Mireya memegang gagang pintu dengan tangan gemetar. Sekujur tubuhnya seakan membeku saat mendengar pertanyaan Mervyn.
“Saya belum bertemu lagi dengan Alvin, Pak,” ucap Rayyan, “Jadi, belum ada informasi apa pun yang saya dapatkan tentang wanita itu.” Alvin? Mireya bertanya-tanya, apakah Alvin yang sedang dibicarakan adalah mantan pacarnya? Jika iya, dia sungguh kehilangan kata-kata untuk mengekspresikan kemarahannya. Alvin terlalu jahat dan licik. Bahkan gelar ‘iblis’ pun masih terlalu halus jika disematkan pada pria itu. “Sudah kamu coba hubungi nomor teleponnya?” Suara Mervyn begitu dingin, tapi juga tegas. Rayyan mengangguk, “Sudah, Pak, tapi nomor teleponnya tidak aktif.” Mervyn menghela napas. “Cari tahu secepatnya.” “Baik, Pak!” Rayyan tidak punya pilihan untuk menolak, sehingga yang dia lakukan hanyalah mengangguk. Dalam keheningan, mata elang Mervyn tak sengaja melirik Mireya yang sejak tadi masih bergeming di dekat pintu. Apa wanita itu sedang menguping pembicaraannya? “Ehm!” Suara dehaman itu cukup mengejutkan hingga membuat Mireya tersentak. Meski begitu, dia tetap menunduk karena tidak berani menoleh. “Apa urusanmu masih belum selesai?” Mervyn bertanya dengan nada menyindir dan Mireya sadar jika dirinya sudah terlalu lancang menguping percakapan orang lain. “Maaf ...” ujar wanita itu seraya membungkuk hormat. Rayyan diam-diam memperhatikan Mireya dengan dahi mengernyit. Dia sempat curiga bahwa Mireya adalah wanita yang dijual oleh Alvin. Sebab, postur tubuhnya terlihat mirip. Akan tetapi, saat dia ingin memastikan, Mireya sudah lebih dulu buka suara, “Saya izin keluar, Pak.” Tanpa banyak basa-basi, wanita itu segera meninggalkan ruangan. Dia tak ingin terlibat dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman. Mervyn kembali menatap Rayyan seraya berkata, “Apa kamu masih ingat siapa nama wanita itu?” Pertanyaan itu mengalihkan perhatian Rayyan. “Saya tidak begitu yakin,” sahutnya ragu-ragu. Mervyn menghela napas berat, lalu menyuruh Rayyan meninggalkannya sendirian di sini. Dalam lamunan, adegan di malam itu kembali memenuhi isi kepala Mervyn. Terus berputar tanpa jeda, seperti potongan video yang telah diatur berulang secara otomatis. Tubuhnya bersandar pada punggung kursi, sedangkan satu tangannya memijat kepala yang terasa pusing. Seandainya tidak mabuk saat itu, maka dia tak perlu menghabiskan malam bersama seorang gadis di kamar hotel. Namun, patah hati usai dikhianati sang kekasih membuatnya begitu frustrasi hingga mengambil langkah bodoh dengan mengkonsumsi minuman keras terlalu banyak. Dia baru sadar di pagi hari dan sangat terkejut melihat bercak darah kering di sisi sprei. Kenyataan bahwa gadis yang dia sentuh ternyata masih perawan, membuatnya merasa bersalah dan berpikir harus bertanggung jawab atas kesucian seseorang yang telah dia renggut. Tapi ... di mana gadis itu sekarang? *** Sore harinya, perut Mireya tiba-tiba keroncongan. Dia baru ingat, sejak tadi belum sempat makan siang. Mireya pergi ke dapur, melihat persediaan mie instan di dalam pantry yang dia beli dengan uang sisa tabungannya sendiri. Aroma dari kuah yang dipadukan dengan bumbu mie membuatnya semakin lapar. Dia menduduki kursi kosong, mengaduk mie, lalu meniupnya sesekali dan mulai menyantapnya. Baru menikmati beberapa suap, tiba-tiba derap langkah terdengar disusul oleh suara seseorang. “Mireya, kenapa kamu makan itu?” Bella mendekat, lalu mengambil