Pacar Toxic 15 "Lho, Luk. Sejak kapan kamu di sini?" Diani nampak terkejut melihatku duduk manis di teras rumahnya. Dari rumah makan tadi aku langsung meluncur ke rumah Diani, mau curhat dan minta bantuannya. Masalah Reymond ini tidak bisa dianggap sepele, aku butuh masukan untuk mencari jalan keluar, agar terbebas dari hubungan tak sehat ini. Tak mungkin aku cerita sama orang tuaku, takut mereka kepikiran. "Sejak pulang kantor tadi, Di." Diani melirik jam tangannya. "Berarti sudah lumayan lama, ya? Sudah ketemu Mama, belum?" Tante Mira, mamanya Diani orangnya ramah banget, tutur bahasanya lembut. Bukan macam Diani yang bar-bar, dan songong kalau ngomong. Kadang kupikir, Diani itu anak pungut, bukan anak kandung. Sifatnya bertolak belakang dengan mamanya. Tadi kami sempat ngobrol sebentar, tapi beliau masuk lagi karena ada urusan. Dan taka lama kemudian datang Diani, yang baru pulang kantor. "Sudah. Nih, udah dapat minum." Aku mengangkat gelas berisi es teh, yang isinya ti
Pacar Toxic 16 "Bismillahirrahmanirrahim.... " Setelah beberapa saat menguatkan hati dan mental, aku beranikan diri menghadap Pak Tema, atasanku. Bukan tanpa alasan aku lebih seperti akan bertemu malaikat Malik, penjaga neraka. Dibanding ketemu atasan. Beberapa waktu lalu, pernah terjadi perkelahian sengit antara Pak Tema dan Reymond gara-gara aku. Sejak itu Pak Bos seperti mendiamkanku, tak pernah menyapa meski berpapasan. Sepertinya beliau masih marah padaku. Wajar kalau rasa takut mencengkeram begitu kuat di hatiku, ketika harus menemui beliau. "Silahkan masuk!" Suara bariton itu terdengar begitu tegas menyahut, setelah kuketuk pintu. "Assalamu'alaikum, Pak. Selamat siang," sapaku sopan, seraya menutup kembali pintu. Pak Tema yang tengah sibuk dengan laptopnya itu mendongak. "Waalaikumsalam," Pak Tema menatapku, sejenak tatapan kami terkunci. Namun sedetik kemudian dia kembali menatap laptopnya. "Ada perlu apa?" tanyanya dingin, tanpa menatapku. Keberanian yang tadi be
Pacar Toxic 17 Tak ingin membuat Pak Tema menunggu, aku berlari kecil menuju tempat parkir yang sore ini nampak sepi. Entah kemana Pak Sapri? Pria paruh baya itu tak terlihat standby di depan, padahal biasanya dia mengatur keluar masuknya kendaraan. Hanya ada beberapa motor dan beberapa mobil yang salah salah satunya milik Pak Tema. "Yang!" Freeze. Aku membeku seketika mendengar suara familiar itu. Cowok yang beberapa bulan terakhir ini jadi pacarku itu, kini sudah berdiri di depanku. Penampilan terlihat sedikit berantakan, tapi terlihat lebih baik dibanding kemarin sore. "Rey----mond, kamu ma--mau apa?" tanyaku gemetaran. Kejadian kemarin sore kembali berkelebat, mencengkram hati dalam ketakutan. "Kok, mau apa? Ya mau jemput pacarku, lah, Yang. Pulang, yuk!" sahutnya enteng. Aku menggeleng tegas. Setelah kejadian kemarin sore, mana mau aku diantar dia pulang. Yang ada nanti kena palak! Apalagi yang mau dia rampas dariku? Reymond mendekat padaku, dia berusaha meraih tan
