Share

Sekarang!

Author: Risca Amelia
last update Last Updated: 2024-11-06 17:45:16

Begitu tiba, Suri berjalan cepat memasuki lobi Hotel Orion.

Gaun merah yang ia kenakan berayun mengikuti gerakan tubuhnya, menarik perhatian tamu dan staf hotel.

Namun, Suri tidak peduli. Hanya satu hal yang ada dalam pikirannya malam ini—mengakhiri pernikahan dengan Romeo.  

Ia langsung menuju meja resepsionis dan bertanya, “Di mana letak restoran?”  

“Di sebelah kanan lobi, Nyonya.”

Setelah mendapat arahan dari sang resepsionis, Suri mengayunkan langkah. Begitu sampai di depan pintu restoran, ia berhenti sejenak, mengatur napas. 

Dari celah pintu kaca, Suri langsung menangkap sosok Romeo yang duduk di meja besar bersama seorang pria berjas hitam. Ia menebak pria itu adalah Tuan Thomas. Sementara di samping Romeo, ada Diva yang terlihat cantik dengan gaun model sabrina berwarna hitam. 

Suri mencoba menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyergap hatinya. Ia melihat mereka berbincang akrab, seperti tak ada beban. Sejenak, ia ingin berbalik dan pergi, tetapi ia sudah terlalu jauh. Ini bukan waktunya untuk mundur.  

Melihat Romeo masih terlibat pembicaraan serius, Suri memilih duduk di meja lain yang agak jauh dari mereka. Membiarkan pandangan Romeo tetap fokus pada obrolannya. Ia memesan segelas jus jeruk dan menunggu dengan sabar.

Ketika jus yang dipesan Suri sudah diantar oleh pelayan, Diva berdiri dari kursinya. Perempuan itu melangkah anggun mendekati Suri, dan menyunggingkan senyum ramah yang dibuat-buat. Sekilas, Suri menangkap raut wajah Diva yang tak suka melihat penampilannya. 

“Hai, Suri,” sapa Diva dengan nada manis. "Kenapa kamu datang kemari? Kak Romeo sedang sibuk, percuma kamu berusaha menarik perhatiannya. Kalau dia melihatmu, pasti dia akan menyuruhmu pulang."

Suri tersenyum tipis, lalu menatap Diva dengan dingin. “Kamu tidak perlu banyak bertanya, Diva. Ini urusan antara suami istri.”

Mendengar jawaban Suri yang begitu tegas, Diva tersenyum mengejek dan menyilangkan tangannya. 

“Oh, baru kali ini aku dengar Kak Romeo menganggapmu sebagai istri. Bukankah selama ini kamu lebih mirip pelayan di keluarga Albantara?” tanya Diva sarkastis.

Suri menahan diri, menarik napas panjang sebelum menjawab. “Aku tidak peduli bagaimana Romeo memperlakukanku selama ini. Yang penting, aku adalah istri sahnya, di mata hukum dan publik. Bukan wanita yang berusaha merayu dan tidur dengan pria yang sudah menikah.”

Wajah Diva memerah, dan matanya menyipit penuh amarah. Ia tidak menyangka Suri yang terkesan lemah dan pendiam berani melontarkan sindiran setajam itu. Tanpa aba-aba, Diva tiba-tiba berdiri dan mendorong tubuh Suri ke belakang. 

Suri hampir hampir kehilangan keseimbangan, tetapi ia berhasil berpegangan pada kursi di sebelahnya. Tatapan mata Suri berubah tajam, siap untuk menegur tindakan kasar Diva. Namun, wanita itu justru bertindak lebih ekstrem. 

Diva meraih gelas jus di atas meja Suri, lalu menyiramkan isinya ke gaunnya sendiri. Jus jeruk yang berwarna kuning meninggalkan noda mencolok di gaun Diva. Tanpa menunggu, Diva langsung menjatuhkan diri ke lantai, seolah-olah ia baru saja diserang dan diperlakukan dengan kasar. 

