Home / Romansa / Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder / Mencoba Merebut Kepercayaan

Share

Mencoba Merebut Kepercayaan

Author: NHOVIE EN
last update Last Updated: 2024-12-02 16:46:55

Pagi itu, Bastian melangkah cepat menuju ruang rapat setelah tiba di kantornya. Meskipun terlihat tenang di luar, pikirannya terus bekerja mencari celah untuk mengungkap siapa dalang di balik masalah ini. Farel sudah menunggu di ruang rapat bersama beberapa kepala divisi, tim IT, dan Danang yang terlihat gelisah di sudut ruangan.

“Oke, semua sudah di sini,” Bastian membuka rapat dengan suara tegas. “Kita langsung ke intinya. Saya ingin setiap kepala divisi menjelaskan langkah-langkah apa yang sudah diambil sejak masalah ini muncul.”

Kepala IT, Anton, memulai penjelasan. “Kami sudah melakukan audit sistem, Pak Bastian. Data yang bocor berasal dari server utama, tapi aksesnya menggunakan akun milik Danang. Log menunjukkan aktivitas mencurigakan pada pukul satu dini hari sekitar dua hari yang lalu.”

Bastian mengalihkan pandangannya ke Danang. “Danang, saya ingin mendengar penjelasanmu. Apa kamu pernah login atau memberikan akses ke akunmu?”

Danang menggeleng cepat, suaranya terdengar gug
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (13)
goodnovel comment avatar
Fatimah Azzahra
bastian nyariin maya apa udah feeling ada yg g beres dg maya?
goodnovel comment avatar
Fatimah Azzahra
syukur deh masih dapat tenggat waktu,tapi kekhawatiran klien nya emang g salah sih namanya bisnis besar,klo sekali bisa bocor keluar pasti takut bakal terulang tapi yakin deh setelah kejadian ini,bastian g bakal teledor lagi
goodnovel comment avatar
Wiediajheng
alhamdulillah sedikit clear ya walau belom tuntas... semoga dalam 2 minggu ini terkuak siapa dalang dari pencuri data ini dan aku yakin pasti maya kenapa juga dia tiba2 cuti
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Kedamaian Yang Semu?

    Dua minggu berlalu dengan intensitas tinggi di kantor Bastian. Tim IT bekerja tanpa kenal lelah, dipimpin oleh Farel yang memastikan semua langkah diambil dengan cermat. Mereka berhasil melacak jejak digital penyusup, memulihkan data yang hilang, dan memperkuat sistem keamanan. Hari ini adalah hari yang sangat penting, laporan akhir akan disampaikan ke PT. Satria Jaya, dan Bastian merasa yakin bahwa semua telah terkendali.Di ruang rapat utama, Bastian duduk bersama Farel, kepala IT, dan beberapa staf senior. Layar besar di depan mereka menunjukkan hasil analisis terakhir. Kepala IT membuka presentasi dengan nada serius.“Pak Bastian, kami berhasil mengidentifikasi pelaku di balik serangan ini. Berdasarkan jejak digital yang tertinggal, pelaku adalah orang dalam.”Ruangan menjadi sunyi seketika. Bastian mengerutkan kening. “Orang dalam? Siapa?”Kepala IT melanjutkan. “Seseorang dengan akses tingkat tinggi ke sistem kami. Berdasarkan audit log, kami menemukan bahwa pelaku adalah—bu May

    Last Updated : 2024-12-03
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Meminta Perlindungan, Lagi

    Maya berdiri di depan pintu rumah orang tuanya dengan wajah penuh keputusasaan. Tangisannya belum reda sejak kabar buruk itu menghantamnya dua hari lalu. Ia tak menyangka Bastian akan setega ini, melibatkan hukum dalam masalah mereka.“Mami... Papi...” lirih Maya dengan suara bergetar setelah pintu dibuka.Ami—ibunya—memandang putrinya dengan raut khawatir, sementara Gery—ayah Maya—mengerutkan dahi. “Ada apa lagi, Maya? Kenapa kamu datang ke sini dengan wajah seperti ini?”Tanpa menjawab, Maya langsung merangkul Ami dan menangis terisak. Ami membawa putrinya masuk ke ruang tamu, sementara Gery hanya berdiri diam, memperhatikan sikap Maya dengan kecurigaan.“Maya, tenang dulu. Ceritakan semuanya dengan jelas. Apa yang terjadi?” tanya Ami lembut, meski nada suaranya terdengar waspada.Maya duduk di sofa, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. “Bastian... dia melaporkan aku ke polisi

