"Nabila?!" suara Govan meninggi, langkahnya cepat menghampiri Nabila yang terduduk di kasur dengan mata bengkak, jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Ia berlutut di depan gadis itu, tangannya langsung menangkup wajah Nabila, menelusuri pipinya yang lembab bekas air mata.
"Kamu habis nangis?" tanyanya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya, tapi penuh kekhawatiran. "Kenapa? Ada apa, Bil? Ayo cerita dengan om."
Nabila menggeleng pelan, wajahnya keliatan lelah. Govan menatapnya lama, lalu tanpa ragu, ia menarik Nabila ke dalam pelukannya.
"Kalau ada masalah, cerita sama Om," bisiknya di atas kepala gadis itu. "Jangan dipendam sendiri, nanti sakit."
Nabila menggigit bibir, tubuhnya menegang dalam dekapan pamannya. Ia ingin bercerita. Ingin mengeluarkan semua beban di hatinya.
Tapi ia takut.
Takut terlihat lemah.
Takut kalau Govan akan menganggapnya berlebihan. Jadi, ia hanya diam.
Govan merasakan gadis itu masih kaku dalam pelukannya. Ia mengusap punggung Nabila dengan lembut, mencoba menenangkan.
"Om di sini, Bil," katanya lagi. "Gak peduli apa pun yang terjadi, Om bakal selalu ada buat kamu."
Saat mendengar itu, akhirnya pertahanan Nabila runtuh. Ia meremas baju Govan, menenggelamkan wajahnya di dada pria itu, dan tanpa bisa dicegah lagi air matanya jatuh.
Tak ada kata hanya tangisan yang pelan yang menyakitkan dan Govan tanpa berkata apa-apa lagi, hanya memeluknya lebih erat.
"Bil?" panggil Govan lembut.
Nabila mengusap matanya, menahan isakan terakhir sebelum menarik napas panjang.
"Aku baik-baik saja, Om," kata Nabila lirih, meski suaranya masih sedikit bergetar.
Govan menatapnya curiga, tapi ia tak ingin memaksa. Ia hanya menghela napas, lalu mengacak rambut keponakannya dengan lembut.
"Yaudah kalau gak apa-apa jangan nangis lagi, kamu bikin khawatir om." Govan mengusap wajah Nabila lembut. "Ayo sarapan, om mau berangkat kerja. Setelah itu, kamu istirahat."
Nabila mengangguk pelan, mengikuti ajakan pamannya.
Mereka sarapan dalam keheningan. Govan tetap mengawasinya dengan khawatir, tapi memilih tak banyak bicara. Setelah memastikan Nabila makan cukup, Govan berangkat ke kantor, meninggalkannya sendirian di rumah.
"Kalau ada apa-apa, telpon om ya," kata govan sebelum pergi.
Nabila hanya mengangguk melihat kepergian pamannya, lalu ia duduk diam di sofa ruang tamu. Pikirannya melayang ke kejadian tadi malam, tatapan merendahkan, bisikan-bisikan menusuk, dan ejekan yang membuat dadanya sesak.
"Aku gak mau kayak gini terus," gumamnya mengepalkan tangan
Ia menatap pantulan dirinya di layar televisi yang mati. Sosok gadis dengan tubuh berisi, pipi tembam, dan mata yang masih sembab karena menangis.
"Tidak. Tidak boleh menangis lagi. Aku harus berubah," gumamnya menggeleng pelan.
Ia tidak ingin diejek terus-menerus. Tidak ingin melihat tatapan iba atau mendengar orang-orang mempertanyakan kenapa Govan selalu bersamanya.
Dan yang paling penting, ia tidak ingin membuat Govan malu.
"AKU HARUS BERUBAH, HARUS DIET!" pekik Nabila dengan tekad membara, mengepalkan tangan ke atas.
Nabila bangkit dari sofa. Ia mengambil ponselnya, mulai mencari-cari program diet dan olahraga yang cocok untuknya.
Mulai hari ini, semuanya akan berbeda.
***
Langit mulai berwarna jingga saat Govan pulang ke rumah. Suasana rumah terasa lebih sepi dari biasanya.
