"Nggak mungkin! Aku nggak akan meminta maaf!"Weni mengalihkan pandangannya ke arah Janice. Melihat ekspresi kesal wanita itu, ditambah lagi dengan sorot mata penolakan dan marahnya, seulas senyum tersungging di wajah Weni."Nona Janice, kalau kamu nggak ingin meminta maaf, mari kita bertemu saja di pengadilan. Menuduh orang lain dengan sembarangan, kalau aku nggak salah ingat, setelah unggahan tersebar luas sebanyak lima ribu kali, akan dijatuhi vonis hukuman penjara, bukan?"Api arogan yang sebelumnya tampak jelas di wajah Janice seperti diguyur oleh seember air dan padam seketika. Dalam sekejap, ekspresinya berubah menjadi pucat pasi.Kalau dia sampai masuk penjara, maka masa depannya akan hancur.Ekspresi Zuis berubah menjadi muram sejenak. Kemudian, dia kembali menunjukkan ekspresi hangat."Janice, kamu minta maaflah pada Rhea. Bagaimanapun juga, kamu lebih besar darinya. Wajar saja kalau kamu mengalah padanya."Weni mengerutkan keningnya. Kata-kata yang keluar dari mulut Zuis tid
"Ayah, aku minta maaf.""Kalau kamu nggak pandai menjebak orang, jangan lakukan lagi. Kamu hanya perlu berdiam diri saja. Jangan melakukan tindakan bodoh lagi. Kalau nggak, jangan salahkan aku memutuskan hubungan ayah dan anak denganmu."Selesai berbicara, Zuis langsung pergi dengan diliputi amarah yang menggebu-gebu.Kebetulan dua hari berikutnya adalah akhir pekan, Rhea beristirahat dua hari di rumah, Hari Senin dia baru kembali bekerja.Lengannya juga hampir pulih sepenuhnya. Dia bersiap kembali ke laboratorium untuk melanjutkan penelitian yang dilakukannya sebelumnya.Begitu memasuki perusahaan, Ruisa datang menemuinya dengan langkah tergesa-gesa."Rhea, bersiap-siaplah, nanti kamu ikut bersama Pak Arieson untuk dinas ke Kota Rongin."Rhea tertegun sejenak, dia tampak sedikit kebingungan."Pak Arieson?"Ruisa menganggukkan kepalanya dan berkata, "Hmm, Pak Arieson menemukan sebuah perusahaan farmasi di Kota Rongin, yang khusus memproduksi bahan obat-obatan yang dibutuhkan dalam pene
Melihat sorot mata tidak senang yang tampak jelas di mata Jerico, Tio berkata, "Pak Jerico, Nona Rhea akan ikut dalam perjalanan dinas bersama Pak Arieson. Aku datang untuk membantunya membawakan kopernya."Saat berbicara, dia mengulurkan lengannya untuk mengambil alih koper Rhea.Namun, sebelum dia sempat menyentuh koper tersebut, sebuah lengan panjang sudah menghalanginya."Kalau aku nggak salah ingat, dia adalah karyawan Perusahaan Farmasi Yagin, mengapa dia harus ikut dinas bersama pamanku?"Setiap kali memikirkan Rhea akan berinteraksi dengan Arieson, sorot mata tajam langsung terlihat di matanya.Sebagai seorang pria, dia mengetahui dengan jelas sorot mata yang ditujukan oleh Arieson terhadap Rhea, bukan sekadar sorot mata seorang paman pada istri keponakan."Tim inspeksi Perusahaan Teknologi Hongdam sedang dinas, terlebih lagi kali ini yang akan ditinjau oleh Pak Arieson adalah perusahaan farmasi yang memproduksi bahan obat-obatan yang dibutuhkan untuk proyek penelitian Nona Rhe
Saat itu tiba, dia pasti akan membalas semua penghinaan yang dia terima hari ini!Di dalam mobil.Sejak masuk ke dalam mobil, Rhea sudah bisa merasakan suasana hati Arieson yang duduk di sampingnya tidak baik. Walaupun sedang melihat dokumen dalam genggamannya, tetapi sisi wajah pria itu tampak sangat dingin, bahkan memancarkan aura dingin yang seakan-akan bisa membuat orang di sekitarnya mati membeku."Pak Arieson, aku minta maaf atas kejadian pagi ini."Arieson menoleh. Begitu melihat ekspresi bersalah Rhea, tanpa dia sadari keningnya pun berkerut."Untuk apa kamu minta maaf?""Aku nggak menangani urusan pribadiku dengan baik, sampai-sampai Pak Arieson harus turun tangan membantuku ...."Sorot mata Arieson berubah menjadi muram, dia berkata dengan nada bicara tidak senang, "Itu adalah salah Jerico, nggak ada hubungannya denganmu. Kamu nggak perlu memedulikan hal itu."Arieson benar-benar tidak mengerti mengapa bisa ada bajingan seperti Jerico di Keluarga Thamnin. Jelas-jelas bocah si