    Last Updated : 2024-12-04
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Drama Maya Yang Terencana

    Maya duduk di kamarnya dengan tatapan kosong, memandangi layar ponsel yang menunjukkan pesan dari ibunya. Pesan itu mengabarkan bahwa Bastian tetap bersikeras melanjutkan laporan ke polisi. Ia menggigit bibirnya dengan geram, lalu mulai menyusun rencana manipulatif yang menurutnya adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirinya dari kehancuran.Sore ini, Maya memanggil kedua orang tuanya ke kamarnya. Ia berbicara dengan nada penuh keputusasaan.“Mami, Papi, aku nggak tahu lagi harus gimana. Kalau Bastian nggak mau mencabut laporan itu, hidupku selesai. Aku nggak bisa masuk penjara, aku nggak bisa kehilangan semuanya!” ujar Maya dengan suara bergetar, meski air mata yang mengalir di pipinya adalah hasil dari keahlian aktingnya.Gery dan Ami saling bertatapan. Ami mencoba menenangkan putrinya. “Maya, tenang. Kita sudah mencoba bicara dengan Bastian, tapi dia keras kepala. Kalau kamu benar-benar salah, kamu harus siap menerima konsekuensinya.

    Last Updated : 2024-12-05
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Merindukan Bintang

    Sore itu, suasana taman belakang rumah Bastian terasa tenang. Hembusan angin membawa aroma segar dari dedaunan yang berembun setelah hujan pagi tadi. Bastian duduk di kursi santai, menikmati segelas anggur merah yang memantulkan cahaya senja. Ia mencoba menenangkan pikirannya setelah beberapa hari yang penuh tekanan.Ketika ia sedang menikmati waktu sendirinya, suara pintu pagar terdengar dari kejauhan. Seorang ART datang melapor bahwa Nora dan Prakas, kedua orang tuanya, baru saja tiba. Bastian hanya mengangguk kecil, menandakan persetujuannya untuk menemui mereka.Tak lama, kedua orang tua Bastian sudah berada di taman belakang, duduk di kursi berhadapan dengannya. ART datang membawa teh dan kudapan, meletakkannya di meja kecil di antara mereka sebelum beranjak pergi.“Papi, Mami, ada yang bisa kubantu?” tanya Bastian dengan nada datar namun sopan.Prakas, dengan raut wajah tegas seperti biasanya, langsung memulai percakapan tanpa basa-basi. “Bastian, kami di sini untuk membicarakan

    Last Updated : 2024-12-05
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Balasan Dari Rania

    Lembang, kediaman Rania.Rania menatap ponselnya yang bergetar di sisi meja, sedikit terkejut melihat nama Bastian muncul di layar. Hatinya seketika bergemuruh, campuran rasa kesal, ragu, dan sedikit penasaran. Sudah lebih dari dua minggu sejak terakhir kali ia mendengar kabar tentang pria itu, dan ia berharap keadaan tetap tenang seperti hari-hari sebelumnya. Namun, keberadaan pesan ini seperti membawa awan gelap ke pikirannya yang sudah dipenuhi oleh desain dan deadline klien.Ia mencoba kembali fokus pada layar laptop, namun pikirannya sudah teralihkan. Pesan itu seolah memanggilnya, memaksa perhatian penuh.“Kenapa lagi sekarang?” gumam Rania pelan, sedikit kesal.Akhirnya, dengan tarikan napas panjang, Rania meraih ponselnya. Jemarinya sempat ragu untuk mengetuk layar, namun pada akhirnya ia membuka pesan itu.Pesan dari Bastian: “Rania, aku tahu kamu mungkin membenciku. Tapi aku hanya ingin tahu kabar Bintang. Apakah dia

    Last Updated : 2024-12-06
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Mendapat Perhatian

    Kota Cimahi.Rania sedang berdiri di tengah aula besar yang akan dihias menjadi tempat pertunangan mewah. Tangannya sibuk memegang lembaran sketsa dekorasi, sesekali menunjuk bagian tertentu kepada Icha dan Citra sambil memberikan arahan. Ia tampak serius, wajahnya memancarkan semangat dan fokus yang tak terganggu. Sinar matahari yang masuk melalui jendela besar memantulkan cahaya ke rambutnya, membuatnya tampak bersinar di mata seseorang yang diam-diam memperhatikan dari kejauhan.Pria itu mengenakan setelan kasual yang tetap terlihat elegan. Ia berdiri di sudut ruangan, mengamati Rania dengan tatapan kagum. Senyum kecil menghiasi wajahnya saat melihat bagaimana Rania dengan cekatan mengatur segalanya, memimpin tim kecilnya dengan percaya diri dan penuh dedikasi. Ia lalu mengambil ponselnya, mencoba menangkap momen itu tanpa terlihat mencurigakan.Klik.Foto yang ia ambil menunjukkan Rania sedang membungkuk sedikit, memeriksa ornamen bunga di meja hias. Pria itu memeriksa hasilnya, te

    Last Updated : 2024-12-06
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Aku, Sudah Punya Anak!

