Home / Pendekar / Pendekar Kera Sakti / 1. Kekaisaran Matahari

Share

Pendekar Kera Sakti
Pendekar Kera Sakti
Author: KSATRIA PENGEMBARA

1. Kekaisaran Matahari

last update Last Updated: 2024-02-12 14:46:41

Di masa perang dunia ke-2, Kekaisaran Matahari adalah adalah sebuah kekaisaran yang memiliki kekuasaan yang sangat besar dan disegani. Kekuasaannya hampir melingkupi seluruh Asia. Termasuk Jawa Dwipa.

DI SUATU MALAM.

“Aku pemenangnya.. Malagha akan menjadi istriku!” kata Kazikage dengan lantang hingga membahana ditempat itu. Wajah-wajah ditempat itu tampak berubah pucat, bahkan wajah Malagha lebih pucat lagi. Kazikage seakan tak memperdulikan hal itu, lalu berbalik kearah sebaliknya dan menatap semua orang yang ada ditempat itu.

“Atau masih ada yang ingin melawanku, silahkan maju!” bentak Kazikage dengan keras kearah semua orang yang ada ditempat itu, tapi tak ada seorangpun yang terlihat mau menanggapi tantangan Kazikage. Tuan Muda dari Kekaisaran Matahari tersebut.

“Selain Pangeran Anggoro Wardana, kalian semua tak pantas untuk mendapatkan hormatku. Kalian semua adalah pesakitan dari Asia!” kata Kazikage dengan penuh kesombongan.

Mendengar kata-kata pesakitan dari Asia yang dilontarkan oleh Kazikage, tentu saja membuat amarah setiap orang yang ada ditempat itu, termasuk Pangeran Anggoro Wardana, tapi untuk melawan Kazikage, tentu mereka harus berfikir ribuan kali, mereka hanya bisa menerima penghinaan itu dari orang yang menumpang di negeri mereka.

Melihat tak ada yang menanggapi ucapannya, bibir Kazikage semakin tersenyum sinis.

“Benar-benar orang pengecut!” desis Kazikage dengan sinis seraya kembali berbalik kearah Malagha kembali.

“Ha ha ha...!” Sebuah suara tawa yang begitu keras terdengar membahana ditempat itu, mengejutkan semua orang. Bahkan Kazikage yang tadinya ingin melangkah pergi. Mengurungkan niatnya. Sebelum dia membalik tubuhnya.

“Hanya seorang pendatang dinegeri ini, sudah berani bertingkah! Apakah tidak tahu rasa malu?!” kembali terdengar suara itu menggema ditempat itu. Telinga Kazikage langsung memerah mendengar hal itu, dengan cepat tubuhnya berbalik. Belasan tombak dihadapannya, terlihat orang-orang yang berkumpul ditempat itu telah menyingkir secara teratur hingga memperlihatkan seseorang yang berdiri dengan gagahnya. Ia mengenakan caping yang menutupi wajahnya. Tubuhnya yang tinggi tegap dibalut rompi berwarna merah dan bersisik keemasan tanpa lengan sehingga rajah naga emas melingkar yang ada dilengan kirinya yang kekar terlihat semakin menambah kejantanan pemuda itu. Juga mengenakan celana bersisik berwarna hitam keperakan. Di kedua tangannya tampak tersampir 10 gelang emas yang tersusun rapi disepanjang lengannya.

“Baraka...” Sebuah nama keluar dengan lembut dari bibir seorang gadis berparas jelita. Namanya Malagha. Malagha adalah seorang gadis keturunan timur tengah yang bermukim di Tanah Jawa. Wajah cantiknya. Bibir merah, indah merekahnya terlihat tersenyum, rupanya dia mengenali sosok pemuda yang mengenakan penutup disetengah wajahnya itu. Karena memang. Sosok itu adalah sosok Baraka yang kini sudah melangkah ke hadapan Kazikage. Walau sedikit cemas, tapi Malagha yakin, Baraka bisa mengalahkan Kazikage, karena Malagha tahu, bagaimana hebatnya Baraka setelah cukup lama mengenal Baraka.

Kazikage mengerutkan keningnya melihat sosok dihadapannya.

