Pagi ini Daxton berangkat sekolah diantar oleh Wilman yang semalam menginap di Guiner Mansion, dan tidur di kamar Daxton."Biar aku yang mengantar Daxton," ucap Wilman menggandeng tangan mungil cucu lelakinya.Gozard hanya menganggukkan kepala, ia membiarkan sang Ayah untuk mengantar Daxton ke sekolah. Yah, ia tidak akan mau mencegah Ayahnya, karena tahu sang Ayah pada akhirnya akan tetap memaksa."Baiklah, hati-hati!"Wilman menganggukkan kepala lalu berjalan bersama Daxton keluar dari Guiner Mansion menuju SUV hitam milik Wilman yang terparkir di pelataran Guiner Mansion sejak malam tadi.Kini SUV hitam yang dikendarai Wilman telah melaju meninggalkan kawasan Guiner Mansion, membelah jalanan kota Evanesant yang ramai tetapi lancar.***Setibanya di kelas Daxton harus kembali menghadapi ejekkan dari teman-temannya, mereka mengejek dan meledek Daxton yang diantar ke sekolah pagi ini oleh Wilman.Memangnya apa salah Daxton? Apa terlahir kaya adalah sebuah kesalahan?"Beberapa hari lalu
Setelah permainan bola itu usai Darcel mengantar Daxton ke ruang perawatan kesehatan sekolah untuk mengobati lutut anak lelaki itu."Bagaimana, Daxton? Apa lututmu masih sakit?" tanya Darcel menatap Daxton yang lututnya baru selesai diobati oleh Dokter pihak Evanest School.Daxton tersenyum. "Aku sudah tidak apa-apa, ini sama sekali tidak sakit."Darcel membalas senyum itu lalu menganggukkan kepala, "Kau tadi bermain bola dengan sangat keren, Daxton," ucap Darcel memuji Daxton sembari mengacungkan jempolnya."Terima kasih, tapi kau lebih keren karena bisa menendang ke gawang tim merah," balas Daxton membuat Darcel terkekeh."Ya, ya terima kasih tapi itu juga berkat operan darimu, Daxton."Kini suasana mendadak hening, Daxton yang tenggelam dalam pikirannya dan Darcel yang juga sama-sama tenggelam dalam pikirannya sendiri, mengingat ucapan dari Eisen saat tadi Darcel hendak menghampiri Daxton yang jatuh dan lututnya terluka.Kadang Darcel terheran-heran atas setiap kata yang diucapkan
"Selamat siang, Tuan!" sapa seorang body guard berambut cokelat gelap dengan alis tebal dan luka goresan di alis kanannya. Ia adalah body guard kepercayaan Gozard selain Nozer, namanya Notarzd Rinz.Gozard yang tengah menulis sesuatu di meja kerjanya menganggukkan kepala, dan melalui tatapan mata mempersilakan Notarzd untuk menjelaskan alasan kedatangannya menemui Gozard."Tuan Kaslo Nesser mengirim surat untuk anda," ucap Notarzd lalu dengan sopan menyerahkan selembar surat di tangannya pada Gozard.Tampak Gozard menghela napas lalu menganggukkan kepala usai menerima surat barusan."Kalau begitu saya undur diri, Tuan!" ucap Notarzd berpamitan dengan sopan pada Gozard."Yah, silakan!" balas Gozard dengan wajah tanpa ekspresi.Sepeninggal Notarzd, lelaki yang merupakan Ayah dari Daxton dan Darcio itu hanya diam memandangi selembar surat di meja kerjanya.Ada apa sebenarnya? Kenapa Ayah mertua mengirim surat? Tidak biasanya ia begini. Batin Gozard bertanya-tanya dan tangannya mulai meng
