Share

Mengejar Cinta Pertama Suami
Mengejar Cinta Pertama Suami
Author: Stary Dream

Istri atau Pembantu ?

Author: Stary Dream
last update Last Updated: 2025-02-12 09:15:37

Pintu rumah diketuk dengan tidak sabarnya. Aline sudah tahu siapa yang dari tadi mengetuk.

Wanita ini masih bergelut mengurusi kedua anaknya dan satu lagi anak mertua yang sedang menyantap sarapan. Sepertinya suara ketukan keras itu tak membuatnya bergeming.

"Ervin! Jangan diambil seperti itu!"

Aline segera mengambil tangan mungil anaknya yang berusia 3 tahun itu. Ervin mulai lagi mengacak-ngacak sarapan.

Saat tangannya diambil, maka Ervin memprotes. Belum lagi Edwin yang tak sabar untuk berangkat ke sekolah. Mana makanan dalam kotak bekal yang sudah disusun oleh Aline malah tumpah berceceran karena ulah Ervin.

Aline menghela nafas. Ia berusaha tetap tenang. Ia tidak boleh menjadi gila hanya karena hal seperti ini.

Segera ia memisahkan kedua anaknya dan menyusun kembali isian di kotak bekal Edwin sambil sesekali melayani suaminya di meja makan.

Pintu diketuk lagi.

Ya, Tuhan! Aline sampai lupa membuka pintu saking repotnya. Sudah bisa ditebak wajah menyeramkan seperti apa yang muncul ketika pintu dibuka nanti.

Aline setengah berlari membuka pintu rumah.

"Wa'alaikum salam. Masuk, bu." Aline masih terengah.

Puri mendesis kesal. Kuku tangannya sampai memerah gara-gara menantunya ini begitu lama membuka pintu.

"Lama sekali!" Gerutunya kesal.

"Maaf, bu.." Aline jadi tak enak hati.

Baru saja ingin menyauti permintaan maaf Aline sudah terdengar lengkingan suara menangis.

Aline kembali tergopoh-gopoh masuk ke kamarnya. Ternyata anaknya yang bungsu, Envier menangis karena terkejut tangannya digigit oleh Ervin.

"Ini rumah atau kapal pecah!!"

Aline bisa mendengar teriakan itu. Tapi mana bisa ia meladeni celotehan mertuanya di luar. Dia harus mengurusi Envier dulu. Tangannya memerah akibat gigitan Ervin.

"Sarapan, bu." Tawar Alan dengan wajah datar. Dia sudah terbiasa dengan kehidupannya yang diwarnai oleh tiga anak laki-laki yang aktif.

"Gak nafsu!" Puri mendengkus.

Bagaimana mau makan jika meja makan berantakan. Makanan bekas Edwin tadi masih berceceran. Belum lagi yang di atas meja akibat Ervin mengelap bekas makanan sembarangan.

Alan bangkit dari duduknya. Mengambil tas dan kunci mobil.

"Edwin, Ayo!" Serunya pada si sulung. "Aku berangkat dulu, bu."

Alan menghampiri ibunya dan menyaliminya dengan takzim.

Ia lalu ke kamar berpamitan dengan istrinya.

Setelah Alan dan Edwin pergi. Rumah sedikit tenang.

Envier yang masih berusia satu tahun itu didudukan di playmate ruang TV. Ervin juga. Tapi tetap diawasi karena kakak keduanya ini suka kumat jahilnya.

"Ibu mau sarapan? Aku ambilkan, ya.." tawar Aline ramah padahal dia sudah kelelahan. Tenaganya terkuras habis di pagi hari.

"Nggak usah, lah." Puri mengibaskan tangan.

"Ibu kesini cuma mau bilang hari minggu nanti ulang tahun anaknya Sarah."

"Oh, ya? Dimana bu?"

"Di restoran cepat saji. Anak-anakmu di undang."

"Baik, nanti mereka akan datang." Jawab Aline.

"Ingat! Cuma anak-anakmu saja yang di undang." Puri kembali menegaskan.

Aline mengangguk.

"Baik, bu. Aku mengerti." Aline mencoba tersenyum walau hatinya tercabik.

