Pov Bayu"Maaf atas kejadian ini." Ku keluarkan beberapa lembar uang lalu memberikan pada pria gemuk pemilik kedai icecream yang sejak tadi mengoceh dan merendahkan Nila.Aku benar-benar geram mendengarnya merendahkan orang lain tanpa berpikir imbasnya, entah kenapa aku begitu kesal saat ia mengatai Nila dengan sebutan ja*ang, kata itu benar-benar tidak pantas untuk di ucapan, apa lagi di depan banyak orang. "Ini untuk ganti rugi waktu kerja Nila yang tertunda karena anak saya. "Terlihat pria gemuk itu tersenyum sinis padaku dan memandangku dari kepala sampai ujung kaki"katakan saja, pada ja*ang itu, jika besok aku tidak membutuhkan karyawan yang bisanya melayani tamu di ranjang. "Hatiku semakin panas saat mendengar pria itu kian berucap tidak sepantasnya pada Nila. "Bisakah anda berkata sedikit bersopan santun Paman, anda sadar diri anda ini sudah dewasa, sudah sepatutnya anda memberikan contoh yang baik dan berlaku sopan. " Kecam ku memberi peringatan pada pemilik kedai itu. "
(Pov author) Bayu di dalam kamar tamu, hanya mampu menangis dalam ketidak percayaannya, setelah kejadian ini dan pertemuannya dengan Nila. "Hiks … apa lagi sayang ... Ini apa lagi. Hiks ... Kenapa kau memberikan kebahagiaan seperti ini, tapi dia bukan dirimu, hiks.. Hiks... " Isak Bayu mengandu dalam pilu sembari m tangis tergugu. "Aku hanya ingin kau ... Bukan orang lain yang mirip dengan mu. Hiks … aku ingin kau sayang hanya kau. Hiks .... " Isak Bayu menangisi keadaan yang tidak ia mengerti dan keadaan yang tidak ia pahami. Bagaimana dirinya bisa bertemu dengan wanita yang benar-benar memiliki kemiripan seperti mendiang istrinya, bahkan dari sifat dan kasih sayang mereka terlihat begitu sama. "Tuhan … tolong aku, aku hanya ingin istriku. " Gumam Bayu dalam rasa resah hati dan kegundahan yang kini meliputi dirinya, setelah pertemuannya dengan Nila. *********Di tempat lain, Nila memandangi jejeran foto-foto yang tertata rapi di dinding kamar saat ia memenangkan dan menemani Nan
(Pov Bayu) Saat makan makan Nila masih berada di rumah ini, terpaksa karena Nana dan Hafiz hanya tenang bersamanya, bahkan saat Nila makan malam Hafiz meraung menangis saat di jaga boleh babysitter nya. Nana tidak ubahnya seperti Hafiz, ia selalu rewel dan sangat mudah merajuk jika tidak bersama Nila, bahkan bi Ijah yang selalu bersamanya saja, ia tolak demi bersama Nila. Aku benar-benar bingung dengan kejadian ini, kenapa anak-anakku begitu nyaman bersama Nila, meski ku akui ketelatenan Nila menjaga mereka cukup baik selain kemiripannya dengan mendiang istriku. Saat ini aku masih dilanda rasa tidak percaya, kenapa didunia ini ada wajah yang begitu sama, bahkan mereka sangat mirip dan sulit dibedakan, padahal aku tahu Nia tidak memiliki keluarga, ia dibesarkan di sebuah panti asuhan sejak kecil. "Tidak mau, Nana mau sama Mama. Titik. " Tolak Nana dengan kencang. Aku semakin pusing melihatnya karena sejak tadi Nana sangat sulit di atur dan sangat susah di tenangkan jika tidak ber