    Rania, Icha, dan Citra masuk ke dalam mobil minibus putih milik Aditya. Suasana awalnya terasa cukup nyaman, meski sedikit canggung karena mereka belum terlalu mengenal Aditya. Ketiganya duduk di bangku tengah, sementara bangku depan kosong.Setelah beberapa saat, Icha menoleh sambil berbisik pada Rania, “Mbak, masa depan kosong gitu? Nggak enak, lho. Dia kan bukan sopir kita.”Citra langsung menimpali, “Iya, Mbak. Mending mbak Rania duduk depan aja. Biar lebih sopan.”Rania mengerutkan kening. “Kenapa aku? Kalian aja yang maju.”Namun, keduanya langsung menggeleng serempak, memberikan alasan masing-masing. Icha menyahut, “Aku pusing kalau duduk di depan.”Sementara Citra menambahkan, “Aku nggak nyaman lihat jalan terlalu jelas.”Rania mendesah pelan. “Ya ampun, kalian berdua.” Akhirnya, ia menyerah dan berpindah ke kursi depan, meskipun sebenarnya ia lebih suka duduk be

    Last Updated : 2024-12-07
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Diberi Kesempatan

    Proses hukum terhadap Maya terus bergulir tanpa henti. Bastian bersikeras melanjutkan gugatannya meskipun keluarga Maya mencoba berbagai cara untuk menghentikannya. Maya telah resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian, meskipun publik belum mengetahui hal tersebut karena orang tua Maya rela menggelontorkan dana besar untuk menutupi kasus ini dari media.Hari ini adalah mediasi pertama yang difasilitasi oleh pihak berwajib untuk mencari jalan damai sebelum kasus tersebut benar-benar naik ke pengadilan. Namun, Bastian tetap pada pendiriannya. Ia menolak segala tawaran damai yang diajukan oleh keluarga Maya, termasuk janji uang ataupun ancaman yang sebelumnya dilontarkan.Maya yang semakin terpojok merasa geram. Amarahnya mencuat, membuatnya bersikeras datang ke rumah Bastian bersama kedua orang tuanya, Gery dan Ami. Mereka berharap bisa berbicara langsung dengan Bastian untuk mencari celah memengaruhi keputusan pria itu.Ya, semenjak kasus Maya terus berg

    Last Updated : 2024-12-07

Latest chapter

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Berpisah

    “Selamat pagi, Bintang…” Dengan senyum merekah, Nora dan Prakas datang dengan sebuah buket bunga berukuran besar. Mereka sengaja memesan buket khusus untuk cucu mereka yang kini kondisinya sudah jauh lebih baik.“Terima kasih, Oma,” balas Bintang.“Bintang sekarang sudah segar ya, sudah ganteng. Hari ini, kita akan pulang ke rumah. Tapi oma sedih deh, karena nggak akan bisa bebas lagi bertemu dengan Bintang.” Nora sedikit cemberut. Namun manyun itu malah membuat Bintang tertawa.“Siapa bilang jeng Nora dan mas Prakas tidak bisa bebas datang ke rumah. Kalian bisa datang kapan pun untuk bertemu dengan Bintang. Selama di rumah sakit, kami sadar kalau ikatan darah tidak dapat dipisahkan begitu saja,” ucap Rita.“Iya, Tante. Tante dan om boleh kok datang kapan saja dan bertemu dengan Bintang.” Rania menggenggam lembut tangan kanan Nora.Nora tersenyum lembut. Ia belai pipi Rania sekali, lalu ia pun kembali mengalihkan pandangan ke arah Bintang. “Terima kasih, Rania. Kamu memang sangat baik

