Menurut Albani gadis itu cukup menarik. Ia tidak mengira jika kepribadian yang ditunjukkan oleh gadis bernama Aileen itu sangat unik.
"Bisa-bisanya dia pingsan, apa katanya?" Albani heran, setelah pingsan karena terkejut, dengan mudahnya Aileen berkata ia kelaparan seharian belum makan. "Siapa pria yang membuatmu sampai lupa makan, Nona Bukankah pria itu harus diberi pelajaran," gumam Albani sambil mengendarai mobil menuju pulang dari rumah Aileen. ** "Tuan muda, ada Nyonya di luar menunggu Anda.” Albani menghela napas berat. Padahal ia baru saja membaringkan tubuh, tapi kehadiran wanita itu tak dapat diabaikan olehnya. “Baiklah saya akan menemuinya.” Baru beberapa langkah kakinya berjalan. Wanita setengah baya berlarian kearahnya. “Al Sayang!” “Astaga.” Albani menggeram. “Al kamu habis dari mana saja si?” “Tolong lepaskan saya.” “Tidak mau! Kamu tak tahu aku sedari tadi sudah menunggumu? Tadi aku sampai mengantuk dan ketiduran di ruang baca. Kenapa kamu tidak ke sana?” Biasanya Albani memang sering berdiam diri cukup lama di ruang baca kalau sedang di Indonesia. Ia jarang-jarang di rumah karena selama ini lebih sering di luar negeri mengurus bisnisnya. “Saya cari udara segar. Bosan juga di rumah terus,” jawab Albani datar. “Wow! Benarkah?” Wanita itu baru melepaskan pelukannya pada Albani. Cantik nan elegan. Tak akan ada yang percaya jika wanita itu sudah lima puluh tahun lebih usianya. Kesehariannya yang ceria dan energik membuatnya tampak lebih muda. “Hem. Ada apa?” Albani menatap wanita itu malas. “Katakan tujuan Anda, saya ingin istirahat.” Wanita itu cemberut. “Kau ini kenapa ketus sekali, sih? Padahal jarang bertemu Mama, tapi tidak kelihatan kangen atau apa gitu.” Albani berdecih. “Memangnya apa yang Anda harapkan? Saya sudah dewasa sekarang.” Mata wanita itu langsung berkaca. “Benar. Albani-nya Mama sudah besar.” Tangan kecilnya mengusap pipi Albani lembut. Albani menghela napas. Bertahun-tahun ia di luar negeri, tak disangka begitu pulang ke rumah, mamanya masih sama seperti dulu. Tak berubah sama sekali. “Anda masih sama seperti dulu.” “Hei. Mama memang awet muda, bukan?” “Salah. Maksud saya, Anda tidak lebih bijak dibandingkan sepuluh tahun lalu. Masih kekanak-kanakan padahal sudah berumur.” “Apa? Kekanak-kanakan? Berumur katamu?” “Sudahlah.” Albani lalu berbalik. “Saya tidur dulu, ya.” “Al tunggu!” Wanita itu berjalan ke hadapan Albani. Albani hanya mengangkat sebelah alis. “Kau sudah bertemu dengannya?” “Siapa?” “Jangan berpura-pura tak tahu. Kata bibi kau datang ke rumahnya tadi. Katakan bagaimana tanggapanmu tentang wanita pilihan kakek?” Albani terdiam. Ia takkan memberikan informasi apa pun pada wanita bernama Theresia itu. “Saya lelah sekali, nanti saja bahas itu.” “Albani kau ini ya!” Albani tersenyum sambil berjalan menuju ke kamarnya. “Saya rasa wanita itu cukup menarik. Sorot matanya menggambarkan bahwa ia tak memiliki cinta, hanya dendam semata.” Albani awalnya ragu, tapi dia kini semakin yakin membutuhkan Aileen untuk menjadi partnernya. ** Ada banyak pertanyaan yang bersarang di otak Aileen saat ini. Kemunculan pria bernama Albani, sebenarnya