( Pov Bayu ) Pagi-pagi Nana sudah meraung menangis bersama dengan Hafiz, mereka berdua seperti kompak mencari Nila yang mereka anggap sosok ibu mereka. Kakiku setengah berlari menghampiri mereka yang tengah menangis histeris mencari keberadaan Nila, karena Nila belum datang mengingat ini memang terlalu pagi. "Sayang ssstt … ini Papa nakal jangan menangis. " Bujuk ku, karena babysitter tidak mampu menenangkan mereka, bahkan tangisan Nana semakin menjadi. "Hiks ... Mama mana pa, hiks ... Mama. Hiks .... " Raung Nana, Hafiz tidak kalah kencang menangis hingga telingaku rasanya berdengung. "Sabar sayang, Mama sebentar lagi datang. " Seraya ku raih Hafiz lalu kugendong dia. Sementara satu tanganku menenangkan Nana yang masih menangis tanpa henti. "Nana mau Mama … pokoknya Nana mau Mama, hiks … hiks .…" Raung Nana, hatiku sangat nyeri saat melihat pemandangan ini, di mana aku tidak bisa berbuat banyak untuk menenangkan mereka, saat mereka merindukan sosok sang ibu, tak terasa air mata
( Pov author) Nila melahap makan siangnya dengan terburu-buru, karena Hafiz begitu rewel dan selalu menangis jika tidak berada di pelukannya. " Pelan-pelan nak Nila. "Tegur bisa Ijah agar Nila tidak makan dengan tergesa-gesa. Nila sesekali melirik Hafiz yang tengah menangis di dalam gendongan babysitter yang sudah 3 bulan bekerja, tapi tetap saja bayi mungil itu tidak tenang dan tidak bisa di bujuk. " Tuhan, apa Hafiz selalu seperti ini bibi? "Nila dengan terburu-buru menelan nasinya setelah bertanya. " Yah, tapi setelah kau datang. Hafiz semakin menjadi. "Keluh Ijah jujur, karena setelah kedatangan Nila kemarin, kedua anak yang selama ini mereka rawat hanya tenang saat bersama Nila. " Tapi kenapa bibi? "Heran Nila. Bisa Ijah menghela nafas dalam sembari menatap Nila " Mungkin karena wajahmu begitu mirip dengan mama mereka. "Ijah tidak memungkiri jika Nila benar-benar mirip dengan Nia, mendiang ibu Nana dan Hafiz. "Ooohh Tuhan anak ini." Keluh babysitter kelelahan lalu duduk b
Nila terperangah setelah mobil Bayu berhenti tepat di pekarangan rumah megah. Lagi lagi dirinya di buat bingung dengan keadaannya, karena kini ia bisa berada di sana bahkan bekerja pada orang yang baru ia kenal. "Ayo, ma. " Ajak Nana setelah ia turun dari pangkuan Nila sembari menariknya, tapi Nila justru tidak menggubris, ia tetap duduk di tempatnya dengan berbagai macam pikiran dan pandangannya. Padahal bi Ijah dan babysitter sudah turun lebih dulu membawa barang-barang masuk ke dalam rumah, sehingga Bayu yang melihat Nila hanya mampu menggeleng. Karena wanita berwajah mirip seperti mending istrinya itu terlihat kebingungan sesampainya di sana. "Mama." Panggil Nana lagi sembari menggoyang tangan Nila, agar ia mendengarkan panggilannya. "I_iya sayang. Ada apa. "Tergagap-gagap Nila hingga Bayu melihat tingkahnya hanya bisa menghela nafas lalu memilih meninggalkan mereka di sana. "Oya, masuk ma." Nila semakin salah tingkah sendiri karena seperti orang bodoh setelah berada di sana.
