar dari ruang tunggu, merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Langkahnya terhenti saat melihat sesosok pria berpakaian hitam keluar dari ruang ICU tempat Dianora dirawat.Pria itu mengenakan jaket tebal dengan topi yang ditarik rendah, sebagian besar wajahnya tertutup bayangan. Namun, gerak-geriknya terlalu mencurigakan—terlalu tenang, terlalu licin, seakan dia sudah terbiasa menyelinap di tempat-tempat seperti ini.Jantung Damian berdegup kencang.“Hei!” serunya tajam.Pria itu menoleh sekilas, lalu buru-buru berbalik, mempercepat langkahnya menuju koridor darurat. Damian tak tinggal diam. Dengan sigap, ia mengejar pria itu, hampir saja berhasil menarik lengannya.Namun, pria itu lebih gesit. Dia mendorong Damian ke samping, lalu berlari ke arah tangga darurat. Jejak lan
Ruangan itu terasa sunyi setelah suara mangkuk yang jatuh menghantam lantai, bubur yang tadinya mengepul hangat kini berceceran di atas ubin. Pengasuh Dante tersentak kaget, matanya langsung beralih ke Laurent yang berdiri di ambang pintu, menatap mereka tanpa ekspresi.Dante pun ikut terdiam. Tangannya masih mengepal di pangkuan, matanya membulat penuh rasa bersalah, tapi juga memberontak.Laurent melangkah mendekat, suaranya dingin dan tajam saat berbicara, “Kau mau jadi anak nakal, Dante? Kau mau membangkang?”Dante menggigit bibirnya, lalu menggeleng cepat. "Nggak enak, Ma... Dante mau pizza," rengeknya, suaranya penuh harap, seolah permintaannya bisa mengubah situasi.Pengasuh yang masih terguncang bergegas hendak membersihkan kekacauan di lantai, tapi Laurent mengangkat tangannya, menghentikannya. Tatapannya tetap tertuju pada Dante.“Sebagai hukuman karena kau telah nakal, turun dan bersihkan makanan itu,” perintahnya, suaranya tegas tanpa ruang untuk bantahan.Dante menatap L
Malam itu, Elara masih terjaga di kamarnya.Setelah kejadian di meja makan dan di dapur, pikirannya dipenuhi dengan berbagai emosi. Lelah, marah, sedih, dan perasaan tidak berdaya bercampur menjadi satu.Lalu, ketukan terdengar di pintu.“Nyonya Elara.”Elara menoleh. Seorang pelayan berdiri di ambang pintu dengan sikap ragu.“Tuan Damian meminta Anda ke kamarnya sekarang.”Jantung Elara berdegup lebih cepat.Damian… memanggilnya?Untuk apa?Hingga saat ini, pria itu hampir tidak pernah mengundangnya ke kamar. Mereka tidur terpisah, dan Damian selalu bersikap dingin padanya.Tapi sekarang?Ada harapan kecil yang tumbuh dalam hatinya.Mungkin… mungkin malam ini akan berbeda.Mungkin akhirnya Damian akan melihatnya sebagai istrinya.Dengan tangan gemetar, Elara memilih gaun malam yang lembut dan elegan. Ia menyisir rambutnya dengan rapi, mengenakan sedikit lipstik tipis agar wajahnya tidak terlihat pucat.Ia ingin terlihat pantas di mata suaminya.Ia ingin Damian melihatnya, bukan sebag
Satu tahun yang lalu…“Aku tidak sudi menikah dengan gadis itu! Dengan keluarga bangkrut itu!” suara Damian bergema di dalam ruang kerja keluarga Everstone. Rahangnya mengeras, sorot matanya penuh kemarahan.Duduk di seberangnya, wanita paruh baya dengan gaun elegan tetap tenang. Ibu Damian, sosok yang selalu berpikir logis dalam segala situasi, hanya menyesap tehnya tanpa terganggu oleh amarah putranya.“Lalu kau ingin bagaimana?” katanya dengan nada tenang namun tegas. “Keluarganya memiliki utang yang menumpuk, dan satu-satunya cara untuk menyelesaikan ini tanpa skandal adalah pernikahan. Lagi pula…” Dia menatap Damian dengan penuh perhitungan. “Gadis itu katanya memiliki peruntungan bagus setelah menikah. Jadi sebaiknya kita menerima perjodohan ini.”Damian menghela napas kasar. Peruntungan bagus? Omong kosong apa itu?Ia membuang pandangannya ke luar jendela sebelum akhirnya menoleh ke arah pintu ruangannya. Dulu, dia pernah menyukainya. Seorang gadis muda yang dulu hidup dengan
