Beranda / Historical / PERMAISURI YIN / 2. Kesepian di Istana Naga Perak

Share

2. Kesepian di Istana Naga Perak

Penulis: Rosa Rasyidin
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-07 15:56:46

Ribuan Tahun sebelum Shanghai menjadi kota modern

Di masa Dinasti Tang, di sebuah istana cukup megah yang dikenal sebagai Istana Naga Perak, hiduplah seorang permaisuri bernama Li A Yin. Tubuhnya lemah dan sering sakit-sakitan, hingga membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar yang dingin dan sunyi.

Sejak dinikahi oleh Pangeran Kedua, hidupnya berubah drastis. Pangeran yang gagah berani harus meninggalkan istana untuk berperang di perbatasan. Meninggalkan wanita bermata sendu itu dalam kesendirian yang mendalam.

Hari-hari berlalu dengan lambat di Istana Naga. Li A Yin sering duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke taman istana, memandangi bunga-bunga yang bermekaran tanpa bisa menikmati keindahannya. Permaisuri Yin—begitu dirinya kerap dipanggil mudah sesak napas jika kelelahan.

Setiap kali angin berhembus, ia merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang, seolah-olah mengingatkannya pada jarak yang memisahkan dirinya dengan sang suami.

Para pelayan istana selalu siap melayani, namun tidak ada yang bisa mengisi kekosongan di hati Li A Yin. Ia merindukan senyum hangat dan sentuhan lembut Pangeran Kedua, yang kini hanya tinggal kenangan.

Rumor yang beredar, kaisar terpengaruh oleh Selir Agung Ming yang membenci pangeran kedua. Hingga tega mengirim sang putra yang dingin dan jarang senyum ke perbatasan setelah melewati malam pertama.

Setiap malam, sang permaisuri berdoa agar suaminya kembali dengan selamat. Namun perang, seolah tak pernah berakhir. A Yin ingin menyusul, tapi naik kereta saja ia bisa jatuh sakit.

Di tengah kesepiannya, Li A Yin menemukan pelipur lara dalam seni kaligrafi dan puisi. Ia menulis tentang kerinduannya. Tentang harapan dan ketakutan yang menghantui setiap malam.

Kertas-kertas penuh tulisan itu sang permaisuri simpan dalam sebuah kotak kayu. A Yin berharap suatu hari nanti Pangeran Kedua akan membacanya dan mengerti betapa besar cintanya. Namun, waktu terus berjalan dan Li A Yin semakin tenggelam dalam kesedihan.

Tubuhnya yang lemah semakin tak berdaya menghadapi beban rindu yang tak terucapkan. Istana Naga yang megah kini terasa seperti penjara emas, tempat di mana ia terkurung dalam bayang-bayang masa lalu.

***

Li A Yin tidak tertarik terjun ke dalam dunia politik. Hal itu membuatnya menjadi sasaran empuk bagi Selir Agung Ming yang ambisius.

Selir Ming sering mengintimidasinya, memanfaatkan kelemahan Li A Yin untuk memperkuat posisinya di istana. A Yin menjadi kambing hitam, hingga sering kali istana naga perak dijatuhi hukuman.

Pada pagi yang dingin, Li A Yin sedang menulis puisi di kamarnya. Ia ingin mengirim untuk sang pangeran. Sekaligus keluhan karena sering disiksa. Namun, Selir Agung Ming datang tanpa diundang.

“Permaisuri Yin, apakah kau tidak bosan hanya duduk di sini dan menulis puisi?” tanya Selir Ming dengan nada sinis. Tangannya diberikan kuku-kuku emas panjang nan megah.

“Ini adalah satu-satunya cara bagiku untuk mengisi waktu dan mengurangi kesedihan.” Li A Yin mengangkat wajahnya yang pucat dan menjawab dengan suara lemah.

