Share

15. Kencan Pertama

Penulis: Indy Shinta
last update Terakhir Diperbarui: 2022-08-09 20:33:11
“Ah. Gue bisa gila sendiri kelamaan ngomong sama lu!”

“Jangan gila sendirian dong, Mei. Gue temani gilanya, biar kita tergila-gila satu sama lain,” sahut Juna sambil mengerlingkan sebelah mata. Lalu terkekeh saat Mei meninju lengannya.

“Btw, lu mau nonton film apa, Mei?” tanya Juna sambil membuka ponselnya.

“Apa aja yang penting seru, jangan yang cengeng-cengengan.”

“Horor mau?”

“Siapa takut?”

“Yakin ...? Nggak bakal sembunyi di ketek gue ntar?”

“Dih. Malah ngomongin ketek, bayangin aja udah eneg gue ..., jijik ah!”

“Eh, ketek gue wangi tau,” sahut Juna sambil mengendus ketiaknya sendiri. Membuat Mei meringis geli. “Armani nih. Parfum mahal gila, original!”

“Napa lu jadi pamer, sih! Dasar norak.”

“Apanya yang pamer sih, for your info doang kok.” Juna menyahut santai sambil mengetik sesuatu di ponsel mahalnya.

Mei geleng-geleng kepala. Bukan Juna kalau nggak pamer atau malah narsis.

“Btw, kita makan dulu ya, Mei. Gue udah reservasi tempat kok. Gue juga udah dapet tiket nonto
Indy Shinta

Yuk, dukung penulis. Klik VOTE, ya :)

| 1
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sarkol Fanni
Jumlah koin yg diminta per bab terlalu tinggi. Meresahkan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Menikahi Mantan Pacar Teman   16. Dalam Pertengahan Kencan

    “Hei. What do you mean?” Juna mencondongkan tubuhnya lebih dekat kepada Mei. Ingin tahu lebih banyak lagi pikiran gila seorang Meilani. “Forget it.” Mei menggeleng sambil menyambar buku menu. Lalu benar-benar memesan yang mahal dan juga banyak. Juna memerhatikan sikap absurd Mei sambil geleng-geleng kepala. Mengamati gadis itu makan dalam diam. Senyum kecil menghiasi wajah tampan itu hanya karena melihat Mei makan seperti orang kesurupan jin dari Ethiopia. Tiba-tiba saja, Juna tersenyum usil. “Mei,” tegurnya setelah mereka selesai makan. “Sorry ...,” katanya sambil menatap lekat-lekat Mei yang sudah kenyang. “Gue baru nyadar kalau ..., dompet gue ... hilang. Bayarin pakai duit lu dulu ya?” “Hah? LU GILA?!” Mei menggebrak meja. “Arjuna. Seriously!” bentaknya sambil berdiri dengan tatapan berapi-api. Juna nyaris terpental saking kagetnya, seorang Meilani ternyata mengerikan kalau sedang marah. “Ebuset! Calm down. Santai, bos ...,” bisik Juna sambil menutupi wajahnya dengan buku men

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-09
  • Menikahi Mantan Pacar Teman   17. Pacar Berondong

    Hari Jumat, waktu kerja terasa lebih singkat dan berlalu cepat. Sepanjang makan siang, teman-teman kantor saling membicarakan rencana akhir pekan. Sedangkan Mei terdiam seribu bahasa. Akhir pekan sama sekali tak menyenangkan baginya. Tante Dilla bakal mengerjainya dengan banyak hal. Minta disopiri ke sana-sini, atau membebaninya dengan pekerjaan rumah tangga yang melelahkan. Ditambah sekarang, tantenya selalu membahas tentang Hans, Hans, dan Hans yang berujung perjodohan. Sudah dua kali Mei kena prank si tante, minta diantar ke restoran atau kafe, tapi ternyata Hans sudah menunggu di sana. Lalu Mei ditinggal berdua saja. Di tengah celotehan teman-temannya, ponsel Mei bergetar. Telepon dari Juna. Mei menyingkir dari kafetaria yang berisik, menuju pintu darurat dan menerima telepon sambil duduk di anak tangga. “Mei, ntar sore gue jemput ya?” “Mau ngapain?” “Nonton.” “Kemarin kan udah?” “Ah! Nggak aci, soalnya lu main kabur aja ninggalin gue. Terhina gue, sumpah.” Mei tertawa liri

