Aji yang sudah bersikap waspada jika para prajurit itu hendak menyerang mereka terkait pembantaian yang mereka lakukan tadi pagi di luar desa, akhirnya menurunkan tensi kewaspadaannya.
Setelah memastikan jika Jaya dan Aji serta Ratih bukan bagian dari kerajaan Suryanegara, prajurit tersebut menyarankan untuk kembali sampai kotaraja Suryanegara dibuka kembali.
"Tampaknya kita harus melewati jalur lain, Aji," kata Jaya.
"Apa ada jalur lain?"
"Ada, tapi sedikit memutar. Mungkin saat ini jalur tersebut ramai karena jalur kotaraja ditutup," jawab Jaya.
"Baiklah, lebih baik memutar dari pada menunggu jalur ini dibuka," balas Aji.
Jaya memutar arah kudanya menuju jalur lain yang harus melewati pegunungan, jika ingin menuju kotaraja kerajaan Kalingga.
Mereka pun memacu kudanya dengan cepat melewati jalur yang berbeda dari biasanya. Pada umumnya, para pedagang enggan melewati jalur memutar tersebut. Selain lebih jauh, kondisi
Setelah cukup lama berpikir, lelaki itupun akhirnya menyerah, "Tuan siapa? Benar aku Setiaji, Tuan."Jaya tersenyum kecil sebelum membalas ucapan Setiaji, "Apa kau masih ingat di mana kau ditempatkan ketika pertama kali menjadi prajurit kerajaan Kalingga?"Setiaji mengangguk."Kau ditempatkan di kediaman penasihat Jayanata, bukan?""Benar, Tuan. Bagaimana Tuan bisa tahu?" tanya Setiaji penasaran. Jelas saja dia bingung karena yang bertanya kepadanya masih terlihat muda.Jaya sadar kalau Setiaji tidak mungkin mengenalinya, karena fisik dan mukanya terlihat lebih muda dari pada ketika Setiaji ditempatkan untuk menjaga kediamannya."Amati wajahku dengan baik!" kata Jaya.Setiaji memandang wajah Jaya dengan seksama dan cukup lama. Perlahan dia mulai mengingat siapa lelaki yang berdiri di depannya itu."Tuan Jaya?" Setiaji mengernyitkan dahinya tak percaya, "Tapi kenapa wajah Tuan jauh lebih muda?"Jaya tersenyum hangat
Setiaji keluar dari kamar tersebut dan mengumpulkan semua temannya dalam satu kamar. Dia kemudian membagi tugas kepada mereka semua tanpa terkecuali. Bahkan dirinya pun akan terjun langsung mencari informasi dari teman-teman baiknya yang mungkin masih menjadi prajurit di istana.Aji kemudian masuk ke dalam kamar tempat Setiaji membagi tugas. Dia memberi mereka masing-masing dua koin emas sebagai bekal untuk mencari informasi.Setelah paham dengan tugas masing, mereka keluar dari penginapan dan berpencar ke setiap penjuru kotaraja. Mereka tanpa kenal lelah berburu informasi yang dibutuhkan Aji dan Jaya.Setiaji berjalan menuju sudut kotaraja menuju sebuah rumah yang terletak di sebuah gang yang tidak terlalu besar.Setelah sampai di depan rumah yang ditujunya, Setiaji mengambil nafas sebentar sebelum mengetuk pintunya.Dalam tiga kali ketukan, terdengar suara seorang lelaki dari dalam rumah tersebut, "Sebentar!"Seorang lelaki seumuran Setiaj
Selain itu, dia juga bercerita kalau Raja Wanajaya memiliki kegemaran baru dengan berburu wanita cantik."Tampaknya dia sudah lupa dengan umurnya yang sudah tua," pungkas Jaya mengakhiri ceritanya.Aji tersenyum kecil, lalu melirik ke arah istrinya yang berada di atas ranjang."Dari informasi yang kalian dapatkan, sedikit banyak aku sudah mempunyai kesimpulan apa yang harus kita lakukan," kata Aji.Jaya dan Setiaji saling berpandangan heran. Bagaimana mungkin Aji bisa berpikir dan membuat rencana di saat telinganya mendengar cerita dari mereka berdua."Sekarang dengarkan, setelah itu kalian beri masukan mengenai rencanaku."Aji menarik napas panjang dan kemudian memulai menjelaskan rencana dengan detil kepada keduanya."Bagaimana menurut kalian?" tanya Aji setelah memungkasi penjelasan rencananya.Jaya menggaruk kepalanya pelan. Dia heran dengan rencana Aji yang begitu detil dan matang.