“Kau seharusnya lebih pintar ketika masuk ke dalam istana. Tanpa perlindungan dan kekuatan, kau hanya akan menjadi boneka yang mudah dihancurkan.” Selir Agung Ming menaikkan sebelah alisnya.

Li A Yin menunduk, air mata mulai menggenang di matanya. Ia tahu bahwa keluarganya tidak memiliki kekuatan politik untuk melindunginya.

“Aku hanya ingin suamiku kembali,” bisiknya pelan. Selir Ming kemudian mendekat dan berbisik di telinga Li A Yin.

“Jangan berharap terlalu banyak, Anakku. Dunia ini kejam, dan hanya yang kuat yang bisa bertahan, ha ha ha.”

Setelah Selir Ming pergi, Li A Yin menangis dalam kesendirian. Tidak ada yang bisa melindunginya, dan ia merasa semakin terpuruk dalam kesedihan dan ketidak berdayaan.

Suatu hari, saat Li A Yin sedang duduk di taman istana, seorang pelayan setia tanpa nama—atas perintah Selir Agung Ming—datang mendekatinya. Pelayan itu adalah satu-satunya orang yang Li A Yin percayai sepenuhnya.

“Permaisuri, kau tidak apa-apa?” tanya pelayan A Yin.

“Aku ingin mati saja,” jawab A Yin dengan napas sesak.

“Jangan, Permaisuri, hamba akan ada di sini untuk melindungimu walau nyawa taruhannya.” Hamba sahaya A Yin begitu setia. Pelayan yang sering dipanggil kera busuk oleh Selir Agung Ming.

***

“Permaisuri, ada surat datang dari Pangeran.” Hamba sahaya itu berlari dengan penuh semangat.

Li A Yin menatap matanya penuh harap. Pelayan membuka surat dan A Yin membaca dengan suara yang tenang.

“Permaisuri yang tercinta, aku berharap surat ini menemukanmu dalam keadaan sehat. Perang di perbatasan masih berlanjut, tapi aku berjanji akan kembali secepat mungkin. Tetaplah kuat dan jangan biarkan kesedihan menguasaimu. Aku merindukanmu setiap hari. Tertanda Pangeran Kedua.”

Air mata mengalir di pipi Li A Yin.

“Aku merindukannya. Aku merasa begitu lemah dan tak berdaya tanpamu. ”Pelayannya menggenggam tangan Li A Yin dengan lembut.

“Permaisuri, tetaplah tersenyum. Pangeran Kedua akan kembali, dan kau harus siap menyambutnya dengan senyum.”

Tidak semua hari di Istana Naga Perak dan keseluruhan istana dipenuhi dengan harapan. Selir Agung Ming terus mencari cara untuk mengintimidasi Li A Yin.

Di tengah kesedihannya, Li A Yin bertekad untuk bertahan. Ia mulai belajar tentang politik istana dari pelayannya, yang diam-diam mengumpulkan kabar dari para pelayan lainnya.

Li A Yin tahu bahwa ia harus kuat, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk suaminya yang sedang berjuang di medan perang.

Konflik semakin memanas ketika seorang pejabat tinggi istana— Menteri Huang—mulai menunjukkan ketidak sukaannya terhadap Li A Yin. Menteri Huang adalah sekutu dekat Selir Agung Ming dan sering kali menggunakan posisinya untuk menekan Li A Yin.

Pada siang hari, ketika Li A Yin sedang berjalan di dalam pustaka kerajaan, Menteri Huang mendekatinya dengan wajah serius.

“Permaisuri, Anda harus lebih berhati-hati. Banyak yang tidak senang dengan kedudukanmu di istana,” ucap Menteri Huang dengan nada mengancam. Li A Yin mencoba tetap tenang.

“Aku hanya ingin menjalankan tugas sebagai permaisuri dan menunggu Pangeran Kedua kembali.”

Menteri Huang mendekat. Sungguh ia benci melihat wanita lemah itu.

