“Kamu ... siapa?”
Kelopak mata Mireya mengerjap lambat seirama dengan rasa sakit di kepala yang luar biasa. Sekujur tubuhnya begitu remuk bagaikan tergilas mobil bermuatan besar. Dalam kondisi setengah sadar, Mireya dikejutkan oleh keberadaan seseorang di atas tubuhnya. Dia ingin menolak kecupan lembut yang berjejak di leher dan bibir, tapi segalanya terjadi begitu cepat, hingga dia kehilangan peluang untuk mengumpulkan tenaga dan melawan. Mireya terjebak di antara kedua lengan kekar yang berotot. Tak ada yang bisa dia lakukan saat pria asing itu mulai menarik gaunnya dengan kasar dan meninggalkan robekan di beberapa bagian. Pria itu beraksi tanpa suara. Meski begitu, Mireya bisa mencium aroma alkohol yang cukup menyengat, menyatu dengan wangi parfum mahal yang menguar dari tubuhnya. Di bawah cahaya remang lampu hias, Mireya melihat dengan jelas sepasang mata elang yang menatapnya liar dan penuh hasrat. Saat menjelang pagi, wanita itu masih meringkuk di atas kasur dengan selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya. Dia terjerembap ke dalam perasaan hina, jijik, malu dan kotor. Sementara itu, sosok di sampingnya tampak terlelap usai puas melakukan pelepasan beberapa kali. Sempat tebersit pikiran untuk mengambil bantal dan menyekap wajah pria itu hingga kehabisan napas. Namun, Mireya sadar ide gila itu tak akan mengubah apa pun, selain hanya menimbulkan masalah yang lebih besar lagi nantinya. Mireya bergerak pelan-pelan turun dari kasur, tetapi rasa sakit yang luar biasa membuatnya meringis dan menangis lebih banyak lagi. Tubuhnya seperti dibanting dan digilas berulang kali hingga rasanya hampir mau mati. Gaun yang berserakan di lantai dia raih dengan tangan gemetar. Terdapat robekan di beberapa bagian yang menjadi saksi bisu atas kehancuran hidupnya. Mireya membawa pulang bongkahan luka yang memenuhi rongga dada, menyisakan pria asing itu sendirian di kamar hotel. *** Setibanya di rumah, Mireya disambut oleh Henry, ayah kandungnya yang membukakan pintu setelah dia menekan bel berkali-kali. “Sudah hampir pagi, kenapa baru pulang? Dari mana saja kamu, Mireya?!” tanya Henry dengan raut marah yang tidak terbantahkan di wajahnya. Mireya memilin jari-jari dengan gelisah. Otaknya bersikeras mencari alasan yang masuk akal. “Aku ... tadi pergi menonton film dengan Alvin, Yah.” Ucapan Mireya tidak sepenuhnya salah. Seingatnya, beberapa jam lalu dia memang pergi bersama kekasihnya untuk menonton film di bioskop. Namun, saat di perjalanan, kepalanya sangat pusing dan tahu-tahu dia sudah berada di kamar hotel usai sadarkan diri. “Kamu lihat, sudah jam berapa sekarang? Bioskop mana yang kamu datangi sampai hampir tidak pulang semalaman?!” Suara Henry begitu menggelegar hingga mengundang rasa penasaran Karin, ibu tiri Mireya dan juga Felly, adik perempuannya. Selain Felly, sebenarnya Mireya juga mempunyai kakak laki-laki bernama Felix. Namun, Felix sudah berkeluarga dan memutuskan tinggal di rumah pribadinya bersama istri dan anaknya. Felly dan Felix sebetulnya masih satu ayah dengan Mireya, hanya saja mereka beda ibu. “Suamiku, kenapa kamu marah-marah?” Karin mendekat dan bertanya apa yang terjadi. Setelah dijelaskan oleh Henry, dia pun menjadi sangat marah. “Apa yang kamu lakukan bersama Alvin di luar