Keributan dari kamar sebelah membuat tidur Bayu terganggu, tangisan Hafiz semakin terdengar keras dari kamar sebelah, karena kamar Bayu hanya bersebelahan dengan kamar Nana dan Hafiz. "Tuhan, nak Nila, kenapa Hafiz bisa seperti ini. " Cemas bi Ijah sembari mencoba memisahkan Hafiz dari Nila, tapi Ijah kembali gagal saat mendengar tangisan bayi kecil itu, tidak tega melihatnya Nila memilih membiarkan Hafiz tetap seperti semula, yaitu berada di dalam pelukannya karena Hafiz seolah-olah mencari asi pada dirinya. "Tapi nak, jika terus seperti itu, Hafiz pasti melakukan hal-hal yang lebih aneh dari ini. " Sembari Ijah mencoba meraih Hafiz yang ada di pelukan Nila, karena menarik-narik baju tidur yang Nila kenakan hingga tidak beraturan. "Aku tidak tega bibi. " Iba Nila sembari membiarkan Hafiz yang ada di pelukannya. "Tapi nak. " Ijah memperhatikan tingkah aktif Hafiz dengan pintar menarik baju tidur bagian depan Nila hingga terjadilah hal yang Ijah khawatirkan. "Akhh! " Pekik Nila te
Nana duduk cantik di samping Bayu yang tengah menyantap sarapannya. Bayu sesekali melirik wajah polos Nana, karena gadis kecil itu seperti tengah memikirkan sesuatu. "Ada apa sayang? " Penasaran Bayu, Nana menatapnya sekilas lalu menggeleng kecil. "Nana yakin? " Ulang Bayu. Nana dengan cepat mengangguk menyakinkan meski kejadian tadi benar-benar membuat dirinya terkejut. "Baiklah." Menyerah Bayu lalu kembali melanjutkan sarapannya, sembari sesekali menatap keseriusan Nana saat sarapan, karena wajah polosnya terlihat sangat menggemaskan saat berpikir. "Nana harus ingat, ya. Saat pulang Nana harus menunggu jemputan dari rumah, jangan pergi kemana-mana atau pulang bersama orang lain apalagi yang tidak dikenal, sayang. " Nana menatap wajah serius sang ayah, karena selama tinggal bersama sang ayah begitu protektif padanya, bahkan ia sudah sangat hafal dengan kalimat tersebut, karena setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah Bayu selalu mengingatkan dirinya akan hal itu. "Oya, dan satu
Nila pov) Cukup lama aku aku mencoba memejamkan mata, tapi mata ini enggan untuk terlelap, jangankan untuk terlelap, rasa kantuk pun enggan hinggap padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi mata ini tetap tidak mau terpejam dan tidur setelah kejadian tadi. Aahh… dia memang selalu membuat ku ingin gila. Batin ku bersua jika mengingat semua kejadian demi kejadian bersangkutan dengannya. Kriit!Pintu terbuka, orang yang aku pikirkan sejak tadi kini masuk dan menghampiri ku. "Kenapa kau tidak tidur? " tegurnya basa basi. Ku tatap mata hitamnya dengan lekat, apa dia tidak sedang mengigau? Kenapa malam-malam seperti ini kemari. "Kau sendiri? Kenapa kesini? " balas ku cuek, aku sengaja bersikap seperti ini karena aku tidak ingin dia menganggapku mudah terpengaruh, mengingat dia tahu siapa aku ini, dan aku juga memang ingin berubah menjadi yang lebih baik demi ibuku. "Apa salahnya? " balasannya merasa tidak bersalah. "Bay, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan? " tany
(Pov Bayu) Aku semakin merasa serbasalah, karena setelah kejadian tadi siang, Nila tidak bertegur sapa dengan ku, jangankan bertegur sapa, saat makan malam bersama Nila tidak adanya percakapan di antara mereka begitu juga Nana, gadisku seolah-olah sengaja mendiamkan aku setelah kejadian tadi. Setelah makan malam mereka berdua berlalu begitu saja kembali ke kamar, aku semakin bingung harus melakukan apa, karena aku tahu semua ini adalah kesalahan ku, semua berawal dari diriku. Andaikan aku tidak membawa masuk Mona ke dalam keluarga ini, semuanya tidak akan pernah terjadi. "Hahhh…." Kuhela nafas dalam sembari menatap langit langit ruang makan setelah aku sendirian di sini. "Lebih baik, bapak susul nak Nila. "Aku menoleh di mana bi Ijah berdiri di sampingku, karena ia tengah membereskan makan malam yang sudah usai. "Saya takut bi, " lirih ku jujur, karena aku memang sedikit takut saat melihat reaksi Nila saat membalas perlakuan Mona. "Saya yakin Tuan, nak Nila tidak seperti itu, d