“Jika kau tidak segera menunjukkan kekuatan, kau akan kehilangan segalanya. Selir Ming dan aku memiliki banyak pengaruh di istana. Jangan berpikir bahwa kelemahanmu akan dibiarkan begitu saja. Dan ingat juga, setiap kesalahan yang kau lakukan pelayanmu akan dihukum juga.” Menteri Huang tersenyum tipis.

Li A Yin merasa ketakutan, tapi ia tahu bahwa ia harus tetap kuat.

“Aku akan melakukan yang terbaik untuk melindungi diri serta para pelayan di dalam Istana Naga Perak.”

Menteri Huang pergi. Li A Yin merasa semakin tertekan. Namun, ia bertekad untuk tidak menyerah.

Dengan bantuan pelayannya, ia mulai merencanakan langkah-langkah untuk memperkuat posisi dan melindungi dirinya dari ancaman yang terus datang.

Sayangnya, A Yin salah memilih lawan. Selir Agung Ming adalah orang yang keji dan tak berperasaan.

Bersambung …

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • PERMAISURI YIN   3. Pertemuan Rahasia

    Di tengah malam yang sunyi, Istana Naga Perak berdiri megah di bawah cahaya bulan. Di dalam salah satu aula tersembunyi, Permaisuri Li A Yin menunggu dengan gelisah. Suara langkah kaki yang lembut terdengar mendekat, dan Menteri Keamanan Istana Zhang, muncul dari balik pintu.“Permaisuri, aku datang seperti yang diperintahkan,” ujar Menteri Zhang dengan suara rendah.Li A Yin mengangguk, matanya penuh dengan kekhawatiran. Wanita berwajah keibuan itu melakukan semuanya dengan hati-hati. “Kita harus mengendap-endap, Menteri Zhang. Tidak ada yang boleh tahu tentang pertemuan ini.”“Baik, aku mengerti, Pemaisuri A Yin. Dan aku membawa apa yang kau minta.” Menteri Zhang menyerahkan silsilah keluarga dari Selir Agung Ming. Sebuah silsiliah yang amat sangat dekat dengan kaisar sejak dulu. “Kalau seperti ini, rasanya sulit untuk melawan Selir Agung Ming.” A Yin cepat sekali berputus asa. “Benar, bahkan terakhir permaisuri utama mencoba melawannya berakhir diasingkan di istana dingin. Sampa

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-07
  • PERMAISURI YIN   4. Kebangkitan

    Su Yin terbangun dengan kepala yang berat dan pandangan yang kabur. Apalagi usai menghajar seorang penjaga istana. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba memahami di mana ia berada. Di sekelilingnya, suara riuh rendah orang-orang berbicara dalam bahasa yang terdengar asing namun entah bagaimana akrab. Ia merasakan kain halus menyentuh kulitnya, berbeda dari pakaian modern yang biasa ia kenakan.Ketika pandangannya mulai jelas, Su Yin terkejut melihat dirinya berada di tengah-tengah istana dengan orang-orang yang berpakaian begitu anggun. Orang-orang mengenakan pakaian tradisional Tiongkok, dengan warna-warna cerah dan desain yang rumit. Ia melihat seorang pria dengan jubah kekaisaran menatapnya dengan aneh lalu berjalan dengan wibawa, diikuti oleh para pengawal dan pelayan. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan pakaian yang mewah dan hiasan kepala yang indah, yang Su Yin kenali sebagai Selir Agung Ming.“Kenapa, kenapa aku benci pada wanita itu,” gumam Su Yin perlahan. Kini dok

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-07
  • PERMAISURI YIN   5. Pangeran Kedua