Sudah 7 tahun pernikahan. Tapi, Aline merasa dirinya belum diterima sepenuhnya oleh keluarga suaminya.

Setiap ada acara keluarga, Aline tak pernah di undang. Yang diundang pasti hanya anak-anak. Entah itu acara pernikahan, ulang tahun, sunatan. Pokoknya Aline tidak diundang.

Jikapun diundang, kehadiran Aline tak pernah dianggap.

Awalnya Aline merasa rendah diri, tapi kelamaan dia jadi terbiasa. Apalagi Alan suaminya terkesan tak pernah membelanya.

"Ooeekk!" Aline menutup mulut.

Astaga. Dia mual sekali.

Aline berlalu ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Ah, ini ulah asam lambungnya yang naik. Pagi ini karena sibuknya mengurus anak dia belum sarapan dan baru meminum kopi sedikit. Pantas saja jika sakit maagnya kumat.

"Kamu hamil lagi?" Puri menatap Aline curiga.

Aline menyeka bibirnya dengan tissue.

"Tidak, bu."

"Awas ya kalau kamu hamil lagi! Lihat si Envier aja baru bisa berjalan. Masa mau kebobolan terus? Mau sampai kapan?" Puri mulai berceramah lagi.

Dua tahun sekali pasti menantunya ini hamil. Dan yang keluar selalu calon pemain bola. Makanya rumah seperti kapal pecah dibuatnya.

"Iya, bu." Aline hanya tertunduk. Dia jadi tak enak hati.

"Pikirkan juga masa depan mereka. Kalau kamu hamil lagi, bayangkan pengeluaran mereka di masa depan. Biaya hidup, sekolahnya, kuliahnya itu semua menggunakan uang. Apalagi hanya Alan yang bekerja sendirian." Sambung Puri yang belum selesai berceramah.

"Satu lagi.. pakai baju bagus walaupun cuma di rumah. Rambutnya di sisir rapi. Jangan asal cepol. Sumpah, ibu pikir tadi pembantu! Ternyata itu kamu."

Ingin menangis saja rasanya Aline. Entah sindiran atau nasehat rasanya tetap saja hati Aline tercabik. Tapi ia tahan perasaannya seraya menggigit bibir.

"Baik, bu. Terima kasih sudah mengingatkan." Suara Aline tergetar.

"Sudah, ibu pulang dulu."

Puri bangkit dari duduknya. Menghampiri kedua cucunya dan mengecup keduanya dengan penuh kasih sayang.

"Ervin, jaga adikmu. Jangan kamu jahili terus!"

"Siap, eyang!" Ervin tersenyum manis.

Selanjutnya giliran Aline yang menyalimi mertuanya dengan takzim.

"Hati-hati dijalan, bu."

Puri hanya berdeham.

Hari minggu tiba, ketiga jagoan Aline sudah siap berangkat ke pesta ulang tahun. Hari ini mereka memakai pakaian yang senada berwarna merah dengan telah memegang satu masing-masing kado.

Kurang lebih, Aline mengerti sikap keluarga dari suaminya yang memang menyukai kemewahan dan suka hidup berlebih-lebihan.

"Sudah siap?" Tanya Alan kepada tiga jagoannya.

"Siap!" Edwin dan Ervin menjawab serempak.

"Kamu serius gak ikut?" Alan beralih kepada istrinya.

Aline menggeleng sambil tersenyum.

"Kalian saja. Aku mau beres-beres rumah."

Alan mengangguk.

"Jangan merepotkan. Jangan menyusahkan. Edwin, jaga adik-adikmu ya!" Titah Aline kepada para jagoan.

Keempatnya berlalu meninggalkan rumah untuk merayakan pesta ulang tahun.

Ya, ini kesempatan untuk Aline membereskan rumah yang seperti baru kalah berperang. Sesuai kesepakatan dengan Alan. Mereka memang tidak menyewa asisten rumah tangga. Jadi semua pekerjaan di handle oleh Aline.

Setelah berberes, dia bisa menarik pinggangnya sedikit untuk rebahan. Sebelum ketiga jagoannya pulang dan kembali berperang.