Siang ini di halaman belakang House Of Nesser, telah berkumpul para cucu Kaslo Nesser. "Vivianne, kalau nanti kau satu sekolah dengan Darcio, kau harus akur dengannya ya," ucap seorang remaja perempuan berusia 17 tahun, rambutnya cokelat gelap dikepang satu dengan pita yang mengikat di ujung kepangan, wajahnya putih bersih dengan alis tebal, bulu mata lentik, dan bibir tipis. Ia adalah Rose Nesser saudara kembar dari Ronaz Nesser."Aku selalu akur dengan Darcio, Kakak perempuan," balas Vivianne yang rambutnya tengah dikepang oleh Rose. Yah, anak perempuan berusia 4 tahun dengan wajah putih bersih alis tipis, mata bulat dan bibir agak tebal itu adalah Vivianne Nesser putri bungsu dari Evans Nesser dan Nancy Nesser.Rose tersenyum, "Bagus kalau begitu, kalian harus saling menjaga satu sama lain, kau setuju?" Vivianne dengan senyum lebar dan mata berbinar menganggukkan kepala, anak perempuan itu sedikit menolehkan kepalanya pada Rose yang memang be
Siang ini sepulang sekolah Daxton telah berjanji pada Darcel bahwa ia akan datang ke panti asuhan Evanest House bersama Darcio.Tapi siapa sangka siang ini di rumahnya ada Vivianne yang datang dengan senyum lebar bersama Dyvette Abeyr yang merupakan body guard perempuan sekaligus pengasuh Vivianne.Gozard dan Posie selalu senang tiap kali Vivianne datang kemari, mereka memang hanya membenci Evans saja. Selain itu hubungan mereka dengan Nancy, Vivianne atau pun Vezord baik-baik saja."Hai, Vivianne, kau mau bertemu dengan Darcio?" Gozard bertanya dengan senyum yang tampak di wajah tegasnya.Posie yang tengah mengepang rambut Vivianne tersenyum."Aku mau bertemu Darcio dan Kakak lelaki Daxton," ucap Vivianne membalas senyum Gozard.Lelaki itu menganggukkan kepala lalu berpamitan pada Posie dan Vivianne, ia hendak pergi ke tambang batu bara, memastikan semua berjalan lancar di sana.Di ruang baca itu tersisa Posie dan Vivia
Seorang lelaki paruh baya tengah berdiri di pelataran rumah besarnya yang ia sebut House Of Nesser.Kini lelaki paruh baya itu menghela napas. "Sudah lama sekali sejak kepergianmu, aku telah mengubah beberapa bangunan di rumah impian kita ini, Leticia. Maafkan aku."Lelaki paruh baya itu bergumam seorang diri, yah seperti biasa karena tak ada yang bisa ia ajak bicara di rumah yang terlalu besar hanya untuk ditinggalinya seorang diri, walau memang ada beberapa pelayan dan body guard, tetapi mereka semua tinggal di bangunan terpisah, lebih tepatnya di pavilliun.Wilman Guiner adalah nama dari lelaki paruh baya barusan, lelaki paruh baya yang di hari tuanya kesepian, dan kerap kali mengalami sakit kepala apabila mengingat kembali sebuah kejadian di masa lalu yang selalu ingin ia lupakan.Wozard, Gozard, dan Ellesta. Semua hal tentang tiga nama itu telah memengaruhi Wilman dalam menjalani hari-harinya saat ini. Ia bahkan membayangkan jika kejadian mengerikan itu tak pernah terjadi di masa
Wozard sesungguhnya ingin marah, ingin berteriak sekeras-kerasnya di hadapan wajah adik lelakinya itu, tetapi ia sadar dengan melakukan itu semua tidak akan mengembalikan masa lalu, tidak akan menyatukan keretakan yang terjadi antara dirinya dan Gozard.Kemarahan hanya akan menghilangkan segala hal yang berada dalam genggaman, dan lagi pula Wozard bukan seseorang yang senang marah-marah, ia bukan seseorang yang marahnya meledak-ledak, ia adalah lelaki yang ketika marah hanya diam, menganggap seluruh hal yang ia benci tak pernah tampak di matanya, termasuk Gozard saat ini.Wozard tidak pernah ingin mengingat lagi kalau ia pernah memiliki Gozard sebagai adik laki-lakinya, ia tidak ingin mengingat kembali betapa ia menyayangi adik laki-lakinya itu, ia tidak ingin mengingatnya bahkan sampai mati nanti.Inilah yang mengerikannya dari seorang lelaki seperti Wozard, ia tidak akan marah dan melampiaskannya dengan pukulan, ia hanya diam, mengumpulkan seluruh rasa sakit yang jika suatu hari itu