“Sebagai seorang tamu di negeri ini, seharusnya kau tahu adat. Apa orangtuamu tak mengajarkan adab kepadamu, hai! orang asing?! Atau kau ingin ku gebuk pantatmu untuk kembali ke negerimu!” ucapan sinis keluar dibibir Baraka saat dia mengatakan hal itu.

Kata-kata Baraka membuat orang-orang yang ada ditempat itu hampir saja tak kuat menahan tawa, tapi sebagian lagi sampai tak bisa berkata apa-apa.

“Benar-benar cari mati dia...”

“Tamat dah... tamat dah riwayatnya”

“Dasar gendeng! Apa dia tidak tahu, siapa lawan yang ada dihadapannya saat ini...!”

Terdengar kasak-kasak beberapa orang diberbagai tempat yang rata-rata mengatakan betapa konyolnya Baraka yang berani mempromokasi Tuan Muda dari Kekaisaran Matahari tersebut.

Pada awalnya, Baraka memang tak ingin terlibat dalam masalah ini, tapi begitu mendengar kata-kata Kazikage yang sangat mengusik rasa cinta tanah airnya. Jiwa kependekaran Baraka bergejolak.

Sementara itu, Kazikage yang memerah wajahnya. Masih berusaha menahan dirinya dan melihat sosok yang ada dihadapannya dengan penuh selidik.

“Siapa kau?!” tanyanya dengan dingin.

“Aku?! Huh! Kau tak pantas untuk mengetahui namaku.. Oh tidak, bahkan kau tak layak!” kata Baraka dengan jumawanya. Hingga lagi-lagi membuat wajah Kazikage mengkelam hitam. Amarah benar-benar telah mencapai otaknya.

Wusshh...!

Tiba-tiba saja sosok Kazikage sudah berkelebat kedepan dengan sangat cepatnya, semua harus menahan nafas melihat hal itu.

“Mati dah, mati tuh si anak!” kata salah seorang penonton tak kuat untuk melihat nasib Baraka.

“Modar.. modar dah!” sahut yang lain ikut-ikutan menutup mata, karena tak kuat melihat hasil akhirnya.

Gemuruh suara terdengar menyayangkan nasib Baraka yang akan kelar sebentar lagi. Tapi semua pendapat itu terpatahkan, wajah-wajah ditempat itu berubah seperti baru saja tersambar petir. Bagaimana tidak? Sosok Kazikage yang tadi berkelebat cepat kearah Baraka untuk melayangkan serangannya, tiba-tiba saja berhenti tepat 1 tombak dihadapan Baraka.

Kazikage berhenti karena saat ini, tepat didepan matanya, tersodor sebuah seruling berhulu Naga yang jika Kazikage tidak menghentikan langkahnya, matanya sudah pasti akan tertusuk oleh senjata itu.

Untuk pertama kalinya, wajah Kazikage berubah, keringat dingin mengucur dari wajahnya. Kazikage memperhatikan senjata lawan yang ada didepan matanya itu. Sekali lihat saja, dia tahu kalau senjata itu bukan senjata biasa. Sementara Baraka masih berdiri santainya mengacungkan ujung suling pusakanya yang bernama Suling Naga Krishna itu kearah lawannya.

Dalam jarak sedekat ini, Kazikage dapat melihat sosok yang ada dihadapannya dengan lebih jelas. Kazikage dengan cepat menggerakkan tangannya untuk menepis suling didepan matanya itu, tapi tiba-tiba saja Suling mustika itu sudah ditarik oleh Baraka dengan cepat, selanjutnya kembali Suling mustika itu berada tepat didepan kedua matanya. Dan ini membuat kedua mata Kazikage berkedut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Pendekar Kera Sakti   2. Kesaktian Gelang Brahmananda

    Dengan gerakan cepat, Kazikage kali ini berusaha menangkap ujung Suling mustika itu, tapi lagi-lagi ia kecela, Suling mustika itu kembali di tarik oleh Baraka dengan cepat dan seketika itu pula Suling mustika itu kembali berada tepat di depan kedua mata Kazikage. Begitu seterusnya yang terjadi, berkali-kali Kazikage berusaha menepis atau menangkap Suling mustika didepan matanya itu, tapi selalu tidak terhasil.Hal ini benar-benar sangat mengejutkan, Kazikage yang sangat membanggakan kecepatannya dibuat tidak berdaya didepan seorang pemuda yang masih sangat belia. Beberapa orang tak tahan untuk menahan senyum mereka melihat Tuan Muda dari Kekaisaran Matahari telah berhasil dipermainkan didepan banyak orang.Kazikage bukannya tidak menyadari akan rasa malunya saat ini. Maka tak ingin terjebak lebih lama. Kazikage melesat kearah sebelah kanan untuk melancarkan serangannya, tapi lagi-lagi langkah Kazikage terhenti saat Suling mustika lawannya kembali berada tepat didepan kedua matanya. Rup

    Last Updated : 2024-02-12
  • Pendekar Kera Sakti   3. Kau belum layak untuk menjadi lawanku!