sana, Mireya? Katakan, apa kalian tidur bersama?!” tuduh Karin. “Itu tidak benar!” Mireya menggeleng cepat, tidak terima jika Alvin ikut terseret ke dalam masalahnya. Adegan menjijikkan itu masih terus berkeliaran di kepala Mireya. Dia melihat wajah orang yang menguasainya semalam dan itu memang bukanlah Alvin, melainkan sosok asing yang entah siapa. “Agar tidak salah paham, berikan saja ponselmu dan aku akan memeriksa riwayat lokasi yang kamu kunjungi,” saran Felly. Dia tersenyum pada Mireya, tapi sorot matanya seperti menunjukkan maksud lain. Mireya semakin terjebak dalam situasi rumit. Posisinya menjadi serba salah sekarang. Jika riwayat kunjungan di hotel terdeteksi, semua orang pasti akan menghakiminya dan tidak mungkin percaya sekalipun dia berusaha menjelaskan yang sebenarnya. Felly mengulurkan tangan, tapi Mireya malah bergerak mundur. “Ini privasi,” katanya. Felly berdecih remeh, sementara Karin dan Henry memandang Mireya penuh curiga. “Kak, aku hanya ingin membantumu menyelesaikan masalah lebih cepat. Aku percaya kamu perempuan baik-baik. Jadi, apa yang harus ditakuti?” sindir Felly. Mireya bersikeras mempertahankan miliknya, tetapi Felly yang tidak sabar segera merampas tas wanita itu dan menggeledah isinya. Tidak butuh waktu lama bagi Felly menemukan apa yang dia cari. “Astaga, Kakak ...?” Felly terbelalak kaget dengan mulut sedikit terbuka, seakan tidak percaya dengan apa yang dia temukan. “Ada apa?” tanya Henry penasaran. “Ayah, Ibu, coba lihat!” Felly memilih bungkam saat menghadapkan ponsel ke arah kedua orangtuanya. “Hotel?!” Wajah Henry berubah merah bersamaan dengan kepalan tangan yang semakin kuat. Dia menatap Mireya garang seraya berkata, “Berani sekali kamu ke hotel bersama laki-laki dan membohongiku!” Mireya meraih telapak tangan ayahnya, tetapi segera ditepis oleh pria itu. “Aku bisa menjelaskan semuanya, Ayah.” “Sudah ketahuan masih mau menyangkal. Jujur saja, dengan siapa kamu check in?” desak Karin, sedangkan Felly tersenyum puas menyaksikannya. “Check in?” Mireya kehilangan kata-kata untuk menjelaskan. Bahkan dia sendiri tidak tahu siapa yang membawanya masuk ke kamar hotel, hingga berakhir menjalin hubungan di atas ranjang dengan orang tak dikenal. “Ya, kamu tidak mungkin sendirian, ‘kan?” Karin menggandeng lengan Henry sambil mengatakan, “Sayang, apa yang harus kita lakukan sekarang? Jika dia hamil, semua orang pasti akan menganggap kita adalah orangtua yang tidak bisa mendidik anak.” Henry menghela napas gusar. Masih memikirkan matang-matang mengenai keputusan yang harus diambil. Melihat Henry sedikit bimbang, Karin berpura-pura menangis karena takut pria itu berubah pikiran. Dia menatap Mireya dan kembali buka suara, “Padahal aku sudah berbaik hati merawat kamu meskipun kamu bukan anak kandungku, tapi kenapa dibalas seperti ini? Aku hanya minta kamu menjadi anak yang baik dan penurut, bukan malah pergi ke hotel bersama laki-laki. Apakah permintaanku terlalu sulit?” Henry mengusap punggung Karin pelan-pelan, bermaksud menenangkan. “Sayang, maafkan aku karena tidak bisa menjadi ibu yang baik. Aku gagal mendidik Mireya,” ujar Karin terisak-isak. Kalimatnya seolah menunjukkan sesal, tapi isi hatinya berbanding terbalik dengan kenyataan. Sejak awal, Karin dan kedua anaknya memang tidak pernah