Terlebih lagi, saat itu pencahayaan lampu di depan pintu restoran tepat di atas kepala mereka, membuat sisi wajah Arieson yang awalnya dingin selimuti cahaya, bahkan sorot mata pria itu terhadapnya juga tampak sangat lembut.Kalau dilihat seperti itu, memang sangat mudah membuat orang berpikir banyak.Namun, seharusnya itu adalah masalah sudut pengambilan foto. Saat itu, Arieson sedang berbicara padanya, tentu saja pria itu harus menatapnya. Dia tidak menyangka momen itu bisa secara kebetulan tertangkap kamera.Dia langsung menghubungi Weni."Ada apa dengan foto itu? Siapa yang mengambilnya?""Akhirnya kamu bangun juga. Foto itu diambil oleh seorang fotografer yang memiliki sedikit popularitas di dunia fotografi. Setelah mengambil foto itu, dia langsung mengunggahnya ke Instagram pribadinya. Siapa sangka, foto itu langsung gempar. Para netizen memuji kalian pasangan yang serasi ...."Setelah mendengar ucapan Weni, Rhea langsung terdiam.Walaupun dalam foto itu hanya sisi wajah mereka y
"Kamu nggak perlu memperingatkanku apa yang boleh kulakukan dan apa yang nggak boleh kulakukan."Begitu Arieson selesai berbicara, suasana di ruangan itu langsung berubah menjadi sangat hening.Paman dan keponakan itu saling menatap satu sama lain dengan ekspresi sedingin es, tidak ada seorang pun yang bersedia mengalah.Menyadari situasi sudah makin tidak benar, Tio buru-buru melangkah maju dan berkata, "Pak Jerico, begitu mengetahui masalah foto yang beredar di internet pagi ini, Pak Arieson sudah sedang menanganinya. Bagaimana kalau kamu pulang saja dulu?"Jerico mengalihkan pandangannya ke arah Tio dan berkata dengan dingin, "Pak Tio, kamu juga sudah mengikuti pamanku selama beberapa tahun. Aku harap di saat senggang, kamu bisa membujuknya, agar dia nggak ....""Jerico!"Arieson menyelanya dengan nada bicara tegas, lalu berkata padanya dengan sorot mata penuh amarah, "Kalau kamu berani mengucapkan satu kalimat omong kosong lagi, jangan harap kamu bisa menduduki posisi sebagai manaj
Melihat bulu mata Rhea sedikit bergetar, kilatan puas melintas di mata Jerico.Rhea menggigit bibir bawahnya, lalu berkata dengan dingin, "Aku sudah mau berangkat kerja, apa kamu sudah bisa pergi sekarang?"Merasakan sikap menjauh wanita itu, sorot mata Jerico berubah menjadi muram.Namun, dalam situasi sekarang ini, dia juga tidak bisa terlalu mendesak Rhea. Kalau tidak, hubungan mereka akan makin menegang."Aku akan mengantarmu.""Nggak perlu."Selesai berbicara, dia langsung mendorong Jerico keluar, lalu menutup pintu dan pergi.Sesampainya di perusahaan, dia mendapati rekan kerjanya mencuri-curi pandang ke arahnya. Rhea sendiri tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Kemungkinan besar mereka bereaksi seperti itu karena foto yang tersebar di internet.Setelah meletakkan barang-barangnya di atas meja kerjanya, Rhea bersiap untuk pergi ke laboratorium. Tiba-tiba saja, Lulu yang berada di sampingnya mendekatinya dan berkata dengan suara rendah, "Rhea, masalah foto di internet itu ... apaka
Saat ini, Gozeus sedang mondar-mandir dengan resah sambil melihat tagihan rumah sakit dalam genggamannya. Begitu mendengar ucapan Janice, dia langsung berkata dengan suara dalam, "Dalam beberapa hari ini."Kini, dia tidak memiliki uang sepeser pun, sedangkan Rani masih mendekam di balik jeruji besi. Hanya dengan menjalankan instruksi dari Janice, dia baru bisa mendapatkan uang untuk membayar biaya pengobatan istrinya."Kalau begitu, aku tunggu kabar baik dari Paman Gozeus."Setelah memutuskan sambungan telepon, seulas senyum tersungging di wajah Janice.Selama Gozeus berhasil menculik Rhea, saat itu tiba dia akan membuat kedua orang itu mati bersama-sama di lokasi kejadian. Setelah kedua orang itu mati, dia sudah bisa hidup dengan tenang.Di dalam laboratorium, Rhea baru saja hendak melanjutkan penelitiannya sebelumnya, dia sudah menerima pesan dari Ruisa, memintanya untuk ke ruangannya.Setibanya di ruangan Ruisa, Ruisa mempersilakannya duduk sambil tersenyum."Rhea, bagaimana perasaa