Begitu melihat ke arah yang ditunjuk Baruna, beberapa orang prajurit itu langsung berlari ke arah Setiaji. Lelaki setengah baya itu berlari dengan cepat tanpa menoleh ke belakang.Dia tidak menyangka jika Baruna yang juga sahabatnya, telah menghianatinya dan melaporkan kedatangannya ke kotaraja Kalingga kepada pihak istana."Bajingan kau Baruna ... aku berjanji akan membunuhmu nanti!" umpat Setiaji dalam hati, sambil berlari dengan begitu kencang hingga menarik perhatian penduduk kotaraja.Setiaji tidak langsung menuju penginapan. Dia yang masih sedikit hapal tentang seluk beluk kotaraja, keluar masuk gang untuk menghindari kejaran para prajurit tersebut. Baginya, keselamatannya adalah nomer sekian, karena yang terpenting tentu rencana untuk melengserkan Raja Wanajaya bisa terlaksana dengan hasil sempurna."Cari dia sampai ketemu!" teriak seorang prajurit yang kehilangan jejak Setiaji.Lelaki itu bersembunyi di sebuah rumah tua yang tidak ter
"Ternyata ada bidadari di dalam kamar ini. Kenapa kita tidak pernah mengetahuinya?" tanya seorang prajurit."Paduka pasti akan sangat senang jika kita memberikan Bidadari cantik ini kepada beliau. Dan kita akan mendapatkan imbalan yang sangat besar, hahaha!" balas temannya seraya membayangkan besarnya nominal yang akan mereka dapatkan."Kau benar, kita bisa berpesta nanti, hahaha!""Cepat keluar atau kami akan memaksamu!" bentak seorang prajurit."Jangan sampai lecet atau ada bekas luka. Paduka bisa marah jika melihat Bidadari yang kulitnya begitu bening ini terluka," sahut temannya.Ratih menatap tajam keempat prajurit yang sudah merangsek memasuki kamarnya. Di saat bersamaan hatinya terus berteriak memanggil suaminya. Dia tidak mau kegadisannya terenggut oleh lelaki yang tidak dicintainya."Ayolah Bidadari cantik. Ikutlah dengan kami baik-baik. Aku jamin kau akan bahagia dengan kemewahan istana," bujuk seorang prajurit.Ratih tidak
Jaya kembali mengernyitkan dahinya. "Sembilan belas orang itu?""Bukan, tapi sahabat lama Paman Setiaji yang bernama Baruna," jawab Aji."Berarti rencana kita gagal?""Sepertinya tidak. Paman Setiaji tidak menyebut kita sama sekali ketika memancing informasi dari Baruna. Tapi sebaiknya sekarang aku membawa Ratih keluar dulu dari kotaraja untuk mengamankannya di desa terdekat," jawab Dirga."Baiklah, aku tunggu di sini saja. Aku sudah mendapat informasi tentang Putri Larasati."Aji mengangguk, "Kita bicarakan setelah aku kembali."Selepas itu, Aji mengajak Ratih keluar dari penginapan. Kondisi jalanan yang sepi dan gelap membuat mereka bisa mudah keluar dari kotaraja. Apalagi dengan tidak adanya penjaga pintu gerbang yang sudah menjadi mayat.Butuh waktu dua jam bagi mereka untuk sampai di desa terdekat. Malam yang telah larut membuat mereka kesulitan mencari informasi tempat penginapan. Aji berinisiatif mengajak Ratih beristirahat di
Setelah berada di dalam penginapan, Aji langsung menuju kamar Jaya, dan kebetulan di dalam kamar itu ada beberapa orang teman Setiaji yang sudah berkumpul. Sedang yang lainnya masih berada di luar."Bagaimana informasinya?" tanya Aji penasaran."Sebaiknya kau duduk dulu dan minum air ini," balas Jaya sambil menyodorkan gelas yang sudah diisinya dengan air.Aji meletakkan pantatnya di atas tikar pandan yang mereka gunakan sebagai alas untuk duduk di lantai yang masih berupa tanah. "Kebetulan, aku juga lagi haus."Menurut informasi yang aku dapatkan dari orang yang bisa aku percaya, Putri Larasati berangkat menuju purinya dua hari sebelum purnama," jawab Jaya. Dia kemudian mengeluarkan sebuah gulungan kulit kering dan menggelarnya di lantai."Peta ini adalah jalur menuju Gunung Merapi, dan puri milik Putri Larasati berada di sisi barat gunung tersebut," tambahnya.Aji memandang peta tersebut dengan seksama. Otaknya bekerja mencari titik