Biasanya, Nabila selalu menunggu di ruang tamu, menyapa dengan wajah ceria dan segelas es teh di meja. Tapi kali ini, gadis itu tidak ada di sana.
"Bil," panggil govan pelan mencari keberadaan Nabila.
Samar-samar terdengar alunan musik kecil dari halaman belakang. Govan mengerutkan kening, penasaran. Dengan langkah santai, ia berjalan ke sana, dan pemandangan yang ia lihat membuatnya terdiam.
Di halaman belakang, Nabila tengah berolahraga. Ia mengenakan sport bra dan celana olahraga ketat, tubuhnya mandi keringat, gerakannya penuh semangat mengikuti irama musik. Matanya fokus, bibirnya sedikit terbuka saat mengatur napas.
"Nabila?" Govan terkejut melihat keponakannya yang biasanya lebih suka duduk malas-malasan kini berolahraga, ada apakah gerangan?
Nabila menghentikan gerakannya dan menoleh. Matanya melebar saat melihat Govan berdiri di ambang pintu dengan sekantong jajanan di tangannya.
“KYAAA! PAMAN!” Nabila buru-buru meraih handuk dan menutup wajahnya yang memerah karena malu.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Govan menyeringaI, berjalan mendekat.
“Lagi olahraga,” kata Nabila mengusap keringat di dahinya, masih berusaha menormalkan napasnya. “Aku mau kurus.”
“Tapi aku bawa jajanan buat kamu.” Govan melirik kantong plastik di tangannya, lalu mengangkatnya ke udara.
Mata Nabila membulat. Aroma manis dari kantong itu langsung menggoda indra penciumannya. Ia bisa menebak isinya pasti kue-kue favoritnya. Ia menelan ludah, namun dengan cepat menggeleng.
“Gak mau! Aku lagi diet!” katanya tegas.
“Masa sih? Aku beliin donat isi cokelat, loh. Sama roti keju kesukaanmu.” Govan menaikkan sebelah alis, tersenyum menggoda.
Nabila menggigit bibirnya, tubuhnya seakan ingin maju dan merebut kantong itu. Tapi ia menahan diri.
“Aku gak boleh makan itu, Paman,” katanya lirih. “Aku diejek di sekolah karena gendut… Aku nggak mau gendut lagi.”
Govan terdiam sejenak, matanya menatap wajah keponakannya yang tampak serius.
Tiba-tiba, ia tersenyum jahil.
“Kalau dipaksa, gimana?” Ia mengayunkan kantong jajanan di depan wajah Nabila, seakan-akan menggoda seekor kucing dengan ikan.
“Paman! Jangan gitu!” Nabila mengerang kesal.
“Oke, oke. Aku dukung kamu diet.” Govan tertawa, lalu mengacak rambut Nabila.
“Beneran?” Mata Nabila berbinar.
“Mulai sekarang, aku bantu ngawasin diet kamu. Gak ada makanan manis-manis, dan aku bakal beliin makanan sehat, dan kalau kamu tergoda makan yang nggak sehat, Paman cubit pipi kamu.” Govan mencubit pipi Nabila gemes.
“Iiiih... Apaan sih." Nabila tersenyum jengkel, namun hatinya terharu pamannya mendukungnya diet. Dengan cepat, ia memukul dada Govan pelan.
“Tapi kalau kamu sampai pingsan gara-gara kelaperan, aku bakal paksa kamu makan.” Govan tertawa mengejek.
Nabila mendengus, lalu kembali mengelap keringatnya. Ia percaya diet ini akan berhasil karena govan mendukungnya.
***
Kryuuuuk...
Perut Nabila berbunyi pelan, rasa lapar tak tertahankan, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur.
"Wanginya enak," gumam Nabila mencium aroma sedap saat mendekati ruang makan, membuat perutnya semakin protes.
Nabila mempercepat langkahnya, penasaran makanan apa yang sedang dimasak Govan.
Namun, begitu sampai di meja makan, langkahnya terhenti dan matanya membelalak.
"I... Itu..." Nabila melihat Govan berdiri santai, mengenakan kaos polos dan celana pendek, tangannya sibuk menata piring.
