แชร์

Bab 2 : Pria Asing Membuat Kejutan

ผู้เขียน: Apple Cherry
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2023-07-13 20:02:40

Pipi putihnya kelihatan pucat sekarang. Aileen menatap pantulan wajahnya dari kubangan air tempat ia berteduh. Hujan turun cukup lebat, aroma hujan bercampur asap knalpot kendaraan menusuk ke penciuman. Aileen berdiri dengan pandangan kosong, sambil menghela napas berat berusaha menghilangkan pikiran tentang kejadian memuakkan beberapa waktu lalu.

“Ah, bodohnya aku.” Rasanya ingin memutar kembali waktu untuk menghajar laki-laki brengsek yang sudah membuat hatinya hancur.

Di saat hatinya sedang kacau, sebuah mobil melaju kencang hingga membuat genangan air mengenai dirinya. Aileen memejamkan mata, ia hanya ingin teriak sekuatnya. “Kenapa tidak ada yang berjalan baik dalam hidupku!!!”

Aileen menarik napas panjang. “Kenapa aku sangat sial!!!”

“Kenapa, Tuhan!!!”

Seorang pria yang tak sengaja melihat pemandangan gadis berteriak di tengah hujan deras pun tersenyum.

“Sebentar,” katanya pada sopir pribadinya.

“Baik, Tuan.”

Ia membuka kaca jendela mobilnya lalu menatap wajah gadis itu. Aileen terkesiap, tak menyadari jika ada orang yang memperhatikan tingkah memalukannya barusan.

“A-Ada apa!!” sentak Aileen.

Pria itu tersenyum. “Nona baik-baik saja?” tanyanya pada sang gadis.

Aileen terdiam sambil memalingkan wajah. “Untuk apa Anda bertanya. Silakan lewat sesukamu! Kalau perlu kau cipratkan sekalian genangan air lebih banyak ke arahku!”

Saat itu air mata Aileen tak dapat berhenti mengalir. Seolah ia semakin teriris perasaannya. Ia menangis sejadi-jadinya.

“Nona butuh tumpangan? Saya akan mengantar Nona.”

Aileen berdecih. “Anda mengasihaniku?”

Pria itu tersenyum. “Tidak, justru saya melihat Anda amat menarik, Nona Aileen.”

Aileen terkejut. Darimana pria itu tahu namanya?

“Anda tahu namaku?”

“Hem, memangnya kenapa? Saya bahkan tahu alamatmu. Jadi, mau saya antar sekalian?”

Sekarang Aileen ketakutan. Bagaimana bisa orang asing itu tahu nama, dan bahkan katanya tahu alamatnya juga. Jangan-jangan pria itu bukan orang baik, mungkin saja sudah menyelidiki siapa dirinya dan punya niat buruk yang terselubung.

“Tidak! Anda jangan macam-macam!” Aileen berjalan cepat menghindari pria itu.

Namun pria itu malah keluar dari mobil. Di tengah hujan deras ia menarik tangan Aileen.

“Nona Aileen, sebaiknya Anda tidak kabur. Mari masuk, kita bisa berbicara baik-baik.”

Aileen melepas paksa genggaman tangan pria itu. “Lepaskan atau aku akan teriak!”

“Yakin Anda akan teriak? Saya mengenal orang tua Anda, Nona. Saya berjanji akan mengantar Anda pulang dengan selamat.”

Meski Aileen masih tidak mengerti akan situasi tersebut. Tapi sejujurnya saat menatap mata pria itu, dia tak yakin orang itu punya niat buruk.

“Anda bisa percaya saya, kan?”

“Apa Anda berusaha menipu saya? Ah, begini, ya. Anda tahu, kan? Jaman sekarang banyak sekali penipuan, atau mungkin ... penculikan? Anda mau menculik saya?” Aileen menutup mulutnya rapat.

Pria itu sejenak terdiam. Tak lama ia pun tertawa pecah. “Hah?”