Sampainya di restoran cepat saji. Edwin dan Ervin langsung bergabung bersama sepupunya yang lain sedangkan Envier diambil alih Puri.

Alan bertegur sapa dengan keluarganya yang hadir.

"Aline gak datang?" Tegur Sarah yang punya acara.

"Aline sibuk di rumah." Jawab Alan seadanya.

"Padahal semua keluarga kumpul disini. Kenapa dia gak pernah ikut?"

"Aline memang begitu." Jawab Alan lagi yang tidak mau memperpanjang masalah.

Padahal Alan tak tahu saja kalau istrinya ini ingin sekali ikut bergabung di acara keluarga suaminya.

Tapi apa daya, inilah nasib dari istri yang tak diinginkan..

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Mantan Terindah

    "Aku dengar Mikha kembali ke Jakarta." Bisikan itu terdengar meskipun diselimuti oleh suara anak-anak yang bergema sedang asyik bercengkrama. Alan tak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya datar saja. Meskipun informasi yang baru saja didapatkan ini mengenai mantan terindahnya. "Dia baru saja bercerai dari suaminya. Ternyata suaminya itu suka memukulnya." Sambung Sarah lagi. Puri mendekatkan tubuhnya lagi untuk mendengarkan cerita lengkapnya. "Kasihan sekali Mikha.." "Akibat perjodohan orang tua." Sahut Sarah. "Andai saja waktu itu Papanya Mikha mau merestui hubungan anaknya dengan Alan. Sudah bisa dipastikan mereka hidup bahagia sekarang." Mata Sarah melotot kepada ibunya. Bisa-bisanya Puri malah mengungkit masa lalu. Alan berdeham. "Yang lalu biarlah berlalu, bu. Sekarang hidupku sudah bersama Aline."

    Last Updated : 2025-02-12
  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Menyusahkan

    Keduanya duduk berhadapan dengan situasi yang penuh kecanggungan. Tak menyangka Alan bisa bertemu dengan mantan kekasihnya secepat ini.Mata Alan tak lepas menatap Mikha. Cinta pertamanya yang kini semakin dewasa. Usia Mikha kini sudah 32 tahun dengan kecantikan yang begitu mempesona."Maafkan aku gak sempat hadir saat pernikahan mas kemarin." Mikha tersenyum.Alan membalas senyuman itu dengan wajah tertunduk."Ada apa, Mikha? Aku dengar dari Sarah kalau kamu berpisah dengan suamimu?""Oh itu.. aku memang baru berpisah darinya." Mikha tersenyum getir. "Sayangnya aku tidak mendapatkan pernikahan yang bahagia seperti yang mas Alan miliki."Alan memalingkan wajah. Dia tak bisa menatap mata Mikha berlama-lama."Aku turut prihatin..""Terima kasih." Jawab Mikha. "Aku harus tetap menjalankan hidup.""Itu benar." Alan mengangguk setuju."Kamu masih aktif menulis?"

    Last Updated : 2025-02-12
  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Sebuah Kompromi

    Tak banyak yang Aline lakukan saat kumpul keluarga ini. Dia hanya melihat dan mengamati. Sejatinya, Aline merasa kecil ketika berkumpul bersama keluarga besar suaminya.Mereka tertawa bersama. Dan ah, Aline tak tahu harus bersikap seperti apa. Jadi dia biasa saja. Sibuk bersama anak-anaknya saja."Nggak kepikiran nambah anak, line?" Tanya bude Tuti. "Kali aja anak ke empat perempuan."Aline hanya tersenyum tak enak."Punya 3 aja dia kerepotan. Rumah kayak kapal pecah. Mau nambah satu lagi, duh.." Puri menggeleng. "Ya nggak papa lah. Mumpung mereka masih muda." Seloroh Bude Tuti santai.Aline tak ingin menjawab karena ia melihat wajah Puri yang sudah berubah masam. Entah apa salahnya. Padahal ketiga anaknya ini dibawah pengasuhan Aline. Dalam artian, Aline tidak meminta bantuan mertuanya ini untuk menjaga anaknya.Apa mungkin karena Aline tidak bekerja jadi mertuanya ini tidak menyukainya? Ya, bi