Sepulang rumah, Rhea langsung menghubungi Tio. Tio meminta Rhea untuk menemuinya di ruangan presdir keesokan paginya. Saat itu tiba, dia akan membawa Rhea untuk merekam sidik jari dan membuat kartu akses."Setelah memutuskan panggilan telepon, Rhea merasa sedikit cemas.Jerico sudah mencurigai Arieson menaruh niat lain terhadapnya. Sekarang dia malah pergi bekerja di Perusahaan Teknologi Hongdam. Kalau pria gila itu mengetahui hal ini, mungkin pria gila itu akan menggila lagi dan membuat keributan besar.Namun, dalam situasi saat ini, dia hanya bisa memantau dulu. Setelah pria itu benar-benar sudah mengetahui hal ini, baru dia pikirkan lagi.Keesokan paginya, selesai mandi dan berpakaian, Rhea mengendarai mobilnya menuju Perusahaan Teknologi Hongdam.Setelah memarkir mobilnya, Rhea langsung menemui resepsionis dan mengatakan dia mencari Tio. Resepsionis mengantarnya ke lift setelah memastikan identitasnya."Nona Rhea, ruangan presdir berlokasi di lantai paling atas."Rhea menganggukkan
Arieson mengalihkan pandangannya ke arah bawahannya itu dan berkata dengan ekspresi dingin, "Hmm."Melihat ekspresi dingin atasannya, Tio merasa tidak ada gunanya dia sengaja memberi tahu Arieson hal ini.Setelah mengingatkan Arieson jam sepuluh ada rapat, Tio langsung berbalik dan keluar dari ruangan.Siang harinya, Rhea pergi ke kantin dengan membawa kartu makannya.Begitu memasuki kantin, dia benar-benar dibuat tercengang oleh kemewahan kantin Perusahaan Teknologi Hongdam. Tempat ini tidak layak disebut sebagai kantin, sudah tidak ada bedanya dengan restoran mewah.Sejauh mata memandang, makanan di setiap loket terlihat sangat menggugah selera.Terlebih lagi, harga makanan di sini sangat murah, seperti harga makanan di kantin mahasiswa.Kantin ini terdiri dari tiga lantai, ada berbagai macam makanan, termasuk makanan Barat dan makanan Nusantara, serta makanan-makanan dari negara-negara lainnya.Rhea berbaris di loket makanan Thainam, memesan satu porsi Nasi Goreng Nanas dan satu por
Langkah kaki Rhea terhenti sejenak. Dia mengerutkan keningnya dan mengalihkan pandangannya ke arah Jerico. Sorot mata penuh amarah tampak jelas di matanya."Apa yang telah kamu katakan pada ayahku?!"Sebelum Jerico sempat berbicara, Bagas sudah berkata dengan marah, "Bisa-bisanya kamu menanyakan hal seperti itu pada Jerico! Kamu sendiri menjalin hubungan yang nggak jelas dengan pamannya, apa kamu nggak merasa bersalah padanya?"Raut wajah Rhea mulai memutih saking kesalnya, ujung-ujung jarinya juga gemetaran.Dia tidak menyangka Jerico begitu tidak tahu malu dengan membalikkan fakta di hadapan Bagas.Hal yang lebih tak disangka-sangka olehnya adalah, Bagas memercayai ucapan pria bajingan itu!"Ayah, apa di mata Ayah aku adalah orang seperti itu?! Ayah bahkan belum bertanya padaku apa yang telah terjadi, tapi Ayah malah memercayai ucapannya dan merasa aku telah mengkhianatinya?!"Rhea menarik napas dalam-dalam, dia tidak berencana menyembunyikan masalah perselingkuhan Jerico lagi."Tahu