“Hei!” Aileen menggeram. Kenapa malah tertawa, sih, batinnya.

“Ah, maaf, Nona Aileen. Anda menuduh saya menipu?”

Aileen mengerutkan kening. “Ya. Mungkin saja, kan?”

“Wah. Saya sangat terpukul, Nona. Apa menurut Nona wajah seperti saya mungkin menjadi penculik?” Pria itu mendekati Aileen.

Sontak Aileen memundurkan badan. “Atau saya keliatan seperti penipu?”

Baik dari ujung kepala sampai ujung kaki, pria itu kelihatan sempurna di mata Aileen. Sempurna sebagai pria tampan nan berkelas.

Aileen menggeleng secepat kilat. “Sudahlah! Tidak peduli Anda penipu atau bukan. Saya akan pulang sendiri!”

“Nona, saya mengerti. Tapi izinkan saya mengantar Anda sampai rumah. Itu saja, saya janji tidak akan bicara macam-macam setelah ini.” Pria itu belum menyerah, masih berusaha membujuk Aileen.

Kenapa di saat seperti ini, sih. Aileen sedang tidak berselera untuk mendebati siapapun. “Ya Tuhan.” Aileen mengusap wajah kasar.

“Hem, apa Anda bersedia, Nona?”

Ya sudahlah. Culik saja aku, tipu saja aku! Aku tidak peduli! Batin Aileen.

“Ya, baiklah, terserahlah.” Aileen masuk ke dalam mobil pria itu dengan mematahkan segala keraguan dan berusaha untuk pasrah.

Pria itu lega karena akhirnya Aileen mau masuk ke dalam mobilnya.

**

Ternyata kecurigaan Aileen sama sekali tidak beralasan. Pria itu bukan hendak menipu Aileen, apalagi menculiknya. Pria itu memang mengantarkan Aileen sampai ke rumahnya dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun. Sepanjang perjalanan tadi, pria itu juga tak mengajak Aileen bicara, itu membuat Aileen merasa lega. Karena jujur saja, Aileen sedang tidak berkeinginan untuk mengobrol dengan siapa pun.

“Em, terima kasih,” ucap Aileen pada pria itu.

Pria itu tersenyum tipis. “Nona sudah tidak mencurigaiku lagi?”

“Ya, maafkan saya,” sahut Aileen merasa bersalah sudah berlebihan menaruh curiga pada pria baik di depannya. “Tapi saya harap Anda tidak perlu sok kenal lagi dengan saya.”

“Oh. Tapi saya memang mengenal Anda, kok.” Pria itu menatap pintu rumah Aileen. “Bolehkah saya masuk?”

“Masuk? Ke mana? Ke dalam rumahku?” Aileen terkejut.

“Ya, boleh, kan?”

“T-Tidak!” Aileen menggeleng cepat.

“Kenapa? Orang tuamu ada di dalam, kan?”

“Justru karena ada, jangan masuk!” tolak Aileen. “Em, maaf bukannya tidak tahu terima kasih,” pungkas Aileen.

“Apa Nona lebih suka bersama saya di tempat sepi dibandingkan jika ada kedua orang tua Nona?”

Pertanyaan macam apa itu, batin Aileen. “Astaga. Mana mungkin begitu!”

“Kalau begitu izinkan saya masuk. Saya ingin bertemu orang tua Nona.”

Aileen mendesah panjang. “Untuk apa? Maksudku untuk apa Anda bertemu mereka segala?”

Pria itu maju beberapa langkah. Tak lupa ia membuka sepatunya, lalu mengganti dengan sandal rumahan yang ada di rak sepatu tepat di samping pintu. “Hanya untuk menyapa saja.”

Kalau sudah begini, dilarang pun percuma, batin Aileen. “Ya sudahlah. Saya heran kenapa Anda suka sekali memaksa.”

“Benar. Saya orangnya memang seperti itu. Anda sangat pintar Nona Aileen.”