Selama dia menjadi raja kerajaan Kalingga, tidak ada kejadian yang bahkan bisa sedikit mengguncang singgasananya. Semuanya bisa dia selesaikan dengan mudah. Termasuk menguasai beberapa kerajaan yang berada di sekitar kerajaan Kalingga.Tak berapa lama, seorang gadis yang cantik dan memiliki tinggi semampai dan berbodi aduhai, memasuki ruangan tersebut.Raja Wanajaya langsung tersenyum lebar melihat putrinya yang berjalan memasuki ruang pribadinya."Ada apa Ayah memanggilku?""Putriku Larasati, kamu tahu kalau anak ayah cuma kamu seorang. Di umur ayah yang sudah tua ini, ayah juga ingin menimang cucu. Lalu kapan kau akan menikah? Setiap kali ayah menjodohkanmu dengan pangeran dari berbagai kerajaan, kau selalu menolaknya dengan alasan belum ada yang cocok," berondong Raja Wanajaya."Memang aku belum merasa ada kecocokan dengan para pangeran yang Ayah sodorkan. Sejauh ini aku pun belum menemukan lelaki yang pas dengan hatiku," jawab Putri Larasati
"Kau! Energi apa yang kau miliki itu?"Raja Iblis dibuat heran dengan kemampuan lawan yang bahkan menurutnya memiliki kekuatan lebih besar dari pada yang dibayangkannya. Selain itu, energi yang keluar dari tubuh lawan sejauh ini tidak pernah diketahuinya."Itu tadi belum seberapa, Iblis busuk! Kali ini aku akan mengeluarkan semua kemampuan yang kumiliki!" Aji yang sudah memegang pedang Mustika Naga Bumi, mengerahkan semua energi yang dimilikinya.‘Tidak mungkin!’ pekik Raja Iblis dalam hati. Dia terkejut dengan energi pemuda itu yang menjadi berlipat ganda, setelah pedang di tangannya mengeluarkan aura hijau terang."Sekarang terimalah ajalmu! Kembalilah kau ke alammu Iblis biadab!” Pedang Mustika Naga Bumi di tangan Aji memancarkan energi yang begitu besar, bahkan lebih besar dari energi yang dikeluarkan Raja Iblis di awal kemunculannya tadi.Tiba-tiba saja, suara tawa Raja Iblis terdengar menggelegar. "Hahaha ... Aku memang terkejut dengan kemampuanmu, manusia hina! Tapi kau pun ju
Setelah debu pekat yang menutupi pandangannya menghilang, Aji yang masih dalam keadaan tergeletak di tanah bisa melihat dengan jelas jika Caraka masih berdiri dengan kokoh di tempatnya berdiri. Bahkan tubuhnya tidak sedikit pun bergeser dari tempatnya semula. Pendekar yang belum genap 30 tahun tersebut merasakan nyeri yang begitu hebat di dadanya. Dia kemudian terbatuk kecil dan lalu memuntahkan darah segar dari mulutnya. ‘Kekuatannya sangat besar. Bahkan energiku saja tidak mampu untuk menggoyahkannya,’ gumam dalam hati. Tubuh Caraka kemudian melayang satu meter di atas tanah. Dia lalu bergerak maju mendekati Aji yang belum juga bangkit berdiri, "Apa kau sudah sadar betapa jauhnya perbedaan kekuatan kita berdua? Aku tahu kau belum mengeluarkan energi terkuatmu, tapi meskipun kau mengeluarkannya, itu tidak akan merubah apapun!" Caraka yang masih merasa geram dengan Aji langsung melesat tanpa terlihat seusai berbicara. Tendangan kerasnya mendarat dengan telak di perut Aji, hingga m