    Semakin Baraka menggerakkan tangannya, semakin cepat pergerakan Gelang Brahmananda-nya. Kazikage yang awalnya masih sanggup menangkisnya, lama kelamaan semakin kewalahan. Apa yang dipetunjukkan Baraka, benar-benar mengejutkan semua orang.“Ini sihir...” ucap beberapa orang melihat apa yang dilakukan Baraka. Semua terdengar menggunjing.BUGH!Semua kehirukan itu terhenti saat mereka melihat, tubuh Kazikage terkena gebukan Gelang Brahmananda lawannya.BUGH! BUGH! BUGH!Berikutnya, tubuh Kazikage benar-benar menjadi sasaran empuk serangan Gelang Brahmananda Baraka, begitu kerasnya sampai-sampai ketiga pedang katana yang ada di Kazikage terlepas jatuh ke tanah.BUGH! BUGH! BUGH! BUGH! BUGH!Selanjutnya tubuh Kazikage benar-benar menjadi bulan-bulanan Baraka, hingga akhirnya tubuh Kazikage tak sanggup lagi bertahan dan tersungkur jatuh ditempatnya.Wungngng! Wungngng..! Wungngng...!Begitu Baraka menghentakkan kedua tangannya, ke-10 ‘Gelang Brahmananda’ kembali kearahnya dan masuk kembali k

    Last Updated : 2024-02-12
  • Pendekar Kera Sakti   4. Insting Pertarungan

    “Bagaimana bisa?”“Apa yang sebenarnya terjadi?”“Ini gila! Apa yang terjadi?!”Beragam komentar bermunculan diantara penonton yang masih terperangkap dalam rasa kagetnya.Sementara itu, Baraka dengan tenang terus berjalan kearah Kazikage, seakan-akan tidak terjadi apa-apa dalam beberapa waktu yang lalu.“Kau bilang. Kecepatan adalah seni tertinggi dalam ilmu beladiri. Huh! Pengetahuanmu terlalu dangkal. Di atas langit masih ada langit, diatas kecepatan masih ada yang lebih tinggi, yaitu insting dalam pertarungan” jelas Baraka hingga membuat wajah Kazikage berubah.“Insting dalam pertarungan...” Kazikage sampai harus mengulangi apa yang baru saja Baraka ucapkan.“Lebih baik kau menyerah, kau tidak akan menang” ucap Baraka dengan sinis.Kazikage menggeram penuh kemarahan, harga dirinya benar-benar telah dipermalukan oleh seorang pemuda yang menurutnya tadi, sangat mudah untuk dikalahkan. Kazikage bangkit kembali berdiri dengan wajah beringasnya.“Sudah kubilang, hari ini. Kalau tidak ka

    Last Updated : 2024-02-12
  • Pendekar Kera Sakti   5. Dia adalah PEWARIS PARA DEWA

    Tn. Kinshiki sendiri bukanlah orang sembarangan, di Kekaisaran Matahari, Tn. Kinshiki memiliki kedudukan yang cukup penting. Yaitu sebagai penasehat Kekaisaran Matahari. Kedudukan ini tentu saja bukannya sekedar didapatnya dari kemampuannya berdiplomasi, tapi juga karena kemampuan beladirinya yang sudah dianggap sangat tinggi. Bahkan hampir setingkat dengan Raja Perang.Dalam seni beladiri di Kekaisaran Matahari, ada beberapa tingkatan dalam tingkatan seni beladiri, yaitu : Raja Senjata, Raja Perang dan yang paling tinggi, tingkatannya disebut sebagai Dewa Perang. Jadi dengan status Raja Perang, kemampuan beladiri Tn. Kinshiki dianggap cukup mumpuni.“Jangan memaksakan keberuntunganmu, anak muda. Ada pepatah dari negeri ini, mulutmu adalah harimaumu. Kesombonganmu akan menjadi senjata makan tuan untukmu” ucap Tn. Kinshiki dengan dingin.“Ha ha ha...! Kau ini tidak punya otak, atau memang mati otak. Sudahlah tinggal menumpang di negeri kami, malah memakai pepatah negeri kami. Apa negeri