    Last Updated : 2025-02-12
  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Kompensasi

    Alan menatap lekat wajah istrinya yang tengah tertidur lelap. Biasanya setelah melayani Alan, Aline akan segera membersihkan diri dan baru tertidur.Tapi kali ini dia langsung tertidur setelah melayani Alan. Aline sepertinya kelelahan karena Alan sangat bersemangat tadi.Lelaki ini menepikan anak rambut di telinga Aline agar wajah istrinya ini terlihat jelas. Tiba-tiba Alan merasa berdosa. Bisa-bisanya dia membayangkan wanita lain saat sedang berhubungan dengan istrinya.Alan menatap istrinya dengan sedih. Entah sampai kapan rasa cinta ini akan tumbuh. Sudah tujuh tahun berumah tangga, tapi Aline masih belum bisa membuka pintu hati Alan.Pagi ini, Aline mendapat kejutan dari mertuanya yang ternyata menginap di rumah. Pantas kalau Aline tidak tahu, karena Alan langsung menyerangnya semalam. Jadi dia tak mengecek keadaan di luar semalam."Ibu menginap disini semalam?" Aline sungguh tak tahu."Ya." Jawab Puri dingin.

    Last Updated : 2025-02-19
  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Tak Ingin Berpisah

    "Jadi, kalian benar-benar tidak ingin bersama lagi?" Puri sampai mendengkus.Alan memalingkan wajah sampai menghela nafas kasar. Pagi minggunya ternodai karena kedatangan Puri yang mengomel."Apa sih kurangnya Mikha itu? Dia cantik, lembut terus pintar cari uang. Kamu menyia-nyiakan permata, Alan!""Ibu sudah cukup." Tegur Alan masih sabar."Lagi pula apa yang terjadi pada kalian waktu itu juga bukan salah kalian. Itu salah papanya Mikha!" Sambung Puri mencoba menyadarkan Alan.Alan sampai mengelus dada karena ucapan ibunya. Untung saja anak-anak sedang bermain di kamarnya. Atau mungkin, Edwin yang sudah sekolah akan mengerti sedikit apa yang orang dewasa ini katakan."Aku sudah menikah, bu. Bagiku pernikahan cukup satu kali. Aku gak mau mendua.."Puri sampai berdecih mendengar ucapan Alan."Kamu pikir ibu gak tahu kalau kamu masih cinta sama Mikha?""Ibu.." tegur Alan

    Last Updated : 2025-02-21
  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Sakit

    Alan mengirim pesan ke istrinya melalui ponsel sesaat sebelum keluar dari bandara.Tempat sudah di reservasi. Mereka akan pergi setelah bada' maghrib. Alan juga sudah memberi tahu Puri kalau anak-anak hari ini di titipkan padanya. Ya, walaupun awalnya Puri sedikit mengomel karena harus dititipkan tiga cucu sekaligus.Tapi, Alan sudah bertekad untuk memperbaiki masalahnya. Tak enak ternyata perang dingin dengan istri sendiri.Alan menatap langit dari dalam mobilnya. Sebuah pesawat lepas landas. Mungkin pesawat Mikha yang baru saja terbang.Sambil menghela nafas panjang, Alan memasukkan ponselnya ke dalam tas kerja dan menaruhnya di kursi belakang. Dia lalu menghidupkan mesin dan memutar mobilnya keluar dari bandara.Bohong jika Alan mengatakan hatinya saat ini baik-baik saja. Jika bisa memilih, dia sungguh ingin menahan Mikha. Tak ingin berpisah. Tapi isi kepalanya mengajak untuk tetap waras.Ada anak dan istri yang menu

    Last Updated : 2025-02-24
  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Datang Lagi