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Patah Hati

    Setelah beberapa jam berada di ruang observasi pascaoperasi, Bastian dan Bintang akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap. Mereka ditempatkan di satu ruangan yang sama, kamar VVIP terbaik di rumah sakit itu, yang telah disiapkan sebelumnya oleh keluarga mereka. Meski keduanya sudah sadar, kondisi mereka masih sangat lemah. Namun, Bastian terlihat lebih baik dibandingkan dengan Bintang yang masih tampak pucat dan lemah.Rania duduk di samping tempat tidur Bintang, menggenggam tangan kecil putranya dengan lembut. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi anaknya yang masih begitu rapuh. Sesekali, ia mengusap rambut Bintang dengan penuh kasih sayang. Di tempat tidur sebelah, Bastian menatap ke arah mereka dengan senyum tipis. Meski tubuhnya masih terasa nyeri akibat operasi, hatinya terasa lebih ringan karena telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan putranya.“Bagaimana perasaanmu?” tanya Rania lirih, suaranya penuh perhatian.Bastian mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja. Jangan khaw

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Operasi pun Dimulai

    “Hasilnya..." dokter berhenti sejenak, melihat ekspresi cemas mereka. Semua orang yang ada di ruangan itu menahan napas, menunggu kelanjutan dari kalimat dokter."Bastian cocok menjadi donor untuk Bintang."Ruangan itu seketika dipenuhi helaan napas lega. Rania menutup wajahnya dengan tangan, menangis tanpa suara. Bastian mengangguk mantap, matanya berkaca-kaca. Namun, dokter belum selesai. "Namun, ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan lebih lanjut. Operasi ini harus dilakukan secepat mungkin."Rania menghapus air matanya dengan cepat. "Secepat mungkin? Seberapa cepat, Dok?""Idealnya, dalam 24 jam ke depan. Kondisi Bintang semakin melemah. Jika kita menunda lebih lama, risiko kegagalan akan semakin besar. Kami akan segera menyiapkan jadwal operasi dan memastikan semua persiapan berjalan lancar."Bastian langsung mengangguk. "Saya siap, Dok. Kapan pun operasi akan dilakukan, saya siap."Dokter tersenyum tipis. "Baik. Kami akan segera mempersiapkan ruang operasi dan tim bedah. Un

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Hasil Pemeriksaan Bastian

    Di dalam ruangan dokter, suasana terasa begitu tegang. Rania menggenggam jemarinya sendiri, sementara Bastian duduk dengan wajah serius menatap dokter ahli yang akan menangani transplantasi hati Bintang."Sebelum kita melanjutkan ke tahap pemeriksaan, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu risiko yang mungkin terjadi dalam operasi ini," ujar dokter dengan nada hati-hati.Bastian mengangguk mantap. "Tolong jelaskan, Dok. Saya ingin tahu semua risikonya."Dokter menarik napas sejenak sebelum mulai berbicara. "Pertama, operasi transplantasi hati merupakan prosedur besar yang memiliki risiko komplikasi. Bagi pasien penerima, dalam hal ini Bintang, ada kemungkinan tubuhnya menolak organ baru meskipun sudah cocok secara medis. Jika ini terjadi, kita harus segera mengambil langkah medis tambahan untuk mengatasinya."Rania menelan ludah, hatinya semakin gelisah. "Lalu bagaimana dengan risiko untuk pendonor? Maksud saya... untuk Bastian?"Dokter menatap keduanya dengan tenang. "Sebagai pendono

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Keputusan Berat

    Ruangan rumah sakit dipenuhi keheningan yang mencekam. Jam dinding menunjukkan pukul dua siang ketika pintu kamar terbuka dan seorang dokter spesialis masuk dengan raut wajah serius. Semua mata langsung tertuju padanya.Dokter itu berjalan mendekati ranjang tempat Bintang terbaring lemah. Ia memeriksa kondisi bocah itu dengan seksama, mencatat beberapa hal di berkasnya sebelum akhirnya menatap seluruh keluarga yang berkumpul di dalam ruangan.“Saya ingin membicarakan hasil pemeriksaan terbaru Bintang,” kata dokter dengan suara tenang namun tegas.Rania menggenggam tangan kecil putranya yang terasa dingin. Hatinya berdebar kencang. Begitu pula dengan Rita, Boby, Nora, Prakas, dan tentu saja Bastian yang berdiri dengan wajah tegang di sudut ruangan.Dokter menarik napas dalam, lalu berkata, “Hasil menunjukkan bahwa Bintang mengalami gagal hati akut. Kondisinya cukup serius, dan kami harus bertindak cepat untuk menyelamatkannya.”Ruangan kembali sunyi. Pernyataan itu seperti petir di sia