siapa dia, batin Aileen. Ia baru saja mandi dan kini sudah merasa lebih baik setelah pingsan. “Ai, mama masuk, ya.” Aileen merapikan tumpukan foto-foto yang sudah ia letakkan di dalam kotak lalu menaruhnya di bawah tempat tidur. “Iya, Ma,” jawab Aileen. “Sayang, lagi ngapain? Gimana keadaan kamu?” tanya mamanya. “Em, gak ngapa-ngapain. Ada apa, Ma? Papa udah pulang? Aileen baik-baik aja kok." “Belum, Sayang. Ada pertemuan mendadak. Besok pagi papamu baru bisa pulang. Maaf, ya. Mama tadi cemas kamu sampai pingsan gitu." Aileen tersenyum. “Gapapa, Ma. Namanya juga papa kerja,” pungkasnya. "Ai gapapa tadi cuman kelaperan." “Ai, kamu kelihatan sedih. Ada sesuatu yang terjadi, bukan? Ayo, cerita sama mama.” Aileen menghela napas, lalu ia menggeleng. “Gak ada, semua baik-baik aja kok. Mama jangan cemas.” Namun ibu tetaplah ibu. Dia tahu apa yang sedang dirasakan Aileen hanya melihat dari sorot matanya. “Aileen, anak mama, jangan bohong. Semua baik-baik aja, itu pasti bohong, kan? Kamu sampai nggak makan, pingsan kayak tadi. Pasti ada apa-apanya." Lalu aku harus apa, Ma? Batin Aileen. Ia pun tak dapat menceritakan semua hal yang menimpanya pada sang mama. Kenyataan ia punya pacar saja, Aileen rahasiakan. Apalagi saat ini Aileen dicampakkan oleh pacarnya itu dengan alasan pacarnya berselingkuh darinya. Menyedihkan, itu hanya akan membuat mamanya ikut sedih akan apa yang menimpanya saat ini. “Mama, Aileen baik-baik aja. Satu-satunya hal yang membuat Ai merasa tidak baik-baik saja adalah kemunculan pria tadi. Dia itu siapa, Ma? Kenapa dia kenal dengan mama dan papa?” Mama Aileen terdiam. “Kenapa mama malah diam?” tanya Aileen malah semakin penasaran. “Ai, mama tahu sejak kecil kamu anak yang cerdas. Kamu kreatif, mandiri, dan selalu pantang menyerah. Mama dan papa bisa mengandalkan mu.” Aileen tersenyum sambil memegang tangan sang mama. “Kenapa tiba-tiba? Ai jadi sedih nih. Ada apa, sih?” “Mama juga tahu, kau pasti bisa menentukan pilihanmu sendiri. Dengan siapa kamu berteman dekat, sampai menentukan jodohmu kelak.” Saat itu Aileen hanya bisa tersenyum pahit. Nyatanya dia baru saja mengalami kegagalan karna salah memilih cinta dalam hidupnya. Aileen tidak sehebat itu, dia sudah berakhir dalam urusan percintaannya. “Kok mama tau-tau bicara tentang ini?” “Aileen, mama ingin kau bahagia, Nak. Tidak ada yang mama harapkan lagi dalam hidup ini selain kebahagiaanmu.” Aileen hanya tersenyum datar. Ada apa, sih. Tidak biasanya sang mama bicara begitu banyak dan cukup serius kelihatannya. “Pria itu ... dia baik, Ai. Dia adalah pria yang dewasa, mandiri, dia juga tampan, bukan?” Kini Aileen semakin bingung dibuat oleh mamanya. “Setiap orang tua ingin anaknya menikah dengan pria sepadan, begitu juga mama dan papa. Rasanya, Albani ia sepadan denganmu.” Aileen mengembuskan napas pelan. Jadi rupanya ini tujuan mamanya mengajak Aileen bicara. Ya, seharusnya Aileen sudah dapat menebaknya hanya dari ekspresi sang mama yang begitu menyukai pria bernama Albani itu. “Ma....” Aileen memegang tangan mamanya. Tapi, mamanya itu malah bangun sambil tersenyum. “Istirahat, ya. Kelihatannya kamu lelah. Jangan