menyukai Mireya. Sebab, Amanda, ibu kandung Mireya telah melukiskan luka yang amat dalam dengan menjadi selingkuhan lelaki yang mereka cintai. Henry diketahui menikahi Amanda diam-diam setelah wanita itu hamil di usia kandungan tiga bulan. Dikarenakan Amanda meninggal dunia akibat mengalami perdarahan hebat pasca melahirkan, Henry memutuskan membawa Mireya ke rumah Karin, istri pertamanya. Henry menjelaskan kejadian sebenarnya sekaligus membujuk Karin supaya mau menerima kehadiran Mireya sebagai anak dari kekasih gelapnya yang telah tiada. Jadi, bagi Karin dan kedua anaknya, kehadiran Mireya seperti halnya taburan garam di atas luka basah yang menganga lebar. Hanya mengundang perih dan rasanya terlalu menyakitkan. “Kamu sudah menjadi ibu yang sangat baik, Sayang. Tidak perlu merasa bersalah, karena ini bukan salahmu.” Henry mencoba menenangkan Karin. “Ayah, tolong izinkan aku menjelaskan semua.” Mireya mengusap air mata yang terus mengalir dengan punggung tangannya. “Jujur, aku memang ada di hotel itu, tapi aku tidak tahu kenapa bisa terjebak di sana. Aku hanya ingat ketika berada di mobil bersama Alvin, kepalaku sangat pusing dan tiba-tiba pingsan, lalu ... lalu—” “Jangan jelaskan apa pun! Aku tidak butuh itu,” potong Henry tanpa menatap wajah Mireya, seolah merasa jijik. “Ayah ...?” Sudut mata Mireya kembali berembun. Rasanya memang menyakitkan saat Karin dan Felly mendesaknya tentang hal yang tidak dia lakukan, tetapi saat ayah kandungnya sendiri tidak percaya, rasanya berkali-kali lipat lebih menyakitkan dari apa pun! “Jika suatu saat kamu hamil, kemasi barang-barangmu dan angkat kaki dari rumah ini!” ancam Henry tidak main-main. *** Keesokan paginya, Mireya terbangun dengan mata sembab dan sekujur tubuh yang begitu remuk. Akan tetapi, dia tetap memaksakan diri datang ke perusahaan. Selain karena tuntutan kerja, dia juga ingin mengklarifikasi kepada Alvin terkait kejadian semalam. Berharap pria itu tidak salah paham dan mau memaafkannya. “Alvin!” Mireya menghampiri pria yang berdiri di samping meja kerja bersama rekan wanita di sisinya, Shela. Melihat kedatangan Mireya, raut wajah Alvin berubah malas. Dia melengos sambil mendengkus gusar. “A–ada yang ingin aku bicarakan padamu.” Mireya terdengar gugup. Dia merasa bersalah karena gagal menjaga kehormatan untuk lelaki yang dia harap kelak akan menjadi suaminya. Alih-alih merespons, Alvin malah melirik Shela yang sejak tadi bersamanya. “Nanti siang kita lanjut mengobrol lagi, ya. Oke, Sayang?” ujarnya sambil berkedip genit. Shela mengangguk santai tanpa peduli keberadaan Mireya. “Oke!” “Sayang?” Mireya mengernyit kikuk, memandang kedua manusia itu silih berganti. “Kalian ... berpacaran?” Bersambung ….“Aku sedang sibuk. Tidak ada waktu mengobrol denganmu.” Alvin mengabaikan pertanyaan Mireya dan mengambil langkah mundur. “Tunggu!” Mireya mencengkeram lengan pria itu, menahan kepergiannya. “Kamu belum menjawab pertanyaanku,” ujarnya. Alvin mendengkus kesal. “Apa kamu tidak dengar? Aku sedang sibuk!” Tanpa terasa air bening berlinang dari pelupuk mata Mireya, membasahi pipinya. Hanya dengan melihat reaksi Alvin, Mireya dapat menemukan sendiri jawabannya. “Kalian benar-benar berpacaran, ya?” tanya Mireya sekali lagi. Dia masih tidak percaya jika Alvin memang benar menjalin hubungan dengan wanita lain. Hening. Baik Alvin maupun Shela sama-sama memilih bungkam. “Kenapa, Al? Apa kamu marah karena semalam aku tiba-tiba menghilang tanpa kabar?” Mireya mulai menebak-nebak. “Al, tolong dengarkan dulu penjelasanku, aku tidak—” Alvin menyela, “Sudahlah, Reya! Aku tidak ingin mendengar apa pun darimu. Mulai sekarang jangan hubungi aku lagi!” Mireya menggeleng cepat. “Kita masih b