Sekilas senyum pria itu melalang buana di pelupuk mata Aileen. Senyuman yang manis, juga teduh tatapan mata pria itu amat menyentuh hatinya.

“Silakan masuk.” Aileen pun menyerah. Lagipula hanya menyapa saja. Dia juga penasaran, apa kedua orang tuanya mengenal pria itu atau tidak.

“Ma, Pa, Aileen pulang.” Aileen masuk setelah membuka blazer yang ia kenakan. Pakaiannya nyaris basah kuyup.

“Ai, akhirnya kamu pulang juga, Nak.”

Perempuan paruh baya berdiri sambil menatap pria di sebelah Aileen. “Astaga! Dia?”

Aileen melirik sekilas pria di sebelahnya. “Mama kenapa? Apa mama kenal sama dia?”

“Apa kabar Tante Bunga?”

“Ya Tuhan, rupanya benar itu kamu,” jawab Mama Aileen kelihatannya mengenal pria itu.

“Jadi, kalian benar-benar sudah saling mengenal?”

Aileen sendirian yang kelihatan bingung.

“Aileen, dia Albani, anak dari kenalan Papamu, Sayang.”

“Albani?” Aileen sama sekali tidak mengenal nama itu. Ia baru mendengarnya pertama kali.

“Benar. Kenalkan Nona, saya Albani Raditya.”

Aileen terpaku melihat kenyataan bahwa orang tuanya sudah mengenal pria itu. "Kurasa aku akan pingsan."

"Aileen!!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทที่เกี่ยวข้อง

  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 3 : Memutuskan Menerima

    Menurut Albani gadis itu cukup menarik. Ia tidak mengira jika kepribadian yang ditunjukkan oleh gadis bernama Aileen itu sangat unik. "Bisa-bisanya dia pingsan, apa katanya?" Albani heran, setelah pingsan karena terkejut, dengan mudahnya Aileen berkata ia kelaparan seharian belum makan. "Siapa pria yang membuatmu sampai lupa makan, Nona Bukankah pria itu harus diberi pelajaran," gumam Albani sambil mengendarai mobil menuju pulang dari rumah Aileen.**"Tuan muda, ada Nyonya di luar menunggu Anda.” Albani menghela napas berat. Padahal ia baru saja membaringkan tubuh, tapi kehadiran wanita itu tak dapat diabaikan olehnya.“Baiklah saya akan menemuinya.” Baru beberapa langkah kakinya berjalan. Wanita setengah baya berlarian kearahnya.“Al Sayang!” “Astaga.” Albani menggeram. “Al kamu habis dari mana saja si?” “Tolong lepaskan saya.” “Tidak mau! Kamu tak tahu aku sedari tadi sudah menunggumu? Tadi aku sampai mengantuk dan ketiduran di ruang baca. Kenapa kamu tidak ke sana?” Bia

    ปรับปรุงล่าสุด : 2023-07-13
  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 4 : Pura-pura Menikah

    "Jadi, kamu memutuskan ini dengan pikiran jernih?" "Ya, setidaknya ini lebih baik dibandingkan harus terus meratap." "Nona Aileen, kau aneh sekali." Albani tertawa di saat Aileen sedang tidak berselera diajak bercanda. "Apanya yang lucu." Aileen mengerutkan kening. "Tentu kau, Aileen." "Apanya yang lucu. Aku sedang kesal, bukan melucu." "Untuk apa kau meratapi pria tidak berguna. Bukannya itu lucu." Albani berkata santai sambil menyesap secangkir kopi di tangannya. "Kau seharusnya memaki dia sepuasnya. Ketimbang meratapinya, bukan." Aileen langsung diam. Benar yang dikatakan Albani, untuk apa dia meratapi pria brengsek seperti mantan pacarnya. "Baguslah kalau kau sudah memutuskan menerima tawaran ini." Aileen menghela napas. "Lalu setelah ini apa?" "Kita hanya perlu berpura-pura." "Pura-pura?" "Hem, pura-pura menikah." "Tetap saja, kita benar-benar menikah. Tidak ada yang namanya menikah pura-pura tapi tercatat di kementerian agama," pungkas Aileen