sampai sakit." “T-Tapi, Ma....” Aileen menatap manik mata mamanya yang berkaca. “Jangan dijadikan beban. Aileen bebas menentukan pilihan. Maaf kalau mama membuatmu jadi bimbang,” kata mamanya lalu mengusap puncak kepala Aileen. Aileen jadi tak enak, apa mamanya bisa merasakan gurat keberatan darinya. “Mama.” Aileen pun turut berdiri. Ia memeluk mamanya dengan hangat. “Maafkan Ai, ya, Ma.” “Kenapa minta maaf, Aileen nggak salah.” Mamanya menjawab lembut. “Ai bahagia karena mama selalu mengerti perasaan Aileen.” Aileen tak tahu apa yang dia pikirkan sekarang. Tapi, ia mengerti keinginan mamanya. “Ai tahu mama ingin Ai bahagia.” “Ya, Sayang, karena itu jangan menyimpan beban sendirian, ya. Mama akan terluka jika Aileen terluka. Begitupun jika Aileen bahagia, maka mama akan lebih bahagia.” “Hem, Aileen tahu itu.” Aileen menatap mata mamanya yang indah. Mata itu yang selalu melihat hatinya dengan baik. “Aileen mau kok mengenal pria itu lebih jauh.” Tiba-tiba saja itu keluar dari mulut Aileen. “A-Apa?” Mamanya kelihatan terkejut. “Em, bukannya tujuan mama ingin membuat Aileen mengatakan itu?” Aileen menyengir seolah itu bukan masalah baginya. “Mama hanya....” Aileen terkekeh. “Aileen sudah cukup dewasa untuk mengerti arah pembicaraan mama kok. Jadi, itu sama sekali nggak masalah kok untuk Aileen.” Seketika raut wajah sang mama berubah. “Astaga, anak Mama. Jadi kau benar-benar tak masalah jika mama dan papa ingin kau dekat dengannya?” Aileen mengangguk. “Ya, kurasa.” ** Albani membuka matanya lebar-lebar. Keringat mengucur deras diikuti desah napas yang kuat. Lagi-lagi ingatan buruk tentang masa lalu muncul dimimpinya. Kemudian ponselnya berdering. Ia pun segera mengambil benda tipis itu di atas meja. Alisnya mengernyit membaca pesan yang dikirimkan oleh nomor tidak dikenal. “Aileen? Bukannya ini nama gadis itu." Entah ini sebuah pertanda atau hanya kebetulan. Tapi pesan dari Aileen membuat Albani merasa amat lega."Jadi, kamu memutuskan ini dengan pikiran jernih?" "Ya, setidaknya ini lebih baik dibandingkan harus terus meratap." "Nona Aileen, kau aneh sekali." Albani tertawa di saat Aileen sedang tidak berselera diajak bercanda. "Apanya yang lucu." Aileen mengerutkan kening. "Tentu kau, Aileen." "Apanya yang lucu. Aku sedang kesal, bukan melucu." "Untuk apa kau meratapi pria tidak berguna. Bukannya itu lucu." Albani berkata santai sambil menyesap secangkir kopi di tangannya. "Kau seharusnya memaki dia sepuasnya. Ketimbang meratapinya, bukan." Aileen langsung diam. Benar yang dikatakan Albani, untuk apa dia meratapi pria brengsek seperti mantan pacarnya. "Baguslah kalau kau sudah memutuskan menerima tawaran ini." Aileen menghela napas. "Lalu setelah ini apa?" "Kita hanya perlu berpura-pura." "Pura-pura?" "Hem, pura-pura menikah." "Tetap saja, kita benar-benar menikah. Tidak ada yang namanya menikah pura-pura tapi tercatat di kementerian agama," pungkas Aileen