Saat melihat wajah Mervyn, Mireya yakin seratus persen bahwa itu adalah laki-laki asing yang telah merenggut kesuciannya di sebuah hotel. Mervyn melangkah percaya diri diikuti beberapa pengawal di belakangnya. Mireya terpaku dan jantungnya berdebar kencang saat Mervyn tak sengaja meliriknya. Tatapan Mervyn begitu tajam dan menyimpan banyak rahasia, sehingga Mireya tak mampu menemukan makna di balik sorot matanya yang penuh misteri. Adegan saling pandang itu terjadi tidak lebih dari tiga detik. Mervyn mengalihkan tatapan ke depan dan mengabaikan Mireya seperti bukan sesuatu yang berarti. “Sepertinya dia tidak mengingatku.” Mireya bergumam pelan yang hanya dapat didengar oleh diri sendiri. Dia berpikir, mungkin akan jauh lebih baik jika Mervyn tidak mengenalinya. Bisa jadi Mervyn sudah memiliki pacar atau bahkan seorang istri. Mireya tentu akan terlibat masalah besar jika pasangan Mervyn tahu kalau pria itu pernah tidur dengannya. Di sisi lain, bercinta dengan orang asing ba
Mireya memegang gagang pintu dengan tangan gemetar. Sekujur tubuhnya seakan membeku saat mendengar pertanyaan Mervyn. “Saya belum bertemu lagi dengan Alvin, Pak,” ucap Rayyan, “Jadi, belum ada informasi apa pun yang saya dapatkan tentang wanita itu.” Alvin? Mireya bertanya-tanya, apakah Alvin yang sedang dibicarakan adalah mantan pacarnya? Jika iya, dia sungguh kehilangan kata-kata untuk mengekspresikan kemarahannya. Alvin terlalu jahat dan licik. Bahkan gelar ‘iblis’ pun masih terlalu halus jika disematkan pada pria itu. “Sudah kamu coba hubungi nomor teleponnya?” Suara Mervyn begitu dingin, tapi juga tegas. Rayyan mengangguk, “Sudah, Pak, tapi nomor teleponnya tidak aktif.” Mervyn menghela napas. “Cari tahu secepatnya.” “Baik, Pak!” Rayyan tidak punya pilihan untuk menolak, sehingga yang dia lakukan hanyalah mengangguk. Dalam keheningan, mata elang Mervyn tak sengaja melirik Mireya yang sejak tadi masih bergeming di dekat pintu. Apa wanita itu sedang menguping pemb
Mireya dan Bella menoleh ke sumber suara—yang mana seorang wanita tampak melangkah semakin dekat ke arah mereka. “Mama!” Ternyata itu adalah Irene, ibunya Bella yang baru saja pulang dari urusan bisnis di luar kota. Bella menyambut kedatangan ibunya dengan pelukan hangat. “Wah, ada siapa di sini?” Irene menatap Mireya dengan sorot mata yang memancarkan kehangatan. Mereka sudah saling kenal, tentu saja. Apalagi Mireya adalah sahabat terbaik Bella. Walaupun tidak sering, tetapi Mireya pernah beberapa kali bertemu Irene saat ada kesempatan main ke sini. Mireya mencium punggung tangan Irene dengan sopan, lalu basa-basi menanyakan kabar satu sama lain. Namun, saat hidungnya menyentuh kulit tangan Irene, Mireya mencium aroma wewangian yang membuat dirinya pusing dan mual. “Maaf, aku harus ke belakang.” Mireya pamit ke wastafel untuk menyudahi dorongan kuat dari dalam lambungnya. Pada akhirnya, Mireya hanya muntah angin karena tidak ada sisa makanan yang keluar dari mulutnya