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-10
  • Menikahi Mantan Pacar Teman   18. Maybe Oneday

    Taksi sudah mencapai lobi sebuah apartemen premium di jantung kawasan Mega Kuningan, yang menjadi tujuan akhir Juna bersama Mei. Mei tak lagi kaget saat Juna membuka dompet dan mengulurkan sejumlah uang yang pasti bakal dilebihkan banyak. “Mas, ini kok sejuta? Kelebihan banyak, Mas.” Si sopir bingung setelah menghitungnya. “Ambil aja, Pak.” Si sopir berkedip-kedip tak percaya. “Ma-makasih, Mas!” Juna menggandeng Mei saat memasuki lobi dan menuju sebuah lift. "Wow!” Mei tak repot-repot menyembunyikan kekagumannya begitu memasuki unit apartemen Juna yang terletak di lantai 18. Atmosfernya sangat berbeda dari apartemen-apartemen sederhana punya teman yang pernah dikunjungi Mei. Apartemen mahal ini jelas menawarkan berbagai fasilitas demi mendukung gaya hidup modern para penghuninya. Tak kalah mewah dari fasilitas yang ditawarkan hotel bintang lima. Mei memindai ruangan berukuran lebih dari 100 meter persegi itu dengan sorot matanya yang dipenuhi kekaguman. Sentuhan kemewahan ke

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-10
  • Menikahi Mantan Pacar Teman   19. Sharing is Caring

    “Seriosly?” Juna menatap Mei lekat-lekat. Mei membuang tatapannya ke swimming pool cantik di bawah sana. “It’s oke kalau nggak boleh,” desahnya terdengar seperti merajuk. “No no no. But ..., suddenly? Lu ada masalah apa barusan, hmm?” Mei tersenyum kecut. “Gue lagi cekcok dikit sama tante gue,” ujarnya lirih. “Come on. Bukan dikit kalau sampai bikin elu nggak mau pulang.” Mei membuang napas. “Right. But ..., I can’t describe to you right now.” Juna mengangguk dengan senyumnya yang bersahabat. “I know. Sharing aja pas lu udah siap.” “So? Gue boleh nginap?” Juna mengedikkan bahu. “Gue cuma punya satu ranjang.” “Gue bisa tidur di sofa.” “No. Tidur di ranjang gue.” “Terus? Lu yang di sofa?” “Nggaklah gila. Sharing aja berdua. Ranjang gue kan segede gaban.” Mei melotot. “Lu gila?” Lalu meninju lengan Juna yang terlihat santai saja mengatakannya seakan itu bukanlah hal besar. Juna malah terbahak. “Kita kan cuma mau tidur? What’s the problem?” sanggahnya. Kemudian mengerling

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-11
  • Menikahi Mantan Pacar Teman   20. Better You Run

    Sedang asyik-asyiknya bercengkerama dengan Meilani, bel pintu apartemen Juna berbunyi. “Siapa sih yang datang pagi-pagi gini, gangguin orang pacaran aja,” gerutu Juna sambil menyeret langkah malas dan mengecek siapa tamunya melalui kamera bel pintu. Mei tersenyum geli setiap kali mendengar Juna mengucap kata ‘pacaran’, seakan hubungan mereka betulan saja. Dan senyum Mei menyurut begitu melihat perubahan raut wajah Juna yang tampak terkejut. “Siapa, Jun?” Mei jadi penasaran. Juna memutar bola mata. Kelihatan enggan menerima tamunya. “Mantan gue,” jawabnya sebelum membuka pintu. Mei mengerutkan kening. ‘Mantan?’ pikirnya bingung. Di kepalanya mantan Juna itu cuma Raya, tak terpikir ada wanita lain lagi. “What brings you here?” sapa Juna di ambang pintu. “Morning, Jun? I bring some food for you. Udah makan belum? Woi. I dianggurin depan pintu aja, nih? Nggak sopan,” oceh seorang wanita di luar sana. Mei buru-buru menunduk saat Juna melebarkan pintu dan membiarkan tamunya masuk.

