Aku sedang memasukkan semua pakaian kotor Mas Fandi ke dalam mesin cuci saat sebuah bil pembayaran hotel terjatuh dari kantong kemeja kotornya.
Kenapa ada bil pembayaran hotel?"Ada apa, Sri?" Mas Fandi sudah berdiri di dekat pintu."Ini mas, ada kertas jatuh dari kemeja." Kutatap wajahnya, keningnya berkerut."Kertas apa?" Dia mendekat, kuserahkan selembar kertas itu padanya. Mas Fandi membaca kertas itu dan terdiam sebentar, tangannya mengusap kening terlihat cemas."Kertas penting ya, mas?" Aku bertanya, kecemasan Mas Fandi justru membuatku menaruh curiga. Instingku mulai kembali peka."Ini mungkin bil di meja kantor terbawa. Beberapa hari lalu, ada pegawai yang tugas ke luar kota juga." Dia tersenyum lalu mengusap rambutku. "Buang saja ya, mas mau berangkat dulu.""Sudah selesai sarapannya?" Aku bertanya saat Mas Fandi berjalan masuk. Sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan, namun Mas Fandi menjauh lebih dulu."Sudah, pesawatnya akan terbang jam sepuluh, nanti aku bisa telat. Lala biar berangkat sama mas saja, sekalian satu arah juga." Dia menjawab sambil berjalan mengambil koper di dalam kamar."Kamu gak usah ke rumah ibu dua hari ini, ibu bilang nanti sore mau ikut Fina pulang ke Jogja. lagian sudah ada bi Ijah, ibu kasihan melihatmu bolak-balik."Aku terdiam, hanya menganggukkan kepala. Entah kenapa, aku mulai merasa tak nyaman dengan kepergian Mas Fandi. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku, namun tak mungkin juga mengutarakannya saat ini.Aku mengantarnya ke luar rumah, Mas Fandi mengandeng Lala ke dalam taksi. Putri kami sudah duduk di kelas tiga Sekolah dasar. Terlihat sangat dekat dengan Ayahnya. Bahkan mereka tak hentinya bercanda, membuatku tersenyum senyum sendiri.Aku menunggu mereka, hingga taksi pesanannya datang. Sesaat kemudian, sebuah mobil hitam berhenti, mas Fandi memasukkan kopernya ke dalam bagasi lalu membukakan pintu untuk Lala. Setelahnya dia mendekatiku lagi dan aku mencium takzim tangannya."Mas pergi dulu ya, Jangan lupa untuk tidak ke rumah ibu dulu. " Mas Fandi mengusap kepalaku, lalu masuk kedalam mobil."Da Mama, jangan lupa jemput lala ya." Gadisku melambaikan tangan, memberiku kecupan jauh dan menutup kaca mobil setelahnya.Ah, kehidupan kami terlalu sempurna, rasanya tak mungkin mas Fandi tega membohongiku dan Lala, putri kami.Mungkin benar, itu hanya sebuah kwitansi biasa. Tak bisa membuktikan kesalahan apapun pada pernikahan kami.Kalimat itu terngiang di kepala. seolah memang itu yang aku harapkan. Aku begitu takut, bila pernikahan ini adalah sebuah kegagalan yang tertutupi. Karenanya segera kutepis segala prasangka yang coba berkelebat di dalam benak ini.***Aku kembali berkutat dengan pekerjaan rumah. Membereskan kembali cucianku yang belum selesai. Setelahnya aku mengepel lantai dan menjemur semua baju yang sudah tercuci.Saat aku kembali kedalam rumah, sebuah notifikasi terdengar dari ponselku di atas bifet kecil. Bergegas aku mengambilnya. Mungkin saja itu pesan dari kurir, mengingat hari ini paket pesanan temanku akan datang."Apa ini?"Mataku membulat sempurna. Sebuah nomor asing mengirimkan foto undangan pernikahan ke ponselku. Foto mas Fandi, Suamiku terpampang jelas. Ia nampak gagah menyanding wanita yang tak aku kenali siapa."Fandi Saputra dan Kila Agnita" Mataku panas membaca nama itu terukir dalam tinta keemasan.Disana bahkan jelas tertulis kapan tanggal dan jam akad itu akan dilaksanakan.Tentu