    ปรับปรุงล่าสุด : 2023-07-13
  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 5 : Kontrak Kesepakatan

    Aileen mungkin sudah gila atau karena saking putus asa nya, hingga dia menyetujui kesepakatan yang ditawarkan Albani padanya. Tapi di satu sisi Aileen benar-benar benci dengan Rio, apalagi setelah Rio menguras tabungannya padahal keduanya sudah putus. "Tidak, kamu beneran udah parah, Ai. Kamu setuju nikah kontrak sama dia? Asli padahal kamu sama dia belum lama kenal. Kok bisa sih kamu mau aja?" Namun semua sudah kepalang basah. Aileen telah menandatangani kesepakatan itu hitam di atas putih. "Silakan tanda tangan disini, Nona Aileen." Aileen yang awalnya ragu, tapi dia bertekad melakukan itu demi membalas kan sakit hatinya pada Rio. Akhirnya Aileen membubuhi beberapa lembar dokumen yang ada di depannya dengan tanda tangannya. "Oke, semua sudah ditandatangani secara sah di atas materai dan di saksikan oleh dua orang saksi yang saya bawa. Nona Aileen, saya sangat senang dan berterima kasih karena Nona memilih hal yang sangat tepat." Senyum tipis Albani menyisakan misteri bag

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-01-16
  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 6 : Gadis Culun itu Bisa Berubah

    "Aileen, coba buka kacamata kamu, Sayang. Tante mau lihat mata kamu tanpa benda itu," ujar Mia, dia adalah kenalan mamanya yang bekerja sebagai make up artist. Hari itu, Mia diberikan tanggung jawab untuk mengubah penampilan Aileen yang awalnya terkesan kuno, menjadi lebih modern, elegan, dan pastinya cantik. "Kacamata? Hem, kenapa harus dilepas, Tante? Aileen selama ini nggak melepas kacamata karena penglihatan tidak terlalu jelas tanpa kacamata ini," jawab Aileen agak ragu-ragu. Mia tersenyum lalu mengusap dua bahu Aileen sambil menatap pantulan di cermin. "Aileen, kulit kamu bagus, hidung kamu juga mancung, rambut kamu juga indah dan lembut. Tante rasa, kamu cantik alami. Tapi, penampilan kamu akan bertambah cantik, kalau kamu mengganti kacamata kamu itu, Sayang." "Gimana caranya, Tante?" "Mana mungkin kamu nggak tau kalau ada yang namanya lensa kontak?" "Ah, itu, Aileen tau. Tapi, Aileen nggak nyaman, Tante." "Udah pernah coba?" Aileen menggeleng. "Belum sih." "Nah,

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-02-27
  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 7 : Pernikahan Yang Diatur

    "Apa ini benar-benar terjadi?" gumam Aileen berdebar. Tibalah hari yang menegangkan bagi Aileen. Sekarang, dia sedang berdiri, menggandeng tangan ayahnya dengan jantung berdentum kuat. Tak pernah dia bayangkan, pesta megah yang sekarang sedang berlangsung, adalah pesta pernikahannya dengan seorang putra pewaris tunggal perusahaan ternama di ibukota. Albani Raditya, pria itu berdiri di seberang sana, melihat ku dengan tatapan yang tidak terlalu jelas, apakah dia datar, muram, atau malah terkejut. Ternyata itik buruk rupa bisa berubah menjadi angsa yang sangat cantik. Aileen belum pernah berdandan sampai sedetail ini. Dia juga tak berencana untuk menikah dengan gaya yang mewah, terkesan sensual dengan pakaian pengantin yang sekarang sedang di kenakannya. Ingatan itu pernah menjadi hal terindah bagi Aileen. "Ai, kamu kalau nikah nanti sama aku. Janji, ya. Kamu nggak perlu dandan yang terlalu berlebihan. Cukup tunjukkan kamu cantik alami, seperti sekarang." Aileen hanya tersenyu