Begitu melihat nama Jerico berkedip-kedip di layar ponselnya, kilatan tidak sabar melintas di mata Rhea. Dia langsung menolak panggilan telepon itu.Setelah menelepon beberapa kali lagi dan Rhea tak kunjung menjawab panggilan telepon itu, akhirnya ponsel Rhea tidak berdering lagi.Di sisi lain, Jerico melemparkan ponselnya ke lantai dengan marah. Ekspresinya tampak sangat muram dan menakutkan."Yurik, kirim orang ke Kota Rongin untuk mengawasi di sana. Kalau ada sesuatu yang nggak beres, segera laporkan padaku."Dia tidak ingin dikhianati tanpa mengetahui apa-apa.Sebenarnya Yurik berniat untuk membujuk atasannya itu beberapa patah kata. Namun, melihat ekspresi muram Jerico, dia tidak berani mengucapkan sepatah kata pun."Baik, aku akan segera mengaturnya."Setelah Yurik pergi, Jerico melihat dokumen-dokumen yang ada di atas meja. Namun, saking kacaunya pikirannya saat ini, dia sama sekali tidak bisa fokus.Memikirkan kemungkinan Rhea akan berinteraksi berduaan saja dengan Arieson, hat
Sambil menahan pinggangnya, Jerico meluapkan hasrat yang bergejolak dalam hatinya seperti orang yang sudah menggila. Sorot matanya tampak gelap dan muram.Tidak tahu sudah berlalu berapa lama, saat Stella merasakan dirinya hampir kehilangan kesadaran, Jerico baru menghujamnya dengan keras. Saat itulah, mereka berdua mencapai klimaks.Setelah permainan menggairahkan mereka itu usai, saat Stella hendak mengambil celana dalamnya dan memakainya, tiba-tiba rasa sakit yang tajam menghujam perutnya. Wajahnya yang awalnya masih memerah, langsung berubah menjadi pucat pasi."Jerico ... perutku sangat sakit ...."Mengingat usia kehamilan wanita itu belum mencapai tiga bulan, ditambah lagi dengan dia menghujam wanita itu dengan gila-gilaan tanpa mengendalikan hasratnya tadi, ekspresi Jerico langsung berubah. Saat itu juga, dia menggendong wanita itu dan berjalan keluar dengan cepat.Menjelang malam harinya, saat Rhea baru berencana keluar setelah menerima pesan dari Tio, tiba-tiba dia menerima pe
Mungkin saja ada masalah dengan bahan obat-obatan perusahaan mereka.Rhea mengalihkan pandangannya ke bawah. Setelah berpikir selama beberapa detik, dia berkata, "Oke, aku berada di kamar nomor 802. Nona Alisa langsung datang kemari saja."Tak lama kemudian, Alisa pun tiba.Rhea membuka pintu dan mempersilakannya masuk. Setelah mereka duduk, Alisa menyodorkan sebuah bungkusan dalam genggamannya pada Rhea, lalu tersenyum dan berkata, "Nona Rhea, ini adalah syalmu. Coba kamu lihat apakah ada masalah atau nggak."Saat menerima bungkusan itu, dari beratnya saja, Rhea sudah bisa merasakan isi dalam bungkusan itu bukan hanya sebuah syal.Setelah dia mengeluarkan syal itu, dia melihat ada banyak tumpukan uang di bawahnya, mungkin totalnya ada sekitar 400 juta.Rhea meletakkan syalnya kembali ke dalam bungkusan, lalu menyodorkan bungkusan itu kembali ke hadapan Alisa."Nona Alisa, syal ini terlalu mahal, aku nggak bisa menerimanya."Seulas senyum tetap menghiasi wajah Alisa. Dia berkata dengan