Pacar Toxic 18 "Terima kasih, Pak! Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian tadi." Pak Tema membisu. Dia anteng di belakang kemudi, dengan tatapan lurus ke depan. Mungkin masih marah padaku. Tak mendapat respon, aku pun melepas seat belt dan membuka pintu bermaksud turun. Namun tangan kekar Pak Tema menahanku. Aku menatap tangan kekar itu, lalu beralih ke wajahnya. Tatapan kami bersirobok, tapi hanya sesaat. Karena aku langsung menunduk. Mana kuat aku membalas tatapan itu? Bikin meleleh, Say.... Pak Tema kemudian melepaskan pegangannya. "Maaf." Hanya itu yang keluar dari bibirnya, setelah itu dia kembali diam. Dia melempar pandangan ke arah lain. "Iya, Pak." "Bukannya bermaksud mencampuri urusan pribadimu, saya hanya sedikit memberi saran. Sebaiknya kamu jauhi cowok kamu itu." "Mantan, Pak," ralatku. "Ya, mantan cowok kamu berbahaya. Mungkin dia dendam, sebaiknya kamu pindah kos secepatnya. Bukannya saya menakut-nakuti, hanya mengingatkan kamu untuk lebih wasp
Pacar Toxic 19 Ini bonus untuk pembaca setia Pacar Toxic, mulai Bab 20 akan dikunci tanpa candi. Yang pengen baca maraton bisa join di TELEGRAM berbayar. Satu koper, satu ransel dan 2 kardus sudah ku susun rapi di pojok kamar dekat pintu. Biar nanti tinggal angkat kalau Diani datang. Gadis itu janji mau ke sini malam ini bawa mobil, ngambil bawaanku. Dia bilang, biar besok pagi aku nggak perlu repot. Pulang kerja langsung pindah ke kosan temannya Erika. The best friend forever memang. Tiba-tiba pintu kamarku di ketuk, sontak aku bangkit dari tempatku duduk. Itu pasti Diani yang datang, begitu pikir. Namun betapa terkejutnya aku begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu. "Hai, Yang. Kaget, ya?" Aku langsung mendorong kasar tubuh itu sekuat tenaga, lalu berusaha menutup pintu. Tapi sayang, aku kalah gesit dan kalah tenaga. Reymond berhasil menerobos masuk, dia menutup pintu dan langsung menguncinya. Setelah itu kuncinya dia masukin kantong celana. Dan kini giliran dia y
Pacar Toxic 20 Pov Pak Tema. "Bukannya Papa mau mencampuri urusan rumah tanggamu, Papa hanya kasihan melihat kamu hidup seperti robot seperti itu. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Ceraikan Meli, dan menikah lagi. Kalau kamu tidak tega, kamu bisa poligami dia dan tetap merawat dia tanpa perlu meninggalkannya. Apa kamu tidak ingin hidup normal seperti orang lain?" Selalu seperti itu. Ini bukan pertama kalinya Papa memintaku menceraikan Melly, wanita yang ku nikahi 5 tahun lalu. Bukan tanpa alasan Papa berkata seperti itu. Sejak melahirkan anak pertama kami, Melly tidak bisa menjalankan perannya sebagai istri. Anak kami pun tak pernah mendapat kasih sayang darinya, sejak lahir hingga sekarang. Papa bahkan pernah menyodorkan beberapa wanita, yang menurutnya layak menjadi istriku. Namun dengan tegas kutolak. Pernikahan bagiku sakral, bukan untuk dipermainkan. Sebagai laki-laki normal, tentu aku ingin dilayani istriku. Mendapat perhatian dan kasih sayang semestinya, tapi gangguan
Pacar Toxic 21 Pov Pak Tema Luluk segera mendapat penanganan dari tim medis rumah sakit, dan sekarang sudah berada di kamar perawatan. Tubuhnya sudah dibersihkan, dan sudah dipakaikan baju sama perawat. Bukan aku, ya. Aku yang sempat mengkhawatirkan kondisinya, sekarang bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dokter. "Pasien hanya mengalami luka luar, tak ada organ dalam yang luka," jelas dokter yang menangani Luluk. "Apa pasien sampai diperkosa, Dok? Maksud saya apa pelaku berhasil memperkosa korban?" Bukan tanpa alasan aku bertanya seperti itu. Ketika menerobos masuk, kulihat Reymond berada di atas tubuh Luluk. Bukan tidak mungkin saat itu dia sudah berhasil menodai gadis itu. "Kami tidak menemukan bekas aktivitas seksual. Untuk hasil yang lebih akurat, kami menunggu pemeriksaan dari dokter forensik. Yang mengeluarkan surat visum juga dokter forensik nanti. Jadi, hasilnya itu bisa anda gunakan sebagai bukti untuk melaporkan tersangka," jelas Dokter itu. Aku be