    Aline mengerjap beberapa kali agar air matanya tak turun. Suami yang baru saja di do'akannya mulai menunjukkan kesadaran penuh walau di mulutnya memanggil nama wanita lain.Perlahan Alan membuka matanya dan menemukan Aline dengan wajah yang penuh kesedihan."Aline.." desah Alan lemah."Tunggu sebentar. Aku panggilkan perawat."Aline bergegas memanggil petugas medis untuk memeriksa kondisi suaminya yang sadar. Nasib baik Alan tidak mengalami hal serius. Aline sempat putus asa jika suaminya tidak berumur panjang."Sudah berapa lama aku gak sadar?" Tanya Alan setelah mendapat kesadaran penuh."Tujuh hari."Alan memejamkan matanya sebentar."Dimana anak-anak?""Bersama ibuku. Ada ibu yang datang dari kampung."Alan lalu menyapu sekitar. Dia belum diperbolehkan pindah dari ruang intensif."Maafkan aku yang sudah membuat kalian cemas..""Aku b

    Last Updated : 2025-02-28
  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Tegas Menolak

    Aline menoleh menatap mertuanya dengan getir."Sudah sadar kamu?""Ibu.." Aline terperangah. Apa maksud ucapan mertuanya ini."Lihat bagaimana Alan dan Mikha ketika bersama. Alan sangat bahagia."Aline sampai memalingkan wajah. Mertuanya ini, entah apa yang ia pikirkan."Apa yang ibu katakan? Apa ibu sadar?"Mata Puri melotot mendengar ucapan Aline. Menantunya ini memang terkenal berani. Pantas saja seluruh anaknya laki-laki.Suara gaduh terdengar dari luar, Alan sampai melesatkan pendengarannya."Seperti ada orang di luar." Gumam Alan.Mikha pun merasakan hal yang sama. Penasaran, ia pun pergi ke pintu yang tidak tertutup rapat itu dan menemukan menantu dan mertua yang saling menatap tajam."Ibu? Mbak Aline?" Mikha sampai tergagap.Aline masuk begitu saja tanpa menghiraukan Mikha yang masih terkejut akan kedatangannya."Kamu sudah beli makan

    Last Updated : 2025-03-03

Latest chapter

  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Mengadu

    "Itu istrimu aja yang sensitif. Wong ibu gak ngomong apa-apa.""Ibu yakin?" Tanya Alan curiga."Kamu ini kenapa sih?" Puri memandang Alan dengan wajah kesal. "Kamu tahu gimana ibu ini orangnya. Suka ceplas ceplos. Harusnya istri kamu nggak perlu mengambil hati ucapan ibu!""Ibu juga tahu bagaimana Aline orangnya. Dia itu begitu peka terhadap sesuatu." Kilah Alan tak mau kalah. "Aku nggak mau dapet laporan lagi kalau Aline menangis karena ibu.""Kenapa? Istrimu yang ngomong?" Puri menatap sinis."Edwin yang ngadu. Ibu tahu kalau anak-anak sudah besar dan mulai mengerti mana yang baik dan mana yang buruk.""Menurutmu sikap ibumu ini buruk begitu?" Puri jadi marah."Membuat orang menangis apa itu baik? Anggap aja ini kayak cerita ibu yang dimarah sama bapak dulu sampai aku ikut marahin bapak."Puri mencibir. Tapi yang dikatakan anaknya ini benar juga. Seorang anak lelaki tak

  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Menyadari Kehadirannya

    Puri bukan main senangnya saat Mikha bertandang ke rumahnya. Apalagi berita yang disampaikan adalah keinginan Puri yang akhirnya terwujud.Mikha kembali menerima Alan. Bersedia bersatu kembali tanpa keberatan akan statusnya sebagai istri kedua."Kalau begitu kita harus mempersiapkan pernikahan kalian." Puri begitu bersemangat."Kita harus memilih dekorasi, undangan, pakaian.. duh banyak juga ya.." Puri tertawa bahagia."Kayaknya sederhana aja bu nikahannya.""Loh, kenapa begitu?""Ini pernikahan kedua mas Alan dan pernikahan ketiga untukku. Nggak usah dirayakan besar-besaran. Cukup dihadiri kerabat dekat dan hanya akad." Jelas Mikha. Sebenarnya dia malu juga. Apalagi ini pernikahan ketiganya. Walau ini berbeda karena akhirnya dia menikah dengan lelaki yang dia cintai."Oh.." Puri sedikit kecewa. "Ya sudah nggak apa-apa. Kalian bersatu aja sudah membuat ibu bahagia."Keduanya pun sepakat