Hari semakin sore, Nana mulai merasa jenuh di kamar, karena ia hanya menghabiskan waktu untuk menggambar dan belajar bersama Nila. "Ma… Nana bosan. "Nila yang tengah mengganti pokok Hafiz menatap wajah memelas Nana lalu tersenyum gemas. "Oooh… bosan? "Nana mengangguk membenarkan lalu menutup buku gambarnya. "Baiklah, sekarang Nana turun ke bawah saja, ya. Nanti Mama susul, adik Hafiz lapar, setelah urusan Mama selesai, Mama akan susul Nana di bawah. "Nana mengangguk lalu dengan senang memungut satu boneka kesayangannya dan membawanya lebih dulu ke lantai bawah. Dengan langkah riang Nana menuruni tangga, sembari bernyanyi-nyanyi, karena memang jam seperti ini semua pembantu yang bekerja di rumah itu sedang sibuk melakukan tugas mereka, Nana melangkah dengan hati-hati hingga ia sampai di lantai bawah dan disana tatapannya tidak sengaja tertuju pada seorang wanita yang selama ini pergi dari rumah, wanita itu kini tengah menyeret koper besar di tangannya dengan omelan dan ocehan se
Suara riuh di ruang makan pasti terjadi di pagi hari, saat Nana menolak babysitter menyuapi nya sarapan, karena Nana hanya ingin makan satupun sarapan bersama Nila, wanita yang mirip dengan ibunya. Tapi karena kesibukan Nila mengurus Hafiz, dengan terpaksa ia mengabaikan Nana terlebih dahulu, karena Hafiz pagi ini juga tidak mau bersama babysitter. "Bersama, nenek saja, ya. Bukan kah Nana harus segera ke sekolah. " Bujuk bi Ijah mengambil alih piring sarapan Nana dari babysitter. "Tidak mau, Nana maunya sama, mama… . "Rengek Nana memalas,karena Nila masih di kamar belum bergabung dengan mereka di meja makan sarapan. " Tapi, sayang. Mama sedang menjaga adik Hafiz, Nana sama nenek dulu, ya. "Nana menggeleng cepat menolak, bi Ijah menghela nafas dalam karena selama ini memang Nana dan Hafiz sangat sulit dikendalikan jika tidak bersama Nila. "Pokoknya, Nana mau mama, Nana mau makan bersama Mama saja, titik. " Sentak Nana sembari menghentakkan kakinya ke lantai. Bayu yang baru bergab
Sementara di kamar lain Bayu menangis sejadi-jadinya saat ingatannya terus tertuju pada Nia, karena rasa bersalah dan sesal semakin bertambah setelah kejadian tadi, ia kembali melakukan pengkhianatan untuk kesekian kalinya pada Nia istrinya, padahal Bayu telah berjanji pada dirinya sendiri, ia akan berubah dan memulainya dari awal agar menjadi diri dan pribadi yang lebih baik lagi untuk anak-anak mereka, meski sosok yang harus dirinya perjuangkan tidak lagi bersamanya, tapi Bayu sudah bertekad untuk terus menembus semua dengan caranya selalu setia pada Nia. Akan tetapi malam ini ia kembali mengulang kesalahan yang sama, kesalahan yang seharusnya tidak ia lakukan, yang lebih parahnya lagi dirinya tidak bisa membedakan Nia dan orang lain. "Hiks… Maaf sayang, hiks... Maafkan aku. Hiks... " Isak Bayu dalam penyesalan terdalamnya sembari meringkuk di atas tempat tidur. "Aku, hiks… tidak mengerti, hiks… apa yang sebenarnya terjadi. Hiks... Dan rencana apa ini, hiks... Kenapa dia begitu mi