saja, ini jelas sudah, sejak semalam mas Fandi memintaku membawakannya beberapa kemeja putih dan kemeja batik, bersama dengan celana kain yang baru di belinya. Rupanya, aku sedang menyiapkan baju pernikahanmu mas!Teganya kau lakukan ini padaku. Kau akan menikahi wanita lain, sementara disini ada wanita yang masih resmi menjadi istrimu, mencucikan baju motormu, mengurus anakmu, bahkan membereskan rumah besar ini sendirian tanpa asisten rumah tangga.Aku terduduk di lantai, gemetar membayangkan pernikahan itu terjadi malam nanti. "Apa salahku sebagai istrimu mas? apa kurang ku?" aku bergumam sendiri."Tidak ! ini tak boleh terjadi."Bergegas aku mengambil kunci motor dikamar dan mengeluarkan motor dari dalam garasi. Rumah ibu adalah tujuan pertamaku. Ibu harus tau, apa yang sudah di lakukan anak lelakinya itu.Hanya sepuluh menit jarak rumah kami, karena itulah aku sering kemari untuk membantu ibu merawat semua tanaman hiasnya. Tiba di gang masuk rumah ibu, dua mobil berjajar di pelataran rumahnya, aku kenal betul itu mobil Mas Robi dan Fani, saudara kandung mas Fandi.Ku parkirkan motor diseberang jalan, entah kenapa aku tak ingin membawa kendaraan ini masuk. Untungnya aku kenal baik dengan pemilik Konter di depan rumah ibu. Kami sering mengobrol setiap kali aku datang merawat bunga-bunga ibu yang banyak.Berjalan mengendap, aku merasa semakin curiga dengan perkumpulan dirumah ibu kali ini. Entah kenapa, aku merasa jalan belakang lebih menguntungkan untuk aku datangi. Perlahan aku berjalan ke samping rumah, dan melihat semua saudara mas Fandi berkumpul di ruang Tengah."Fandi sudah berangkat dulu, kita bersiap saja untuk segera kerumah mempelai wanita !"Deg !Darahku berdesir hebat, kuhentikan langkahku di balik jendela. Aku duduk berjongkok di bawahnya.Mungkinkah ibu dan yang lain juga terlibat dalam penghianatan ini?"Kalau mbak Sri tiba-tiba kesini bagaimana? " Fina, adik mas Fandi bertanya."Kalau dia kesini ya kita sekap saja ! Apapun yang terjadi, pernikahan Fandi dan Kila harus berjalan lancar !" Kali ini suara mas Robi, terdengar menyahut."Mas Robi benar. Jika sampai pernikahan ini gagal, mas Fandi juga bisa batal memberi kami modal usaha." Danu, suami Fina berucap.Jahat ! Mereka semua jahat!"Seharusnya kita tak melakukan ini mas, Sri anak yatim piatu, bukankah kejam membuatnya menderita seperti ini." Mbak Lia, istri mas Robi bicara."Melakukan apa Lia? ini keputusan Fandi sendiri. lagi pula siapa yang betah dengan Sri, kampungan, gak pandai membawa diri. Fandi itu direktur di pabrik teh ternama, apa pantas punya istri seperti si Sri itu?" Suara Mas Robi meninggi."Iya, jangan sok baik mbak. kita semua sama, hanya ingin uang dari mas Fandi saja. Soal mbak Sri, biar jadi urusan mereka. Toh lebih cantik mbak Kila kemana-mana, aku juga gak malu mengakui dia sebagai kakak ipar." Fina berucap.Apa yang wanita itu katakan! Dia yang mendapat gelar sarjana karena jerih payahku, tegang bicara seolah aku ini wanita yang begitu hina!Hatiku memanas, ternyata aku datang ketempat yang salah. Mereka semua bersekongkol membuatku menjadi wanita bodoh. Selama ini sikap baik ku membuat mereka semua jadi tak tau diri.Bisa saja aku datang mengumpat mereka semua, Tapi tidak, aku tak boleh ketahuan disini, mereka bisa menghalangiku datang ke acara mas Fandi.Perlahan aku mundur meninggalkan rumah ibu mertuaku. aku lajukan motorku kembali kerumah. hatiku sakit, namun lebih sakit menyadari kebodohan ku