Saat itu juga, sebuah bekas tamparan tampak jelas di wajah Jerico. Sorot matanya terhadap Rhea langsung berubah menjadi sedingin es."Berani-beraninya kamu memukulku!"Rhea mengangkat kepalanya, menatap sorot mata penuh amarah pria itu dan berkata dengan penuh penekanan, "Mengapa aku nggak berani memukulmu? Jelas-jelas orang yang berselingkuh adalah kamu, berani-beraninya kamu menuduhku di hadapan ayahku! Bukankah kamu memang pantas dipukul?"Begitu Rhea selesai berbicara, Jerico langsung mencubit dagunya dan menekannya ke dinding. Sorot mata pria itu tampak tajam."Rhea, kamu sendiri yang nggak menuruti ucapanku. Kalau kamu menuruti ucapanku dengan patuh, aku juga nggak akan datang menemui ayah mertuaku."Rhea tertawa dingin dan berkata, "Kalau kamu berani datang menemui ayahku lagi, aku akan mengungkapkan masalah perselingkuhanmu.""Kalau kamu nggak takut kondisi Ayah makin parah karena terangsang, kamu boleh memberitahunya sekarang juga."Mendengar nada bicara acuh tak acuh Jerico,
Ekspresi Arieson langsung membeku. "Kapan kamu mengetahuinya?"Rhea berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Saat kamu pergi ke restoran pasangan dengannya."Keduanya terdiam. Saking heningnya, mereka bisa mendengar napas satu sama lain.Belasan detik kemudian, melihat pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan bicara, Rhea langsung berbalik, membuka pintu mobilnya, berencana untuk masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja.Tiba-tiba, Arieson menggenggam pergelangan tangannya."Rhea, salahku karena nggak memberitahumu hal ini. Maaf."Rhea menoleh menatapnya. Di bawah kegelapan malam, dia tidak bisa melihat ekspresi pria itu dengan jelas.Dia langsung menarik tangannya dan berkata, "Kalau kamu ingin balikan dengannya, aku bisa pindah malam ini juga."Arieson mengerutkan keningnya. "Aku nggak berencana untuk balikan dengannya. Aku nggak memberitahumu hal ini karena takut kamu salah paham. Aku tahu jelas orang yang kusukai sekarang adalah kamu."Rhea merasa ucapan Arieson agak konyol, di
Saat ini, Arieson sedang berjalan menghampirinya dengan perlahan sambil tersenyum.Namun, indranya yang tajam bisa merasakan saat ini suasana hati Arieson sangat buruk.Gerald menoleh, mengikuti arah pandang Rhea. Saat tatapannya bertemu dengan tatapan Arieson, secara naluriah dia menyipitkan matanya.Sepertinya pria ini memancarkan aura permusuhan yang sangat besar terhadap dirinya.Arieson langsung duduk di samping Rhea, lalu berkata sambil tersenyum, "Rhea, kamu makan bersama kakakmu, mengapa kamu nggak memberitahuku? Aku bisa datang bersamamu."Gerald juga mengalihkan pandangannya ke arah Rhea, lalu berkata dengan sorot mata kebingungan, "Ini adalah?"Ditatap oleh dua orang pria pada saat bersamaan, Rhea mengerutkan keningnya. Saat dia hendak memperkenalkan mereka pada satu sama lain, Arieson sudah mengalihkan pandangannya ke arah Gerald sambil tersenyum."Halo, Tuan Gerald, aku adalah Arieson, pacar Rhea, juga presdir Perusahaan Teknologi Hongdam."Sorot mata Gerald berkedip, dia
"Lama nggak bertemu."Gerald berjalan menghampiri Rhea, menundukkan kepalanya untuk menatap wanita itu. Dengan seulas senyum menghiasi wajahnya, dia berkata, "Hmm, lama nggak bertemu."Kalau dihitung-hitung, mereka berdua sudah tidak bertemu sekitar lima atau enam tahun, juga sangat jarang menghubungi satu sama lain, jadi Rhea merasa agak canggung."Ayo masuk dulu."Setelah duduk di dalam restoran dan memesan makanan, Rhea baru menatap pria itu dan berkata, "Mengapa kamu tiba-tiba berencana untuk mengembangkan kariermu di dalam negeri. Aku dengar dari Bibi Vani, gajimu di luar negeri cukup tinggi. Kalau kamu bekerja di sana beberapa tahun lagi, seharusnya kamu sudah bisa menetap di luar negeri, bukan?"Melihat sosok wanita yang sangat dirindukannya kini berada tepat di hadapannya, Gerald hampir melamun.Dia mengalihkan pandangannya dengan tenang, lalu berkata dengan suara rendah, "Aku nggak terbiasa dengan makanan di luar negeri."Rhea agak terkejut, sangat jelas tidak terlalu percaya.