Mireya baru saja membeli sebungkus roti dan air mineral di minimarket. Usia kehamilan pada trimester pertama membuatnya lebih sering merasa lapar. Di sisi lain, dia juga harus memikirkan bagaimana agar sisa uangnya bisa mencukupi hingga setidaknya satu bulan ke depan. Mau tak mau, dia harus hidup hemat dan memangkas segala pengeluaran yang tidak perlu. “Terima kasih,” ucapnya kepada kasir usai melakukan pembayaran. Saat ingin meninggalkan minimarket, tiba-tiba hujan turun dengan lumayan deras. Terpaksa Mireya harus berteduh karena tidak membawa mantel ataupun payung. Mireya duduk di atas kursi yang tersedia di teras minimarket. Dia membuka bungkus roti dan mulai memakannya sebagian, sementara setengah sisanya akan dia simpan untuk dimakan saat nanti lapar lagi. Detik selanjutnya, seorang wanita tua baru saja keluar dari minimarket dan ikut berteduh di sebelah Mireya. Di samping wanita itu, ada sosok pemuda bertubuh tinggi kurus yang terlihat mencurigakan. Akan tetapi, wa
Suara itu menyadarkan Mireya dari lamunan. Di sampingnya sudah ada Sania sedang berdiri dengan tangan menyentuh lembut bahunya. Sontak Mireya tersenyum seolah tidak ada masalah apa pun. “Aku baik-baik saja, Nek,” dustanya. Meski senyuman itu terlukis di bibirnya, tetapi Sania melihat titik kegetiran yang berpendar di balik tatapan nanar wanita malang itu. Sania berpikir bahwa Mireya mungkin tidak nyaman jika orang lain mencampuri urusannya terlalu dalam—apalagi mereka tidak saling mengenal sebelumnya. Jadi, dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih banyak. “Masalah yang dihadapi setiap orang memang berbeda-beda, tapi apa pun itu, jangan pernah berhenti berjuang!” ujar Sania dengan tulus. “Kamu boleh istirahat sejenak saat lelah, tapi jangan sampai menyerah. Kamu tahu apa? Gadis Kecil, dunia sangat kekurangan orang-orang sebaik kamu,” pungkasnya. Kalimat itu terdengar seperti sumber kekuatan yang merangkak masuk ke telinga, lalu merayap dan mengendap di dalam tubuh Mireya. M
Mervyn memandangi wajah Mireya lekat-lekat. Merasa tidak asing, dia mengernyit ketika menyadari bahwa Mireya merupakan orang yang telah mengikuti seleksi di perusahaannya. Tatap mata mereka saling bertemu selama beberapa detik. Entah kenapa dada Mervyn berdesir cepat, seakan ada energi kuat di balik mata cantik Mireya yang tak dapat dijabarkan. Sampai akhirnya, wanita itu mulai hilang kesadaran dan menghentikan momen canggung di antara mereka berdua. Refleks, Mervyn segera menangkap tubuh Mireya yang hampir terjatuh, hingga wanita itu berakhir pingsan dalam pelukan hangatnya. “Apa lagi yang kamu tunggu? Gadis itu butuh pertolongan. Cepat bawa dia ke rumah sakit!” perintah Sania, menyadarkan cucunya yang sejak tadi terus memandangi wajah Mireya tanpa henti, seperti sedang terhipnotis. Setelah itu, Mervyn segera membawa Mireya masuk ke mobil dengan cara menggendongnya ala bridal. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, hujan mulai reda, tetapi Mervyn masih menyalakan wiper untuk