alih mangkuk dari tangan Mireya. “Ada banyak hidangan di meja makan, kenapa malah masak mie?” Melihat raut cemas di wajah Bella, Mireya tersenyum dan berkata, ”Aku sedang ingin makan mie.” “Tapi bagaimana dengan kandunganmu? Bukankah itu tidak bagus untuk wanita hamil?” Perhatian kecil Bella membuat Mireya terharu dan merasa sangat beruntung bisa bersahabat dengannya. “Tidak apa jika hanya sesekali. Lagipula, sudah lama aku tidak memakannya,” ujar Mireya. Kalimat itu tidak mengurangi kekhawatiran di dalam diri Bella. Entah kenapa dia mencium adanya ketidakjujuran dari Mireya. “Aku tahu kamu, Reya. Pasti kamu tidak menyentuh masakanku karena tidak enak hati, ‘kan?” Mireya diam saja. Bukan satu dua tahun mereka saling kenal. Jadi, sedikit banyaknya Bella sudah hafal seperti apa sifat Mireya. Mireya bukanlah orang yang suka mengumbar segala hal pahit dalam hidupnya. Bila perlu akan dia telan semuanya sendirian, yang penting tidak menyusahkan orang lain. Bahkan, saat diusir dari rumah pun Mireya tidak pernah datang kepada Bella untuk meminta bantuan, tapi Bella sendiri yang menawarkannya tinggal di rumah ini. Bagaimanapun, Bella menganggap Mireya adalah sahabat yang sangat baik dan layak diperlakukan baik pula. “Sudah, tidak perlu makan ini lagi. Aku sudah masak banyak hari ini. Kalau kamu tidak bantu habiskan, nanti makanannya tersisa banyak dan ujung-ujungnya malah basi.” Bella menyingkirkan mangkuk mie, lalu mengajak Mireya menuju ruang makan. Kemudian, satu tangannya menarik kursi kosong untuk Mireya, menyuruhnya segera duduk. Selain itu, Bella juga membantu menyendokkan nasi ke dalam piring, menambahkan daging, sayuran dan beberapa menu hidangan lain yang tersedia di atas meja makan. “Makanlah,” ucap Bella dengan penuh perhatian. Mireya merasakan ketulusan itu yang membuat hatinya menghangat. “Terima kasih. Kamu sangat baik, Bella. Setelah dapat pekerjaan dan menerima gaji pertama, aku akan mentraktirmu makan sepuasnya.” Bella membalas, “Badanku memang kecil, tapi lambungku sangat besar. Aku ragu, apa kamu bisa membayar semua yang aku makan nanti?” Mireya tahu kalau Bella sedang bercanda, sehingga dia membalas kalimat itu dengan kekehan ringan. Detik selanjutnya, Mireya mulai memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Akan tetapi, saat melihat Bella yang hanya terdiam duduk, dia pun mengajaknya makan bersama. Di tengah itu, Bella menanyakan satu hal pada Mireya. “Bagaimana interview hari ini? Apa semuanya berjalan lancar?” Mireya hampir tersedak, karena pertanyaan Bella mengingatkannya pada pria yang menjadi penyebab utama kenapa hidupnya bisa sehancur sekarang. Melihat itu, Bella segera menyodorkan segelas air sambil mengernyit kikuk. “Hey ... santai saja. Aku cuma bertanya.” Mireya menghela napas sejenak untuk menenangkan diri. “Aku tidak yakin akan diterima.” “Kenapa? Bukankah kamu sudah menyiapkan diri sebaik mungkin?” “Ya, tapi aku menjawabnya dengan gugup.” Mireya kembali mengunyah makanannya, mencoba tetap santai. “Hahaha ... daya tarik Pak Mervyn memang sangat kuat,” kata Bella. “Kamu pasti langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, ‘kan?” Mireya tersipu, tapi juga sedikit kesal mendengarnya. “Itu tidak mungkin,” katanya. “Kenapa?” Hening. Sebelumnya, Mireya belum pernah memberitahu siapa pun bahwa Mervyn adalah ayah biologis dari janin yang ada di rahimnya. Jadi, dia ragu apakah sekarang harus bercerita kepada Bella