Rasa terkejut Aji belum selesai, tiba-tiba saja muncul bayangan hitam berbentuk cakar naga melayang di angkasa. Bayangan hitam itu menutupi matahari sehingga suasana yang semula terang menjadi redup. “Jurus apapun yang kau keluarkan tidak akan bisa mengalahkan aku!” ucap Ki Brenggolo Karang. Seusai berucap, energi yang lebih besar meluap dari tubuhnya. Secara perlahan energi tersebut semakin membuat Aji tertekan. Namun suami Ratih itu masih menunggu kesempatan untuk menjatuhkan jurus Naga Bumi Mengoyak Langit yang masih mengambang di angkasa. Dia terus menarik unsur alam yang ada di sekitar hutan tersebut untuk menambah daya hancur jurus yang hendak dikeluarkannya. Sejauh ini, Ki Brenggolo Karang belum menyadari apa yang dilakukan Aji. Dia menduga lawannya itu hanya menggunakan tenaga dalamnya untuk bertahan dari tekanan energi yang dikeluarkannya. Selain itu, redupnya sinar matahari juga menurutnya hanya karena tertutup awan tebal saja.Beberapa saat kemudian, Cakar Naga raksasa y
Aura hitam yang menyelimuti tubuh Ki Brenggolo Karang perlahan menghilang. Dia sadar jika terus menggunakannya dalam jangka panjang, yang ada tenaga dalamnya akan berkurang drastis. Murid Caraka itu juga berpikir harus bisa mengefektifkan serangannya lebih tepat lagi. Dia melihat jika lawannya itu masih menyimpan kekuatannya yang sebenarnya. Itu terlihat dari kondisinya yang masih terlihat bugar meski sudah terkena serangannya.Melihat aura hitam di tubuh Ki Brenggolo Karang menghilang, Aji tersenyum lebar. Kuat dugaan energi lawan sudah berkurang cukup signifikan. Memaksa menggunakan kabut beracun dalam jangka panjang jelas menguras energinya.Di antara reruntuhan pepohonan dan kepulan debu, pertarungan sengit masih terus terjadi di antara kedua pendekar yang tidak henti bertukar serangan. Beberapa pohon kembali bertumbangan terkena dampak pertarungan mereka berdua.Seperti terjadi kesepakatan, mereka berdua melompat mundur mengambil jarak. Nafas mereka tersengal-sengal terasa berat
Belum juga sempat menyeimbangkan tubuhnya, serangan kembali muncul tanpa terlihat oleh mata Aji. Dia hanya merasakan energi besar saja yang bergerak menyerangnya. Aji kembali bergerak menghindar. Dia melompat menyamping dua langkah. Namun tiba-tiba sebuah pukulan menghantam punggungnya dengan begitu keras, hingga membuatnya terjungkal dan bergulingan di tanah berulang kali. Batuk kecil terdengar dari mulut Aji. Sesaat kemudian, darah segar meleleh keluar dari sudut bibirnya. Sambil bangkit berdiri, dia mengusap darah tersebut dengan punggung tangannya. Belum sempat pemuda itu berdiri tegak, kembali sebuah serangan yang tidak bisa dilihat menghajar dadanya dengan telak. Beruntung Aji masih sempat menahannya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada ketika merasakan energi besar yang bergerak ke arahnya. Meskipun bisa melindungi dadanya, tapi tak urung tubuh Aji harus kembali terlempar hampir 12 langkah ke belakang hingga membentur sebuah batang pohon.Batuk kecil kembali te
Sementara itu di sekitar lembah, terdapat sebuah gubuk kecil yang berdiri di dekat sungai kecil. Air di sungai itu berasal dari air terjun yang berada tidak jauh dari gubuk itu berdiri. Di dalam gubuk, Sanjaya terlihat duduk sendirian di sudut ruangan dengan wajah pucat pasi. Dia menunggu kedatangan Ki Brenggolo Karang yang menemui Caraka sejak dia baru datang di gubuk tersebut. Menjelang tengah malam, Ki Brenggolo Karang akhirnya kembali ke gubuknya yang biasa digunakannya beristirahat sehari-hari. Sanjaya yang tertidur sambil memeluk lutut, terbangun ketika terdengar suara pintu dibuka. “Ki, akhirnya kau kembali,” ucap Sanjaya pelan.“Kenapa kau kemari tanpa membawa gadis, Sanjaya? Apa kau tidak tahu jika proses yang dilakukan Guru Caraka sudah mendekati akhir?” tanya Ki Brenggolo Karang seraya menatap tajam Sanjaya yang menunduk ketakutan.“Maaf, Ki, sebenarnya tiga gadis tambahan yang dibutuhkan sudah tersedia, tapi sebelum aku membawanya kemari, ternyata anak buahku telah menc