    “Pangeran, sudahlah, sudah cukup kau terluka parah,” ucap Fu Rong, pengawal pribadi pangeran kedua. Ia telah bersama sejak dulu dan bersedia mengorbankan nyawa demi tuannya. “Tidak, belum, sedikit lagi kita berhasil!” Pangeran kedua mengangkat pedangnya. Entah sudah berapa hari yang ia lalui dalam jebakan musuh. Entah sudah berapa banyak darah pengawalnya yang tumpah. Namun, sang pangeran tak menyerah. “Fu Rong, berapa amunisi yang kita punya?” tanya pangeran kedua. Lelaki yang baru menikah tapi dipisahkan oleh istrinya dengan cara tidak adil. “Tak banyak, Pangeran, hanya ada lima pengawal pribadi dan hanya tersisa 70 pengawal umum saja.” “Musuh diperkirakan ada berapa?” “Sekitar 400 orang, Pangeran.” “Kalau begitu kita harus berperang dengan cerdas. Kita harus menang, agar kita bisa pulang.” Namun, baru saja mengucapkan kalimat demikian sang pangeran tiba-tiba roboh. Luka di punggung akibat tertancap panah belum sempat diobati. ***Di bawah langit kelabu yang selalu mengintai

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-07
  • PERMAISURI YIN   6. Dimensi yang Membingungkan

    Su Yin yang kini terperangkap dalam tubuh Permaisuri Li A Yin merasa bimbang dengan apa yang ada di depan matanya. Semua serba tradisional dan ketinggalan zaman. Bahkan cermin di depannya saja tidak mampu memantulkan bayangan wajah dengan sempurna seperti di masa depan. Tidak ada lampu, yang ada hanya lilin di setiap sudut kamar. “Permaisuri,” panggil pelayan setia A Yin. “Iya, kenapa, ada yang bisa aku bantu?” Terbiasa hidup sebagai polisi membuat Su Yin harus tanggap dengan panggilan. “Permaisuri, jangan terlalu sopan, hamba ini hanya seorang budak.” “Budak?” Su Yin mengedipkan mata cepat. “Kenapa aku bisa ada di masa kerajaan? Lalu kasus pembunuhan yang aku periksa bagaimana? Officer Jimmi juga bagaimana?”“Permaisuri, apakah ada yang mengusik hatimu?” “Ada banyak dan aku ingin bertanya, tapi sebelumya aku ingin tahu siapa namamu?” “Ah, hamba tidak punya nama, Permaisuri. Biasanya Selir Agung akan memanggil hamba kera busuk saja.” “Kenapa begitu?” tanya Su Yin keheranan.

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-29
  • PERMAISURI YIN   7. Menerima Keadaan

    “Kurang ajar, lelaki hidung belang. Habis ambil perawan dia kabur, bededah busuk, aku cincang baru tahu!” Permaisuri berdiri lagi dengan wajah penuh amarah. Jauh sekali perbedaan antara A Yin dan Su Yin walau wajah dan tubuh sama persis. “Permaisuri, tenangkan dirimu. Jangan memaki pangeran kedua. Beliau itu pangeran yang berpengaruh setelah putra makhkota. Ditambah lagi pangeran adalah suamimu, jadi hormatlah dengan beliau.” Xu Chan mengingatkan sambil menelan ludah. Entah kali keberapa sudah ia melihat tuannya marah-marah sejak bangkit dari kubur. “Peduli apa aku, walau dia kaisar sekalipun. Gubernur saja pernah aku penjarakan.” Su Yin duduk dan menarik napas panjang. Sore yang terasa berangin dan menerbangkan anak rambut di wajahnya. “Permaisuri, hamba belum selesai bicara. Setelah melewati malam pertama, Pangeran Kedua mendapat panggilan perang mendadak dari perbatasan karena itu beliau pergi meninggalkan kita semua di sini.” “Panggilan perang?” gumam Su Yin perlahan. Ia masi

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-01
  • PERMAISURI YIN   8. Konspirasi Dalam Istana