atau tidak. Tap, tap, tap .... Belum sempat menjawab, tiba-tiba derap langkah seseorang terdengar semakin dekat.Mireya dan Bella menoleh ke sumber suara—yang mana seorang wanita tampak melangkah semakin dekat ke arah mereka. “Mama!” Ternyata itu adalah Irene, ibunya Bella yang baru saja pulang dari urusan bisnis di luar kota. Bella menyambut kedatangan ibunya dengan pelukan hangat. “Wah, ada siapa di sini?” Irene menatap Mireya dengan sorot mata yang memancarkan kehangatan. Mereka sudah saling kenal, tentu saja. Apalagi Mireya adalah sahabat terbaik Bella. Walaupun tidak sering, tetapi Mireya pernah beberapa kali bertemu Irene saat ada kesempatan main ke sini. Mireya mencium punggung tangan Irene dengan sopan, lalu basa-basi menanyakan kabar satu sama lain. Namun, saat hidungnya menyentuh kulit tangan Irene, Mireya mencium aroma wewangian yang membuat dirinya pusing dan mual. “Maaf, aku harus ke belakang.” Mireya pamit ke wastafel untuk menyudahi dorongan kuat dari dalam lambungnya. Pada akhirnya, Mireya hanya muntah angin karena tidak ada sisa makanan yang keluar dari mulutnya
Mireya baru saja membeli sebungkus roti dan air mineral di minimarket. Usia kehamilan pada trimester pertama membuatnya lebih sering merasa lapar. Di sisi lain, dia juga harus memikirkan bagaimana agar sisa uangnya bisa mencukupi hingga setidaknya satu bulan ke depan. Mau tak mau, dia harus hidup hemat dan memangkas segala pengeluaran yang tidak perlu. “Terima kasih,” ucapnya kepada kasir usai melakukan pembayaran. Saat ingin meninggalkan minimarket, tiba-tiba hujan turun dengan lumayan deras. Terpaksa Mireya harus berteduh karena tidak membawa mantel ataupun payung. Mireya duduk di atas kursi yang tersedia di teras minimarket. Dia membuka bungkus roti dan mulai memakannya sebagian, sementara setengah sisanya akan dia simpan untuk dimakan saat nanti lapar lagi. Detik selanjutnya, seorang wanita tua baru saja keluar dari minimarket dan ikut berteduh di sebelah Mireya. Di samping wanita itu, ada sosok pemuda bertubuh tinggi kurus yang terlihat mencurigakan. Akan tetapi, wa
Suara itu menyadarkan Mireya dari lamunan. Di sampingnya sudah ada Sania sedang berdiri dengan tangan menyentuh lembut bahunya. Sontak Mireya tersenyum seolah tidak ada masalah apa pun. “Aku baik-baik saja, Nek,” dustanya. Meski senyuman itu terlukis di bibirnya, tetapi Sania melihat titik kegetiran yang berpendar di balik tatapan nanar wanita malang itu. Sania berpikir bahwa Mireya mungkin tidak nyaman jika orang lain mencampuri urusannya terlalu dalam—apalagi mereka tidak saling mengenal sebelumnya. Jadi, dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih banyak. “Masalah yang dihadapi setiap orang memang berbeda-beda, tapi apa pun itu, jangan pernah berhenti berjuang!” ujar Sania dengan tulus. “Kamu boleh istirahat sejenak saat lelah, tapi jangan sampai menyerah. Kamu tahu apa? Gadis Kecil, dunia sangat kekurangan orang-orang sebaik kamu,” pungkasnya. Kalimat itu terdengar seperti sumber kekuatan yang merangkak masuk ke telinga, lalu merayap dan mengendap di dalam tubuh Mireya. M