Keributan kecil itu menarik perhatian semua orang di restoran. Romeo yang melihat kegaduhan tersebut akhirnya berdiri, mengakhiri pembicaraan dengan Tuan Thomas, dan segera menghampiri meja Suri. Ia terkejut melihat Diva tersungkur dengan gaun bernoda dan wajah penuh air mata.

“Diva, apa yang terjadi?” tanyanya lembut sambil membantu Diva berdiri, mengambil tisu dan mengelap noda di baju wanita itu.

“Aku... aku hanya ingin menyapa Suri dan bertanya kenapa dia tiba-tiba datang ke sini, Kak. Tapi… dia malah menyiramku dengan jus dan mendorongku hingga jatuh,” ucap Diva pura-pura ketakutan.

Romeo menatap Suri tajam.

Ada kilatan keterkejutan di mata lelaki itu saat menyadari penampilan sang istri yang berbeda malam ini.

Suri yang berdiri di hadapannya bukanlah Suri yang ia kenal.

Malam ini, istrinya tampil memukau dengan gaun merah berpotongan rendah, rambut tergerai rapi, dan wajah yang dirias sempurna.  

Hanya saja, rasa kagum itu segera tersapu oleh kemarahannya kala menyadari potongan dada yang rendah memperlihatkan sesuatu yang harusnya jadi milik Romeo seorang.

“Suri, bisakah kamu menjaga sikap? Jangan kasar pada Diva, apalagi di tempat umum seperti ini.”

Hati Suri berdenyut nyeri mendengar tuduhan itu.

Ia mencoba mengatur napas, menahan diri agar tidak terpancing emosi. Ia sudah tahu reaksi Romeo, tetapi tak pernah menduga akan sepedih ini ketika melihat suaminya lebih membela wanita lain.

Tanpa pikir panjang, Suri mengeluarkan map cokelat dari tasnya dan meletakkannya di atas meja, di hadapan Romeo dan Diva. Sorot matanya tenang dan dingin, seperti es yang siap membekukan siapa saja.  

“Jika kamu ingin tahu siapa yang berbuat kasar, kamu bisa memeriksa CCTV di restoran ini. Dan, kedatanganku bukan untuk mengganggu makan malam romantismu dengan Diva,” kata Suri dengan nada datar. “Sebaliknya, aku datang untuk memberikan kalian kebebasan.”  

Romeo terdiam, rahangnya mengeras. Lain halnya dengan Diva yang menyandarkan tubuh di kursi, seolah menikmati adegan yang sedang berkembang di depan matanya.  

Suri melanjutkan, “Ini surat cerai. Kamu tinggal tanda tangan, dan aku akan pergi.”  

Romeo meraih amplop itu dengan kedua alis yang melengkung tajam. Ia membuka dan membaca isinya sekilas, matanya menyipit, wajahnya berubah dingin.

Di sampingnya, Diva diam-diam tersenyum tipis, penuh kemenangan.  

“Aku minta maaf, Suri. Tolong jangan salah paham,” ucap Diva tiba-tiba. Suaranya lembut tetapi penuh kepura-puraan. 

“Kedatanganku dari luar negri bukan untuk merusak pernikahan kalian. Lebih baik, kamu batalkan saja niat ini. Aku tidak ingin menjadi penyebab keretakan rumah tangga kalian.”  

Suri tertawa kecil, sinis. “Diva, kamu tidak perlu bersedih. Aku tahu apa yang kamu inginkan.”  

Diva memasang ekspresi terluka, lalu menundukkan wajahnya ke arah Romeo. “Aku hanya ingin Kak Romeo bahagia …,” bisiknya pilu, "seperti pesan kakakku."

Romeo segera merangkul bahu Diva, berusaha menenangkan wanita itu. “Sudahlah, jangan menangis. Aku akan selalu melindungimu, seperti yang Morgan minta padaku dulu.”