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-12
  • Menikahi Mantan Pacar Teman   21. Menghadap CEO

    Mei berharap apa yang dikatakan Juna pagi itu benar, bahwa Anjani orang yang profesional. Mei tak bakal berurusan dengannya selama Mei tak melakukan kesalahan selama bekerja. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Anjani tampak sengaja mencari-cari kesalahannya. Biasanya Anjani jarang sekali keluar dari ruangannya. Tapi hari ini, orang nomor satu di kantornya itu mendadak mendatangi ruang demi ruang para karyawan. Membuat Bu Nida, seorang manager, gugup menyambutnya. “Se-selamat pagi, Bu Jani?” “Pagi,” sahut Anjani seraya bersedekap, tatapannya mengitari ruangan dan berhenti di meja Mei. “I mau lihat laporan kerugian kita waktu itu, sedetail-detailnya,” katanya dengan menatap lekat-lekat sosok Mei yang sedang diincarnya. Mei seketika menunduk saat tatapannya beradu dengan Anjani. ‘Buat apa singa betina itu mengorek lagi kesalahanku waktu itu?’ pikirnya cemas. Tapi Mei pura-pura tenang, melanjutkan kegiatannya mengetik laporan pekerjaan. “Oh, nanti saya antar ke kantor Ibu. Lagipula I

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-13
  • Menikahi Mantan Pacar Teman   22. You're Special to Him

    Mei melipat tangannya di perut sambil menunggu kedatangan Juna di sebuah kafe, tapi sudah 3 jam menunggu, pria itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Juna mengiriminya pesan dua kali, yang pertama dua jam lalu, menyuruhnya menunggu. Dan yang kedua sejam yang lalu, katanya masih di jalan. Mei melirik arloji di pergelangan tangannya, sudah jam 9 malam. Mau tak mau Mei beranjak dari kursi menuju kasir dan membayar pesanannya. Lalu melangkah gontai. Tak menyangka ketidakhadiran Juna bakal memberinya efek kecewa seperti ini. ‘Lagipula, buat apa aku betulan menunggunya hanya karena dia menyuruhku menunggu? Aku bisa saja memutuskan pulang sejak tadi, tapi kenapa aku menunggu?’ pikirnya sebal pada diri sendiri. ‘Kenapa aku mengulangi kesalahan yang sama? Aku sudah lelah, setia menunggu Kevin bertahun-tahun mengatakan cinta, tapi justru berakhir dengan menerima kartu undangan pernikahannya dengan Raya, teman dekatku sendiri. Dan sekarang mau-maunya aku dikerjai Juna, mau saja disuruh m

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-15
  • Menikahi Mantan Pacar Teman   23. Waktu yang Salah

    Mei turun dari taksi, memandangi lobi apartemen di depannya, kemudian ganti menatap jari manisnya yang kini telah kosong dari cincin pertunangannya dengan Juna. Ada rasa ringan sekaligus berat yang kini bermain-main dalam hatinya. Bodoh. Bisa-bisanya dia melepas pria tampan, menyenangkan, dan juga mapan. Bukankah setidaknya pria itu tak mempermainkan perasaannya seperti Kevin? Juna bahkan sudah terang-terangan menjelaskannya sejak awal, “Jangan overthinking tentang hubungan kita, Mei. Just have fun with me. Tak mengapalah awalnya kita pura-pura saling cinta, maybe oneday ... kita bisa fall in love betulan.” Kemudian terngiang lagi kata-kata Anjani, “Are you sure he loves you, Mei? I tell you, he loves Raya so much. You hanya akan berakhir seperti I dan cewek-cewek lain, yang cuma dijadiin objek pengalih perhatiannya dari Raya. Siap-siap aja, you bakal ditendang keluar kalau dia udah bosan. Better you run!” Ah. Kenapa tiba-tiba terselip rasa takut dalam hati Mei kala mendengarnya? Ap