Malam telah tiba dan Gozard menyadari Nozer yang ia suruh untuk menjemput Daxton tak kunjung pulang."Kemana sebenarnya Nozer dan Daxton?" Dengan perasaan gelisah Gozard mencoba menghubungi nomor ponsel Nozer berulang kali, sayangnya nomor itu justru tak dapat dituju karena tidak aktif, sekiranya begitulah bunyi operator tiap kali Gozard mencoba menghubungi Nozer.Posie juga tampak gelisah, perempuan berambut cokelat gelap yang malam ini dibiarkan tergerai itu berulang kali menatap jendela, berharap Nozer segera kembali dan membawa putra sulungnya-Daxton Guiner."Kau sudah menghubungi Ayah?" Gozard bertanya membuat Posie menganggukkan kepala dengan rasa khawatir juga gelisah yang tak kunjung reda.Kemana? Kemana Daxton pergi? Batinnya sembari berharap putra sulungnya baik-baik saja.Tak seberapa lama Kaslo dan Wilman datang bersamaan ke Guiner Mansion, dua lelaki paruh baya itu langsung bergegas begitu mendapat kabar Daxton belum juga pul
Hari libur telah berakhir. Waktunya bagi Daxton untuk kembali ke sekolah. Sejujurnya Daxton tak senang ke sekolah. Apalagi bertemu dengan Nafferic, dan teman-teman kelasnya.Pagi ini Daxton kembali naik bus sekolah. Seperti yang diucapkan oleh Gozard, bahwa ia harus mulai mandiri. Termasuk tidak diantar jemput lagi.Ban bus berderit, dan berhenti tepat di depan sekolah.Daxton segera keluar dari bus. Hari ini ia bersemangat ke sekolah. Dan berharap bisa segera pulang untuk ikut ke rumah sakit. Ibunya bilang Daxton akan bisa melihat calon adiknya nanti."Hai, Daxton! Selamat pagi!"Seulas senyum terbit di wajah Daxton begitu saja. Ia bahkan membalas lambaian tangan dari seseorang, yang menyapanya."Selamat pagi, Darcel!"Darcel tersenyum lebar, walau ia sedikit heran karena menyaksikan Daxton, yang pagi ini tampak ceria."Ayo masuk ke kelas!" Sekarang Daxton bahkan mengajak Darcel dengan riang.Sejujurnya Darcel ingin bertanya. Tetapi, ia terlalu senang untuk menyaksikan Daxton yang ri
Jonas termangu menatap tangan kirinya yang dipasangi infusan."Apa yang sebenarnya terjadi, Jon?" tanya Wozard seraya menghela napas.Jonas mengerjap. Ia lalu meringis menatap ayahnya itu."Bisa kau jelaskan pada ayahmu ini?"Jonas menganggukkan kepala ragu.Ia lalu mulai menegakkan tubuhnya perlahan, dibantu oleh Wozard."Aku—" Jonas berhenti sejenak seraya mengamati wajah Wozard. Sejujurnya ia tak cukup berani untuk berhadapan dengan ayahnya, menjelaskan tentang semuanya.Padahal ia sendiri telah berjanji untuk tak terlibat masalah apapun. Tapi, ia telah gagal menepati janji itu. Ini tentu amat disayangkan."Bagaimana, Jon? Aku akan mendengarkanmu, tenang saja," ucap Wozard menyadari putranya tampak kesulitan untuk menjelaskan.Jonas menghela napas lalu mengganggukkan kepala. "Aku terlibat keributan lagi. Padahal aku sudah berjanji pada ayah untuk tak terlibat keributan apapun lagi," ucapnya dengan raut wajah bersalah."Aku mengerti, Jon. Kau mungkin punya alasan mengapa kau harus m