Aileen mungkin sudah gila atau karena saking putus asa nya, hingga dia menyetujui kesepakatan yang ditawarkan Albani padanya. Tapi di satu sisi Aileen benar-benar benci dengan Rio, apalagi setelah Rio menguras tabungannya padahal keduanya sudah putus. "Tidak, kamu beneran udah parah, Ai. Kamu setuju nikah kontrak sama dia? Asli padahal kamu sama dia belum lama kenal. Kok bisa sih kamu mau aja?" Namun semua sudah kepalang basah. Aileen telah menandatangani kesepakatan itu hitam di atas putih. "Silakan tanda tangan disini, Nona Aileen." Aileen yang awalnya ragu, tapi dia bertekad melakukan itu demi membalas kan sakit hatinya pada Rio. Akhirnya Aileen membubuhi beberapa lembar dokumen yang ada di depannya dengan tanda tangannya. "Oke, semua sudah ditandatangani secara sah di atas materai dan di saksikan oleh dua orang saksi yang saya bawa. Nona Aileen, saya sangat senang dan berterima kasih karena Nona memilih hal yang sangat tepat." Senyum tipis Albani menyisakan misteri bag
"Aileen, coba buka kacamata kamu, Sayang. Tante mau lihat mata kamu tanpa benda itu," ujar Mia, dia adalah kenalan mamanya yang bekerja sebagai make up artist. Hari itu, Mia diberikan tanggung jawab untuk mengubah penampilan Aileen yang awalnya terkesan kuno, menjadi lebih modern, elegan, dan pastinya cantik. "Kacamata? Hem, kenapa harus dilepas, Tante? Aileen selama ini nggak melepas kacamata karena penglihatan tidak terlalu jelas tanpa kacamata ini," jawab Aileen agak ragu-ragu. Mia tersenyum lalu mengusap dua bahu Aileen sambil menatap pantulan di cermin. "Aileen, kulit kamu bagus, hidung kamu juga mancung, rambut kamu juga indah dan lembut. Tante rasa, kamu cantik alami. Tapi, penampilan kamu akan bertambah cantik, kalau kamu mengganti kacamata kamu itu, Sayang." "Gimana caranya, Tante?" "Mana mungkin kamu nggak tau kalau ada yang namanya lensa kontak?" "Ah, itu, Aileen tau. Tapi, Aileen nggak nyaman, Tante." "Udah pernah coba?" Aileen menggeleng. "Belum sih." "Nah,
"Apa ini benar-benar terjadi?" gumam Aileen berdebar. Tibalah hari yang menegangkan bagi Aileen. Sekarang, dia sedang berdiri, menggandeng tangan ayahnya dengan jantung berdentum kuat. Tak pernah dia bayangkan, pesta megah yang sekarang sedang berlangsung, adalah pesta pernikahannya dengan seorang putra pewaris tunggal perusahaan ternama di ibukota. Albani Raditya, pria itu berdiri di seberang sana, melihat ku dengan tatapan yang tidak terlalu jelas, apakah dia datar, muram, atau malah terkejut. Ternyata itik buruk rupa bisa berubah menjadi angsa yang sangat cantik. Aileen belum pernah berdandan sampai sedetail ini. Dia juga tak berencana untuk menikah dengan gaya yang mewah, terkesan sensual dengan pakaian pengantin yang sekarang sedang di kenakannya. Ingatan itu pernah menjadi hal terindah bagi Aileen. "Ai, kamu kalau nikah nanti sama aku. Janji, ya. Kamu nggak perlu dandan yang terlalu berlebihan. Cukup tunjukkan kamu cantik alami, seperti sekarang." Aileen hanya tersenyu