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Suasana Yang Berbeda

    Pagi itu, udara rumah sakit masih terasa dingin. Rita dan Boby tiba lebih awal dari biasanya, membawa sekantong penuh buah segar dan makanan untuk Rania. Keduanya berjalan menuju kamar tempat Bintang dirawat dengan hati yang dipenuhi kecemasan.Saat mereka masuk, mata mereka langsung tertuju pada sosok Bastian yang tertidur di sofa dengan posisi yang terlihat tidak nyaman. Tubuhnya sedikit membungkuk, kepalanya bertumpu pada lengannya, dan nafasnya terdengar teratur namun lelah. Selimut tipis yang diberikan perawat tadi malam masih membungkus tubuhnya.Rania yang sedang duduk di tepi tempat tidur Bintang, menoleh dan tersenyum lemah melihat kedua orang tuanya.“Dia tidak tidur semalaman,” bisik Rania, sebelum mereka sempat bertanya.Rita menghela napas panjang. Meski dalam hatinya masih ada sedikit ganjalan terhadap Bastian, ia tidak bisa menyangkal bahwa lelaki itu benar-benar peduli terhadap anaknya.“Bagaimana keadaan Bintang?” tanya Boby, suaranya lirih.Rania menatap buah hatinya

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Bersama-sama Menjaga Bintang

    Satria berdiri di sudut ruangan, memperhatikan bagaimana Bastian duduk di samping tempat tidur Bintang, menggenggam tangan kecilnya dengan penuh kepedulian. Ada sesuatu dalam tatapan Bastian—ketulusan, ketakutan, sekaligus rasa tanggung jawab yang begitu besar. Hal yang selama ini Satria ingin berikan untuk Rania dan Bintang, namun nyatanya, dia hanya orang luar dalam kisah ini.Ia menghela napas panjang. Melawan perasaannya sendiri, ia akhirnya memilih untuk mundur. Untuk saat ini, Bintang memang membutuhkan orang tua kandungnya. Tidak ada ruang untuknya di sini. Dengan langkah pelan, ia mendekati Rita dan Boby yang masih berdiri di dekat pintu.“Tante, Om... Aku pamit dulu,” katanya dengan suara rendah.Rita menatapnya dengan sorot mata penuh pengertian. “Terima kasih sudah datang, Satria. Kami sangat menghargainya.”Satria tersenyum tipis. “Tidak masalah, Tante. Jika ada yang bisa aku bantu, aku selalu siap.”Boby menepuk pundaknya dengan ringan, tanda penghormatan dan terima kasih

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Butuh Transplantasi?

    Suasana di rumah sakit masih dipenuhi kecemasan. Setelah diputuskan untuk dirawat inap, Bintang kini berada di kamar VVIP dengan perawatan terbaik. Monitor di samping tempat tidurnya terus berbunyi pelan, menampilkan angka-angka yang mengukur kondisi tubuhnya. Rania tak bergeming dari sisi putranya, menggenggam tangan mungil itu dengan erat. Di wajahnya tergambar kelelahan, namun ia tak ingin pergi barang sejenak pun.Di ruang tunggu rumah sakit, Prakas dan Nora berdiri dengan gelisah. Sesekali, Prakas melirik jam tangannya, menanti kedatangan Bastian yang sudah dalam perjalanan dari Singapura. Nora memeluk dirinya sendiri, berusaha menenangkan diri meski hatinya terus bergetar memikirkan cucunya.Tak lama, langkah cepat terdengar dari arah pintu masuk. Bastian muncul dengan wajah yang penuh kecemasan, masih mengenakan pakaian dari penerbangannya yang terburu-buru. Matanya langsung mencari kedua orang tuanya. Begitu melihat mereka, ia berjalan cepat dan langsung bertanya,“Mami, Papi!

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Diagnosa Yang Mengejutkan

    Di lorong rumah sakit yang terasa begitu dingin, Nora dan Prakas berjalan mendekati Rita dan Boby. Ekspresi wajah mereka menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. Sebagai orang tua Bastian, mereka memang harus menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok. Namun, saat ini, hati mereka benar-benar tak tenang melihat kondisi Bintang yang terbaring lemah di ruang IGD.“Rita... Boby...” suara Nora bergetar saat berbicara, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap penuh simpati. “Kami sangat prihatin dengan kondisi Bintang. Apa yang sebenarnya terjadi?”Boby menarik napas panjang, seolah berusaha menahan emosinya yang sudah meluap-luap sejak tadi. Sementara itu, Rita hanya mampu mengusap air matanya yang terus mengalir. “Kami masih menunggu hasil lab,” ucapnya dengan suara lirih. “Dokter masih melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.”Prakas menatap Rita dan Boby dengan penuh empati. Ia ingin sekali mengatakan bahwa Bintang bukan hanya cucu mereka, tetapi juga cucu kandungnya s

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status