Mendengar nama Morgan, mendiang sahabat Romeo yang juga kakak Diva, rasa sakit semakin menekan dada Suri.

Ia tak sanggup melihat drama ini, tetapi ia tidak akan menangis—tidak lagi.  

“Cepat tanda tangan, Romeo,” ucap Suri dengan dingin. “Agar kamu bisa menikahi Diva dan membuatnya berhenti menangis.”  

Romeo menggertakkan giginya, tatapannya penuh amarah. Ia melepaskan pelukan dari Diva dan berbalik menghadap Suri. 

“Cukup!” bentaknya, suaranya memecah suasana di sekitar mereka.  

Romeo lantas beralih menatap Diva yang masih terisak pelan. “Diva, pulanglah ke apartemen bersama Yonas, dan gantilah bajumu yang basah. Aku harus menyelesaikan sesuatu dengan Suri.”  

Diva memandang Romeo dengan mata memelas, seolah tidak percaya bahwa ia diusir begitu saja. “Kak Romeo, kamu serius…?” tanyanya dengan suara pelan, hampir berbisik.  

Romeo memberi isyarat tegas pada Yonas, asistennya, yang sudah berdiri di dekat pintu restoran. Yonas segera menghampiri dan membantu Diva berdiri, membimbingnya keluar meskipun Diva masih berusaha menahan langkahnya.  

Ketika Diva akhirnya pergi dengan terpaksa, Romeo bergegas menghampiri Suri. Tanpa peringatan, ia meraih pergelangan tangan Suri dengan keras dan menariknya mendekat.  

“Lepaskan aku, Romeo!” seru Suri, berusaha meronta agar dilepaskan.  

Romeo tidak peduli. “Kalau kamu ingin aku menandatangani surat cerai itu,” bisiknya dengan nada berbahaya, “ikut aku sekarang, Istriku!”  

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Amelia Lase
novel bodoh
goodnovel comment avatar
Eka Wuryaningsih
masak iya harus buka kunci pakai iklan ya sudah selesai saja baca nya cerita belum selesai
goodnovel comment avatar
Helda Wati
klo setiap lanjut membaca harus.buka kunci sebaiknya aku delet sj aplikasinya
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Pertama

    Suri terkejut dan mencoba melawan, tetapi Romeo menggenggam tangannya lebih erat. Ia menyeret Suri keluar dari restoran tanpa menghiraukan tatapan heran para tamu. “Romeo, kamu gila!” Suri berteriak.Romeo terus menariknya menuju lift, lalu menekan tombol ke lantai tujuh dengan terburu-buru. Pintu lift tertutup, mengurung mereka berdua dalam ruang sempit yang penuh dengan ketegangan. “Kenapa kamu melakukan ini?” Suri berbisik, suaranya bergetar antara marah dan takut. Romeo menatapnya dengan mata yang penuh emosi. “Kamu ingin kebebasan, Suri? Kamu akan mendapatkannya setelah kita selesaikan semuanya malam ini.” Suri menelan ludah, hatinya berdegup kencang. Ia merasa terperangkap dalam situasi yang tak terduga. Meski begitu, ia tidak akan membiarkan Romeo menang. Begitu lift sampai di lantai yang dituju, Romeo menarik Suri keluar dan membawanya ke depan pintu kamar. Dengan satu gerakan cepat, lelaki itu menyeret Suri masuk lalu menutup pintu dengan keras. Bunyi pintu yang te

    Last Updated : 2024-11-06
  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Amarah