Tubuh tinggi besar itupun terguling hingga menabrak dinding. Suara tubuhnya yang jatuh terdengar cukup keras. Aji berjalan mendekati lelaki itu dan berjongkok di sampingnya. ‘Hmmmm … ternyata pingsan,”’ batinnya. Aji bangkit berdiri untuk melihat kondisi istrinya yang masih berada di dalam kamar. Setelah Aji mengalirkan energinya ke dalam tubuh Ratih, wajah wanita cantik yang pucat itupun kembali segar seperti semula. “Kang, kenapa aku bisa ada di tempat ini?” tanya Ratih. “Panjang ceritanya, nanti saja kuceritakan. Sekarang kita selamatkan dulu gadis yang lain,” kata Aji. Dilihatnya tali tambang di atas sebuah lemari, kemudian diambilnya. ***Tiga orang gadis sudah dikeluarkan dari kamar, salah satunya adalah anak kepala desa Sudirjo. Sedang lelaki bertubuh besar terikat erat di sebuah kursi di ruang tamu. Setelah lelaki itu sadar, Aji pun melakukan interogasi. Dari pengakuannya, lelaki bernama Sanjaya itu diperintah oleh seorang lelaki tua yang merupakan bawahan dari Caraka, s
“Kalian kira aku sedang melucu?” Aji menggeleng dengan satu sudut bibir terangkat naik, “Tapi tidak apa-apa jika kalian berpikir seperti itu. Kalian nanti bisa tertawa sepuasanya setelah kucabut nyawa satu-satunya yang kalian miliki!” Hahahahaha! Semakin keraslah tawa 8 orang penjaga itu. Bahkan tawa mereka sampai terdengar masuk ke dalam dan memantik keingintahuan penjaga yang berada di dalam. Pintu gerbang pun terbuka, beberapa orang tampak keluar menemui 8 penjaga gerbang. “Kenapa kalian tertawa begitu keras, apa ada yang lucu?” tanya seorang penjaga yang baru saja keluar. “Lihatlah dia, katanya dia akan memberi hukuman kepada kita, bukankah itu sesuatu yang lucu? Apa hanya karena dia membawa pedang terus kita harus takut? Hahahaha!” “Kalian pasti akan ketakutan hingga meminta untuk tidak dibunuh!” sela Aji, kemudian bergerak begitu cepat hingga tiba-tiba sudah berada di depan penjaga yang sudah meremehkannya. Jari tangan Aji langsung mencengkeram leher orang itu hingga kesu
Jendela kamar pun terbuka. Dua orang langsung melompat masuk ke dalam. Suasana kamar yang gelap tidak menyulitkan mereka berdua untuk menemukan ranjang yang digunakan Ratih tidur. Perlahan tubuh Ratih diangkat dan dibawa keluar. Satu orang yang berada di luar menerima tubuh wanita cantik itu. Mereka tidak memeriksa terlebih dahulu, karena merasa sudah mendapatkan targetnya. Dari atas atap, Aji merasa heran karena tidak ada perlawanan sedikitpun dari istrinya. Padahal seharusnya jika dalam posisi tersebut, Ratih pasti terbangun. Aji menilai ketiga orang tersebut menggunakan bius untuk membuat istrinya tidak sadar. Ketiga orang itu kemudian pergi sambil membawa Ratih. Suasana yang sepi membuat aksi mereka berjalan lancar tanpa ada halangan hingga keluar desa. Aji terus mengikuti dari belakang, dia menjaga jarak agar tidak diketahui ketiga orang yang membawa istrinya hingga masuk ke dalam hutan. Hampir tiga jam berjalan di dalam hutan, ketiga orang itu akhirnya sampai di bibir hutan,