Mireya tertegun mendengar pertanyaan Sania. Setelah terdiam beberapa detik, wanita itu menjawab, “Dia sedang pergi ke luar kota.” Terpaksa Mireya berbohong. Sebab, tidak mungkin juga dia mengatakan bahwa kehamilannya ini adalah hasil hubungan di luar nikah dan pelakunya ada di depan mata mereka, nanti yang ada malah menambah masalah. “Lalu kamu mau mencari rumah kost sendirian?” tanya Sania lagi. “Iya, Nek.” Melihat kondisi Mireya yang sepertinya belum cukup pulih, Sania khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada Mireya di luar sana. Dia pun menyarankan, “Bagaimana kalau kamu istirahat dulu di rumahku? Setelah membaik, barulah kamu bisa lanjut mencari rumah kost.” Mervyn membulatkan mata. Sungguh tidak habis pikir atas kebaikan sang nenek yang menurutnya terlalu berlebihan. “Ah, tidak perlu, Nek. Lagipula aku sudah lebih baik sekarang.” Mireya menggeleng cepat, merasa sungkan atas tawaran yang Sania berikan. “Kamu yakin tidak apa-apa?” tanya Sania memastikan. “Yakin, N
Mireya pun menjelaskan kejadian mengenai Felix yang membohonginya dengan mengatakan bahwa Henry, ayah mereka, sedang mengalami kritis di rumah sakit. Namun, ternyata Felix malah membawanya ke tempat asing dan menjadikannya jaminan utang.“Felix?” Mervyn mengerutkan dahi saat mendengar nama yang tak dia kenal. “Siapa dia?”“Dia kakak laki-lakiku. Kami lahir dari ibu yang berbeda, tetapi masih satu ayah,” terang Mireya.“Kalau begitu, artinya dia juga kakaknya Felly?” tebak pria itu.Lantas Mireya mengangguk. “Ya, mereka satu ibu,” tambahnya.Mervyn manggut-manggut paham, lalu terdiam setelahnya. Akan tetapi, isi kepalanya terus bekerja memikirkan sosok Felix yang telah membuat istri kesayangannya hampir menjadi korban pemerkosaan.Mervyn bersumpah, suatu saat Felix pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya!“Mervyn, kenapa melamun?” Mireya menyentuh sebelah pipi Mervyn dan membuatnya sedikit terkejut.Mervyn menunduk, menatap ke dalam mata cantik istrinya, lalu ter
“Hey ... apa yang kamu pikirkan?” Mervyn menyelipkan anak rambut Mireya ke belakang telinga wanita itu. “Aku tidak pernah menganggap kamu pembawa sial. Sebaliknya, aku justru merasa lebih bahagia setelah bertemu kembali dengan kamu dan anak-anak. Siapa bilang kalau kamu pembawa sial?”Mireya merasa sedikit lebih lega. Namun, perasaan sedih dan bersalah itu masih belum hilang sepenuhnya dari dalam diri. Melihat kondisi Mervyn yang tidak berdaya seperti saat ini membuatnya sangat sedih.“Mervyn, apa boleh aku menceritakan alasan yang sebenarnya?” tanya Mireya seraya mendongak, menatap mata sang suami dengan lebih serius dan dalam.Cup!Mervyn mengecup pelipis Mireya lekat-lekat. “Ceritakanlah,” balasnya.Mireya menghela napas sejenak. “Sebenarnya ... saat tiba di rumah sakit, aku duduk menunggu kamu di luar ruangan. Aku terus mendoakan untuk keselamatan kamu. Kemudian, tiba-tiba Ibu datang bersama Lisa. Aku menjelaskan pada Ibu mengenai apa yang terjadi dengan kamu, lalu Ibu menyalahkan