Mervyn memandangi wajah Mireya lekat-lekat. Merasa tidak asing, dia mengernyit ketika menyadari bahwa Mireya merupakan orang yang telah mengikuti seleksi di perusahaannya. Tatap mata mereka saling bertemu selama beberapa detik. Entah kenapa dada Mervyn berdesir cepat, seakan ada energi kuat di balik mata cantik Mireya yang tak dapat dijabarkan. Sampai akhirnya, wanita itu mulai hilang kesadaran dan menghentikan momen canggung di antara mereka berdua. Refleks, Mervyn segera menangkap tubuh Mireya yang hampir terjatuh, hingga wanita itu berakhir pingsan dalam pelukan hangatnya. “Apa lagi yang kamu tunggu? Gadis itu butuh pertolongan. Cepat bawa dia ke rumah sakit!” perintah Sania, menyadarkan cucunya yang sejak tadi terus memandangi wajah Mireya tanpa henti, seperti sedang terhipnotis. Setelah itu, Mervyn segera membawa Mireya masuk ke mobil dengan cara menggendongnya ala bridal. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, hujan mulai reda, tetapi Mervyn masih menyalakan wiper untuk
Mireya tertegun mendengar pertanyaan Sania. Setelah terdiam beberapa detik, wanita itu menjawab, “Dia sedang pergi ke luar kota.” Terpaksa Mireya berbohong. Sebab, tidak mungkin juga dia mengatakan bahwa kehamilannya ini adalah hasil hubungan di luar nikah dan pelakunya ada di depan mata mereka, nanti yang ada malah menambah masalah. “Lalu kamu mau mencari rumah kost sendirian?” tanya Sania lagi. “Iya, Nek.” Melihat kondisi Mireya yang sepertinya belum cukup pulih, Sania khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada Mireya di luar sana. Dia pun menyarankan, “Bagaimana kalau kamu istirahat dulu di rumahku? Setelah membaik, barulah kamu bisa lanjut mencari rumah kost.” Mervyn membulatkan mata. Sungguh tidak habis pikir atas kebaikan sang nenek yang menurutnya terlalu berlebihan. “Ah, tidak perlu, Nek. Lagipula aku sudah lebih baik sekarang.” Mireya menggeleng cepat, merasa sungkan atas tawaran yang Sania berikan. “Kamu yakin tidak apa-apa?” tanya Sania memastikan. “Yakin, N
Tepukan kecil yang Mervyn lakukan berhasil menyadarkan Mireya dari mimpi buruk. Dengan cepat kelopak matanya terbuka lebar, tetapi yang membuatnya lebih kaget lagi adalah ketika dirinya mendapati kehadiran Mervyn pada jarak yang cukup dekat. Posisi Mervyn dengan tubuh sedikit dicondongkan ke depan jelas kembali mengingatkan Mireya pada momen di malam itu, ketika pertama kalinya dia melihat pria itu berkuasa di atasnya. Sulit bagi Mireya untuk bisa mengendalikan perasaan sekarang. Tubuhnya menjadi bergetar hebat seiring peluh yang mulai membasahi kening dan telapak tangan. Lalu, dia tanpa sadar meloloskan setitik air mata yang tak lagi dapat dibendung. “Apa mimpi kamu sangat buruk?” Mervyn bertanya dengan hati-hati. Karena melihat Mireya sudah sangat ketakutan, jadi dia bicara lebih lembut agar tidak membuatnya semakin takut. Mireya tidak menjawab, melainkan hanya terus menangis seraya menutup rapat kedua telinga seperti menyimpan trauma yang begitu dalam. Sejujurnya dia baru sa
Tuduhan Mervyn membuat Mireya tersinggung, tetapi dia masih dapat mengendalikan diri untuk tidak marah. “Pak, bahkan seandainya di dunia ini tidak ada lagi yang aku miliki, jangan pernah berpikir aku akan melakukan hal curang demi mendapatkan uang,” ucap Mireya. “Sedikit pun aku tidak pernah bermain-main dengan kebaikan hati seseorang.” Jawaban Mireya cukup mengesankan, seperti orang yang memiliki hati tulus. Namun, masih ada kejanggalan di benak Mervyn yang membuatnya tidak langsung percaya begitu saja. Bisa jadi Mireya memang tipikal manusia yang pandai bersilat lidah, ‘kan? “Baguslah.” Mervyn kembali menguji Mireya. Kali ini dengan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet. “Aku dengar kamu sudah menolong Nenek yang barangnya hampir dicuri. Jadi, ambil saja ini sebagai tanda terima kasih.” Mata Mireya tertuju pada uang yang Mervyn sodorkan. Dia tidak tahu berapa jumlah pastinya, yang jelas itu terlihat lebih banyak dibanding sisa uang yang dia punya sekarang. Namun, teta