  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Mengejar Cinta Pertama Suami

    Percuma jika Aline menahan. Perasaan Alan tetap tidak akan condong padanya. Ibarat kapal, mau bagaimanapun ia terombang-ambing maka ia akan kembali berlabuh untuk bersandar.Seperti itulah kisah Alan dan Mikha. Bagaimanapun mereka menghindar, cinta mereka selalu menemukan cara untuk kembali.Akhirnya, Aline hanya bisa ikhlas. Jika Mikha bisa membuat suaminya bahagia, maka Aline rela. Dia tak ingin menjadi wanita yang egois."Nggak usah kamu pikirkan ucapan papa." Ucap Mikha saat ia berbicara dengan Alan berdua saja.Hari ini baru saja selesai dilaksanakan takziah hari ketiga sepeninggal Robby."Aku merasa bersalah.." Alan berkata jujur. "Apa yang menimpa kamu, ada kaitannya juga denganku..""Mas.. apa maksudmu?" Tanya Mikha bingung."Kalau saja aku tidak menolak perjodohan denganmu, maka kamu nggak akan kembali pada mantan suamimu." Ucap Alan menyesal.Mikha mendengkus sembari memalingka

  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Permintaan Terakhir

    Alan mengetahui dari Sarah bahwa telah terjadi kesalahpahaman antara istri dan juga ibunya.Tak ada kata lain yang diucapkan Alan selain,"Jangan ambil hati ucapan ibu. Kamu tahu sendiri ibu itu bagaimana."Aline menggigit bibirnya dan mengerjap beberapa kali untuk menahan air matanya. Bohong jika ia berkata tak tersinggung. Sungguh hatinya terasa teriris. Masalahnya kali ini, Puri malah membentak anak-anaknya yang tak lain adalah cucunya sendiri hanya karena hal sepele.Sementara itu, Alan mengerti perasaan istrinya. Dia tahu sikap Puri yang memang keterlaluan. Ingin menegur tapi pasti Puri merajuk dan akan mengoceh panjang lebar mengenai posisinya.Baru saja Alan mengeluarkan satu kata, maka Puri membalasnya dengan satu paragraf. Daripada bikin gendang telinga pecah lebih baik dia diam saja. Mudah-mudahan nanti sikap Puri akan melunak kepada istrinya. Walau tak tahu kapan.Satu bulan berlalu, keluarga kecil ini m

  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Mungkin Ini Takdir

    Mau tapi enggan. Begitulah Puri.Dia mau ditemani tapi risih jika dekat-dekat menantunya yang satu ini. Tak ada pilihan lain. Anaknya hanya dua dan sama-sama sibuk bekerja. Yang tidak bekerja ya hanya menantunya ini.Aline sendiri jika bisa memilih, lebih suka mengurus anak daripada mertuanya. Tapi, ia tak ada pilihan.Alan harus kembali bekerja setelah cuti karena harus mengurus Aline di rumah sakit kemarin. Sarah juga tak bisa sembarangan cuti karena pekerjaannya sebagai pegawai bank. Anggap saja, ini sebagai balas budi Aline karena mertuanya menjaga ketiga anaknya saat dia sakit kemarin.Walau ia harus menebalkan telinga karena setiap tindakan yang ia lakukan selalu salah. Bahkan hati Aline menjadi jengkel karena Puri mengatakan penyebab sakit maagnya kumat karena stress mengasuh ketiga cucunya yang super aktif. Itu semua karena Aline harus dirawat saat itu."Teman-teman arisan ibu mau datang ngebesuk sore ini." Uca