    Selir Agung Ming duduk di dalam kamarnya. Kepala wanita bengis itu terasa pusing hingga pelayan datang membuka semua perhiasan mewah dan mulai memijit kepalanya. “Bagaimana mungkin,” ucap Ming Hua sambil menarik napas. “Katakan padaku bagaimana caranya orang mati bisa hidup lagi.” Mata wanita itu masih memejam. “Hamba tidak tahu, Selir Agung.” “Sudah jelas sekali dia bersimbah darah dan tubuhnya dingin serta kaku. Aku sendiri yang memegangnya. Saat peti mati akan ditutup lalu A Yin tiba-tiba saja bangun. Ini sungguh di luar rencana.” “Selir Agung, apakah butuh tabib?” tanya pelayannya yang bernama Cu Li. “Tidak, siapkan air hangat, aku ingin menyegarkan tubuhku. Tambahkan bunga mawar di dalamnya. Aku harus menemukan keanehan yang terjadi siang ini.” Atas perintah Ming Hua, pelayan setianya undur diri. Wanita itu membuka bola matanya, lalu tiba-tiba saja ia kaget. Wujud Li A Yin baru saja ada di depan mata dengan wajah pucat dan bibir bersimbah darah. “Apa ini, kenapa jadi seram

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-01
  • PERMAISURI YIN   9. Rencana Licik

    Utusan berpakaian hitam itu memegang perutnya yang kena tendang Su Yin. Ia merupakan salah satu pengawal Menteri Huang dan cukup terkejut dengan ketangkasan sang permaisuri yang dikenal sebagai wanita lemah tak berdaya. “Aku harus pergi dari sini. Aku hanya mengujinya saja bukan cari mati.” Pengawal itu mulai ketakutan. “Siapa yang mengutusmu untuk membunuhku. Apakah kau tak tahu kalau aku ini istri pangeran kedua?” Su Yin memanfaatkan kedudukannya. Ia bergerak ke kiri ketika melihat langkah utusan itu ingin melarikan diri dari kamarnya. “Tidak menjawab? Jangan khawatir, aku selalu punya cara untuk membuat penjahat mengaktu.” Su Yin mengambil salah satu guci dan melempar ke arah utusan itu. Lelaki tersebut menghindar dan hampir kepalanya kena. Suara pecahan guci membuat seluruh penghuni istana naga perak bangun dari tidurnya. Mereka berlarian ke kamar sang tuan takut terjadi sesuatu sebab istana itu tidak ada pengawal lelaki yang mumpuni. Namun, ketika para pelayan sampai di depa

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-02
  • PERMAISURI YIN   10. Su Yin VS Kejaksaan

    Su Yin bangun di pagi hari menuju siang. Tubuhnya yang lelah sebab perjalanan waktu membuatnya harus beristirahat lebih banyak. Bangun-bangun sudah ada tiga pelayan setianya yang membawakan air cuci muka, kain bersih dan sisir. Padahal ia bisa melakukan itu sendirian. “Astaga, aku merasa seperti Cinderella saja.” Su Yin menguap sangat besar. Biasanya ketika bangun pagi ia akan sikat gigi, cuci muka, minum kopi dan makan roti. Sekarang? Jangankan roti, gula saja susah untuk didapat. “Permaisuri, seorang istri pangeran tidak boleh menguap terlalu besar. Tidak enak untuk dipandang.” Xu Chan mengingatkan tuannya yang amnesia.“Selain menguap, kentut pun tidak boleh? Terus sendawa dan terbawa ahahahahahaha, boleh tidak?” Su Yin merasa aturan istana semakin tidak masuk akal. “Tidak boleh terlalu kuat, Permaisuri, ada aturan yang harus kita jalankan.” “Terserah, aku tak mau ikut aturan yang keterlaluan seperti itu.” Su Yin mencuci muka dan mengeringkan wajah pakai kain bersih yang diba