Minggu-minggu berganti begitu cepat, Nila sangat menikmati hari-harinya setelah bekerja menjadi babysitter Nana dan Hafiz, bahkan ia selalu sukses menggoda Bayu saat mereka sedang berdua, meski sejujurnya Nila melakukan semua itu tidak lebih agar bisa membuat perasaan bersalah Bayu sedikit berkurang, karena dari iris mata duda tampan itu setiap memandangnya menyiratkan penyesalan yang mendalam dan kesedihan. Itu sebabnya Nila selalu melancarkan aksinya menggoda majikannya itu, meski ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, jika dirinya cukup tertarik dengan duda beranak dua itu.Akan tetapi Nila memiliki batasan, dirinya sadar jika semua itu tabu untuknya terus melangkah, itu sebabnya Nila memilih menikmati keadaan yang tercipta setiap kali ia menggoda Bayu. Seperti malam ini, Bayu menemani Nana sebentar di kamar mereka, karena Nila tengah menyusui Hafiz, Bayu tidak ingin membuat membuat Nila kelelahan menjaga kedua anaknya, itu sebabnya ia turun tangan langsung mengurus Nana sa
( Pov author) Nila melahap makan siangnya dengan terburu-buru, karena Hafiz begitu rewel dan selalu menangis jika tidak berada di pelukannya. " Pelan-pelan nak Nila. "Tegur bisa Ijah agar Nila tidak makan dengan tergesa-gesa. Nila sesekali melirik Hafiz yang tengah menangis di dalam gendongan babysitter yang sudah 3 bulan bekerja, tapi tetap saja bayi mungil itu tidak tenang dan tidak bisa di bujuk. " Tuhan, apa Hafiz selalu seperti ini bibi? "Nila dengan terburu-buru menelan nasinya setelah bertanya. " Yah, tapi setelah kau datang. Hafiz semakin menjadi. "Keluh Ijah jujur, karena setelah kedatangan Nila kemarin, kedua anak yang selama ini mereka rawat hanya tenang saat bersama Nila. " Tapi kenapa bibi? "Heran Nila. Bisa Ijah menghela nafas dalam sembari menatap Nila " Mungkin karena wajahmu begitu mirip dengan mama mereka. "Ijah tidak memungkiri jika Nila benar-benar mirip dengan Nia, mendiang ibu Nana dan Hafiz. "Ooohh Tuhan anak ini." Keluh babysitter kelelahan lalu duduk b
Bayu membuka pintu kamar kedua anaknya tanpa permisi, hingga dirinya sendiri terkejut begitu juga dengan Nila, karena Nila baru saja keluar dari kamar mandi, bahkan ia hanya menggunakan handuk sebagai penutup tubuhnya. "Bisa kah kau masuk mengetuk pintu dulu. " Ketus Nila, meski ia sudah terbiasa berdekatan desa laki-laki tidak ia kenal, tapi jika harus dikagetkan seperti ini ia merasa tidak nyaman. Bayu menelan salivanya berat, saat tatapannya tidak sengaja berserobok dengan Nila, karena pagi ini wanita yang mirip dengan istrinya itu sangat berbeda dan sangat cantik. "Errr… i_itu_ ma_af Nila, saya hanya ingin memastikan keadaanmu. Ap_apa kamu baik-baik saja?"Nila menaikan satu alisnya heran, karena Bayu terlihat gugup dan berbicara tergagap-gagap. "Aku baik-baik saja kan pak tampan? Kau terlihat tidak sehat, ada apa? " Penasaran Nila sembari berjalan mendekati Bayu, karena hanya diam tidak bisa bergerak, ia seperti terhipnotis saat menatapnya. "Ba_baguslah, saya lega mendengarn
Nana duduk cantik di samping Bayu yang tengah menyantap sarapannya. Bayu sesekali melirik wajah polos Nana, karena gadis kecil itu seperti tengah memikirkan sesuatu. "Ada apa sayang? " Penasaran Bayu, Nana menatapnya sekilas lalu menggeleng kecil. "Nana yakin? " Ulang Bayu. Nana dengan cepat mengangguk menyakinkan meski kejadian tadi benar-benar membuat dirinya terkejut. "Baiklah." Menyerah Bayu lalu kembali melanjutkan sarapannya, sembari sesekali menatap keseriusan Nana saat sarapan, karena wajah polosnya terlihat sangat menggemaskan saat berpikir. "Nana harus ingat, ya. Saat pulang Nana harus menunggu jemputan dari rumah, jangan pergi kemana-mana atau pulang bersama orang lain apalagi yang tidak dikenal, sayang. " Nana menatap wajah serius sang ayah, karena selama tinggal bersama sang ayah begitu protektif padanya, bahkan ia sudah sangat hafal dengan kalimat tersebut, karena setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah Bayu selalu mengingatkan dirinya akan hal itu. "Oya, dan satu