    Last Updated : 2024-02-12
  • Pendekar Kera Sakti   6. Jimat Hati Iblis

    LANGIT MALAM tebarkan bintang dan rembulan di sudut mega. Warna cerahnya menggiurkan pasangan muda-mudi untuk taburkan kasih kemesraannya. Bahkan pasangan tua berhati muda pun tak segan-segan lepaskan rayu dan canda menggelitik di sela-sela hati mereka.Mendadak kabut berjingkat dari celah bongkahan tanah perbukitan. Kabut tipis itu merayap makin menebal, lalu membungkus setiap celah tanah berdaun rumput. Bukit mulai diselimuti kabut. Langit sedikit dipulas rona hitam awan. Rupanya tadi telah melesat cahaya hijau berekor. Cahaya hijau di langit itu bagaikan berudu terbang yang melintasi perbatasan langit bermega hitam. Warna hijaunya terang dan mencolok mata para penghuni bumi.Wuusshh...!Angin mulai menunjukkan keperkasaannya, hembusannya tiba-tiba saja menjadi cepat dan berat. Warna hijau cerah berekor panjang di langit bagai semakin dilemparkan dari sisi satu ke sisi lainnya. Gerakannya mengikuti lengkung langit hingga menuju perbatasannya yang tak pasti. Para tokoh tua saling berl

    Last Updated : 2024-03-22
  • Pendekar Kera Sakti   7. Jatuhnya Pertanda Sang Pewaris

    Ketika dia membungkuk hendak mengambil Jimat Hati Iblis yang masih berada dalam genggaman tangan kiri Rawana Baka. Tiba-tiba tidak disangka-sangka kaki kanan orang yang diduga telah menemui ajal itu melesat ke arah dada si kakek.Bukkkk!“Uggghhh!”Sang Utusan Para Dewa menjerit keras. Tubuhnya terpental tiga tombak, terbanting jatuh punggung pada sebuah batu besar dan dari mulutnya menyembur darah kental!"Mengapa aku bertindak lengah! Belum mati jahanam itu rupanya!” keluh si kakek. Memandang ke depan dilihatnya Rawana Baka terbungkuk-bungkuk berusaha bangkit berdiri.Walau dadanya serasa hancur si kakek cepat bangun. Tangan kirinya digerakkan. Tongkat api kembali berubah menjadi cambuk menyala. ”Kali ini harus kuputus lehernya! Harus kutanggalkan kepalanya!”Si kakek berkomat kamit sambil putar pergelangan tangan kirinya. Cambuk api bergetar, meliuk-liuk laksana sosok ular hidup. Begitu dia menyentak maka cambuk api itu melesat ganas ke udara, mengeluarkan suara menggidikkan disert

    Last Updated : 2024-03-22
  • Pendekar Kera Sakti   8. Kelahiran Sang Naga

    Gunung Asmoro terlihat berdiri dengan angkernya malam itu, sebuah gerobak yang ditarik kuda berbulu putih belang coklat itu berhenti di depan bangunan besar yang mirip candi diatas puncak gunung asmoro. Saat itu di penghujung malam menjelang pagi. Perempuan tua yang duduk di samping pemuda sais gerobak melompat turun. Gerakannya gesit dan enteng. Di pinggangnya tergantung satu bungkusan besar. Di depan pintu bangunan dia hentikan langkah, memandang pada lelaki yang keluar menyambutnya.Perempuan tua itu ludahkan gumpalan sirih dan tembakau di dalam mulutnya lalu bertanya."Apa aku datang terlambat Yudha?""Belum mak. Keadaannya gawat sekali. Aku khawatir”Perempuan tua itu tidak menunggu sampai lelaki bernama Yudha menyelesaikan ucapannya. Dengan cepat dia masuk ke dalam bangunan, langsung menuju ke sebuah kamar dari dalam mana terdengar suara erangan berkepanjangan.Di ambang pintu kamar si nenek mendadak hentikan langkah. "Yudha! Kegilaan apa yang aku lihat ini! Siapa yang mengikat