Tapi yang membuat Nabila tercengang adalah menu makan malamnya, bukan ayam goreng renyah atau steak menggoda seperti yang ia harapkan, melainkan semangkuk besar salad segar dengan potongan ayam panggang tanpa kulit.
"Lapar, ya?" tanya Govan santai, menyeringai saat melihat Nabila yang terpaku di pintu dapur. .
“Paha ayamku mana?” Nabila menelan ludah, matanya masih mencari-cari makanan lain.
"Kamu lupa? Katanya kamu mau diet. Sekarang Paman yang atur pola makanmu, malam ini kita makan sehat." Govan tertawa kecil, lalu berjalan mendekat dan mencubit pipinya pelan.
Nabila mendesah kesal, wajahnya memelas. Govan menggeleng, menarik kursi dan menyuruhnya duduk.
"Udah jangan banyak protes, katanya mau diet." Govan duduk di sebelah Nabila.
Nabila mendesah, menatap salad di hadapannya seolah itu adalah musuh besar. Namun, begitu ia menyendok sedikit dan memasukkannya ke mulut, ia terkejut.
Rasanya ternyata enak! Gurihnya ayam panggang bercampur dengan segarnya sayuran, ditambah saus dressing yang pas di lidah.
"Tuh kan, enak, kan?" Govan tersenyum puas melihat ekspresi Nabila yang mulai menikmati makanannya.
Nabila pura-pura gak dengar, ia melanjutkan mengunyah dengan lahap.
"Enak gak?" tanya Govan meggoda Nabila.
"Lumayan," katanya dengan mulut penuh.
“Mulai sekarang, kalau lapar tengah malam ngemil buah-buahan saja di kulkas, jangan harap nemu gorengan atau makanan instan di rumah ini.” Govan terkekeh.
“Paman kejam.” Nabila mendelik.
"Demi keponakan cantikku juga." Govan mengangkat bahu.
Pipi Nabila memanas, tapi ia pura-pura fokus pada makanannya.
"Oh ya makannya jangan banyak-banyak, harus di batasi juga." Govan mengambil mangkuk salad di hadapannya.
"Eh... Paman!" Nabila merengek merebut mangkuk salad itu dan Govan tertawa puas mengerjai Nabila.
Govan menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Nabila dengan tatapan jahil.
“Jadi, kamu benar-benar serius diet ini?” tanyanya, masih menahan tawa.
“Tentu saja! Aku bakal jadi cantik, Paman akan terpesona nantinya,” kata Nabila yang masih mengunyah saladnya langsung
Govan terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha! Terpesona, katanya!” Govan memegang perutnya sakit.
“Ih, Paman nggak percaya, ya?” Wajah Nabila langsung memerah, merasa malu karena ucapannya sendiri. Ia mengembangkan pipinya, menatap Govan dengan kesal.
“Bukan nggak percaya, Aku cuma penasaran aja. Secantik apa sih keponakanku kalau sudah kurusan nanti?” katanya sambil menahan tawa mengusap kepala Nabila dengan gemas.
“Tunggu aja! Aku bakal jadi cantik plus tobrut!” Nabila melipat tangan di dada, mendongak dengan penuh percaya diri.
Govan tertawa brutal, wajah Nabila semakin memerah.
“Oke, oke. Aku tunggu. Tapi kalau nanti nggak ada perubahan, siap-siap diejek balik.” Govan menggeleng, masih terkekeh.
“Huh! Lihat aja nanti!” Nabila melotot, wajahnya merah gemes.
Govan tersenyum melihat keponakannya yang penuh semangat. Meskipun ia sudah menganggap Nabila cantik apa adanya, melihat tekad gadis itu untuk berubah membuatnya ingin mendukung sepenuh hati.
“Mau jadi secantik apapun, kamu tetap keponakan kesayanganku.” Govan berucap dengan nada lembut, kali ini tanpa candaan.
Mendengar itu, wajah Nabila makin memerah. Ia berdeham, pura-pura sibuk dengan saladnya.
“Pokoknya nanti jangan sampai terpesona sama aku, ya!" seru Nabila kepedean.