Saat ini...Elara membuka matanya perlahan, kelopak matanya terasa berat seolah dunia baru saja kembali padanya setelah lama tenggelam dalam kegelapan. Cahaya putih dari lampu rumah sakit menusuk pandangannya, membuatnya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara alat medis yang berdenting pelan di sekitarnya.Seorang perawat berdiri di sisi ranjangnya, tampak terkejut begitu melihatnya sadar. Tanpa banyak bicara, perawat itu segera berbalik dan keluar dari ruangan, kemungkinan untuk memberi tahu dokter.Tak lama kemudian, seorang dokter masuk, wajahnya tenang tapi profesional, dengan clipboard di tangannya. Ia memeriksa Elara, memastikan kondisinya stabil sebelum akhirnya berbicara.“Kondisi Anda sudah cukup stabil sekarang,” katanya lembut, menatapnya dengan tatapan menenangkan.Elara menelan ludah, suaranya terasa serak ketika ia akhirnya bertanya, “Maaf… apa yang sebenarnya terjadi pada saya?”Dokter itu meletakkan clipboard-nya dan
Ruangan itu terasa sunyi setelah suara mangkuk yang jatuh menghantam lantai, bubur yang tadinya mengepul hangat kini berceceran di atas ubin. Pengasuh Dante tersentak kaget, matanya langsung beralih ke Laurent yang berdiri di ambang pintu, menatap mereka tanpa ekspresi.Dante pun ikut terdiam. Tangannya masih mengepal di pangkuan, matanya membulat penuh rasa bersalah, tapi juga memberontak.Laurent melangkah mendekat, suaranya dingin dan tajam saat berbicara, “Kau mau jadi anak nakal, Dante? Kau mau membangkang?”Dante menggigit bibirnya, lalu menggeleng cepat. "Nggak enak, Ma... Dante mau pizza," rengeknya, suaranya penuh harap, seolah permintaannya bisa mengubah situasi.Pengasuh yang masih terguncang bergegas hendak membersihkan kekacauan di lantai, tapi Laurent mengangkat tangannya, menghentikannya. Tatapannya tetap tertuju pada Dante.“Sebagai hukuman karena kau telah nakal, turun dan bersihkan makanan itu,” perintahnya, suaranya tegas tanpa ruang untuk bantahan.Dante menatap L
Lorong rumah sakit yang sepi mendadak dipenuhi ketegangan yang mengendap di udara. Lampu-lampu neon di langit-langit memancarkan cahaya pucat, memantulkan bayangan panjang di lantai marmer.Damian, yang baru saja keluar dari ruang tunggu, merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Langkahnya terhenti saat melihat sesosok pria berpakaian hitam keluar dari ruang ICU tempat Dianora dirawat.Pria itu mengenakan jaket tebal dengan topi yang ditarik rendah, sebagian besar wajahnya tertutup bayangan. Namun, gerak-geriknya terlalu mencurigakan—terlalu tenang, terlalu licin, seakan dia sudah terbiasa menyelinap di tempat-tempat seperti ini.Jantung Damian berdegup kencang.“Hei!” serunya tajam.Pria itu menoleh sekilas, lalu buru-buru berbalik, mempercepat langkahnya menuju koridor darurat. Damian tak tinggal diam. Dengan sigap, ia mengejar pria itu, hampir saja berhasil menarik lengannya.Namun, pria itu lebih gesit. Dia mendorong Damian ke samping, lalu berlari ke arah tangga darurat. Jejak lan