Hari libur. Seharusnya Daxton bisa menikmati hari libur dengan bermain. Seperti kebanyakan anak-anak sebayanya. Tapi, ia bukan bagian dari anak-anak itu.Sejak tadi Daxton hanya duduk diam di meja makan. Mendengarkan obrolan Gozard, dan Posie. Tak ada obrolan hangat semacamnya. Itu hanya obrolan politik, yang tak dipahami oleh Daxton sama sekali.Setelah berbincang cukup lama. Dan mengabaikan Daxton. Akhirnya Gozard dan Posie menatapnya."Kau harus ikut ayahmu hari ini, Daxton," ucap Posie dengan tenang. Raut wajahnya tanpa ekspresi.Gozard menghela napas. Ia menatap Posie sebentar, lalu kembali menatap Daxton. "Ayo pergi, Daxton!" ajak Gozard yang kini sudah bangkit dari kursinya.Daxton segera turun dari kursinya. Ia menatap Posie sebentar, lalu segera menyusul Gozard yang sudah berjalan menjauhi ruang makan.Begitu masuk ke mobil, dan duduk di bangku penumpang bersama Gozard. Daxton melirik ayahnya itu sebentar. Ia lalu kembali menundukkan kepala."Ada apa? Kau ingin bertanya sesua
Satu minggu telah berlalu.Daxton duduk termenung di danau belakang Guiner Mansion. Wajah anak lelaki itu begitu murung."Tuan Muda!" Sampai Nozer datang menyapanya dengan senyuman hangat."Nozer!" Daxton segera menggeser tubuhnya, seolah mempersilakan Nozer untuk bergabung, duduk di batang pohon tumbang yang telah lama mati itu."Selamat siang, kenapa Tuan Muda di sini seorang diri?" Nozer bertanya dengan hangat. Lelaki itu tak duduk di sebelah Daxton, melainkan berlutut di hadapan sang majikan muda.Kemurungan kembali datang di wajah Daxton, dan Nozer segera mengerti apa yang menjadi penyebab kemurungan itu."Tuan pasti memiliki alasan mengapa melarang Tuan Muda untuk mengikuti karya wisata ke museum," ucap Nozer seraya bangkit dan menepuk bahu Daxton.Alasannya karena ia tak ingin fokusmu terpecah, ia ingin dalam kepalamu hanya ada tentang politik. Malang sekali dirimu, Tuan Muda. Dalam hati Nozer mengasihani Daxton. Tetapi segera lelaki itu menyadari, bahwa Daxton tak perlu dikasi
Setelah mendengar cerita Wozard mengenai sang Ayah, Daxton diam-diam melengkungkan bibirnya ke atas sembari menatap kukis cokelat di tangannya, makanan kegemarannya yang rupanya juga jadi kegemaran sang Ayah.Kali ini anak lelaki berusia 8 tahun itu mendongak menatap langit yang siang ini membiru cerah lalu beralih menatap Wozard."Jadi Ayahku juga suka kukis cokelat ya, Paman?"Wozard menganggukkan kepala dengan bibirnya yang melengkung ke atas, menciptakan senyum hangat nan tulus di wajahnya.Ayah suka kukis cokelat, aku baru tahu, batin Daxton sembari menatap kukis cokelat di tangannya yang tinggal separuh."Dulu aku selalu membelikan banyak kukis cokelat untuknya, tapi ...," ucapan Wozard terhenti, ia mendongak menatap langit, "Aku tidak tahu akankah ia masih menyukainya hingga saat ini atau tidak."Daxton menunduk dalam, anak lelaki berusia 8 tahun itu menatap lama kukis cokelat di tangannya.Benar, aku tidak pernah lihat Ayah makan kukis cokelat, apa Ayah sudah tidak suka lagi y
"Ti-tidak bisa, sebaiknya kau ba-bantu aku u-untuk ke rumah Dok ...."Iris langsung berjongkok kembali begitu Jonas pingsan, perempuan itu menatap sekeliling dan tak menemukan apa pun yang bisa ia gunakan untuk membungkus luka Jonas. Pada akhirnya Iris memilih melepas jaket abu-abunya lalu merobek kemeja bagian bawah kiri dengan pisau yang ada dalam tas slempangnya.Dengan terburu-buru Iris segera mengikatkan robekkan kain barusan ke luka di perut Jonas, setelahnya remaja perempuan itu mengenakan kembali jaket abu-abunya."Bertahanlah, Kak!" ucapnya sembari memapah Jonas dengan susah payah, perlahan perempuan itu keluar dari gubuk berdebu di kawasan gang kumuh Kota Evanesant.Iris tadinya hendak menghubungi seseorang, tetapi sepertinya lebih baik membawa Jonas ke rumah sakit lebih dulu baru setelahnya menghubungi seseorang itu."Harusnya kau tidak melawan mereka seorang diri, Kakak lelaki," gumam Iris sembari terus berusaha memapah Jonas dengan benar.Setelah keluar dari gang kumuh it