“Kita lihat saja nanti.” Govan terkekeh geli.
Setelah makan malam selesai, Nabila beranjak dari kursinya dengan perut kenyang. Govan menatapnya dengan senyum jahil.
"Jangan lupa, besok kita olahraga pagi. Jam lima harus udah bangun."
"Hah?! Paman serius?!" Nabila hampir tersedak.
Govan hanya mengangguk santai, sementara Nabila mengeluh pelan. Tapi sebelum sempat protes lebih jauh, suara notifikasi dari ponsel Nabila berbunyi.
Matanya langsung membulat saat melihat nama yang muncul di layar. Tangan Nabila refleks meraih ponselnya, tapi Govan lebih cepat. Dengan gerakan gesit, ia merebut perangkat itu dari tangan keponakannya.
"Eh, paman! Balikin!" seru Nabila panik.
Namun, saat Govan melihat isi pesan yang baru masuk, ekspresinya langsung berubah.
Tatapan santainya menghilang. Rahangnya menegang. Ia mengangkat wajahnya, menatap Nabila yang kini berdiri membeku di tempatnya.
"Nabila..." suara Govan terdengar dalam dan berbahaya. "Apa maksudnya ini?"
Nabila menggigit bibir, tubuhnya menegang. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Ponsel di tangan Govan masih terbuka, menampilkan satu pesan singkat yang membuat darahnya mendidih.
"Nabila, transferin 500k dong. Gue butuh banget nih! Kamu kan baik masa gak mau nolongin aku."Mata Govan menyipit membaca pesan tersebut, kata-katanya lembut, namun punya niat terselubung. Rahangnya mengeras seiring dengan jemarinya yang mulai menggulir chat ke atas, membaca pesan demi pesan. Semakin ia membaca puluhan pesan bernada sama, bahkan ada ancaman, tekanan, bahkan hinaan yang terselubung. "Nabila," suara govan rendah, tangannya mengepal kuat, ponsel itu hampir remuk di genggamannya."Apa maksud semua ini?" tanya Govan butuh penjelasan. Nabila menunduk, menggigit bibirnya. Ia tahu tak ada gunanya berbohong, tapi mulutnya terkunci."Om tanya, ini apa?" Govan mengangkat layar ponsel ke hadapan gadis itu, menunjuk deretan pesan yang memenuhi layar.Nabila tetap diam, ia gak ingin bilang yang sebenarnya dengan Govan, takut kalau govan akan marah. Govan semakin kesal melihat sikap diam keponakannya. Ia melemparkan ponsel itu ke sofa dan berdiri, tubuhnya yang lebih tinggi memb
'Om, maaf... Aku pergi jogging dulu...'Govan terdiam sejenak, tangannya gemetar menahan tawa senang. Ternyata keponakannya seniat itu mau diet.Govan menaruh kembali kertas itu di atas meja, tak lupa meninggalkan balasaan.'Semangat ya :)'Govan mulai menyiapkan sarapan pagi. Telur dadar, roti panggang, dan segelas kopi hitam untuk dirinya.Ia baru saja meletakkan sarapan di meja ketika pintu rumah terbuka."Hosh… Hosh…"Govan menoleh dan matanya membulat ketika melihat Nabila memasuki rumah. Gadis itu mengenakan setelan olahraga, kaosnya basah oleh keringat, dan napasnya tersengal-sengal seolah baru berlari berkilometer-kilometer tanpa henti."Kamu dari mana saja?" tanya Govan dengan nada terkejut, meletakkan cangkir kopinya di meja.Nabila melepas jaket olahraganya dan
"Kak berlian!" suara Nabila bergetar.Berlian, seorang pria tampan dengan postur tubuh tinggi sekitar 180 cm. Wajahnya tegas, dengan rahang kokoh dan hidung mancung yang sempurna.Mata cokelat gelapnya menatap Nabila dengan penuh rasa khawatir. Ia mengenakan kemeja putih yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan berotot yang jelas terbentuk."Kamu kenapa?" tanyanya, suaranya dalam dan lembut, penuh perhatian.Nabila menahan napas memalingkan wajahnya, Ia tidak ingin Berlian yang melihatnya dalam kondisi seperti ini, apalagi seseorang seperti Berlian, pria yang cukup populer di kampus."Nggak apa-apa," jawabnya cepat, berusaha menghindari tatapan Berlian."Kamu berdarah." Berlian menunjuk luka di sudut bibir Nabila. "Siapa yang melakukan ini?""Bukan urusanmu," ujar Nabila, suaranya bergetar."Kalau ada yang menyakitimu, kamu harus bilang. Aku bisa bantu," kata Berlian mendesah.Sebelum Berlian sempat b