    Last Updated : 2024-03-22
  • Pendekar Kera Sakti   9. Kelahiran Sang Pewaris

    Pada saat sang jabang bayi hendak nongol dari rahim sang ibu, hujan deras disertai dengan amukan badai cukup dahsyat. Lebih dari tiga puluh pohon tumbang, puluhan batu menggelinding dari ketinggian, kilatan cahaya petir ikut menghujani gunung itu. Badai mengamuk hanya di puncak gunung, sedangkan di kaki Gunung Asmoro hanya terjadi angin kencang biasa-biasa saja. Bahkan hujannya tak terlalu lebat.Kabutpun hadir membungkus puncak Gunung Asmoro. Tebal sekali, seperti selimut domba. Puncak Gunung Asmoro bagai lenyap ditelan langit. Kilatan cahaya biru menggelegar menyambar-nyambar puncak gunung itu."Oaaa...! Oaaa.. ! Oaaa. !"Akhirnya, suara tangis bayi itu pun terdengar melengking tinggi. Seakan ingin mengalahkan deru badai dan ledakan guntur di sana-sini. Tangis sang bayi menggetarkan dinding-dinding batu, seolah-olah bangunan candi itu akan runtuh karena getaran suara si jabang bayi. Bahkan dari puncak hingga kaki gunung terjadi getaran hebat, sepertinya gunung itu akan meletus atau

    Last Updated : 2024-03-22

Latest chapter

  • Pendekar Kera Sakti   1209. Part 20

    "Apakah Palupi menjadi gila juga karena pukulan beracunnya Hantu Tari!" pikir Baraka kala ia bersembunyi di balik pohon besar berbatang pipih, menyerupai bilik-bilik dinding."Tak ada salahnya jika ia kulumpuhkan dulu walaupun terluka, tapi harus segera kutolong agar nyawanya tak terlanjur melayang."Selagi Baraka berpikir, tiba-tiba ia mendengar suara jeritan seorang wanita."Aaaah...!"Baraka tersentak kaget. "Itu suara Palupi! Ya, pasti Palupi!" Dan Baraka pun segera sentakkan kaki, pergunakan ilmu peringan tubuhnya untuk melesat dengan cepat melebihi anak panah.Zlaaap...! Dalam sekejap ia sudah berada di tempat yang datar, di sana ia melihat Palupi sedang dikejar-kejar Dungu Dipo. Bahkan sebuah pukulan bertenaga dalam tinggi dilepaskan oleh Dungu Dipo ke arah punggung Palupi yang berlari-lari ketakutan itu.Claap...! Sinar merah dari tangan kiri Dungu Dipo melesat cepat menghantam Palupi. Tapi Pendekar Kera Sakti bergerak lebih cepat la

  • Pendekar Kera Sakti   1208. Part 19

    "Persetan dengan permintaan maafmu!" geram Hantu Tari dengan suara berat. "Kau berhutang satu jurus padaku! Akan kubalas kalau luka ini telah sembuh! Tunggu, tak akan lama kita pasti bertemu dan kau harus bayar hutangmu ini!"Weess...!Setelah bicara begitu, Hantu Tari larikan diri dengan menahan luka di dadanya. Pendekar Kera Sakti tak sempat menahan gerakan Hantu Tari. Tapi pikirnya, memang tak ada perlunya menahan Hantu Tari, sebab ia tak punya persoalan dengan perempuan itu. Namun kepada Dungu Dipo, ia punya persoalan sendiri, yaitu sebagai calon tamu di tempat Dungu Dipo mengabdikan dirinya. Jika Baraka lakukan penyelamatan terhadap Dungu Dipo, hal itu disebabkan karena ia ingin menjalin persahabatan dengan pihak Dungu Dipo, terutama dengan ratu gustinya. Sebab dengan menjalin persahabatan itulah, Baraka berharap dapat mengetahui rahasia pedang pusaka yang konon disimpan oleh gadis gila di sebuah gua di Bukit Tungkai.Baraka membawa Dungu Dipo ke tempat ker