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-01
  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 8 : Pria Yang Tak Layak

    "Kalian berdua resmi sebagai suami istri." "Benarkah," desah Aileen pelan. "Senyumlah." Albani memegang tangan Aileen. Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap Albani. Begitu akad nikah selesai dilaksanakan. Meski dengan perasaan bercampur aduk, antara cemas, takut, dan tidak dapat dideskripsikan oleh Aileen. Dia sudah resmi dan sah menjadi istri seorang Albani Raditya. Kini Aileen terngiang perkataan Albani barusan, ini tentang balas dendam. "Kau benar Mas Al." "Hem?" "Aku harus balas dendam, kan." Albani menganggukkan kepala. "Ah, tepat." "Silakan untuk pengantin pria diperbolehkan jika ingin mencium pengantin wanita." Ucapan pembawa acara itu membuat Aileen berdegup gugup. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah Albani akan menciumnya sungguhan di depan orang-orang yang jumlahnya sangat banyak itu. Tapi tadi Albani bilang dia tidak boleh menolak, malah menyuruhnya melakukan improvisasi. Albani tersenyum penuh arti, menatap Aileen sembari mengelus punggung tanga

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-01
  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 9 : Malam Pertama

    Diambilnya rokok dari dalam dasbor mobil, lalu Rio keluar untuk menyalakan api. Lenka mengusap wajah, tak mengerti dengan kemarahan pacarnya. "Dia kenapa sih? Padahal, dia sendiri yang bilang, dia nggak betah punya pacar yang benar-benar norak, dan nggak menggairahkan? Kenapa sekarang dia mendadak begitu? Atau jangan-jangan, dia beneran terpukau karena mantannya itu mulai merubah penampilannya?" Lenka mengatakan itu sembari menatap pantulan dirinya dari kaca mobil. "Tapi, dia sama sekali bukan tandingan ku." Rio masih menenangkan diri dengan sebatang rokok di sela telunjuk dan jari tengahnya. Sambil mengepul kan asap ke udara, berusaha untuk bisa menghilangkan hawa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya kala terbayang bibir merah Aileen, yang ternyata sangat sexy dengan polesan gincu berwarna merah muda tadi. "Fuck!!" "Rio, kamu sampai kapan merokok? Kita pulang, yuk. Sepertinya kamu harus mengademkan pikiran kamu yang mulai aneh itu. Kamu nggak perlu punya perasaan kesal don

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-01
  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 10 : Gadis Kampungan

    Memang tak akan ada yang terjadi antara Albani dan Aileen di momen bulan madu mereka. Keduanya diberikan waktu satu minggu untuk liburan di hotel dan segala fasilitas mewah. Namun karena mereka bukan menikah selayaknya pasangan suami istri yang normal. Tak ada yang terjadi, entah itu aktivitas kontak fisik dan semacamnya. Aileen sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang penulis novel. Sedangkan Albani pun sama, sibuk dengan pekerjaannya yang dia bawa dari kantor. "Aileen." "Ya, Mas?" Albani mengenakan arloji mahalnya. Dia lalu memberikan sebuah kartu berwarna hitam pada Aileen. "Ini untuk kamu." Aileen menatap benda itu, dan agak terkejut. Aileen belum pernah memiliki benda Sultan tersebut. Tapi dia cukup tau, bahwa itu adalah black card. "Black card? Untuk apa, Mas Al?" "Untuk kamu gunakan. Ini termasuk fasilitas yang saya janjikan. Kamu bisa pakai untuk membeli berbagai macam kebutuhan kamu. Mulai dari pakaian, perhiasan, sepatu, tas dan lain-lain." Aileen menggeleng, menolak

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-01

บทล่าสุด

  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 23 : Bisnis Yang Lebih Penting.