"Sakit ...."Sambil berkeringat dingin, Rhea bergumam kesakitan. Keningnya tampak berkerut, wajahnya juga pucat pasi.Dokter dan obat sakit maag Rhea tiba hampir pada saat bersamaan. Awalnya, dokter ingin membiarkannya minum obat terlebih dahulu untuk memantau kondisinya. Namun, giginya terkatup dengan rapat, sama sekali tidak bisa menyuapkan obat masuk ke dalam mulutnya.Dalam situasi seperti ini, hanya infus yang bisa diberikan pada pasien.Selesai memberi infus Rhea, dokter mengalihkan pandangannya ke arah Arieson dan berkata, "Setelah dia bangun nanti, beri dia makan sedikit bubur dan semacamnya.""Oke."Setelah berpesan beberapa patah kata lagi, dokter meninggalkan kamar bersama staf hotel."Pak Arieson, bagaimana kalau Bapak istirahat saja? Aku akan menjaga Nona Rhea di sini?"Arieson menundukkan kepalanya, melirik tangannya yang sedang digenggam erat oleh Rhea. Ekspresinya tampak muram. Tadi, saat dokter hendak menginfus Rhea, dia ingin melepaskan tangannya dari genggaman wanita
Ekspresi Arieson langsung membeku. "Kapan kamu mengetahuinya?"Rhea berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Saat kamu pergi ke restoran pasangan dengannya."Keduanya terdiam. Saking heningnya, mereka bisa mendengar napas satu sama lain.Belasan detik kemudian, melihat pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan bicara, Rhea langsung berbalik, membuka pintu mobilnya, berencana untuk masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja.Tiba-tiba, Arieson menggenggam pergelangan tangannya."Rhea, salahku karena nggak memberitahumu hal ini. Maaf."Rhea menoleh menatapnya. Di bawah kegelapan malam, dia tidak bisa melihat ekspresi pria itu dengan jelas.Dia langsung menarik tangannya dan berkata, "Kalau kamu ingin balikan dengannya, aku bisa pindah malam ini juga."Arieson mengerutkan keningnya. "Aku nggak berencana untuk balikan dengannya. Aku nggak memberitahumu hal ini karena takut kamu salah paham. Aku tahu jelas orang yang kusukai sekarang adalah kamu."Rhea merasa ucapan Arieson agak konyol, di
Saat ini, Arieson sedang berjalan menghampirinya dengan perlahan sambil tersenyum.Namun, indranya yang tajam bisa merasakan saat ini suasana hati Arieson sangat buruk.Gerald menoleh, mengikuti arah pandang Rhea. Saat tatapannya bertemu dengan tatapan Arieson, secara naluriah dia menyipitkan matanya.Sepertinya pria ini memancarkan aura permusuhan yang sangat besar terhadap dirinya.Arieson langsung duduk di samping Rhea, lalu berkata sambil tersenyum, "Rhea, kamu makan bersama kakakmu, mengapa kamu nggak memberitahuku? Aku bisa datang bersamamu."Gerald juga mengalihkan pandangannya ke arah Rhea, lalu berkata dengan sorot mata kebingungan, "Ini adalah?"Ditatap oleh dua orang pria pada saat bersamaan, Rhea mengerutkan keningnya. Saat dia hendak memperkenalkan mereka pada satu sama lain, Arieson sudah mengalihkan pandangannya ke arah Gerald sambil tersenyum."Halo, Tuan Gerald, aku adalah Arieson, pacar Rhea, juga presdir Perusahaan Teknologi Hongdam."Sorot mata Gerald berkedip, dia
"Lama nggak bertemu."Gerald berjalan menghampiri Rhea, menundukkan kepalanya untuk menatap wanita itu. Dengan seulas senyum menghiasi wajahnya, dia berkata, "Hmm, lama nggak bertemu."Kalau dihitung-hitung, mereka berdua sudah tidak bertemu sekitar lima atau enam tahun, juga sangat jarang menghubungi satu sama lain, jadi Rhea merasa agak canggung."Ayo masuk dulu."Setelah duduk di dalam restoran dan memesan makanan, Rhea baru menatap pria itu dan berkata, "Mengapa kamu tiba-tiba berencana untuk mengembangkan kariermu di dalam negeri. Aku dengar dari Bibi Vani, gajimu di luar negeri cukup tinggi. Kalau kamu bekerja di sana beberapa tahun lagi, seharusnya kamu sudah bisa menetap di luar negeri, bukan?"Melihat sosok wanita yang sangat dirindukannya kini berada tepat di hadapannya, Gerald hampir melamun.Dia mengalihkan pandangannya dengan tenang, lalu berkata dengan suara rendah, "Aku nggak terbiasa dengan makanan di luar negeri."Rhea agak terkejut, sangat jelas tidak terlalu percaya.