Mervyn bersama beberapa pengawalnya langsung mendatangi alamat rumah yang mereka dapatkan dari Alvin. Berdasarkan informasi yang pria itu berikan, ini adalah tempat kediaman keluarga Henry Darmawan, dan wanita yang dijual ke Mervyn pada malam itu merupakan putri kandung Henry. Berdiri di depan pintu, salah satu pengawal menekan bel beberapa kali, sedangkan Mervyn hanya menunggu dengan wajah tenang. Ya, Mervyn memang selalu pandai menyembunyikan perasaan walaupun sebenarnya dia mungkin juga cukup penasaran pada wanita itu. Tak berapa lama, pintu terbuka. Menampilkan sosok wanita paruh baya yang tengah berdiri di ambang pintu dengan dahi mengernyit. “Kalian siapa?” Itu adalah Karin. Dia merasa tidak memiliki janji temu dengan siapa pun hari ini. Jadi, kedatangan orang-orang berpakaian formal di hadapannya saat ini sungguh membuatnya bingung. Tanpa perlu disuruh, satu dari lima anak buah Mervyn segera maju untuk menjawab pertanyaan Karin. “Selamat siang, Nyonya! Apa benar
Mireya pun menjelaskan kejadian mengenai Felix yang membohonginya dengan mengatakan bahwa Henry, ayah mereka, sedang mengalami kritis di rumah sakit. Namun, ternyata Felix malah membawanya ke tempat asing dan menjadikannya jaminan utang.“Felix?” Mervyn mengerutkan dahi saat mendengar nama yang tak dia kenal. “Siapa dia?”“Dia kakak laki-lakiku. Kami lahir dari ibu yang berbeda, tetapi masih satu ayah,” terang Mireya.“Kalau begitu, artinya dia juga kakaknya Felly?” tebak pria itu.Lantas Mireya mengangguk. “Ya, mereka satu ibu,” tambahnya.Mervyn manggut-manggut paham, lalu terdiam setelahnya. Akan tetapi, isi kepalanya terus bekerja memikirkan sosok Felix yang telah membuat istri kesayangannya hampir menjadi korban pemerkosaan.Mervyn bersumpah, suatu saat Felix pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya!“Mervyn, kenapa melamun?” Mireya menyentuh sebelah pipi Mervyn dan membuatnya sedikit terkejut.Mervyn menunduk, menatap ke dalam mata cantik istrinya, lalu ter
“Hey ... apa yang kamu pikirkan?” Mervyn menyelipkan anak rambut Mireya ke belakang telinga wanita itu. “Aku tidak pernah menganggap kamu pembawa sial. Sebaliknya, aku justru merasa lebih bahagia setelah bertemu kembali dengan kamu dan anak-anak. Siapa bilang kalau kamu pembawa sial?”Mireya merasa sedikit lebih lega. Namun, perasaan sedih dan bersalah itu masih belum hilang sepenuhnya dari dalam diri. Melihat kondisi Mervyn yang tidak berdaya seperti saat ini membuatnya sangat sedih.“Mervyn, apa boleh aku menceritakan alasan yang sebenarnya?” tanya Mireya seraya mendongak, menatap mata sang suami dengan lebih serius dan dalam.Cup!Mervyn mengecup pelipis Mireya lekat-lekat. “Ceritakanlah,” balasnya.Mireya menghela napas sejenak. “Sebenarnya ... saat tiba di rumah sakit, aku duduk menunggu kamu di luar ruangan. Aku terus mendoakan untuk keselamatan kamu. Kemudian, tiba-tiba Ibu datang bersama Lisa. Aku menjelaskan pada Ibu mengenai apa yang terjadi dengan kamu, lalu Ibu menyalahkan