Pacar Toxic 22 Sayup-sayup suara azan menarik kembali kesadaranku. Meski mata terpejam, aku bisa rasakan tubuh kaku dan nyeri di sekujur badan. Jangan tanya bagaimana rasanya. Ya Allah.... Sakitnya minta ampun. "Sshh..." Aku mendesis kesakitan, manakala berusaha menggerakkan badan. Nyeri itu semakin menyiksa. Jangankan untuk bergerak membuka mata saja sakitnya luar biasa. Perlahan ku coba kembali merangkai kembali kepingan ingatan, sebelum aku tersadar kembali. Ya, aku ingat sekarang. Raymond menerobos masuk ke kamarku dalam keadaan mabuk, lalu membabi-buta menghajarku. Sebelum aku pingsan, kudengar suara Diani meneriakkan namaku. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa. Bahkan sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, kupikir aku sudah kehilangan nyawa. Meski susah payah, Akhirnya aku berhasil membuka mata. Hal pertama yang tertangkap inderaku, adalah ruangan serba putih, bau obat yang menyengat, dan selang infus menancap di tangan kiriku. Hal yang membuatku yakin sedang berada d
Pacar Toxic 52 "Sayang, hati-hati nanti jatuh!" ujar Mas Tema, seraya mengejar putra kami yang berlarian di kebun belakang. "Hap! Ketangkap kamu!" tawa bapak dan anak itu berderai bersama, kemudian mereka bergulingan di rumput. Pemandangan ini hanya bisa kunikmati di akhir pekan, senin sampai jumat, Mas Tema akan sibuk di kantor atau proyeknya. Meski hanya bisa memiliki dia seutuhnya di akhir pekan, kami sangat bahagia. "Ayo! Kita lomba nangkap Bunda, siapa yang menang boleh nyium dan meluk Bunda." Ada-ada saja kelakuan bapak dua anak itu. Mana ada lomba seperti itu, jelas dia lah pemenangnya. Kalau pun kalah tetap saja dia tak ngalah sama anaknya, berebut peluk dan cium aku. "Adek enan! Adek enan!" Dengan suara cadelnya dia berseru senang. Diciumnya wajahku berkali-kali, hingga wajah ini basah oleh air liurnya. "Papa juga mau cium Bunda, dong!" Mas Tema merangsek ke arah kami, tapi dihalangi Erza. "Ndak boyeh!" Tangan mungilnya menahan wajah Mas Tema. "Kal
Pacar Toxic 51 Pov Tema "Kalau Mama tidak melarang Luluk makan rujak, pasti dia tidak seperti itu. Dia ngejar tukang rujak, pasti karena pengen banget," sesal Mama. Sejak datang Mama terus saja menangis, melontarkan semua penyesalan, atas sikapnya yang terlalu protektif terhadap Luluk, soal makanan. Mama orang yang paling merasa bersalah. "Namanya ngidam, kan, memang susah ditahan. Orang yang mau bukan dia, tapi bayinya. Mama juga pernah merasakan ngidam, tahu rasanya kalau lagi pengen sesuatu itu kayak apa. Harusnya Mama menuruti Luluk, bukan malah melarang dia makan makanan yang dia inginkan. Jadi tersiksa kan, dia. Terus ngejar tukang rujak, sampai ninggalin kantor," lanjut Mama. "Nggak ada yang salah, Ma. Semua yang terjadi sudah jadi kehendak-Nya. Kita doakan saja, semoga dokter bisa menyelamatkan anak dan istriku." Aku hampir tak bisa menahan tangis ketika berkata. Bayangan Luluk tengah bertaruh nyawa di meja operasi, membayang di pelupuk mata. Luluk dalam keadaan tida