"Tuan Besar Thamnin, ada urusan apa kamu datang mencariku?"Melihat sikap Rhea yang tidak merendah, juga tidak arogan itu, Tuan Besar Thamnin mengerutkan keningnya, berkata dengan nada bicara arogan, "Sebut saja harganya, selama kamu bersedia melepaskan Sizur."Rhea menatap pria itu dengan ekspresi acuh tak acuh. "Kamu berencana memberi berapa?""Itu tergantung berapa yang ingin kamu minta. Kejadian itu sudah berlalu selama bertahun-tahun. Biarpun kamu benar-benar memasukkan Sizur ke penjara, aku juga punya cara untuk mengeluarkannya. Keras kepala nggak ada untungnya untukmu."Rhea bangkit, lalu berkata dengan nada bicara tanpa gejolak emosi, "Karena kamu sudah berbicara demikian, kita juga nggak perlu membicarakan hal ini lagi."Raut wajah Tuan Besar Thamnin langsung berubah menjadi sedingin es. "Apa maksudmu?""Nggak bermaksud apa-apa. Aku hanya merasa kita nggak akan bisa mencapai kesepakatan. Aku masih ada kerjaan, pergi dulu."Selesai berbicara, Rhea langsung berbalik dan pergi.M
Arieson menatap wanita itu tanpa ekspresi dan berkata, "Erika, kamu bukanlah tipe orang yang akan memainkan trik-trik seperti ini."Tangan Erika yang terulur terhenti sejenak. Kemudian, dia menarik kembali tangannya, lalu berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Dulu kamu juga nggak akan menolakku.""Sudah kubilang, aku sudah punya pacar."Erika menatap pria itu, berkata dengan penuh penekanan, "Apa kamu mencintainya?"Melihat Arieson terdiam, tidak mengucapkan sepatah kata pun, akhirnya Erika merasakan sedikit kepercayaan diri."Lihatlah, kalau kamu mencintainya, kamu pasti akan mengakuinya tanpa ragu."Arieson mengerutkan keningnya dan berkata, "Erika, aku nggak mengakuinya hanya karena nggak ingin menyakitimu."Senyuman di wajah Erika langsung membeku. Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan suara rendah, "Walau kamu mencintainya, juga nggak masalah. Kamu pasti akan jatuh cinta kembali padaku."Awalnya Arieson ingin mengatakan dia tidak akan jatuh cinta kembali pada wanita itu, ka
Ucapan ini adalah bentuk isyarat yang sudah sangat jelas antara pria dan wanita dewasa.Arieson berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Sudah larut, nggak perlu lagi. Kamu istirahatlah lebih awal."Erika agak kecewa, tetapi dia tetap memaksakan seulas senyum, mengangguk dan berkata, "Oke, kalau begitu, hati-hati di jalan, ya."Saat Arieson kembali ke vila, sudah jam sepuluh lewat malam.Dia baru saja berganti sepatu dan berjalan memasuki ruang tamu, pelayan sudah menghampirinya dan berkata, "Tuan Muda, malam ini Nona Rhea menunggumu pulang makan malam sangat lama. Pada akhirnya, dia langsung naik ke atas tanpa makan malam.""Oke, aku mengerti, kamu istirahat saja dulu.""Baiklah."Arieson menggulung lengan jasnya, lalu pergi ke dapur untuk membuat semangkuk mi dan membawakannya ke lantai atas.Mendengar suara ketukan pintu, Rhea mengira itu adalah pelayan vila. Dia segera bangkit untuk membuka pintu.Begitu melihat sosok bayangan yang tinggi di hadapannya itu, dia tertegun sejenak. Kem