Setelah menjalani rawat inap selama hampir satu minggu di rumah sakit, Mervyn akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter hari ini. Akan tetapi, dia tetap membutuhkan banyak istirahat di rumah, supaya proses penyembuhan luka di perutnya lebih cepat selesai.Malam itu, di saat Marcell dan Michelle sedang belajar bersama di kamar mereka, Mireya membuatkan segelas susu hangat untuk Mervyn.Mireya menghampiri Mervyn yang berbaring di atas kasur, meletakkan sejenak gelas di atas meja. Kemudian, membantu Mervyn mengubah posisi menjadi duduk dengan kedua kaki diluruskan serta punggung yang bersandar pada kepala kasur.“Minumlah ...” ucap Mireya sembari menyodorkan kembali susu di dalam gelas berbahan kaca ke arah Mervyn.“Terima kasih,” ucap Mervyn seraya mengambil alih benda itu dan mulai meneguk minumannya pelan-pelan.“Mireya, aku mau tanya sesuatu.” Mervyn meletakkan gelas di atas meja, lalu menatap istrinya dengan serius.“Tanyakan saja,” kata Mireya yang tengah duduk di tepi kasur, menun
Lisa tercengang saat Mervyn mengusirnya secara terang-terangan di hadapan Mireya dan kedua anaknya. “Mervyn, kamu—” “Aku bilang, keluar!” Suara Mervyn terdengar lebih keras dari sebelumnya. “Jangan sampai aku memanggil satpam untuk menyeret kamu pergi dari sini!” Sungguh, Lisa terbungkam dibuatnya. Tidak ada lagi yang dapat dia lakukan selain mengalah, lalu melangkah keluar dengan wajah diselimuti amarah. Dia sama sekali tidak mengeluarkan kata apa pun untuk membalas ucapan Mervyn. Bruk! Pintu dibanting lumayan keras oleh Lisa. Saking kesalnya, mungkin dia ingin menunjukkan kepada Mervyn dan yang lain mengenai suasana hatinya. Saat ini hanya tersisa Mervyn, Mireya dan kedua anak kembar mereka di dalam ruangan. Lalu, Mireya mendekat, berdiri di samping ranjang pasien, mengambil posisi di seberang Marcell dan Michelle. Melihat wajah cantik sang istri yang tampak dipenuhi kecemasan, Mervyn lantas tersenyum lembut. “Hai ...!” Mireya ikut tersenyum, sadar bahwa kondisi suami
“Tidak mau!” Anak-anak itu menggeleng dengan kompak sambil bergerak mundur satu langkah.Mereka menatap Lisa seolah sedang berhadapan dengan penyihir jahat.Lisa sebenarnya cukup tersinggung dan kesal melihat reaksi Marcell dan Michelle. Namun, dia segera menghela napas, mencoba bersikap tenang.“Tidak perlu takut, Sayang!” ujar wanita yang diketahui merupakan mantan tunangan Mervyn tersebut. “Aku tidak akan menyakiti kalian. Sebaliknya, aku akan menjaga kalian lebih baik dari yang bisa dilakukan oleh ibu kalian,” lanjutnya.Mireya mendelik gusar. Dia menangkap adanya niat terselubung di balik perkataan Lisa yang sepertinya sedang berusaha menghasut pikiran kedua anak kembarnya.“Mami adalah yang terbaik bagi kami! Tante hanyalah orang asing. Bagaimana bisa menjadi yang lebih baik dari Mami?!” protes Marcell sambil menggenggam telapak tangan Mireya yang berdiri di sampingnya.“Ya, tentu saja aku bisa.” Lisa terkekeh pelan dengan ekspresi wajah yang tampak menyebalkan di mata kedua ana
“Papi ... sedang dirawat di rumah sakit.” Mireya memutuskan untuk mengungkapkan fakta—meskipun keadaan Mervyn yang sebenarnya jauh lebih buruk dari yang dia ungkapkan. Marcell dan Michelle terdiam seketika. Wajah mereka berubah, mencerminkan kesedihan yang dalam.Mireya bisa melihat betapa khawatirnya mereka, walaupun anak-anak itu masih kecil.Mereka tidak bisa disalahkan jika merasa bingung dan cemas mendengar kabar buruk tentang Mervyn.“Apa Papi sakit parah, Mi?” Suara Michelle terdengar bergetar seiring air mata yang memenuhi pelupuknya.Tidak bisa dipungkiri, gadis kecil itu sangat menyayangi ayahnya. Kabar ini jelas membuatnya merasa takut.Mireya merasakan hatinya semakin sakit saat melihat reaksi anaknya. Namun, dia berusaha tetap tenang.Sebagai seorang ibu, Mireya sadar, dia harus memberikan penjelasan yang bisa menenangkan hati kedua anaknya tanpa membebani lebih banyak.“Papi kecelakaan, sayang,” ucap Mireya, mulai menjelaskan dengan hati-hati. Dia berusaha memilih kata-