sendiri.Untuk apa aku jadi wanita baik ? Jika segala pengorbananku tak ada harganya sedikitpun.Aku ambil ponselku dan menghubungi seseorang. " Kirimkan semua asetku kembali kedalam rekeningku ! Persiapkan diri kalian, aku punya tugas baru !" Aku menutup telepon segera.Ada yang harus tau siapa Sri Rejeki itu. Jika kau anggap aku wanita desa yang kampungan, akan aku perlihatkan dimana posisiku sebenarnya !Sampai dirumah, aku siapkan segalanya. Kukeluarkan mobil dari dalam garasi dan memasukkan motorku kembali. Aku merasa agak canggung saat duduk dibelakang kemudi. Semenjak menikah, aku memang tak pernah lagi mengemudi sendiri. Mas Fandi bahkan tak tau, istrinya ini bisa menyetir.Aku menjemput Lala di sekolahnya, gadis kecil terkejut. Aku menjemputnya sebelum ia pulang."Ada apa sih ma?" Dia bertanya saat ku gandeng keluar sekolah."Gak ada apa-apa. Lala hari ini mau kerumah baru."Gadis itu menatapku lekat saat kubukakan pintu mobil Ayahnya. "Mama sendiri? Mana Ayah?" Dia kembali bertanya saat melihat kedalam mobil."Ayah pergi keluar kota kan? Jadi kita akan pergi sendiri kerumah baru." Ucapku lalu menutup pintu mobil dan berjalan ke kursi kemudi di sisi yang lain.saat aku duduk, Lala masih melihatku heran. "Mama bisa nyetir?" Diterlihat cemas."Bisa, Lala jangan khawatir ya, mama jago nyeri."Lala tersenyum lalu memasang sabuk pengaman nya. Aku lalu mebawa Lala Ke rumah ku di Tawa
"Ganti rugi semua perbuatanmu." Kila mendekat dengan wajah berapi-api.Aku mendorong tubuhnya menjauh. "Jangan menyentuhku, kau dan aku beda kasta!" Ucapku membuatnya semakin marah."Arrkk, kau lihat istri kampunganmu itu mas?" Kila berjalan mendekati mas Fandi. Telunjuknya masih menunjuk kearahku. " Bajunya saja tak sebanding dengan bajuku, berani nya dia menghinaku dipernikahanku sendiri!" Kila mencoba membuat mas Fandi terpancing amarah.Aku memandang bajuku sendiri. Ah, aku lupa mengantinya sebelum kemari. Biarlah, baju ini juga bagus, paling tidak auratku tak terumbar kemana-mana."Dari mana kamu bisa menganti semua kerugian ini Sri? Berapa tabunganmu sampai berani menyewa alat berat?" Mas Robi kembali merendahkanku."Berapa ganti rugi yang kau minta?" Aku bertanya pada Kila dan keluarganya."Sepuluh juta ! Jika tidak, aku bawa kau kekantor polisi!" Ucap bapak wanita itu.Semurah itukah hargadiri keluarga ini?"Ahahahaa, jangankan sepuluh juta, sekarang dua juta saja, mbak Sri p
Pov Fandi.Kedatangan Sri dalam pernikahanku dan Kila membawa banyak sekali masalah. Ia menghancurkan tempat resepsi, membuat gaun pernikahan kami penuh minyak cabai, bahkan menjual mobil dan rumahku di Karanganyar. Dan kini, aku melihat mobil seharga milyaran, menjemputnya dengan seorang bodyguard. Ada apa ini?"Mas lihat sendiri, apa yang sudah dilakukan istri kumalmu itu?" Kila menarik lenganku dengan kesal. Aku tau dia jengkel, semua yang dia atur sejak beberapa bulan lalu, hancur hanya dalam hitungan menit. Menang keterlaluan sekali si Sri itu !" Apa yang akan kita lakukan Fan, tamu undangan sebentar lagi mula berdatangan!" Bapak Kila bertanya dan aku hanya bisa diam. Otakku sedang memikirkan banyak hal tentang Sri, bagaimana bisa aku memikirkan resepsi ini juga."Mas, kenapa diam, Bapak sedang bertanya!" Kila menguncang tubuhku.Aku menepisnya dengn kesal. "Diamlah Kila, aku sedang berfikir!"Wanita itu berangsut mundur, menatapku tak suka, dia terlihat berkaca-kaca. Biarlah,