    Entah berapa lama, Suri tak tahu.Romeo benar-benar tak dapat dicegah sama sekali.Pria itu benar-benar keras, panas, dan tak tertahankan.Tapi begitu memaksa di saat bersamaan.Hal ini sungguh berbeda dari bayangan Suri sebelumnya.Ia selalu membayangkan malam pertamanya dengan sang suami akan begitu hangat dan lembut. Bukan kemarahan seperti ini.Perlahan, Suri merasakan kantuk.Ia terlalu lelah, hingga menyerah.Dibiarkannya Romeo menguasai tubuhnya.***"Arrgh..." erang Suri kala terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, seolah-olah ia baru saja dilindas truk.Kepalanya terasa berat, dan tubuhnya lemas, seperti kehilangan seluruh energi dan harapannya.Di kamar hotel yang mewah itu, matanya mengerjap beberapa kali kala menyadari kenyataan pahit yang menimpanya—Romeo sudah tidak ada.Suri meremas selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Napasnya terasa berat, seolah-olah ada beban tak terlihat yang menekan dadanya. Ia memaksa dirinya turun dari tempat tidur denga

    Last Updated : 2024-11-07
  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Harapan Baru

    Selama perjalanan, Suri menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Ia memikirkan semua kenangan buruk dan perasaan terperangkap yang ia alami bersama Romeo semalam. Pria itu, yang tidak pernah menyentuhnya selama pernikahan, justru mengambil kesuciannya secara paksa di saat-saat terakhir mereka bersama. Betapa ironisnya cinta yang dulu ia pikir akan membuatnya bahagia, kini hanya menyisakan luka mendalam.Suri mengepalkan tangan di atas pangkuan. Romeo boleh mengambil surat cerai mereka, tetapi pria itu tidak akan bisa menghentikan niatnya untuk pergi. Apapun risikonya, ia akan menggugat Romeo secara hukum untuk mengakhiri pernikahan mereka.Saat taksi berhenti di tempat tujuan, Suri menghela napas sepenuh dada. Dengan langkah gontai, ia keluar dari taksi. Gaun merah yang ia kenakan tampak kusut, dan wajahnya terlihat begitu pucat, membuat aura kerapuhan menyelimuti dirinya. Meski tubuhnya serasa tak bertenaga, Suri tahu bahwa langkah pertama menuju kebebasan sudah dimulai. Kini

    Last Updated : 2024-11-29
  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Pergi Jauh Darinya

    Setelah asisten Tuan Josua membelikan blazer baru, Suri segera melanjutkan perjalanan ke rumah sakit dengan diantar mobil pribadi milik pengacaranya. Di dalam mobil, tubuh Suri bersandar lemah, tetapi pikirannya berputar. Setiap detik berlalu terasa lambat, dan hatinya masih bergejolak dengan kenangan buruk semalam.Ia menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota yang berlalu begitu cepat, seolah mengisyaratkan bahwa waktu tak akan berhenti menunggunya. Begitu sampai di rumah sakit, Suri turun dengan langkah berat. Blazer yang ia kenakan sedikit memberikan rasa nyaman, seolah menyembunyikan luka batin yang menggerogoti hatinya.Di ruang tunggu, ia duduk sejenak sebelum akhirnya perawat memanggilnya masuk ke ruangan dokter Adrian. Ketika dokter Adrian melihat Suri masuk, wajahnya langsung memancarkan keterkejutan.“Suri, apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah jadwal operasimu besok siang?” tanyanya, bingung.

    Last Updated : 2024-11-30
  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Pertaruhan Emosi

    Baru saja Romeo meletakkan gagang telepon, pintu ruangannya terbuka. Diva masuk dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, menenteng kantong cokelat yang terlihat seperti bungkusan makan siang. Dengan gaya berjalan bak model di atas catwalk, wanita itu mendekati meja kerja Romeo.“Kak Romeo, aku bawakan makan siang untukmu. Aku sendiri yang masak,” tuturnya dengan nada menggoda. Padahal, makanan itu dipesannya dari salah satu restoran mahal. Ia tahu Romeo menyukai perhatian semacam itu, dan Diva sangat ahli memainkan peran wanita ideal di hadapan pria yang ia inginkan. Romeo melonggarkan dasi di lehernya yang terasa mencekik. Kemudian, ia beranjak dari kursi untuk membuang amplop cokelat dan potongan kertas yang masih tersisa di meja.Mata Diva langsung menangkap benda yang dibawa oleh Romeo, dan ia menyadari apa itu. “Bukankah itu surat cerai dari Suri?” tanyanya dengan nada terkejut, alisnya terangkat. “Kenapa Kak Romeo malah membuangnya? Aku pikir Kak Romeo sudah menandatang