"Kalian berdua resmi sebagai suami istri." "Benarkah," desah Aileen pelan. "Senyumlah." Albani memegang tangan Aileen. Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap Albani. Begitu akad nikah selesai dilaksanakan. Meski dengan perasaan bercampur aduk, antara cemas, takut, dan tidak dapat dideskripsikan oleh Aileen. Dia sudah resmi dan sah menjadi istri seorang Albani Raditya. Kini Aileen terngiang perkataan Albani barusan, ini tentang balas dendam. "Kau benar Mas Al." "Hem?" "Aku harus balas dendam, kan." Albani menganggukkan kepala. "Ah, tepat." "Silakan untuk pengantin pria diperbolehkan jika ingin mencium pengantin wanita." Ucapan pembawa acara itu membuat Aileen berdegup gugup. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah Albani akan menciumnya sungguhan di depan orang-orang yang jumlahnya sangat banyak itu. Tapi tadi Albani bilang dia tidak boleh menolak, malah menyuruhnya melakukan improvisasi. Albani tersenyum penuh arti, menatap Aileen sembari mengelus punggung tanga
Diambilnya rokok dari dalam dasbor mobil, lalu Rio keluar untuk menyalakan api. Lenka mengusap wajah, tak mengerti dengan kemarahan pacarnya. "Dia kenapa sih? Padahal, dia sendiri yang bilang, dia nggak betah punya pacar yang benar-benar norak, dan nggak menggairahkan? Kenapa sekarang dia mendadak begitu? Atau jangan-jangan, dia beneran terpukau karena mantannya itu mulai merubah penampilannya?" Lenka mengatakan itu sembari menatap pantulan dirinya dari kaca mobil. "Tapi, dia sama sekali bukan tandingan ku." Rio masih menenangkan diri dengan sebatang rokok di sela telunjuk dan jari tengahnya. Sambil mengepul kan asap ke udara, berusaha untuk bisa menghilangkan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya kala terbayang bibir merah Aileen, yang ternyata sangat sexy dengan polesan gincu berwarna merah muda tadi. "Fuck!!" "Rio, kamu sampai kapan merokok? Kita pulang, yuk. Sepertinya kamu harus mengademkan pikiran kamu yang mulai aneh itu. Kamu nggak perlu punya perasaan kesal don
Memang tak akan ada yang terjadi antara Albani dan Aileen di momen bulan madu mereka. Keduanya diberikan waktu satu minggu untuk liburan di hotel dan segala fasilitas mewah. Namun karena mereka bukan menikah selayaknya pasangan suami istri yang normal. Tak ada yang terjadi, entah itu aktivitas kontak fisik dan semacamnya. Aileen sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang penulis novel. Sedangkan Albani pun sama, sibuk dengan pekerjaannya yang dia bawa dari kantor. "Aileen." "Ya, Mas?" Albani mengenakan arloji mahalnya. Dia lalu memberikan sebuah kartu berwarna hitam pada Aileen. "Ini untuk kamu." Aileen menatap benda itu, dan agak terkejut. Aileen belum pernah memiliki benda Sultan tersebut. Tapi dia cukup tau, bahwa itu adalah black card. "Black card? Untuk apa, Mas Al?" "Untuk kamu gunakan. Ini termasuk fasilitas yang saya janjikan. Kamu bisa pakai untuk membeli berbagai macam kebutuhan kamu. Mulai dari pakaian, perhiasan, sepatu, tas dan lain-lain." Aileen menggeleng, menolak
"Maaf apa ada orang di dalam?" Aileen mendengar suara itu saat dia tengah berada di kamar mandi butik. Dia lalu keluar dan kaget mdlihat bahwa yang ada di luar itu adalah Lenka. Bagaimana bisa dia ada di tempat itu. Aileen seolah kehabisan kata-kata, ia segera melewati Lenka begitu saja. Tapi, Lenka berdecih, membuatnya menghentikan langkah kaki. "Sekali jelek tetap saja jelek. Kamu tidak perlu bersusah payah memperbaiki penampilan kamu, Aileen. Karena kamu tetap saja jelek, tidak