Pov Fandi.Ini akan jadi malam panjang. Aku bisa mati berdiri jika tak bisa mengganti semua uang Bapak Kila. Bagaimana ini?Kuseka keringat yang menetes di pelipis. Beginikah rasanya dapat masalah dengan mertua?Selama ini, aku menikahi Sri yang hidup sebatang kara. Mau kuapakan juga tak akan ada yang membela. Tapi sekarang, Kila punya orang tua yang super banyak aturan.Gluduk.... gluduk...Suara gemuruh terdengar dari langit. Kilatan cahaya juga terlihat dari sisi kiri tempatku duduk. Gulungan awan hitam itu perlahan mendekati tempat kami berada.Jangan sekarang langit, aku mohon jangan menambah kesialan ini dengan air kirimanmu!"Mas, kok mau hujan?" Kila terlihat panik. Dia berdiri dan mengamati langit di atas teras rumah. Sementara aku, Tentu saja lebih panik. Harusnya hujan tak datang di hari sepenting ini, di musim kemarau juga.Apakah banyak orang yang berdo'a agar air langit itu segera turun?Belum juga kutemukan ide mengatasi masalah ini, tetesan air sudah jatuh ke tanah. T
"Nyonya baik-baik saja?" Suara Arman membuyarkan lamunanku."Baik, aku baik man, hanya entahlah, mungkin begini rasanya patah hati." Aku mencoba tersenyum. Meski sesak masih menjalar, siapa yang tak terluka, datang di dalam pernikahan suami sendiri.Berusaha memejamkan mata, tapi sungguh aku tak dapat merasakan kedamaian. Bagaimana akan aku katakan pada Lala, tentang apa yang sudah terjadi. Mungkinkah bijak, membagi kisah ini pada gadis sekecil dia."Jika boleh saya bertanya nyonya." Kembali Arman membuatku melihatnya."Iya, katakan?" "Siapa orang yang memakai baju pengantin tadi?"Aku tersenyum. "Kau lupa man, Lelaki kurus kering yang Bapak bilang mirip Cacing kremi itu" Aku menjelaskan. Aku tak pernah memperkenalkan Mas Fandi pada Bapak angkatku, sejak awal beliau tak pernah setuju. Tak adakah lelaku lain yang lebih pantas untuk menyandingmu nduk? Lelaki macam cacing kremi begitu mau menikahimu ?Kalimat itu terucap saat aku baru menunjukkan selembar foto mas Fandi. Namun Bapak
Memiliki Bapak seperti Tuan Lee, tak pernah sedikitpun terlintas dalam imajinasi seorang yatim piatu sepertiku. Aku bahkan tak tau siapa dirinya, saat pertama kali kami bertemu dulu.Saat duduk di bangku sekolah dasar. Aku berjualan pukis setelah selesai sekolah, uang hasil jualan biasa ku beli kan sesuatu yang begitu aku inginkan. Baju , sapatu atau apapun yang anak seusiaku inginkan. Sebagai anak panti, uang jajanku di jatah dan tak akan bisa bertambah meski kami terus merengek meminta. Bagi kami, memiliki uang lebih adalah sebuah kemewahan."Makan ini om" Kusodorkan dua pukis pada lelaki dengan Baju lusuhnya. Ia menatapmu sekilas dan melahap juga pukis itu tanpa jeda. Tangannya menegadah lagi. Kuberikan saja pukis terakhir di dalam Keranjang."Thankyou..." Hanya kata itu terucap. Dia lalu berdiri mendekati kran air di ujung taman kota. Menenggak dengan segarnya air yang keluar.Aku yang hanya anak kecil sebatang kara, bahkan tak tau apa arti kalimat yang di ucapkan lelaki itu. S
Mas Fandi melepaskan ku. Aku bisa melihat tangan kosongnya mengepal kuat. Urat nadi nya keluar, menahan amarah yang pasti sangat bergejolak.Kurapikan jilbab dan gamisku. Sementara Arman masih mengacungkan pistol nya. Ternyata, mas Fandi sedang cemburu buta pada pengawal ku sendiri. Arman memang bukan lelaki jelek. Dia lebih gagah dari mas Fandi. Tingginya hampir 180 cm. Dengan garis rahang yang tegas, dan potongan rambut pendeknya, siapapun bisa melihat bahwa dia orang yang sangat serius."Turunkan pistol mu Man." Aku menarik tangan Arman kebawah. Dia dengan sigap memasukkan kembali pistol ke belakang tubuhnya. Namun matanya. Bagai elang, berkilat tajam menatap gerak-gerik mas Fandi.Mengerikan ! Beginikah pembunuh bayaran beraksi? Bapak tak akan sembarangan menerima anak buah. Mereka haruslah memiliki kemampuan di atas rata-rata. Paling tidak, kemampuan bela diri nya sudah mempuni. Dan Arman adalah satu, dari ratusan anak buah Bapak yang b