  • Pendekar Kera Sakti   1207. Part 18

    "O, jadi selama lima tahun kau menghilang karena kau belajar lagi perdalam ilmu silatmu! Hmm...! Kau tak tahu kalau aku pun perdalam ilmu silatku, sehingga tak mudah merobohkan orang lain!"Baraka geleng-geleng kepala. "Dirobohkan orang lain, diganti merobohkan orang lain. Padahal artinya jauh berbeda!" pikirnya sambil santai setelah menggaruk-garuk kepala.Baraka ada di atas pohon, duduk di sebuah dahan kekar dalam satu sisi sungai yang sama dengan mereka, ia sengaja tidak ikut campur, karena ingin melihat seberapa tinggi ilmu perempuan yang tadi dipanggil Dungu Dipo dengan nama julukan Hantu Tari itu.Perempuan itu perdengarkan suaranya, "Sekalipun tubuhku sudah kembali mulus berkat ramuan dari guruku, tapi dendamku masih belum mulus dan tetap menuntut pembalasan padamu. Tak peduli kau sekarang menjadi orang penting di negeri Muara Singa, persoalan kita tetap persoalan pribadi!""Kulayani apa maumu. Tapi jangan salahkan diriku jika nyawamu tercabut oleh

  • Pendekar Kera Sakti   1206. Part 17

    "Aku hanya pernah dengar julukan itu, dan pernah dengar cerita kehebatan si Tandu Terbang dari mulut orang-orang di kedai. Tapi aku belum pernah jumpa dengan si Tandu Terbang sendiri. Kusarankan, hati-hatilah jika jumpa dengannya. Karena Tandu Terbang orang berilmu tinggi. Konon ia muridnya Pendita Arak Merah berasal dari Tibet."Kembali sang Pendekar Kera Sakti terperanjat, ia pernah mendengar nama Pendita Arak Merah dari Tibet, sehingga ia pun berkata, "Kalau begitu, Tandu Terbang adalah saudara seperguruan dengan Sri Maharatu dari Pulau Dadap!""Mungkin saja! Aku pernah dengar nama Sri Maharatu, tapi tidak tahu dari mana asal-usulnya dan siapa gurunya."Baraka hanya manggut-manggut. Ia tak mau katakan bahwa Sri Maharatu, yang kondang sebagai murid Pendita Arak Merah dari Tibet itu sudah mati di tangannya dengan jurus 'Yudha'. Baraka sengaja sembunyikan cerita itu agar tidak berkesan sombong di hadapan siapa saja.Setelah berpisah dengan rombongan Batu

  • Pendekar Kera Sakti   1205. Part 16

    Baraka manggut-manggut, lalu bergegas mengobati mereka yang terkapar menunggu ajal. Namun dalam hati Baraka segera berkata, "Setelah kuperhatikan, ternyata racun ini bukan untuk mematikan, namun untuk melukai saja. Sebenarnya tanpa ku obati, mereka dapat sembuh walau agak lama. Kulihat warna biru di wajah beberapa orang sudah tampak memudar. Agaknya orang yang memiliki racun ini bermaksud melukai saja, tidak punya niat mematikan mereka. Hmm... kenapa begitu? Apakah karena Tandu Terbang hanya punya racun seperti itu, dan tak punya racun jenis lain yang mematikan lawannya?"Sedikit demi sedikit mereka mulai sadar, tapi rambut mereka sudah telanjur banyak yang berguguran. Bahkan kepala mereka ada yang sudah menjadi botak di bagian tengahnya. Keganasan racun itu hanya berakibat merontokkan rambut dan melemahkan peredaran darah, termasuk jantung dan paru-paru mereka. Tapi tidak sampai merusak separah dugaan semula."Kasihan, kepalamu sampai botak selicin ini, Teman," kata B

  • Pendekar Kera Sakti   1204. Part 15

    Ternyata Batu Sampang sudah cabut pedangnya pada saat bersalto tadi. Pedang itu ditebaskan untuk membelah kepala Pendekar Kera Sakti. Tapi dengan cepat Baraka silangkan Suling Naga Krishnanya ke atas kepala dengan disangga dua tangannya. Akibatnya pedang itu menghantam pedang mustika yang seperti menghantam besi baja."Pedang itu punya isi juga rupanya," pikir Baraka. "Pedang itu tidak rusak atau rompal seperti pedang lainnya. Pedang itu masih utuh dan tubuhku tadi seperti disiram air panas dalam sekejap ketika suling mustika beradu dengan pedangnya. Hmm...! Agaknya ia seorang prajurit negeri Muara Singa yang diandalkan untuk lakukan penyerangan terhadap lawan siapa saja. Aku tak boleh lengah sedikit pun. Ia mempunyai jurus-jurus yang dibarengi oleh gerakan sangat cepat. Hampir saja aku tadi mati terbelah oleh pedangnya!""Hiaaaah...!" Batu Sampang tampak buas. Ia menyerang lagi dengan satu lompatan pendek, namun pedangnya segera berkelebat membabat sekujur tubuh Barak