Pacar Toxic 50 Pov Tema "Nyari Luluk, Mas?" tanya Diani ketika aku mendatangi ruangannya. Saat tiba di kantor, Luluk pamit ke ruangan Diani. Kangen katanya. Tentu saja aku tidak melarang. Dua sahabat itu sudah lama tidak bertatap muka, biarlah kangen-kangenan. Setelah Luluk melahirkan nanti, momen seperti itu akan sulit mereka temukan. Luluk akan sibuk dengan anak kami, apalagi kalau kemudian Diani menikah. Makin susah mereka buat ketemuan. Biarlah mereka menikmati kebersamaan ini. Begitu pikirku. Sementara Luluk melepas kangen dengan Diani, aku memeriksa beberapa berkas sebelum ditandatangani, dan menerima laporan secara online dari beberapa proyek yang masih dalam proses pengerjaan. Setelah selesai, aku menyusul Luluk. Aku sudah janji akan mengantarnya membeli perlengkapan anak kami. Sudah mepet waktu melahirkan. Sudah lama juga kami tidak pernah keluar berdua. Anggap saja kami pacaran lagi, sebelum disibukkan dengan kehadiran si kecil. "Tadi dia kesini, kan?" Agak aneh, ti
Pacar Toxic 49 "Gue nggak mau ikut campur, kalau sampai bos ngamuk. Yang lo lakuin ini bahaya tau, nggak? Kita harusnya menghindari masalah, biar nggak berurusan dengan polisi. Eh, elu malah cari gara-gara." "Gue cuma memanfaatkan kesempatan yang ada, Bro. Santai dikit, lah!" "Elo memang susah dibilangin! Masuk lagi tau rasa, lo!" "Tenang, Bro! Semua bakal aman, tempat ini masih steril." "Bos, Rey. Bos! Lo pikir dia nggak tahu tempat ini?" "Asal lo nggak ngomong, Bos gak bakal tahu. Lagipula aku yakin, Bos tidak akan marah. Toh, kita sudah mengerjakan tugas yang dia berikan dengan baik." "Terserah, Lo. Yang penting jangan libatkan gue." "Iya! Khawatir banget, sih, lo." "Oke, kalau begitu gue pergi sekarang. Ingat! Jangan bawa-bawa nama gue, kalau ada apa-apa." "Sip! Thanks bantuannya, Bro." "Gue cabut!" Lamat-lamat kudengar orang berbincang, entah siapa dia. Aku tak kenal suaranya. Meski terasa lengket, aku tetap berusaha membuka mata. Aku terkejut, mendapati diri ten
Pacar Toxic 48 Sejak tahu aku hamil, sikap Mas Tema semakin posesif padaku. Apa-apa nggak boleh, ini itu dilarang. Sudahlah nggak diijinin kerja, nggak dibolehin kemana-mana pula. Suruh anteng di rumah, bahkan ngantar jemput Syina sekolah juga dilarang. Dia pikir aku nggak bosen apa? Parahnya lagi, dia minta bantuan ibuku buat mantau aku di rumah. Bahkan dia datangkan Ibu dari Kudus, demi menemani aku ketika dia acara di luar kota. Bukan hanya sampai disitu, karena Ibu masih aktif sebagai ASN, maka tak bisa berlama-lama di Jakarta. Setelah Mas Tema pulang, Ibu langsung kembali ke Kudus. Sebagai gantinya, Mas Tema mendatangkan Mama. Kebangetan, nggak? Kalau sama Ibu, aku masih berani membantah bahkan mendebat. Tapi Mama? Aku langsung mati kutu. Tak mau dicap sebagai menantu durhaka, akhirnya aku hanya bisa manut pada wanita sebaya ibuku itu. Apalagi awal hubungan, Mama sempat tidak merestui. Alhasil aku harus berkata dan bersikap hati-hati, demi tidak menyinggung perasaan wanita
Pacar Toxic 47 Pov Tema Hampir setiap hari Luluk muntah-muntah, setiap makanan yang masuk ke perutnya langsung dikeluarkan. Ditambah lagi dia tidak mau dekat-dekat aku, katanya aku ini bau. Padahal sudah mandi, dan pakai minyak wangi. Yang terakhirnya dia mengeluh lemas, nggak bisa melakukan aktivitas apapun. Karena merasa khawatir, akupun membawanya ke dokter. Tapi sama dokter umum disarankan periksa ke Obsgin. Dan disinilah kami sekarang. "Wah.... Selamat ya, Pak. Sudah delapan minggu, ini," ucap dokter debat tag name dr. Anita Kusuma Wardani itu. Spog. itu. Delapan minggu? Apa artinya Luluk sudah hamil delapan, atau bagaimana? Ucapan dokter yang menurutku ambigu itu, membuatku bingung. "Maksudnya dokter?" Luluk menyenggol lenganku. "Aku hamil delapan minggu, Mas," bisik Luluk di tekingaku, tentu saja disertasi pelototan. Akhi-akhir ini dia berubah jadi galak. "Istri saya hamil, Dokter?" tanyaku memastikan. Bukannya tidak senang mendapat kabar istri lagi hamil, aku ha