"Nyonya baik-baik saja?" Arman bertanya padaku yang masih berusaha mencari ketenagan.Kugeser dudukku agar lebih nyaman. '" aku baik man, tenanglah." "Menurutmu man, apakah fisik yang sempurna itu penting untuk semua lelaki?" Arman diam sebentar, lalu kembali melihat kearah ku. "Apa bedanya manusia dan hewan, jika hanya sebatas mengandalkan fisiknya untuk membuat pasangan kita tertarik?" Aku mengerutkan alis. " Maksudnya?""Burung merak mengepakkan sayap cantiknya untuk mencari pasangan di musim kawin, beberapa hewan bahkan memberikan bau khas agar pasangannya tertarik. Tapi hanya beberapa yang setia seperti merpati dan pinguin kan?""Otakku tak sampai man, jangan membuatku berfikir keras.""Mereka hewan nyonya, sah saja berganti pasangan dan berhubungan dimanapun. Tapi manusia? Kita ini diberi akal lebih, begitu rendahnya nilai kita bila hanya melihat sesuatu dari fisiknya !"Aku terdiam, meski kenyataan dil
Jani mengambil foto di tangan Leon dan memperhatikan lebih jelas, gadis bermata abu itu memang nampak sanggat bahagia bersanding dengan seorang anak lelaki kecil dengan rambut menutup poninya."Ini_" Jani menghentikan kalimat nya dan menatap ke arah Leon."Ya, itu aku. Meski tak kamu ingat kita adalah sahabat kecil Jani..Kata Jani berkaca menatap ke arah Leon, memperhatikan setiap lekuk wajah lelaki nan tampan itu dengan seksama."Benarkah itu dirimu? sahabat yang kadang hadir dalam mimpiku, aku selalu bertanya itu kisah siapa, sebab ta ada yang aku ingat dari masa lalu ku selain karena sepenggal kisah yang ku denggar dari bapak yang membesarkan ku."Jani berkata dalam hati, air mata nya turun tanpa sadar, membuat wajahnya yang putih merona kemerahan sekarang."Ada apa sayang?" "Sekarang aku tau kenapa kamu begitu baik padaku." Ucap nya lirih.Ya, selama ini Jani selalu merasa bersyukur sebab masih di beri hidup lebih lama, mengucap terimakasih pada Leon dalam hatinya sebab memberin
"Karena kamu tau segalanya Jani, kamu kehilangan ingatanmu saat mengalami kecelakaan setelah bertemu dengan Lenzia, itu pertemuan terakhirmu, sebab Lenzia menghilang setelahnya." Leon menjelaskan dengan gamblang"Jadi aku pernah bertemu dengan Lenzia?""Ya, dan Aini mencoba juga untuk membunuhmmu."Sri dan Jani sama-sama terkejut, menghadapi kenyataan yang teramat berat sekarang. ""Dan wanita tadi adalah Aini? ." Ucap Jani membuat Sri menatap nya serius."Kalian sudah bertemu Aini?""Iya, kami tak sengaja bertemu dengannya saat aku turun membeli minum, dia hampir membunuh Jani.""Dia terus menyebut ku Lusia.""Ya karena itu yang dia tau, dia hanya mengenal nama Lenzia Jani." Leon kembali menjelaskan dan membuat Jani semakin diam."Dimana kalian bertemu Aini?" Sri penasaran."Di minimarket tengah hutan.""Begitu? aku harus segera mencarinya." Sri berdiri, dia ingin bicara lebih banyak namun Sepertinya Aini jauh lebih Penting sekarang."Sepertinya aku harus permisi dulu, kami sudah lam