Wozard menghela napas, ditatapnya lama Gozard lalu lelaki yang merupakan Kakak kandung Gozard itu menepuk bahu sang adik lelaki."Berhenti memaksakan sesuatu pada orang lain ketika kau bahkan di masa lalu juga tidak menyukai hal itu," ucap Wozard lirih lalu membalikkan badan hendak pergi dari Guiner Mansion."Tunggu!" seru Gozard menghentikan langkah sang Kakak lelaki.Wozard berhenti, meski begitu ia tak menolehkan kepala."Kenapa kau begitu peduli pada Daxton?"Wozard seketika membalikkan badan, wajah tanpa ekspresinya kini kembali terpampang di depan Gozard."Apa ada alasan untuk tidak peduli pada keluarga?" Wozard justru mengajukan pertanyaan balik, membuat Gozard pada akhirnya merasa jengah dan sedikit kesal."Baiklah, kau bisa pergi bersama Daxton, Kakak lelaki!""Terima kasih!" Meski kesal bahkan kecewa pada Gozard, sampai kapan pun Wozard benar-benar tak bisa membenci atau bahkan berdoa agar adik laki-lakinya ini mati, ia tidak bisa melakukannya meski sangat ingin."Sama-sama!"
Gozard hanya diam menatap putra sulungnya itu, tetapi berikutnya ia kembali menatap ke arah depan, tak lagi memfokuskan diri pada putra sulungnya, Daxton.Apa Ayah tidak marah? Batin anak lelaki berusia 8 tahun itu usai membuka mata, dan menyadari Gozard tak memarahi atau pun memukulnya.Daxton bahkan sampai menatap Ayahnya itu cukup lama, sampai Gozard berucap membuat ia jadi menundukkan kepalanya lagi."Jangan kira kau tidak akan mendapat hukuman, Daxton! Kau sudah melanggar aturan yang kubuat!"SUV hitam yang dikendarai oleh Nozer melaju semakin kencang membelah jalanan Kota Evanesant usai Gozard memintanya agar menambah kecepatan.***Begitu tiba di rumah, Gozard terkejut melihat siapa yang berdiri dengan wajah tenang di pelataran Guiner Mansion.Daxton yang melihat seseorang itu langsung berlari mendekat. "Paman Wozard!" Anak kecil itu lalu menyapa dengan sopan, tubuhnya membungkuk, yah sesuai dengan apa yang selalu diajarkan oleh Gozard dan Posie.Benar, seseorang itu adalah Woz
Daxton asik bermain bersama Darcel di taman belakang panti asuhan, tanpa pernah menyadari sang Ayah telah tiba di sana, sayangnya saat itu Vanderz telah pergi dari Evanest House untuk membeli beberapa buku baru."Kau lempar yang jauh lagi, Daxton!" seru Darcel sembari melempar batu ke arah danau.Daxton menganggukkan kepala lalu tangan kanannya sudah terkepal berisikan batu yang akan ia lempar ke danau, tiba-tiba saja sebuah suara menghentikannya."Daxton Guiner!"Tanpa perlu menoleh anak lelaki berusia 8 tahun itu sudah tahu suara milik siapa yang barusan menyebut namanya dengan lengkap.Perlahan Daxton dan Darcel menolehkan kepala mereka.Dan, mereka menemukan Gozard berdiri bersama Nozer agak jauh di belakangnya."A-ayah!"Gozard langsung mendekat lalu menatap Darcel dengan senyuman, dan beralih menatap Daxton dengan ekpresi wajah serius. Lelaki paruh baya itu bahkan berjongkok agar tingginya sejajar dengan sang putra."Kau tidak izin pada Ayahmu untuk pergi ke sini Daxton? Ada apa