    Last Updated : 2024-11-30
  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Kehilangan Dirinya

    Ketika akhirnya mobil tiba di depan Hotel Orion, Romeo langsung melompat keluar bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti. Ia masuk ke lobi dengan langkah lebar. Tanpa mempedulikan pandangan staf hotel yang memperhatikannya, Romeo menghampiri meja resepsionis. Yonas yang melihat kedatangan sang atasan, buru-buru mendampingi Romeo.“Di mana istri saya, Suri Albantara?” suaranya tajam dan dingin seperti pisau. Resepsionis yang bertugas tampak canggung, menunduk sedikit sambil berkata dengan hati-hati, “Maaf, Tuan Romeo. Kami tidak tahu. Istri Anda meninggalkan hotel sekitar pukul sembilan pagi.”Romeo semakin berang. “Bagaimana kalian bisa tidak tahu? Bukankah setiap tamu VIP di sini harus diperhatikan?” Suaranya meninggi, membuat beberapa tamu di sekitar lobi menoleh dengan rasa ingin tahu bercampur ketakutan.Manajer hotel yang mendengar keributan itu segera datang, wajahnya tegang. Ia mengenali Romeo sebagai salah satu tamu penting, sekaligus rekan bisnis dari keluarga Gunarto, pe

    Last Updated : 2024-12-01
  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Fitnah Ibu Mertua

    Romeo memandang jepit rambut berbentuk kupu-kupu yang ia pegang dengan erat. Benda kecil itu terasa lebih berat daripada kelihatannya, seakan menyimpan rahasia masa lalu yang tidak pernah ia pahami. Ia membolak-balik jepit itu di antara jarinya, pikirannya berputar-putar tanpa henti. Apakah mungkin Suri adalah gadis kecil yang pernah menolongnya dulu? Ataukah jepit ini hanya kebetulan saja? Ya, hanya satu benda belum bisa membuktikan bahwa Suri adalah gadis yang ia cari. Pastinya ada banyak gadis di kota ini yang memiliki hiasan rambut serupa. Ketika Romeo masih tenggelam dalam ketidakpastian, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk. Bunyi tumit sepatu beradu dengan lantai terdengar mendekat. Tanpa menunggu jawaban, pintu terbuka perlahan. Sosok Nyonya Valerie, ibunya, melangkah masuk seraya membawa sesuatu di genggaman tangannya. Wajah perempuan paruh baya itu tampak masam, alisnya terangkat seolah siap menghakimi apa pun yang dilihatnya. Sebelum ibunya bertanya, Romeo segera menyimpa

    Last Updated : 2024-12-01
  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Rasa Manis di Tengah Hidup yang Pahit

    Di apartemen, Suri baru saja selesai mandi. Badannya terasa lebih ringan, tetapi pikirannya masih dibayangi kegelisahan. Ia merebahkan diri di atas ranjang, mencoba memejamkan mata. Butuh beberapa menit hingga tubuhnya lebih rileks, dan akhirnya ia tertidur. Hanya saja, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Hujan deras mulai turun di luar jendela, disertai gemuruh petir yang tiba-tiba menggema. Suri terbangun dengan napas terengah, keringat dingin membasahi dahinya. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah peristiwa masa lalu kembali menghantuinya. Petir itu, suaranya terlalu mirip dengan suara benturan keras dari tabrakan yang dulu merenggut nyawa sang ayah. Suri menutup wajah dengan kedua tangan, berusaha mengusir kenangan buruk yang melintas. Namun, peristiwa tragis tersebut terus berputar di benaknya — mobil yang terguling, jeritan sang ayah, dan rasa sakit yang menghancurkan dunianya seketika. Suri terisak, tubuhnya bergetar. Dan di antara kekacauan pikirannya, wajah Romeo