Sri tersenyum menyetujui, dirinya memang harus mengatakan banyak hal pada Jani sekarang."Saya janji tidak akan memaksa, bila nona Lusia berkenan saya pergi, saya akan pergi." Ucap Sri jujur, dia tak ingin mengusik Lusia yang sedang sakit namun jika wanita itu meminta penjelasan, Sri tentu saja lebih senang mendengarnya."Baiklah, hanya sebentar saja, tanyakan saja apa yang ingin kamu dengar dan setelah itu istirahatlah."Jani tersenyum dan mengganggukkan kepala. "Terimakasih sayang, terimakasih." Ucap Jani dengan wajah merona, mereka lalu masuk ke dalam kamar Leon.Leon meletakkan Jani ke atas tempat tidur, Jani bersandar pada tempat tidur nya dan Leon menyelimuti wanita itu hingga menutupi sebagian tubuhnya yang putih. Sri duduk di sisi ranjang, melihat betapa Leon memperlakukan Jani dengan istimewa, dia yakin lelaki ini memang tulus mencintai Jani."Katakan segera yang ingin anda katakan." Leon bicara dengan tegas, tak ingin Janin terusik lebih lama lagi.Jani menyentuh lengan keka
"Wanita ini menyebutku Lusia, Leon." Ucap Jani pada Leon membuat Leon juga merasa tak tenang."Dia menyebut Lusia, Leon! Dia tau Lusia!!" Jani terdengar panik, memeluk Leon dalam ketakutan.Leon mendekap mendekap erat Jani, menatap menatap marah pada apa yanh baru saja Aini lakukan, dia tak mengenal Aini, namunn beraninya wanita otu bahkan menyakiti orang yang sangat dia lindungi."Bawa dia pergi!" Ucap Leon kesal, dia ingin membuat. perhitungan pada Aini, namun menenangkan Jani jauh lebih penting sekarang.Leon melihat Aini di bawa paksa pergi, sementara Jani yang ketakutan merosot terduduk di lantai pelataran, dia terus menatap Aini yang menjauh, tak dapat lagi berpikir biaik, Jani berharap semua yang di lalukan bisa membuat nya mengingat sesuatu."Kamu baik-baik saja sayangku?" Leon tertunduk, mendekap Jani penuh penyesalan."Harusnya aku tak meninggalkan mu sendirian. sayang." Ucapnya merutuki kebodohan nya sendiri.Jani menangis kencang, tangisan yang entah kenapa tiba-tiba saja
"Jauhkan tanganmu, siapa kamu!" Jani berteriak histeris, tatapannya melihat ke arah dalam minimarket"Kenapa kamu cantik? Aku benci saat kamu cantik!'" Ucap Aini kesal, tangannya terus mencoba menyentuh wajah Jani."Kemari kami sialan!" Aini meremas kuat kerah baju Jani, membuat ia gemetar karena histeris."Tidak!.... tidak!" Ucapnya kencang dan sebuah ingatan masa lalu kembali muncul....Jani melihat wanita berparas mirip dirinya berlari letakutan dengan perut membesar, entah apa yang sudah di lalui hingga gaun putih yang di kenakan berlumur darah dan tanah, dinginya malam bukanlah musuh terbesarnya, dia lebih takut jika bayi dalam dekapan itu lepas dari pelukan. "Jangan mencoba lari Lusia!" Teriakan itu begitu nyaringo dan lantang terdengar.Lusia gemetar dalam tangis, berjongkok pada rimbunya dedaunan kecil dan ilalang, berharap diri nya tak di temukan."Lusia!" Teriakan itu kembali terdengar, tubuh kecil Lusia semakin gemetar."Sabarlah sayang, mama akan membawamu pulang, kita ak
"Aku ingin tau apa yang terjadi Leon, aku mohon katakan sesuatu." Ucapnya meminta, segala hal yang menimpanya begitu menyiksa dan membuat dirinya bertanya."Perlahan saja sayang, kita akan bicara nanti." Ucap Leon lalu membawa Jani masuk ke dalam mobil mereka.Meninggalkan rumah kosong yang serasa tak asing bagi jani, rumah yang sepertinya sangat dia kenal namun tak bisa di ingat lebih baik.Mobil Leon membelah malam sunyi, melewati hutan yang lebat dengan hanya satu, ldua penerangan minim, mereka hanya berdua saat datang dan pergi, menyisakan kesunyian nyata setiap kali tak ada suara di antara mereka."Kenapa diam?" Tanya Leon, ia masih Melihat Jani terdiam Menatap ke luar jendela."Rasanya aku pernah ada di sini." Ucapnya sembari melihat ke arah rumah kosong di sisi jalan.Leon berhenti mendadak, menatap ke arah rumah kosong di sisinkanan mereka, rumah tangga memang sejak lama tak di tempati, namun kenapa Jani merasa pernah ada di sana?"Kamu yakin pernah ada di sana?"Jani mengangg