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-03

Bab terbaru

  • PERMAISURI YIN   89. Surat Perintah

    “Aku hanya ingin kemenangan untuk Tang, Yang Mulia.” “Aku mengenalmu cukup baik, ada yang kau sembunyikan dariku, katakan.” Perintah Kaisar dengan tegas. “Yang Mulia, izinkan hamba berangkat ke kaisar dan setelahnya akan hamba persembahkan kemenangan untuk Tang.” “Itu saja?” Kaisar tahu adiknya belum mau jujur sepenuhnya. “Juga, jika hamba memperoleh kemenangan izinkan hamba tinggal di selatan dan memerintah daerah itu dengan tradisi dan kebijakan Dinasti Tang.” Jujur juga Li Wei akhirnya. “Jadi kau ingin meninggalkan Chang An.” Kaisar memerintahkan Li Wei bangun dari sujudnya. “Benar.” “Kenapa?” “Terlalu banyak kenangan pahit di sini.” “Pahit?” “Salah satunya kematian ibuku juga istriku sempat mati kemarin. Aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku.” “Sekarang aku sudah menjadi kaisar, tidak akan ada orang yang berani menyakitimu.” “Aku khawatir bukan orang lain yang menyakitiku, justru …” “Maksudmu, Ibu Suri?” tebak Kaisar. Li Wei diam saja. “Pergilah, akan aku pertimban

  • PERMAISURI YIN   88. Keinginan Terpendam

    Tubuh Kaisar diawetkan selama beberapa hari sebelum disemayamkan di sebuah kuburan yang luas. Sejak saat itu takhta kosong dan sudah jelas siapa yang akan mendudukinya meski belum dinobatkan secara resmi. Putra Mahkota mengambil alis tugas ayahnya yang mangkat dengan penyakit misterius. Masa berkabung dimulai sejak saat itu dan belum diakhiri hingga sebuah kuburan yang luas dan megah selesai. Satu demi satu perhiasan kesukaan kaisar diletakkan di dalam. Termasuk emas dan perak, juga baju-baju sutra yang dulu pernah dikenakan.Dalam kuburan kuno itu dibangun beberapa perangkap. Apabila ada yang mencuri perhiasan milik Kaisar akan mati dan terkubur di sana. Para selir kaisar yang tidak memiliki anak secara jelas diusir oleh Selir Agung. Permaisuri Utama dan Selir Cun masih tinggal karena telah memiliki anak. Ming Hua mencapai tujuannya untuk menjadi ibu suri. Hari ini tubuh Kaisar yang sudah diberikan pakaian terbaik diletakkan di dalam peti. Satu demi satu putra, putri, selir, pej

  • PERMAISURI YIN   87. Angin Dingin

    Di luar istana para suami menjalankan tugas negara dengan berat. Li Wei sampai membuka pakaian agungnya sebagai pangeran demi membantu pekerja tambang bijih besi membuat senjata tajam. Tubuhnya yang kekar menjadi semakin keras. Ia memukul-mukul besi panas hingga dibentuk menjadi pedang kemudian dicelupkan ke air. Begitu pula dengan Putra Mahkota. Ia turun tangan sendiri merekrut para tentara baru. Termasuk ikut serta membantu para tentara baru berlatih kungfu dasar. Hal demikian berlangsung tidak selama satu atau dua bulan. Dan kini sudah memasuki bulan ketiga para suami jauh dari istrinya demi menunaikan tugas negara. Di dalam istana para istri terus mendoakan kebaikan untuk suaminya termasuk Bai Jing juga Su Yin. Permaisuri Yin bersungguh-sungguh dalam merajut. Ia membuat pola rajutan naga memeluk bulan dengan benang perak yang amat sangat indah. Saking rumitnya rajutan itu, baru bisa selesai pada bulan ketiga dan tak terhitung sudah berapa banyak jarum yang menusuk tangannya.