    "Rio, dari mana saja kamu tidak pulang ke apartement beberapa hari? Kamu pasti sedang sibuk main dengan perempuan, kan?" ucap Lenka. Dia seperti biasa, selalu saja mengintimidasi Rio. Tapi, kata-kata Lenka itu benar, dia memang pergi untuk mencari kesenangan dengan perempuan lain. "Kalau iya, apa itu masalah untuk kamu?" "Rio, kamu akhir-akhir ini banyak berubah. Katakan jujur, apa ini semua karena mantan pacar kamu itu?" "Hentikan, Lenka. Ini semua tidak ada urusannya dengan Aileen.." "Ya, ya, kamu menyebut namanya dengan ringan. Aku jadi curiga. Kamu masih punya rasa untuknya. Iya kan!" "Kamu tau Lenka, aku capek kita sering bertengkar." Lenka yang tadinya akan marah mendadak melemah. "Maaf." "Ini semua sama sekali nggak ada hubungannya dengan siapa pun, dengan orang lain. Ini semua tentang kamu, Lenka. Sikap kamu belakangan makin menjadi-jadi. Aku sudah bilang, aku ingin kita segera menikah. Tapi aku masih ingin menundanya. Itu kenapa, aku jadi malas berbicara deng

  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 22 : Semua Tentang Kesepakatan

    "Ada apa, Aileen?" tanya Albani begitu keluar dari toilet. "Papa mengajak main catur," ucap Aileen. "Ah, begitu." Albani lalu pergi begitu saja meninggalkan Aileen. Namun kemudian ia berbalik lagi. "Aileen." "Ya?" "Maaf karena yang tadi pagi," ucap Albani. "Oh, ya, aku tau Mas tidak sengaja." Aileen mengangguk. "Terima kasih karena sudah mau akrab dengan papa," kata Albani tiba-tiba. "Ah, itu, sudah seharusnya kan. Tidak masalah, Mas." "Tenang saja, kesepakatan tetap berjalan." Albani lalu pergi meninggalkan Aileen. "Hem, kenapa mas Al sering mengulangi kata-kata kesepakatan. Seolah dia mulai tak nyaman," ucap Aileen. "Al, kenapa lama sekali." Mario menunggu di depan meja catur. "Pa, jangan sekarang. Saya sedang tidak ingin main catur." "Sebentar saja, lagipula lihatlah istrimu saja mau menemaniku," kata Mario saat Aileen muncul. Gadis itu duduk di dekat Mario dengan tenang. Albani menghela napas. "Ya, baiklah hanya sebentar." Mario tersenyum. "Tidak apa,

  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 21 : Papa Mertua Yang Baik

    Hari ini papa Albani pulang dari luar negeri. Beliau langsung meminta makan bersama dengan Albani dan menantunya, Aileen. Suasana hening, antara Aileen dan Albani terlihat canggung. Melani agak heran, sebab belum lama dia melihat anaknya masih terlihat mesra dengan istrinya. Kecurigaan pun muncul, apakah mereka bertengkar. "Aileen, kamu kenapa?" tanya Melani. Baru saja ia memperkenalkan Aileen pada suaminya, papa mertua Aileen. "Al, kenapa kamu hanya diam saja dengan istrimu. Apa kalian bertengkar?" tanya Mario, papa Albani. "Tidak ada apa-apa." Ia tau penyebab Aileen lebih pendiam, ini pasti karena kejadian pagi tadi. "Oh iya, kenapa papa tidak hadir di pernikahan saya. Apakah papa bisa jelaskan." Albani buru-buru mengganti topiknya. Lagipula ia memang penasaran alasan papanya yang belum diungkapkan. "Maafkan Papa, Nak." Mario melihat ke arah Melani. "Papa mu sakit, belum lama papa menjalani operasi. Maaf Al, karena mama baru bisa bilang." "Apa?" "Ya, papamu sakit