Setelah menjalani rawat inap selama hampir satu minggu di rumah sakit, Mervyn akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter hari ini. Akan tetapi, dia tetap membutuhkan banyak istirahat di rumah, supaya proses penyembuhan luka di perutnya lebih cepat selesai.Malam itu, di saat Marcell dan Michelle sedang belajar bersama di kamar mereka, Mireya membuatkan segelas susu hangat untuk Mervyn.Mireya menghampiri Mervyn yang berbaring di atas kasur, meletakkan sejenak gelas di atas meja. Kemudian, membantu Mervyn mengubah posisi menjadi duduk dengan kedua kaki diluruskan serta punggung yang bersandar pada kepala kasur.“Minumlah ...” ucap Mireya sembari menyodorkan kembali susu di dalam gelas berbahan kaca ke arah Mervyn.“Terima kasih,” ucap Mervyn seraya mengambil alih benda itu dan mulai meneguk minumannya pelan-pelan.“Mireya, aku mau tanya sesuatu.” Mervyn meletakkan gelas di atas meja, lalu menatap istrinya dengan serius.“Tanyakan saja,” kata Mireya yang tengah duduk di tepi kasur, menun
Lisa tercengang saat Mervyn mengusirnya secara terang-terangan di hadapan Mireya dan kedua anaknya. “Mervyn, kamu—” “Aku bilang, keluar!” Suara Mervyn terdengar lebih keras dari sebelumnya. “Jangan sampai aku memanggil satpam untuk menyeret kamu pergi dari sini!” Sungguh, Lisa terbungkam dibuatnya. Tidak ada lagi yang dapat dia lakukan selain mengalah, lalu melangkah keluar dengan wajah diselimuti amarah. Dia sama sekali tidak mengeluarkan kata apa pun untuk membalas ucapan Mervyn. Bruk! Pintu dibanting lumayan keras oleh Lisa. Saking kesalnya, mungkin dia ingin menunjukkan kepada Mervyn dan yang lain mengenai suasana hatinya. Saat ini hanya tersisa Mervyn, Mireya dan kedua anak kembar mereka di dalam ruangan. Lalu, Mireya mendekat, berdiri di samping ranjang pasien, mengambil posisi di seberang Marcell dan Michelle. Melihat wajah cantik sang istri yang tampak dipenuhi kecemasan, Mervyn lantas tersenyum lembut. “Hai ...!” Mireya ikut tersenyum, sadar bahwa kondisi suami
“Tidak mau!” Anak-anak itu menggeleng dengan kompak sambil bergerak mundur satu langkah.Mereka menatap Lisa seolah sedang berhadapan dengan penyihir jahat.Lisa sebenarnya cukup tersinggung dan kesal melihat reaksi Marcell dan Michelle. Namun, dia segera menghela napas, mencoba bersikap tenang.“Tidak perlu takut, Sayang!” ujar wanita yang diketahui merupakan mantan tunangan Mervyn tersebut. “Aku tidak akan menyakiti kalian. Sebaliknya, aku akan menjaga kalian lebih baik dari yang bisa dilakukan oleh ibu kalian,” lanjutnya.Mireya mendelik gusar. Dia menangkap adanya niat terselubung di balik perkataan Lisa yang sepertinya sedang berusaha menghasut pikiran kedua anak kembarnya.“Mami adalah yang terbaik bagi kami! Tante hanyalah orang asing. Bagaimana bisa menjadi yang lebih baik dari Mami?!” protes Marcell sambil menggenggam telapak tangan Mireya yang berdiri di sampingnya.“Ya, tentu saja aku bisa.” Lisa terkekeh pelan dengan ekspresi wajah yang tampak menyebalkan di mata kedua ana
“Papi ... sedang dirawat di rumah sakit.” Mireya memutuskan untuk mengungkapkan fakta—meskipun keadaan Mervyn yang sebenarnya jauh lebih buruk dari yang dia ungkapkan. Marcell dan Michelle terdiam seketika. Wajah mereka berubah, mencerminkan kesedihan yang dalam.Mireya bisa melihat betapa khawatirnya mereka, walaupun anak-anak itu masih kecil.Mereka tidak bisa disalahkan jika merasa bingung dan cemas mendengar kabar buruk tentang Mervyn.“Apa Papi sakit parah, Mi?” Suara Michelle terdengar bergetar seiring air mata yang memenuhi pelupuknya.Tidak bisa dipungkiri, gadis kecil itu sangat menyayangi ayahnya. Kabar ini jelas membuatnya merasa takut.Mireya merasakan hatinya semakin sakit saat melihat reaksi anaknya. Namun, dia berusaha tetap tenang.Sebagai seorang ibu, Mireya sadar, dia harus memberikan penjelasan yang bisa menenangkan hati kedua anaknya tanpa membebani lebih banyak.“Papi kecelakaan, sayang,” ucap Mireya, mulai menjelaskan dengan hati-hati. Dia berusaha memilih kata-