menarik, dan kamu juga bukan saingan ku." Sekali lagi, Lenka merendahkan Aileen. "Apa kamu bilang?" kata Aileen, lalu dia tersenyum miring, berjalan ke hadapan Lenka dengan tatapan mencibir. "Kamu kira aku memerlukan pengakun mu? Tidak. Lagi pula, menurutku, kamu tidak sebanding denganku, jadi jangan merasa kamu layak bersaing dengan ku. Bagus kalau kamu menyadari, bahwa kamu bukan saingan ku." Lenka tak mengira jika Aileen akan menjawabnya. Kemudian Aileen pergi meninggalkan Lenka yang membisu, ber
"Rio, dari mana saja kamu tidak pulang ke apartement beberapa hari? Kamu pasti sedang sibuk main dengan perempuan, kan?" ucap Lenka. Dia seperti biasa, selalu saja mengintimidasi Rio. Tapi, kata-kata Lenka itu benar, dia memang pergi untuk mencari kesenangan dengan perempuan lain. "Kalau iya, apa itu masalah untuk kamu?" "Rio, kamu akhir-akhir ini banyak berubah. Katakan jujur, apa ini semua karena mantan pacar kamu itu?" "Hentikan, Lenka. Ini semua tidak ada urusannya dengan Aileen.." "Ya, ya, kamu menyebut namanya dengan ringan. Aku jadi curiga. Kamu masih punya rasa untuknya. Iya kan!" "Kamu tau Lenka, aku capek kita sering bertengkar." Lenka yang tadinya akan marah mendadak melemah. "Maaf." "Ini semua sama sekali nggak ada hubungannya dengan siapa pun, dengan orang lain. Ini semua tentang kamu, Lenka. Sikap kamu belakangan makin menjadi-jadi. Aku sudah bilang, aku ingin kita segera menikah. Tapi aku masih ingin menundanya. Itu kenapa, aku jadi malas berbicara deng
"Ada apa, Aileen?" tanya Albani begitu keluar dari toilet. "Papa mengajak main catur," ucap Aileen. "Ah, begitu." Albani lalu pergi begitu saja meninggalkan Aileen. Namun kemudian ia berbalik lagi. "Aileen." "Ya?" "Maaf karena yang tadi pagi," ucap Albani. "Oh, ya, aku tau Mas tidak sengaja." Aileen mengangguk. "Terima kasih karena sudah mau akrab dengan papa," kata Albani tiba-tiba. "Ah, itu, sudah seharusnya kan. Tidak masalah, Mas." "Tenang saja, kesepakatan tetap berjalan." Albani lalu pergi meninggalkan Aileen. "Hem, kenapa mas Al sering mengulangi kata-kata kesepakatan. Seolah dia mulai tak nyaman," ucap Aileen. "Al, kenapa lama sekali." Mario menunggu di depan meja catur. "Pa, jangan sekarang. Saya sedang tidak ingin main catur." "Sebentar saja, lagipula lihatlah istrimu saja mau menemaniku," kata Mario saat Aileen muncul. Gadis itu duduk di dekat Mario dengan tenang. Albani menghela napas. "Ya, baiklah hanya sebentar." Mario tersenyum. "Tidak apa,
Hari ini papa Albani pulang dari luar negeri. Beliau langsung meminta makan bersama dengan Albani dan menantunya, Aileen. Suasana hening, antara Aileen dan Albani terlihat canggung. Melani agak heran, sebab belum lama dia melihat anaknya masih terlihat mesra dengan istrinya. Kecurigaan pun muncul, apakah mereka bertengkar. "Aileen, kamu kenapa?" tanya Melani. Baru saja ia memperkenalkan Aileen pada suaminya, papa mertua Aileen. "Al, kenapa kamu hanya diam saja dengan istrimu. Apa kalian bertengkar?" tanya Mario, papa Albani. "Tidak ada apa-apa." Ia tau penyebab Aileen lebih pendiam, ini pasti karena kejadian pagi tadi. "Oh iya, kenapa papa tidak hadir di pernikahan saya. Apakah papa bisa jelaskan." Albani buru-buru mengganti topiknya. Lagipula ia memang penasaran alasan papanya yang belum diungkapkan. "Maafkan Papa, Nak." Mario melihat ke arah Melani. "Papa mu sakit, belum lama papa menjalani operasi. Maaf Al, karena mama baru bisa bilang." "Apa?" "Ya, papamu sakit