Aini menjerit di depan toko, dia takut sebab Fandi sudah meninggalkan dirinya sendiri di tempat asing, pegawai toko juga ketakutan sekarang, Aini bisa saja melukai orang karena tertekan. "Wanita murahan!" Tiba-tibsa saja kalimat itu keluar dari bibir Aini, dia teringat pernah menyebut nama itu begitu sering dulu.Aini terduduk di trotoar jalan, uang yang di genggamnya ia lepas begitu saja, ia menatap nanar ke jalan yang sepi, seakan dirinya bisa saja tenggelam dalam gelap.Aini mengingat betul dia pernah hidup mewah, namun entah kenapa sekarang semua hanya bergantung pada saat orang memberinya perhatian dan cinta. "Kenapa kamu pergi mas!" Aini menangis lagi, kali ini bayang wajah Arka suaminya tergambar jelas, lelaki itu bahkan telah damai sekarang.Aini begitu mengingat bagaimana Arka yang tak pernah berbuat jahat padanya dulu, masih menjadi lelaki yang menempati hatinya selain Satria. Dia bahkan rela menyingkirkan semua rintangan yang ada hanya untuk menempati ruang yang tak lagi
Sementara Fandi dengan perasaan tak menentu memutuskan pulang ke Solo, dia tak ingin mendapat masalah dengan bertemu lelaki seperti tuan Cien. Bergegas dia berjalan ke kamar dan melihat Kila tertidur dengan baju terbuka."Ada apa Sayang?" Kila bertanya dengan cemas, melihat Fandi membuka lemari baju dan mengemasi barangnya."Ayo pulang sekarang." Ucapnya kesal terus di tanya namun Kila masih tak memahami situasi yang ada."Kenapa mendadak pulang?""Ya karena kita memang harus pulang Kila!" Ucap Fandi kesal. "Bantu aku berbenah dan jangan banyak tanya!" Ucapnya lagi lalu melanjutkan lagi menata pakaiannya.Dengan kesal Kila medekat, menarik kopernya juga ke depan lemari dan ikut memasukkan barang-barangnya."Padahal kita baru berapa hari di sini!" Ucapnya ketus."Kalau kau mau di sini terus, silahlan! aku mau pulang!" Ucap Fandi lagi dengan nada tinggi, dia benci sekali saat Kila merajuk tanpa alasan.Fandi menatap Kila dengan wajah tak suka."Harus nya kau malu bilang begitu, aku suda
"Kau tau tempat ini?" Leon bertanya dengan alis terangkat.Jani menggelengkan kepalanya, meski merasa tak asing namun dirinya tak dapat mengenali lingkungan tempatnya barada sekarang."Aku tak tau, ada sesuatu di sini?" Jani berusaha mengingat, namun tak dapat menemukan serpihan cerita dari tempatnya berada sekarang."Ayo kita masuk, mungkin kamu akan menemukan jawabannya. " Ucap Leon membuka pintu mobil nya dan segera berjalan ke sisi yang lain."Ayo keluar." Ucap Leon lagi, menarik jemari kecil Jani keluar dari dalam mobil mereka."Aku tak mengerti." Jani masih mematung di tempat, takut bila Leon berbuat sesuatu yang mungkin membuat dirinya merasa kecewa."Kau hanya perlu mengikuti kata hatimu, tak ada yang perlu di mengerti Jani, aku tak akan pernah membuatmu merasa terluka, percayalah!" Ucap Leon meyakinkan wanita di hadapannya itu.Mata Jani keluar menelisik ke sekitar tempatnya berdiri, sebuah pelataran kecil dengan pohon mangga besar di dekat pagar rumah itu, membuat hati kecil