Kalau mereka bukan mengunjungi restoran pasangan, kalau mereka bukan duduk di sisi yang sama di meja makan, kalau Arieson tidak mengambilkan sayuran untuk wanita itu, mungkin ... dia masih bisa membohongi dirinya sendiri bahwa wanita itu adalah mitra Perusahaan Teknologi Hongdam.Dia mematikan layar ponselnya, menundukkan kepalanya, ekspresinya tampak muram.Saat dia melihat foto tersebut, dia sempat terdorong untuk menelepon Arieson, mempertanyakan pria itu. Namun, pada akhirnya dia tetap tenang kembali.Dia juga hanya memanfaatkan Arieson. Biarpun pria itu benar-benar menjalin hubungan tidak jelas dengan wanita lain, apa haknya untuk mempertanyakan pria itu?Lagi pula, bukankah dia juga tidak berencana untuk bersama pria itu selamanya?Ponselnya kembali berbunyi, Weni mengirimkan beberapa pesan untuknya.[Aku sudah meminta orang untuk menyelidiki wanita itu. Nama wanita itu adalah Erika Kilbis, cinta pertama Arieson. Setelah dia mendapatkan beasiswa penuh, dia pergi ke luar negeri un
Rhea mengalihkan pandangannya ke bawah, lalu berkata dengan perlahan, "Nggak apa-apa. Kamu semalaman nggak pulang ke vila, aku hanya ingin menanyakan apa urusanmu sudah selesai ditangani."Orang di ujung telepon hening sejenak sebelum terdengar suara rendah Arieson. "Sudah hampir selesai ditangani, malam ini aku akan pulang."Tanpa Rhea sadari, cengkeramannya pada ponselnya makin erat. "Oke, kalau begitu nanti malam kita makan malam bersama.""Hmm, tunggu aku pulang."Setelah mengakhiri panggilan telepon, Arieson mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang tengah duduk di seberangnya sambil menangis. Dia berkata dengan dingin, "Erika, hubungan kita sudah berakhir, nanti aku akan memesan tiket pesawat untukmu."Pergerakan menyeka air mata Erika terhenti. Dengan berlinang air mata, dia menatap Arieson dan berkata, "Aku nggak mau! Kali ini aku sudah pulang, aku nggak berencana untuk pergi lagi."Arieson mengerutkan keningnya, hawa di sekelilingnya berubah menjadi sedingin es."Terserah k
Arieson mengusap-usap kepalanya, berkata dengan suara rendah, "Nggak bisa membuatmu memercayaiku sepenuhnya, itu artinya aku masih kurang baik."Rhea mendongak, menatap pria itu. Saat dia hendak berbicara, tiba-tiba ponsel Arieson berdering."Kamu sudah mengubah nada deringmu?"Dulu Rhea sudah pernah mendengar nada dering ponsel Arieson, sepertinya berbeda dengan nada dering hari ini.Arieson tidak berbicara, dia mengambil ponselnya dan berjalan ke samping sebelum menjawab panggilan telepon tersebut.Tidak tahu mengapa, hati Rhea diliputi oleh kegelisahan, keningnya juga berkerut.Tak lama kemudian, Arieson sudah mengakhiri panggilan telepon itu, lalu berbalik dan berjalan menghampirinya."Aku ada sedikit urusan, perlu keluar sebentar, kamu tidur saja dulu."Selesai berbicara, dia berbalik, hendak pergi. Secara naluriah, Rhea menarik tangannya."Apa urusan itu sangat penting? Bisakah kamu tetap di sini untuk menemaniku ... aku ...."Rhea juga tidak tahu harus menggunakan alasan seperti