  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 20 : Mimpi Basah

    Setelah mengatakan hal itu, Albani langsung membelakangi Aileen. Sementara Aileen masih diam, ia bingung harus bagaimana menanggapi ucapan Albani yang tiba-tiba membahas kontrak pernikahan lagi. "Maaf karena saya mengatakan hal-hal yang tidak penting. Selamat tidur Aileen." Aileen masih tidak menjawab. Baginya itu benar, keduanya memang harus tetap menjaga batasan. Albani masih belum bisa melupakan kebodohannya dengan wanita penghibur itu, dia akat menyesali perbuatannya, tapi sadar semua sudah terlanjur. "Tenang saja, Mas. Aku tau betul kita hanya sebatas menikah kontrak. Jadi, Mas tidak perlu merasa segan jika ingin membahasnya," kata Aileen kemudian. Albani berusaha memejamkan mata, ini harus segera dibuang. Ia tak boleh terus merasa gelisah, lagipula dia tak pernah mengatakan apa pun tentang dirinya pada Aileen bahwa ia pria baik yang tak pernah menyentuh wanita. Jadi, ia tak perlu merasa bersalah. "Ya, terima kasih, Aileen." *** "Terima kasih, Rio. Aku sangat meras

  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 19 : Pernikahan Kontrak

    Aileen melihat Albani menatapnya berbeda, seolah menegaskan, atau memberikan kode padanya tentang sesuatu. Kemudian Aileen mengusap tengkuk, sedikit mengedarkan pandangannya, tak sengaja melihat Melani yang sedang mengintip dari kejauhan. Secepatnya, Aileen segera bersikap santai, dia tertawa ringan lalu berdiri sejajar dengan Albani. Benar, Albani tahu keberadaan Melanie yang sedang menguping itu. "Maaf, karena aku belum terbiasa. Maklum, kita juga baru kenal, kan, Mas. Untung saja ada kesepakatan itu, sehingga kita bisa terus komitmen. Meski nggak mudah, karena kita harus menyesuaikan diri padahal sebelumnya kita tidak saling mengenal." Albani meletakkan tangannya ke kepala Aileen, mengusapnya lembut. "Iya, saya juga masih berusaha jadi suami yang baik untuk kamu." Lagi-lagi perasaan Aileen aneh setiap kali merasakan sentuhan Albani. Jantungnya berdebar sama seperti dia sewaktu jatuh cinta pada Rio. Ini tidak mungkin, Aileen membuang segera perasaan aneh itu. "Iya, Mas Al. Kal

  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 18 : Kesepakatan Yang Aneh

    "Ah, tapi ini mungkin menganggu privasinya." Aileen mengurungkan niatnya. "Jadi, semua pasti baik-baik saja. Mas Al adalah pekerja keras, dia pasti sedang sangat sibuk. Jika aku menelepon di saat yang tak tepat, bisa-bisa jadi berantakan." Ia lalu meletakkan ponselnya dan berusaha untuk membuang setiap kegelisahan yang menurutnya tidak berarti apa-apa. *** Jarum jam terus saja bergerak, bunyi dentingnya berhasil membuat Aileen tidak bisa tidur. Aileen juga merasa haus, dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur mengambil segelas air. Namun, saat dia baru sampai di depan pintu kamar, dia melihat Albani baru saja masuk ke dalam rumah. Sontak ia mendekat dan menegur pria itu dengan suara pelan serupa berbisik, cemas jika ada yang terbangun mengingat waktu sudah larut. Aileen berjalan menuruni anak tangga. Albani terlihat sedang duduk di kursi yang ada di ruang tamu sendirian sambil memijat kening. Sekalian saja, Aileen berinisiatif untuk membuatkan Albani minuman, sekalian dia