  • PERMAISURI YIN   86. Memaafkan

    Aligur mengobati luka di betis Tugur dengan darah segar. Tugur menutup mata karena menahan pedih di kaki. Dengan beberapa kali pengobatan luka itu tertutup sempurna juga. “Wanita itu memang malaikat maut,” ucap Aligur sembari membasuh keringat yang bercucuran. “Seharusnya kita bunuh dulu wanita itu baru bisa menyerang istana dengan mudah,” sahut Tugur. “Tapi wanita itu bukanlah tujuan utama kita, Tuan.” “Aku tahu, tapi dia penghalang yang mematikan.” “Tidak juga!” “Maksudmu?” “Tidak lama lagi dia akan meninggalkan istana, setelah itu Tuan bisa melancarkan aksi. Enam bulan lagi anakmu akan lahir, Tuan. Dia akan menjadi penerus takhta Tang yang agung, anakmu akan jadi raja di generasi berikutnya,” bisik Aligur. “Selama enam bulan itu aku harus tetap bersabar, bukan?” “Benar, Tuan, tapi jika diperbolehkan aku ingin melakukan balas dendam, bukan pada wanita itu tapi untuk orang lain. Untuk memuluskan takhta anakmu nanti, kita harus membuat istana dalam keadaan huru-hara.” “Renca

  • PERMAISURI YIN   85. Perintah Kaisar

    “Nyonya,” ujar Shen Du sembari menahan batuk akibat kesalahan tadi malam. “Tuan Shen, maafkan kesalahanku tadi malam. Tapi kau tak akan mengerti kalau tak mengalami yang namanya jatuh cinta.” “Cinta membuat orang bodoh, karena itu aku memutuskan menjadi kepala kuil agar tidak harus mengenal yang namanya cinta.” “Kau benar.” Mata Su Yin mencari di mana Li A Yin berada. “Nyonya mencari Permaisuri Li A Yin? Arwahnya sudah pergi ke alam baka dan akan segera bereinkarnasi pada beberapa kehidupan.” “Oh, baguslah kalau begitu. Sekali lagi aku minta maaf atas keributan tadi malam.” Su Yin melangkah pergi tapi ia ditahan oleh Shen Du. “Keputusanmu malam tadi akan berdampak pada dirimu, Nyonya, engkau menolak kembali dan membuat jalinan takdir antara masa lalu serta masa depan jadi kacau. Umurmu tak akan panjang, kau akan merasakan sakit teramat sangat jelang kematianmu.” Shen Du mengingatkan permaisuri. “Aku bisa menanggungnya.” Su Yin berkeras hati. “Apakah ini sepadan? Menjadi istri

  • PERMAISURI YIN   84. Empat Mata

    Su Yin dan An Mama melihat Li Wei dikejar oleh Tugur dan lelaki lainnya. Dua perempuan itu kemudian melompat dari kuda dan menghunuskan pedang serta menebas siapa saja yang mengganggu keamaan Pangeran Kedua. Li Wei melihat dengan matanya bagaimana Su Yin menikam para lelaki hingga tubuh mereka hangus perlahan. “Suku serigala,” gumam Li Wei. Ia menghunuskan pedang ke belakang ketika seseorang menyergap dirinya. Tugur melompat dan hampir saja kepala Li Wei terkena tebasan kalau tidak ditahan dengan pedang sekuat tenaga. Dua lelaki dengan tubuh tinggi dan tegap itu saling bertarung satu sama lain, kemudian jatuh, berdiri lagi dan berusaha meraih kemenangan. Su Yin mencari peluang untung menyerang Tugur. Ia berguling di tanah kemudian menancapkan belatinya pada betis Tugur. Lelaki dari suku serigala itu menjerit dan memegang kakinya. Aligur yang mengetahui kejadian itu cepat melompat dan melempar Su Yin hingga terpental cukup jauh. Beruntung permaisuri ditangkap oleh An Mama. “Nyony