Klik...Begitu pintu terbuka, jantungnya hampir berhenti berdetak.Di atas ranjang, sosok keponakannya meringkuk di bawah selimut. Isakan kecil terdengar lirih, menusuk hati Govan lebih dalam daripada sebilah pisau."Nabila?" panggilnya pelan, namun gadis itu tidak merespons.Dengan gerakan hati-hati, Govan duduk di tepi ranjang dan menyingkap selimut itu. Seketika napasnya tercekat melihat wajah Nabila babak belur.Pipi kirinya lebam, sudut bibirnya pecah, dan ada goresan samar di pelipisnya. Bekas kekerasan yang tidak bisa disembunyikan. Hati Govan terasa ditikam ribuan pisau melihat kondisi keponakannya tersebut."Siapa yang menyakitimu Bil?!" Govan menangkap wajah gadis itu, menangkupnya dengan lembut tetapi penuh ketegasan.Mata cokelatnya yang tajam menatap lekat-lekat ke dalam mata Nabila yang basah dan penuh luka."Apa yang terjadi?" suaranya rendah, hampir seperti geraman. "Siapa yang melakukan
"Kamu yakin gak nyesel?" tanya Govan suatu pagi saat mereka duduk di teras, menikmati udara segar setelah joging."Aku gak mau bertemu mereka Om, aku gak mau satu kelas dengan mereka." Nabila mengangguk kecil."Baiklah, jika itu maumu," kata Govan mengizinkan.Sejak kejadian itu Nabila mengambil cuti kuliah selama satu semester, dan selama beberapa cuti itu ia menjalani diet ketat dengan bimbingan Govan.Makanan cepat saji dan cemilan manis yang dulu menjadi pelariannya, kini tak lagi ia sentuh. Setiap pagi, ia joging bersama Govan, kemudian melanjutkan latihan di GYM."Sepuluh menit lagi," ucap Govan suatu pagi saat Nabila hampir menyerah berlari keliling taman."T-tapi, Om..." Nabila mengeluh, kakinya gemetar menopang tubuhnya."Nyerah?" Govan menyeringai."Enggak!" Mata N
Malam.Nabila berdiri di depan cermin kamarnya, menatap bayangannya dengan penuh kebingungan.Setiap baju yang ia coba tampak terlalu longgar, menggantung seperti gorden yang kebesaran. Celana yang dulu pas kini melorot tanpa perlu dibuka kancingnya. Satu-satunya pakaian yang masih bisa ia pakai hanyalah daster."Hah... gawat," gumamnya, menarik bajunya ke belakang, memperlihatkan pinggang rampingnya yang kini terbentuk dengan sempurna.Lengkung tubuhnya jelas terlihat, dan kulitnya yang lebih cerah serta kencang memantulkan cahaya lampu kamar, memberi kesan ‘glossy’ layaknya model papan atas.Senyum puas terukir di bibirnya. Dulu, ia hanya bisa bermimpi memiliki tubuh seperti ini. Sekarang, semua ejekan yang pernah ia terima terasa tak berarti.Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Govan masuk tanpa mengetuk lebih dulu."Nabila, kamu—" Langkah govan langsung terhenti di ambang pintu, matanya membela