"Tuan Besar Thamnin, ada urusan apa kamu datang mencariku?"Melihat sikap Rhea yang tidak merendah, juga tidak arogan itu, Tuan Besar Thamnin mengerutkan keningnya, berkata dengan nada bicara arogan, "Sebut saja harganya, selama kamu bersedia melepaskan Sizur."Rhea menatap pria itu dengan ekspresi acuh tak acuh. "Kamu berencana memberi berapa?""Itu tergantung berapa yang ingin kamu minta. Kejadian itu sudah berlalu selama bertahun-tahun. Biarpun kamu benar-benar memasukkan Sizur ke penjara, aku juga punya cara untuk mengeluarkannya. Keras kepala nggak ada untungnya untukmu."Rhea bangkit, lalu berkata dengan nada bicara tanpa gejolak emosi, "Karena kamu sudah berbicara demikian, kita juga nggak perlu membicarakan hal ini lagi."Raut wajah Tuan Besar Thamnin langsung berubah menjadi sedingin es. "Apa maksudmu?""Nggak bermaksud apa-apa. Aku hanya merasa kita nggak akan bisa mencapai kesepakatan. Aku masih ada kerjaan, pergi dulu."Selesai berbicara, Rhea langsung berbalik dan pergi.M
Arieson menatap wanita itu tanpa ekspresi dan berkata, "Erika, kamu bukanlah tipe orang yang akan memainkan trik-trik seperti ini."Tangan Erika yang terulur terhenti sejenak. Kemudian, dia menarik kembali tangannya, lalu berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Dulu kamu juga nggak akan menolakku.""Sudah kubilang, aku sudah punya pacar."Erika menatap pria itu, berkata dengan penuh penekanan, "Apa kamu mencintainya?"Melihat Arieson terdiam, tidak mengucapkan sepatah kata pun, akhirnya Erika merasakan sedikit kepercayaan diri."Lihatlah, kalau kamu mencintainya, kamu pasti akan mengakuinya tanpa ragu."Arieson mengerutkan keningnya dan berkata, "Erika, aku nggak mengakuinya hanya karena nggak ingin menyakitimu."Senyuman di wajah Erika langsung membeku. Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan suara rendah, "Walau kamu mencintainya, juga nggak masalah. Kamu pasti akan jatuh cinta kembali padaku."Awalnya Arieson ingin mengatakan dia tidak akan jatuh cinta kembali pada wanita itu, ka
Ucapan ini adalah bentuk isyarat yang sudah sangat jelas antara pria dan wanita dewasa.Arieson berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Sudah larut, nggak perlu lagi. Kamu istirahatlah lebih awal."Erika agak kecewa, tetapi dia tetap memaksakan seulas senyum, mengangguk dan berkata, "Oke, kalau begitu, hati-hati di jalan, ya."Saat Arieson kembali ke vila, sudah jam sepuluh lewat malam.Dia baru saja berganti sepatu dan berjalan memasuki ruang tamu, pelayan sudah menghampirinya dan berkata, "Tuan Muda, malam ini Nona Rhea menunggumu pulang makan malam sangat lama. Pada akhirnya, dia langsung naik ke atas tanpa makan malam.""Oke, aku mengerti, kamu istirahat saja dulu.""Baiklah."Arieson menggulung lengan jasnya, lalu pergi ke dapur untuk membuat semangkuk mi dan membawakannya ke lantai atas.Mendengar suara ketukan pintu, Rhea mengira itu adalah pelayan vila. Dia segera bangkit untuk membuka pintu.Begitu melihat sosok bayangan yang tinggi di hadapannya itu, dia tertegun sejenak. Kem