  • PERMAISURI YIN   83. Menolak Takdir

    “Pangeran, menurut hamba ini adalah langkah cari mati, di mana kita hanya berdua saja mencari si pengirim surat,” ujar Fu Rong ketika merasakan dingin di sekujur tubuh. Ia ragu kali ini akan bisa menyelamatkan pangeran jika dalam keadaan bahaya. “Kau takut?” tanya Li Wei. “Bukan takut, Pangeran, hamba bahkan rela mati untukmu, tapi engkau adalah Pangeran, harus dijaga.” “Dalam perang saja aku tidak minta dijaga apalagi sekarang. Sudahlah, berhenti berasumsi lanjutkan saja perjalanan kita.” Li Wei menunggang kuda dengan santai saja. Rasanya ia ingin menoleh ke belakang sekali lagi dan pulang ke istana. Namun, pantang bagi seorang pangeran mencoreng sikap seorang kesatria. Li Wei bukanlah pengecut. Bulan berdarah sebisa mungkin harus dicegah. Dua pria penghuni istana naga perak itu terus berkuda menuju tempat yang sudah dijanjikan. Li Wei dan Fu Rong kemudian turun serta mengikat kudanya. Lalu mereka berjalan kaki sambil menyiagakan pedang. Terus kaki melangkah hingga menjumpai se

  • PERMAISURI YIN   82. Pesan Dari Luar

    Su Yin melangkah bersama para pelayan sambil membawa kebutuhan makanan matang dan baju baru untuk Selir Cun Ning. Sebagai Putri Daerah, kekayaan Su Yin bertambah banyak dan ia menerima banyak hadiah dari sesama bangsawa. Semua hanfu halus dan mahal itu tak akan terpakai olehnya. Jadi ia berikan beberapa untuk Selir Cun. Ketika sampai di depan istana dingin, polisi wanita itu dikejutkan dengan suara teriakan pelayan. Su Yin masuk dan berlari. Di sana ada Gui Mama dan beberapa orang Ming Hua datang menyiksa Cun Ning. Wajah selir itu ditampar beberapa kali sampai kemerahan. “Cukup. Kalian orang-orang tak punya hati.” Su Yin menangkap tangan pelayan yang menampar Cun Ning. Ia dorong hingga pelayan itu jatuh dan pinggangnya sakit. “Permaisuri Yin, engkau berani melawan perintah Selir Agung!” Gui Mama berbicara dengan nada tinggi pada seorang Putri Daerah. “Kau tahu barusan bicara dengan siapa? Pelayan, bawa Selir Cun masuk ke kamar dan panggilkan Ru Yi, sekarang!” Suara Su Yin mening

  • PERMAISURI YIN   81. Kabar Setengah Baik

    Su Yin menunggu sampai pelayan datang dan memberi tahu di mana Selir Cun tinggal. Bahkan hari ini Selir Cun tak datang ke ulang tahun kaisar karena sakit. Selir Cun memiliki seorang putra. Itu yang disebut pangeran keenam oleh Li Wei. Keberadaannya jarang diingat kaisar berkat kekejian Ming Hua. “Ayo kita ke sana.” Permaisuri Yin menuju istana yang paling jelek bahkan lebih dingin dari dapur milik Pangeran Kedua. “Oh my god, apa ini?” Dokter forensik itu melirik sampah dedaunan di depan istana. Pelayan mengetuk pintu, yang keluar seorang pangeran kecil. Tak lama kemudian pelayan lain datang membawa air hangat dan memberi hormat pada Permaisuri Yin. “Selir Cun ada?” “Ada, Nyonya ini siapa?” tanya pelayannya Selir Cun. “Lancang kau!” Pelayan Su Yin yang marah. “Sudah, santai, jangan marah-marah.” Su Yin menegur pelayannya. “Aku Permaisuri Yin, istri Pangeran Kedua, bisakah aku bertemu Selir Cun, seseorang menitipkan pesan padanya.” “Nyonya, maafkan hamba, tapi Selir Cun sedang

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status