"Aku cantik, kan?" tanya Nabila, tersenyum penuh percaya diri. "Soalnya aku gak bisa berhenti ngaca sejak tadi."Govan terdiam sejenak, menatap keponakannya yang kini terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Bukan hanya tubuhnya yang berubah, tapi juga aura percaya dirinya."Kamu selalu cantik di mata om," jawab Govan dengan nada tenang."Masa sih." Pipi Nabila merona, tapi ia menyembunyikannya dengan terus menyantap makanannya.Dulu, makan sayur terasa menyiksa, tapi sekarang ia bisa menikmatinya. Rasanya tidak lagi pahit atau aneh seperti saat pertama kali ia mencoba diet."Kamu gak percaya? Om berkata jujur lo." Govan menoleh, mengunyah makanannya dengan santai."Hmmm... Percaya deh, kan om gak pernah bohong," kata Nabila tersenyum manis.Govan memalingkan pandangannya ke mangkuk sup miliknya, senyuman Nabila terlalu manis baginya sampai sup yang ia mak
Suasana makan malam yang awalnya nyaman mendadak berubah tegang.Nabila yang sedang menikmati makanan tiba-tiba membeku begitu melihat Gisel dan gengnya yang baru saja memasuki restoran. Nafasnya tercekat, tangan yang memegang sendok mulai gemetar.Tanpa pikir panjang, ia langsung menyelinap ke bawah meja, tubuhnya bersembunyi dengan gemetar.Govan yang sedang mengunyah makanannya langsung mengernyit."Kamu ngapain?" tanyanya, menatap ke bawah meja dengan ekspresi bingung.Nabila menggigit bibirnya, tangannya mengepal erat di atas pahanya."G-Gisel ada di sana..." bisiknya, suaranya bergetar.Mata Govan menyipit. Ia menoleh ke arah yang dimaksud. Dari cara Nabila bereaksi, pasti Nabila masih trauma akan kejadian yang lalu. Matanya menelusuri setiap wajah di meja itu, dan dugaannya langsung tertuju p
Govan merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia mengalihkan pandangan, berharap bisa menghindari pertanyaan Nabila yang semakin berani."Om, kalau aku bukan keponakan Om, pasti Om bakal tergoda, kan?"Suara Nabila terdengar main-main, tapi Govan tahu betul bahwa gadis itu sedang menguji batas.Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran dalam dadanya."Udah jangan naya yang aneh-aneh." Govan berkata dengan nada tegas."Jadi Om tetap nggak tergoda?" Nabila tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Bil, jangan nanya yang aneh-aneh. Om lagi makan ini," kata Govan dengan kesabaran yang mulai menipis. Nabila mengangkat bahunya, seolah tidak terlalu peduli, tapi ada kilatan menggoda di matanya."Aku cuma penasaran.""Udah selesai makannya?" tanya Govan, sengaja mengalihkan pembicaraan, Nabila menjawab dengan anggukan kecil. "Ya udah, aku mau ganti baju dulu, Om takut aku pakai baju terbuka, kan?" godanya sambil beranjak dari kursi.Govan tidak mer
"Soal mimpi aku..." Seketika tangan Govan berkeringat dingin. “Semalam aku mimpi aneh,” ujarnya santai.Govan yang tengah menyuap nasi gorengnya langsung berhenti. Ia melirik Nabila dengan waspada.“Mimpi apa?” tanyanya, mencoba terdengar biasa saja.Nabila mengunyah makanannya, lalu wajahnya mulai memerah sedikit.“A-aku mimpi dicium seseorang,” katanya pelan, seakan malu mengakuinya."Uhuk..." Govan tersedak. Ia buru-buru meraih gelas air dan meneguknya, sementara Nabila menatapnya dengan heran.“Om nggak apa-apa?” tanya gadis itu, mengernyitkan dahi.“Om… aku baik-baik saja.” Govan batuk kecil, lalu mengangguk cepat. “Aneh banget, di dalam mimpiku wajah nggak kelihatan. Semuanya gelap.” Nabila memutar-mutar sendoknya di dalam piring. Govan menelan ludah. Tentu saja gelap. Itu bukan mimpi, namun kenyataan. Tapi… apakah mungkin Nabila tidak menyadari kalau itu adalah dirinya kan? Govan berusaha fokus pada makanannya, tapi semakin sulit ketika Nabila terus menatapnya dengan ekspr