  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 17 : Tidak Bisa Terpuaskan

    Kemudian keduanya pergi ke sebuah privat room. Albani mengendurkan dasi sambil berjalan menuju ruangan yang disiapkan khusus untuknya. Wanita itu tampak cantik, dan pastinya seksi. Albani langsung mendorong tubuh wanita itu, begitu dia mendapatkan diri pintu telah ditutup rapat oleh wanita tadi. Tanpa membuang waktu, dia memagut kasar bibir wanita itu, membuka bajunya dan meremas tubuh indah yang terpampang setengah terbuka di depan matanya. Wanita itu sangat senang, karena pria gagah seperti Albani yang malam ini sedang menikmati tubuhnya. Tak berjeda, pagutan itu makin dalam nan basah, turun ke bagian lain dan merajai. Albani seolah sangat kehausan, hingga tak butuh waktu lama, tubuhnya sudah bangun dan siap dimanjakan. "Now!"Wanita itu berjongkok, kemudian membuka resleting celana Albani, menikmati peran kotornya dengan panas. Piawainya membuat Al tak kuasa mendesah, menggeram hebat hingga memaksa wanita itu lebih kuat menikmatinya. "Hard! Fast!"Desahan wanita itu terdengar tak

  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 16 : Menyalurkan Hasrat Yang Menggebu

    "Aileen.""Ya?""Maaf, tapi bisakah kamu berbohong jika nanti malam dia bertanya saya ada di mana?""Dia?" Aileen sedikit bingung, dia siapa yang dimaksud Albani."Ibu saya," jelas Albani. Aileen tidak mengerti mengapa Albani sangat dingin terhadap ibunya sendiri. Aileen juga tidak mengerti, kenapa dia harus berbohong. "Loh? Memangnya kenapa, Mas?""Begini, saya tadi sudah bilang bahwa malam ini saya tidak bisa pulang." "Ya, lalu?" "Tapi, ya, kamu tau sendiri bagaimana yang orang itu katakan tadi." "Memangnya kenapa Mas. Bukannya itu wajar kalau mamamu bertanya tentang itu." Albani menggeleng malas. "Saya tidak suka." "Hem," sahut Aileen kaku. "Kamu nggak keberatan, kan, kalau saya meminta bantuan kamu? katakan saja, saya sudah tidur di kamar. Karena saya yakin orang itu akan memeriksa dan menanyakan pada kamu nanti."Meski Aileen agak penasaran, sebenarnya ke mana Albani akan pergi. Tapi, dia sadar, posisinya tidak berhak bertanya tentang itu. "Oh, baiklah, Mas." Senyum Aile

  • Nikah Kontrak Demi Balas Dendam   Bab 15 : Suasana Canggung

    "Hem, bulan madu?" ucap Albani. Dia menggaruk tengkuk, agak bingung menjelaskan tentang itu. Keduanya tidak berpikir akan berbulan madu, lagipula itu sama sekali tidak perlu. Aileen hanya senyum canggung. Percakapan antara mereka mulai memanas ke arah yang lebih pribadi. Ia jadi tak nyaman, tapi bagaimana pun itu adalah pertanyaan yang wajar. seorang ibu bertanya tentang bulan madu anaknya yang baru menikah. "Ya, kenapa bingung begitu saat kutanya tentang bulan madu kalian?" tanya Melani. Ia tau, anaknya pasti tidak kepikiran ke arah sana. "Ya, menurutku itu...." Albani menggantungkan ucapannya. "Kau berkeringat, Al." Melanie menatap Albani penuh perhatian. Tanpa sadar itu membuat Albani tertekan. "Biasa saja, wajar sekali orang tua bertanya apakah anaknya dan istrinya akur dan harmonis. Bukan begitu?" "Ya, tapi tidak perlu juga sampai bertanya tentang bulan madu segala," tegas Albani. "Hanya cukup jawab kalian berbulan madu, atau belum?" Melani kian mencecar. Disitula

สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status