  • Pendekar Kera Sakti   1203. Part 14

    "Agaknya mereka orang-orang Muara Singa," pikir Baraka sambil memperhatikan semua orang di situ menggenggam senjata dalam keadaan lemas. Mereka menggeliat-geliat pelan bagaikan ular keberatan badan. Mata mereka ada yang terpejam, ada yang terbuka sayu. Erangan mereka sangat lirih, bagaikan sedang menunggu ajal tiba."Jika hanya dengan pukulan, tak mungkin mereka mempunyai ciri luka yang sama: wajah membiru, mulut berbusa darah, rambut mereka sebagian rontok. Pasti mereka habis lakukan pertarungan dan terkena racun. Entah racun apa dan bagaimana cara kerjanya," pikir Pendekar Kera Sakti setelah menggaruk kepalanya. "Tapi agaknya aku belum terlambat. Masih bisa sembuhkan mereka dari racun itu."Maka, Baraka pun mengobati mereka dengan hawa ‘Kristal Bening’ miliknya kepada orang yang bertubuh gemuk dan matanya sedang terbeliak-beliak bagaikan sekarat. Orang muda yang bertubuh agak gemuk itu dari mulutnya sempat keluar suara lirih, "Tandu.... Terbang...."

  • Pendekar Kera Sakti   1202. Part 13

    Claaap...!Dungu Dipo lepaskan pukulan pelumpuh urat berwarna kuning dari telapak tangannya. Sasarannya ke arah Palupi. Tapi selarik sinar kuning itu dihadang oleh Baraka dengan suling mustikanya.Traaap...! Sinar kuning itu membentur suling mustika, dan membias balik ke arah penyerangnya. Dungu Dipo kaget dan segera lompat bersalto ke belakang. Sinar kuning itu menghantam pohon.Duur...! Pohon berguncang, daunnya banyak yang gugur, tapi tidak mengalami perubahan apa-apa. Dungu Dipo segera berkelebat dalam satu lompatan ke arah Baraka. Lalu dari mulutnya disemburkan napas yang menghentak kuat.Wuuuss...!Hawa panas yang mampu melelehkan besi mendekati Baraka. Dengan cepat Pendekar Kera Sakti kibaskan Suling Naga Krishnanya ke depan.Wuuuss...!Angin deras bagaikan badai topang terhempas dari kibasan Suling Naga Krishna itu, membuat angin panas menyebar balik ke arah Dungu Dipo."Hiaaah...!"Dungu Dipo sentakkan kedua tan

  • Pendekar Kera Sakti   1201. Part 12

    "Dungu Dipo! Oh, syukurlah kau lekas datang membantu kami!" ujar Marjan.Baraka membatin, "Siapa lagi orang yang dipanggil Dungu Dipo ini? Melihat keakraban mereka, agaknya Dungu Dipo ini juga orang Muara Singa. Tapi kelihatannya ia punya ilmu lebih tinggi dari Kisworo dan Marjan! Aku harus lebih waspada lagi dengan orang tua itu!"Dungu Dipo memang pantas dikatakan sebagai orang tua, karena rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban walau belum begitu banyak. Usianya sekitar lima puluh tahunan. Tubuhnya agak kurus, tulang pipinya bertonjolan, matanya cekung, tapi mempunyai sorot pandangan mata lebih tajam lagi dari Marjan dan Kisworo. Ia tidak berkumis, namun berjenggot tipis. Rambutnya panjang, diikat dengan kain warna merah. Di pinggangnya terselip senjata golok panjang bergagang hitam melengkung.Orang yang beraut muka antara seram dan lucu itu mendekati Baraka dari arah samping, sehingga ia masih bisa berpaling ke arah Marjan dan Kisworo, namun juga bisa memandan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status