Govan keluar dari kamar Nabila dengan langkah tergesa. Ia menutup pintu dengan pelan, mengusap wajahnya dengan frustrasi.“Apa yang baru saja kulakukan?” gumamnya.Ia duduk di tepi kasur di kamarnya sendiri, menundukkan kepala sambil meremas rambutnya. Pikirannya penuh dengan kejadian barusan.Bibirnya masih bisa merasakan kelembutan bibir Nabila.Sial. Ia baru saja merebut ciuman pertama keponakannya. Walaupun itu tidak disengaja, tetap saja perasaan bersalah menghantamnya tanpa ampun.Govan menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Ia harus melupakan ini. Ia harus menjaga batasan.Namun... Kejadian itu tidak mudah dilupakan begitu saja. ***Tik... Tik... Suara keyboard terdengar berulang kali di dalam ruangan kerja Govan. Ia duduk tegak di kursinya, menatap layar laptop yang menampilkan dokumen-dokumen penting. Pekerjaan menumpuk, dan ia harus segera menyelesaikannya.Namun, pikirannya tidak bisa sepenuhnya fokus.Setiap kali ia mencoba membaca laporan, bayangan keja
Pesta ulang tahun Laras masih berlangsung meriah, tapi lama kelamaan Nabila merasa sedikit bosan. Ia memang menikmati hidangan lezat dan suasana mewah, tetapi tanpa teman untuk diajak berbincang, rasanya seperti terjebak di tempat yang asing.Sementara itu, Govan tampak sibuk berbicara dengan rekan-rekan kerjanya. Pria itu terlihat begitu tenang dan percaya diri, sesekali tersenyum tipis saat berbicara dengan mereka.Nabila menghela napas pelan, memainkan gelas jusnya dengan bosan. Sejak tadi, banyak pria yang mencuri pandang ke arahnya, tetapi tak ada yang cukup berani mendekatinya setelah melihat bagaimana Govan bersikap protektif sebelumnya.Setelah sekian lama hanya duduk di meja sendirian, akhirnya Govan kembali menghampirinya.“Bosan?” tanyanya dengan nada lembut.“Lumayan.” Nabila menoleh, mengangkat bahunya. “Kalau begitu, kita pulang sekarang.” Govan tersenyum kecil, lalu melirik jam tangannya. Nabila tidak keberatan. Ia segera berdiri dan mengikuti Govan keluar dari venue
Nabila berdiri di salah satu sudut ruangan, mengamati kemewahan pesta yang belum pernah ia hadiri sebelumnya. Musik lembut mengalun, gelas-gelas kristal berkilauan di bawah lampu gantung, dan para tamu tampak bercengkerama dengan elegan.Saat ia sibuk menikmati suasana, seorang pria asing tiba-tiba mendekatinya dengan membawa dua gelas minuman.Pria itu tinggi, mengenakan jas biru tua dengan kemeja putih yang beberapa kancingnya sengaja dibuka, menampilkan dada bidangnya. Rambutnya tertata rapi, dan senyumannya yang penuh percaya diri seakan menyiratkan sesuatu yang tersembunyi.“Hai,” sapanya dengan suara dalam menyodorkan satu gelas minuman ada Nabila, “Aku perhatikan sejak tadi, kamu sendirian di sini.”“Oh, tidak. Aku hanya menikmati suasana.” Nabila tersenyum sopan melirik gelas itu. Cairan di dalamnya berwarna jingga keemasan, tampak seperti c*ckt**l yang biasa ia lihat di film-film.Ragu sejenak, namun karena tak ingin terlihat aneh, ia akhirnya menerimanya.“Terima kasih,” uca
"Orang-orang seperti aku?" Govan mengangkat alis."Maksudku... orang-orang kaya, pebisnis, eksekutif. Pasti suasananya beda dengan pesta anak kuliahan.""Yah, jangan berharap terlalu banyak. Pesta seperti ini biasanya lebih formal dan membosankan dibandingkan pesta mahasiswa." Govan terkekeh geli. "Ah masa. Gak mungkin ah!" Nabila tertawa kecil, tak sabar ingin melihatnya sendiri.Begitu mereka tiba di lokasi, atmosfer mewah langsung menyambut mereka.Tempat pesta dihiasi dengan lampu-lampu elegan, meja-meja bundar berlapis kain putih, dan pelayan yang sibuk mondar-mandir membawa nampan berisi minuman serta makanan ringan. Para tamu yang hadir tampak berkelas, sebagian besar mengenakan pakaian formal yang mahal dan elegan.Dan begitu Nabila masuk ke dalam ruangan bersama Govan, hampir seketika perhatian orang-orang langsung tertuju padanya.Beberapa pria meliriknya dengan takjub, sementara beberapa wanita menatapnya dengan tatapan penuh penilaian.Nabila, meskipun awalnya percaya dir