Mervyn perlahan membuka mata. Cahaya terang dari lampu rumah sakit menyilaukan, tetapi dia masih bisa merasakan udara dingin ruangan yang menyentuh permukaan kulit.Dia mengerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan dunia yang tampak kabur di sekitarnya. Perlahan wajah-wajah yang familiar mulai muncul satu per satu.Sarah yang semula duduk di samping ranjang, seketika bangkit saat tahu kalau Mervyn sudah sadar. Lantas dia menghampiri anak lelakinya.“Mervyn, akhirnya kamu sadar juga,” ucapnya dengan wajah antusias. Ada senyum kecil di sudut bibirnya saat melontarkan kalimat itu.Di sebelah Sarah, Lisa duduk dengan wajah penuh kekhawatiran. Matanya tidak bisa lepas dari Mervyn seakan memastikan pria itu baik-baik saja.Mervyn tidak peduli. Dia hanya mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari keberadaan Mireya. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan.Tidak ada tanda-tanda kehadiran istri dan kedua anaknya di sini. Hanya ada dua wajah yang dia kenal, tetapi tanpa melihat wajah Mireya dan si
Mireya menoleh ke sumber suara, mendapati seseorang yang melangkah semakin dekat ke arahnya.“Julian ...?”“Apa yang kamu lakukan di sini?” Pria itu duduk di samping Mireya tanpa meminta izin, seakan mereka memiliki hubungan yang sudah cukup dekat dan tidak perlu lagi basa-basi.Mireya tidak menjawab. Sebab, dia juga tak tahu harus mengatakan apa.“Mireya, apa kamu menangis?” Melihat sudut mata Mireya yang berair, Julian merasa khawatir. ”Kamu sedang ada masalah, ya?”“Sedikit,” jawab Mireya setengah ragu, membuat Julian mengerutkan kening saat mendengarnya.“Apa ini ada kaitannya dengan Mervyn?” tanya Julian, mencoba menggali informasi lebih dalam.Mireya bimbang, antara harus menjawab jujur atau tidak. Di sisi lain, dia merasa tidak memiliki kepentingan apa pun untuk menceritakan masalahnya kepada Julian—apalagi ini tentang masalah pribadi dalam rumah tangganya.Melihat reaksi Mireya yang hanya diam, Julian tahu bahwa dugaannya memang benar. Dia pun merasa kalau ini merupakan peluan
“Ibu, izinkan aku menjelaskan semuanya ...” pinta Mireya dengan ekspresi merasa bersalah, tetapi mencoba tetap tenang menghadapi emosi Sarah yang tidak terkontrol.“Memangnya apa lagi yang bisa kamu jelaskan, hah?!” Sarah terkekeh sinis, merasa tidak lagi butuh penjelasan apa pun dari bibir sang menantu.“Tadi aku hampir menjadi korban pemerkosaan, tapi kemudian Mervyn datang menyelamatkanku dan ... pada akhirnya dia ditusuk oleh salah satu anak buah dari pria itu,” ujar Mireya dengan nada gugup yang begitu kental.Mendengar itu, alih-alih iba atau basa-basi menanyakan bagaimana keadaan Mireya, seperti apa kondisi mentalnya, apakah Mireya baik-baik saja dan sebagainya, Sarah justru semakin naik pitam. Matanya jelas menunjukkan amarah yang melimpah.“Kamu tahu, Mireya? Bertemu dengan kamu adalah suatu kesialan terbesar dalam hidup Mervyn!” Sarah berbicara dengan nada tajam dan penuh tekanan di setiap kata yang dia lontarkan.Hati Mireya terasa perih mendengarnya. Sebelum bertemu dengan