Pacar Toxic 46 Pov Tema "Sayang, sudah dong.... Ngambeknya.... Aku kan sudah minta maaf tadi," pintaku dengan wajah semelas mungkin, berharap hati istriku luluh dan menghentikan aksi tutup mulutnya. Namun bukannya tersentuh, Luluk malah mlengos dan berniat meninggalkan kamar. Tapi aku tak tinggal diam, kupeluk tubuhnya dari belakang untuk menggagalkan niatnya. "Lepas!" Luluk berusaha menipis tanganku, tapi aku semakin mengeratkan pelukan. Bukan hanya memeluk, aku pun menciumi tengkuknya. "Lepas, geli, ih!" Luluk terus meronta. Apa aku akan menuruti permintaannya? Tentu saja tidak. Perempuan ngambek butuh dirayu, bukan ditinggal sendiri. "Nggak mau, kalau kamu belum maafin aku." "Ih, jauh-jauh sana! Aku benci sama kamu!" ketusnya. Bibirnya boleh bilang benci, tapi hatinya bucin setengah mati. Buktinya, gara-gara aku kedatangan tamu wanita cantik dan seksi, dia langsung ngambek. Cemburu buta nggak jelas seperti ini. Padahal wanita itu datang atas nama perusahaan, yang ka
Pacar Toxic 45 Babak baru sebagai Nyonya Tema dimulai. Kami sudah kembali ke Jakarta, dan kini tinggal di rumah Mas Tema. Siap menyambut aktivitas yang beberapa waktu kami tinggalkan, demi menjalani prosesi akad nikah dan resepsi. Walau bukan pesta mewah, nyatanya tetap melelahkan juga. Pagi ini sebagai istri dan ibu sambung, aku menyiapkan sarapan untuk suami dan anakku. Jangan kalian pikir aku yang masak, bukan. Ini semua hasil karya Bu Mini, pembantu yang sudah lama mengabdi di rumah ini. Aku hanya membantu menyiapkan. "Mau disuapin, Unda.... " rengek Syina, manja. Padahal setiap hari makan sendiri, tapi sejak ada aku dia maunya disuapi. Bukan hanya ketika makan, mandi, tidur, belajar pun minta sama Unda, panggilan sayang Syina untukku. "Katanya sudah gede, kok, minta disuapin, sih?" Bibir Syina mengerucut, tanda dia tak suka dengan ucapanku. "Oke, deh. Bunda suapin, tapi besok makan sendiri ya?" Gadis itu tak menjawab, hanya anggukan yang dia berikan. "Syina makan se
Pacar Toxic 44 Akhirnya hari bahagia itu tiba, aku dan Mas Tema resmi menikah. Akad dan resepsi di gelar di Kudus, kota kelahiranku. Di Jakarta, keluarga suamiku menggelar acara sama sekali. Kata Mas Tema. "Aku ini kan duda, sudah pernah menggelar acara yang sama. Nggak enak aja, ngerepotin orang terus." "Nggak masalah, emang? Kalau mereka merasa nggak dianggap gimana? Terus tersinggung, dan mutusin kontrak kerja sama," tanyaku saat itu. "Ya biarin aja. Belum rejeki berarti," jawabnya santai. "Kenapa, sih? Malu punya istri bukan dari kalangan orang kaya?" kejarku. Aku sempat kepikiran, Mas Tema malu kalau koleganya tahu, bahwa istrinya ini status sosialnya tidak sepadan. Tapi Mas Tema mengelak. Dia bilang memang tak suka pesta, dan hura-hura. Lagipula dia tidak mau ada yang iri, dan sakit hati melihat Mas Tema menggelar pesta pernikahan besar-besaran. "Sayang, kamu nggak tahu di luar sana ada orang yang tidak suka melihat kita bahagia. Namanya orang tidak suka, sakit hati,