Setelah mengatakan hal itu, Albani langsung membelakangi Aileen. Sementara Aileen masih diam, ia bingung harus bagaimana menanggapi ucapan Albani yang tiba-tiba membahas kontrak pernikahan lagi. "Maaf karena saya mengatakan hal-hal yang tidak penting. Selamat tidur Aileen." Aileen masih tidak menjawab. Baginya itu benar, keduanya memang harus tetap menjaga batasan. Albani masih belum bisa melupakan kebodohannya dengan wanita penghibur itu, dia akat menyesali perbuatannya, tapi sadar semua sudah terlanjur. "Tenang saja, Mas. Aku tau betul kita hanya sebatas menikah kontrak. Jadi, Mas tidak perlu merasa segan jika ingin membahasnya," kata Aileen kemudian. Albani berusaha memejamkan mata, ini harus segera dibuang. Ia tak boleh terus merasa gelisah, lagipula dia tak pernah mengatakan apa pun tentang dirinya pada Aileen bahwa ia pria baik yang tak pernah menyentuh wanita. Jadi, ia tak perlu merasa bersalah. "Ya, terima kasih, Aileen." *** "Terima kasih, Rio. Aku sangat meras
Aileen melihat Albani menatapnya berbeda, seolah menegaskan, atau memberikan kode padanya tentang sesuatu. Kemudian Aileen mengusap tengkuk, sedikit mengedarkan pandangannya, tak sengaja melihat Melani yang sedang mengintip dari kejauhan. Secepatnya, Aileen segera bersikap santai, dia tertawa ringan lalu berdiri sejajar dengan Albani. Benar, Albani tahu keberadaan Melanie yang sedang menguping itu. "Maaf, karena aku belum terbiasa. Maklum, kita juga baru kenal, kan, Mas. Untung saja ada kesepakatan itu, sehingga kita bisa terus komitmen. Meski nggak mudah, karena kita harus menyesuaikan diri padahal sebelumnya kita tidak saling mengenal." Albani meletakkan tangannya ke kepala Aileen, mengusapnya lembut. "Iya, saya juga masih berusaha jadi suami yang baik untuk kamu." Lagi-lagi perasaan Aileen aneh setiap kali merasakan sentuhan Albani. Jantungnya berdebar sama seperti dia sewaktu jatuh cinta pada Rio. Ini tidak mungkin, Aileen membuang segera perasaan aneh itu. "Iya, Mas Al. Kal
"Ah, tapi ini mungkin menganggu privasinya." Aileen mengurungkan niatnya. "Jadi, semua pasti baik-baik saja. Mas Al adalah pekerja keras, dia pasti sedang sangat sibuk. Jika aku menelepon di saat yang tak tepat, bisa-bisa jadi berantakan." Ia lalu meletakkan ponselnya dan berusaha untuk membuang setiap kegelisahan yang menurutnya tidak berarti apa-apa. *** Jarum jam terus saja bergerak, bunyi dentingnya berhasil membuat Aileen tidak bisa tidur. Aileen juga merasa haus, dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur mengambil segelas air. Namun, saat dia baru sampai di depan pintu kamar, dia melihat Albani baru saja masuk ke dalam rumah. Sontak ia mendekat dan menegur pria itu dengan suara pelan serupa berbisik, cemas jika ada yang terbangun mengingat waktu sudah larut. Aileen berjalan menuruni anak tangga. Albani terlihat sedang duduk di kursi yang ada di ruang tamu sendirian sambil memijat kening. Sekalian saja, Aileen berinisiatif untuk membuatkan Albani minuman, sekalian dia