    Terakhir Diperbarui : 2022-08-15

Bab terbaru

  • Menikahi Mantan Pacar Teman   Extra Part

    Mei meletakkan Cinta di box tidurnya secara perlahan setelah selesai mengganti diapers untuk bayi cantiknya yang menggemaskan itu, kini anak keduanya itu sudah berusia 3 bulan. Juna menepuk-nepuk lembut pipi puterinya. “Selamat bobok, cintanya mami dan papi,” bisiknya dengan hati berbunga-bunga. Setelah memastikan Cinta tidur nyaman, Juna menoleh kepada Mei yang sedang memerah ASI. Air susu Mei melimpah ruah, sampai-sampai Mei membeli kulkas baru khusus untuk menyimpan stok ASI bagi sang buah hati. Mei bertekad akan memberi Cinta ASI eksklusif selama 6 bulan, sama seperti Vi dulu. “Masih lama, Mi?” Juna manyun memerhatikan Mei sibuk dengan alat perahnya. “Bantuin sini, malah bengong! Biar cepat beres ini,” omel Mei. Juna pun nyengir dan membantu Mei menuliskan tanggal hari ini di setiap label botol ASI itu, kemudian memasukkannya ke dalam kulkas yang ada di dalam kamar mereka. Sementara Mei membereskan alat-alat pemerah ASI, mencuci, mengelap, dan menyimpan kembali dengan rapi. “S

  • Menikahi Mantan Pacar Teman   Extra Part

    “Mami, bangun! Ini sudah jam berapa?” Juna menarik selimut Mei, menepuk-nepuk istrinya yang malah lebih erat lagi memeluk guling. Juna geleng-geleng kepala. Sepertinya Mei bangun kesiangan lagi, padahal biasanya Mei itu morning person. Istrinya itu sigap melayani apa saja kebutuhannya dan juga Vi. Rajin mempersiapkan keberangkatan Juna ke kantor, dan juga mempersiapkan sendiri box makanan untuk Vi. Tapi sudah seminggu ini, makanan untuk Vi diurus pegawainya. Demikian pula persiapan sarapan untuk mereka. Juna rindu sarapannya dipersiapkan sendiri oleh sang istri tercinta. “Banguun, ... Maemunah.” Juna menarik guling Mei, tapi kemudian Mei mengalungkan lengannya di leher Juna. Membuat Juna terkekeh dan menciumi wajah istrinya. “Jun, ngantuk banget gue loh. Masih kepingin bobok.” Juna pun mengecupi pipi istrinya yang masih memejamkan mata. Mei kelihatan sangat mengantuk memang. Juna jadi tak tega menyuruhnya bangun dan menyelimutinya lagi. Juna mandi pagi dan berganti pakaian, memasa

  • Menikahi Mantan Pacar Teman   Extra Part

    Mei tersenyum puas usai melakukan rapat final dengan manager pengelola gedung Utomo Group. Mei menyabet tempat di lantai dasar gedung Utomo Group yang sebelumnya disewa oleh sebuah restoran franchise asing. Mei ingin menancapkan taring bisnisnya di gedung utama milik kakek suaminya sendiri.Juna pikir istrinya kian menggilai bisnis dan ingin semakin banyak mereguk laba berlipat-lipat. Namun Juna dibuat terkejut saat Mei memaparkan sesuatu kepadanya, bahwa Mei akan memberikan diskon khusus bagi para pegawai Utomo Group yang makan di restoran itu dalam jangka waktu selama mereka berstatus pegawai Utomo Group, yaitu diskon 90% bagi kalangan pegawai kelas bawah semisal security, OB, cleaning service, dan diskon 60% bagi kalangan staf biasa.“Biar apa gitu, Mei?”“Biar mereka merasa dihargai, dan mereka bisa pakai diskonannya buat kepentingan mereka yang lain, atau buat ditabung. Soalnya, Jun, ... gue pernah jadi pegawai rendahan kayak mereka, budget makan siang itu mehong dan berasa bange