    Last Updated : 2024-12-02

Latest chapter

  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Sengaja Bersembunyi

    Tubuh Serin menegang. Ia tidak menyangka calon suami mendiang Liora akan semarah itu padanya. “A-aku tidak bermaksud melukai siapapun. Aku hanya menerima tawaran dari pihak yayasan,” jawab Serin. Suaranya melemah, nyaris seperti seorang anak yang tidak mengerti kenapa ia harus disalahkan atas sesuatu yang di luar kendalinya. “Aku mengerti, Serin. Tapi, pria itu sepertinya sedang kehilangan akal sehat.” Dara menegaskan, suaranya semakin cemas.Kemudian, gadis itu mencodongkan tubuh ke depan, supaya Serin bisa mendengar suaranya dengan lebih jelas. “Nanti saat penghilatanmu sudah pulih, kamu harus mengingat ciri-ciri pria itu. Dia berwajah tampan, bermata hazel, tingginya sekitar 180cm, dan penampilannya seperti eksekutif muda.”Serin mencoba membayangkan seseorang dengan ciri-ciri itu dalam benaknya. Namun, semuanya masih gelap. Yang terlintas di pikirannya, justru sosok seorang pria dewasa yang garang dan tak mengenal belas kasihan. “…dan kalau aku tidak salah dengar, namanya Jev

  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Kesedihan yang Tak Mau Pergi

    Meski langit mulai gelap, Jevandro masih bersimpuh di depan makam Liora. Rasa kehilangan menekan dadanya begitu kuat, membuat lelaki itu sulit untuk bernapas. Butiran tanah yang terselip di jari-jarinya terasa nyata, mengingatkan Jevandro bahwa sang kekasih telah meninggalkan dunia fana. Rakyan dan Jeandra berjongkok di samping Jevandro, wajah mereka penuh iba. "Jevan," suara Jeandra lirih, hampir tak terdengar di antara suara desir angin. "Kita harus pulang." Jevandro tetap diam, matanya masih terpaku pada nisan di hadapannya, seakan berharap jika ia menatap cukup lama, keajaiban akan terjadi. "Kondisimu masih lemah, Kak," kali ini Rakyan yang berbicara. "Kakak harus istirahat." Jevandro menjawab dengan anggukan kepala. Ia tahu, tinggal di sini lebih lama pun tidak akan mengubah kenyataan. Dengan perlahan, ia menerima uluran tangan Jeandra yang menggenggam erat jemarinya, sementara Rakyan menopang bahunya dengan kokoh. Mereka bertiga berjalan meninggalkan area makam yang s

  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!    Tidak Akan Pernah Mencintai Lagi

    Seperti singa yang terluka, Jevandro menuju pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Lampu merah masih menyala, pertanda bahwa prosedur sedang berlangsung. Namun, ia tidak peduli sama sekali.Dengan mata memerah dan napas terengah-engah, lelaki itu mengangkat tangan dan menggedor pintu dengan keras."Buka pintunya! Jangan sentuh, Liora!"Jevandro tidak ingin menerima kenyataan ini. Tidak sekarang, maupun selamanya. Amarah bercampur kesedihan membuat Jevandro lepas kendali. Ia mengangkat kakinya, mencoba menendang pintu operasi sekuat tenaga. Buru-buru, Rakyan menariknya ke belakang, menahannya supaya sang kakak tidak berbuat semakin nekat.“Sabar, Kak. Jangan seperti ini.”Namun, Jevandro tetap meronta-ronta. “Tidak boleh ada yang mengambil Liora dariku! Liora masih ….”Kalimatnya terputus oleh isakan. Tiba-tiba, Jevandro terhuyung dan jatuh berlutut di depan pintu ruang operasi, dadanya naik turun, bahunya berguncang hebat. Melihat kondisi Jevandro, Kenzo bergegas mendekat. Ia men

  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Jangan Sentuh, Liora!