Laurent menggandeng tangan kecil Dante, membawanya kembali ke kamar yang terletak tepat di sebelah kamar mereka. Langkahnya tegap, tanpa ragu, sementara Dante hanya bisa mengikuti dengan wajah tertunduk.Sesampainya di kamar, Laurent membuka pintu dan mendorong Dante masuk dengan lembut, tapi tegas."Elea berani tidur sendiri, padahal dia lebih kecil darimu," ucapnya dingin. "Tapi kamu? Malah masuk ke kamar Mama dan Papa, mengganggu waktu kami?"Dante mengerjap, matanya yang bulat mulai memerah. "Tapi Dante takut, Ma..." suaranya lirih, hampir seperti bisikan.Laurent tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Dengan gerakan kaku, ia menuntun Dante ke ranjang dan menarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya."Tadi ada bayangan hitam di sana, Ma..." Dante berbisik lagi, suaranya dipenuhi ketakutan."Itu hanya halusinasi, Dante," jawab Laurent, nadanya datar, nyaris tanpa emosi. Tanpa memperdulikan wajah ketakutan bocah itu, ia berjalan ke arah saklar lampu."Jangan matikan lampuny
Setelah insiden jatuh dari tangga tadi malam, Dianora dinyatakan koma oleh dokter. Kabar itu mengguncang semua orang, terutama keluarganya.Laurent belum mengetahui bahwa ada tangan Alicia di balik kejadian tragis ini. Namun, satu hal yang pasti—kejatuhan Dianora bukanlah sebuah kecelakaan biasa.Di rumah sakit, suasana begitu tegang. Sang ibu, yang telah bertahun-tahun mengirim Dianora ke luar negeri demi masa depan yang lebih baik, kini hanya bisa menangis tanpa henti di samping tempat tidur putrinya. Air matanya jatuh membasahi tangan Dianora yang terkulai lemah, sementara suara alat medis yang berbunyi monoton semakin menambah beban di hatinya.Di sisi lain ruangan, Alicia berdiri dengan ekspresi tenang. Sesekali, ia berpura-pura menenangkan ibu mertuanya, mengusap punggung wanita itu dengan lembut. Namun di balik wajah penuh simpati itu, matanya memancarkan kilatan dingin.Malam itu, Laurent hendak meninggalkan rumah sakit. Namun langkahnya terhenti ketika Damian tiba-tiba menyu
Alicia menyelinap dalam kegelapan, membuntuti ke mana pun Dianora pergi malam itu. Rasa ingin tahunya bercampur dengan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi. Apa yang direncanakan Laurent dengan mendekati adik iparnya?Namun, lebih dari itu, ada sesuatu yang membuat napas Alicia terasa berat. Setelah mengamati dengan saksama, ia semakin yakin—Laurent bukan sekadar wanita asing yang tiba-tiba muncul dalam hidup mereka. Laurent adalah Elara. Dan jika dugaannya benar, ia tidak akan membiarkan wanita itu berada di atas angin. Tidak peduli apa pun caranya.Duduk di dalam mobil, Alicia menunggu, matanya tak lepas mengawasi dari kejauhan. Laurent dan Dianora bertemu di sebuah kafe yang terletak di kawasan baru yang baru saja diresmikan beberapa hari lalu.Dianora turun dari mobilnya, mantel tipis membungkus tubuhnya dengan anggun. Udara malam menyentuh pipinya, tapi dia tak peduli. Dengan langkah ringan, ia menuruni tangga panjang yang menghubungkan tempat parkir dengan kafe di bawah. Tangg
Ucapan Alicia terus terngiang di telinga Laurent.Abu ibunya diganti dengan abu anjing? Itu tak bisa diterima.Tangannya mengepal di atas meja, jemarinya menekan kuat permukaan kayu hingga buku-bukunya memutih. Rasa muak, amarah, dan ketidakpercayaan bercampur menjadi satu, menggelegak dalam dadanya.Seorang anak buahnya masuk dengan langkah hati-hati, menunggu perintah."Ambil sampel abu di guci ibuku," suara Laurent dingin, tajam seperti pisau. "Cek apakah itu benar abu manusia atau hanya abu anjing."Anak buahnya mengangguk cepat. "Baik, Nyonya."Saat itulah Adrian masuk ke dalam ruangan. Tatapannya penuh kecemasan saat melihat wajah istrinya yang menegang."Kau yakin dia mengatakan hal itu padamu?" tanya Adrian, suaranya sedikit meninggi, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.Laurent menoleh, matanya menyala dengan kemarahan yang tertahan. "Dia mengatakannya langsung. Aku mendengar sendiri dari mulutnya."Adrian menghela napas panjang. Ia tahu betapa dalamnya kebencian