Kemudian keduanya pergi ke sebuah privat room. Albani mengendurkan dasi sambil berjalan menuju ruangan yang disiapkan khusus untuknya. Wanita itu tampak cantik, dan pastinya seksi. Albani langsung mendorong tubuh wanita itu, begitu dia mendapatkan diri pintu telah ditutup rapat oleh wanita tadi. Tanpa membuang waktu, dia memagut kasar bibir wanita itu, membuka bajunya dan meremas tubuh indah yang terpampang setengah terbuka di depan matanya. Wanita itu sangat senang, karena pria gagah seperti Albani yang malam ini sedang menikmati tubuhnya. Tak berjeda, pagutan itu makin dalam nan basah, turun ke bagian lain dan merajai. Albani seolah sangat kehausan, hingga tak butuh waktu lama, tubuhnya sudah bangun dan siap dimanjakan. "Now!"Wanita itu berjongkok, kemudian membuka resleting celana Albani, menikmati peran kotornya dengan panas. Piawainya membuat Al tak kuasa mendesah, menggeram hebat hingga memaksa wanita itu lebih kuat menikmatinya. "Hard! Fast!"Desahan wanita itu terdengar tak
"Aileen.""Ya?""Maaf, tapi bisakah kamu berbohong jika nanti malam dia bertanya saya ada di mana?""Dia?" Aileen sedikit bingung, dia siapa yang dimaksud Albani."Ibu saya," jelas Albani. Aileen tidak mengerti mengapa Albani sangat dingin terhadap ibunya sendiri. Aileen juga tidak mengerti, kenapa dia harus berbohong. "Loh? Memangnya kenapa, Mas?""Begini, saya tadi sudah bilang bahwa malam ini saya tidak bisa pulang." "Ya, lalu?" "Tapi, ya, kamu tau sendiri bagaimana yang orang itu katakan tadi." "Memangnya kenapa Mas. Bukannya itu wajar kalau mamamu bertanya tentang itu." Albani menggeleng malas. "Saya tidak suka." "Hem," sahut Aileen kaku. "Kamu nggak keberatan, kan, kalau saya meminta bantuan kamu? katakan saja, saya sudah tidur di kamar. Karena saya yakin orang itu akan memeriksa dan menanyakan pada kamu nanti."Meski Aileen agak penasaran, sebenarnya ke mana Albani akan pergi. Tapi, dia sadar, posisinya tidak berhak bertanya tentang itu. "Oh, baiklah, Mas." Senyum Aile
"Hem, bulan madu?" ucap Albani. Dia menggaruk tengkuk, agak bingung menjelaskan tentang itu. Keduanya tidak berpikir akan berbulan madu, lagipula itu sama sekali tidak perlu. Aileen hanya senyum canggung. Percakapan antara mereka mulai memanas ke arah yang lebih pribadi. Ia jadi tak nyaman, tapi bagaimana pun itu adalah pertanyaan yang wajar. seorang ibu bertanya tentang bulan madu anaknya yang baru menikah. "Ya, kenapa bingung begitu saat kutanya tentang bulan madu kalian?" tanya Melani. Ia tau, anaknya pasti tidak kepikiran ke arah sana. "Ya, menurutku itu...." Albani menggantungkan ucapannya. "Kau berkeringat, Al." Melanie menatap Albani penuh perhatian. Tanpa sadar itu membuat Albani tertekan. "Biasa saja, wajar sekali orang tua bertanya apakah anaknya dan istrinya akur dan harmonis. Bukan begitu?" "Ya, tapi tidak perlu juga sampai bertanya tentang bulan madu segala," tegas Albani. "Hanya cukup jawab kalian berbulan madu, atau belum?" Melani kian mencecar. Disitula