    Jevandro menoleh dengan gerakan lambat, tatapan matanya masih kosong. Suaranya bergetar ketika akhirnya satu kata terlontar dari bibirnya, begitu lirih tetapi penuh luka. "Liora.…”Hanya nama itu yang mampu ia ucapkan. Satu nama yang selama ini mengisi hatinya. Satu nama yang selalu ia bayangkan akan menghabiskan sisa hidup bersamanya. Rakyan tertegun. Ia menunduk, mengambil ponsel Jevandro yang masih tergeletak di meja. Layar ponsel itu telah gelap, panggilan sudah terputus. Tanpa banyak berpikir, Rakyan mencari nomor terakhir yang baru saja menghubungi Jevandro, kemudian menghubungi nomor tersebut dengan ponselnya sendiri. Nada sambung terdengar beberapa kali, sebelum suara serak dan penuh kesedihan menyapa dari seberang. "Halo, siapa ini?”"Om Kenzo, saya Rakyan. Apa yang sebenarnya terjadi?" sapa Rakyan sedikit bergetar. Perasaannya dipenuhi oleh firasat buruk.Terdengar helaan napas berat di seberang sana. Ada jeda panjang, seolah kata-kata itu begitu sulit untuk diucapka

  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Duka Cita yang Menghancurkan

    "Terima kasih, Bu Marisa. Saya pasti bekerja semaksimal mungkin untuk perusahaan,” balas Serin tak mampu menyembunyikan rasa bahagia. Bisa terpilih di antara sekian banyak pelamar, adalah sebuah karunia yang patut ia syukuri. “Senin nanti, Anda harus membawa fotokopi KTP dan rekening bank atas nama Anda sendiri. Selain itu, datanglah dengan pakaian yang rapi dan profesional, rambut disanggul rapi ke atas, sesuai dengan standar penampilan dari staf call center Verdant Group.”"Baik, Bu. Saya akan menyiapkannya." Serin mengangguk, meskipun ia tahu lawan bicaranya tak bisa melihat.“Kalau begitu, selamat bergabung dengan Verdant Group. Saya tunggu kedatangan Anda Senin nanti.”Begitu panggilan berakhir, Serin menurunkan ponselnya perlahan, masih belum sepenuhnya percaya bahwa apa yang ia dengar adalah kenyataan. Ia diterima bekerja di perusahaan besar.Air mata haru mulai menggenang di sudut mata Serin. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa dunia tak pernah berpihak padanya. Namun, har

  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Jaga Cinta Kita Selalu

    Tak terasa, empat hari sudah berlalu sejak Liora pergi untuk menjalankan tugas mulia. Empat hari yang terasa begitu lama bagi Jevandro. Untung saja kepulangan Rakyan ke mansion, bisa sedikit mengisi kekosongan hari-harinya tanpa sang kekasih.Suasana masih begitu sunyi, ketika Jevandro terbangun oleh dering ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dengan mata masih setengah terpejam, ia meraih benda pipih itu, dan melihat nama yang tertera di layar—Liora. Seketika, rasa kantuk Jevandro lenyap. Senyum lelaki itu mengembang, semangatnya bangkit hanya dengan melihat nama calon istrinya. Tanpa berpikir panjang, ia segera menggeser layar untuk menerima panggilan. "Baby," sapa Jevandro dengan suara masih sedikit parau.Dari seberang, terdengar suara lembut Liora, seperti alunan melodi yang sudah lama ingin didengarnya. "Maaf, Sayang, aku mengganggu tidurmu sepagi ini. Aku hanya ingin memberitahu, kalau setengah jam lagi aku akan pulang ke kota Velmora.”Mata Jevandro sontak terbuka leba