Laurent berdiri diam di depan lemari kaca yang menyimpan guci abu ibunya. Pandangannya tak lepas dari foto yang terpajang di sana—sosok wanita yang selalu ia rindukan, yang senyumnya kini hanya bisa ia lihat dalam gambar.Setiap kali rasa bersalah menyiksanya, Laurent kembali ke tempat ini. Ia merasa gagal, tak mampu menyelamatkan ibunya dari rumah sakit jiwa. Hari demi hari, penyesalan itu semakin menyesakkan dadanya.Di sisi lain, Alicia melangkah pelan menuju makam kosong yang ia buat sebagai simbol kematian Darley. Tangannya menyentuh nisan dingin itu, namun pikirannya terganggu saat tanpa sengaja menangkap sosok dari kejauhan.Mata Alicia menyipit. Ia berdiri terpaku, mengamati dengan penuh selidik.Dulu, Laurent mengunjungi makam ayah Elara. Dan sekarang? Wanita itu berdiri di depan tempat abu ibu Elara.Jangan-jangan…Alicia merasakan gelombang kecurigaan semakin kuat. Langkahnya pelan namun pasti, mendekati Laurent yang masih berdiri di sana, tampak begitu tenggelam dalam kese
Nyonya Everstone dengan gerakan cepat merebut amplop cokelat yang baru saja diserahkan seorang pembantu kepada Alicia. Suasana di ruangan itu seketika berubah tegang.Wajah Alicia memucat, tubuhnya seolah membeku. Tamat riwayatnya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, tetapi ia berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meskipun sia-sia."Aku sudah lama curiga padamu," kata Nyonya Everstone dengan nada tajam, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Apa kau selingkuh?"Jantung Alicia berdegup kencang, tetapi ia tahu panik hanya akan memperburuk keadaan. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya saat ia berusaha mencari alasan.Dengan gerakan kasar, Nyonya Everstone merobek amplop dan menarik isinya. Matanya membelalak."Foto apa ini?" gumamnya, alisnya bertaut dalam kebingungan.Alicia menelan ludah. Saat matanya menangkap foto yang dipegang oleh wanita itu, ia merasa lega sekaligus bingung.Nyonya Everstone menatap foto dengan ekspresi tak terbaca. Di sana, terlihat gambar seorang bayi—Darl
Dante berjalan melintasi halaman pesta yang mulai lengang, matanya sibuk mencari sosok Laurent di antara para tamu yang berpamitan. Pesta hampir usai, dan ia sudah lelah. Setelah menemukan Mr. Chang dan menyampaikan salam perpisahan dengan sopan, ia akhirnya memutuskan untuk pulang.Di dalam mobil, Dante duduk di kursinya dengan kaki menggantung. Wajahnya masih menyiratkan kemarahan yang tersisa dari kejadian tadi. Ia mengusap lengannya yang memerah, lalu menoleh ke arah Laurent dengan ekspresi serius."Mama, tadi aku dicubit oleh bibi kotoran," katanya dengan penuh emosi.Laurent menoleh, alisnya sedikit terangkat. Senyumnya muncul samar, tapi bukan karena kekhawatiran. Ada kilatan kepuasan di matanya."Benar kata Mama," Dante melanjutkan, tangannya mengepal kecil. "Bibi itu jahat!"Laurent mengangguk pelan, menyembunyikan kegembiraannya yang dingin. Ia melihat bagaimana kebencian mulai berakar dalam hati bocah itu, menyebar seperti racun yang ditanamkan dengan sempurna. Tidak ad