Govan merapikan dasi di depan cermin, memastikan bahwa setelannya tampak rapi dan sempurna. Hari ini ia mengenakan kemeja hitam yang dipadukan dengan jas abu-abu gelap. Rambutnya sudah tertata rapi, dan parfum segar maskulin yang khas sudah ia semprotkan.Setelah memastikan semuanya sudah siap, ia mengambil jam tangan di atas meja dan memakainya."Baiklah, saatnya berangkat," gumamnya sebelum membuka pintu kamar dan melangkah keluar.Namun begitu ia keluar dari kamarnya dan menoleh ke arah tangga, langkahnya langsung terhenti.Matanya melebar, napasnya seolah tertahan melihat Nabila tengah menuruni tangga dengan anggun.Ia mengenakan gaun hitam selutut yang memiliki potongan simpel tapi elegan. Bagian atasnya pas di badan, menonjolkan siluet rampingnya, memberikan kesan manis dan berkelas. Rambut panjangnya yang biasanya terurai kini ditata dalam gelombang lembut, membuatnya tampak lebih dewasa dari biasanya.Govan tak bisa mengalihkan pandangannya.Dia terpesona.Sangat sangat terpes
"Kamu ini ya..." Govan mendecak menatapnya sekilas. Nabila tertawa kecil, lalu kembali makan. Namun, pipinya masih merah. Setelah sarapan selesai, Nabila membawa piring-piring kotor ke wastafel dan mulai mencuci.Govan menghampirinya, menyandarkan tubuhnya ke meja dapur sambil menatapnya."Mau dibantuin gak," katanya."Santai Om, aku bisa sendiri." Nabila menoleh dan tersenyum. Govan menghela napas, lalu tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mengacak rambut Nabila dengan lembut.Nabila terkejut, matanya membesar."Apa-apaan sih," gerutu Nabila dengan wajah yang seketika memerah."Makasih udah masakin sarapan." Govan hanya tersenyum kecil. Nabila menatapnya beberapa detik, lalu buru-buru menunduk, kembali mencuci piring dengan panik.Govan tersenyum kecil melihat telinga Nabila yang ikut memerah.***Di ruang tamu, suasana cukup tenang.Govan duduk di salah satu ujung sofa, laptopnya terbuka di atas meja dengan beberapa dokumen yang perlu ia tinjau. Ia mengetik dengan tenang, sesekal
Sinar matahari sudah tinggi ketika Govan akhirnya membuka matanya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, masih dalam keadaan setengah sadar."Kenapa rasanya terang banget?" Govan menoleh ke jam digital di meja samping ranjangnya.09.30 AM"Sial." Mata Govan membelalak.Ia jarang sekali bangun kesiangan, bahkan di hari libur sekalipun. Tapi hari ini, ia benar-benar tidur lebih lama dari biasanya.Tubuhnya masih terasa sedikit berat, mungkin karena tekanan pekerjaan yang cukup menguras tenaganya akhir-akhir ini. Tapi tetap saja, bangun hampir jam sepuluh pagi membuatnya merasa bersalah.Setelah mengumpulkan kesadarannya, Govan bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan keluar kamar dengan rambut sedikit berantakan dan kaus kusut.Begitu keluar, ia mencium aroma sesuatu yang familiar langsung menyeruak ke hidungnya."Nasi goreng?" Alisnya mengernyit.Ketika Govan tiba di dapur, matanya menangkap sosok Nabila yang sedang berdiri di depan kompor, mengenakan kaus oversized dan celana pendek.Gadi