Kalau mereka bukan mengunjungi restoran pasangan, kalau mereka bukan duduk di sisi yang sama di meja makan, kalau Arieson tidak mengambilkan sayuran untuk wanita itu, mungkin ... dia masih bisa membohongi dirinya sendiri bahwa wanita itu adalah mitra Perusahaan Teknologi Hongdam.Dia mematikan layar ponselnya, menundukkan kepalanya, ekspresinya tampak muram.Saat dia melihat foto tersebut, dia sempat terdorong untuk menelepon Arieson, mempertanyakan pria itu. Namun, pada akhirnya dia tetap tenang kembali.Dia juga hanya memanfaatkan Arieson. Biarpun pria itu benar-benar menjalin hubungan tidak jelas dengan wanita lain, apa haknya untuk mempertanyakan pria itu?Lagi pula, bukankah dia juga tidak berencana untuk bersama pria itu selamanya?Ponselnya kembali berbunyi, Weni mengirimkan beberapa pesan untuknya.[Aku sudah meminta orang untuk menyelidiki wanita itu. Nama wanita itu adalah Erika Kilbis, cinta pertama Arieson. Setelah dia mendapatkan beasiswa penuh, dia pergi ke luar negeri un
Rhea mengalihkan pandangannya ke bawah, lalu berkata dengan perlahan, "Nggak apa-apa. Kamu semalaman nggak pulang ke vila, aku hanya ingin menanyakan apa urusanmu sudah selesai ditangani."Orang di ujung telepon hening sejenak sebelum terdengar suara rendah Arieson. "Sudah hampir selesai ditangani, malam ini aku akan pulang."Tanpa Rhea sadari, cengkeramannya pada ponselnya makin erat. "Oke, kalau begitu nanti malam kita makan malam bersama.""Hmm, tunggu aku pulang."Setelah mengakhiri panggilan telepon, Arieson mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang tengah duduk di seberangnya sambil menangis. Dia berkata dengan dingin, "Erika, hubungan kita sudah berakhir, nanti aku akan memesan tiket pesawat untukmu."Pergerakan menyeka air mata Erika terhenti. Dengan berlinang air mata, dia menatap Arieson dan berkata, "Aku nggak mau! Kali ini aku sudah pulang, aku nggak berencana untuk pergi lagi."Arieson mengerutkan keningnya, hawa di sekelilingnya berubah menjadi sedingin es."Terserah k
Arieson mengusap-usap kepalanya, berkata dengan suara rendah, "Nggak bisa membuatmu memercayaiku sepenuhnya, itu artinya aku masih kurang baik."Rhea mendongak, menatap pria itu. Saat dia hendak berbicara, tiba-tiba ponsel Arieson berdering."Kamu sudah mengubah nada deringmu?"Dulu Rhea sudah pernah mendengar nada dering ponsel Arieson, sepertinya berbeda dengan nada dering hari ini.Arieson tidak berbicara, dia mengambil ponselnya dan berjalan ke samping sebelum menjawab panggilan telepon tersebut.Tidak tahu mengapa, hati Rhea diliputi oleh kegelisahan, keningnya juga berkerut.Tak lama kemudian, Arieson sudah mengakhiri panggilan telepon itu, lalu berbalik dan berjalan menghampirinya."Aku ada sedikit urusan, perlu keluar sebentar, kamu tidur saja dulu."Selesai berbicara, dia berbalik, hendak pergi. Secara naluriah, Rhea menarik tangannya."Apa urusan itu sangat penting? Bisakah kamu tetap di sini untuk menemaniku ... aku ...."Rhea juga tidak tahu harus menggunakan alasan seperti