  • Menikahi Mantan Pacar Teman   Extra Part

    “Mei, serius ... elu nggak kepengen ngadain resepsi buat pernikahan kita ini?” Juna diam-diam ingin mewujudkan pesta pernikahan impian yang ingin digelarnya secara mewah. Sebagai wujud kegembiraannya memenangkan hati Mei kembali.“Ogah. Kan udah gue bilang ogah. Berisik amat sig elu masih nanyain melulu, Jun?”Juna manyun. “Emang kenapa sih, Mei?” rengeknya sambil memeluk Mei dari belakang, sementara Mei sedang sibuk meracik bumbu untuk makan malam mereka nanti.“Buat apa elu buang-buang duit cuma buat menjamu para sosialita yang fake itu, heh? Gue ingat banget ya, pas gue lagi melarat gimana sikap mereka ke gue. Gue tuh kayak sampah tahu nggak di mata mereka. Anna dan teman-temannya itu! Papasan sama gue di mall kagak ada yang mau noleh barang seorang, padahal gue udah sapa duluan baek-baek,” oceh Mei sambil menggeprek lengkuas sekuat-kuatnya sampai penyet, seakan lengkuas itu adalah perwujudan Anna dan teman-temannya.Jantung Juna nyaris mencelat kaget mendengarnya. ‘Dih, serem juga

  • Menikahi Mantan Pacar Teman   EPILOG

    Mei dan Juna menginap di sebuah presidential suite. Di sinilah mereka pernah melewati malam pertama pada pernikahan mereka yang terdahulu. Pada malam rujuknya mereka kali ini, Mei dan Juna kembali memilih ruangan yang sama, ruangan yang menyimpan sejuta kenangan tentang mereka. Ruangan ini menjadi saksi bisu, bahwa ada rasa membara yang mengikat Mei dan Juna, sejak dulu sampai sekarang, tak pernah padam. Jika keduanya dulu merasa canggung saat memasuki ruangan ini dalam balutan gaun pengantin, sekarang tidak lagi. Begitu Juna menutup pintu hotel, dia langsung mengangkat tubuh istrinya itu ke ranjang, melucuti pakaian Mei dengan tak sabar. Sudah halal, bukan? Tangan Juna bergerak cepat menyingkirkan segala macam penghalang, dan matanya berbinar-binar begitu tubuh polos Meilani kini terpampang nyata. Mei ternyata masih tetap luar biasa dan semengagumkan dulu. “Bisa-bisanya Mei, elu udah jadi emak-emak tapi body masih mulus langsing singset kayak gini?” pujinya sambil membelai perut Mei

  • Menikahi Mantan Pacar Teman   184. Demi Juna

    “Buset, ribet amat sih mau rujuk kebanyakan syarat administrasi! Nggak bisa nikah di KUA hari ini dong gue? Mau tuntasin ibadah nikah yang mulia kok ada-ada aja ya ujiannya?” oceh Juna saat menelepon Jonathan. “Ya udah, Jon, elu buruan daftarin dan urusin semua persyaratan rujuk buat gue dan Mei di KUA. Gue sama Mei nikah siri aja dulu hari ini! Biar cepat sah dan halal,” pungkasnya. Mei tertawa mendenngar ocehan Juna yang teramat ramai. “Beneran mau nikah hari ini? Ntar ajalah ... tanggung, nikah di KUA yang resmi sekalian, tunggu Jojon kelar beresin syarat administrasinya dulu, Jun.” “Eits, nggak bisa! Ibadah loh ini, Maemunah ...! Ibadah itu jangan ditunda-tunda. Jangan dengerin bujuk rayu setan buat nunda-nunda ibadah kita.” Mei terpingkal-pingkal. “Cih. Bisa aja nih orang modusnya, ... bilang aja udah nggak tahan pengen grepe-grepe gue!” cibirnya. Juna nyengir. “Itu kan ibadah juga, Mami sayang, ... yang membedakan kita sama kucing! Kucing mau kawin tinggal kawin, kalau kita