Mervyn perlahan membuka mata. Cahaya terang dari lampu rumah sakit menyilaukan, tetapi dia masih bisa merasakan udara dingin ruangan yang menyentuh permukaan kulit.Dia mengerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan dunia yang tampak kabur di sekitarnya. Perlahan wajah-wajah yang familiar mulai muncul satu per satu.Sarah yang semula duduk di samping ranjang, seketika bangkit saat tahu kalau Mervyn sudah sadar. Lantas dia menghampiri anak lelakinya.“Mervyn, akhirnya kamu sadar juga,” ucapnya dengan wajah antusias. Ada senyum kecil di sudut bibirnya saat melontarkan kalimat itu.Di sebelah Sarah, Lisa duduk dengan wajah penuh kekhawatiran. Matanya tidak bisa lepas dari Mervyn seakan memastikan pria itu baik-baik saja.Mervyn tidak peduli. Dia hanya mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari keberadaan Mireya. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan.Tidak ada tanda-tanda kehadiran istri dan kedua anaknya di sini. Hanya ada dua wajah yang dia kenal, tetapi tanpa melihat wajah Mireya dan si
Mireya menoleh ke sumber suara, mendapati seseorang yang melangkah semakin dekat ke arahnya.“Julian ...?”“Apa yang kamu lakukan di sini?” Pria itu duduk di samping Mireya tanpa meminta izin, seakan mereka memiliki hubungan yang sudah cukup dekat dan tidak perlu lagi basa-basi.Mireya tidak menjawab. Sebab, dia juga tak tahu harus mengatakan apa.“Mireya, apa kamu menangis?” Melihat sudut mata Mireya yang berair, Julian merasa khawatir. ”Kamu sedang ada masalah, ya?”“Sedikit,” jawab Mireya setengah ragu, membuat Julian mengerutkan kening saat mendengarnya.“Apa ini ada kaitannya dengan Mervyn?” tanya Julian, mencoba menggali informasi lebih dalam.Mireya bimbang, antara harus menjawab jujur atau tidak. Di sisi lain, dia merasa tidak memiliki kepentingan apa pun untuk menceritakan masalahnya kepada Julian—apalagi ini tentang masalah pribadi dalam rumah tangganya.Melihat reaksi Mireya yang hanya diam, Julian tahu bahwa dugaannya memang benar. Dia pun merasa kalau ini merupakan peluan
“Ibu, izinkan aku menjelaskan semuanya ...” pinta Mireya dengan ekspresi merasa bersalah, tetapi mencoba tetap tenang menghadapi emosi Sarah yang tidak terkontrol.“Memangnya apa lagi yang bisa kamu jelaskan, hah?!” Sarah terkekeh sinis, merasa tidak lagi butuh penjelasan apa pun dari bibir sang menantu.“Tadi aku hampir menjadi korban pemerkosaan, tapi kemudian Mervyn datang menyelamatkanku dan ... pada akhirnya dia ditusuk oleh salah satu anak buah dari pria itu,” ujar Mireya dengan nada gugup yang begitu kental.Mendengar itu, alih-alih iba atau basa-basi menanyakan bagaimana keadaan Mireya, seperti apa kondisi mentalnya, apakah Mireya baik-baik saja dan sebagainya, Sarah justru semakin naik pitam. Matanya jelas menunjukkan amarah yang melimpah.“Kamu tahu, Mireya? Bertemu dengan kamu adalah suatu kesialan terbesar dalam hidup Mervyn!” Sarah berbicara dengan nada tajam dan penuh tekanan di setiap kata yang dia lontarkan.Hati Mireya terasa perih mendengarnya. Sebelum bertemu dengan