  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Mertua Pemarah

    Aline masih terbaring di ranjang pesakitan itu. Tusukan dari pisau kecil yang tajam ke pinggangnya untung saja tak mengenai organ inti. Tapi tetap saja Aline harus di operasi karena lukanya sedikit dalam.Selama Aline dirawat hanya suaminya yang menemani. Sedang Puri menjaga ketiga jagoan mereka. Ya, walau Puri mengomel tapi Alan menahannya.Lalu Mikha sendiri sudah kembali pada Robby. Akhirnya kekhawatiran Robby memang terjadi. Ia patut bersyukur anaknya kembali dalam keadaan selamat. Itu semua berkat pertolongan dari Alan dan istrinya.Elen sendiri sudah di geret ke kantor polisi. Sebab kasus ini terjadi di hotel berbintang hingga para pencari berita begitu gencar mencari cara agar kasus ini menyeruak ke publik. Nama besar Elen dan keluarganya dipertaruhkan. Tidak tahu apakah nanti dia masih bisa selamat atau tidak dari hukuman penjara.Mikha juga memberanikan dirinya untuk melaporkan Elen atas kekerasan dalam rumah tangga. Berikut jug

  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Berkorban

    Tak habis pikir Puri kenapa bisa-bisanya menantunya ini malah ingin ikut. Nanti tahunya malah menyusahkan. Atau jangan-jangan yang lebih parahnya, Aline ingin merusak rencana Alan yang ingin menyelamatkan Mikha.Sebelum itu terjadi, Puri mencegah kembali. Tapi, sayang. Alan sendiri malah tak keberatan jika istrinya itu ikut.Alan dan Aline menuju sebuah hotel bintang empat yang terletak di pusat kota. Nomor kamar juga sudah dikantongi. Alan tinggal memesan kamar yang bersebrangan dari kamar yang di tempati Mikha. Untung saja kamar itu tersedia.Lama mereka mengamati lorong kamar yang sepi membuat Alan masuk kembali. Dia lalu duduk di tepi pembaringan."Aku yakin dia dikurung di dalam sana." Ucap Alan. Ya, karena Alan sengaja pura-pura memesan kamar tersebut rupanya masih di tempati."Kita tunggu besok pagi saja, mas. Mungkin mereka turun untuk sarapan."Alan menggeleng. "Aku gak yakin."Dia lalu

  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Mengejar Cinta Pertama

    Mau beribu kali dicoba pun Alan masih tak mampu mendapatkan jawaban dari panggilan ini. Ponsel Mikha sudah tidak aktif lagi. Elen membawanya pergi tak tahu kemana.Alan rasanya mati langkah. Harusnya dia pasang pelacak saja di tubuh Mikha supaya ia selalu bisa memantau gerak gerik wanitanya. Atau memang dari awal harusnya Alan terima saja perjodohan ini.Alan begitu kesal. Rasa kesal ini dia bawa sampai ke rumah. Sudah beberapa hari dia uring-uringan. Alan yang memang tak banyak bicara jadi lebih pendiam. Menegur saja tidak. Sampai Aline geleng-geleng dibuatnya.Alan yang tak pernah marah ketika ketiga jagoannya membuat ulah kini malah sering marah. Semakin yakin Aline kalau ada masalah yang disimpan suaminya.Apalagi setelah pulang bekerja, Alan bukannya berkumpul bersama anak-anak dan istrinya. Tapi pergi ke ruang kerja dan mengeram disana.Tanpa Aline tahu sebenarnya Alan sedang sibuk mencari keberadaan mantan kekasihnya

  • Mengejar Cinta Pertama Suami   Menyesal atau Khawatir ?

    "Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" Tanya Robby memandang putrinya lekat."Iya, pa." Jawab Mikha tercekat.Robby menarik nafas kasar. Sungguh dadanya semakin sesak karena mendengar keinginan Mikha yang ingin kembali rujuk dengan mantan suaminya.Sepertinya selain sakit ginjal, Robby juga akan sering jantungan."Dia sudah menyakitimu. Melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Kamu masih ingat?"Mikha mengangguk."Tapi Elen berjanji untuk berubah. Aku percaya padanya."Robby memandang putrinya dengan rasa tak percaya."Panggil Elen kemari!"Tak lama Elen menghadap pria tua yang sedang duduk di tempat tidurnya. Sengaja Mikha menemui ayahnya seorang diri dulu. Takutnya jika langsung bersama Elen, papanya akan terbalut emosi."Kamu bisa berjanji?""Saya berjanji gak akan menyakiti Mikha lagi, pa. Yang terjadi kemarin itu adalah kebodohan saya. Saya sungguh

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status