  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Pembawa Keberuntungan

    Jeandra berjalan dengan langkah tergesa menuju parkiran basement. Setibanya di mobil, ia membuka pintu dengan cepat lalu duduk di kursi pengemudi. Tangannya segera melepas kacamata yang sedari tadi bertengger di hidungnya, lalu mengurai rambut panjangnya ke bahu.Dengan terampil, Jeandra melepas ikatan rambutnya dan meraih sisir dari dalam tas. Setelah merapikan diri dan membenahi riasan di wajahnya, Jeandra menyalakan mesin dan melajukan kendaraan beroda empat itu meninggalkan gedung Pradipta Group.Perjalanan menuju mansion terasa lebih panjang, mungkin karena ia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan sang adik. Begitu gerbang mansion terbuka, Jeandra memarkirkan mobilnya lalu turun dengan langkah ringan. Tujuan utamanya adalah ke ruang makan, di mana aroma makanan yang lezat tercium dari kejauhan. Senyum Jeandra mengembang kala menangkap pemandangan yang begitu akrab—kedua orang tuanya, Jevandro, dan Rakyan yang sedang duduk mengitari meja makan.Tanpa berpikir panjang, Jeandra ber

  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Sekretaris yang Menderita

    Sebelum Jeandra sempat menjawab, suara langkah kaki lain terdengar mendekat dari arah belakang. “Kenan, aku baru saja akan mencarimu.”Jeandra menoleh, dan menatap pria berkacamata dengan setelan jas hitam yang berdiri di dekat mereka. Ia menebak bahwa pria tersebut adalah Gavin, asisten Kenan yang akan mewawancarai dirinya sebentar lagi.Gavin tampak sedikit terkejut melihat Jeandra dan Kenan dalam jarak sedekat ini, tetapi ia segera menutupi ekspresi itu dengan profesionalisme. "Ah, Nona Jeandra. Anda sudah datang. Perkenalkan, saya Gavin," katanya dengan sopan, lalu melirik ke arah Kenan sejenak, seperti menunggu reaksi pria itu. Jeandra menelan ludah. Jadi ini benar-benar Kenan, CEO Pradipta Group, target utama dari misi pentingnya.Kenan pun mengalihkan pandangan dari Jeandra, lalu memandang Gavin dengan ekspresi yang sama dinginnya. "Pastikan dia benar-benar memenuhi kualifikasi," titahnya pendek, sebelum melangkah masuk ke lift.Jeandra tetap berdiri di tempatnya, menga

  • Nyonya, Tuan Presdir Jatuh Cinta Lagi Padamu!   Kesan Pertama yang Memalukan

    Jeandra melajukan mobilnya perlahan, saat gerbang Pradipta Group tampak di hadapannya. Gedung berlantai sepuluh yang berdiri di tengah pusat bisnis itu, menjulang tinggi dengan struktur beton yang kokoh. Pintu gerbangnya dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan berseragam hitam, menunjukkan bahwa tempat ini bukanlah perusahaan sembarangan. Ketika mobilnya mendekat, salah seorang petugas keamanan melangkah maju, mengangkat satu tangan untuk memberi isyarat agar Jeandra berhenti. "Selamat pagi, Nona. Siapa nama Anda dan ada keperluan apa?" tanya petugas itu. Buru-buru, Jeandra meraih kacamata tebal berbingkai hitam yang sudah ia siapkan sebelumnya. Sekali lagi, ia memastikan bahwa rambutnya tetap rapi dalam kuncir ekor kuda sederhana.Perlahan, ia menurunkan kaca jendela dan menampilkan senyumnya yang ramah. “Saya Jeandra. Kandidat sekretaris yang akan mengikuti wawancara hari ini.”Sambil berkata demikian, Jeandra menyerahkan kartu identitas yang telah dipersiapkan. Petugas ke

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status