  • Menikahi Mantan Pacar Teman   183. Yes or No

    Mei buru-buru ke dapur, meneguk segelas air untuk membasahi kerongkongannya yang kering karena menahan gondok kepada Juna yang malah mengusilinya soal penggrebegan tadi. Wajah Mei jadi merah padam, bukan hanya karena marah pada keadaan. Tapi dia juga bingung bagaimana caranya menjelaskan ke Vincent? Tadi dia mengecek i*******m dan benar saja, kejadian tadi sudah tayang di I* TV milik Anna dan meraih banyak penonton. “Tuh, kan. Netizen malah belain kita dan kasih selamat sekalian. Orang-orang sekarang sudah tahu soal anak kita, Mei. Juga tentang kita yang sudah rujuk. Dahlah ... yuk, jadiin real aja?” Juna meletakkan ponsel setelah ikut mengecek dan membaca komentar yang berseliweran di I* itu. Juna kemudian merangkul Mei yang duduk menunduk di sofa sambil memegangi kepalanya yang pening. Juna memijiti pundak Mei hingga wanita itu terlihat sedikit nyaman. Mei menangis sambil mengatakan kalau dia takut Vincent marah, takut Vincent kecewa kepadanya. Mei juga meminta saran dan pendapat

  • Menikahi Mantan Pacar Teman   182. Kesempatan dalam Kesempitan

    “Gue kangen banget sama Vi, Mei. Please? Gue sekarang tahu kenapa gue langsung jatuh cinta sama Vi sejak awal ketemu dulu. Dan semakin ke sini gue semakin sering kangen sama dia. Ternyata itu yang namanya ikatan batin. Iya ‘kan? Elu sendiri tadi bilang, bakal beri gue ruang buat mencurahkan kasih sayang gue ke Vi?” Mei memutar bola mata. “Iya, tapi nggak gini juga keleus ..., lu lihat ini jam berapa sekarang? Jam 12 malam. Gila lu mau masuk-masuk kamar janda tengah malam gini.” Juna tertegun. Setelah pembicaraan seriusnya tadi, sekarang Mei dengan cepat kembali ke mode cablak. Juna garuk-garuk kepala. “Dih, cepat juga waktu berlalu ya, Mei?” “Ya iyalah, dodol. Situ aja nangisnya berapa jam sendiri?” “Njirr ..., jangan cerita ke siapa-siapa ya, Mei. Tengsin gue.” “Wani piro?” Lalu Mei terkekeh jahat. “Cih. Lu kayak John Wick aja, Mei!” seloroh Juna. Karena John Wick suka menantang imbalan Juna dengan dua kata yang sama itu, ‘wani piro’. “John Wick? Keanu Reeves?” Mei kebingunga

  • Menikahi Mantan Pacar Teman   181. Tak Cukup Hanya Cinta

    Juna merengkuh kedua tangan Mei. Tangan Mei terasa hangat dalam genggaman Juna yang dingin. “Mei ...,” panggil Juna seraya mengecup lembut punggung tangan wanita itu, “gue udah tahu semuanya, ... siapa sebenarnya Vi,” ucapnya begitu lirih. “Sorry ..., I’m too late.” Juna mendesahkan sejuta penyesalan. Juna berlutut di depan Mei seraya mendongak, mempertemukan tatapan mereka. “Mei ...,” panggilnya lagi, karena wanita itu tak jua bersuara sejak tadi. Mei membeku dalam kediaman panjangnya. “Gue sungguh-sungguh minta maaf. Mungkin permintaan maaf gue ini nggak sepadan dengan penderitaan yang sudah elu lewati seorang diri selama ini.” Juna mengetatkan genggamannya seiring pecutan sesal yang kian melecut-lecut dalam hatinya. Juna baru tahu dari Anjani ..., jika ternyata Mei dalam kondisi mengandung darah dagingnya saat Juna menceraikannya dulu. Saat Juna mengusirnya siang itu, meninggalkan rumahnya di bawah terik cahaya mentari yang membakar kulit, dengan berjalan kaki. Ya ..., berjalan ka

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status